Selama berbulan, sebuah kamera pengintai bekerja tanpa suara di bawah kanopi hutan primer Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara. Ketika datanya diperiksa, kamera itu menyimpan rekaman istimewa: seekor kucing merah kalimantan berjalan sambil menggigit mangsa.
Kucing merah kalimantan (Catopuma badia) merupakan salah satu karnivora paling misterius di Pulau Kalimantan. Satwa berstatus Genting ini sulit diamati karena hidup menyendiri, memiliki kepadatan populasi rendah, dan cenderung menghindari manusia.
Rekaman terbaru diperoleh di Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu. Kamera dipasang dalam kegiatan patroli perlindungan kawasan pada 2025 dan datanya baru diunduh pada 2026. Tiga tahun sebelumnya, spesies yang sama terekam di Resor Sungai Bahau setelah lebih dari dua dekade tanpa dokumentasi baru di kawasan tersebut.
Pada salah satu foto, kucing itu terlihat membawa mangsa yang diduga tupai bergaris (Tupaia dorsalis). Selama ini, makanan kucing merah diketahui mencakup hewan pengerat dan tupai. Foto tersebut memberi petunjuk langka mengenai perilaku berburunya, meski jenis kelamin individu belum dapat diketahui. Umurnya diperkirakan remaja hingga dewasa.
“Spesies ini sangat sulit dijumpai langsung, sehingga dokumentasi melalui camera trap membantu kami memperoleh data mengenai keberadaannya di dalam kawasan,” kata Seno Pramudito, Kepala Balai TNKM.
Kucing merah umumnya memiliki bulu merah karat, tetapi sebagian individu berwarna abu-abu. Tubuhnya ramping, telinganya bulat, dan ekornya panjang. Bentuk tubuh tersebut memunculkan dugaan bahwa satwa ini mengandalkan kecepatan ketika mengejar mangsa.
Pengetahuan mengenai kehidupannya masih sangat terbatas. Para ilmuwan memperkirakan panjang generasinya sekitar enam tahun, tetapi masa kehamilan dan usia individu di alam belum diketahui. Satwa ini sempat dianggap aktif pada malam hari. Namun, rekaman kamera terbaru juga memperlihatkan aktivitas pada siang hari. Semua dokumentasi menunjukkan individu sendirian, memperkuat dugaan bahwa kucing merah bersifat soliter.
Populasinya diperkirakan hanya sekitar 2.200 individu di alam liar. Tidak ada laporan individu yang hidup dalam penangkaran. Persebarannya terbatas di Kalimantan, mencakup wilayah Indonesia serta Sabah dan Sarawak di Malaysia.
Keberadaan kucing merah sangat bergantung pada hutan primer atau sekunder yang rapat dan saling terhubung. Satwa ini tidak mampu bertahan di kawasan monokultur atau hutan yang mengalami deforestasi parah. Hilangnya habitat, penangkapan ilegal, serta jerat yang dipasang untuk satwa lain menjadi ancaman utamanya.
Kemunculannya di Kayan Mentarang menunjukkan bahwa bentang hutan masih menyediakan ruang berburu dan populasi mangsa yang memadai. Karena membutuhkan wilayah luas untuk hidup dan berkembang biak, kehadiran kucing merah bukan sekadar catatan tentang satu satwa langka. Ia juga menjadi tanda bahwa rantai makanan dan bentang alam hutan di kawasan tersebut masih terjaga.
Foto utama: Kucing merah kalimantan terekam kamera membawa mangsa di TN Kayan Mentarang pada 2026 ini. Foto: Dok. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang.