<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=suryadi-indragiri-hilir&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/suryadi-indragiri-hilir/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sat, 29 Aug 2026 10:12:43 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan Tokek di Alam Liar?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/03/22014557/Tokek-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132537</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tokek rumah (Gekko gecko) diperjualbelikan secara terbuka di sejumlah marketplace Indonesia. Dalam penelusuran Mongabay Indonesia, seorang penjual menawarkan tokek hidup seharga Rp30.500 per ekor. Stok yang dicantumkan mencapai 493 ekor dan beberapa di antaranya telah terjual. Penjual juga menyertakan berbagai klaim khasiat, seperti meningkatkan stamina, mengatasi asma, dan membantu mengobati kanker. Namun, tidak ada penjelasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/">Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan Tokek di Alam Liar?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tokek rumah (Gekko gecko) diperjualbelikan secara terbuka di sejumlah marketplace Indonesia. Dalam penelusuran Mongabay Indonesia, seorang penjual menawarkan tokek hidup seharga Rp30.500 per ekor. Stok yang dicantumkan mencapai 493 ekor dan beberapa di antaranya telah terjual. Penjual juga menyertakan berbagai klaim khasiat, seperti meningkatkan stamina, mengatasi asma, dan membantu mengobati kanker. Namun, tidak ada penjelasan yang memastikan apakah tokek tersebut berasal dari penangkaran atau ditangkap langsung dari alam. Perdagangan tokek mulai mendapat perhatian lebih besar setelah reptil ini masuk Appendix II CITES pada 2019. Status tersebut bukan berarti tokek telah terancam punah. Dalam Daftar Merah IUCN, tokek rumah masih berstatus Risiko Rendah atau Least Concern. Meski demikian, perdagangan internasionalnya harus diatur agar legal, dapat ditelusuri asal-usulnya, dan tidak mengancam populasi liar. Indonesia juga wajib menyusun Non-Detriment Finding atau NDF, yakni kajian ilmiah untuk memastikan pemanfaatan tokek tidak membahayakan kelestarian spesies. Menurut Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, penentuan jumlah tokek yang boleh dimanfaatkan harus didahului survei populasi. Peneliti perlu mengetahui jumlah, persebaran, dan kemampuan berkembang biaknya. Pada 2026, pemerintah menetapkan kuota pengambilan tokek rumah dari alam sebanyak 2.509.362 ekor. Sebanyak 2.487.750 ekor dialokasikan untuk konsumsi dalam bentuk tokek kering, sedangkan 21.612 ekor diperuntukkan bagi perdagangan sebagai satwa hidup atau peliharaan. Jawa Timur memperoleh kuota konsumsi terbesar, yakni 480.000 ekor. Provinsi ini juga mendapat kuota tertinggi untuk perdagangan tokek hidup sebanyak 5.035 ekor. Selain jumlah, pemerintah mengatur ukuran tokek yang boleh ditangkap. Untuk kebutuhan konsumsi, panjang tubuh dari moncong hingga kloaka minimal 15 sentimeter, dengan lebar dada sedikitnya 13&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Batubara NU Bisa Perburuk Nasib Masyarakat Dayak Basap dan Picu Bencana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 09:00:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/29065641/WhatsApp-Image-2026-07-26-at-10.53.27-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132595</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, hutan indonesia, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masri, Masyarakat Adat Dayak Basap tengah asyik menyeruput air rebusan akar-akar tumbuhan dari gelasnya yang mengepul, suatu siang di Desa Tebangan Lembak, Bengalon, Kalimantan Timur (Kaltim). Panas terik tidak menyurutkan tradisinya itu, apalagi, Panding, sang istri, yang membuatkannya. Pria lanjut usia ini percaya, rutin minum rebusan akan membuat stamina tubuh  tak mudah loyo. Terbukti, pria [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/">Tambang Batubara NU Bisa Perburuk Nasib Masyarakat Dayak Basap dan Picu Bencana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masri, Masyarakat Adat Dayak Basap tengah asyik menyeruput air rebusan akar-akar tumbuhan dari gelasnya yang mengepul, suatu siang di Desa Tebangan Lembak, Bengalon, Kalimantan Timur (Kaltim). Panas terik tidak menyurutkan tradisinya itu, apalagi, Panding, sang istri, yang membuatkannya. Pria lanjut usia ini percaya, rutin minum rebusan akan membuat stamina tubuh  tak mudah loyo. Terbukti, pria itu masih sehat di usia yang menginjak 113 tahun. Hanya daya dengar saja yang menurun. Tidak hanya Masri, mayoritas warga di sana  biasa menggunakan akar-akar pohon sebagai obat demam, flu, hingga sesak napas. Kini, akar-akar pepohonan obat itu kini sulit mereka dapatkan di sekitar rumah. Pasalnya, wilayah itu sudah terkepung tambang. Masri bilang, harus jauh ke dalam hutan untuk menemukan akar jenis pohon tertentu. “Kita ini di tengah-tengah perusahaan sudah,” katanya, 19 Februari. Siang itu, kami melihat truk-truk tambang batubara hilir mudik, menyebabkan debu beterbangan sepanjang jalan. Kendaraan tonase besar itu lebih sering terlihat ketimbang warga, meskipun data kecamatan mencatat populasi penduduk ada 256 jiwa. Analisis Yayasan Auriga Nusantara menunjukan sejumlah perusahaan tambang ada di Tebangan Lembak, antara lain PT Rahmat family Group, PT Perkasa Inakakerta, PT Kobexindo Limestone, PT Bengalon Limestone, PT Tawabu Mineral Resource (TMR), PT Damanka Prima, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Selaju Nusantara Bersama, dan terbaru PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara (BUMNU). Lahan yang tereksploitasi pertambangan mencapai 14.187,74 hektar dari luas Desa Tebangan Lembak 37.000 hektar. Peta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menunjukkan rumah Panding dan Masri tumpang tindih dengan konsesi BUMNU, perusahaan ormas keagamaan Nahdlatul Ulama (NU).&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kumbang Ini Dinobatkan Sains sebagai Serangga Terkuat di Dunia, Tarik Beban 1.141 Kali Berat Tubuhnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 02:42:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/29023820/Bull-headed_Dung_Beetle_imported_from_iNaturalist_photo_308636278_on_6_August_2024-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132584</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Semut sering dianggap sebagai simbol kekuatan di dunia serangga karena kemampuannya mengangkat beban puluhan kali berat tubuhnya sendiri. Semut pemotong daun dari genus Atta, misalnya, mampu membawa potongan daun seberat 20 hingga 50 kali berat badannya saat berjalan kembali ke sarang. Namun gelar serangga terkuat di dunia, jika diukur berdasarkan rasio kekuatan terhadap berat badan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/">Kumbang Ini Dinobatkan Sains sebagai Serangga Terkuat di Dunia, Tarik Beban 1.141 Kali Berat Tubuhnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Semut sering dianggap sebagai simbol kekuatan di dunia serangga karena kemampuannya mengangkat beban puluhan kali berat tubuhnya sendiri. Semut pemotong daun dari genus Atta, misalnya, mampu membawa potongan daun seberat 20 hingga 50 kali berat badannya saat berjalan kembali ke sarang. Namun gelar serangga terkuat di dunia, jika diukur berdasarkan rasio kekuatan terhadap berat badan, ternyata tidak dipegang oleh semut, melainkan oleh kumbang. Studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B menemukan bahwa kumbang kotoran memiliki rasio kekuatan yang jauh melampaui semua serangga lain yang pernah diuji, termasuk kumbang badak yang sebelumnya dianggap sebagai pemegang rekor. Penelitian ini mengukur kekuatan tarik beberapa jenis kumbang menggunakan alat uji sederhana yang dipasang di dalam terowongan buatan, menyerupai kondisi pertarungan yang sesungguhnya terjadi di alam liar. Studi yang sama juga menemukan bahwa kekuatan kumbang sangat dipengaruhi oleh kualitas makanan yang mereka konsumsi sejak masa larva, sehingga kumbang dengan asupan gizi buruk cenderung memiliki kekuatan tarik yang jauh lebih rendah meski berasal dari spesies yang sama. Kumbang Kotoran, Pemegang Rekor Kekuatan Kumbang kotoran jantan dari spesies Onthophagus taurus tercatat sebagai serangga dengan rasio kekuatan tertinggi yang pernah diukur secara ilmiah. Dalam eksperimen yang dilakukan Robert Knell dari Queen Mary University of London bersama Leigh Simmons dari University of Western Australia, kumbang ini mampu menarik beban hingga 1.141 kali berat tubuhnya sendiri. Sebagai perbandingan, kekuatan itu setara dengan seorang manusia dewasa seberat 70 kilogram yang mampu menarik beban seberat 80 ton, atau setara enam bus tingkat penuh penumpang. Kumbang kotoran jantan Onthophagus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 02:07:35 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/01/22015329/Semut-zombie-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=132582</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sisi lain kehidupan semut menyimpan rahasia luar biasa yang sering terlewatkan. Dari fosil purba yang merekam jejak ribuan tahun lalu hingga kebiasaan ekstrem modern seperti menyengat, menyerang jaringan listrik, dan menghadapi ancaman predator, serangga kecil ini terus berevolusi dengan strategi yang cerdas. Keragaman jenis, keunikan perilaku, serta daya tahan tubuhnya membuktikan bahwa ukuran bukanlah penghalang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/">Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sisi lain kehidupan semut menyimpan rahasia luar biasa yang sering terlewatkan. Dari fosil purba yang merekam jejak ribuan tahun lalu hingga kebiasaan ekstrem modern seperti menyengat, menyerang jaringan listrik, dan menghadapi ancaman predator, serangga kecil ini terus berevolusi dengan strategi yang cerdas. Keragaman jenis, keunikan perilaku, serta daya tahan tubuhnya membuktikan bahwa ukuran bukanlah penghalang untuk menguasai lingkungan. Adaptasi yang mengagumkan dan peran ekologis yang vital secara perlahan memperlihatkan bagaimana makhluk mungil ini tumbuh menjadi raksasa sejati di skala dunia kecil. The post Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Niño Godzilla dan Ancaman Kekeringan di Dataran Tinggi Dieng</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 00:45:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25154215/Telaga3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132415</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Permukaan air Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, terus menyusut akibat kemarau panjang yang dipengaruhi El Niño Godzilla. Kondisi ini mengkhawatirkan ratusan petani yang mengandalkan telaga sebagai sumber irigasi. Telaga seluas sekitar 25 hektar yang berada di antara Bukit Pangonan dan Bukit Semurup tersebut menjadi tumpuan sekitar 200 petani dari Desa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/">El Niño Godzilla dan Ancaman Kekeringan di Dataran Tinggi Dieng</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Permukaan air Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, terus menyusut akibat kemarau panjang yang dipengaruhi El Niño Godzilla. Kondisi ini mengkhawatirkan ratusan petani yang mengandalkan telaga sebagai sumber irigasi. Telaga seluas sekitar 25 hektar yang berada di antara Bukit Pangonan dan Bukit Semurup tersebut menjadi tumpuan sekitar 200 petani dari Desa Karangtengah, Butuh, dan Bakal. Setiap hari, ribuan liter air dipompa menuju lahan pertanian di kawasan Dataran Tinggi Dieng, terutama kebun kentang. Zaenuri, petani asal Karangtengah, telah menyedot air dari telaga selama dua bulan. Untuk mengairi lahan kentang seluas sekitar 2.500 meter persegi, dia membutuhkan tujuh liter pertalite setiap hari. “Ini satu-satunya harapan kami untuk menyelamatkan tanaman kentang,” katanya. Petani lain juga menghadapi persoalan serupa. Mereka harus mengoperasikan mesin pompa dan mengalirkan air hingga sejauh satu kilometer. Biaya bahan bakar membuat ongkos produksi meningkat dibandingkan musim hujan. Namun, penyiraman tidak dapat dihentikan karena tanaman kentang memerlukan pasokan air berkala agar produktivitasnya tidak menurun. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan musim kemarau 2026 datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis. Puncak kemarau terjadi pada Agustus, sedangkan durasinya diperkirakan berlangsung sekitar lima hingga tujuh bulan sejak Mei atau Juni. “Artinya, kemarau tahun ini diperkirakan bisa terjadi hingga Oktober–November mendatang.” Petani dianjurkan menyesuaikan jadwal tanam, menggunakan varietas tahan kering, dan memprioritaskan pengelolaan cadangan air. Langkah tersebut penting karena penurunan debit Telaga Merdada diperkirakan terus berlangsung apabila hujan belum turun dalam beberapa bulan mendatang. Selain menghadapi tekanan akibat kemarau, Telaga Merdada juga terancam aktivitas pertanian intensif di kawasan sekitarnya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kabut Asap dan Karhutla Berulang di Sumatera Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 15:02:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28145823/Anggota-Manggala-Agni-wilayah-Kabupaten-Banyuasin-Sumsel-tengah-memadamkan-api-di-lahan-gambut-terbakar-di-Desa-Babatan-Saudagar-Kabupaten-Ogan-Ilir.-Foto-Ahmad-Rizki-Prabu-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132573</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, Lahan Basah, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sumatera Selatan kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran di lahan gambut dan mineral ini menciptakan kabut asap yang kembali dirasakan masyarakat Palembang. Mengapa persoalan ini tidak kunjung teratasi sejak 1997? “Pertama, pengetahuan bahwa gambut dapat dikelola menjadi perkebunan bukan hanya dikuasai perusahaan, juga masyarakat,” kata Yulion Zalpa, peneliti ekologi politik dari Universitas Islam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/">Kabut Asap dan Karhutla Berulang di Sumatera Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sumatera Selatan kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran di lahan gambut dan mineral ini menciptakan kabut asap yang kembali dirasakan masyarakat Palembang. Mengapa persoalan ini tidak kunjung teratasi sejak 1997? “Pertama, pengetahuan bahwa gambut dapat dikelola menjadi perkebunan bukan hanya dikuasai perusahaan, juga masyarakat,” kata Yulion Zalpa, peneliti ekologi politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Minggu (23/8/26). Masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan dalam memanfaatkan atau mengelola lahan gambut untuk pertanian dan perkebunan, saat ini mulai memahaminya. Mereka tidak hanya mengelola lahan mineral, juga gambut. Pengetahuan ini mereka dapatkan dari aktivitas perusahaan yang memanfaatkan gambut, seperti yang dilakukan perusahaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI). “Berdasarkan pemantauan saya di beberapa desa atau dusun di Sumatera Selatan yang wilayahnya terdapat gambut, sebagian besar masyarakat sudah memanfaatkan lahan ini untuk berkebun sawit. Luasannya mulai setengah hektar hingga puluhan hektar. Gambut bukan lagi