Dulu, La Ode Baharuddin tak pernah menyangka akan menghabiskan hari-harinya mencari keong bakau di lumpur bakau Desa Akuni, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bertahun-tahun lalu, dia adalah petani rumput laut yang hidup dari komoditas dulunya sangat menjanjikan. Bahkan, desanya sempat dijuluki “desa dolar”.
Julukan itu bukan sekedar kiasan belaka. Pada 2014-2015, harga rumput laut kering sempat menyentuh sampai Rp45 ribu/kilogram. Mardiana, ibu enam anak di Bungin Permai pernah merasakan kejayaan itu. Dari 300 bentang tali rumput laut yang terpasang, dia bisa mengantongi pendapatan bersih hingga Rp40 juta sekali panen, cukup untuk membeli sepeda motor dan perahu.
Tapi kini, itu hanya jadi kenangan. Sejak tiga tahun terakhir, budidaya rumput laut di Tinanggea perlahan runtuh. Baharuddin bilang, sejak tambang nikel beroperasi di sekitar perairan mereka, air laut kerap berubah warna jadi kuning setiap hujan turun, dan rumput laut pun gagal tumbuh. Demi untuk menyekolahkan tiga anaknya, dia terpaksa menjual sapi, bahkan tanah.
“Sudah ada beberapa tahun agar (rumput laut) tidak bagus (panen), setelah ada tambang ini,” kata Baharuddin.
Warga pesisir lainnya pun mengeluhkan adanya keberadaan penampungan ore nikel di bibir pantai dan lalu lalang kapal tambang. Andi Rahman, Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara, menyebut operasional pelabuhan itu memicu sedimentasi yang membuat air laut berubah warna dan mengganggu ekosistem laut.
Sementara itu, Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan justru menyebutkan informasi yang berbeda, data resmi mereka menunjukkan produksi rumput laut Tinanggea terus naik tiap tahun, dari 18.644 ton pada 2021 jadi 33.946 ton pada 2025. Bagi Mardiana, angka itu tak masuk akal.
“Kalau khusus daerah Bungin Permai tidak ada. Dari tahun 2021 itu sudah masuk paceklik,” katanya, membantah data tersebut.
Di tengah klaim yang saling bertolak belakang itu, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan, Wayan Darma, mengakui budidaya rumput laut di wilayahnya kini tersisa di pesisir Tinanggea, sementara sentra-sentra lain seperti di Torobulu dan Teluk Moramo sudah lebih dulu berhenti karena pencemaran dan lalu lalang kapal tongkang. Meski begitu, dia tetap berdalih penurunan produksi di Tinanggea semata soal harga, bukan aktivitas tambang.
Laode M. Aslan, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Halu Oleo, menyebut tambang nikel sebagai musuh terbesar rumput laut, bukan cuma di Sulawesi Tenggara, tapi juga Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Maluku Utara. Dia membayangkan ketika nikel di sana habis dikeruk nanti, yang tersisa bagi warga pesisir hanya laut yang tercemar.
Foto utama: Hasil panen di perahu kecil di tahun 2017. Sebelum ada tambang hasil panen bisa memenuhi kapal. Kini, rumput laut budidaya banyak gagal panen hingga sebagian petani memutuskan beralih kerja. Foto: Kamarudin/ Mongabay Indonesia