<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=tim-kolaborasi&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/tim-kolaborasi/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 08 Jun 2026 02:37:24 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Jalan Panjang Memerangi Penangkapan Ikan Ilegal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/08/jalan-panjang-memerangi-penangkapan-ikan-ilegal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/08/jalan-panjang-memerangi-penangkapan-ikan-ilegal/#respond</comments>
					<pubDate>08 Jun 2026 02:37:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[A. Asnawi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235610/akp-perikanan-ilegal-sumut-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128940</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebagai negara maritim, Indonesia menyimpan kekayaan laut yang begitu melimpah, meski di waktu yang sama menghadapi persoalan pelik. Terutama dalam menangani praktik penangkapan ikan ilegal, tak dilaporkan dan tak sesuai regulasi (Illegal, Unreported, Unregulation Fisihing/IUUF). Baru-baru ini, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) amankan kapal asing, MV. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/08/jalan-panjang-memerangi-penangkapan-ikan-ilegal/">Jalan Panjang Memerangi Penangkapan Ikan Ilegal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebagai negara maritim, Indonesia menyimpan kekayaan laut yang begitu melimpah, meski di waktu yang sama menghadapi persoalan pelik. Terutama dalam menangani praktik penangkapan ikan ilegal, tak dilaporkan dan tak sesuai regulasi (Illegal, Unreported, Unregulation Fisihing/IUUF). Baru-baru ini, Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) amankan kapal asing, MV. Silver Island yang mengangkut 1,2 ton ikan napoleon senilai Rp16 miliar di Laut Sulawesi.  Kapal berbendera Afrika Tengah itu tengah dalam perjalanan menuju Hong Kong. Pung Nugroho Sasongko, Direktur Jenderal (Dirjen) PSDKP katakan, kapal milik perusahaan di Hong Kong itu berangkat dari Sumenep, Madura. “Kapal ini mengangkut ikan hidup, berangkat dari Sumenep, Jawa Timur pada 26 Mei 2026 menuju Hong Kong. Hasil pemeriksaan jelas, terdapat napoleon dalam jumlah besar, tidak ada izin, dan kuotanya pun tidak ada,” kata Ipung,  dalam siaran persnya. Dia menduga, pelaku sengaja berupaya mengelabuhi pemeriksaan petugas. Pasalnya, napoleon dalam jumlah besar itu mereka simpan di lokasi yang sulit petugas jangkau. “”Bahkan pintunya rahasia dan harus melalui gudang spare part mesin kapal.&#8221; Pelaku diduga kuat melanggar Pasal 88 juncto Pasal 16 Undang-Undang Nomor 31/ 2004 tentang Perikanan. Pelaku terancam pidana penjara paling lama enam tahun dan denda maksimal Rp1,5 miliar. Teuku Elvitrasyah, Direktur Pengendalian Operasi Armada, menjelaskan, berkapasitas 492 GT merupakan jenis kapal pengangkut ikan hidup berkebangsaan Sao Tome and Principe, negara di Afrika Tengah. Hasil penelusuran kapal itu milik perusahaan di  Hong Kong. Napoleon merupakan ikan dengan status perlindungan terbatas dan masuk dalam daftar Appendix II CITES. Untuk memanfaatkannya, pelaku wajib&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/08/jalan-panjang-memerangi-penangkapan-ikan-ilegal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/08/jalan-panjang-memerangi-penangkapan-ikan-ilegal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pakis Ekor Monyet: Indikator Mata Air Hutan Muria yang Hampir Habis Dipanen</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/pakis-ekor-monyet-indikator-mata-air-hutan-muria-yang-hampir-habis-dipanen/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/pakis-ekor-monyet-indikator-mata-air-hutan-muria-yang-hampir-habis-dipanen/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 22:14:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/06061908/Pakis-ekor-monyet-tumbuh-di-lereng-Gunung-Muria-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128954</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di hutan Gunung Muria, ada tumbuhan yang oleh warga lokal dianggap petunjuk alam yang tak pernah salah: di mana pakis ekor monyet tumbuh, di sana ada mata air. &#8220;Kalau ada pakis, dekat mata air,&#8221; kata Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria). Tapi tumbuhan yang menjadi penanda kehidupan itu kini justru semakin [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/pakis-ekor-monyet-indikator-mata-air-hutan-muria-yang-hampir-habis-dipanen/">Pakis Ekor Monyet: Indikator Mata Air Hutan Muria yang Hampir Habis Dipanen</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di hutan Gunung Muria, ada tumbuhan yang oleh warga lokal dianggap petunjuk alam yang tak pernah salah: di mana pakis ekor monyet tumbuh, di sana ada mata air. &#8220;Kalau ada pakis, dekat mata air,&#8221; kata Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria). Tapi tumbuhan yang menjadi penanda kehidupan itu kini justru semakin sulit ditemukan di habitatnya sendiri. Pakis ekor monyet (Cibotium barometz) adalah tumbuhan purba yang tumbuh lambat. Dari spora hingga dewasa, ia membutuhkan tiga hingga lima tahun, terutama di bawah naungan hutan yang rapat. Ia menyukai tempat teduh dengan kelembapan tinggi, antara 60 hingga 90 persen, dan di Muria banyak ditemukan di lereng curam dekat hutan primer atau sekunder di atas 800 meter dari permukaan laut. Pada 1990-an, tumbuhan ini tiba-tiba jadi primadona. Tren tanaman hias merebak, dan beredar kepercayaan bahwa bagian dalamnya yang bermotif unik bisa digunakan sebagai &#8220;kayu tolak tikus.&#8221; Kulitnya laris sebagai media tanam anggrek. Masyarakat masuk hutan, mengambil pakis dalam jumlah besar, dan menjualnya tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. &#8220;Seharusnya tidak dimanfaatkan, tapi karena saat itu fenomenanya besar dan tidak ada batasan, akhirnya diambil. Bahkan sejak masih muda,&#8221; kata Teguh. Tren mereda. Tapi dampaknya tidak ikut hilang. Populasi pakis di Muria kini diperkirakan jauh berkurang dibanding masa lalu. &#8220;Dulu mudah ditemukan, sekarang jauh berkurang,&#8221; ujarnya. Yang memperburuk situasi, eksploitasi tidak benar-benar berhenti, hanya berpindah lokasi ke wilayah lain. Fragmentasi habitat akibat perkebunan kopi dan agroforestri juga mempersempit sebaran alaminya. Secara ekologis, kehilangan pakis ini bukan hal sepele. Selain sebagai indikator kesuburan tanah dan keberadaan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/pakis-ekor-monyet-indikator-mata-air-hutan-muria-yang-hampir-habis-dipanen/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/pakis-ekor-monyet-indikator-mata-air-hutan-muria-yang-hampir-habis-dipanen/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/06/kisah-sedih-owa-di-kandang-penangkaran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/06/kisah-sedih-owa-di-kandang-penangkaran/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 10:30:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/30040651/Gading-satu-satunya-jenis-owa-ungko-yang-terjangkit-virus-herpes-dan-mungkin-harus-menghabiskan-sisa-hidupnya-di-kandang-perawatan-PRS-Punti-Kayu.