dipahami sebagai hutan,” jelas Yulion, yang pernah terlibat dalam beberapa penelitian restorasi gambut di Sumatera Selatan. Kebakaran lahan gambut di Desa Babatan Saudagar, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, awal Agustus 2026. Foto: Ahmad Rizki Prabu/Mongabay Indonesia. Kedua, pengetahuan atau teknologi mengelola lahan mineral dan lahan gambut yang baik, tidak terlihat. Membakar lahan tetap dipahami sebagai tindakan terbaik dalam mengelola lahan. Cepat dan murah. Bahkan, bukan hanya lahan gambut yang mereka olah menjadi perkebunan. Rawa dan mangrove turut diubah menjadi perkebunan. Pengeringan lahan dengan cara membangun kanal sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat desa. Dua hal ini yang menyebabkan lahan mineral dan lahan gambut terus mengalami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Memiliki Mata Kucing, Ular dari Hutan Malang Selatan Ini Pandai Menyamar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/memiliki-mata-kucing-ular-dari-hutan-malang-selatan-ini-pandai-menyamar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/memiliki-mata-kucing-ular-dari-hutan-malang-selatan-ini-pandai-menyamar/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 10:00:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22001503/Banjang-Tupai-Foto-Fariq-Izzudien-Ash-Shidiq-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132489</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat menyusuri hutan bervegetasi rapat di Malang Selatan, Jawa Timur, Fariq Izzudien Ash Shidiq dan rekannya melihat seekor ular berada sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah. Warna tubuhnya begitu menyatu dengan lingkungan sehingga sulit dikenali tanpa pengamatan teliti. Ular tersebut adalah banjang tupai atau Boiga drapiezii. Salah satu cirinya yang paling menarik adalah bentuk dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/memiliki-mata-kucing-ular-dari-hutan-malang-selatan-ini-pandai-menyamar/">Memiliki Mata Kucing, Ular dari Hutan Malang Selatan Ini Pandai Menyamar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat menyusuri hutan bervegetasi rapat di Malang Selatan, Jawa Timur, Fariq Izzudien Ash Shidiq dan rekannya melihat seekor ular berada sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah. Warna tubuhnya begitu menyatu dengan lingkungan sehingga sulit dikenali tanpa pengamatan teliti. Ular tersebut adalah banjang tupai atau Boiga drapiezii. Salah satu cirinya yang paling menarik adalah bentuk dan iris mata yang menyerupai mata kucing. Kepalanya berukuran lebih besar daripada lehernya, sementara beberapa bagian tubuhnya memiliki kombinasi warna putih dan hitam. Pertemuan itu menjadi pengalaman istimewa bagi Fariq karena merupakan kali pertama ia melihat langsung spesies tersebut. Dalam istilah pengamatan satwa, perjumpaan pertama dengan suatu spesies dikenal sebagai lifer. “Matanya sangat spesial. Seperti memotret kucing-kucingan,” ujar Fariq, yang merupakan Research Assistant di Laboratorium Entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selama diamati, banjang tupai tidak memperlihatkan perilaku agresif. Ketika didekati, ular itu memilih menjauh dan tidak berusaha menyerang. Menurut Fariq, ular tersebut terlihat tenang, tetapi tetap waspada terhadap keberadaan manusia. Pengamatan hanya berlangsung sekitar lima hingga sepuluh menit. Langit yang semula mendung segera berubah menjadi hujan. Kondisi itu membuat Fariq dan rekannya tidak sempat mengukur panjang tubuh, memastikan jenis kelamin, maupun mengambil foto dari berbagai sisi. Setelah dokumentasi selesai, ular tersebut dibiarkan kembali ke habitatnya. Secara global, Uni Internasional untuk Konservasi Alam atau IUCN menempatkan banjang tupai dalam kategori Risiko Rendah atau Least Concern. Penilaian tersebut didasarkan pada luasnya wilayah persebaran alami serta belum adanya ancaman atau tingkat pemanfaatan yang dapat menempatkannya dalam kategori terancam. Namun, status Risiko Rendah bukan berarti kondisi seluruh populasinya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/memiliki-mata-kucing-ular-dari-hutan-malang-selatan-ini-pandai-menyamar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/memiliki-mata-kucing-ular-dari-hutan-malang-selatan-ini-pandai-menyamar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gambut Kalimantan Tengah Terus Membara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 03:55:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Krismes Santo Haloho]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28034352/Karhutla-Kalteng-2-Ini--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132553</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang, Kalimantan Tengah,  pun kembali membara, kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) pun menyelimuti kota dan kabupaten di provinsi ini. Dari alat pemantau kualitas udara, IQAir, pada 28 Agustus 2026, pagi, USIQ pada angka 564 dengan status berbahaya (hazardous). Level PM2,5 mencapai 357.4 5 µg/m.