<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=tonggo-simangunsong-aceh&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/tonggo-simangunsong-aceh/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Wed, 03 Jun 2026 15:15:39 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Menyoal Skor &#8220;Hijau&#8217; Alamtri Resources</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 15:15:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/31230025/Tambang-Pari-Coal_JATAM-Kaltim_Foto-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128595</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Albed, bersiap menuju kebun karetnya, pagi itu. Kedua tangan membawa perlengkapan buat menyadap. Ada pisau sadap sampai tumpukan ember di tangan kiri. Kebun itu berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya di Kampung Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dia biasa pakai sepeda motor ke sana. Kebun Albed tak jauh dari lokasi jetty [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/">Menyoal Skor &#8220;Hijau&#8217; Alamtri Resources</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Albed, bersiap menuju kebun karetnya, pagi itu. Kedua tangan membawa perlengkapan buat menyadap. Ada pisau sadap sampai tumpukan ember di tangan kiri. Kebun itu berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya di Kampung Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dia biasa pakai sepeda motor ke sana. Kebun Albed tak jauh dari lokasi jetty PT Pari Coal, anak perusahaan tambang batubara PT Adaro Energy Indonesia (ADRO), yang kini berganti nama menjadi PT Alamtri Resources Indonesia,  bagian Grup Adaro. Siang itu,  motor Albed terhenti setelah dia kena hadang sekelompok orang, ada TNI dan Polri serta keamanan Pari Coal. “Saya ingat betul&#8230;. ada 12 orang saat itu. Tiga TNI, tiga polisi, dan lima petugas keamanan yang mengaku dari Pari Coal,” katanya saat Mongabay hubungi, Kamis (21/5/26). Peristiwa pencegatan terjadi pada pertengahan 2024, ketika Pari Coal mulai masuk dan membuka akses menuju lokasi jetty di sekitar Kampung Geleo Asa. Albed sempat kebingungan. Dia merasa tidak melakukan pelanggaran apapun. Jalan itu dia lalui selama ini sebagai akses warga menuju kebun dan sungai. “Mereka bilang saya tidak boleh lewat karena ini area perusahaan. Padahal,  dari dulu masyarakat lewat situ untuk ke kebun,” katanya. Hingga kini, Albed tak bisa masuk ke kebun karet karena aparat jaga ketat. Ketegangan antara warga dan perusahaan, katanya,  mulai meningkat setelah pembukaan lahan untuk bikin jetty batubara. Warga khawatir proyek itu akan mempersempit ruang hidup mereka, termasuk akses menuju kebun dan sumber air. Jetty Pari Coal berada di Sungai Waliwai,  yang selama ini tempat nelayan Geleo Asa cari ikan. Jetty&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Minim Penelitian, Kelinci Belang Sumatera Antara Ada dan Tiada</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/03/minim-penelitian-kelinci-belang-sumatera-antara-ada-dan-tiada/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/03/minim-penelitian-kelinci-belang-sumatera-antara-ada-dan-tiada/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 14:27:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Agustinus Wijayanto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/03142151/Kelinci-belang-sumatera2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128753</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua anakan kelinci belang sumatera atau kelinci sumatera (Nesolagus netscheri) ditemukan di kebun warga, di sekitar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Satwa dilindungi tersebut, kini telah dikembalikan ke habitat alaminya. Kasus bermula dari unggahan di Facebook dengan keterangan “Mainan Anak di Kebun &#8211; Kelinci Hutan” pada 26 April 2026. Postingan itu teridentifikasi tim patroli [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/minim-penelitian-kelinci-belang-sumatera-antara-ada-dan-tiada/">Minim Penelitian, Kelinci Belang Sumatera Antara Ada dan Tiada</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua anakan kelinci belang sumatera atau kelinci sumatera (Nesolagus netscheri) ditemukan di kebun warga, di sekitar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Satwa dilindungi tersebut, kini telah dikembalikan ke habitat alaminya. Kasus bermula dari unggahan di Facebook dengan keterangan “Mainan Anak di Kebun &#8211; Kelinci Hutan” pada 26 April 2026. Postingan itu teridentifikasi tim patroli siber Yayasan Scents (Science for Endangered and Trafficked Species), yang secara rutin memantau aktivitas perdagangan satwa liar di platform digital. Dwi Nugroho Adhiasto, Senior Advisor Scents, menyatakan pihaknya melakukan pemantauan rutin di media sosial. “Setelah ditelusuri, pengunggah mengaku menemukan anak kelinci tersebut di kebunnya dan berniat memelihara,” jelasnya, Minggu (26/4/2026). Tim melakukan pendekatan persuasif dan memberikan penjelasan status perlindungan kelinci sumatera. Juga, risiko hukum jika satwa tersebut dipelihara atau diperdagangkan. “Pendekatan ini penting dalam upaya konservasi, terutama dalam konteks masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat satwa liar.” Kelinci belang sumatera, satwa langka dilindungi ini diselamatkan saat hendak diperdagangkan. Foto: Dok. Taman Nasional Kerinci Seblat. Maruf Erawan, Direktur Scents, menambahkan bahwa perdagangan ilegal satwa dilindungi semakin kompleks bahkan lintas negara. “Kasus ini mencerminkan tantangan konservasi yang semakin berat,” ungkapnya, Senin (27/4/2026). Berdasarkan catatan Scents, Pada April dan Juni 2025, terjadi tiga kasus penyelundupan dengan total enam kelinci sumatera di India dan Thailand. Berikutnya, pada 15 Juli 2025 di Pune, India, sebanyak 20 spesies langka disita, berupa ular piton pohon hijau, burung beo ara bermata dua, dan kelinci sumatera, yang ditemukan di bagasi penumpang dari Bangkok. “Ancaman terhadap satwa liar tidak hanya terjadi di hutan, tetapi juga di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/minim-penelitian-kelinci-belang-sumatera-antara-ada-dan-tiada/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/03/minim-penelitian-kelinci-belang-sumatera-antara-ada-dan-tiada/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tujuh Gajah Mati, Satu Kawasan Dibiarkan Hancur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tujuh-gajah-mati-satu-kawasan-dibiarkan-hancur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tujuh-gajah-mati-satu-kawasan-dibiarkan-hancur/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:52:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18065351/Seekor-harimau-sumatera-ditemukan-mati-di-kawasan-Bentang-Seblat.-Foto-Koalisi-Selamatkan-Bentang-Alam-Seblat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128748</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada 29 April 2026, dua ekor gajah Sumatera ditemukan mati di Bentang Alam Seblat, Bengkulu. Tidak jauh dari lokasi, konsorsium pemantau menemukan kantung-kantung berisi racun yang digantung di batang kayu, diduga sengaja dipasang untuk membasmi gajah yang dianggap mengganggu kebun sawit. Ini bukan kejadian pertama. Sejak 2018, sedikitnya tujuh gajah telah mati di kawasan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tujuh-gajah-mati-satu-kawasan-dibiarkan-hancur/">Tujuh Gajah Mati, Satu Kawasan Dibiarkan Hancur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada 29 April 2026, dua ekor gajah Sumatera ditemukan mati di Bentang Alam Seblat, Bengkulu. Tidak jauh dari lokasi, konsorsium pemantau menemukan kantung-kantung berisi racun yang digantung di batang kayu, diduga sengaja dipasang untuk membasmi gajah yang dianggap mengganggu kebun sawit. Ini bukan kejadian pertama. Sejak 2018, sedikitnya tujuh gajah telah mati di kawasan yang sama. Ada yang diracun, ada yang ditembak, ada yang kakinya berlubang karena jebakan paku. Harimau Sumatera pun ikut ditemukan mati di dalam area konsesi perusahaan. Merespons kasus ini, Menteri Kehutanan Raja Juli Anton menyatakan akan mencabut izin usaha pemanfaatan hutan (PBPH) dua perusahaan yang beroperasi di kawasan itu: PT Bentara Arga Timber (BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (API). Keduanya sebelumnya telah dibekukan