<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=themmy-doaly-manado&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/themmy-doaly-manado/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 11 Sep 2026 16:51:45 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Belajar dari Bencana NTT, Bagaimana Dorong Bangun Rumah Tahan Gempa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/11/belajar-dari-bencana-ntt-bagaimana-dorong-bangun-rumah-tahan-gempa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/11/belajar-dari-bencana-ntt-bagaimana-dorong-bangun-rumah-tahan-gempa/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 16:51:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/06113601/1E-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133059</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Maria Anfrida bersama keluarga terbangun saat tanah tempatnya tinggal tiba-tiba berguncang, Sabtu (15/8/26). Bersama anak dan kedua orang tuanya, mereka menyelamatkan diri melalui pintu samping diikuti sumainya, Gonsales Lorang yang lari lewat pintu depan. “Saya sudah di halaman ketika bangunan rumah ambruk. Terlambat sedikit saja pasti saya terkena reruntuhan,” kata  Gonsales, warga Desa Mekendetung, Kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/belajar-dari-bencana-ntt-bagaimana-dorong-bangun-rumah-tahan-gempa/">Belajar dari Bencana NTT, Bagaimana Dorong Bangun Rumah Tahan Gempa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Maria Anfrida bersama keluarga terbangun saat tanah tempatnya tinggal tiba-tiba berguncang, Sabtu (15/8/26). Bersama anak dan kedua orang tuanya, mereka menyelamatkan diri melalui pintu samping diikuti sumainya, Gonsales Lorang yang lari lewat pintu depan. “Saya sudah di halaman ketika bangunan rumah ambruk. Terlambat sedikit saja pasti saya terkena reruntuhan,” kata  Gonsales, warga Desa Mekendetung, Kabupaten Sikka, kepada Mongabay, Selasa (25/8/26). Perlu dua tahun bagi Gonsales bekerja sebagai buruh perkebunan di Kalimantan untuk bisa membangun rumah tembok beratap seng itu. Hanya dalam sekejap, hasil jerih payahnya itu rata dengan tanah, tak kuat menahan guncangan berkekuatan magnitudo 7,7 itu. Beberapa rumah lain di desanya juga alami kondisi serupa. Gonsales bingung. Kampung mereka jauh di pegunungan, sedang  rumah-rumah di Kota Maumere, nyaris tak ada yang ambruk. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 Agustus, 95.567 rumah di tujuh kabupaten di Pulau Flores terdampak. Rinciannya, 46.161 rusak ringan, 21.992 rusak sedang dan 27.414 rumah rusak berat. Selain itu, peristiwa itu juga sebabkan 111 orang meninggal dunia, 1.631 luka-luka,  dengan 223 luka berat dan 1.408 luka ringan serta, 188.161 orang mengungsi. Seorang warga memandangi rumahnya yang hancur terkena gempa. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia. Kelemahan sistemik Norman Riwu Kaho, Ketua Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) NTT, mengatakan, saat ini, prioritas penanganan masih fokus pada upaya pemenuhan kebutuhan dasar warga, i seperti berupa air bersih, pangan, hunian darurat dan sanitasi. Juga termasuk  pelayanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, pembukaan akses jalan yang masih terputus serta pendataan penyintas berdasarkan nama dan alamat. Mengingat, kata Norman, hampir 9&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/belajar-dari-bencana-ntt-bagaimana-dorong-bangun-rumah-tahan-gempa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/11/belajar-dari-bencana-ntt-bagaimana-dorong-bangun-rumah-tahan-gempa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>&#8220;Tanah Itu Mama&#8221;, Suara Perempuan Adat Menjaga Alam Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tanah-itu-mama-suara-perempuan-adat-menjaga-alam-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tanah-itu-mama-suara-perempuan-adat-menjaga-alam-papua/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 14:04:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09070318/moi-20190221_111225-scaled-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133324</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua barat daya]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, papua, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi perempuan adat Papua, hutan bukan sekadar kumpulan pohon atau sumber komoditas. Di dalamnya tersimpan pangan, tanaman obat, pengetahuan lokal, identitas budaya, serta masa depan anak-anak mereka. Ketika hutan hilang, seluruh penopang kehidupan itu ikut terancam. Pesan tersebut disampaikan dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Forum ini mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tanah-itu-mama-suara-perempuan-adat-menjaga-alam-papua/">&#8220;Tanah Itu Mama&#8221;, Suara Perempuan Adat Menjaga Alam Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi perempuan adat Papua, hutan bukan sekadar kumpulan pohon atau sumber komoditas. Di dalamnya tersimpan pangan, tanaman obat, pengetahuan lokal, identitas budaya, serta masa depan anak-anak mereka. Ketika hutan hilang, seluruh penopang kehidupan itu ikut terancam. Pesan tersebut disampaikan dalam PAPEDA Summit 2026 di Kota Sorong, Papua Barat Daya. Forum ini mempertemukan pemerintah, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, lembaga riset, mitra pembangunan, dan generasi muda untuk membicarakan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua. Barbalina Osok, Ketua Umum Kwongke Kaban Salukh Moi Papua Barat Daya, membawa persoalan yang telah lama dihadapi masyarakat Moi. Sejak awal 1990-an, konsesi hak pengusahaan hutan beroperasi di wilayah adat mereka. Sebagian arealnya kemudian berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Menurut Barbalina, hutan yang selama ini menjadi sumber penghidupan dan ruang hidup turun-temurun terus dikuras tanpa manfaat balik yang jelas bagi pemilik hak ulayat. Izin tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar 2032–2033. Persoalannya bukan hanya investasi atau keuntungan ekonomi, tetapi juga minimnya keterlibatan masyarakat adat dalam menentukan penggunaan tanah dan sumber daya alam mereka. Aktivis perempuan adat Marlince Siep mengingatkan bahwa hilangnya hutan dan akses terhadap wilayah adat berdampak langsung pada perempuan dan anak-anak. Perempuan memiliki peran penting dalam menyediakan pangan sekaligus meneruskan pengetahuan lokal antargenerasi. “Tanah itu Mama. Kepada pemerintah dan pemangku kepentingan, biarkan hutan dan lingkungan sehat yang tersisa ini untuk diwariskan kepada generasi perempuan adat Orang Asli Papua,” kata Marlince. Ia juga meminta agar pembangunan Papua tidak hanya disusun dari perspektif pemerintah pusat. Suara masyarakat adat perlu dijadikan pijakan agar tanah, manusia, budaya,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tanah-itu-mama-suara-perempuan-adat-menjaga-alam-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tanah-itu-mama-suara-perempuan-adat-menjaga-alam-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Pemanah, Dapat Jatuhkan Serangga Hingga 2 Meter dari Permukaan Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ikan-pemanah-dapat-menjatuhkan-serangga-hingga-2-meter-dari-permukaan-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ikan-pemanah-dapat-menjatuhkan-serangga-hingga-2-meter-dari-permukaan-air/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 10:00:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/16102124/Toxotes_jaculatrix-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133325</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi serangga yang hinggap di dedaunan dekat permukaan air, bahaya tidak selalu datang dari daratan. Dari bawah air, ikan pemanah dapat membidik lalu menjatuhkannya dengan semburan air berkecepatan tinggi. Ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) hidup di perairan dangkal Indo-Pasifik, termasuk Indonesia. Tubuhnya pipih, berwarna keperakan, dan panjangnya umumnya tidak lebih dari 20 sentimeter. Kepala ikan ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ikan-pemanah-dapat-menjatuhkan-serangga-hingga-2-meter-dari-permukaan-air/">Ikan Pemanah, Dapat Jatuhkan Serangga Hingga 2 Meter dari Permukaan Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi serangga yang hinggap di dedaunan dekat permukaan air, bahaya tidak selalu datang dari daratan. Dari bawah air, ikan pemanah dapat membidik lalu menjatuhkannya dengan semburan air berkecepatan tinggi. Ikan pemanah (Toxotes jaculatrix) hidup di perairan dangkal Indo-Pasifik, termasuk Indonesia. Tubuhnya pipih, berwarna keperakan, dan panjangnya umumnya tidak lebih dari 20 sentimeter. Kepala ikan ini memiliki moncong segitiga, sementara sisi tubuhnya dihiasi bercak berbentuk semisegitiga. Kemampuan berburu ikan pemanah bukan sekadar menyemburkan air secara sembarangan. Ikan ini dapat menjatuhkan serangga dari ketinggian hingga dua meter di atas permukaan air. Mangsa yang ditembak antara lain lebah, capung, laba-laba, lalat, dan berbagai serangga kecil. Akurasi tembakannya merupakan kemampuan biologis yang kompleks. Cahaya yang melewati udara dan air mengalami pembiasan sehingga posisi mangsa terlihat berbeda dari lokasi sebenarnya. Namun, ikan pemanah mampu memperhitungkan penyimpangan tersebut. Penelitian Lawrence M. Dill pada 1977 menunjukkan bahwa ikan ini menyesuaikan sudut tembak berdasarkan posisi mangsa. “Ikan pemanah tidak menembak dari posisi tepat di bawah mangsa, tetapi dapat mengatur sudut semburan dengan benar untuk mengompensasi refraksi,” tulis Dill. Ikan tersebut juga harus memperhitungkan gravitasi yang membuat lintasan air melengkung. Dengan kecepatan semburan yang relatif konstan, sudut tembakan diatur agar air tetap mencapai sasaran. Studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Current Biology pada 2014 mengungkap bahwa ikan pemanah mampu mengendalikan dinamika semburannya. Bagian belakang semburan bergerak lebih cepat dan menyusul bagian depan tepat sebelum mencapai sasaran. Akibatnya, tetesan air menyatu dan menghasilkan hantaman kuat ketika mengenai mangsa. “Bagian belakang semburan air menyusul bagian depannya tepat sebelum mengenai mangsa, memastikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ikan-pemanah-dapat-menjatuhkan-serangga-hingga-2-meter-dari-permukaan-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ikan-pemanah-dapat-menjatuhkan-serangga-hingga-2-meter-dari-permukaan-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kemarau Panjang, Jabodetabek Terancam Krisis Air</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/11/kemarau-panjang-jabodetabek-terancam-krisis-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/11/kemarau-panjang-jabodetabek-terancam-krisis-air/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 06:34:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10152110/DSCF7134-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133390</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rosmiati, warga Kampung Katulampa, terlihat sedang memandikan dua anaknya di Kali Baru, irigasi buatan yang mengambil aliran dari Sungai Ciliwung, Akhir Agustus lalu. Ember kecil berisi sabun, odol. Sampo, dan sikat gigi tergeletak di sampingnya saat dia sibuk membanjur air ke badan si kecil. Perempuan asli Bogor itu terpaksa memandikan anaknya di dekat Bendungan Katulampa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/kemarau-panjang-jabodetabek-terancam-krisis-air/">Kemarau Panjang, Jabodetabek Terancam Krisis Air</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rosmiati, warga Kampung Katulampa, terlihat sedang memandikan dua anaknya di Kali Baru, irigasi buatan yang mengambil aliran dari Sungai Ciliwung, Akhir Agustus lalu. Ember kecil berisi sabun, odol. Sampo, dan sikat gigi tergeletak di sampingnya saat dia sibuk membanjur air ke badan si kecil. Perempuan asli Bogor itu terpaksa memandikan anaknya di dekat Bendungan Katulampa karena pasokan air sumur rumahnya berkurang. “Paling nanti dibilas lagi di rumah,” katanya kepada Mongabay. Setelah itu, dia mengisi air ke galon bekas berukuran 15 liter. Air itu, katanya, untuk mencuci pakaian, perabotan rumah tangga, hingga bilas kencing atau buang air besar di rumah. Sudah sebulan lebih, Sungai Ciliwung mengering. Tinggi muka air pada bendungan berada di titik terendah hingga nol sentimeter. Penurunan debit air juga terlihat  di Kampung Pulo Geulis, Babakan Pasar, Kota Bogor–berjarak sekitar tujuh kilometer ke arah barat laut. Anak-anak menyulap dangkalnya sungai menjadi wahana bermain. Mereka melompat dari bebatuan besar ke kobangan air tersisa. Sebagian lain, membendung aliran dengan batu, menjadikannya kolam ikan dadakan. Rosmiati sedang memandikan anaknya di irigasi Bendungan Katulampa, Kota Bogor. Foto: Muhammad Ibnu Sabil/Mongabay Indonesia. Di Bogor, Sungai Ciliwung merupakan sumber air baku permukaan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Pakuan. Mereka mengolah air sungai menjadi layak pakai yang mengalir ke rumah warga. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Katulampa milik Tirta Pakuan mampu memproduksi air 307,14 liter per detik. Mereka memasok kebutuhan air kepada 35.492 pelanggan, mencakup seluruh wilayah kecamatan Bogor Utara dan Bogor Timur, serta sebagian Desa Sukaraja, Kabupaten Bogor. Penurunan debit air Ciliwung berdampak pada berkurangnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/kemarau-panjang-jabodetabek-terancam-krisis-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/11/kemarau-panjang-jabodetabek-terancam-krisis-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Populasi Bekantan di Rawa Gambut Kalimantan Selatan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/11/bagaimana-populasi-bekantan-di-rawa-gambut-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/11/bagaimana-populasi-bekantan-di-rawa-gambut-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 04:22:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/11041412/Bekantan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133423</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, kera besar, komunitas lokal, Lahan Basah, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tiga kali Rafa’i membawa ketintingnya menuju Pulau Jingah di Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, mencari keberadaan bekantan (Nasalis larvatus). Namun, primata berhidung panjang itu tak kunjung terlihat. Padahal, di hamparan rawa gambut tersebut, sejumlah nelayan mengatakan beberapa kali melihat monyet belanda tersebut. “Kalau tidak dicari, kadang mereka di sini,” ujar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/bagaimana-populasi-bekantan-di-rawa-gambut-kalimantan-selatan/">Bagaimana Populasi Bekantan di Rawa Gambut Kalimantan Selatan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tiga kali Rafa’i membawa ketintingnya menuju Pulau Jingah di Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, mencari keberadaan bekantan (Nasalis larvatus). Namun, primata berhidung panjang itu tak kunjung terlihat. Padahal, di hamparan rawa gambut tersebut, sejumlah nelayan mengatakan beberapa kali melihat monyet belanda tersebut. “Kalau tidak dicari, kadang mereka di sini,” ujar Rafa’I, warga Desa Bararawa. Amat Kani, warga Desa Bararawa lainnya, memperlihatkan video ketika dia tak sengaja menemukan bekantan di antara pepohonan dan rawa. “Sewaktu saya mencari ikan,” terangnya, Senin (24/8/26). Bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan yang menyukai habitat mangrove. Foto: Rhett Butler/Mongabay.. Bekantan Terancam Kehilangan Habitat Penelitian sebaran dan status bekantan di rawa gambut pernah dilakukan akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Mochamad Arief Soendjoto, Mila Rabiati, Usman, dan Hafizh Muhardiansyah, pada 2013 lalu, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Dari 18 lokasi penelitian, bekantan ditemukan langsung di empat lokasi dengan total 55 individu. Miftahul Pauji, Ketua Badan Pengurus AP2SI (Asosiasi Pengelola Perhutanan Sosial Indonesia) Kalimantan Selatan, mengatakan keberadaan bekantan di Kecamatan Paminggir, yang berbartasan dengan Hulu Sungai Tengah, tidak