- Musim kemarau tahun ini mengalami anomali. Suhu udara lebih lembap dan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tercatat di beberapa daerah, curah hujan bulan Mei dan Juni pun lebih tinggi daripada kondisi normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mendefinisikan situasi ini sebagai hujan ‘atas normal’ dan berlangsung sampai sekitar Oktober.
- Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, mengatakan, anomali cuaca yang terjadi pada musim panas ini merupakan bagian fenomena anomali iklim. Salah satu penyebabnya ialah melemahnya Monsun Australia, yang biasa berlangsung selama Mei-Agustus.
- Eddy Hermawan, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memiliki analisis berbeda. Dia bilang, penurunan suhu udara dan anomali cuaca terjadi karena solar maximum—periode aktivitas tertinggi matahari dalam siklus 11 tahunan matahari—yang diprediksi mencapai puncaknya pada bulan Juni.
- Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan, pihaknya selalu berkoordinasi dengan BMKG Ihwal informasi cuaca serta berbagai potensi dampaknya. Pihaknya tidak bisa bertindak cepat jika tidak ada konsekuensi konkret dari analisis prakiraan cuaca itu.
Musim kemarau tahun ini mengalami anomali. Suhu udara lebih lembap dan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat tercatat di beberapa daerah, curah hujan pada Mei dan Juni pun lebih tinggi daripada kondisi normal. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mendefinisikan situasi ini sebagai hujan ‘atas normal’ dan berlangsung sampai sekitar Oktober.
Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, mengatakan, anomali cuaca pada musim panas ini merupakan bagian fenomena anomali iklim. Salah satu penyebabnya ialah melemahnya Monsun Australia, yang biasa berlangsung selama Mei-Agustus.
“Monsun Australia berhembus cukup kuat membawa massa udara kering dari Benua Australia menuju wilayah Indonesia, terutama ke bagian selatan seperti Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa. Ketika monsun melemah, suplai udara kering berkurang sehingga wilayah Indonesia tidak menjadi sekering biasanya,” katanya 16 Juli lalu.
Saat ini, kata Sena, suhu muka laut di perairan Indonesia juga tercatat lebih hangat daripada kondisi normal. Akibatnya, proses penguapan pun meningkat, yang menjadi uap air di atmosfer. Uap air itulah yang membentuk awan hujan.
“Jadi, kombinasi melemahnya monsun dan suhu laut lebih tinggi dari normal menjadi pemicu terjadinya anomali curah hujan yang kita alami sekarang.”
Pengaruh ke pertanian
Curah hujan lebih tinggi ini berdampak positif bagi pertanian. Suplai air jadi lebih memadai, terutama di berbagai wilayah sentra produksi padi. Sisi lain, justru rentan merusak tanaman hortikultura, seperti cabai, tomat, dan sayur-sayuran lain yang memiliki kecenderungan sensitif terhadap kelembapan udara.
Suhu udara lembap ini, juga meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit tanaman hingga bisa memengaruhi hasil panen. Petani, katanya, perlu mewaspadai hal ini.
Terkait krisis iklim, Sena menyebut tidak mudah untuk langsung menghubungkan fenomena tertentu, seperti hujan ‘atas normal’ yang tengah terjadi ini dengan hal tersebut. Menurutnya, perlu kajian attribution study mendalam.
“Kajian ini membandingkan seberapa besar kemungkinan suatu fenomena terjadi di dunia dengan perubahan iklim, dibandingkan dunia tanpa perubahan iklim,” katanya.
Fenomena ini harus menjadi perhatian. Karena, kondisi atmosfer tidak biasa dapat mengakibatkan potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, atau kerusakan di sektor pertanian.
Dia mengimbau, masyarakat dan pihak-pihak terkait tetap meningkatkan kewaspadaan, memanfaatkan informasi prakiraan cuaca dan iklim, serta mengambil langkah-langkah mitigasi.

Eddy Hermawan, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memiliki analisis berbeda. Dia bilang, penurunan suhu udara dan anomali cuaca terjadi karena solar maximum—periode aktivitas tertinggi matahari dalam siklus 11 tahunan matahari—yang diprediksi mencapai puncaknya pada Juni.
Pada 22 Juni, matahari berada di belahan bumi utara. dan pertengahan Juli, matahari sedang balik ke garis ekuator/khatulistiwa. Bumi bagian selatan merasakan dampaknya pada Juli, karena terdapat jeda waktu (leg-time).
NASA, katanya, tidak menyebutkan rinci tanggal terjadinya puncak solar maximum ini. Namun dia menentukan titik amannya, 15 Juli.
“Hemat saya, karena matahari itu solar maksimum di belahan bumi utara, ya, artinya belahan bumi selatan tuh kekurangan (sinar matahari), tidak menerima radiasi yang cukup kuat. Akibatnya belahan bumi selatan ini menjadi relatif dingin.”
Belahan bumi selatan, mengalami penurunan suhu, menjadi lebih dingin dari biasanya. Termasuk sebagian besar wilayah Indonesia karena berada di posisi 6o LU dan 11o LS.
“Artinya Sebagian besar wilayah kita khususnya Pulau Jawa itu di belahan bumi selatan. Otomatis dingin.”
Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat pun tidak kalah dingin dengan Jawa. Karena dua wilayah ini lebih dekat ke Benua Australia.
“Saya yakin kalau tanya lebih dingin mana antara Gunung Bromo, Dieng, dengan Rinjani? Saya pikir Rinjani pasti lebih dingin dengan ketinggian yang sama karena dia lebih dekat dengan timur, karena dia pertama kali (yang) akan menyerap, menerima, dari sebaran angin yang kering itu, yang berasal dari kutub selatan, via Australia ke kita.”
Dia memprediksi, anomali cuaca ini, berlangsung sampai akhir Juli atau awal Agustus. Menurut dia, ini bukanlah anomali iklim, tetapi anomali cuaca. Sifatnya sesaat dan juga tidak ada hubungannya dengan La Nina.
Adanya hujan di titik-titik tertentu di Indonesia, merupakan konsekuensi logis atas solar maximum ini. Bukan hujan dengan skala besar yang sampai membuat banjir bandang, tidak ada data historik yang menunjukkan kejadian seperti itu.