pada 2025 dengan kewajiban restorasi ekosistem, namun alih-alih memulihkan hutan, justru ditemukan indikasi pembalakan liar dan penanaman sawit ilegal di dalam kawasan yang seharusnya dipulihkan. &#8220;Tidak hanya sampai sanksi administratif, pencabutan, tapi sampai ke pidana,&#8221; kata Raja dalam konferensi pers, 7 Mei 2026. Bagi para pegiat konservasi, pernyataan itu terdengar familiar. Egi Ade Saputra, Direktur Eksekutif Yayasan Genesis Bengkulu, menilai langkah pemerintah sangat terlambat. &#8220;Kita melihat ini suatu yang harus dibuktikan dalam bentuk dikeluarkan dan dipublikasi SK pencabutan,&#8221; ujarnya. Analisis citra satelit Landsat 8 yang dilakukan Genesis pada periode Februari hingga April 2026 menunjukkan bukaan lahan masih terus terjadi di dalam kawasan konsesi. Februari saja tercatat 307 titik bukaan seluas lebih dari 2.000 hektar. Dalam dua tahun terakhir, Bentang Seblat kehilangan sekitar 6.800 hektar tutupan hutan. Wishnu Sukmantoro dari Forum Konservasi Gajah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tujuh-gajah-mati-satu-kawasan-dibiarkan-hancur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tujuh-gajah-mati-satu-kawasan-dibiarkan-hancur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Tikus Membawa Lebih dari Sekadar Kotoran</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ketika-tikus-membawa-lebih-dari-sekadar-kotoran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ketika-tikus-membawa-lebih-dari-sekadar-kotoran/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:43:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[flora dan fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/17023733/Tikus-di-sekitar-kita-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128747</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kapal pesiar MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, menuju Antarktika pada awal April 2026 dengan membawa ratusan penumpang dan, tanpa disadari siapa pun, sebuah wabah. Tiga penumpang meninggal dalam rentang kurang dari sebulan, semuanya akibat hantavirus. WHO menyatakan kejadian itu sebagai wabah resmi pada 4 Mei 2026, dengan total 11 kasus terkonfirmasi. Kapal itu tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ketika-tikus-membawa-lebih-dari-sekadar-kotoran/">Ketika Tikus Membawa Lebih dari Sekadar Kotoran</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kapal pesiar MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, menuju Antarktika pada awal April 2026 dengan membawa ratusan penumpang dan, tanpa disadari siapa pun, sebuah wabah. Tiga penumpang meninggal dalam rentang kurang dari sebulan, semuanya akibat hantavirus. WHO menyatakan kejadian itu sebagai wabah resmi pada 4 Mei 2026, dengan total 11 kasus terkonfirmasi. Kapal itu tidak pernah singgah di Indonesia. Namun alarm yang berbunyi di Eropa dan Amerika Selatan seharusnya juga terdengar di sini. Sebab Indonesia, menurut sebuah kajian yang terbit di jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases pada Maret 2026, adalah negara dengan prevalensi hantavirus tertinggi di Asia Tenggara. Angkanya mencapai 17,49 persen pada populasi mamalia kecil, jauh di atas Singapura yang berada di posisi kedua dengan 10,53 persen. Studi metaanalisis yang dipimpin Zixiao Guo dari Hainan Medical University itu merupakan tinjauan sistematis pertama yang mencakup seluruh kawasan Asia Tenggara. Data dari Kementerian Kesehatan RI memperkuat kekhawatiran itu. Sepanjang 2024 hingga Mei 2026, tercatat 256 suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi tipe HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome), tersebar dari DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Tren konfirmasinya naik tajam: 1 kasus pada 2024, 17 kasus pada 2025. Hantavirus tidak menyebar seperti COVID-19. Tidak ada penularan lewat udara dari manusia ke manusia, setidaknya untuk varian yang beredar di Asia. Virus ini menular melalui kontak dengan tikus atau celurut, lewat gigitan, atau lebih sering lagi, lewat menghirup partikel kering dari urine, feses, dan air liur hewan yang terinfeksi. Risiko meningkat saat seseorang membersihkan gudang lama, rumah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ketika-tikus-membawa-lebih-dari-sekadar-kotoran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ketika-tikus-membawa-lebih-dari-sekadar-kotoran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Peperomia pellucida: Si &#8220;Gulma&#8221; Pekarangan yang Kini Diperebutkan Industri Herbal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peperomia-pellucida-si-gulma-pekarangan-yang-kini-diperebutkan-industri-herbal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peperomia-pellucida-si-gulma-pekarangan-yang-kini-diperebutkan-industri-herbal/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:39:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22041821/sirih-cina-IMG_20201212_070657-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128745</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di sela-sela pot bunga, di pinggir parit, atau menempel diam-diam di tembok lembab, tumbuhan kecil bertangkai transparan ini sudah lama dicabut dan dibuang begitu saja. Petani menyebutnya hama. Padahal, dunia sains menyebutnya sesuatu yang lain: kandidat superfood yang patut diperhitungkan. Namanya bermacam-macam tergantung dari mana asalnya. Sirih cina, sirih bumi, ketumpang air. Nama latinnya satu: [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peperomia-pellucida-si-gulma-pekarangan-yang-kini-diperebutkan-industri-herbal/">Peperomia pellucida: Si &#8220;Gulma&#8221; Pekarangan yang Kini Diperebutkan Industri Herbal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di sela-sela pot bunga, di pinggir parit, atau menempel diam-diam di tembok lembab, tumbuhan kecil bertangkai transparan ini sudah lama dicabut dan dibuang begitu saja. Petani menyebutnya hama. Padahal, dunia sains menyebutnya sesuatu yang lain: kandidat superfood yang patut diperhitungkan. Namanya bermacam-macam tergantung dari mana asalnya. Sirih cina, sirih bumi, ketumpang air. Nama latinnya satu: Peperomia pellucida. Tumbuhan herbal yang berasal dari Amerika tropis ini kini tumbuh liar hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama di tempat-tempat lembab saat musim hujan. Tingginya hanya sekitar 15 hingga 45 sentimeter, dengan daun berbentuk menyerupai daun sirih namun lebih kecil, lebih tebal, dan bertekstur lunak. Batangnya berwarna cerah, berair, dan sedikit transparan seperti kaca. Sekilas tampak seperti tanaman tak berguna. Tapi kandungannya justru mengejutkan. Menurut Septiana Kurniasari, dosen Farmasi Universitas Islam Madura, Peperomia pellucida mengandung minyak esensial, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid. Kombinasi senyawa ini memberikan potensi yang cukup luas, mulai dari antibakteri, antiseptik, hingga antimikroba. &#8220;Dari kandungan itu, sirih cina memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri,&#8221; ujarnya. Secara tradisional, tumbuhan ini sudah lama digunakan untuk mengatasi bisul, jerawat, radang kulit, sakit kepala, demam, dan gangguan ginjal. Penelitian lebih lanjut menunjukkan potensinya sebagai obat asam urat, penyembuh luka, antihipertensi, bahkan antikanker. Relevansinya kian kuat di tengah tren 2025-2026 yang mendorong kembali ke pangan lokal dan herbal alami sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan. Di berbagai platform belanja daring, bibit sirih cina kini sudah diperjualbelikan, dengan harga per kilogram yang bisa mencapai lebih dari Rp75.000. Nissa Wargadipura, pendiri Pesantren Ekologi Ath Thaariq di Garut, sudah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peperomia-pellucida-si-gulma-pekarangan-yang-kini-diperebutkan-industri-herbal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peperomia-pellucida-si-gulma-pekarangan-yang-kini-diperebutkan-industri-herbal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menelusuri Jejak Purba dan Akar Migrasi Nenek Moyang Tanah Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/menelusuri-jejak-purba-dan-akar-migrasi-nenek-moyang-tanah-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/menelusuri-jejak-purba-dan-akar-migrasi-nenek-moyang-tanah-papua/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:37:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/09/22021849/Puncak-Yomokho-di-Danau-Sentani-yang-merupakan-lokasi-penggalian-tulang-belulang-manusia-yang-diduga-nenek-moyang-orang-Papua.