bisa dilepaskan dari rawa yang menjadi ruang hidup masyarakat juga habitat satwa tersebut. Rawa Paminggir memiliki fungsi ekologis seperti menyimpan air, membantu mengurangi risiko banjir saat musim hujan, menjaga ketersediaan air saat kemarau, sekaligus menyimpan cadangan karbon. “Bila rawa dan hutannya rusak, bukan hanya masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan, bekantan juga kehilangan habitat,” jelasnya, Senin (25/8/26). Seekor bekantan jantan dewasa tampak berada di antara rimbunnya pepohonan. Foto: Rendy Tisna/Mongabay Indonesia. Tata air rawa perlu dipertahankan, alih fungsi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/bagaimana-populasi-bekantan-di-rawa-gambut-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/11/bagaimana-populasi-bekantan-di-rawa-gambut-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Terbang 3.500 Km Sebelum Kehilangan Kemampuan Terbang, Kini Jadi Penghuni Tunggal Pulau Paling Terpencil di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/11/terbang-3-500-km-sebelum-kehilangan-kemampuan-terbang-kini-jadi-penghuni-tunggal-pulau-paling-terpencil-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/11/terbang-3-500-km-sebelum-kehilangan-kemampuan-terbang-kini-jadi-penghuni-tunggal-pulau-paling-terpencil-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 03:14:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/09230915/The-Inaccessible-rail-Atlantisia-rogersi-here-showing-its-stubby-wings-while-sunningis-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133416</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah pulau paling terpencil di dunia menjadi rumah bagi spesies burung yang khas, hasil dari isolasi geografis yang berlangsung jutaan tahun. Tanpa keberadaan predator, burung di pulau semacam ini kerap kehilangan kemampuan terbang, sebuah pola evolusi yang tercatat di berbagai belahan dunia. Salah satu contohnya ditemukan di gugusan kepulauan Tristan da Cunha, di tenggara Samudra [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/terbang-3-500-km-sebelum-kehilangan-kemampuan-terbang-kini-jadi-penghuni-tunggal-pulau-paling-terpencil-di-dunia/">Terbang 3.500 Km Sebelum Kehilangan Kemampuan Terbang, Kini Jadi Penghuni Tunggal Pulau Paling Terpencil di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah pulau paling terpencil di dunia menjadi rumah bagi spesies burung yang khas, hasil dari isolasi geografis yang berlangsung jutaan tahun. Tanpa keberadaan predator, burung di pulau semacam ini kerap kehilangan kemampuan terbang, sebuah pola evolusi yang tercatat di berbagai belahan dunia. Salah satu contohnya ditemukan di gugusan kepulauan Tristan da Cunha, di tenggara Samudra Atlantik Selatan. Salah satu pulau dalam gugusan itu adalah Inaccessible Island, pulau vulkanik bertebing curam dengan luas hanya 7,4 kilometer persegi. Ombak besar dan medan ekstrem membuat pulau ini nyaris tidak pernah dikunjungi manusia sejak ditemukan. Di pulau inilah hidup Atlantisia rogersi, atau Mandar Inaccessible, burung tak bisa terbang terkecil di dunia. Bobotnya 30 sampai 40 gram, mirip berat sebutir bola pingpong, dengan ukuran tubuh tidak lebih besar dari kepalan tangan orang dewasa. Selama hampir satu abad, ilmuwan belum mengetahui bagaimana spesies yang tidak bisa terbang ini bisa menghuni pulau yang terpisah ribuan kilometer dari daratan mana pun. Riset DNA Membantah Teori Jembatan Darat Pertanyaan itu baru terjawab lewat riset genetika yang dipimpin ahli biologi evolusi Martin Stervander bersama tim dari FitzPatrick Institute of African Ornithology, yang naskahnya terbit di jurnal Molecular Phylogenetics and Evolution. Untuk melacak silsilah burung ini, tim peneliti mengandalkan teknik pengurutan DNA modern, lalu membandingkan materi genetiknya dengan sejumlah kerabat burung dari berbagai belahan dunia. Hasilnya mematahkan hipotesis ahli ornitologi Percy Lowe yang diajukan pada 1920-an. Lowe menduga leluhur burung ini berjalan kaki melintasi bentangan darat purba yang menyambungkan benua-benua, sebelum bentangan itu akhirnya karam ke dasar laut. Mandar Inaccessible (Atlantisia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/terbang-3-500-km-sebelum-kehilangan-kemampuan-terbang-kini-jadi-penghuni-tunggal-pulau-paling-terpencil-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/11/terbang-3-500-km-sebelum-kehilangan-kemampuan-terbang-kini-jadi-penghuni-tunggal-pulau-paling-terpencil-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Paus Sperma Terdampar di Ternate, Gigi jadi Rebutan Warga  </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/11/paus-sperma-terdampar-di-ternate-gigi-jadi-rebutan-warga/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/11/paus-sperma-terdampar-di-ternate-gigi-jadi-rebutan-warga/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 03:07:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10044703/Salah-satu-warga-berusaha-mencabut-gigi-paus-yang-terdampar-untuk-dijadikan-barang-aksesoris-foto-M-Ichi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133357</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara dan ternate]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satu mamalia laut yang teridentifikasi sebagai paus sperma (Physeter macrocephalus) terdampar di Pantai Afe Taduma, Kecamatan Pulau Ternate, Maluku Utara (Malut) Senin (8/9/26) . Jarak lokasi terdampar dengan permukiman sekitar 750 meter. Ibu-ibu yang tengah turun ke pantai  pertama kali temukan bangkai paus sepanjang 9,89 meter dan diameter tubuh 3,36 meter itu, sekitar pukul 06.00 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/paus-sperma-terdampar-di-ternate-gigi-jadi-rebutan-warga/">Ketika Paus Sperma Terdampar di Ternate, Gigi jadi Rebutan Warga  </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satu mamalia laut yang teridentifikasi sebagai paus sperma (Physeter macrocephalus) terdampar di Pantai Afe Taduma, Kecamatan Pulau Ternate, Maluku Utara (Malut) Senin (8/9/26) . Jarak lokasi terdampar dengan permukiman sekitar 750 meter. Ibu-ibu yang tengah turun ke pantai  pertama kali temukan bangkai paus sepanjang 9,89 meter dan diameter tubuh 3,36 meter itu, sekitar pukul 06.00 WITA. Informasi itu kemudian menyebar di kalangan warga hingga memicu kerumunan. Yeni Mas’ud, warga Ternate  mengabadikan momen itu lewat kamera selulernya dan mengunggah ke media sosialnya. Sedang di lokasi, ada warga  lain saling berebut untuk mengambil gigi satwa malang itu guna mereka jadikan aksesoris. Nuncar Umagapi, Lurah Afe Taduma katakan, kabar paus terdampar itu sebenarnya sudah dia terima sehari sebelumnya. “Minggu sore itu sudah ada warga lihat bangkai paus mengapung dan tinggal menunggu terdampar,” katanya kepada Mongabay. Begitu terdampar, warga lantas melaporkan peristiwa itu ke kelurahan guna dia teruskan ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate. Senin (8/9/26), sekitar pukul 09.00, Riza Marsaoly, Sekretaris Daerah (Sekda) Ternate memimpin rombongan untuk datang ke lokasi. \Rizal lantas perintahkan jajarannya untuk menguburkan bangkai pausitu. “Tujuannya agar tidak ada bau yang bisa mengganggu masyarakat.&#8221; Sekitar pukul 14.30, satu unit eskavator tiba di lokasi untuk membantu menguburkan bangkai paus itu. Namun, petugas dari Balai Pengelolaan Kelautan Kupang yang merupakan UPT dari Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) dengan wilayah kerja Papua, Maluku dan Malut melakukan pemeriksaan fisiologis. Petugas juga mengumpulkan data biologis seperti panjang tubuh, jenis kelamin, hingga estimasi usia. Dari hasil pemeriksaan itu terungkap bahwa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/11/paus-sperma-terdampar-di-ternate-gigi-jadi-rebutan-warga/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/11/paus-sperma-terdampar-di-ternate-gigi-jadi-rebutan-warga/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Subak Gianyar Terhimpit Pembangunan, Petani Hadapi Krisis Air Hingga Hama</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/subak-gianyar-terhimpit-pembangunan-petani-hadapi-krisis-air-hingga-hama/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/subak-gianyar-terhimpit-pembangunan-petani-hadapi-krisis-air-hingga-hama/#respond</comments>
