Bagi Prof. Dr. Charlie Danny Heatubun, hutan Papua bukan sekadar bentang alam yang menyimpan kekayaan hayati. Hutan merupakan ruang penelitian sekaligus sumber pengetahuan yang dapat menentukan arah pembangunan. Guru Besar Botani Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Papua ini dikenal sebagai salah satu ahli palem terkemuka dunia yang telah mendedikasikan lebih dari dua dekade untuk mempelajari flora Papua.
Ketertarikan Charlie terhadap palem berawal dari keunikan bentuknya. Palem bahkan kerap disebut sebagai “pangeran” dunia tumbuhan karena tampilannya yang anggun, mudah dikenali, dan memiliki banyak manfaat. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1995 dengan penelitian tentang palem. Setahun kemudian, Charlie mulai mengikuti berbagai ekspedisi botani di Papua dan wilayah lain. Pada 2000, ia resmi bergabung dalam proyek Palms of New Guinea, sebuah penelitian besar yang hasilnya diterbitkan dalam bentuk buku pada 2024.
Perjalanan ilmiahnya membawanya ke berbagai medan ekstrem, mulai dari pesisir hingga puncak pegunungan. Salah satu pengalaman paling berkesan adalah ketika ia mencari palem zebra atau Caryota zebrina di Pegunungan Cycloop. Charlie dan tim harus mendaki seharian, lalu bertahan hampir satu minggu dengan berlindung di bawah batu tanpa bisa mandi karena tidak tersedia air. Kerja keras itu terbayar ketika palem zebra dipublikasikan sebagai spesies baru pada 2000.
Temuan penting lainnya justru bermula secara tidak terduga. Ketika menghadiri musyawarah perencanaan pembangunan di Raja Ampat, Charlie melihat sebuah palem besar di samping gedung pertemuan. Sampelnya kemudian diteliti melalui analisis filogenetik di Inggris dan terbukti merupakan marga baru yang diberi nama Wallaceodoxa. Hingga kini, Charlie telah memublikasikan 50 spesies baru yang termasuk dalam lima marga baru.
Namun, kiprah Charlie tidak berhenti pada penemuan dan publikasi ilmiah. Sebagai Ketua Badan Riset dan Inovasi Daerah Papua Barat, ia berupaya membawa hasil penelitian ke dalam kebijakan publik. Riset menjadi bahan penyusunan policy brief, pengakuan dan perlindungan masyarakat adat, serta kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Bagi Charlie, sains harus memberikan manfaat nyata kepada masyarakat. Karena itu, penelitian keanekaragaman hayati perlu dihubungkan dengan pengetahuan tradisional, pengembangan ekowisata, komoditas lokal non-deforestasi, dan ekonomi berbasis alam. Perjalanan Charlie menunjukkan bahwa seorang ilmuwan dapat bekerja di antara hutan, laboratorium, dan ruang kebijakan, memastikan kekayaan alam Papua menjadi dasar bagi masa depan yang lebih berkelanjutan.
Artikel asli ditulis oleh Ridzki R Sigit.
Foto utama: Charlie Heatubun muda, dalam sebuah ekspediai botani di Papua. Dok: Pribadi.