Dire wolf (Canis dirus) pernah menjadi predator puncak yang menakutkan di Amerika Utara dan Selatan pada Zaman Es. Satwa purba ini diperkirakan punah sekitar 13.000 tahun lalu. Namun, kemajuan rekayasa genetika kini seolah membuka jalan untuk “menghidupkannya kembali”.
Perusahaan bioteknologi Colossal Biosciences mengumumkan kelahiran tiga anak serigala bernama Romulus, Remus, dan Khaleesi. Para ilmuwan menggunakan DNA dari gigi berusia 13.000 tahun dan tengkorak berusia 72.000 tahun untuk mempelajari ciri genetik dire wolf. Informasi tersebut kemudian dipakai untuk memodifikasi genom serigala abu-abu dengan teknologi CRISPR. Embrio hasil rekayasa lalu ditanamkan pada anjing domestik yang menjadi induk pengganti.
Meski disebut sebagai keberhasilan de-ekstinksi, ketiganya bukan dire wolf murni secara genetik. Mereka merupakan serigala abu-abu yang genomnya telah diubah agar memiliki sejumlah ciri fisik yang diasosiasikan dengan predator purba tersebut.
Dire wolf memiliki ukuran hampir setara dengan serigala abu-abu modern terbesar, tetapi tubuhnya lebih kekar dan sekitar 25 persen lebih berat. Berat rata-ratanya mencapai 50–68 kilogram, dengan tinggi bahu sekitar 0,8–1 meter. Rahangnya kuat, giginya besar, sementara kaki yang lebih pendek membuatnya kurang lincah dibandingkan serigala modern.
Tubuh semacam itu dirancang untuk menghadapi mangsa besar. Sebagai karnivora hiper, lebih dari 70 persen makanannya berupa daging. Dire wolf kemungkinan memburu kuda dan bison purba, serta memanfaatkan bangkai dan tulang saat makanan sulit ditemukan. Banyaknya fosil di satu lokasi juga mengindikasikan bahwa mereka mungkin berburu secara berkelompok.
Ketergantungan pada megafauna diduga ikut membawa dire wolf menuju kepunahan. Ketika perubahan iklim menyebabkan banyak hewan besar menghilang, mereka harus bersaing dengan serigala abu-abu yang lebih fleksibel dalam memilih mangsa.
Karena itu, kebangkitan dire wolf memicu perdebatan. Teknologi ini dinilai berpotensi membantu menyelamatkan satwa yang terancam punah, tetapi risiko ekologis dan etikanya tidak sepelel. Ekosistem modern telah berubah akibat hilangnya habitat, perubahan iklim, dan kehadiran spesies invasif. Predator hasil rekayasa bisa kesulitan beradaptasi, mengganggu satwa asli, atau memicu konflik dengan manusia dan ternak.
Proses kloning juga membawa risiko keguguran pada induk pengganti, kematian, serta gangguan kesehatan pada satwa hasil rekayasa. Di tengah terbatasnya dana konservasi, sebagian ilmuwan pun mempertanyakan prioritasnya: menghidupkan kembali satwa yang telah punah, atau melindungi spesies yang masih bertahan beserta habitatnya? Kebangkitan dire wolf akhirnya bukan sekadar kisah kecanggihan teknologi, tetapi juga ujian tentang batas campur tangan manusia terhadap alam.
Artikel asli ditulis oleh Christopel Paino.