					<pubDate>11 Sep 2026 00:01:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/04045946/Racun-tikus-yang-dicampur-dengan-beras-dan-kacang-tanah-untuk-mengusir-tikus-sawah.-Racun-tikus-diletakkan-di-atas-daun-agar-tidak-meracuni-petani.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133333</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah hamparan sawah Gianyar, Bali, Made Kuter masih menyusuri pematang sawahnya. Petani berusia 63 tahun itu membawa racun tikus yang dia racik mandiri. Bukan tanpa alasan, dia melakukannya karena serangan hama yang kian masif. Kuter menggarap sawah seluas 30 are di Subak Padang Legi, Desa Medahan. Namun, lahannya kini semakin terhimpit bangunan vila. Serangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/subak-gianyar-terhimpit-pembangunan-petani-hadapi-krisis-air-hingga-hama/">Subak Gianyar Terhimpit Pembangunan, Petani Hadapi Krisis Air Hingga Hama</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah hamparan sawah Gianyar, Bali, Made Kuter masih menyusuri pematang sawahnya. Petani berusia 63 tahun itu membawa racun tikus yang dia racik mandiri. Bukan tanpa alasan, dia melakukannya karena serangan hama yang kian masif. Kuter menggarap sawah seluas 30 are di Subak Padang Legi, Desa Medahan. Namun, lahannya kini semakin terhimpit bangunan vila. Serangan tikus semakin parah sejak tahun lalu dan terjadi hingga tiga periode tanam. “Sing kena ben ngorang liunne (tidak bisa dihitung banyaknya tikus),” kata Kuter. Persoalan air juga menghantui. Saat kemarau, debit air mengecil. Sebaliknya, ketika hujan deras, air justru meluap dan menggenangi sawah. Pada September 2025, sawah Kuter untuk pertama kalinya terdampak banjir setelah hujan deras membuat air sungai meluap. “Ten karuan ngorang panen, ten misi yeh, yeh e nyat (tidak pasti panennya, tak ada air sekarang, airnya mengering),” ujarnya. Kondisi serupa juga terjadi pada petani di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan. Ketut Sugata, Ketua Forum Pekaseh Agung DAS Pakerisan, mengatakan banjir terjadi karena kemampuan tanah menyerap dan menampung air semakin berkurang. “Sudah beberapa kali (banjir). Penyebabnya karena daya serap dan daya tampung air yang dulu masih ada, sekarang berkurang,” kata Sugata. Subak bukan sekadar sistem pengairan sawah. Sistem tradisional Bali ini berlandaskan filosofi Tri Hita Karana yang mengatur hubungan harmonis manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Pada 2012, lanskap subak ditetapkan UNESCO sebagai bagian dari Warisan Budaya Dunia. Namun, keberadaannya kini menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan. Hamparan sawah yang sebelumnya menyatu berubah menjadi kawasan yang terfragmentasi oleh bangunan. Kondisi ini juga mengurangi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/subak-gianyar-terhimpit-pembangunan-petani-hadapi-krisis-air-hingga-hama/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/subak-gianyar-terhimpit-pembangunan-petani-hadapi-krisis-air-hingga-hama/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ratusan Orang Tersangka Karhutla, Bagaimana Penegakan Hukum Korporasi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/10/ratusan-orang-tersangka-karhutla-bagaimana-penegakan-hukum-korporasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/10/ratusan-orang-tersangka-karhutla-bagaimana-penegakan-hukum-korporasi/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 23:45:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10233804/Karhutla-Kalbar-Widya-1111-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133375</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan dengan kabut asap masih menyelimuti berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatera dan Papua. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, hingga Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lebih 202.000 hektar tersebar di 340 kabupaten di 36 provinsi.  Sampai awal September,  ratusan orang sudah jadi tersangka kathutla, bagaimana penegakan hukum bagi korporasi? Polri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/ratusan-orang-tersangka-karhutla-bagaimana-penegakan-hukum-korporasi/">Ratusan Orang Tersangka Karhutla, Bagaimana Penegakan Hukum Korporasi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan dengan kabut asap masih menyelimuti berbagai daerah di Indonesia, seperti Kalimantan, Sumatera dan Papua. Berdasarkan data Kementerian Kehutanan, hingga Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lebih 202.000 hektar tersebar di 340 kabupaten di 36 provinsi.  Sampai awal September,  ratusan orang sudah jadi tersangka kathutla, bagaimana penegakan hukum bagi korporasi? Polri nyatakan, ada 200 laporan kepolisian mengenai kasus karhutla di berbagai daerah. Dari jumlah itu, polisi menetapkan 138 tersangka, sisanya dalam proses penyidikan. ‎“Kami menetapkan 138 tersangka yang melakukan kesengajaan dan kelalaian. Ada 119 dengan sengaja dan 19 karena kelalaian. Jumlah ini kemungkinan masih bisa bertambah,” kata Kepala Kepolisian RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam konferensi pers, 7 September 2026 seperti mengutip Tempo. Dia nyatakan, kelain tangani perkara individu, Polri sedang mengusut dugaan keterlibatan delapan korporasi terkait karhutla. Masih dari Tempo, polrti sebutkan berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menindaklanjuti temuan itu. Sebelumnya, Kombes Pol. Pipit Subiyanto, Kasubdit III Dittipidter Bareskrim Polri mengatakan, dalam penegakan hukum mengacu pada UU Kehutanan, UU Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), UU Perkebunan, UU Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA), hingga KUHP. “Mereka melakukan dengan kebakaran yang ada ini baik itu membakar langsung, ada yang tidak sengaja karena dengan perapian yang mereka gunakan maupun yang lain-lainnya dengan motif adalah salah satunya tentang ada pembukaan lahan,” katanya dalam konferensi pers perkembangan penanganan karhutla, Jumat, (4/9/26) di Jakarta. Brigjen Pol Mohammad Irhamni, Direktur Tipidter Bareskrim Polri mengatakan, dugaan para tersangka sengaja membakar lahan untuk menghemat biaya operasional pembukaan lahan. Dia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/ratusan-orang-tersangka-karhutla-bagaimana-penegakan-hukum-korporasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/10/ratusan-orang-tersangka-karhutla-bagaimana-penegakan-hukum-korporasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Panas Bumi Cabik Hutan Warisan Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/10/ketika-panas-bumi-cabik-hutan-warisan-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/10/ketika-panas-bumi-cabik-hutan-warisan-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 15:30:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Tim Kolaborasi*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/08125320/DJI_20260802231819_0081_D-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133236</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lampung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, pangan, politik dan hukum, Satwa, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pengembangan  pembangkit listrik panas bumi banyak berada di kawasan konservasi menimbulkan kekhawatiran. Karpet merah bagi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (geothermal) di kawasan konservasi dapat angin segar dalam Undang-undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) 2024 ini, salah satu terjadi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Tim kolaborasi Mongabay dan Betahita melihat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/ketika-panas-bumi-cabik-hutan-warisan-dunia/">Ketika Panas Bumi Cabik Hutan Warisan Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pengembangan  pembangkit listrik panas bumi banyak berada di kawasan konservasi menimbulkan kekhawatiran. Karpet merah