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=128951</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Sumatera Selatan merupakan rumah besar bagi dua jenis owa, yakni siamang dan ungko. Belum ada perkiraan data populasi mereka di Sumatera Selatan, namun mereka diketahui hidup di dataran tinggi di Bukit Barisan, hingga dataran rendah di lanskap lahan basah Sungai Musi. Hingga saat ini, ada 29 individu owa —terdiri 28 owa siamang dan satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/06/kisah-sedih-owa-di-kandang-penangkaran/">Kisah Sedih Owa di Kandang Penangkaran</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Sumatera Selatan merupakan rumah besar bagi dua jenis owa, yakni siamang dan ungko. Belum ada perkiraan data populasi mereka di Sumatera Selatan, namun mereka diketahui hidup di dataran tinggi di Bukit Barisan, hingga dataran rendah di lanskap lahan basah Sungai Musi. Hingga saat ini, ada 29 individu owa —terdiri 28 owa siamang dan satu owa ungko— dirawat di PRS Punti Kayu, Palembang, Sumatera Selatan. Tempat rehabilitasi ini dikelola The Aspinall Foundation sejak 2022, yang sejauh ini telah melepasliarkan sekitar 40 individu siamang. Mayoritas siamang yang dievakuasi ke PRS Punti Kayu memiliki latar belakang yang sama, yakni bekas peliharaan warga yang diserahkan sukarela maupun hasil sitaan. Mirisnya, empat individu sitaan tersebut masih bayi berumur sekitar satu tahun. Pola asuh siamang pun cukup unik. Peran utama merawat anak akan bergeser dari induk betina ke induk jantan seiring bertambahnya usia anak. Selama rentang usia satu hingga dua tahun, induk betina dan jantan bergantian melakukan perawatan. Anakan siamang bekas peliharaan juga membutuhkan waktu rehabilitasi cukup lama, dibandingkan siamang lain yang tidak dipelihara manusia. Sebelum dilepasliarakan ke alam, harus dipastikan insting alaminya sudah benar-benar kembali. Sehingga, peluang hidup mereka di hutan lebih besar. Sebelum PRS Punti Kayu aktif melakukan rehabilitasi satwa bersama The Aspinall Foundation, sejumlah owa hasil serahan sempat ditranslokasikan ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi di Air Jangkang, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung. Hingga kini, masih ada tiga individu owa di kandang perawatan PPS Alobi. Ketiganya sudah dirawat sejak 2019, atau sekitar tujuh tahun. Semuanya tergolong sehat, termasuk ungko bernama Mong, yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/06/kisah-sedih-owa-di-kandang-penangkaran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/06/kisah-sedih-owa-di-kandang-penangkaran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Sumba, Kuda Adalah Segalanya. Tapi Ras Aslinya Semakin Sulit Ditemukan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-sumba-kuda-adalah-segalanya-tapi-ras-aslinya-semakin-sulit-ditemukan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-sumba-kuda-adalah-segalanya-tapi-ras-aslinya-semakin-sulit-ditemukan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 10:28:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/07/22073901/kuda-dan-mama-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128952</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumba]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tidak ada tempat di Indonesia yang menghormati kuda seperti Sumba. Di sini, kuda hadir dalam kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ia menjadi mas kawin, hewan kurban, dan dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka. Dalam bahasa setempat ia disebut ndara, dan statusnya dipandang hampir sejajar dengan arwah nenek moyang. Begitu tinggi kedudukannya, tidak ada kuda di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-sumba-kuda-adalah-segalanya-tapi-ras-aslinya-semakin-sulit-ditemukan/">Di Sumba, Kuda Adalah Segalanya. Tapi Ras Aslinya Semakin Sulit Ditemukan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tidak ada tempat di Indonesia yang menghormati kuda seperti Sumba. Di sini, kuda hadir dalam kelahiran, pernikahan, dan kematian. Ia menjadi mas kawin, hewan kurban, dan dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka. Dalam bahasa setempat ia disebut ndara, dan statusnya dipandang hampir sejajar dengan arwah nenek moyang. Begitu tinggi kedudukannya, tidak ada kuda di Sumba yang diberi nama pribadi. Memberinya nama terasa terlalu merendahkan. Dan justru di tempat yang paling mencintai kuda itulah, ras asli kuda Sumba kini semakin sulit ditemukan. Kuda khas Sumba dikenal dengan nama Sandalwood pony, kuda pacu asli Indonesia yang dikembangkan di pulau ini selama berabad-abad. Namanya dikaitkan dengan kayu cendana, komoditas ekspor historis dari Nusa Tenggara. Secara fisik tingginya hanya 110 hingga 130 sentimeter, bertubuh serasi dengan dada lebar dan dalam. Yang membuatnya istimewa bukan penampilannya, melainkan staminanya. Kuda Sandalwood mampu bekerja keras di medan sabana yang keras, di bawah terik yang panjang, dengan pakan seadanya. Kuda inilah yang menghidup-hidupkan Pasola, ritual perang tombak berkuda tahunan yang sudah dikenal hingga mancanegara. &#8220;Kuda selalu ada dalam setiap upacara adat Sumba,&#8221; kata Palanggarimu, bangsawan dari Prailiu yang akrab dipanggil Umbu Angga. Di antara tiga hewan ternak paling penting dalam kehidupan adat Sumba, yaitu babi, kerbau, dan kuda, kuda adalah yang perannya paling lengkap. Tapi justru kecintaan masyarakat Sumba pada pacuan kuda yang kini mengancam kemurnian ras ini. Kuda Sandalwood kalah cepat dari kuda impor karena ukuran tubuhnya yang lebih kecil. Para pemilik kuda pun mulai mengawinsilangkan Sandalwood dengan kuda Australia yang lebih besar, demi mendapatkan kuda&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-sumba-kuda-adalah-segalanya-tapi-ras-aslinya-semakin-sulit-ditemukan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-sumba-kuda-adalah-segalanya-tapi-ras-aslinya-semakin-sulit-ditemukan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kerbau Indonesia Diprediksi Punah pada 2031, dan Nyaris Tak Ada yang Peduli</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kerbau-indonesia-diprediksi-punah-pada-2031-dan-nyaris-tak-ada-yang-peduli/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kerbau-indonesia-diprediksi-punah-pada-2031-dan-nyaris-tak-ada-yang-peduli/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 06:35:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/02/22041311/Kerbau-liar-sebagai-populasi-feral-Bubalus-bubalis-di-TN-Baluran-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128915</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Imam Supriatna, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, pernah menyampaikan proyeksi yang seharusnya mengejutkan lebih banyak orang. Jika tren penurunan populasi kerbau di Indonesia terus berlanjut tanpa intervensi serius, pada 2031 populasinya mendekati nol. &#8220;Anak cucu kita tidak akan melihat kerbau lagi,&#8221; katanya. Hampir tidak ada yang merespons dengan serius. Data BPS memperlihatkan tren yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kerbau-indonesia-diprediksi-punah-pada-2031-dan-nyaris-tak-ada-yang-peduli/">Kerbau Indonesia Diprediksi Punah pada 2031, dan Nyaris Tak Ada yang Peduli</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Imam Supriatna, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, pernah menyampaikan proyeksi yang seharusnya mengejutkan lebih banyak orang. Jika tren penurunan populasi kerbau di Indonesia terus berlanjut tanpa intervensi serius, pada 2031 populasinya mendekati nol. &#8220;Anak cucu kita tidak akan melihat kerbau lagi,&#8221; katanya. Hampir tidak ada yang merespons dengan serius. Data BPS memperlihatkan tren yang konsisten ke arah itu. Dari 2002 hingga 2022, populasi kerbau nasional secara keseluruhan terus menurun. Antara 2021 dan 2022 saja, jumlahnya turun dari 1.143.189 ekor menjadi 1.088.483 ekor. Di Pulau Jawa, seluruh provinsi mencatat penurunan. Dari 38 provinsi di seluruh Indonesia, hanya 13 yang populasi kerbaunya naik. Penyebabnya tidak tunggal. Peneliti BRIN Peni Wahyu Prihandini dan tim, dalam laporan di jurnal Veterinary World 2023, mencatat rendahnya tingkat reproduksi dan manajemen pemeliharaan yang belum optimal sebagai faktor utama. Ditambah keterbatasan pakan di musim kemarau, alih fungsi lahan penggembalaan, meningkatnya penggunaan mesin pertanian, fragmentasi habitat, dan menyempitnya keragaman genetik. Ironisnya, kerbau adalah hewan yang secara biologis sangat tangguh. Suhu tubuh, respirasi, dan denyut nadinya lebih rendah dari kebanyakan sapi. Ia mampu menghasilkan susu dan daging berkualitas tinggi meski hanya diberi pakan hijauan berkualitas rendah. Kerbau Sumbawa bertahan hidup di sabana dengan kekeringan lebih dari delapan bulan per tahun. Kerbau Pampangan betah berendam di rawa gambut Sumatera Selatan. Anoa, kerabat terkecilnya yang hidup di hutan Sulawesi dan Buton, bahkan menjadi indikator kelestarian hutan. Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan ras kerbau yang luar biasa. Ada Anoa, Gayo, Jawa, Kalang, Kuntu, Moa, Murrah, Pampangan, Simeulue, Sumbawa, Toraya, dan beberapa lainnya. Hampir&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kerbau-indonesia-diprediksi-punah-pada-2031-dan-nyaris-tak-ada-yang-peduli/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kerbau-indonesia-diprediksi-punah-pada-2031-dan-nyaris-tak-ada-yang-peduli/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika  Lingkungan Hidup Terus Dalam Kungkungan Masalah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/07/ketika-lingkungan-hidup-terus-dalam-kungkungan-masalah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/07/ketika-lingkungan-hidup-terus-dalam-kungkungan-masalah/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 06:30:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20165929/WhatsApp-Image-2026-05-20-at-09.57.02-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128900</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Lahan Basah, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari Lingkungan Hidup setiap 5 Juni. Berbagai kalangan gunakan peringatan itu sebagai refleksi  kondisi lingkungan, ruang hidup masyarakat yang terus tertekan industri ekstraktif, dan eksploitasi sumber daya alam. Juga, konflik dan perampasan lahan, serta ancaman krisis iklim maupun kualitas lingkungan hidup di berbagai daerah  terus menurun. Di Sumatera, misal, bentang pegunungan Bukit Barisan dari Aceh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/07/ketika-lingkungan-hidup-terus-dalam-kungkungan-masalah/">Ketika  Lingkungan Hidup Terus Dalam Kungkungan Masalah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari Lingkungan Hidup setiap 5 Juni. Berbagai kalangan gunakan peringatan itu sebagai refleksi  kondisi lingkungan, ruang hidup masyarakat yang terus tertekan industri ekstraktif, dan eksploitasi sumber daya alam. Juga, konflik dan perampasan lahan, serta ancaman krisis iklim maupun kualitas lingkungan hidup di berbagai daerah  terus menurun. Di Sumatera, misal, bentang pegunungan Bukit Barisan dari Aceh sampai Lampung, sebagai tulang punggung kehidupan masyarakat dan ekologis, terus mengalami kerusakan. Ahlul Fadli, Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Riau, mengatakan, selama 30 tahun terakhir, hutan alam di Riau turun drastis dari 5 juta hektar menjadi 1,3 juta hektar. Akibatnya, daya dukung alam makin melemah dan berdampak bencana ekologis. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) pun mengepung awal tahun ini. Data yang mereka kutip dari BMKG, pada Januari-Maret, terdapat 302 titik panas di Riau. Kurun waktu tiga bulan itu, api melalap sekitar 2.713,26 hektar hutan dan lahan. Ahlul menyebut, faktor pendorong kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena lahan gambut banyak beralih fungsi menjadi industri ekstraktif. Riau, katanya, mengalami gelombang eksploitasi sumber daya alam, mulai dari industri kehutanan, perkebunan sawit, hingga pertambangan. Hutan dan sungai di lanskap Bukit Barisan, katanya, hancur oleh aktivitas tambang batubara dan tambang emas ilegal. Termasuk dua izin tambang batubara yang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) terbitkan pada 2025 di Kuantan Singingi dan Rokan Hulu. Eksploitasi juga terjadi di pesisir dan pulau-pulau kecil Riau. Catatan Walhi Riau, terdapat 11 izin tambang pasir laut dan satu tambang timah. Ironisnya, perairan Bono, ikon wisata di provinsi ini turut terancam oleh lima izin tambang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/07/ketika-lingkungan-hidup-terus-dalam-kungkungan-masalah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/07/ketika-lingkungan-hidup-terus-dalam-kungkungan-masalah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Anaconda Terbesar di Dunia, Lebih Berat dari Gorila, Ditembak Mati Sebulan Setelah Ditemukan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/anaconda-terbesar-di-dunia-lebih-berat-dari-gorila-ditembak-mati-sebulan-setelah-ditemukan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/anaconda-terbesar-di-dunia-lebih-berat-dari-gorila-ditembak-mati-sebulan-setelah-ditemukan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 03:32:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22004245/Northern-green-anaconda-breeding-ball.-Credit-Jesus-Rivas-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128914</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebulan setelah ditemukan oleh ilmuwan, Ana Julia ditemukan mati di Sungai Formoso, Brasil. Tubuhnya yang setebal ban mobil, sepanjang lebih dari enam meter dan seberat 200 kilogram, tergeletak tak bernyawa. Diduga ditembak pemburu liar. Biolog Belanda Freek Vonk, yang sebulan sebelumnya merekam dirinya berenang bersama Ana Julia di dasar sungai selama lebih dari sejam, menulis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/anaconda-terbesar-di-dunia-lebih-berat-dari-gorila-ditembak-mati-sebulan-setelah-ditemukan/">Anaconda Terbesar di Dunia, Lebih Berat dari Gorila, Ditembak Mati Sebulan Setelah Ditemukan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebulan setelah ditemukan oleh ilmuwan, Ana Julia ditemukan mati di Sungai Formoso, Brasil. Tubuhnya yang setebal ban mobil, sepanjang lebih dari enam meter dan seberat 200 kilogram, tergeletak tak bernyawa. Diduga ditembak pemburu liar. Biolog Belanda Freek Vonk, yang sebulan sebelumnya merekam dirinya berenang bersama Ana Julia di dasar sungai selama lebih dari sejam, menulis di Instagram: &#8220;Aku mencintaimu, Ana Julia. Aku akan merindukanmu.&#8221; Ana Julia adalah anaconda betina yang ditemukan oleh tim 15 biolog internasional di Amazon Ekuador, atas undangan Kepala Suku Huaorani, Penti Baihua, salah satu dari sedikit izin masuk ke wilayah itu yang pernah diberikan sejak kontak pertama suku tersebut dengan dunia luar pada 1958. Ia bukan sekadar individu yang luar biasa. Ia adalah anggota spesies yang baru dikonfirmasi keberadaannya: Anaconda Hijau Utara (Eunectes akayima), yang secara genetik berbeda 5,5 persen dari Anaconda Hijau Selatan (Eunectes murinus) yang sudah lama dikenal ilmu pengetahuan. Penemuan dua spesies anaconda hijau yang berbeda ini mengubah cara kita memahami ular terbesar di dunia, sekaligus membuka kembali pertanyaan lama: seberapa besar sebenarnya anaconda bisa tumbuh? Selama puluhan tahun, Eunectes murinus menjadi tolok ukur. Dr. Jesús Antonio Rivas dari New Mexico Highlands University, setelah lebih dari dua dekade penelitian, mencatat ukuran maksimum terverifikasi untuk spesies ini adalah betina dengan berat 97,5 kilogram dan panjang 5,21 meter. Ana Julia, dengan beratnya yang dua kali lipat angka itu, tiba-tiba membuat batas-batas tersebut terasa jauh lebih cair. Untuk konteks, gorila jantan terbesar yang pernah tercatat beratnya melampaui 272 kilogram. Ana Julia yang 200 kilogram masih sedikit&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/anaconda-terbesar-di-dunia-lebih-berat-dari-gorila-ditembak-mati-sebulan-setelah-ditemukan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/anaconda-terbesar-di-dunia-lebih-berat-dari-gorila-ditembak-mati-sebulan-setelah-ditemukan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/kidung-siamang-sang-penjaga-rimba-sumatra/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/kidung-siamang-sang-penjaga-rimba-sumatra/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 03:20:39 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/16101034/Symphalangus_syndactylus_Suneko-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=128912</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alunan suara lantang yang menggema dari puncak-puncak kanopi adalah kidung kehidupan bagi siamang, sang penjaga sejati yang merawat keasrian rimba Sumatra. Namun, melodi alam ini kian terancam sunyi oleh kepungan perburuan, jerat perdagangan lintas negara, dan kepedihan hidup di balik jeruji besi. Melalui peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan hutan lewat penyebaran benih, perlindungan terhadap [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/06/kidung-siamang-sang-penjaga-rimba-sumatra/">Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alunan suara lantang yang menggema dari puncak-puncak kanopi adalah kidung kehidupan bagi siamang, sang penjaga sejati yang merawat keasrian rimba Sumatra. Namun, melodi alam ini kian terancam sunyi oleh kepungan perburuan, jerat perdagangan lintas negara, dan kepedihan hidup di balik jeruji besi. Melalui peran penting mereka dalam menjaga keseimbangan hutan lewat penyebaran benih, perlindungan