³ Level bahaya juga terlihat di Kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/">Gambut Kalimantan Tengah Terus Membara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang, Kalimantan Tengah,  pun kembali membara, kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) pun menyelimuti kota dan kabupaten di provinsi ini. Dari alat pemantau kualitas udara, IQAir, pada 28 Agustus 2026, pagi, USIQ pada angka 564 dengan status berbahaya (hazardous). Level PM2,5 mencapai 357.4 5 µg/m.³ Level bahaya juga terlihat di Kabupaten Kota Waringin Timur, dengan USIQ475, tingkat PM2,5  312 µg/m.³ Ahmad Toyib, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah, menyampaikan data 1 Januari-22 Agustus 2026 ada 19.992 titik panas di provinsi ini. Dalam periode sama, tercatat 1.639 karhutla mencapai 4.499,21 hektar. Data itu dari laporan harian 14 kabupaten, kota melalui Pusdalops Satgas Karhutla, Kalimantan Tengah. “Kami berharap dukungan penanganan karhutla dapat ditingkatkan, khususnya dengan menambah dua hingga tiga helikopter water bombing untuk melengkapi empat yang saat ini sudah beroperasi,” katanya,   saat rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Posko Satgas Udara Aju Penanganan Karhutla Kalteng di Palangka Raya, Sabtu (22/8/26), dikutip dari laman resmi Pemerintah  Kalteng. Selain itu, mereka juga perlu tambahan sekitar 100-200 pompa air untuk memperkuat efektivitas penanganan karhutla melalui jalur darat. Kualitas udara di Palangka Raya, 28 Agustus 2026. Foto: rekam IQAir Kanal dan parit yang biasa menjadi sumber air mulai mengering. Seperti di tengah lahan yang membara di Kelurahan Petuk Ketimpun, Palangka Raya, tim pemadam harus mencari sumber air yang tersisa untuk memadamkan api yang terus menjalar di lahan gambut. Saat itu, presiden memimpin rapat koordinasi bersama sejumlah pejabat pusat dan daerah, termasuk Mensesneg Prasetyo Hadi, Mendagri Tito Karnavian,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harapan Pulihkan Mangrove di Tengah Tambak Pesisir Sugian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/28/harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/28/harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 01:09:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25125519/IMG-20260419-WA0027-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132388</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Idrus bergeming memandang ke arah muara yang tak jauh dari sawahnya di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari sana, air asin pernah masuk ke daratan dan merendam tanamannya yang dia rawat berbulan-bulan. Panen yang semestinya menjadi sumber penghidupan justru berujung kerugian. Kini, harapan ada baru memulihkan  ekosistem mangrove bersama kehadiran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian/">Harapan Pulihkan Mangrove di Tengah Tambak Pesisir Sugian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Idrus bergeming memandang ke arah muara yang tak jauh dari sawahnya di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari sana, air asin pernah masuk ke daratan dan merendam tanamannya yang dia rawat berbulan-bulan. Panen yang semestinya menjadi sumber penghidupan justru berujung kerugian. Kini, harapan ada baru memulihkan  ekosistem mangrove bersama kehadiran tambak. Sebelum itu, ketika hutan mangrove tergerus tambak, intrusi air laut ke daratan. “Kalau air laut pasang, tanaman yang di sini mati semua. Gagal panen,” ucap Idrus sembari menunjuk petakan sawah di ujung. Baginya, persoalan itu bukan sekadar tentang air laut yang masuk ke sawah. Lebih jauh, menggambarkan berubahnya wajah pesisir Sugian. Hutan mangrove yang dulu memenuhi sepanjang pesisir semakin berkurang. Ketika pelindung alami itu hilang, air laut menjadi lebih mudah mencapai daratan. Abrasi meningkat dan intrusi air laut mulai mengganggu lahan pertanian warga. Apalagi, posisi lahan pertanian memang berdekatan dengan pesisir, bahkan nyaris tak berjarak dengan pantai. Pengalaman Idrus memperlihatkan bagaimana kerusakan ekosistem pesisir pada akhirnya kembali kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya. Dampaknya tak hanya terjadi di muara, tetapi merambat ke sawah dan sumber penghidupan warga lainnya. Tidak jauh dari sana, Jamil sibuk dengan tambaknya. Di sebuah petak berukuran 8&#215;5 meter, dia taburkan potongan-potongan kepala ayam untuk pakan kepiting bakau yang dia budidayakan. “Kami kan tidak punya pilihan lain. Selain melaut ya tambak ini. Kalau gak, darimana kami dapat uang,” ucap Jamil sambil menebar pakan di tambaknya. Kondisi ini menyimpan cerita panjang tentang pesisir Sugian. Satu sisi, masyarakat perlun tambak untuk mendapatkan penghasilan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/28/harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polusi Udara Jakarta Bukan Sekadar Masalah Musiman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/polusi-udara-jakarta-bukan-sekadar-masalah-musiman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/polusi-udara-jakarta-bukan-sekadar-masalah-musiman/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 