bagi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (geothermal) di kawasan konservasi dapat angin segar dalam Undang-undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) 2024 ini, salah satu terjadi di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Tim kolaborasi Mongabay dan Betahita melihat langsung pembangunan jalan dan bangunan kolam-kolam (pond) di kawasan konservasi itu. Jalan industri selebar 16 meter itu membentang dari ujung taman nasional di Desa Sri Menanti, Kecamatan Sekincau, Kabupaten Lampung Barat hingga kurang lebih 10 km ke dalam kawasan konservasi ini. Jalan itu masih hangat ketika Mongabay sambangi, awal Agustus, terlihat dari pohon-pohon yang rebah di kiri-kanan belum kering benar. Jalan industri yang dibangun di dalam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan untuk proyek geothermal. foto: Tim Kolaborasi. Jalanan itu naik-turun, membelah banyak bukit yang terhitung jumlahnya. Dari udara, sodetan jalan terlihat seperti ular yang meliuk di antara hijaunya pohon-pohon di TNBBS. Di ujungnya. ada hamparan tanah menyembul, dengan dua kolam raksasa yang saat itu masih kosong. Dua ekskavator berkelir biru tampak siaga. Dari hasil tumpang susun peta zonasi TNBBS tahun 2021 yang kami dapat, jalan dan bangunan itu berada di zona rehabilitasi. “Pemerintah bisa mengakali masuknya geothermal di TN dengan Undang-undang. Tapi, harus dilihat dulu, Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) jalan dan bangunan di dalamnya bagaimana? Karena itu, kan, mengubah bentang,” ucap Suprinti Yohar, Direktur Hutan Yayasan Auriga Nusantara. Proyek Geothermal di dalam hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Foto: Tim Kolaborasi. Irfan Tri Musri,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/ketika-panas-bumi-cabik-hutan-warisan-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/10/ketika-panas-bumi-cabik-hutan-warisan-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Seberapa Besar Peran Industri dalam Pengembangan PLTS Atap?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/seberapa-besar-peran-industri-dalam-pengembangan-plts-atap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/seberapa-besar-peran-industri-dalam-pengembangan-plts-atap/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 10:16:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/06/22034645/shutterstock_1398484271-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=133382</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Energi dan featured]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Industri dan bisnis membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Namun, ketika kebutuhan tersebut masih bergantung pada energi fosil, peningkatan konsumsi listrik turut menambah emisi karbon dioksida. Indonesia sebenarnya memiliki potensi tenaga surya yang besar karena memperoleh sinar matahari sepanjang tahun. Sayangnya, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya [PLTS] masih belum optimal. Industri dan sektor bisnis dapat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/seberapa-besar-peran-industri-dalam-pengembangan-plts-atap/">Seberapa Besar Peran Industri dalam Pengembangan PLTS Atap?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Industri dan bisnis membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar. Namun, ketika kebutuhan tersebut masih bergantung pada energi fosil, peningkatan konsumsi listrik turut menambah emisi karbon dioksida. Indonesia sebenarnya memiliki potensi tenaga surya yang besar karena memperoleh sinar matahari sepanjang tahun. Sayangnya, pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya [PLTS] masih belum optimal. Industri dan sektor bisnis dapat berperan penting karena mengonsumsi sekitar separuh pasokan listrik nasional serta memiliki banyak bangunan beratap luas. Atap pabrik, pusat perbelanjaan, dan gedung perkantoran dapat dimanfaatkan untuk memasang panel surya. Selain menghasilkan listrik tanpa emisi saat beroperasi, PLTS atap tidak menimbulkan suara, membutuhkan perawatan relatif rendah, dan berpotensi mengurangi biaya listrik perusahaan. Meski demikian, pemasangannya memerlukan kajian mengenai kondisi atap, kebutuhan listrik, intensitas matahari, kualitas peralatan, serta ketepatan instalasi. Lalu, seberapa besar peran korporasi dalam mempercepat pemanfaatan energi surya? Apakah PLTS atap benar-benar menguntungkan secara ekonomi? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Philip Effendy, Vice President of Operations PT Xurya Daya Indonesia. Diskusi ini mengulas potensi tenaga surya Indonesia, manfaat atap gedung sebagai sumber energi, skema pemasangan, biaya investasi, serta peran dunia usaha dalam mengurangi emisi. Diskusi ini menunjukkan bahwa transisi energi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada keputusan industri dan korporasi dalam menentukan sumber listrik yang mereka gunakan. The post Seberapa Besar Peran Industri dalam Pengembangan PLTS Atap? appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/seberapa-besar-peran-industri-dalam-pengembangan-plts-atap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/seberapa-besar-peran-industri-dalam-pengembangan-plts-atap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Siamang Terganggu dengan Suara Bising Kegiatan Manusia di Hutan Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 10:00:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/08151150/Siamang-di-Taman-Wisata-Kera-Sibaganding-Sumatera-Utara-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133267</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, pencemaran, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hutan yang hijau belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa liar. Suara kendaraan, mesin, dan musik yang memasuki kawasan hutan dapat mengubah cara siamang (Symphalangus syndactylus) bergerak, mencari makan, bahkan berinteraksi dengan pasangannya. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025 mengamati tujuh kelompok siamang di Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya, di Sumatera Utara. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera/">Siamang Terganggu dengan Suara Bising Kegiatan Manusia di Hutan Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hutan yang hijau belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa liar. Suara kendaraan, mesin, dan musik yang memasuki kawasan hutan dapat mengubah cara siamang (Symphalangus syndactylus) bergerak, mencari makan, bahkan berinteraksi dengan pasangannya. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025 mengamati tujuh kelompok siamang di Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya, di Sumatera Utara. Peneliti memutar empat jenis suara sekitar tiga menit dengan tingkat kebisingan mendekati 90 desibel. Tiga suara berasal dari aktivitas manusia, yaitu lalu lintas kendaraan, mesin pemecah beton atau jackhammer, dan musik rock. Suara tonggeret digunakan sebagai pembanding karena merupakan bagian alami dari lingkungan hutan. Hasilnya, siamang memberikan respons paling kuat terhadap suara lalu lintas dan jackhammer. Setelah mendengar lalu lintas, mereka bergerak rata-rata sejauh 103,86 meter dari sumber suara. Jarak tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan respons terhadap suara tonggeret, yaitu sekitar 51,14 meter. Temuan ini tidak berarti semua siamang selalu berlari sejauh 100 meter ketika mendengar kendaraan. Jumlah kelompok yang diteliti juga relatif sedikit. Namun, eksperimen tersebut menunjukkan bahwa suara manusia dapat mengubah perilaku satwa meskipun kondisi fisik hutannya tidak langsung berubah. Siamang biasanya hidup dalam kelompok keluarga yang terdiri dari pasangan jantan dan betina beserta keturunannya. Mereka mempertahankan wilayah seluas sekitar 20-70 hektar dan menempuh perjalanan harian sepanjang 700-1.500 meter untuk mencari buah serta daun. Gangguan suara berulang berpotensi menciptakan “lanskap ketakutan akustik”. Dalam kondisi ini, siamang memetakan lokasi yang bising sebagai area berisiko dan memilih menghindarinya. Jika kawasan