terhadap owa besar ini menjadi benteng terakhir bagi kelestarian ekosistem. Rekaman jejak konservasi ini hadir untuk merajut harapan, membebaskan mereka dari belenggu sangkar, dan memastikan kidung liar sang penjaga rimba tetap abadi menjaga hutan Sumatra. The post Kidung Siamang Sang Penjaga Rimba Sumatra appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/06/kidung-siamang-sang-penjaga-rimba-sumatra/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/kidung-siamang-sang-penjaga-rimba-sumatra/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Camptostemon philippinensis, Mangrove Langka Habitat Bekantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/07/camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-habitat-bekantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/07/camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-habitat-bekantan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Jun 2026 02:32:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004623/Proboscis-monkey-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128904</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kalimantan, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nama Camptostemon philippinensis mungkin kurang familiar bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir pantai Pulau Sulawesi dan Kalimantan. Namun, ketika disebut baluno filipina, masyarakat akan mengenalnya dengan cepat. Jenis mangrove langka ini berada di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Temuan tersebut menjadi bagian dari penelitian bersama yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/07/camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-habitat-bekantan/">Camptostemon philippinensis, Mangrove Langka Habitat Bekantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nama Camptostemon philippinensis mungkin kurang familiar bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga yang tinggal di kawasan pesisir pantai Pulau Sulawesi dan Kalimantan. Namun, ketika disebut baluno filipina, masyarakat akan mengenalnya dengan cepat. Jenis mangrove langka ini berada di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Temuan tersebut menjadi bagian dari penelitian bersama yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Universitas Gadjah Mada. Hal itu dijabarkan enam peneliti, melalui publikasi ilmiah pada 31 Maret 2025. Satu dari enam peneliti adalah Abdul Razaq Chasani, akademisi dari Fakultas Biologi UGM. Sementara, lima lainnya merupakan peneliti BRIN dengan latar belakang pusat riset berbeda. Berdasarkan publikasi tersebut, diketahui populasi C. philippinensis sangat terbatas dan hanya tersebar di lokasi tertentu. Pesisir Kelurahan Pantai Lango dan Pulau Kowangan di Kabupaten Penajam Paser Utara menjadi penemuan populasi tersebut. Penelitian dilakukan dengan menjelajahi hutan mangrove di sepanjang Teluk Balikpapan. Survei pertama sepanjang sekitar 200 km dilakukan untuk mengamati vegetasi mangrove dan menemukan satu pohon C. philippinensis. “Survei kedua difokuskan pada area di sekitar pohon C. philippinensis yang pertama kali ditemukan untuk mendata dan mencatat tahap pertumbuhan serta distribusinya,” jelas laporan tersebut. Teluk Balikpapan merupakan bagi bekantan, yang merupakan spesies terancam. Foto: Rhett A Butler /Mongabay. Saat menyusuri Pantai Lango, tim berhasil menemukan 527 individu C. Philippinensis yang didominasi bibit. Temuan itu menjelaskan, jumlah bibit yang banyak menunjukkan potensi regerenasi alami yang baik. Sebaliknya, jumlah pohon yang sedikit menunjukkan persaingan yang intens untuk ruang di habitat terbatas. Hal itu bisa terjadi, karena C. Philippinensisme mendiami area kecil dan terbatas di Teluk Balikpapan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/07/camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-habitat-bekantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/07/camptostemon-philippinensis-mangrove-langka-habitat-bekantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Buntut Tuntut Plasma Warga Pohuwato Hadapi Jerat Hukum</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/06/buntut-tuntut-plasma-warga-pohuwato-hadapi-jerat-hukum/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/06/buntut-tuntut-plasma-warga-pohuwato-hadapi-jerat-hukum/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jun 2026 16:21:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/06161307/Aksi-yang-dilakukan-Aliansi-Masyarakat-Peduli-Daerah-Amperah.-Foto-Amperah-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128893</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Konflik agraria kembali memanas di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Kali ini, pusaran sengketa menyeret nama PT Banyan Tumbuh Lestari (BTL) dan PT Inti Global Laksana (IGL), dua perusahaan yang sebelumnya bergerak perkebunan sawit neralih ke bisnis hutan tanaman energi (HTE). Masyarakat Kecamatan Popayato dan Popayato Barat justru menilai hak-hak mereka makin jauh dari kepastian. Ketegangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/06/buntut-tuntut-plasma-warga-pohuwato-hadapi-jerat-hukum/">Buntut Tuntut Plasma Warga Pohuwato Hadapi Jerat Hukum</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Konflik agraria kembali memanas di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Kali ini, pusaran sengketa menyeret nama PT Banyan Tumbuh Lestari (BTL) dan PT Inti Global Laksana (IGL), dua perusahaan yang sebelumnya bergerak perkebunan sawit neralih ke bisnis hutan tanaman energi (HTE). Masyarakat Kecamatan Popayato dan Popayato Barat justru menilai hak-hak mereka makin jauh dari kepastian. Ketegangan memuncak saat aksi berujung 11 warga Popayato perusahaan laporkan ke polisi, enam sudah jadi tersangka usai aksi demonstrasi 13 Mei lalu. Bagi warga, aksi itu merupakan bentuk protes atas janji kebun plasma 20% yang tak perusahaan realisasi selama bertahun-tahun. Tri Gunawan Sidiki, Sekretaris Koperasi Karya Inovasi Bersama (KIB) koperasi binaan IGL dan BTL, mengatakan, sekitar 3.000 keluarga petani tercatat sebagai calon penerima manfaat kebun plasma dari hak guna usaha (HGU) kedua perusahaan seluas 27.213 hektar. “Para calon penerima manfaat tersebar di sejumlah wilayah, meliputi Kecamatan Popayato, Popayato Timur, Wanggarasi, dan Kecamatan Lemito. Namun hingga kini, kewajiban plasma itu belum juga direalisasikan,” katanya seperti dikutip dari Harian Post. Hingga izin perkebunan sawit IGL pemerintah cabut pada 2022, realisasi plasma tak pernah benar-benar terlihat. Warga hanya menerima janji yang terus berulang tanpa kejelasan waktu maupun skema pelaksanaan. Saat kewajiban itu belum dipenuhi, perusahaan justru bergerak mengamankan keberlanjutan usahanya melalui jalur lain. Sebelum pengumuman pemerintah cabut izin pelepasan kawasan hutan untuk kebun sawit itu, IGL mengajukan izin baru melalui skema hutan hak dalam program perhutanan sosial ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pada 13 Mei 2020, izin disetujui dan menjadi landasan baru operasi perusahaan di kawasan yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/06/buntut-tuntut-plasma-warga-pohuwato-hadapi-jerat-hukum/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/06/buntut-tuntut-plasma-warga-pohuwato-hadapi-jerat-hukum/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Hutan Jawa Melahirkan Lebih Banyak Macan Kumbang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-hutan-jawa-melahirkan-lebih-banyak-macan-kumbang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-hutan-jawa-melahirkan-lebih-banyak-macan-kumbang/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jun 2026 13:50:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/20062140/Macan-tutul-Jawa-bernama-Mancak-di-TSI-Bogor-Falahi-Mubarok2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128892</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dari 34 individu macan tutul jawa yang berhasil diidentifikasi dalam Survei Nasional Macan Tutul Jawa (Java Wide Leopard Survey/JWLS) yang masih berjalan, 12 di antaranya adalah macan kumbang, varian dengan bulu hitam legam. Angka itu lebih tinggi dari yang diduga banyak orang. Dan ia memunculkan pertanyaan yang menarik: mengapa hutan Jawa tampaknya