01:00:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001741/UDARA-JAKARTA-KEMBALI-TIDAK-SEHAT-1-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132486</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, jawa, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polusi udara kembali menyelimuti Jakarta sepanjang Agustus 2026. Kabut tipis membuat gedung-gedung pencakar langit tampak samar, sementara sejumlah warga mengeluhkan sesak napas, bersin, batuk, dan mata perih setelah beraktivitas di luar ruangan. Seperti pada 16 Agustus 2026 pukul 06.01 WIB, IQAir menempatkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia. Indeks kualitas udara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/polusi-udara-jakarta-bukan-sekadar-masalah-musiman/">Polusi Udara Jakarta Bukan Sekadar Masalah Musiman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polusi udara kembali menyelimuti Jakarta sepanjang Agustus 2026. Kabut tipis membuat gedung-gedung pencakar langit tampak samar, sementara sejumlah warga mengeluhkan sesak napas, bersin, batuk, dan mata perih setelah beraktivitas di luar ruangan. Seperti pada 16 Agustus 2026 pukul 06.01 WIB, IQAir menempatkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia. Indeks kualitas udara atau AQI mencapai 167, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 79 mikrogram per meter kubik. Pada 22 Agustus, AQI Jakarta masih berada di angka 158, sedangkan konsentrasi PM2.5 mencapai 68 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan musiman. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menilai pencemaran udara merupakan kegagalan struktural dalam pengelolaan lingkungan. Pembangunan yang masih bergantung pada energi fosil serta lemahnya pengendalian sumber pencemar membuat masalah terus berulang. Putusan gugatan warga Nomor 374/Pdt.G/LH/2019/PN.Jkt.Pst pada 2021 sebenarnya telah memerintahkan pemerintah mengambil tindakan. Langkah itu mencakup pengetatan baku mutu udara, penambahan alat pemantau, serta pengintegrasian data kualitas udara dengan kesehatan masyarakat. Namun, pelaksanaannya dinilai belum menunjukkan perubahan berarti. Wahyu Eka Styawan, Pengkampanye Urban Berkeadilan dan Kebijakan Tata Ruang Walhi Eksekutif Nasional, menyoroti minimnya kemajuan tersebut. “Saya melihat belum ada upaya signifikan pemerintah,” katanya. El Niño turut memperburuk keadaan. Cuaca panas, berkurangnya curah hujan, serta melemahnya pergerakan udara membuat polutan lebih sulit terurai. Padahal, Jakarta telah memiliki beban pencemar tinggi dari kendaraan bermotor, industri, aktivitas rumah tangga, pembangkit listrik, dan pembakaran terbuka. Dampaknya terlihat pada kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mencatat 15,6 juta kasus infeksi saluran pernapasan akut secara nasional sepanjang Januari-Agustus 2026. Penelitian di 11 kota dan kabupaten Jabodetabek&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/polusi-udara-jakarta-bukan-sekadar-masalah-musiman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/polusi-udara-jakarta-bukan-sekadar-masalah-musiman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penguin Biru Kecil, Spesies Terkecil di Dunia dengan Aktivitas Malam yang Langka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/penguin-biru-kecil-spesies-terkecil-di-dunia-dengan-aktivitas-malam-yang-langka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/penguin-biru-kecil-spesies-terkecil-di-dunia-dengan-aktivitas-malam-yang-langka/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 23:44:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/27234035/Eudyptula_minor_-Featherdale_Wildlife_Park_Doonside_New_South_Wales_Australia-8a-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132544</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara keluarga Spheniscidae, yakni kelompok taksonomi yang menaungi seluruh spesies penguin yang masih hidup di dunia, penguin biru kecil (Eudyptula minor) memegang rekor sebagai spesies penguin terkecil di dunia, dengan tinggi tubuh hanya sekitar 30 hingga 33 sentimeter dan bobot rata-rata 1 kilogram, kira-kira seukuran sepatu bot orang dewasa. Nama ilmiahnya sendiri berarti &#8220;penyelam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/penguin-biru-kecil-spesies-terkecil-di-dunia-dengan-aktivitas-malam-yang-langka/">Penguin Biru Kecil, Spesies Terkecil di Dunia dengan Aktivitas Malam yang Langka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara keluarga Spheniscidae, yakni kelompok taksonomi yang menaungi seluruh spesies penguin yang masih hidup di dunia, penguin biru kecil (Eudyptula minor) memegang rekor sebagai spesies penguin terkecil di dunia, dengan tinggi tubuh hanya sekitar 30 hingga 33 sentimeter dan bobot rata-rata 1 kilogram, kira-kira seukuran sepatu bot orang dewasa. Nama ilmiahnya sendiri berarti &#8220;penyelam kecil yang baik&#8221;, sebuah julukan yang cukup pas mengingat kemampuan menyelamnya yang jauh melebihi ukuran tubuhnya. Namun ukuran mungil bukan satu-satunya yang membuat burung ini berbeda dari kerabatnya. Penguin biru kecil juga dikenal karena kebiasaan