tersebut sebenarnya kaya makanan, penghindaran dapat membatasi akses terhadap sumber daya dan meningkatkan energi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/siamang-terganggu-dengan-suara-bising-kegiatan-manusia-di-hutan-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mitologi Masyarakat Lombok Ketika Oarfish Terdampar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/10/mitologi-masyarakat-lombok-ketika-oarfish-terdampar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/10/mitologi-masyarakat-lombok-ketika-oarfish-terdampar/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 04:56:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/09/22000129/ikan-oarfish-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133134</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, Selasa (25/8/26), suasana Pantai Pink di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, mendadak ramai. Sejumlah anak yang  bermain di bibir pantai berlarian menghampiri ikan berukuran tak biasa yang terdampar di pasir. Tubuhnya panjang menyerupai pita berwarna keperakan, dengan sirip merah menyala membentang dari kepala hingga ekor. Warga yang mengerubunginya lantas abadikan momen itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/mitologi-masyarakat-lombok-ketika-oarfish-terdampar/">Mitologi Masyarakat Lombok Ketika Oarfish Terdampar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, Selasa (25/8/26), suasana Pantai Pink di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, mendadak ramai. Sejumlah anak yang  bermain di bibir pantai berlarian menghampiri ikan berukuran tak biasa yang terdampar di pasir. Tubuhnya panjang menyerupai pita berwarna keperakan, dengan sirip merah menyala membentang dari kepala hingga ekor. Warga yang mengerubunginya lantas abadikan momen itu menggunakan selulernya. Video penemuan ikan tersebut pertama kali diunggah oleh akun Facebook Baiq Kolby, sebelum akhirnya menyebar luas di berbagai media sosial. Dalam hitungan jam, rekaman itu memicu beragam spekulasi. Sebagian warganet meyakini ikan tersebut adalah oarfish, spesies laut dalam yang selama ini lekat dengan berbagai mitos sebagai pertanda datangnya gempa bumi maupun tsunami. Dugaan itu makin menguat karena dua pekan sebelumnya gempa bumi mengguncang Flores. Mitos itu begitu lekat di kalangan warga Lombok Timur. Hampir setiap kemunculan oarfish di pesisir, masyarakat kerap menghubungkan dengan kemungkinan datangnya bencana alam. Seorang warga berpose engan ikan Oarfish yang terdampar di Lombok. Foto: Facebook Baiq Kolby. Ikan laut dalam Berbagai literatur menyebut, ikan dengan nama latin Regalecus glesne  merupakan salah satu ikan bertulang terpanjang di dunia. Berbeda dengan kebanyakan ikan laut, secara fisik  tidak terlapisi sisik keras, melainkan lapisan berwarna perak tampak berkilau ketika terkena cahaya. Di sepanjang punggungnya membentang sirip berwarna merah terang yang menjadi ciri khas spesies ini. Ukurannya juga jauh melampaui ikan pada umumnya. Rata-rata oarfish memiliki panjang antara tiga hingga delapan meter, bahkan sejumlah catatan ilmiah menyebutkan panjang maksimal dapat melebihi 10  meter dengan bobot ratusan kilogram. Bentuk tubuh yang pipih dan memanjang membuatnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/mitologi-masyarakat-lombok-ketika-oarfish-terdampar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/10/mitologi-masyarakat-lombok-ketika-oarfish-terdampar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tak Ada Harum Semerbak Cengkih di Sabang Akibat Krisis Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tak-ada-harum-semerbak-cengkih-di-sabang-akibat-krisis-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tak-ada-harum-semerbak-cengkih-di-sabang-akibat-krisis-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 03:00:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/18043128/Foto-2-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133303</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pangan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dulu, aroma cengkih semerbak dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh, terutama saat musim panen tiba. Petani menjemur bunga cengkih di depan rumah, sementara angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau. Namun, kini aroma tersebut semakin sulit ditemukan. Banyak pohon cengkih tidak berbunga, bahkan mati dengan daun yang berguguran dan hanya menyisakan batang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tak-ada-harum-semerbak-cengkih-di-sabang-akibat-krisis-iklim/">Tak Ada Harum Semerbak Cengkih di Sabang Akibat Krisis Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dulu, aroma cengkih semerbak dari daratan Pulau Weh, Kota Sabang, Aceh, terutama saat musim panen tiba. Petani menjemur bunga cengkih di depan rumah, sementara angin laut membawa harum rempah itu ke penjuru pulau. Namun, kini aroma tersebut semakin sulit ditemukan. Banyak pohon cengkih tidak berbunga, bahkan mati dengan daun yang berguguran dan hanya menyisakan batang kering. Sayuti, petani cengkih di Desa Paya Seunara, merasakan perubahan itu di kebunnya. Dari 520 pohon yang dia rawat di lahan seluas empat hektar, hanya 40 pohon yang berbunga dan bisa panen tahun ini. “Ada banyak kebun petani lain yang tidak ada satu batang pun, tahun ini memang banyak yang kosong (gagal panen),” katanya. Selama 10 tahun terakhir, Sayuti juga melihat musim panen cengkih tidak lagi berlangsung setiap tahun seperti sebelumnya. Tanaman kini membutuhkan perawatan lebih, termasuk pupuk agar tidak mudah mati. “Dulu, itu tidak perlu pupuk, kalau sekarang wajib diberi pupuk biar tidak mati,” katanya. Hendra, petani cengkih lain di Desa Balohan, mengalami kondisi serupa. Dari 35 pohon miliknya, 10 mati. Pohon yang tersisa pun tidak berbunga lebat. Jika sebelumnya satu pohon bisa menghasilkan sekitar 7 kilogram bunga cengkih, tahun ini hasilnya hanya 2 kilogram. “Sudah sering seperti ini. Habis panen, kemudian kalau masuk musim kemarau, rata-rata banyak pohon yang mati,” kata Hendra. Penurunan produksi juga dirasakan pengepul cengkih terbesar di Kota Sabang. Tahun ini, Munar, pengepul cengkih hanya menerima sekitar 110 ton, padahal biasanya mencapai 250 ton setiap musim panen. Perubahan juga terjadi pada siklus panen. Marizal dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tak-ada-harum-semerbak-cengkih-di-sabang-akibat-krisis-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tak-ada-harum-semerbak-cengkih-di-sabang-akibat-krisis-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lima Bayi Orangutan Ditemukan di India, Jejak Perdagangan Lintas Negara Mengarah ke Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/10/lima-bayi-orangutan-ditemukan-di-india-jejak-perdagangan-lintas-negara-mengarah-ke-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/10/lima-bayi-orangutan-ditemukan-di-india-jejak-perdagangan-lintas-negara-mengarah-ke-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 02:29:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10022258/Orangutan-Sumatera-di-SRA-7-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133345</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Perdagangan Satwa Tetap Marak]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kera besar, politik dan hukum, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lima bayi orangutan ditemukan di sebuah kawasan hutan di Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). India merupakan negara yang tidak memiliki populasi orangutan liar. Sebagaimana diberitakan The Indian Express pada Rabu (9/9/26), awalnya warga mengira satwa tersebut jenis monyet langka. Setelah petugas kehutanan tiba, mereka memastikan kelimanya adalah orangutan. Prateek Indalkar, Balasore Divisional Forest Officer [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/lima-bayi-orangutan-ditemukan-di-india-jejak-perdagangan-lintas-negara-mengarah-ke-indonesia/">Lima Bayi Orangutan Ditemukan di India, Jejak Perdagangan Lintas Negara Mengarah ke Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lima