-Foto_-Hari-Suroto-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128746</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kekayaan budaya dan fisik masyarakat Papua tidak lepas dari sejarah migrasi panjang yang dimulai sejak zaman es. Berdasarkan kajian paleo-antropologi, pada masa Pleistosen sekitar 800.000 tahun lalu, ketika Pulau Papua masih menyatu dengan Benua Australia, wilayah ini dihuni oleh manusia Paleo-Melanesoid. Ketika permukaan laut naik dan memisahkan kedua daratan, kelompok ini berevolusi menjadi ras Melanesoid [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/menelusuri-jejak-purba-dan-akar-migrasi-nenek-moyang-tanah-papua/">Menelusuri Jejak Purba dan Akar Migrasi Nenek Moyang Tanah Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kekayaan budaya dan fisik masyarakat Papua tidak lepas dari sejarah migrasi panjang yang dimulai sejak zaman es. Berdasarkan kajian paleo-antropologi, pada masa Pleistosen sekitar 800.000 tahun lalu, ketika Pulau Papua masih menyatu dengan Benua Australia, wilayah ini dihuni oleh manusia Paleo-Melanesoid. Ketika permukaan laut naik dan memisahkan kedua daratan, kelompok ini berevolusi menjadi ras Melanesoid di Papua dan Melanesia, serta Australoid di Australia. Jejak fisik nenek moyang Paleo-Melanesoid ini bahkan dapat dilacak hingga pada tengkorak Homo Wajakensis di Jawa Timur. Secara lebih spesifik, manusia Australomelanesid tercatat sebagai penghuni pertama Pulau New Guinea yang tiba di Teluk Huon, Papua Nugini, sekitar 50.000 tahun lalu. Merekalah leluhur langsung orang Papua, Papua Nugini, dan masyarakat Melanesia modern. Kelompok pemburu dan pengumpul makanan ini membawa pengetahuan penting berupa pembuatan api. Kehadiran mereka berdampak besar pada ekosistem lokal, di mana perburuan intensif memicu kepunahan berbagai mamalia marsupial berbadan besar. Setelah megafauna punah, mereka beralih berburu hewan yang lebih kecil seperti kuskus dan kanguru pohon. Ribuan tahun kemudian, kelompok Australomelanesid mulai mengembangkan peradaban yang lebih kompleks. Mereka bergerak ke dataran tinggi, seperti di Situs Kuk, Papua Nugini, di mana mereka mulai membudidayakan keladi sekitar 8.000 tahun lalu. Migrasi ke barat berlanjut hingga ke Lembah Baliem di Papua, tempat pertanian buah merah dikembangkan sekitar 7.000 tahun lalu. Masyarakat dataran tinggi ini hidup terisolasi dari pendatang baru, sehingga budaya mereka tidak mengenal penggunaan wadah tanah liat untuk memasak. Peta budaya Papua berubah signifikan sekitar 3.000 tahun lalu dengan kedatangan manusia Austronesia di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Interaksi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/menelusuri-jejak-purba-dan-akar-migrasi-nenek-moyang-tanah-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/menelusuri-jejak-purba-dan-akar-migrasi-nenek-moyang-tanah-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sumatera Selatan: Ketika Ratusan Pulau Lenyap dan Banjir Mengintai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sumatera-selatan-ketika-ratusan-pulau-lenyap-dan-banjir-mengintai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sumatera-selatan-ketika-ratusan-pulau-lenyap-dan-banjir-mengintai/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:33:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/11/22005934/Pulau-atau-delta-di-Kecamatan-Pampangan-Kabupaten-OKI-Sumsel-yang-menghilang-dikarenakan-perubahan-lahan-basah-di-sekitarnya.-Foto-Drone-Humaidy-Kenedy-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128744</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Hutan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wajah geografis Sumatera Selatan terus mengalami perubahan drastis yang kian mengikis identitas baharinya. Provinsi yang dulunya diperkirakan memiliki ratusan pulau kecil atau delta di tengah lahan basah kini hanya menyisakan 23 pulau. Sebagian besar pulau yang tersisa, seperti Pulau Kemaro dan Pulau Kreto, kini berdiri sebagai peninggalan terisolasi di Sungai Musi, sementara ratusan pulau lainnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sumatera-selatan-ketika-ratusan-pulau-lenyap-dan-banjir-mengintai/">Sumatera Selatan: Ketika Ratusan Pulau Lenyap dan Banjir Mengintai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wajah geografis Sumatera Selatan terus mengalami perubahan drastis yang kian mengikis identitas baharinya. Provinsi yang dulunya diperkirakan memiliki ratusan pulau kecil atau delta di tengah lahan basah kini hanya menyisakan 23 pulau. Sebagian besar pulau yang tersisa, seperti Pulau Kemaro dan Pulau Kreto, kini berdiri sebagai peninggalan terisolasi di Sungai Musi, sementara ratusan pulau lainnya telah lenyap ditelan perubahan bentang alam yang masif. Hilangnya pulau-pulau ini bukanlah fenomena alamiah semata, melainkan akibat berkelanjutan dari alih fungsi lahan basah dan rawa gambut, terutama di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir. Hingga saat ini, ratusan ribu hektare rawa telah dikeringkan dan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, hingga permukiman dan infrastruktur jalan darat. Pengeringan rawa dan pembangunan jalan yang menyambungkan daratan telah secara permanen menghapus batas perairan, membuat pulau-pulau kecil menyatu dengan daratan utama dan kehilangan eksistensinya. Kepunahan pulau-pulau ini juga menandai memudarnya kearifan lokal masyarakat bahari Palembang. Secara historis, masyarakat Palembang memandang Sungai Musi sebagai &#8220;laut&#8221; dan daratan kecil di perairannya sebagai &#8220;pulau&#8221;. Mereka hidup beradaptasi dengan air melalui rumah rakit, perahu kajang, dan rumah panggung. Dalam pandangan masyarakat bahari tradisional, air bukanlah sumber bencana, melainkan sumber kehidupan dan jalur transportasi utama yang ramah. Namun, pola pembangunan modern yang mengadopsi konsep daratan; dengan menimbun sungai, mengeringkan rawa, dan membangun infrastruktur tanpa tiang; telah memutus hubungan harmonis tersebut. Ironisnya, upaya untuk &#8220;mengusir&#8221; air dari ruang hidup manusia ini justru menjadi bumerang yang nyata saat ini. Setiap kali musim hujan tiba atau saat pasang laut naik, Sumatera Selatan, khususnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sumatera-selatan-ketika-ratusan-pulau-lenyap-dan-banjir-mengintai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sumatera-selatan-ketika-ratusan-pulau-lenyap-dan-banjir-mengintai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Sejarah dan Ancaman Fatal di Balik Tradisi Daging Anjing Minahasa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-sejarah-dan-ancaman-fatal-di-balik-tradisi-daging-anjing-minahasa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-sejarah-dan-ancaman-fatal-di-balik-tradisi-daging-anjing-minahasa/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:29:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011534/Pasar-Tomohon-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128743</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tradisi mengonsumsi daging anjing di Minahasa, Sulawesi Utara, yang dikenal dengan hidangan Rintek Wuuk (RW), merupakan kebiasaan yang telah berakar sejak lama. Meskipun belum ada bukti penanggalan karbon dari tulang anjing di situs prasejarah, relief motif anjing pada Waruga yang berasal dari abad ke-7 Masehi mengindikasikan bahwa hewan ini telah lama berinteraksi dengan masyarakat setempat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-sejarah-dan-ancaman-fatal-di-balik-tradisi-daging-anjing-minahasa/">Jejak Sejarah dan Ancaman Fatal di Balik Tradisi Daging Anjing Minahasa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tradisi mengonsumsi daging anjing di Minahasa, Sulawesi Utara, yang dikenal dengan hidangan Rintek Wuuk (RW), merupakan kebiasaan yang telah berakar sejak lama. Meskipun belum ada bukti penanggalan karbon dari tulang anjing di situs prasejarah, relief motif anjing pada Waruga yang berasal dari abad ke-7 Masehi mengindikasikan bahwa hewan ini telah lama berinteraksi dengan masyarakat setempat. Anjing diperkenalkan oleh manusia berbahasa Austronesia sekitar 3.000 tahun lalu. Pada masa lalu, daging anjing hanya dikonsumsi oleh keluarga saat musim paceklik atau ketika buruan sulit didapat, bukan untuk diperjualbelikan. Menariknya, dalam budaya Minahasa, satu-satunya hewan yang pantang dikonsumsi adalah burung hantu atau manguni yang sangat disakralkan. Seiring berjalannya waktu dan masuknya ekonomi pasar, tradisi yang awalnya berfungsi untuk mengendalikan populasi anjing yang cepat bereproduksi ini bergeser menjadi komoditas perdagangan. Pusat perdagangan daging anjing yang terkenal adalah Pasar Ekstrem Tomohon. Namun, kesadaran akan dampak negatif dari perdagangan ini mulai membuahkan hasil.  