nokturnalnya yang jarang ditemukan pada spesies penguin lain, sebuah sifat yang menjadikannya salah satu anggota keluarga penguin paling unik secara perilaku. Burung ini dijuluki fairy penguin di Australia dan kororā dalam bahasa Māori di Selandia Baru. Berbeda dari kerabatnya di Antartika yang berukuran besar dengan warna hitam-putih kontras, penguin biru kecil memiliki bulu kebiruan di bagian punggung dan kepala. Warna ini dihasilkan oleh struktur melanosom, yakni organel penghasil pigmen di dalam sel bulu, yang tersusun sangat padat pada penguin biru kecil. Kepadatan struktur inilah yang sekaligus membuat bulu lebih tahan air saat berenang. Setiap tahun, penguin dewasa mengalami proses ganti bulu total yang disebut catastrophic moult, atau molting menyeluruh, yakni seluruh bulunya rontok sekaligus dan digantikan bulu baru dalam waktu dua hingga tiga minggu. Selama periode ini mereka tidak bisa melaut karena bulu belum tahan air, sehingga harus bertahan di darat dengan mengandalkan cadangan lemak yang ditimbun sebelumnya. Kehidupan Nokturnal dan Adaptasi Unik Habitat alami penguin biru kecil membentang di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/penguin-biru-kecil-spesies-terkecil-di-dunia-dengan-aktivitas-malam-yang-langka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/penguin-biru-kecil-spesies-terkecil-di-dunia-dengan-aktivitas-malam-yang-langka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Para Perempuan Penjaga Kampung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/cerita-para-perempuan-penjaga-kampung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/cerita-para-perempuan-penjaga-kampung/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 23:30:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vitri Angreni dan Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/11/21235410/Ruang-Hidup-yang-Hilang-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132542</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Aleta Kornelia Baun, masih ingat betul ketika bersama para perempuan adat Mollo mengusir perusahaan tambang batu marmer yang merusak dan merampas ruang hidup mereka selama tiga dekade. Bukan dengan perang atau kekerasan, melainkan dengan aksi damai sambil menenun. Kisah perjuangan Mama Aleta, bermula ketika sejumlah perusahaan tambang mendapat izin dari pemerintah menambang di Bukit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/cerita-para-perempuan-penjaga-kampung/">Cerita Para Perempuan Penjaga Kampung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Aleta Kornelia Baun, masih ingat betul ketika bersama para perempuan adat Mollo mengusir perusahaan tambang batu marmer yang merusak dan merampas ruang hidup mereka selama tiga dekade. Bukan dengan perang atau kekerasan, melainkan dengan aksi damai sambil menenun. Kisah perjuangan Mama Aleta, bermula ketika sejumlah perusahaan tambang mendapat izin dari pemerintah menambang di Bukit Anjaaf dan Nausus, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1980. Tak ada persetujuan masyarakat sama sekali. Deretan bukit itu bagian dari ekosistem Gunung Mutis, wilayah yang tak hanya menopang kehidupan, juga memiliki keterikatan kosmologis dan spiritual dengan masyarakat adat setempat. Masyarakat resah dan protes saat aktivitas tambang mengakibatkan deforestasi, longsor dan pencemaran sungai. Perjuangan perempuan adat selama bertahun-tahun ini tak sia-sia. Setelah melalui berbagai dinamika perlawanan, perusahaan tambang berhasil mereka usir pada 2010. Perempuan kelahiran tahun 1966 ini bilang, mempertahankan alam adalah soal menjaga keberlangsungan hidup dan identitas. Mereka, mengibaratkan alam sebagai anggota tubuh. &#8220;Gunung dan alam itu dilambangkan sebagai tubuh manusia. Seperti air adalah darah, tanah adalah daging, hutan adalah rambut, dan pori-pori batu adalah tulang. Jadi ketika salah satu hilang, maka dia sudah lumpuh. Dia bukan hidup lagi, tapi dia adalah mayat,” kata Aleta kepada Mongabay, Sabtu, (8/8/26). Melalui UU 11/1967, UU 5/1967 dan UU 1/1967, pada dekade 1980-an, tambang dalam kawasan hutan seperti Gunung Mutis tergolong legal. Saat itu, negara memegang kendali penuh atas izin pengelolaan tanpa kewajiban meminta persetujuan masyarakat adat. Tambang mulai terlarang dalam kawasan konservasi setelah pemerintah menerbitkan UU 41 tahun 1999 tentang kehutanan. Mama Aleta Baun bersama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/cerita-para-perempuan-penjaga-kampung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/cerita-para-perempuan-penjaga-kampung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ternyata Popok Bayi Bisa Dibuat dari Pelepah Pisang, Ini Buktinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ternyata-popok-bayi-bisa-dibuat-dari-pelepah-pisang-ini-buktinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ternyata-popok-bayi-bisa-dibuat-dari-pelepah-pisang-ini-buktinya/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 