Berbagai spesies ular memiliki cara berbeda untuk menghindari predator, mulai dari kamuflase warna tubuh, gerakan cepat menghindar, hingga bentuk tubuh yang menyerupai bagian tubuh lain untuk mengecoh serangan. Salah satu contoh strategi terakhir ditemukan pada piton Calabar (Calabaria reinhardtii), ular yang hidup di hutan hujan Afrika Barat dan Tengah.
Piton Calabar memiliki bentuk kepala dan ekor yang hampir sama, keduanya tumpul dan berbentuk oval. Kemiripan ini merupakan adaptasi pertahanan diri. Ular ini panjangnya tidak lebih dari satu meter dan menggunakan kemiripan bentuk ekor dengan kepala sebagai salah satu cara utama menghindari serangan predator.
Nama “piton” pada spesies ini tidak sesuai dengan klasifikasi ilmiahnya. Calabaria reinhardtii bukan anggota famili Pythonidae seperti sanca kembang atau sanca bola, melainkan anggota famili Boidae, kelompok yang sama dengan boa. Ular ini adalah satu-satunya spesies dalam genusnya dan hanya ditemukan di kawasan hutan hujan Afrika Barat dan Tengah. Nama umum “piton Calabar” bertahan karena alasan historis, bukan karena kekerabatan taksonomi. Ular ini hidup di bawah permukaan tanah dan menggali lorong di tanah gembur serta serasah daun, berbeda dari kerabatnya di genus Eryx yang menggali di pasir.
Piton Calabar berburu dengan masuk ke liang tikus untuk memangsa anak tikus yang masih muda. Perilaku ini membuat ular terpapar risiko serangan balik dari induk tikus, yang giginya dapat melukai tubuh ular.
Menyembunyikan Kepala, Menonjolkan Ekor
Ketika terancam, piton Calabar menekan kepalanya ke tanah dan menutupinya dengan lilitan tubuh, sementara ekornya diangkat dan digerakkan untuk menarik perhatian predator. Ekornya berwarna lebih terang dibanding bagian tubuh lain, kadang disertai lingkaran pucat, sehingga tampak lebih mencolok.
Perilaku ini didokumentasikan oleh Lehmann pada 1971 dan dibahas lebih lanjut oleh Greene pada 1973, yang menyebutnya sebagai mimikri sefalik, yaitu peniruan bentuk kepala oleh bagian tubuh lain. Greene meneliti perilaku menonjolkan ekor pada 76 spesies ular dan dua spesies amfisbaena, lalu mengelompokkan mereka berdasarkan warna dan bentuk ekor. Piton Calabar masuk ke dalam kelompok ular dengan ekor tumpul dan tidak berwarna mencolok secara ekstrem, berbeda dari kelompok ular lain yang memiliki ekor berwarna cerah kontras tanpa bentuk tumpul. Jika cara menonjolkan ekor ini gagal mengecoh predator, piton Calabar menggulung tubuhnya menjadi bola rapat dengan kepala tersembunyi di bagian dalam, mirip cara bertahan sanca bola (Python regius).

Bagian dari penelitian Greene yang sama juga memeriksa bekas luka pada ekor 63 individu piton Calabar dan 52 individu ular pasir India (Eryx johnii), yang juga memiliki ekor tumpul menyerupai kepala. Hasilnya menunjukkan bahwa gigitan predator memang lebih sering mengenai bagian ekor dibanding kepala pada kedua spesies tersebut. Temuan ini menjadi salah satu bukti awal yang mendukung hipotesis bahwa bentuk ekor yang menyerupai kepala berfungsi mengalihkan serangan predator ke bagian tubuh yang secara biologis lebih bisa dikorbankan.
Kulit Tebal sebagai Lapisan Pertahanan Tambahan
Menonjolkan ekor sebagai umpan hanya efektif jika bagian tersebut cukup kuat menahan gigitan. Penelitian Han dan Young yang dipublikasikan dalam Journal of Morphology pada 2018 menemukan bahwa kulit piton Calabar, terutama di area kepala dan ekor, memiliki lapisan dermis yang sangat tebal dengan susunan serat kolagen berlapis. Setiap lapisan serat kolagen tersusun tegak lurus terhadap lapisan di atas dan di bawahnya, membentuk struktur yang secara fungsional menyerupai susunan kolagen pada kulit badak. Susunan berlapis dan saling tegak lurus ini membuat kulit lebih sulit ditembus tanpa mengurangi kelenturan tubuh ular saat bergerak atau melingkar.
Penelitian tersebut membandingkan ketebalan dan struktur kulit piton Calabar dengan 13 spesies ular lain dari berbagai belahan dunia, termasuk boa, ular derik, dan ular garter. Hasilnya menunjukkan kulit piton Calabar sekitar 15 kali lebih tebal dibanding spesies ular berikutnya yang paling tebal kulitnya dalam penelitian yang sama. Tim peneliti sendiri menyebut spesies ini “badak di antara ular” karena tingkat ketebalan kulit yang jauh melampaui ular lain, meski kemampuan bergerak dan melingkarnya tidak terganggu oleh lapisan kulit tersebut.
Kombinasi kulit tebal dan bentuk ekor yang meniru kepala menghasilkan dua lapis pertahanan: mengalihkan serangan ke bagian tubuh yang salah, sekaligus memastikan bagian itu tahan terhadap gigitan jika serangan benar-benar terjadi. Peneliti menduga adaptasi ini juga berkaitan dengan cara piton Calabar berburu, karena ular ini kerap terpapar gigitan induk tikus saat masuk ke liang untuk memangsa anak tikus, sehingga tubuhnya perlu tahan terhadap gigitan bukan hanya dari predator, tapi juga dari mangsanya sendiri.
**
Referensi:
Han, D., & Young, B. A. (2018). The rhinoceros among serpents: Comparative anatomy and experimental biophysics of Calabar burrowing python (Calabaria reinhardtii) skin. Journal of Morphology, 279(1), 86–96. https://doi.org/10.1002/jmor.20756