lebih banyak melahirkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-hutan-jawa-melahirkan-lebih-banyak-macan-kumbang/">Mengapa Hutan Jawa Melahirkan Lebih Banyak Macan Kumbang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dari 34 individu macan tutul jawa yang berhasil diidentifikasi dalam Survei Nasional Macan Tutul Jawa (Java Wide Leopard Survey/JWLS) yang masih berjalan, 12 di antaranya adalah macan kumbang, varian dengan bulu hitam legam. Angka itu lebih tinggi dari yang diduga banyak orang. Dan ia memunculkan pertanyaan yang menarik: mengapa hutan Jawa tampaknya lebih banyak melahirkan macan hitam dibanding tempat lain? Jawabannya ada di genetika, dan di hutan itu sendiri. Macan tutul dan macan kumbang bukan dua spesies yang berbeda. Keduanya adalah Panthera pardus, spesies yang sama, hanya dibedakan oleh satu mutasi genetik yang disebut melanisme. Mutasi ini meningkatkan produksi melanin secara berlebihan, menggelapkan seluruh warna bulu dari kuning berbintik menjadi hitam pekat. &#8220;Yang disebut &#8216;macan kumbang&#8217; adalah macan tutul terkena melanisme,&#8221; tulis zoologis Giovanni Giuseppe Bellani dalam bukunya Felines of the World. Di Jawa, nama &#8220;kumbang&#8221; diambil dari sebutan lokal untuk serangga berwarna hitam legam. Di dunia Barat, yang berbintik disebut leopard, yang hitam disebut panther, tapi secara taksonomi keduanya tetap satu. Lalu mengapa varian hitam lebih dominan di Jawa? Erwin Wilianto, pendiri SINTAS, memberikan penjelasan yang elegan. &#8220;Di lanskap yang lebat di Jawa, macan tutul melanistik lebih sering terlihat, bulu gelapnya berkilau dalam bayangan semak belukar, sementara kerabatnya yang berwarna lebih terang lebih sulit ditemukan dalam ekosistem penuh warna ini.&#8221; Hutan Jawa yang rapat, lembap, dan minim cahaya di lantai hutan secara tidak langsung memberi keunggulan bagi varian hitam. Melanisme bukan sekadar soal warna, ia adalah adaptasi evolusioner yang dipilih oleh habitat. Pola serupa ditemukan di tempat lain. Kajian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-hutan-jawa-melahirkan-lebih-banyak-macan-kumbang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-hutan-jawa-melahirkan-lebih-banyak-macan-kumbang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Tanah Batak Desak Akui Wilayah Adat Pasca Pencabutan Izin PT TPL</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/06/masyarakat-tanah-batak-desak-akui-wilayah-adat-pasca-pencabutan-izin-pt-tpl/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/06/masyarakat-tanah-batak-desak-akui-wilayah-adat-pasca-pencabutan-izin-pt-tpl/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jun 2026 12:10:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunits lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/06120056/Tano-Batak-78-of-155-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128881</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Pada penghujung 2025, kabar pencabutan izin perusahaan kayu, PT Toba Pulp Lestari, Masyarakat Adat Tano Batak dengar dan sempat memberi sedikit rasa lega. Bagi masyarakat adat, pencabutan izin hanyalah urusan administrasi. Yang paling mendasar pengakuan wilayah adat. Mersi Silalahi, perempuan adat Sihaporas mengatakan, selama tidak ada pengakuan negara, ruang hidup mereka tetap tak ada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/06/masyarakat-tanah-batak-desak-akui-wilayah-adat-pasca-pencabutan-izin-pt-tpl/">Masyarakat Tanah Batak Desak Akui Wilayah Adat Pasca Pencabutan Izin PT TPL</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Pada penghujung 2025, kabar pencabutan izin perusahaan kayu, PT Toba Pulp Lestari, Masyarakat Adat Tano Batak dengar dan sempat memberi sedikit rasa lega. Bagi masyarakat adat, pencabutan izin hanyalah urusan administrasi. Yang paling mendasar pengakuan wilayah adat. Mersi Silalahi, perempuan adat Sihaporas mengatakan, selama tidak ada pengakuan negara, ruang hidup mereka tetap tak ada kepastian, tetap akan nelangsa. Bisa jadi eksploitasi terjadi lagi oleh pihak lain di masa depan. Hingga kini, katanya, sekalipun sudah setengah tahun pencabutan izin, beberapa petugas keamanan perusahaan masih berjaga di akses masuk ke kampung. “Satu sisi kami senang karena perjuangan kami ini dihadapkan dengan kemustahilan, tapi ternyata bisa juga perusahan itu ditutup operasinya,” kata perempuan 48 tahun ini saat ditemui beberapa waktu lalu. Meski begitu dia tetap khawatir. Dia ingin memastikan hak masyarakat adat sekaligus tanah mereka segera pemerintah akui. “Hutan dan adat bagi saya segalanya. Kehidupan kami terjamin, tapi jika itu rusak tatanan hidup menjadi kacau.” Dia bilang perjuangan belum selesai. “Kami pastikan terus melawan. Sampai anak-cucu kami dijamin haknya, jangan sampai seperti kami orang tuangnya.” Kondisi serupa juga Komunitas Masyarakat Adat Punduraham Simanjuntak rasakan. Wilayah adat mereka di Desa Natumingka, Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba, Sumatra Utara,  dalam klaim  TPL dalam 40 tahun ini. Nelson Simanjuntak,  Ketua Komunitas Adat Punduraham Simanjuntak cerita, berawal dari pengelolaan PT Inti Indorayon Utama pada 1986, lalu berganti nama jadi TPL. Dia bilang, banyak yang hilang dari mereka. Hal paling kentara, katanya, ihwal pengelolaan hutan berbasis adat. Pengetahuan mereka terkait pangan dan obat-obatan terkikis karena ketiadaan akses. “Saat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/06/masyarakat-tanah-batak-desak-akui-wilayah-adat-pasca-pencabutan-izin-pt-tpl/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/06/masyarakat-tanah-batak-desak-akui-wilayah-adat-pasca-pencabutan-izin-pt-tpl/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Penampungan Limbah Batubara di Rantau Bakula Jebol Berulang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/06/ketika-penampungan-limbah-batubara-di-rantau-bakula-jebol-berulang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/06/ketika-penampungan-limbah-batubara-di-rantau-bakula-jebol-berulang/#respond</comments>
					<pubDate>06 Jun 2026 02:00:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232509/Rantau-Bakula--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128809</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, data dan statistik, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kolam pengendapan limbah cair (settling pond) perusahaan pertambangan batubara bawah tanah (underground) PT Merge Mining Industri (MMI), di Desa Rantau Bakula, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kembali jebol, Selasa (2/6) dini hari. Warga setempat khawatir dampak lingkungan, terutama di Sungai Lancar, tempat mereka mandi dan mencuci. Suyatno, warga Ranuat Bakula, bilang, dinding tanggul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/06/ketika-penampungan-limbah-batubara-di-rantau-bakula-jebol-berulang/">Ketika Penampungan Limbah Batubara di Rantau Bakula Jebol Berulang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kolam pengendapan limbah cair (settling pond) perusahaan pertambangan batubara bawah tanah (underground) PT Merge Mining Industri (MMI), di Desa Rantau Bakula, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kembali jebol, Selasa (2/6) dini hari. Warga setempat khawatir dampak lingkungan, terutama di Sungai Lancar, tempat mereka mandi dan mencuci. Suyatno, warga Ranuat Bakula, bilang, dinding tanggul jebol ke samping selebar 30 meter. Air bercampur lumpur pekat meluber hingga menutupi jalan hauling persis di bagian bawah. “Pagi tadi jalan itu tertutup total. Ketinggian lumpurnya bahkan lebih dari satu meter,” kata  pria 39 tahun itu. Raden Rafiq, Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan, menyebut,  jebolnya tanggul MMI bukan hanya persoalan teknis sepele. Karena, kejadian serupa terjadi berulang. Pada 2024, saat awal pembangunan settling pond maupun pada 2026 di lokasi sama. Ini menunjukkan lemahnya pengelolaan lingkungan serta belum optimalnya penerapan standar keselamatan dan manajemen risiko lapangan di perusahaan. Karena itu, dia minta pemerintah mengevaluasi menyeluruh aktivitas perusahaan. Mulai dari kepatuhan terhadap dokumen lingkungan, pengelolaan limbah, standar keselamatan fasilitas, hingga kelayakan izin operasi. Dia mendesak