bayi orangutan ditemukan di sebuah kawasan hutan di Distrik Balasore, Odisha, India, Selasa (8/9/26). India merupakan negara yang tidak memiliki populasi orangutan liar. Sebagaimana diberitakan The Indian Express pada Rabu (9/9/26), awalnya warga mengira satwa tersebut jenis monyet langka. Setelah petugas kehutanan tiba, mereka memastikan kelimanya adalah orangutan. Prateek Indalkar, Balasore Divisional Forest Officer (DFO), mengatakan kelimanya terdiri dua betina dan tiga jantan yang diperkirakan berusia kurang satu tahun. Setelah menjalani pemeriksaan, kelima orangutan dipindahkan ke Nandankanan Zoological Park di Bhubaneswar. Pemerintah Odisha meminta Wildlife Crime Control Bureau (WCCB) menyelidiki asal-usul orangutan tersebut. Prem Kumar Jha, Kepala Konservator Satwa Liar Odisha, mengatakan orangutan menjadi bagian perdagangan satwa eksotis yang dipelihara ilegal di sejumlah negara. Penyidik akan menelusuri apakah satwa tersebut dijual ke pembeli di India, atau hanya transit sebelum dikirim ke negara lain. Bayi orangutan sumatera ini dirawat di Sumatera Rescue Alliance Primate (SRA), Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Bayi ini merupakan korban perdagangan ilegal satwa liar. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. M. Indra Kurnia, Direktur Konservasi Yayasan Orangutan Sumatera Lestari–Orangutan Information Centre (YOSL-OIC), mengatakan munculnya orangutan di negara yang tidak memiliki populasi alami, harus dilihat sebagai persoalan perdagangan satwa liar lintas negara. “Kita tidak boleh hanya melihatnya sebagai kasus lokal di negara tempat satwa tersebut ditemukan,” ujarnya, Rabu (9/9/26). Jika dugaan perdagangan ilegal terbukti, kasus Odisha memperlihatkan perdagangan orangutan dilakukan melalui rantai yang panjang. “Ini dimulai dari perburuan di alam, pemisahan bayi dari induk, pengangkutan melalui sejumlah wilayah, hingga dijual atau dipelihara sebagai satwa eksotik.” Pemisahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/lima-bayi-orangutan-ditemukan-di-india-jejak-perdagangan-lintas-negara-mengarah-ke-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/10/lima-bayi-orangutan-ditemukan-di-india-jejak-perdagangan-lintas-negara-mengarah-ke-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kota Bandar Lampung Mulai Krisis Air Bersih</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/10/kota-bandar-lampung-mulai-krisis-air-bersih/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/10/kota-bandar-lampung-mulai-krisis-air-bersih/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 01:00:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Derri Nugraha*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/09142856/IMG_3882.JPG-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133323</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lampung dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, Pertambangan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang mulai memicu kekeringan di berbagai daerah, tak terkecuali di Kota Bandar Lampung, Lampung. Warga mulai kesulitan memenuhi keperluan air bersih untuk keperluan sehari-hari dari mandi, mencuci sampai untuk konsumsi. Tariah mesti bolak-balik ke bak penampungan air dari rumahnya yang berjarak 40 meter demi memenuhi kebutuhan esensial: air bersih. Perempuan 71 tahun ini tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/kota-bandar-lampung-mulai-krisis-air-bersih/">Kota Bandar Lampung Mulai Krisis Air Bersih</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang mulai memicu kekeringan di berbagai daerah, tak terkecuali di Kota Bandar Lampung, Lampung. Warga mulai kesulitan memenuhi keperluan air bersih untuk keperluan sehari-hari dari mandi, mencuci sampai untuk konsumsi. Tariah mesti bolak-balik ke bak penampungan air dari rumahnya yang berjarak 40 meter demi memenuhi kebutuhan esensial: air bersih. Perempuan 71 tahun ini tidak mengeluh meski harus memikul dua ember dengan sebilah batang kayu sekali jalan. Karena, saat itu, kampungnya mendapat bantuan air dari pemerintah. Ingatannya melayang dekade 1980-an dan 1990-an. Saat itu, air di Kampung Batu Suluh, Kelurahan Way Laga, Kecamatan Sukabumi, Kota Bandar Lampung, melimpah. Sekarang, dia dan warga lain harus membayar Rp50.000 untuk mendapat 1.000 liter air. Jumlah itu hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya selama 3-4 hari. Sebulan, kebutuhan air bisa Rp400.000. Uang sebanyak itu hanya untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan kakus. Sumur  sudah tidak lagi bisa dia andalkan. Tidak ada lagi air yang mengalir dari tanah mereka. Kekeringan di sana tidak harus menunggu kemarau. “Kalau tidak kemarau juga susah air,” katanya, 11 Agustus. Tetangganya, bahkan, baru saja membuat sumur bor. Penggalian sudah menembus lebih dari 100 meter ke dalam tanah tetapi tidak juga temukan air. Kekeringan di Batu Suluh mulai terasa beberapa dekade terakhir. Seiring dengan sejumlah titik perbukitan di sekitar kampung menjadi lokasi penambangan batu andesit. Bukit-bukit yang dahulu bagian dari lanskap kampung perlahan terkeruk. Sisi lain, kawasan hilir terus berkembang. Industri tumbuh makin pesat tidak jauh dari permukiman. Pabrik-pabrik berdiri dan aktivitas ekonomi semakin ramai. Tariah tidak tahu ke mana air di kampungnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/10/kota-bandar-lampung-mulai-krisis-air-bersih/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/10/kota-bandar-lampung-mulai-krisis-air-bersih/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Ular Putih Papua yang Belum Memiliki Antivenom</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-ular-putih-papua-yang-belum-memiliki-antivenom/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-ular-putih-papua-yang-belum-memiliki-antivenom/#respond</comments>
					<pubDate>10 Sep 2026 00:30:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232047/original-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133268</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik hutan tropis Papua yang lembap, hidup ular putih papua (Micropechis ikaheka), jenis ular berbisa tinggi dengan persebaran sangat terbatas. Spesies ini hanya ditemukan di Papua dan sejumlah pulau sekitarnya, termasuk Waigeo, Batanta, Karkar, dan Kepulauan Aru. Ular ini pertama kali ditemukan pada 1829 oleh naturalis Prancis René Primevère Lesson. Awalnya, spesimen tersebut ditempatkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-ular-putih-papua-yang-belum-memiliki-antivenom/">Mengenal Ular Putih Papua yang Belum Memiliki Antivenom</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik hutan tropis Papua yang lembap, hidup ular putih papua (Micropechis ikaheka), jenis ular berbisa tinggi dengan persebaran sangat terbatas. Spesies ini hanya ditemukan di Papua dan sejumlah pulau sekitarnya, termasuk Waigeo, Batanta, Karkar, dan Kepulauan Aru. Ular ini pertama kali ditemukan pada 1829 oleh naturalis Prancis René Primevère Lesson. Awalnya, spesimen tersebut ditempatkan dalam genus Coluber. Setelah struktur anatomi dan taringnya dipelajari, ular ini kemudian dimasukkan ke genus tersendiri, Micropechis. Hingga kini, M. ikaheka merupakan satu-satunya spesies dalam genus tersebut. Nama “ikaheka” berarti “belut tanah”, merujuk pada kebiasaannya hidup di tempat lembap dan tersembunyi. Habitatnya meliputi rawa, hutan dataran rendah, tepian sungai, hingga tumpukan sabut kelapa yang membusuk di perkebunan. Panjang tubuhnya dapat mencapai sekitar 2,1 meter. Tubuhnya silindris, berotot, dan ditutupi sisik halus yang terkadang tampak berkilau. Matanya berukuran kecil, sesuai dengan kebiasaannya bergerak di dalam tanah atau di bawah tumpukan vegetasi. Meski disebut ular putih, warna tubuhnya tidak selalu sama. Sebagian populasi memiliki tubuh putih pucat dengan belang merah tua atau cokelat, sedangkan populasi lain dapat berwarna hitam polos. Perbedaan itu diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan dan tekanan evolusi di masing-masing wilayah. Ancaman utama ular ini terletak pada komposisi bisanya. Racun M. ikaheka disebut mengandung neurotoksin, hemotoksin, sitotoksin, dan kardiotoksin. Gabungan tersebut dapat mengganggu sistem saraf, merusak jaringan dan otot, menyebabkan perdarahan internal, serta memengaruhi kerja jantung. Gejalanya dapat muncul dalam hitungan menit, mulai dari kesulitan bernapas, kelumpuhan, nyeri otot, hingga kejang. Hingga kini, belum tersedia antivenom khusus yang terbukti efektif dan tersedia luas di Papua.