Bagi sebagian masyarakat Indonesia, akar bahar dianggap bertuah. Ia kerap dijadikan gelang penangkal penyakit atau digantung di depan pintu rumah, seperti yang dilakukan warga Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, untuk menolak bala. Namun, di balik kepercayaan itu, tersembunyi kisah kelam: banyak yang tak tahu bahwa akar bahar bukanlah tumbuhan laut, melainkan hewan yang dilindungi.
Akar bahar atau The Black Corals (nama ilmiah Anthiphates) adalah hewan berongga yang hidup di antara terumbu karang. Uniknya, ia tidak memiliki sistem pembuangan sisa pencernaan, pernapasan, maupun peredaran darah. Ia berkembang biak melalui gamet jantan dan betina yang bertemu di perairan. Hidupnya bergantung pada kondisi laut yang subur dan bersih, biasanya di kedalaman 5 hingga 40 meter.
Sayangnya, ketidakpahaman justru berujung pada eksploitasi. Di sepanjang jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai, gelang akar bahar dijual bebas sebagai suvenir seharga Rp50.000 hingga Rp80.000. Perdagangan online pun marak. Tapi dibalik kilau gelang itu, ada harga lain yang jauh lebih mahal: nyawa ekosistem laut.
Kisah kelamnya semakin terlihat saat petugas kerap menggagalkan pengiriman akar bahar. Di Taman Nasional Takabonerate, empat perajin dibina dan bahan bakunya diamankan. Di Bandara RHF Tanjungpinang, petugas AVSEC bersama BKIPM menyita 2,2 kilogram (75 ons) akar bahar yang hendak dikirim ke Purbalingga, Jawa Tengah. Semua ini terjadi diam-diam, jauh dari sorotan wisatawan yang dengan polos membeli gelang cantik.
Akar bahar sebenarnya dilindungi oleh setidaknya empat undang-undang: UU No. 21/2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, UU No. 31/2004 tentang Perikanan (jo. UU No. 45/2009), UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati, serta PP No. 7/1999 tentang Pengawetan Jenis. Ancaman hukumannya tidak main-main: penjara hingga 5 tahun dan denda maksimal Rp100 juta.
Dari terumbu karang yang tenang ke pergelangan tangan manusia—itulah perjalanan kelam akar bahar. Setiap gelang yang melingkar di pergelangan menyimpan kisah perusakan dan pelanggaran hukum. Sudah saatnya kita lebih bijak: biarkan akar bahar tetap hidup di lautnya, bukan menjadi aksesoris yang perlahan membungkam alam.