Dinas Lingkungan Hidup, Inspektur Tambang, Kementerian Lingkungan Hidup Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), serta aparat penegak hukum melakukan investigasi independen terbuka. Sehingga, publik mengetahui yang sebenarnya terjadi di sana. “Penegakan hukum harus tegas, termasuk kemungkinan penghentian sementara operasional hingga persoalan lingkungan diselesaikan. Jangan sampai minimnya efek jera membuat kejadian serupa terus terulang,” ucapnya. Apalagi, peristiwa tersebut terjadi di tengah belum selesainya berbagai persoalan yang selama ini warga keluhkan. Mulai dari kerusakan rumah dan bangunan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/06/ketika-penampungan-limbah-batubara-di-rantau-bakula-jebol-berulang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/06/ketika-penampungan-limbah-batubara-di-rantau-bakula-jebol-berulang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inisiatif Hutan Wakaf, Upaya Konservasi dari Swadaya Warga</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/05/inisiatif-hutan-wakaf-upaya-konservasi-dari-swadaya-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/05/inisiatif-hutan-wakaf-upaya-konservasi-dari-swadaya-warga/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 23:53:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki MuazamJunaidi HanafiahPetrus Riski]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[komunita lokal]]></category>
		<category><![CDATA[p[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/05233339/Hutan-Wakaf-di-Jantho-Kabupaten-Aceh-Besar-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128845</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh, jawa barat, dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suasana sejuk langsung terasa ketika memasuki lahan seluas 1,6 hektar di Desa Ngembat, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pepohonan hijau nan rimbun mengelilingi kawasan di lereng Gunung Anjasmoro ini. Lahan itu merupakan hutan wakaf Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif (YPM) Sidoarjo. Agus Sugiarto,  Ketua Hutan Wakaf YPM, mengisahkan awal mula hutan wakaf itu. Tanah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/inisiatif-hutan-wakaf-upaya-konservasi-dari-swadaya-warga/">Inisiatif Hutan Wakaf, Upaya Konservasi dari Swadaya Warga</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suasana sejuk langsung terasa ketika memasuki lahan seluas 1,6 hektar di Desa Ngembat, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Pepohonan hijau nan rimbun mengelilingi kawasan di lereng Gunung Anjasmoro ini. Lahan itu merupakan hutan wakaf Yayasan Pendidikan dan Sosial Ma’arif (YPM) Sidoarjo. Agus Sugiarto,  Ketua Hutan Wakaf YPM, mengisahkan awal mula hutan wakaf itu. Tanah semula lahan kering yang ditanami jagung. Guru-guru YPM beli pada 2000 lalu mereka hibahkan kepada yayasan pada 2019. Muncullah istilah, hutan wakaf. Proses itu harus melewati beberapa tahapan mulai dari ikrar wakaf di Kantor Urusan Agama (KUA), hingga pengurusan sertifikat di BPN untuk mengubah status kepemilikan sebagai wakaf atas nama yayasan yang mereka peruntukkan sebagai hutan lindung. “Kita tanda tangan 2023 untuk akad di KUA. Kemudian sambil jalan diurus juga sama notaris ke BPN hingga beralih menjadi tanah wakaf, di sertifikat BPN tertulis peruntukannya untuk hutan lindung, statusnya SHM (sertifikat hak milik),” kata Agus, Senin (1/6/26). Pada model tanah wakaf terdapatada tiga unsur harus terpenuhi, yaitu, wakaf atau pemberi wakaf yakni, guru-guru, nadzir (YPM), serta harta benda wakaf. Tanaman yang ada dilahan Perhutani, berbatasan dengan bagian atas hutan wakaf YPM. Foto: Petrus Riski/Mongabay Indonesia Wakaf pun, katanya, mempunyai tiga prinsip, yaitu, tidak bisa dijual, tak bisa dialihfungsikan, dan tidak bisa diwariskan. Selama ini, peruntukan wakaf hanya untuk masjid, makam, dan madrasah atau tempat pendidikan. Sedangka wakaf untuk hutan belum pernah ada hingga perlu pendekatan ke KUA. Dia bilang, awal mulai hutan wakaf, mereka lakukan pembibitan dan penanaman pada 2020, dengan kondisi awal hanya ada lima&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/inisiatif-hutan-wakaf-upaya-konservasi-dari-swadaya-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/05/inisiatif-hutan-wakaf-upaya-konservasi-dari-swadaya-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Kuwuk, Predator Terkecil Sang Penopang Ekosistem yang Terlupakan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-predator-terkecil-sang-penopang-ekosistem-yang-terlupakan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-predator-terkecil-sang-penopang-ekosistem-yang-terlupakan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 11:59:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[dunia kucing]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/14105748/Kucing-Kuwuk-Dok_-KSDA-Wilayah-III-Lampung1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128844</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>September 2025, tiga anak kucing kuwuk ditemukan warga di Bali Barat dalam kondisi memprihatinkan, hampir menjadi mangsa anjing setelah induknya menghilang. Dua di antaranya masih dirawat intensif di pusat rehabilitasi Umah Lumba, Buleleng. Satu kasus lain di Bogor, seekor kuwuk bernama Chiki, kini dalam perawatan di Cikananga Wildlife Center, Sukabumi. Bagi sebagian orang, ini terdengar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-predator-terkecil-sang-penopang-ekosistem-yang-terlupakan/">Kucing Kuwuk, Predator Terkecil Sang Penopang Ekosistem yang Terlupakan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[September 2025, tiga anak kucing kuwuk ditemukan warga di Bali Barat dalam kondisi memprihatinkan, hampir menjadi mangsa anjing setelah induknya menghilang. Dua di antaranya masih dirawat intensif di pusat rehabilitasi Umah Lumba, Buleleng. Satu kasus lain di Bogor, seekor kuwuk bernama Chiki, kini dalam perawatan di Cikananga Wildlife Center, Sukabumi. Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti berita hewan yang diselamatkan. Bagi para ahli, ini adalah gejala dari pola yang jauh lebih besar. Kucing kuwuk (Prionailurus bengalensis), atau kucing akar, adalah jenis kucing liar terkecil sekaligus paling adaptif di Asia. Beratnya hanya 3 hingga 7 kilogram, tubuhnya berbintik, dan kemampuannya berburu tikus serta burung menjadikannya penjaga keseimbangan ekosistem yang sesungguhnya. Persebarannya luas, dari Pakistan, India, Tiongkok, Asia Tenggara, hingga Indonesia, menghuni hutan primer, hutan sekunder, agroforestri, sawah, bahkan perkebunan. Tapi luas sebaran itu menipu. &#8220;Kita mengira populasinya stabil karena masih sering ditemukan, padahal banyak kawasan terjadi penurunan signifikan,&#8221; tulis kajian IUCN Red List 2022 tentang spesies ini. Di berbagai wilayah Asia Tenggara, populasinya menurun akibat kehilangan habitat dan tekanan manusia. Ironisnya, belum ada satu pun survei komprehensif yang mampu memotret jumlah individu secara akurat. &#8220;Dedicated survey untuk kucing kuwuk belum ada sepertinya,&#8221; kata Erwin Wilianto, pendiri Yayasan SINTAS Indonesia dan anggota IUCN-SSC Cat Specialist Group. Sebagian besar data yang ada bersifat anekdot, berasal dari laporan warga atau temuan insidental di lapangan. Ketika survei satwa liar dilakukan, fokusnya hampir selalu pada harimau atau macan tutul. Rekaman kuwuk hanya dianggap data sampingan. Ancaman terhadap spesies ini tidak datang dari satu arah. Deforestasi untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-predator-terkecil-sang-penopang-ekosistem-yang-terlupakan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-kuwuk-predator-terkecil-sang-penopang-ekosistem-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Refleksi Hari Lingkungan: Ketika Pengembangan Biodiesel Bisa Ancam Hutan Tersisa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/05/refleksi-hari-lingkungan-ketika-pengembangan-biodiesel-bisa-ancam-hutan-tersisa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/05/refleksi-hari-lingkungan-ketika-pengembangan-biodiesel-bisa-ancam-hutan-tersisa/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 10:54:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Themmy Doaly]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10073322/Perluasan-perkebunan-sawit-menjadi-ancaman-menurunnya-produksi-serta-minat-menanam-sayuran-masyarakat-Bangka-Belitung.