Memberikan roti, biskuit, atau camilan kepada monyet liar sering dianggap sebagai pengalaman menyenangkan. Pengunjung dapat melihat satwa itu dari dekat, sementara monyet memperoleh makanan tanpa harus mencarinya. Namun, tindakan yang terlihat baik ini justru dapat mengganggu kesehatan, mengubah perilaku alami, dan meningkatkan risiko penularan penyakit.
Secara alami, sistem pencernaan monyet dirancang untuk mengolah buah hutan, dedaunan, serangga, serta makanan berserat lainnya. Mikroorganisme di dalam ususnya membantu mengubah makanan tersebut menjadi energi sekaligus menjaga sistem kekebalan tubuh.
Masalah muncul ketika makanan alaminya digantikan camilan manusia yang tinggi gula dan lemak, tetapi rendah serat. Perubahan pola makan dapat mengacaukan komunitas mikroorganisme di dalam usus. Kondisi ketidakseimbangan ini disebut disbiosis.
Penelitian terhadap beruk (Macaca nemestrina) di Perak, Malaysia, membandingkan dua populasi dengan tingkat interaksi manusia berbeda. Kelompok pertama hidup di Lumut Mangrove Park, kawasan perkotaan tempat monyet sering diberi makan. Kelompok kedua berada di Segari Melintang Forest Reserve, habitat dengan paparan manusia lebih rendah.
Hasilnya, monyet yang sering berinteraksi dengan manusia memiliki keragaman mikrobiota usus lebih rendah. Disbiosis berpotensi melemahkan sistem imun serta membuat satwa lebih rentan terhadap penyakit.
Peneliti juga mendeteksi antigen Giardia, parasit penyebab diare, pada sekitar 20 persen sampel kotoran monyet di kawasan mangrove perkotaan. Selain itu, ditemukan Helicobacter macacae, bakteri yang berkaitan dengan infeksi usus.
Kedekatan manusia dan monyet menciptakan ruang bagi perpindahan patogen antarspesies. Penyakit dapat bergerak dari satwa ke manusia maupun sebaliknya. Karena itu, persoalan memberi makan monyet bukan hanya menyangkut kesehatan satwa, tetapi juga kesehatan masyarakat.
Dampaknya turut terlihat pada perilaku. Monyet yang terbiasa menerima makanan kehilangan ketertarikan terhadap pakan alami. Mereka kemudian mendekati pengunjung, kendaraan, atau permukiman untuk mencari makanan. Sebagian bahkan menjadi agresif ketika tidak memperoleh apa yang diharapkan.
Kerusakan habitat memperburuk masalah. Ketika makanan alami berkurang, monyet memasuki permukiman, mengambil bahan makanan warga, bahkan masuk ke rumah. Perilaku tersebut memicu keresahan dan memperbesar konflik antara manusia dan satwa.
Salah satu solusi yang ditawarkan adalah memulihkan persediaan makanan di habitatnya. Di Desa Sempor, Kebumen, penanaman pohon jambu biji di hutan dilakukan untuk menyediakan pakan alami agar monyet tidak lagi bergantung pada makanan manusia.
Pendekatan ini lebih tepat dibandingkan menangkap atau mengusir satwa. Menjaga habitat dan menyediakan pohon pakan membantu monyet mempertahankan pola hidup alaminya.
Tidak memberi makan bukan berarti tidak peduli. Justru dengan menjaga jarak, tidak menawarkan camilan, dan membiarkan monyet mencari makan sendiri, manusia membantu melindungi kesehatan serta perilaku alaminya. Monyet liar seharusnya tetap liar, bukan dibuat bergantung pada pemberian pengunjung.
Foto utama: Monyet ekor panjang yang juga menyukai makanan manusia. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.