Bagi manusia, kotoran hewan mungkin hanya limbah yang harus disingkirkan. Namun, bagi kumbang kotoran dari famili Scarabaeidae yang dikenal melalui karakter unik dalam serial film kartun komedi terkenal “Larva”, benda tersebut merupakan sumber makanan, tempat berkembang biak, sekaligus bagian penting dari kehidupannya. Kebiasaan menggulung, menggelindingkan, dan mengubur kotoran ternyata juga memberi manfaat besar bagi lingkungan.
Di dunia terdapat sekitar 7.000 spesies kumbang kotoran. Berdasarkan cara makan dan bersarang, kumbang ini terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok “penghuni” menetap, berkembang biak, dan membesarkan larva langsung di tumpukan kotoran. Kelompok “pembuat terowongan” menggali tanah di bawah kotoran, lalu menyeret sebagian tinja ke dalamnya. Sementara itu, kelompok “penggulung” membentuk kotoran menjadi bola dan membawanya ke tempat aman untuk dikubur.
Bola tersebut bukan sekadar bekal makanan. Sebagian juga berfungsi sebagai bola induk, tempat kumbang meletakkan telur dan larvanya berkembang. Dengan memindahkannya dari lokasi awal, kumbang mengurangi persaingan dengan kumbang lain sekaligus melindungi calon anaknya.
Aktivitas yang tampak sederhana ini membuat kumbang kotoran dijuluki “petugas kebersihan” ekosistem. Mereka mencegah tinja menumpuk di satu tempat dan mempercepat proses penguraiannya. Ketika kotoran dibenamkan, unsur-unsur seperti nitrogen, fosfor, dan kalsium ikut masuk ke tanah. Proses tersebut meningkatkan kandungan bahan organik, memperbaiki sirkulasi udara, dan mempercepat daur ulang nutrisi.
Di kawasan pertanian dan peternakan, keberadaan kumbang kotoran alias Dung Beetle membantu menjaga padang rumput tetap sehat. Kotoran yang dibiarkan di permukaan dapat merusak rumput serta menjadi tempat berkembangnya lalat dan parasit. Sebuah uji coba menunjukkan bahwa kehadiran kumbang ini meningkatkan jumlah kotoran yang terurai sekitar 53 persen, sekaligus mengurangi sekitar 83 persen populasi lalat dan 63 persen jumlah spesies lalat.
Kumbang kotoran juga berperan sebagai penyebar benih sekunder. Benih yang terbawa dalam tinja dapat ikut dipindahkan dan dikubur bersama bola kotoran. Jarak pemindahannya tercatat mencapai sekitar 10-15 meter. Penguburan ini dapat melindungi benih dari pemangsa, penyakit, dan kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, meski benih yang terkubur terlalu dalam mungkin kesulitan berkecambah.
Sayangnya, kemampuan kumbang kotoran menjalankan berbagai fungsi tersebut terganggu oleh degradasi hutan dan perubahan penggunaan lahan. Hilangnya kumbang bukan hanya berarti berkurangnya satu kelompok serangga, tetapi juga melemahnya kemampuan alam untuk membersihkan, menyuburkan, dan memulihkan dirinya sendiri.
Artikel asli ditulis oleh Nopri Ismi.
Foto utama: Dung Beetle atau kumbang kotoran memiliki kebiasaan unik menggulung dan menggelindingkan kotoran. Foto: Rhett Butler/Mongabay.