Pemerintah Kota Tomohon resmi melarang perdagangan anjing dan kucing. Langkah ini diambil untuk menyelamatkan ribuan hewan dari penyembelihan kejam serta melindungi masyarakat dari ancaman kesehatan yang serius. Sebelumnya,  Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan juga telah mengeluarkan surat edaran yang menegaskan bahwa daging anjing tidak termasuk dalam definisi pangan dan berisiko menularkan penyakit zoonosis. Larangan ini sangat beralasan mengingat konsumsi dan perdagangan daging anjing membawa ancaman besar bagi kesehatan manusia. Anjing merupakan penular utama penyakit rabies di Indonesia, menyumbang hingga 98 persen kasus. Selain rabies, mengonsumsi daging anjing juga berisiko memicu hipertensi, gangguan saluran pencernaan, hingga kolera. Di sisi lain, perdagangan ini juga memberikan dampak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-sejarah-dan-ancaman-fatal-di-balik-tradisi-daging-anjing-minahasa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-sejarah-dan-ancaman-fatal-di-balik-tradisi-daging-anjing-minahasa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Rambusa, Tanaman Merambat Liar yang Kaya Manfaat Kesehatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengenal-rambusa-tanaman-merambat-liar-yang-kaya-manfaat-kesehatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengenal-rambusa-tanaman-merambat-liar-yang-kaya-manfaat-kesehatan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:25:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[flora dan fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22004232/Rambusa2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128742</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rambusa (Passiflora foetida), yang sering dijuluki sebagai markisa mini, merupakan tanaman merambat asli dari wilayah Amerika yang kini tumbuh liar di berbagai daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki panjang 1,5 hingga 5 meter dengan alat pembelit berbentuk spiral yang memudahkannya memanjat pepohonan. Ciri khasnya meliputi daun hijau mengkilat yang terasa lengket, bunga dengan mahkota [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengenal-rambusa-tanaman-merambat-liar-yang-kaya-manfaat-kesehatan/">Mengenal Rambusa, Tanaman Merambat Liar yang Kaya Manfaat Kesehatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rambusa (Passiflora foetida), yang sering dijuluki sebagai markisa mini, merupakan tanaman merambat asli dari wilayah Amerika yang kini tumbuh liar di berbagai daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki panjang 1,5 hingga 5 meter dengan alat pembelit berbentuk spiral yang memudahkannya memanjat pepohonan. Ciri khasnya meliputi daun hijau mengkilat yang terasa lengket, bunga dengan mahkota putih dan bagian tengah ungu, serta buah bulat berukuran 1,5-3 cm yang dibungkus serabut berambut. Saat mentah, kulit buahnya berwarna hijau, namun berubah menjadi kuning cerah ketika matang, dengan biji hitam di dalamnya yang diselimuti cairan bening layaknya markisa. Di Indonesia, rambusa sangat mudah dijumpai tumbuh liar di semak belukar, tepi hutan, pesisir pantai, hingga pinggir jalan raya. Tanaman ini biasanya lebih banyak berbuah pada musim hujan. Selain dikenal dengan nama rambusa atau markisa mini, tanaman ini memiliki berbagai sebutan lokal di berbagai daerah, seperti ceplukan, blungsun, rajutan, permot, hingga timun padang. Bagi anak-anak di beberapa daerah seperti Maumere, Nusa Tenggara Timur, buah yang rasanya manis ini menjadi camilan favorit yang sering dipetik langsung dari pohon inangnya di alam liar. Meskipun lezat saat matang, masyarakat perlu mewaspadai bahwa buah rambusa mengandung racun jika dikonsumsi saat masih muda. Namun, ketika sudah matang sempurna, buah ini menyimpan segudang manfaat kesehatan. Berdasarkan penelitian, buah rambusa kaya akan kalsium, zat besi, antioksidan, mineral, dan Vitamin C. Menariknya, kadar Vitamin C pada buah rambusa matang tercatat lebih tinggi, yaitu sebesar 2,21 mg/g, dibandingkan saat masih mentah yang hanya 1,31 mg/g. Kandungan nutrisinya yang padat membuat rambusa berpotensi besar sebagai tanaman&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengenal-rambusa-tanaman-merambat-liar-yang-kaya-manfaat-kesehatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengenal-rambusa-tanaman-merambat-liar-yang-kaya-manfaat-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kapulaga: Dari Rempah Tradisional hingga Primadona Ekspor dan Obat Diabetes</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kapulaga-dari-rempah-tradisional-hingga-primadona-ekspor-dan-obat-diabetes/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kapulaga-dari-rempah-tradisional-hingga-primadona-ekspor-dan-obat-diabetes/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:21:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232031/kapulaga-jawa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128741</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kapulaga atau kapulaga jawa merupakan tanaman asli Indonesia dari famili Zingiberaceae yang kini telah mendunia. Tumbuh subur di ketinggian 300-500 meter di atas permukaan laut, tanaman tahunan ini banyak ditemukan di Jawa Barat dan kawasan Gunung Honje, Banten. Masyarakat lokal telah lama memanfaatkan berbagai bagian tanaman ini, dari akar hingga daun. Di Gunung Honje, buah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kapulaga-dari-rempah-tradisional-hingga-primadona-ekspor-dan-obat-diabetes/">Kapulaga: Dari Rempah Tradisional hingga Primadona Ekspor dan Obat Diabetes</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kapulaga atau kapulaga jawa merupakan tanaman asli Indonesia dari famili Zingiberaceae yang kini telah mendunia. Tumbuh subur di ketinggian 300-500 meter di atas permukaan laut, tanaman tahunan ini banyak ditemukan di Jawa Barat dan kawasan Gunung Honje, Banten. Masyarakat lokal telah lama memanfaatkan berbagai bagian tanaman ini, dari akar hingga daun. Di Gunung Honje, buah kapulaga diramu dengan minyak kayu putih untuk menghangatkan tubuh anak-anak. Biji kapulaga juga ampuh mengobati batuk, sakit perut, dan kembung, serta berfungsi sebagai rempah penyedap makanan dan pewangi alami. Di berbagai daerah, rempah ini memiliki nama yang beragam, seperti kardamon, palogo, kapol, hingga karkolaka. Tidak hanya berkhasiat sebagai obat tradisional, kapulaga kini menjadi primadona di pasar global. Kementerian Perdagangan mencatat kapulaga masuk dalam daftar 10 rempah ekspor andalan Indonesia.  Tingginya permintaan global membuktikan bahwa kapulaga memiliki nilai ekonomis yang sangat menjanjikan bagi devisa negara. Di balik nilai ekonominya yang tinggi, kapulaga menyimpan potensi medis luar biasa yang telah dibuktikan secara ilmiah. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Agritech pada tahun 2013 mengungkap bahwa ekstrak daun kapulaga berpotensi besar sebagai obat diabetes. Uji coba pada hewan menunjukkan bahwa ekstrak ini mampu mengendalikan kadar glukosa darah dan berat badan. Daun kapulaga kaya akan antioksidan, flavonoid, dan Vitamin C yang berfungsi sebagai pangan fungsional antidiabetes, antiaterogenik, dan antiobesitas. Potensi ini sangat relevan mengingat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ratusan juta orang di dunia menderita diabetes, dengan Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus tertinggi. Dengan segala khasiat tradisional, potensi medis, dan nilai ekonomisnya, kapulaga membuktikan posisinya sebagai rempah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kapulaga-dari-rempah-tradisional-hingga-primadona-ekspor-dan-obat-diabetes/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kapulaga-dari-rempah-tradisional-hingga-primadona-ekspor-dan-obat-diabetes/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sisa Hidup Era Jurassic: Pohon &#8216;Monkey Puzzle&#8217; di Ambang Kepunahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sisa-hidup-era-jurassic-pohon-monkey-puzzle-di-ambang-kepunahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sisa-hidup-era-jurassic-pohon-monkey-puzzle-di-ambang-kepunahan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:16:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[flora dan fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/08/22022553/Araucaria_araucana_02-600x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128452</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pohon bernama latin Araucaria araucana atau lebih dikenal sebagai &#8220;Monkey Puzzle&#8221; merupakan saksi bisu sejarah Bumi. Spesies ini telah ada sejak era Jurassic, lebih dari 145 juta tahun lalu, berhasil bertahan hidup melewati masa kepunahan dinosaurus 65 juta tahun silam. Pohon cemara raksasa ini hanya tumbuh di Amerika Selatan, tepatnya di lereng pegunungan Patagonia, Chile [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sisa-hidup-era-jurassic-pohon-monkey-puzzle-di-ambang-kepunahan/">Sisa Hidup Era Jurassic: Pohon &#8216;Monkey Puzzle&#8217; di Ambang Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pohon bernama latin Araucaria araucana atau lebih dikenal sebagai &#8220;Monkey Puzzle&#8221; merupakan saksi bisu sejarah Bumi. Spesies ini telah ada sejak era Jurassic, lebih dari 145 juta tahun lalu, berhasil bertahan hidup melewati masa kepunahan dinosaurus 65 juta tahun silam. Pohon cemara raksasa ini hanya tumbuh di Amerika Selatan, tepatnya di lereng pegunungan Patagonia, Chile dan Argentina. Dengan tinggi mencapai hampir 50 meter dan usia hingga 700 tahun, ciri khasnya terletak pada cabang bersisik keras dan daun spiral yang kaku. Sayangnya, ketangguhan pohon purba ini kini terancam punah di era modern. Habitatnya mengalami kerusakan akibat meluasnya permukiman manusia, kebakaran hutan, dan penggembalaan ternak yang berlebihan. Populasi Monkey Puzzle di alam liar kini semakin menyusut. Kelangsungan hidup pohon ini memiliki keterkaitan erat dengan burung parkit austral (Enicognathus ferrugineus) dan burung paruh bengkok hijau. Burung-burung ini mengandalkan biji besar pohon tersebut sebagai sumber makanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa burung-burung ini berperan vital dalam regenerasi hutan. Mereka sering memakan biji secara parcial dan menyisakan &#8220;sisa&#8221; yang dibuang di tanah jauh dari pohon induk. Para ilmuwan menyatakan biji yang dimakan sebagian ini mampu berkecembah lebih cepat dan bertindak sebagai penyangga terhadap ancaman pemanenan biji oleh manusia. Selain burung, biji pohon ini juga menjadi sumber makanan tradisional bagi suku Mapuche, penduduk asli di sekitar pegunungan Patagonia. Namun, pemanenan biji secara berlebihan, termasuk oleh pengumpul ilegal, mengancam reproduksi alami pohon. Suku Mapuche sendiri memiliki sejarah panjang dalam melindungi spesies ini, bahkan sempat berkonflik dengan penebang liar dan pemerintah untuk melawan penebangan tanpa ampun pada masa lalu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sisa-hidup-era-jurassic-pohon-monkey-puzzle-di-ambang-kepunahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sisa-hidup-era-jurassic-pohon-monkey-puzzle-di-ambang-kepunahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Peran Spiritual Dukun dalam Melestarikan Bukit-Bukit Sakral Bangka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peran-spiritual-dukun-dalam-melestarikan-bukit-bukit-sakral-bangka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peran-spiritual-dukun-dalam-melestarikan-bukit-bukit-sakral-bangka/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:04:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/11/22020809/Ratusan-tahun-titik-ritual-yang-dijadikan-para-dukun-sebagai-lokasi-ritual-kini-menjadi-hutan-tersisa-di-Pulau-Bangka-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128740</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Hutan adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pulau Bangka yang luasnya sekitar 1,1 juta hektar kini hanya menyisakan bukit-bukit granit sebagai hutan tersisa. Ratusan tahun ekstraksi timah dan perkebunan monokultur seperti sawit telah menggerus lanskap alami. Di tengah kerusakan ini, para dukun kampung dan masyarakat adat masih berusaha menjaga bukit-bukit yang dianggap sakral melalui ritual tradisional. Suku Jerieng di Desa Pelangas, Kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peran-spiritual-dukun-dalam-melestarikan-bukit-bukit-sakral-bangka/">Peran Spiritual Dukun dalam Melestarikan Bukit-Bukit Sakral Bangka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pulau Bangka yang luasnya sekitar 1,1 juta hektar kini hanya menyisakan bukit-bukit granit sebagai hutan tersisa. Ratusan tahun ekstraksi timah dan perkebunan monokultur seperti sawit telah menggerus lanskap alami. Di tengah kerusakan ini, para dukun kampung dan masyarakat adat masih berusaha menjaga bukit-bukit yang dianggap sakral melalui ritual tradisional. Suku Jerieng di Desa Pelangas, Kabupaten Bangka Barat, memiliki Bukit Penyabung setinggi 300 meter sebagai wilayah tertinggi dan area sakral. Setiap bulan Muharram, mereka melaksanakan ritual &#8220;taber gunung&#8221; sebagai bentuk syukur atas hasil alam dan doa agar dijauhkan dari bencana. Janum bin Lamat, Ketua Adat Suku Jerieng dan keturunan ketujuh &#8220;batin gunung&#8221;, menjelaskan bahwa tugas dukun kampung sangat berat karena tanggung jawabnya tidak hanya mengurusi manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan. &#8220;Rusaknya bukit tidak hanya merugikan kehidupan kami di dunia, tetapi juga spiritual kami,&#8221; kata Janum. Ritual ini sempat vakum pada 1991-1997 bersamaan dengan masuknya perkebunan sawit yang menggerus hutan sekitar Bukit Penyabung. Baru pada Agustus 2022, Janum mendapat kepercayaan leluhur melalui mimpi untuk meneruskan ritual yang telah terhenti hampir 25 tahun tersebut. Di Bangka Selatan, Bukit Nenek setinggi 380 meter menjadi lokasi ritual &#8220;Ketupat Gong&#8221; masyarakat Desa Gudang. Makmun, dukun kampung setempat, menjelaskan bahwa sebelum penetapan kawasan Taman Wisata Alam Gunung Permisan tahun 2016, masyarakat sudah menjaga bukit tersebut karena nilai sakralnya. Ritual ini menjadi bukti bahwa kepercayaan tradisional efektif melestarikan hutan. Gunung Maras setinggi 705 meter ditetapkan sebagai Taman Nasional sejak 2016 dengan luas 16.806 hektar. Bagi masyarakat adat, gunung ini adalah titik spiritual terkuat dan dianggap sebagai &#8220;kakek&#8221;&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peran-spiritual-dukun-dalam-melestarikan-bukit-bukit-sakral-bangka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peran-spiritual-dukun-dalam-melestarikan-bukit-bukit-sakral-bangka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Elusif Kucing Merah Kalimantan: Hantu Hutan yang Terancam Punah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-elusif-kucing-merah-kalimantan-hantu-hutan-yang-terancam-punah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-elusif-kucing-merah-kalimantan-hantu-hutan-yang-terancam-punah/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:00:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[flora dan fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/04/22013956/Bay-cat-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128739</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kucing merah Kalimantan (Catopuma badia) merupakan satu-satunya spesies kucing endemik di Pulau Kalimantan. Dikenal dengan bulu coklat kemerahan yang indah dan ekor panjangnya, satwa ini masuk dalam daftar merah IUCN sebagai spesies terancam punah. Populasinya di alam liar diperkirakan tersisa kurang dari 2.500 ekor, dengan habitat alami yang terus menyusut drastis setiap tahunnya akibat aktivitas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-elusif-kucing-merah-kalimantan-hantu-hutan-yang-terancam-punah/">Jejak