Ikan badut mudah dikenali dari warna cerah dan garis putih pada tubuhnya. Popularitasnya semakin meningkat setelah film animasi Finding Nemo. Namun, di balik penampilan mungilnya, ikan penghuni anemon ini memiliki kemampuan reproduksi yang menarik: individu jantan dapat berubah menjadi betina.
Perubahan tersebut berkaitan dengan susunan sosial kelompok ikan badut. Kelompoknya memiliki hierarki yang ketat, dengan individu dominan memperoleh akses lebih baik terhadap sumber daya dan kesempatan berkembang biak. Kemampuan mengubah jenis kelamin membantu kelompok menyesuaikan diri ketika kehilangan anggota yang berperan dalam reproduksi.
Penelitian yang dipimpin Laura Casas menelusuri proses itu melalui analisis ekspresi gen, yakni bagaimana gen bekerja selama perubahan berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi sekaligus di seluruh tubuh.
“Perubahan kelamin melibatkan perubahan ekspresi gen yang sangat kompleks dan cepat. Otak ikan badut mengalami perubahan signifikan terlebih dahulu, diikuti perubahan pada gonad,” ungkap Casas dan koleganya.
Gonad merupakan organ reproduksi. Peneliti menemukan aktivitas tinggi pada gen yang mengkode enzim aromatase, yang berperan dalam produksi estrogen. Aktivitas tersebut ditemukan di otak maupun gonad ikan yang sedang berubah jenis kelamin, menunjukkan pentingnya pengaturan hormon dalam proses ini.
Kehidupan ikan badut juga erat dengan anemon laut. Di terumbu karang dangkal, tentakel anemon menyediakan tempat berlindung dari predator. Lapisan lendir khusus pada tubuh ikan badut membantu melindunginya dari sengatan inangnya.
Hubungan tersebut menguntungkan kedua pihak. Ikan badut mendapat perlindungan dan makanan, sementara anemon memperoleh bantuan untuk mengusir pengganggu serta membersihkan parasit. Sebelum menetap, ikan badut melakukan gerakan menyerupai “tarian” untuk menyesuaikan diri dengan anemon.
Makanan ikan badut antara lain zooplankton dan invertebrata kecil yang hidup di sekitar tempat berlindungnya. Dengan demikian, anemon menjadi bagian penting dari ruang hidup ikan ini, bukan sekadar tempat bersembunyi.
Meski populer sebagai ikan hias, pengambilan ikan badut dari alam menjadi tekanan bagi populasinya di beberapa wilayah. Artikel tersebut juga menyoroti perubahan iklim dan pengasaman laut sebagai ancaman terhadap ikan maupun habitatnya.
Pengasaman terjadi ketika laut menyerap karbon dioksida berlebihan sehingga pH air menurun. Menurut keterangan Ocean Conservancy, kondisi ini dapat mengganggu kemampuan ikan badut mengenali petunjuk bau dan suara untuk bernavigasi serta mendeteksi predator.
Kemampuan berubah jenis kelamin memperlihatkan cara ikan badut mempertahankan reproduksi kelompoknya. Namun, keberlangsungan hidupnya tetap berkaitan dengan kondisi anemon, habitat terumbu karang, dan tekanan penangkapan. Keunikan reproduksinya berjalan bersama ketergantungan yang kuat pada lingkungan laut tempatnya hidup.