Saat menyusuri hutan bervegetasi rapat di Malang Selatan, Jawa Timur, Fariq Izzudien Ash Shidiq dan rekannya melihat seekor ular berada sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah. Warna tubuhnya begitu menyatu dengan lingkungan sehingga sulit dikenali tanpa pengamatan teliti.
Ular tersebut adalah banjang tupai atau Boiga drapiezii. Salah satu cirinya yang paling menarik adalah bentuk dan iris mata yang menyerupai mata kucing. Kepalanya berukuran lebih besar daripada lehernya, sementara beberapa bagian tubuhnya memiliki kombinasi warna putih dan hitam.
Pertemuan itu menjadi pengalaman istimewa bagi Fariq karena merupakan kali pertama ia melihat langsung spesies tersebut. Dalam istilah pengamatan satwa, perjumpaan pertama dengan suatu spesies dikenal sebagai lifer.
“Matanya sangat spesial. Seperti memotret kucing-kucingan,” ujar Fariq, yang merupakan Research Assistant di Laboratorium Entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Selama diamati, banjang tupai tidak memperlihatkan perilaku agresif. Ketika didekati, ular itu memilih menjauh dan tidak berusaha menyerang. Menurut Fariq, ular tersebut terlihat tenang, tetapi tetap waspada terhadap keberadaan manusia.
Pengamatan hanya berlangsung sekitar lima hingga sepuluh menit. Langit yang semula mendung segera berubah menjadi hujan. Kondisi itu membuat Fariq dan rekannya tidak sempat mengukur panjang tubuh, memastikan jenis kelamin, maupun mengambil foto dari berbagai sisi. Setelah dokumentasi selesai, ular tersebut dibiarkan kembali ke habitatnya.
Secara global, Uni Internasional untuk Konservasi Alam atau IUCN menempatkan banjang tupai dalam kategori Risiko Rendah atau Least Concern. Penilaian tersebut didasarkan pada luasnya wilayah persebaran alami serta belum adanya ancaman atau tingkat pemanfaatan yang dapat menempatkannya dalam kategori terancam.
Namun, status Risiko Rendah bukan berarti kondisi seluruh populasinya telah diketahui. Ganjar Cahyadi, Kurator Museum Zoologi Institut Teknologi Bandung, mengatakan penelitian mengenai populasi banjang tupai di Indonesia masih jarang dilakukan.
“Kondisi populasi kurang diketahui,” jelasnya.
Penilaian IUCN dilakukan pada skala global sehingga belum tentu menggambarkan keadaan setiap populasi di tingkat lokal. Masih mungkin terdapat wilayah persebaran banjang tupai yang belum tercatat karena penelitian belum mencakup semua kawasan.
Karena itu, perjumpaan di hutan Malang Selatan tetap penting bagi ilmu pengetahuan. Setiap catatan yang dilengkapi foto, video, atau spesimen dapat membantu peneliti memperjelas wilayah persebaran spesies ini.
Banjang tupai mungkin pandai menyamarkan tubuhnya di antara vegetasi. Namun, minimnya penelitian membuat keberadaan dan kondisi populasinya di Indonesia juga masih tersembunyi dari pengetahuan manusia.