Taman Nasional Tesso Nilo dalam kondisi menyedihkan. Kawasan konservasi seluas lebih 81.000 hektar yang menjadi rumah beragam satwa, seperti gajah Sumatera ini tersisa sekitar 15%. Perambahan terjadi bertahun-tahun terutama untuk kebun sawit. Organisasi Masyarakat sipil seperti Eyes on The Forest (EoF) sudah sejak lama memberikan data kepada pemerintah para pemodal ‘penguasa’ lahan Tesso Nilo. Pembenahan, penyelamatan (pemulihan) Tesso Nilo tak juga kunjung terlihat. Tahun lalu, pemerintah membentuk Satgas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang membawa ‘mandat’ penertiban kebun sawit di dalam kawasan hutan untuk pemulihan. Satgas masuk dan mulai menyegel kebun sawit dalam kuasa pemodal maupun kebun warga. Warga yang tinggal di dalam Tesso Nilo pun akan direlokasi dan mulai berjalan. Berbagai kalangan mengingatkan, agar proses penyelamatan Tesso Nilo tak sembarangan dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti melihat sisi sejarah, termasuk penghormatan HAM. Akankah pemulihan dan penyelamatan Tesso Nilo bisa terlaksana secara berkeadilan?