Di sela-sela pot bunga, di pinggir parit, atau menempel diam-diam di tembok lembab, tumbuhan kecil bertangkai transparan ini sudah lama dicabut dan dibuang begitu saja. Petani menyebutnya hama. Padahal, dunia sains menyebutnya sesuatu yang lain: kandidat superfood yang patut diperhitungkan.
Namanya bermacam-macam tergantung dari mana asalnya. Sirih cina, sirih bumi, ketumpang air. Nama latinnya satu: Peperomia pellucida. Tumbuhan herbal yang berasal dari Amerika tropis ini kini tumbuh liar hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama di tempat-tempat lembab saat musim hujan.
Tingginya hanya sekitar 15 hingga 45 sentimeter, dengan daun berbentuk menyerupai daun sirih namun lebih kecil, lebih tebal, dan bertekstur lunak. Batangnya berwarna cerah, berair, dan sedikit transparan seperti kaca. Sekilas tampak seperti tanaman tak berguna. Tapi kandungannya justru mengejutkan.
Menurut Septiana Kurniasari, dosen Farmasi Universitas Islam Madura, Peperomia pellucida mengandung minyak esensial, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid. Kombinasi senyawa ini memberikan potensi yang cukup luas, mulai dari antibakteri, antiseptik, hingga antimikroba. “Dari kandungan itu, sirih cina memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri,” ujarnya.
Secara tradisional, tumbuhan ini sudah lama digunakan untuk mengatasi bisul, jerawat, radang kulit, sakit kepala, demam, dan gangguan ginjal. Penelitian lebih lanjut menunjukkan potensinya sebagai obat asam urat, penyembuh luka, antihipertensi, bahkan antikanker.
Relevansinya kian kuat di tengah tren 2025-2026 yang mendorong kembali ke pangan lokal dan herbal alami sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan. Di berbagai platform belanja daring, bibit sirih cina kini sudah diperjualbelikan, dengan harga per kilogram yang bisa mencapai lebih dari Rp75.000.
Nissa Wargadipura, pendiri Pesantren Ekologi Ath Thaariq di Garut, sudah lama mengenal tumbuhan ini sebagai bahan pangan harian. Ia menyebutnya masuk kategori wildfood sekaligus superfood. “Mungkin di kalangan petani dianggap gulma. Kenapa? Bisa jadi rantai pengetahuan lokal tentang ini sudah hampir terputus,” katanya. Menurutnya, seluruh bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, daun, hingga buahnya, bisa dikonsumsi. Bisa dijadikan lalapan, bahan pecel, campuran bakwan, atau diseduh seperti teh.
Di saat industri suplemen dan wellness global terus memburu bahan-bahan bioaktif baru, Peperomia pellucida adalah pengingat bahwa potensi besar kadang tumbuh begitu saja di halaman belakang rumah, menunggu untuk tidak lagi dianggap hama.