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128826</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Pusaran Masalah Seputar Industri Sawit]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, sawit, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari Lingkungan Hidup 5 Juni jadi momen untuk merefleksikan kondisi hutan Indonesia yang terus terancam, antara lain atas nama transisi energi melalui pengembangan biodiesel 50% (B50). Biodiesel Indonesia bergantung sawit hingga makin besar penggunaan biodiesel dalam energi, rawan terjadi ekspansi lahan dan hutan tersisa di nusantara ini. Organisasi masyarakat sipil pun memberikan ragam respons kekhawatiran. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/refleksi-hari-lingkungan-ketika-pengembangan-biodiesel-bisa-ancam-hutan-tersisa/">Refleksi Hari Lingkungan: Ketika Pengembangan Biodiesel Bisa Ancam Hutan Tersisa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari Lingkungan Hidup 5 Juni jadi momen untuk merefleksikan kondisi hutan Indonesia yang terus terancam, antara lain atas nama transisi energi melalui pengembangan biodiesel 50% (B50). Biodiesel Indonesia bergantung sawit hingga makin besar penggunaan biodiesel dalam energi, rawan terjadi ekspansi lahan dan hutan tersisa di nusantara ini. Organisasi masyarakat sipil pun memberikan ragam respons kekhawatiran. Mereka takut langkah ini mengancam sisa hutan, juga meminggirkan hak masyarakat dan lingkungan. Sebelumnya, Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, bilang, pemerintah tengah mempercepat implementasi program B50 sebagai bagian dari upaya kemandirian dan efisiensi energi. Kebijakan penerapan B50 ini akan mulai berlaku 1 Juli 2026. “Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending, dan ini berpotensi mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta kiloliter,” ujarnya di laman Sekretariat Kabinet. Implementasi B50, katanya, juga berdampak signifikan terhadap penghematan anggaran negara. Dalam enam bulan, ada penghematan subsidi dari biodiesel yang berpotensi mencapai Rp48 triliun. Pemerintah yakin, implementasi B50 bisa menunjukkan posisi Indonesia yang melaju ke arah kemandirian energi di tengah ketidakpastian global. Nadia Hadad, Direktur Eksekutif Madani Berkelanjutan bilang, rencana implementasi B50 berisiko meningkatkan kebutuhan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di dalam negeri, yang  akhirnya menimbulkan tekanan pada penggunaan lahan. Koalisi Transisi Bersih (KTB) memperkirakan implementasi B50 perlu tambahan bahan baku fatty acid methyl ester (FAME) hingga 19 juta kiloliter, hingga berisiko memicu kembali kelangkaan minyak goreng seperti tahun 2022. Masalahnya, daya tampung ekosistem sudah tidak memungkinkan untuk perluasan sawit. Kajian Madani Berkelanjutan menunjukkan,  batas atas sawit berdasarkan daya tampung lingkungan hanya sampai angka 18,15 juta hektar.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/refleksi-hari-lingkungan-ketika-pengembangan-biodiesel-bisa-ancam-hutan-tersisa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/05/refleksi-hari-lingkungan-ketika-pengembangan-biodiesel-bisa-ancam-hutan-tersisa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Aceh dan Lahirnya Hutan Wakaf</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/05/opini-aceh-dan-lahirnya-hutan-wakaf/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/05/opini-aceh-dan-lahirnya-hutan-wakaf/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 07:46:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Azhar *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/05073253/Hutan-Wakaf-di-Jantho-Kabupaten-Aceh-Besar-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128828</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, komunitas lokal, solusi iklim, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan Wakaf Aceh lahir dari gagasan sederhana di Banda Aceh, Provinsi Aceh, tahun 2012. Ide ini muncul dari empat pemuda Aceh -Afrizal Akmal, Azhar, Yoesman Nurzaman Tanjung, dan Alit Ferdian- yang ingin menghadirkan konservasi berbasis spiritual dan kepedulian lingkungan. Gerakan konservasi yang menyatu dengan nilai, budaya, dan keyakinan masyarakat Aceh. Dua dunia yang selama ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/opini-aceh-dan-lahirnya-hutan-wakaf/">Opini: Aceh dan Lahirnya Hutan Wakaf</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan Wakaf Aceh lahir dari gagasan sederhana di Banda Aceh, Provinsi Aceh, tahun 2012. Ide ini muncul dari empat pemuda Aceh -Afrizal Akmal, Azhar, Yoesman Nurzaman Tanjung, dan Alit Ferdian- yang ingin menghadirkan konservasi berbasis spiritual dan kepedulian lingkungan. Gerakan konservasi yang menyatu dengan nilai, budaya, dan keyakinan masyarakat Aceh. Dua dunia yang selama ini berjalan masing-masing dimunculkan: konservasi hutan dan konsep wakaf dalam Islam. Gagasan ini kemudian berkembang menjadi sebuah pendekatan baru yang disebut “Hutan Wakaf” yaitu sebuah model pelestarian alam yang tidak hanya berbasis ekologi, tetapi juga berlandaskan ibadah dan keberlanjutan manfaat sosial. Aceh merupakan ruang subur bagi lahirnya pendekatan alternatif ini, di tengah meningkatnya kekhawatiran kita terhadap deforestasi, degradasi lahan, krisis iklim, konflik satwa, dan krisis iklim. Data Forest Watch Indonesia (FWI, 2023) menunjukkan bahwa tekanan terhadap kawasan hutan di Sumatera, termasuk Aceh, terus meningkat akibat ekspansi perkebunan, pertambangan, dan pembalakan liar. Dampaknya sudah nyata: banjir lebih sering terjadi, kualitas air menurun, suhu meningkat, dan konflik manusia-satwa kian intens (FWI, 2023; Walhi Aceh, 2022). Hutan Wakaf Jantho di Aceh Besar, merupakan dikembangkan sebagai ruang konservasi, edukasi, dan penelitian berbasis masyarakat. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Dalam konteks inilah Hutan Wakaf hadir, sebagai respons sosial dan ekologis. Ia memadukan konservasi dengan instrumen wakaf, yaitu tanah yang diikat sebagai sedekah amal jariyah yang tidak boleh dialihkan kepemilikannya. Dari sini, hutan tidak lagi dipandang sebagai sumber daya publik, tapi sebagai amanah bersama yang harus dijaga lintas generasi. Secara konseptual, Hutan Wakaf membuka ruang pemanfaatan yang tetap menjaga ekosistem. Hasil hutan non-kayu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/opini-aceh-dan-lahirnya-hutan-wakaf/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/05/opini-aceh-dan-lahirnya-hutan-wakaf/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Lereng Muria, Macan Tutul Dipanggil &#8216;Kyai&#8217;</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-lereng-muria-macan-tutul-dipanggil-kyai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-lereng-muria-macan-tutul-dipanggil-kyai/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 03:49:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[dunia kucing]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232133/FOTO-PENDUKUNG-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128815</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kucing hutan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mukadi, petani kopi berusia 46 tahun dari Desa Japan di lereng Gunung Muria, belum pernah melihat langsung macan tutul. Tapi ia pernah menemukan jejaknya di lahan sendiri, bekas kaki dan sisa kijang yang dimangsa. Reaksinya bukan panik atau melapor. &#8220;Hewan sebuas apapun, bila tidak disakiti, tidak akan mengganggu,&#8221; ujarnya. Sikap seperti ini bukan keanehan di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-lereng-muria-macan-tutul-dipanggil-kyai/">Di Lereng Muria, Macan Tutul Dipanggil &#8216;Kyai&#8217;</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mukadi, petani kopi berusia 46 tahun dari Desa Japan di lereng Gunung Muria, belum pernah melihat langsung macan tutul. Tapi ia pernah menemukan jejaknya di lahan sendiri, bekas kaki dan sisa kijang yang dimangsa. Reaksinya bukan panik atau melapor. &#8220;Hewan sebuas apapun, bila tidak disakiti, tidak akan mengganggu,&#8221; ujarnya. Sikap seperti ini bukan keanehan