Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan berita terbaru setiap harinya.
Proyek pembangunan di Indonesia terus menggerus kondisi lingkungan dan sosial masyarakat. Janji-janji kesejahteraan kini berbuah ancaman kesehatan dan bencana bagi masyarakat sekitarnya. Mereka tak ada pilihan selain bertahan dan melawan.
Kondisi itu terangkum pada lima artikel dalam sepekan Mongabay Indonesia. Di Bantaeng, Sulawesi Selatan, para buruh perempuan bergulat dengan situasi kerja yang tak layak. Kepulan asap dan debu dari industri nikel kian memperburuk kesehatan mereka. Sementara itu, di Taman Nasional Tesso Nilo, nasib masyarakat masih belum ada kepastian. Ancaman pelanggaran hak asasi manusia dan relokasi secara paksa terus menghantui.
Begitu juga ancaman yang terjadi akhir-akhir ini terkait kandungan mikroplastik dalam air hujan. Sementara itu, komunitas penghayat kepercayaan Pahoman Sejati kini terancam mata air dan tradisinya yang hilang. Ini karena ancaman tambang pasir.
Meski di tengah kabar buruk terjadi, perempuan-perempuan Maba Sangaji menunjukkan semangat dan upaya-upaya perlawanan dari dapur. Itu menjadi benteng perjuangan yang tak surut sejak para suami mereka ditahan karena kriminalisasi mempejuangkan wilayah adatnya.
Seperti apa cerita lengkapnya? Simak siniar dan ringkasan tulisan dari kami:
1. Nestapa Pekerja Perempuan di Kawasan Industri Nikel Bantaeng

Jejeran cerobong asap pabrik nikel PT Huadi Group di Kawasan Industri Bantaeng (KIBA), terlihat di pusat Kabupaten Bantaeng menuju Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ini masuk dalam daftar proyek strategis nasional era Presiden Joko Widodo.
Di tengah mega proyek itu, ada para buruh, terutama pekerja perempuan mempunyai nasib yang menyedihkan. Mulai dari kondisi kerja yang melelahkan, cuti dan upah tak layak, tanpa kontrak hingga risiko PHK sepihak.
Nengsi, salah satu pekerja pernah keguguran hingga tiga kali karena kelelahan bekerja. Saat sakit, gaji mereka dipotong dan tak ada keringanan jam bekerja saat sakit. Tiap hari mereka bekerja hingga 12 jam.
Pada Juli lalu, ratusan buruh melakukan protes selama 16 hari. Mereka mendatangi kantor Bupati Bantaeng, DPRD hingga mencari keadilan melalui Pengadilan Hubungan Industrial di PN Makassar.
Di tengah kondisi kerja yang berat, lingkungan sekitar juga rusak, debu, limbah, dan asap smelter mencemari udara serta mengancam kesehatan warga.
2. Nasib Warga dalam Tesso Nilo Belum Jelas

Penyelesaian konflik sawit dan warga di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) belum juga tuntas. Meski Satgas Penertiban Kawasan Hutan sudah bekerja selama lima bulan, relokasi dan nasib warga masih belum pasti.
Awalnya, pemerintah melakukan relokasi secara mandiri dalam waktu tiga bulan. Namun, upaya satu pihak tersebut batal karena Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai itu merupakan pelanggaran HAM.
Komandan Satgas, Mayjen TNI Dody Triwinarto menyebut masih mencari lahan pengganti di sekitar kawasan. Rencananya akan menyasar pada izin-izin lokasi hutan tanaman industri yang menyalahi aturan. Namun, lokasi tersebut ternyata banyak dimiliki petani kecil.
Kelompok terdampak dari penataan TNTN menyebutkan relokasi tidak akan menyentuh akar masalah tata batas hutan dan bisa menimbulkan masalah baru. Koalisi mendesak pentingnya peran Kementerian Kehutanan dalam upaya Revitalisasi Ekosistem Tesso Nilo. Namun, kementerian ini terkesan diam dan tidak bersinergi dengan lembaga lainnya.
3. Mata Air Sendang Tirta Nirmala Terancam Tambang

Tradisi penganut aliran kepercayaan Pahoman Sejati kian terancam karena kerusakan lingkungan. Selama bertahun-tahun, mereka memandang sakral Sendang Tirta Nirmala di Kecamatan Sawangan, Magelang, Jawa Tengah sebagai sumber penghidupan.
Itu menjadilokasi perayaan tahun baru Jawa Kuno tiap 18 Juni. Tapi kini, lokasinya terancam akibat aktivitas tambang di lereng Gunung Merapi. Agung Begawan Prabu, penganut Pahoman Sejati menyebut kerusakan mulai terjadi sejak erupsi Merapi 2011 yang memicu maraknya tambang dengan dalih normalisasi sungai.
Data Center of Economic and Law Studies (Celios) menunjukkan ada 71 Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan 98 titik Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) di Magelang. Wishnu Try Utomo dari Celios menilai aktivitas tambang pasir di Merapi akan terus meningkat.
Sementara itu, Kepala DLH Magelang, Sarifudin mengatakan warga di Dukun, Sawangan, dan Srumbung terus mengeluhkan dampak tambang dan meminta moratorium yang sudah disampaikan ke Kementerian ESDM.
4. Bagaimana Atasi Cemaran Mikroplastik di Udara Jakarta?

Sebuah penelitian menyebutkan, air hujan yang turun di Jakarta mengandung mikroplastik. Yakni, partikel kecil yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Temuan ini berasal dari sampel air hujan di pesisir Jakarta.
Mikroplastik muncul akibat produksi dan pengelolaan sampah yang belum tepat serta aktivitas industri. Dampak kesehatannya masih terus diteliti, tetapi ada kekhawatiran kuat bahwa paparan jangka panjang dapat memicu peradangan, gangguan hormon, hingga risiko penyakit kronis karena sifat kimiawi plastik dan aditif berbahaya di dalamnya.
Pemerintah diminta memperbaiki sistem pengelolaan sampah dengan memperkuat reduce, reuse, dan recycle, serta mendorong daur ulang kemasan. Tak hanya itu, mendesak tanggung jawab dari produsen menjadi hal yang paling penting dan utama.
5. Upaya Para Perempuan Maba Sangaji Bertahan dan Berdaulat Pangan

“Kelompok Perjuangan Perempuan Maba” menjadi simbol perlawanan ekonomi dari dapur. Mereka menolak tunduk pada tambang yang merusak tanah dan sungai.
Setelah 11 suami mereka ditangkap karena menolak tambang nikel PT Position di Halmahera Timur, para perempuan Maba Sangaji membangun solidaritas baru dengan mengolah sagu lempeng dan minyak kelapa tradisional untuk bertahan hidup.
Komunitas internasional mendesak pemerintah membatalkan vonis terhadap 11 anggota Komunitas Adat Maba Sangaji. Climate Rights International (CRI) menilai vonis tersebut melanggar kewajiban hukum internasional Indonesia terkait HAM, sementara Jatam menegaskan transisi energi tak boleh mengorbankan ruang hidup masyarakat adat.
(*****)
Fokus Liputan: Cerita dari Toro, Dusun Sawit di Tesso Nilo (Bagian 1)