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-ular-putih-papua-yang-belum-memiliki-antivenom/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-ular-putih-papua-yang-belum-memiliki-antivenom/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Misteri Kamuflase Dunia Satwa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 10:22:06 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/11075252/Ular-Siput-Jerapah-Saktyari-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=133304</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Misteri Kamuflase Dunia Satwa]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kamuflase adalah strategi alami yang digunakan satwa untuk menyatu dengan lingkungan, mengecoh penglihatan, dan menyembunyikan keberadaannya. Warna, pola, tekstur, bentuk tubuh, hingga perilaku membantu mereka menghindari pemangsa, mengintai mangsa, atau melindungi diri. Dari hutan hingga dasar laut, setiap satwa mengembangkan teknik penyamaran yang sesuai dengan habitat dan kebutuhan hidupnya.</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/">Misteri Kamuflase Dunia Satwa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kamuflase adalah strategi alami yang digunakan satwa untuk menyatu dengan lingkungan, mengecoh penglihatan, dan menyembunyikan keberadaannya. Warna, pola, tekstur, bentuk tubuh, hingga perilaku membantu mereka menghindari pemangsa, mengintai mangsa, atau melindungi diri. Dari hutan hingga dasar laut, setiap satwa mengembangkan teknik penyamaran yang sesuai dengan habitat dan kebutuhan hidupnya. The post Misteri Kamuflase Dunia Satwa appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/misteri-kamuflase-dunia-satwa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antrean BBM Mengular, Ketimpangan Energi di Luar Jawa Disorot</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 10:00:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30071023/IMG_6958-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132962</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jawa, politik dan hukum, sumatera, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah daerah luar Jawa. Di Jambi, antrean kendaraan berbahan bakar diesel mengular hingga bahu jalan. Kondisi serupa terjadi di Merangin, Sarolangun, Muara Bungo, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sebagian pengemudi bahkan harus menunggu semalaman untuk mendapatkan solar. Kelangkaan tersebut dinilai bukan sekadar gangguan distribusi. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/">Antrean BBM Mengular, Ketimpangan Energi di Luar Jawa Disorot</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Antrean kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum menjadi pemandangan sehari-hari di sejumlah daerah luar Jawa. Di Jambi, antrean kendaraan berbahan bakar diesel mengular hingga bahu jalan. Kondisi serupa terjadi di Merangin, Sarolangun, Muara Bungo, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sebagian pengemudi bahkan harus menunggu semalaman untuk mendapatkan solar. Kelangkaan tersebut dinilai bukan sekadar gangguan distribusi. Sudaryadi, Direktur Program Traction Energy Asia, mengatakan terdapat tekanan bersamaan dari sisi fiskal, pasokan bahan baku, dan tata kelola. Penerapan biodiesel 50 atau B50 sejak 1 Juli 2026 menambah kebutuhan subsidi. Ketika harga minyak mentah Brent berada di bawah US$101 per barel, biaya produksi biodiesel menjadi lebih mahal dibandingkan solar fosil. Sebab, harga biodiesel juga dipengaruhi harga minyak sawit mentah sebagai bahan bakunya. “Sepanjang 2026, tren penurunan harga Brent memperlebar selisih harga antara biodiesel dan solar fosil sehingga kebutuhan subsidi biodiesel meningkat. Dalam kajian kami, kondisi ini berpotensi menambah beban fiskal sekitar Rp80-100 triliun per tahun,” ujar Sudaryadi. Dana subsidi B50 berasal dari pungutan ekspor sawit yang dikelola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Ketika kebutuhan subsidi tumbuh lebih cepat daripada penerimaan pungutan, pembayaran insentif kepada produsen biodiesel berpotensi terganggu. Pasokan minyak sawit juga menghadapi persaingan antara kebutuhan energi, pangan, dan ekspor. Kebutuhan biodiesel diperkirakan meningkat dari sekitar 12,5 juta ton menjadi 19,8 juta ton pada 2035. Pemerintah didesak membuka data distribusi, stok BBM, dan realisasi pencampuran biodiesel untuk memastikan penyebab langsung kelangkaan. Agus Praditya Tampubolon, Direktur Iklim dan Transisi Energi Berkeadilan IESR, mengatakan ketahanan energi mencakup ketersediaan, keterjangkauan harga, kemudahan akses, dan penerimaan masyarakat.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/antrean-bbm-mengular-ketimpangan-energi-di-luar-jawa-disorot/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Habitat Lutung Jawa di Pesisir Utara Kabupaten Bekasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/#respond</comments>
					<pubDate>09 Sep 2026 08:50:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/12022858/image-27-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133302</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ada hutan tersisa di pesisir utara Kabupaten Bekasi yang menjadi habitat bagi lutung jawa. Jika mau ke kawasan konservasi satwa di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, pengunjung harus menggunakan perahu. Jalur darat sudah terputus akibat abrasi. Di tengah hamparan tambak dan sisa mangrove, lutung jawa masih bertahan. Daman, warga setempat, menjadi salah satu masyarakat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/">Ada Habitat Lutung Jawa di Pesisir Utara Kabupaten Bekasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ada hutan tersisa di pesisir utara Kabupaten Bekasi yang menjadi habitat bagi lutung jawa. Jika mau ke kawasan konservasi satwa di Desa Pantai Bahagia, Muaragembong, Kabupaten Bekasi, pengunjung harus menggunakan perahu. Jalur darat sudah terputus akibat abrasi. Di tengah hamparan tambak dan sisa mangrove, lutung jawa masih bertahan. Daman, warga setempat, menjadi salah satu masyarakat yang rutin menjaga habitat satwa tersebut. “Lutung itu pemalu,” kata Daman, warga Kampung Desa Pantai Bahagia yang menjaga wilayah itu. Sejak 2012, Daman menjadi relawan penjaga kawasan. Setelah mencari kepiting bakau, dia biasa masuk ke hutan untuk memantau lutung jawa. Selain lutung, kawasan tersebut juga menjadi habitat berbagai satwa lain, seperti kera ekor panjang, burung air, kuntul, bangau bluwok, cekakak sungai, hingga blekok sawah. Namun, habitat lutung jawa terus menyusut. Berdasarkan data pemerintah Kabupaten Bekasi, dari penetapan kawasan hutan lindung yang awalnya mencapai 10.000 hektar, sekitar 2.338,85 hektar daratan hilang akibat abrasi, 1.700 hektar mengalami penggenangan, dan hampir 90% kawasan hutan beralih fungsi menjadi tambak. Penelitian juga menunjukkan luas mangrove di Muaragembong menyusut 55% dalam empat dekade terakhir. Desa Pantai Bahagia menjadi salah satu wilayah yang mengalami abrasi paling parah. Kondisi ini turut mengancam lutung jawa yang populasinya di kawasan tersebut kini sekitar 70 individu. Penyusutan mangrove membuat lutung semakin kesulitan mendapatkan pakan dan air. Daman mengatakan lutung jawa menyukai daun jeruju. Saat musim kemarau, air di sekitar muara Sungai Citarum berubah menjadi payau akibat intrusi air laut sehingga lutung harus mendekati permukiman untuk mencari air tawar. “Saya sempat mikir, kenapa lutung lari ke rumah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ada-habitat-lutung-jawa-di-pesisir-utara-kabupaten-bekasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>