Antisipasi bencana
Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan, selalu berkoordinasi dengan BMKG Ihwal informasi cuaca serta berbagai risiko dampaknya. BNPB tidak bisa bertindak cepat kalau tidak ada konsekuensi konkret dari analisis prakiraan cuaca itu.
BNPB memerlukan detail lokasi bencana dan jenisnya, sehingga mereka bisa bertindak cepat.
“Info BMKG tidak sampai terkait akan terjadi hujan yang akan menyebabkan banjir besar di Bekasi, misalnya.”
Berdasarkan data BNPB, sepanjang tahun 2025 per 14 Juli, terjadi 1.901 bencana—meningkat dari per 19 Juni yang berjumlah 1.685 bencana—yang menyebabkan 292 orang meninggal dunia, 28 orang hilang, 481 luka-luka, dan 4.540.664 menderita dan mengungsi.
Bencana banjir menjadi bencana yang paling banyak terjadi, yaitu 1.241 kejadian, lalu cuaca ekstrem sebanyak 392 kali, Karhutla 195, tanah longsor 160, gelombang pasang dan abrasi 11, kekeringan (8), gempa bumi (8), dan erupsi gunung berapi tiga kali.
Terkait anomali cuaca saat ini, jika perlu BNPB akan melakukan modifikasi cuaca dengan menabur garam (NaCl) dan Kapur (CaO) di wilayah-wilayah tertentu.
Data BNPB, sejak 7 Juli-11 Juli, BNPB modifikasi cuaca di Jawa Barat, Jakarta, dan Banten. Badan ini menabur 22.200 kg bahan semai dengan penerbangan 25 sortie dengan durasi penerbangan 47 jam. Langkah ini untuk mencegah banjir di hilir.
Dia mengumpamakan modifikasi cuaca seperti menghadapi batalion-batalion tentara yang hendak perang. Sebelum serdadu sampai tempat tujuan dan bertemu kumpulan yang lebih banyak, mereka hadang dan sergap di jalan. Menaburi dengan garam, memaksanya hujan duluan di tempat. Dalam satu sortie, butuh 800 kg garam.
Kemudian, menaburi kapur ke awan yang masih lolos. Kapur itu seolah mengikat mereka supaya tidak bisa gerak, tidak bisa menurunkan hujan.
“Di mana kita harus operasi, jam berapa kita harus turunkan kapur, jam berapa kita harus turunkan garam, dan di mana itu semuanya, BMKG yang memberikan informasi karena yang punya data mereka.”
Mereka lakukan langkah ini karena status darurat bencana. BNPB memiliki kewenangan melaksanakan modifikasi cuaca karena status tersebut.
Dia menilai, mitigasi bencana harus menyeluruh dan berkelanjutan, bukan hanya reaktif. Misal, membuat tata ruang yang baik, yang memperhatikan aspek kebencanaan, membuat drainase yang mumpuni di kawasan pemukiman dan lainnya.
Rancangan tata ruang wilayah, katanya, perlu benar-benar memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan, terutama di daerah padat penduduk. Karena itu yang menjadi salah satu pangkal bencana.

Adi Maulana, pakar kebencanaan dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, mengatakan, dalam mitigasi bencana terdapat dua cara, struktural dan non struktural.
Mitigasi struktural bersifat fisik, seperti fasilitas-fasilitas fisik yang mampu mencegah bencana alam yang lebih besar terjadi. Sedangkan non-struktural, bersifat pengertian, mendidik orang-orang terkait untuk bisa melakukan upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Juga, revisi regulasi tata ruang yang lebih pro terhadap mitigasi bencana.
“Bencana itu tidak bisa dinolkan. Artinya potensi bencana itu pasti ‘kan selalu ada.”
Dia bilang, banyak hal yang menyebabkan bencana hidrometeorologi. Selain karena faktor alam, juga karena bertambahnya kepadatan penduduk, tanpa infrastruktur/regulasi yang memadai.
“Ke depan memang frekuensi atau jumlah atau potensi bencana itu akan semakin terus terjadi bahkan semakin meningkat.”
Sementara, modifikasi cuaca, adalah mitigasi jangka pendek dan berbiaya besar.
“Membantu, tetapi kita tidak bisa menggantungkan harapan atau menggantungkan hanya kepada modifikasi cuaca ini.”

*****
Curah Hujan dan Kerusakan Lingkungan adalah Paket Pemicu Bencana Banjir dan Longsor