di lereng Muria. Ia adalah bagian dari cara pandang yang sudah lama mengakar di komunitas petani di kawasan pegunungan yang membentang di Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara, Jawa Tengah. Di beberapa desa setempat, macan tutul jawa (Panthera pardus melas) tidak sekadar disebut sebagai predator puncak. Dalam narasi lisan masyarakat, satwa ini disebut kyai, penjaga rimba, sosok yang merepresentasikan keseimbangan antara manusia dan alam. Riman, petani kopi berusia 83 tahun yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di lereng Muria, pernah merasakan sendiri dampak konflik dengan satwa ini ketika ternaknya diserang macan tutul. Namun alih-alih dendam, kejadian itu justru mempertegas keyakinannya. &#8220;Hubungan manusia dengan satwa harus kita perhatikan,&#8221; katanya. Keyakinan seperti ini, ternyata, punya nilai konservasi yang nyata. Teguh Budi Wiyono, Ketua Yayasan Penggiat Konservasi Muria (PEKA Muria), mencatat bahwa sikap hormat petani lokal terhadap macan tutul menjadi salah satu faktor yang membantu kelangsungan hidup satwa ini di kawasan tersebut. Pada 2018, PEKA Muria bersama sejumlah pihak melakukan pemantauan menggunakan kamera jebak di titik-titik strategis. Hasilnya: sekitar 14 individu dewasa macan tutul terdeteksi di kawasan hutan Muria. Angka itu kecil, tapi signifikan. Macan tutul jawa adalah satu-satunya predator puncak yang tersisa di Pulau Jawa, dan populasinya terus tertekan oleh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-lereng-muria-macan-tutul-dipanggil-kyai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/di-lereng-muria-macan-tutul-dipanggil-kyai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ilusi Solusi Gas, Dorong Energi Komunitas di Bali</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/05/ilusi-solusi-gas-dorong-energi-komunitas-di-bali/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/05/ilusi-solusi-gas-dorong-energi-komunitas-di-bali/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 02:54:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/05/22094859/PLTS-Kubu-Anak-Sekolah-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128816</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pusat wisata di Selatan Bali makin ramai. Distribusi bahan bakar pun makin terfokus ke sana. Di antara akar-akar tanaman pohon pada ekosistem mangrove pipa-pipa distribusi bahan bakar membelah kawasan hutan.  Hutan mangrove Selatan Bali pun sedang tidak baik-baik saja, ruang terbuka hijau satu-satunya kini makin terancam. Belum lagi, pemerintah mencanangkan pengembangan infrastruktur bahan bakar baru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/ilusi-solusi-gas-dorong-energi-komunitas-di-bali/">Ilusi Solusi Gas, Dorong Energi Komunitas di Bali</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pusat wisata di Selatan Bali makin ramai. Distribusi bahan bakar pun makin terfokus ke sana. Di antara akar-akar tanaman pohon pada ekosistem mangrove pipa-pipa distribusi bahan bakar membelah kawasan hutan.  Hutan mangrove Selatan Bali pun sedang tidak baik-baik saja, ruang terbuka hijau satu-satunya kini makin terancam. Belum lagi, pemerintah mencanangkan pengembangan infrastruktur bahan bakar baru dengan pembangunan terminal gas cair atau LNG di perairan Desa Sidakarya. Dengan begitu akan ada jalur distribusi pipa-pipa gas baru yang melewati ekosistem pesisir termasuk mangrove. Kawasan mangrove mulai Pantai Mertasari (Sanur), Pantai Sidakarya, Serangan, sampai Teluk Benoa. Kondisi ini mengkhawatirkan berbagai kalangan. Dalam diskusi tentang energi fosil di Denpasar tahun lalu yang LBH Bali adakan mereka membahas risiko gas yang Pemerintah Bali, gadang-gadang sebagai solusi energi bersih ini.  LNG ini bisa berdampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan. Sigit K. Budiono, Juru Kampanye dari Koalisi Rakyat untuk Hak Atas Air (KRuHA)  contohkan,  kasus terminal gas yang berdampak pada kerusakan lingkungan. Floating Storage Regasification Unit Jawa 1 (FSRU Jawa 1), katanya,  berdampak pada nelayan pesisir mengeluhkan pendangkalan parah dan pencemaran laut. Ada juga ekstraksi di Kabupaten Banggai,  berdampak pada maleo, burung endemik Sulawesi. Ekspansi pipa-pipa distribusi gas, katanya,  menyebabkan habitat dan pengembangbiakan burung maleo terhambat. Belum lagi risiko lepasan emisi. Riset Trend Asia berjudul Investasi LNG Jalan Mundur Investasi Iklim, dan analisis Climate Action Tracker (CAT) menemukan,  ekspansi dan pembangunan infrastruktur gas dapat meningkatkan emisi lebih dari 2,9 GtCO2-e setiap tahun pada 2030. Ignatius Rhadite, advokat dari LBH Bali mengatakan, dalam narasi Bali mandiri energi oleh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/05/ilusi-solusi-gas-dorong-energi-komunitas-di-bali/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/05/ilusi-solusi-gas-dorong-energi-komunitas-di-bali/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Empat Ular Pohon Baru Ditemukan , Salah Satunya Membelit Elang Hidup-hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/empat-ular-pohon-baru-ditemukan-salah-satunya-membelit-elang-hidup-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/empat-ular-pohon-baru-ditemukan-salah-satunya-membelit-elang-hidup-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>05 Jun 2026 01:29:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232246/ezgif.com-webp-to-jpg-converter-3.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128814</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seorang herpetolog sedang melakukan ekspedisi di hutan tropis Papua Nugini ketika ia menyaksikan sesuatu yang jarang sekali dilihat manusia: seekor ular hitam legam membelit dan melumpuhkan seekor elang hidup-hidup, dengan bentang sayap mangsa mencapai 1,2 meter. Ular itu tidak ia kenali. Dan memang seharusnya begitu, karena ular itu belum pernah ada dalam catatan ilmiah mana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/empat-ular-pohon-baru-ditemukan-salah-satunya-membelit-elang-hidup-hidup/">Empat Ular Pohon Baru Ditemukan , Salah Satunya Membelit Elang Hidup-hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seorang herpetolog sedang melakukan ekspedisi di hutan tropis Papua Nugini ketika ia menyaksikan sesuatu yang jarang sekali dilihat manusia: seekor ular hitam legam membelit dan melumpuhkan seekor elang hidup-hidup, dengan bentang sayap mangsa mencapai 1,2 meter. Ular itu tidak ia kenali. Dan memang seharusnya begitu, karena ular itu belum pernah ada dalam catatan ilmiah mana pun. Fred Kraus, herpetolog dari University of Michigan, mempublikasikan temuannya di jurnal Zootaxa pada April 2025. Hasilnya: empat spesies ular pohon baru dari genus Dendrelaphis, semuanya ditemukan di pulau-pulau terpencil dalam gugusan Kepulauan Louisiade dan Woodlark di Provinsi Milne Bay, Papua Nugini. Ular yang membelit elang itu diidentifikasi sebagai Dendrelaphis anthracina, dinamai dari kata Latin untuk &#8220;hitam arang.&#8221; Tubuhnya bisa mencapai 142 cm, berwarna hitam mengkilap dengan dagu putih mencolok. Selain perilakunya yang agresif, spesies ini ditemukan di berbagai tipe habitat, dari hutan hujan primer hingga kebun dan pekarangan yang dikelola manusia. Di Pulau Misima, Kraus menemukan spesies kedua: Dendrelaphis atra, yang juga berwarna hitam namun tanpa kilap, matte black. Individu mudanya berwarna abu-abu kecoklatan yang berubah menjadi hitam solid seiring usia. Sepanjang 125 cm, ular ini ditemukan tidak hanya di hutan, tetapi juga di area pertambangan dan sekitar bangunan. Pulau Rossel menjadi lokasi penemuan ketiga, Dendrelaphis melanarkys, yang paling mudah dikenali secara visual: mata jingga terang, sisik gelap berpola menyerupai jaring, dan lidah berwarna gelap. Namanya diambil dari kata Yunani untuk &#8220;hitam&#8221; dan &#8220;jaring.&#8221; Dengan panjang hampir 150 cm, ia adalah yang terbesar di antara keempat spesies baru ini. Sementara di Pulau Woodlark, ditemukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/empat-ular-pohon-baru-ditemukan-salah-satunya-membelit-elang-hidup-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/empat-ular-pohon-baru-ditemukan-salah-satunya-membelit-elang-hidup-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>