Elusif Kucing Merah Kalimantan: Hantu Hutan yang Terancam Punah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kucing merah Kalimantan (Catopuma badia) merupakan satu-satunya spesies kucing endemik di Pulau Kalimantan. Dikenal dengan bulu coklat kemerahan yang indah dan ekor panjangnya, satwa ini masuk dalam daftar merah IUCN sebagai spesies terancam punah. Populasinya di alam liar diperkirakan tersisa kurang dari 2.500 ekor, dengan habitat alami yang terus menyusut drastis setiap tahunnya akibat aktivitas manusia di dunia. Spesies ini pertama kali ditemukan oleh Alfred Russel Wallace pada tahun 1856. Namun, setelah beberapa spesimen dikumpulkan oleh ilmuwan, kucing ini tiba-tiba menghilang dari pengamatan ilmiah selama lebih dari 60 tahun. Keberadaannya baru terbukti kembali pada November 1992 ketika seekor betina yang hampir mati ditemukan warga lokal dan dibawa ke museum di Sarawak. Hingga kini, kucing ini tetap menjadi misteri besar yang belum terpecahkan. Para peneliti bahkan belum mengetahui secara pasti apa makanan favorit, relung ekologi, jenis hutan yang disukai, hingga pola reproduksi mereka di alam liar. Kerabat terdekatnya adalah kucing emas Asia, namun keduanya telah terpisah secara evolusi selama lebih dari tiga juta tahun. Saking sulitnya dilacak, mendapatkan foto kucing ini di alam liar sangatlah langka. Susan Cheyne dari Borneo Nature Foundation menghabiskan 16 tahun memasang kamera jebak di Taman Nasional Sebangau tanpa berhasil menangkap satu pun gambar kucing merah, meskipun empat spesies kucing Kalimantan lainnya terekam jelas. Secara global, kamera jebak di seluruh hutan tropis tercatat hanya menangkap gambar mereka kurang dari seratus kali saja. Meskipun sangat elusif, penelitian di Hutan Lindung Kalabakan, Sabah, memberikan sedikit terang. Data menunjukkan kepadatan populasi yang sangat rendah, yaitu sekitar tiga ekor per 100&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-elusif-kucing-merah-kalimantan-hantu-hutan-yang-terancam-punah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-elusif-kucing-merah-kalimantan-hantu-hutan-yang-terancam-punah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Terumbu ke Pergelangan Tangan, Kisah Kelam Akar Bahar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dari-terumbu-ke-pergelangan-tangan-kisah-kelam-akar-bahar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dari-terumbu-ke-pergelangan-tangan-kisah-kelam-akar-bahar/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 08:56:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[flora dan fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/08/22022731/Akar-bahar-yang-sesungguhnya-hewan.-Foto_-Christopel-Paino-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128738</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi sebagian masyarakat Indonesia, akar bahar dianggap bertuah. Ia kerap dijadikan gelang penangkal penyakit atau digantung di depan pintu rumah, seperti yang dilakukan warga Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, untuk menolak bala. Namun, di balik kepercayaan itu, tersembunyi kisah kelam: banyak yang tak tahu bahwa akar bahar bukanlah tumbuhan laut, melainkan hewan yang dilindungi. Akar bahar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dari-terumbu-ke-pergelangan-tangan-kisah-kelam-akar-bahar/">Dari Terumbu ke Pergelangan Tangan, Kisah Kelam Akar Bahar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi sebagian masyarakat Indonesia, akar bahar dianggap bertuah. Ia kerap dijadikan gelang penangkal penyakit atau digantung di depan pintu rumah, seperti yang dilakukan warga Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, untuk menolak bala. Namun, di balik kepercayaan itu, tersembunyi kisah kelam: banyak yang tak tahu bahwa akar bahar bukanlah tumbuhan laut, melainkan hewan yang dilindungi. Akar bahar atau The Black Corals (nama ilmiah Anthiphates) adalah hewan berongga yang hidup di antara terumbu karang. Uniknya, ia tidak memiliki sistem pembuangan sisa pencernaan, pernapasan, maupun peredaran darah. Ia berkembang biak melalui gamet jantan dan betina yang bertemu di perairan. Hidupnya bergantung pada kondisi laut yang subur dan bersih, biasanya di kedalaman 5 hingga 40 meter. Sayangnya, ketidakpahaman justru berujung pada eksploitasi. Di sepanjang jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, gelang akar bahar dijual bebas sebagai suvenir seharga Rp50.000 hingga Rp80.000. Perdagangan online pun marak. Tapi dibalik kilau gelang itu, ada harga lain yang jauh lebih mahal: nyawa ekosistem laut. Kisah kelamnya semakin terlihat saat petugas kerap menggagalkan pengiriman akar bahar. Di Taman Nasional Takabonerate, empat perajin dibina dan bahan bakunya diamankan. Di Bandara RHF Tanjungpinang, petugas AVSEC bersama BKIPM menyita 2,2 kilogram (75 ons) akar bahar yang hendak dikirim ke Purbalingga, Jawa Tengah. Semua ini terjadi diam-diam, jauh dari sorotan wisatawan yang dengan polos membeli gelang cantik. Akar bahar sebenarnya dilindungi oleh setidaknya empat undang-undang: UU No. 21/2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, UU No. 31/2004 tentang Perikanan (jo. UU No. 45/2009), UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati, serta PP No. 7/1999&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dari-terumbu-ke-pergelangan-tangan-kisah-kelam-akar-bahar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dari-terumbu-ke-pergelangan-tangan-kisah-kelam-akar-bahar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Digerogoti Ulat, Tanaman Kacang Ini Memanggil Tawon untuk Menghabisi Sang Ulat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/03/digerogoti-ulat-tanaman-kacang-ini-memanggil-tawon-untuk-menghabisi-sang-ulat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/03/digerogoti-ulat-tanaman-kacang-ini-memanggil-tawon-untuk-menghabisi-sang-ulat/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 05:17:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/03051655/Phaseolus_vulgaris_var._nanus_04-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128729</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tanaman tidak bisa berlari, tidak bisa berteriak, dan tidak punya tangan untuk mengusir hama. Tapi bukan berarti mereka tak berdaya. Tanaman kacang, ternyata, bisa memanggil bantuan. Saat seekor ulat grayak mulai memakan daunnya, tanaman ini melepaskan sinyal kimia ke udara yang menarik tawon predator untuk datang dan memangsa sang ulat. Para ilmuwan sudah lama menduga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/digerogoti-ulat-tanaman-kacang-ini-memanggil-tawon-untuk-menghabisi-sang-ulat/">Digerogoti Ulat, Tanaman Kacang Ini Memanggil Tawon untuk Menghabisi Sang Ulat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tanaman tidak bisa berlari, tidak bisa berteriak, dan tidak punya tangan untuk mengusir hama. Tapi bukan berarti mereka tak berdaya. Tanaman kacang, ternyata, bisa memanggil bantuan. Saat seekor ulat grayak mulai memakan daunnya, tanaman ini melepaskan sinyal kimia ke udara yang menarik tawon predator untuk datang dan memangsa sang ulat. Para ilmuwan sudah lama menduga hal ini terjadi, tapi baru sekarang mereka bisa membuktikan bagaimana persisnya mekanisme itu bekerja, dari tingkat molekul hingga apa yang terjadi di ladang sungguhan. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada Mei 2026 ini dilakukan oleh tim dari Universitas Washington bersama kolaborator dari Swiss dan Meksiko, melalui serangkaian percobaan laboratorium dan lapangan di negara bagian Oaxaca, Meksiko. Tanaman kacang merah (Phaseolus vulgaris) dengan polong yang mulai terbentuk. Spesies inilah yang menjadi subjek penelitian, dan terbukti memiliki kemampuan mendeteksi kehadiran ulat grayak melalui molekul dalam air liur hama tersebut. Foto: Rasbak/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0) Dimulai dari Air Liur Ulat Lalu bagaimana caranya tanaman memanggil bantuan? Jawabannya dimulai bukan dari tanaman, melainkan dari perut ulat itu sendiri. Saat ulat memakan daun kacang, protein dari daun ikut masuk ke perutnya dan tercerna. Dari proses pencernaan itu, tanpa disadari ulat, terbentuk sebuah molekul kecil bernama In11. Molekul ini semacam &#8220;sidik jari&#8221; yang hanya muncul ketika ada ulat yang sedang makan. Saat ulat terus mengunyah dan mengeluarkan air liur, In11 ikut tersebar ke permukaan daun. Di sinilah tanaman mulai bereaksi. Pada permukaan daun terdapat semacam sensor bernama INR, atau Inceptin Receptor. Begitu In11 terdeteksi, tanaman langsung merespons dengan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/digerogoti-ulat-tanaman-kacang-ini-memanggil-tawon-untuk-menghabisi-sang-ulat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/03/digerogoti-ulat-tanaman-kacang-ini-memanggil-tawon-untuk-menghabisi-sang-ulat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebun Sawit Sekitar Meratus Ancam Lukisan Prasejarah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/03/kebun-sawit-sekitar-meratus-ancam-lukisan-prasejarah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/03/kebun-sawit-sekitar-meratus-ancam-lukisan-prasejarah/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 04:02:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/02203246/IMG-20260526-WA0010-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128706</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ekspansi perkebunan sawit mengancam 348 gambar cadas berusia sekitar 2.000 tahun di sembilan gua karst Meratus di Desa Dukuhrejo, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Kalsel). Padahal, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut gambar-gambar cadas ini sebagai ‘kitab’ tertua di Kalimantan. Ia tertulis di dinding gua, bukan di atas kertas. Gambar itu berupa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/kebun-sawit-sekitar-meratus-ancam-lukisan-prasejarah/">Kebun Sawit Sekitar Meratus Ancam Lukisan Prasejarah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ekspansi perkebunan sawit mengancam 348 gambar cadas berusia sekitar 2.000 tahun di sembilan gua karst Meratus di Desa Dukuhrejo, Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan (Kalsel). Padahal, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut gambar-gambar cadas ini sebagai ‘kitab’ tertua di Kalimantan. Ia tertulis di dinding gua, bukan di atas kertas. Gambar itu berupa cerita 14 gambar manusia kangkang sebagai simbol penolak bala, enam gambar perahu arwah pengantar kematian, satu buaya sepanjang sekitar satu meter sebagai penjaga sungai, hingga cap tangan tiga jari misterius di langit-langit gua kubur. “Ini bukan sekadar seni mati, melainkan semacam KTP leluhurnya orang Dayak Meratus,”  kata Bambang Sugiyanto, peneliti BRIN di Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah. Iyan, sapaan akrabnya, menyebut,  nilai penting ini terlihat dari keterkaitan gambar cadas dengan budaya Masyarakat Dayak Meratus yang masih bertahan hingga sekarang. Gambar perahu arwah, misal, dia bilang berhubungan dengan ritual pengantar roh menggunakan replika perahu menuju Gunung Lumut yang banyak Masyarakat Dayak Meratus terapkan. Kemudian gambar buaya yang berkaitan dengan mitos Buaya Kuning sebagai penjaga sungai. Larangan membunuh binatang ini, karena masyarakat percaya kerusakan sungai dapat membawa celaka bagi kampung. Ada gambar manusia  menyerupai posisi Tari Babat, ritual tolak bala yang balian (pemuka adat Dayak Meratus) lakukan. Dari temuan itu, dia menyimpulkan, Mantewe, berbatasan dengan Pegunungan Meratus, bukan sekadar situs purbakala. Melainkan ‘dokumen hidup’ ribuan tahun tentang cara masyarakat kuno menjaga hubungan dengan alam. Kawasan ini, kata Iyan, sejatinya memiliki kemiripan motif dengan situs Gua Kaung-Dalu di Kalimantan Barat, yang juga menampilkan gambar manusia, perahu, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/kebun-sawit-sekitar-meratus-ancam-lukisan-prasejarah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/03/kebun-sawit-sekitar-meratus-ancam-lukisan-prasejarah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Puluhan Raflesia Bermekaran di Kepulauan Anambas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/02/puluhan-raflesia-bermekaran-di-kepulauan-anambas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/02/puluhan-raflesia-bermekaran-di-kepulauan-anambas/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 17:04:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi E Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/01121118/Raflesia-31-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128651</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fenomena munculnya bunga rafflesia dalam jumlah besar di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, menarik perhatian peneliti. Di hutan seluas 47,5 hektar di Desa Tarempa Selatan, hasil identifikasi sementara temukan 25 titik rafflesia yang terus mekar setiap minggu. Dari Kota Tarempa, lokasi itu hanya berjarak sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/puluhan-raflesia-bermekaran-di-kepulauan-anambas/">Puluhan Raflesia Bermekaran di Kepulauan Anambas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fenomena munculnya bunga rafflesia dalam jumlah besar di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, menarik perhatian peneliti. Di hutan seluas 47,5 hektar di Desa Tarempa Selatan, hasil identifikasi sementara temukan 25 titik rafflesia yang terus mekar setiap minggu. Dari Kota Tarempa, lokasi itu hanya berjarak sekitar 10 menit menggunakan sepeda motor dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 25 menit memasuki kawasan hutan yang berada di Bukit Batu Tabir. Faizal Rangkuti dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kepulauan Riau (Kepri) mengatakan, terdapat 25 spot rafflesia yang tersebar di area perbukian dengan vegetasi hutan alami. Lokasi itu berdekatan dengan area penggunaan lain (APL) yang warga manfaatkan untuk berkebun. Berdasar keterangan warga, kata Faizal, keberadaan raflesia itu sejatinya sudah lama, bahkan sejak 1980-an. Namun warga mengiranya hanya bunga biasa, karena belum mekar seutuhnya. “Mulai 2025 kemarin baru benar-benar mekar dan menarik perhatian masyarakat.” Faizal bilang bunga rafflesia di kawasan itu terus bermunculan hampir setiap minggu hingga memicu antusias masyarakat dan pemerhati lingkungan untuk datang ke lokasi. “Yang mekar itu ada terus. Hampir setiap minggu selalu ada,” ujarnya. Sejumlah peneliti dan lembaga swasta lainnya juga  datang ke lokasi, termasuk  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Riau, MedcoEnergi, hingga pengelola Pulau Bawah Resort Anambas. Saat ini, bersama pemerintah desa, petugas kehutanan menjaga kawasan hutan itu dengan melakukan patroli rutin secara bergantian. Kini, pemerintah  melakukan verifikasi untuk penetapan kawasan itu  sebagai perhutanan sosial. “Nantinya pengelolaan akan diserahkan kepada Desa Tarempa Selatan. Tinggal menunggu penetapan dari Balai Perhutanan Sosial di Kampar.&#8221; Menurut Faizal, rafflesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/puluhan-raflesia-bermekaran-di-kepulauan-anambas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/02/puluhan-raflesia-bermekaran-di-kepulauan-anambas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Fakta di Balik Fenomena Temuan Anak Kucing Hutan Tanpa Induk</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/fakta-di-balik-fenomena-temuan-anak-kucing-hutan-tanpa-induk/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/fakta-di-balik-fenomena-temuan-anak-kucing-hutan-tanpa-induk/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 09:57:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000011/Leopard_cat_India-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128702</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Secara alami, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan anak kucing hutan sering berkeliaran atau ditemukan masyarakat di pinggiran hutan tanpa induknya. Faktor pertama berkaitan dengan upaya perlindungan dari pemangsa. Indukan betina memiliki kecenderungan untuk bergeser ke wilayah pinggiran hutan yang berbatasan dengan kebun pada masa melahirkan dan mengasuh anak. Perilaku ini diperkirakan sebagai strategi indukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/fakta-di-balik-fenomena-temuan-anak-kucing-hutan-tanpa-induk/">Fakta di Balik Fenomena Temuan Anak Kucing Hutan Tanpa Induk</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Secara alami, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan anak kucing hutan sering berkeliaran atau ditemukan masyarakat di pinggiran hutan tanpa induknya. Faktor pertama berkaitan dengan upaya perlindungan dari pemangsa. Indukan betina memiliki kecenderungan untuk bergeser ke wilayah pinggiran hutan yang berbatasan dengan kebun pada masa melahirkan dan mengasuh anak. Perilaku ini diperkirakan sebagai strategi indukan untuk menghindari ancaman kucing jantan dewasa. Kucing jantan terkadang memiliki sifat kanibal yang dapat membunuh anak-anaknya sendiri demi mengurangi persaingan di habitat mereka. Faktor kedua adalah ketersediaan pakan. Wilayah perbatasan hutan atau ekoton menawarkan sumber makanan yang jauh lebih melimpah dan mudah didapatkan daripada di dalam hutan core. Di area perkebunan kelapa sawit, misalnya, anak dan induk kucing hutan bisa dengan mudah menemukan mangsa seperti tikus atau amfibi. Kelimpahan mangsa ini menarik perhatian induk kucing hutan untuk membawa anak-anak mereka beraktivitas di dekat batas area kebun penduduk. Faktor ketiga adalah perilaku alami anak kucing itu sendiri. Sama seperti kucing domestik, anakan kucing hutan sering kali mengeluarkan suara bising atau mengeong terus-menerus saat ditinggalkan oleh induknya. Induk kucing hutan biasanya harus pergi berburu dalam waktu tertentu dan meninggalkan anak-anaknya di tempat persembunyian sementara. Suara bising dari anakan yang kelaparan atau mencari induknya inilah yang sering kali memicu masyarakat atau petani setempat untuk menemukan keberadaan mereka secara tidak sengaja. Oleh karena itu, para ahli konservasi mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengevaluasi atau mengambil anakan kucing hutan yang terlihat sendirian di pinggir hutan. Besar kemungkinan induknya tidak benar-benar pergi atau menelantarkan anaknya, melainkan hanya sedang berburu makanan di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/fakta-di-balik-fenomena-temuan-anak-kucing-hutan-tanpa-induk/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/fakta-di-balik-fenomena-temuan-anak-kucing-hutan-tanpa-induk/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/02/banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/02/banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 09:10:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/01072731/Lumpur-pekat-yang-dibawa-banjir-menenggelamkan-kebun-karet-milik-warga-di-Kecamatan-Tapin-Selatan.-Foto_-Riyad-Dafhi-Rizki_Mongabay-Indonesia__-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128627</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, data dan statistik, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Warga Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), waswas tiap mendung datang. Pasalnya, tiap hujan besar terjadi, kampung mereka rentan banjir. Kondisi makin parah ketika banjir  lumpur pekat bercampur batubara. Akhir Maret hingga pertengahan April, banjir merendam Kelurahan Tambarangan, Desa Sawang, dan Rumintin hingga lima kali. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin, di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan/">Banjir Lumpur Campur Batubara Sengsarakan Warga Tapin Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Warga Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel), waswas tiap mendung datang. Pasalnya, tiap hujan besar terjadi, kampung mereka rentan banjir. Kondisi makin parah ketika banjir  lumpur pekat bercampur batubara. Akhir Maret hingga pertengahan April, banjir merendam Kelurahan Tambarangan, Desa Sawang, dan Rumintin hingga lima kali. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapin, di Kelurahan Tambarangan, banjir terjadi di empat rukun tetangga (RT) dengan total 136 keluarga (531 jiwa) terdampak. Di Desa Sawang, banjir melanda empat RT dengan 61 keluarga (184 jiwa) terdampak. di Desa Rumintin, tiga RT, 33 keluarga (117 jiwa) terdampak. Mustaqimah, nama samaran, sudah tidak bisa lagi menghitung berapa kali banjir masuk ke dalam rumahnya. Seingatnya, kondisi ini sudah berlangsung sekitar lima tahun. &#8220;Setiap hujan besar turun, banjir lumpur nyaris pasti datang.  Yang masuk ke dalam rumah makin sering, sekitar dua tahun belakangan,&#8221; katanya pada Mongabay, akhir April. Banjir yang masuk ke rumah kini bisa mencapai betis, dengan ketebalan lumpur sekitar 2 cm. Pekerjaan berat mengeruk lumpur menunggu mereka ketika banjir surut. &#8220;Harus cepat-cepat dibersihkan. Kalau duluan air kering, malah susah. Menyikat lantainya pun tidak bisa sekali,&#8221; kata perempuan 51 tahun itu. Rumahnya pun makin rusak. Dinding dan lantai kayu makin lapuk. Dia bilang, pernah merogoh kocek hingga Rp15 juta untuk melakukan perbaikan. Masalah makin pahit karena banjir lumpur membuat kebun karet seluas 25 borongan atau sekitar 1 hektar miliknya tak produktif. Sudah 3 tahun kebun itu berhenti menghasilkan karena lumpur menumpuk hingga setinggi lutut, membuat kualitas getahnya menurun. &#8220;Getahnya asam, tidak bisa diapa-apakan lagi.&#8221; Padahal,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/02/banjir-lumpur-campur-batubara-sengsarakan-warga-tapin-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kilau Hijau Reptil Papua, Kekayaan yang Terancam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/02/kilau-hijau-reptil-papua-kekayaan-yang-terancam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/02/kilau-hijau-reptil-papua-kekayaan-yang-terancam/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jun 2026 08:15:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[*Yanti Samanui]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/02075333/medium-2.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128669</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Pertambangan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Jika warna hijau pernah viral karena ada pantone miskin, di hutan tropis Papua, reptil hijau menjadi kekayaan dan keunikan yang Indonesia punya. Salah satunya, sanca hijau papua (Morelia viridis) atau green tree phytons yang terkenal memiliki kilau hijau zamrud. Tak hanya itu, ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/kilau-hijau-reptil-papua-kekayaan-yang-terancam/">Kilau Hijau Reptil Papua, Kekayaan yang Terancam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Jika warna hijau pernah viral karena ada pantone miskin, di hutan tropis Papua, reptil hijau menjadi kekayaan dan keunikan yang Indonesia punya. Salah satunya, sanca hijau papua (Morelia viridis) atau green tree phytons yang terkenal memiliki kilau hijau zamrud. Tak hanya itu, ada beberapa reptil hijau lainnya yang menjadikan hutan Papua sebagai habitat. Sayangnya keberadaan reptil ini seringkali mendapatkan ancaman perburuan liar, hilangnya hutan dan minimnya data penelitian. Padahal, keindahan reptil hijau Papua bukanlah pajangan untuk dikurung dalam kandang kaca. Warna hijau mereka adalah bagian dari ekosistem hutan yang saling terkait sebagai predator yang mengendalikan populasi hama, sebagai mangsa bagi elang dan ular besar, dan sebagai indikator kesehatan hutan itu sendiri. Misalnya, sanca hijau Papua, banyak yang bilang ia menjadi sebuah kebanggaan sekaligus kutukan. Pasalnya, perburuan liar membuat statusnya dilindungi oleh pemerintah. Tapi, sanca hijau bukan menjadi satu-satunya harta karun, ada beragam reptil lainnya yang tak kalah mempesona namun justru lebih rentan karena minimnya perhatian publik. 1. Sanca hijau: sang bintang yang kemilau Tubuhnya ramping, berkilau hijau terang dengan deretan bintik atau garis putih tak beraturan di punggung. Warna ini yang menjadikannya primadona perdagangan reptil eksotis. Menurut Buku Panduan Identifikasi Herpetofauna Dilindungi, sebagian besar hidupnya berada di atas pepohonan (arboreal), panjangnya mencapai 1,8 meter. Ia memiliki ekor yang sangat kuat mencengkram dan memungkinkannya berayun lincah di pepohonan. Warna hijaunya menjadi kekuatannya untuk menyamar atau berkamuflase untuk mencari mangsanya. Selain di Papua, satwa ini bisa ditemui di semenanjung utara&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/02/kilau-hijau-reptil-papua-kekayaan-yang-terancam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/02/kilau-hijau-reptil-papua-kekayaan-yang-terancam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>