Hutan yang hijau belum tentu menjadi rumah nyaman bagi satwa liar. Suara kendaraan, mesin, dan musik yang memasuki kawasan hutan dapat mengubah cara siamang (Symphalangus syndactylus) bergerak, mencari makan, bahkan berinteraksi dengan pasangannya.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Ethology pada Juni 2025 mengamati tujuh kelompok siamang di Sikundur, Ketambe, Kutapanjang, dan Soraya, di Sumatera Utara. Peneliti memutar empat jenis suara sekitar tiga menit dengan tingkat kebisingan mendekati 90 desibel.
Tiga suara berasal dari aktivitas manusia, yaitu lalu lintas kendaraan, mesin pemecah beton atau jackhammer, dan musik rock. Suara tonggeret digunakan sebagai pembanding karena merupakan bagian alami dari lingkungan hutan.
Hasilnya, siamang memberikan respons paling kuat terhadap suara lalu lintas dan jackhammer. Setelah mendengar lalu lintas, mereka bergerak rata-rata sejauh 103,86 meter dari sumber suara. Jarak tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan respons terhadap suara tonggeret, yaitu sekitar 51,14 meter.
Temuan ini tidak berarti semua siamang selalu berlari sejauh 100 meter ketika mendengar kendaraan. Jumlah kelompok yang diteliti juga relatif sedikit. Namun, eksperimen tersebut menunjukkan bahwa suara manusia dapat mengubah perilaku satwa meskipun kondisi fisik hutannya tidak langsung berubah.
Siamang biasanya hidup dalam kelompok keluarga yang terdiri dari pasangan jantan dan betina beserta keturunannya. Mereka mempertahankan wilayah seluas sekitar 20-70 hektar dan menempuh perjalanan harian sepanjang 700-1.500 meter untuk mencari buah serta daun.
Gangguan suara berulang berpotensi menciptakan “lanskap ketakutan akustik”. Dalam kondisi ini, siamang memetakan lokasi yang bising sebagai area berisiko dan memilih menghindarinya. Jika kawasan tersebut sebenarnya kaya makanan, penghindaran dapat membatasi akses terhadap sumber daya dan meningkatkan energi yang harus dikeluarkan.
“Jika hewan secara konsisten menghindari area kaya sumber daya karena kebisingan, hal ini dapat menyebabkan penurunan asupan makanan,” tulis para peneliti.
Kebisingan juga mungkin mengganggu hubungan sosial. Setelah pemutaran suara jackhammer, sepasang siamang dewasa dalam satu kelompok tercatat terpisah selama sekitar 10 jam. Sebelum eksperimen, perpisahan lebih dari 50 meter biasanya hanya berlangsung paling lama satu jam. Keduanya juga tidur di pohon berbeda pada tiga dari lima malam berikutnya.
Namun, peneliti menegaskan bahwa satu kejadian belum cukup membuktikan hubungan sebab-akibat. Temuan itu menjadi petunjuk bahwa dampak kebisingan terhadap ikatan pasangan perlu diteliti lebih lanjut.
Ancaman ini menambah tekanan terhadap siamang yang berstatus Genting. Populasinya diproyeksikan turun sedikitnya 50 persen selama tiga generasi akibat kehilangan habitat, fragmentasi hutan, pembangunan jalan, kebakaran, perburuan, dan perdagangan satwa.
Sebagai pemakan buah, siamang membantu menyebarkan biji dan memulihkan kawasan terdegradasi. Melindungi satwa ini berarti tidak hanya mempertahankan pepohonan, tetapi juga menjaga ketenangan hutan yang mereka butuhkan untuk hidup.
Foto utama: Siamang merupakan satwa liar dilindungi yang dilarang diperjualbelikan. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.