Di balik hutan tropis Papua yang lembap, hidup ular putih papua (Micropechis ikaheka), jenis ular berbisa tinggi dengan persebaran sangat terbatas. Spesies ini hanya ditemukan di Papua dan sejumlah pulau sekitarnya, termasuk Waigeo, Batanta, Karkar, dan Kepulauan Aru.
Ular ini pertama kali ditemukan pada 1829 oleh naturalis Prancis René Primevère Lesson. Awalnya, spesimen tersebut ditempatkan dalam genus Coluber. Setelah struktur anatomi dan taringnya dipelajari, ular ini kemudian dimasukkan ke genus tersendiri, Micropechis. Hingga kini, M. ikaheka merupakan satu-satunya spesies dalam genus tersebut.
Nama “ikaheka” berarti “belut tanah”, merujuk pada kebiasaannya hidup di tempat lembap dan tersembunyi. Habitatnya meliputi rawa, hutan dataran rendah, tepian sungai, hingga tumpukan sabut kelapa yang membusuk di perkebunan.
Panjang tubuhnya dapat mencapai sekitar 2,1 meter. Tubuhnya silindris, berotot, dan ditutupi sisik halus yang terkadang tampak berkilau. Matanya berukuran kecil, sesuai dengan kebiasaannya bergerak di dalam tanah atau di bawah tumpukan vegetasi.
Meski disebut ular putih, warna tubuhnya tidak selalu sama. Sebagian populasi memiliki tubuh putih pucat dengan belang merah tua atau cokelat, sedangkan populasi lain dapat berwarna hitam polos. Perbedaan itu diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan dan tekanan evolusi di masing-masing wilayah.
Ancaman utama ular ini terletak pada komposisi bisanya. Racun M. ikaheka disebut mengandung neurotoksin, hemotoksin, sitotoksin, dan kardiotoksin. Gabungan tersebut dapat mengganggu sistem saraf, merusak jaringan dan otot, menyebabkan perdarahan internal, serta memengaruhi kerja jantung.
Gejalanya dapat muncul dalam hitungan menit, mulai dari kesulitan bernapas, kelumpuhan, nyeri otot, hingga kejang. Hingga kini, belum tersedia antivenom khusus yang terbukti efektif dan tersedia luas di Papua. Antivenom polivalen asal Australia disebut memiliki potensi, tetapi efektivitasnya masih dipertanyakan.
Di Pulau Karkar, Papua Nugini, ular ini dilaporkan berkaitan dengan sekitar 40 persen kasus gigitan ular berbisa. Ular putih Papua juga cenderung menggigit sambil “mengunyah” sehingga racun lebih banyak masuk ke tubuh korban. Bahkan, bangkainya tetap perlu dihindari karena refleks saraf setelah kematian masih dapat memicu gigitan.
Meski berbahaya, ular putih papua bukan satwa yang semestinya dimusnahkan. Sebagai predator, ia memangsa tikus, bandikut, kodok, bengkarung, dan ular lain. Perannya membantu mengendalikan populasi hewan kecil dan menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Satwa nokturnal ini berkembang biak dengan bertelur dan lebih aktif pada malam hari. Kebiasaannya bersembunyi di tumpukan vegetasi membuat pertemuan dengan manusia dapat terjadi tanpa disengaja, terutama di perkebunan.
Ular putih papua perlu dikenali melalui pendekatan ilmiah dan edukatif. Memahami habitat, perilaku, serta bahayanya dapat membantu manusia menjaga jarak dengan aman tanpa mengabaikan peran pentingnya di alam.
Foto utama: Ular putih papua adalah spesies endemik Papua dan pulau-pulau sekitarnya, termasuk Waigeo, Batanta, Karkar, dan Kepulauan Aru. Foto: Huda Wiradarma/CC-BY-NC iNaturalist.