10:00:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/11/21235254/Tiga-mahasiswi-Jurusan-Teknobiologi-Universitas-Surabaya-sedang-memroses-popok-bayi-dari-pelepah-pisang-foto-Petrus-Riski-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132378</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Popok bayi sekali pakai memudahkan banyak orang tua, tetapi meninggalkan persoalan sampah yang sulit terurai. Tiga lulusan Teknobiologi Universitas Surabaya mencoba menawarkan alternatif dengan membuat popok berbahan pelepah pisang dan ekstrak daun sirih. Mereka adalah Evelyn Darsono, Nathasia Jasmine Benhady, dan Jeselyn Angelia Soeryawinata. Produk yang diberi nama Nawasena itu menggunakan pelepah pisang sebagai bahan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ternyata-popok-bayi-bisa-dibuat-dari-pelepah-pisang-ini-buktinya/">Ternyata Popok Bayi Bisa Dibuat dari Pelepah Pisang, Ini Buktinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Popok bayi sekali pakai memudahkan banyak orang tua, tetapi meninggalkan persoalan sampah yang sulit terurai. Tiga lulusan Teknobiologi Universitas Surabaya mencoba menawarkan alternatif dengan membuat popok berbahan pelepah pisang dan ekstrak daun sirih. Mereka adalah Evelyn Darsono, Nathasia Jasmine Benhady, dan Jeselyn Angelia Soeryawinata. Produk yang diberi nama Nawasena itu menggunakan pelepah pisang sebagai bahan penyerap alami atau bioabsorbent. Ekstrak daun sirih ditambahkan sebagai material penghambat bakteri. Pembuatan popok dimulai dengan membersihkan pelepah pisang. Bahan tersebut kemudian dikeringkan dan menjalani proses delignifikasi untuk memperoleh struktur selulosa. Setelah itu, pelepah diolah menjadi bubur kertas dan dicetak menjadi lembaran penyerap. Sementara itu, daun sirih diblender hingga menjadi bubuk. Ekstraknya kemudian diambil dan ditambahkan ke dalam lembaran penyerap tersebut. Keseluruhan proses pembuatan membutuhkan waktu sekitar dua hari, belum termasuk pengujian produk. Popok Nawasena diuji di laboratorium untuk mengetahui tingkat kebocoran, pH, kondisi visual, kelenturan, dan kapasitas penyerapannya. Hasil pengujian menunjukkan produk tidak memiliki cacat, robekan, atau noda. Warnanya juga tidak luntur. Nilai pH popok tercatat sekitar 6,87. Angka tersebut mendekati rentang pH kulit bayi, yaitu 6,34-7,5. Pelepah pisang sebagai bahan penyerap juga dinyatakan tidak menimbulkan alergi. Kemampuan menyerap popok ini mencapai 8 kali berat awal produk yang melampaui standar SNI, yaitu 3 kali berat awal. Popok ini juga mampu menahan kebocoran yang setara produk komerisal lain. “Kami juga melakukan pengujian daya hambat bakteri pada ekstrak daun sirih. Hasilnya, tidak ada bakteri,” ujarnya. Menurut dosen pembimbing penelitian, popok berbahan pelepah pisang mampu menahan kebocoran dan membantu menghindarkan bayi dari iritasi. Inovasi ini dikembangkan sebagai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ternyata-popok-bayi-bisa-dibuat-dari-pelepah-pisang-ini-buktinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/ternyata-popok-bayi-bisa-dibuat-dari-pelepah-pisang-ini-buktinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Kelam Awak Kapal Perikanan Domestik di Pusaran Tindak Pidana Perdagangan Orang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nasib-kelam-awak-kapal-perikanan-domestik-di-pusaran-tindak-pidana-perdagangan-orang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nasib-kelam-awak-kapal-perikanan-domestik-di-pusaran-tindak-pidana-perdagangan-orang/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 09:00:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/04/22013721/nelayan-pantai-depok-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132501</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Seluruh awak kapal perikanan (AKP) Awindo 2A menjadi saksi kasus tindakan pidana perdagangan orang (TPPO), Kamis (25/6/26). Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, menghukum lima terdakwa yang semuanya diganjar tiga tahun penjara dan denda Rp200 juta. Pengadilan juga mewajibkan kelimanya membayar biaya restitusi Rp32.047.500 kepada seluruh AKP Awindo 2A (21 orang) yang menjadi korban. Nilai tersebut berasal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nasib-kelam-awak-kapal-perikanan-domestik-di-pusaran-tindak-pidana-perdagangan-orang/">Nasib Kelam Awak Kapal Perikanan Domestik di Pusaran Tindak Pidana Perdagangan Orang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Seluruh awak kapal perikanan (AKP) Awindo 2A menjadi saksi kasus tindakan pidana perdagangan orang (TPPO), Kamis (25/6/26). Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, menghukum lima terdakwa yang semuanya diganjar tiga tahun penjara dan denda Rp200 juta. Pengadilan juga mewajibkan kelimanya membayar biaya restitusi Rp32.047.500 kepada seluruh AKP Awindo 2A (21 orang) yang menjadi korban. Nilai tersebut berasal dari penghitungan tim pendamping korban dengan mengumpulkan kerugian dari setiap AKP. Meski majelis hakim tidak menemukan bukti kuat klaim penyekapan dan pemberian makanan tidak layak, namun kasus tersebut sudah memenuhi unsur TPPO. Ini berdasarkan dokumen amar putusan yang diterima Mongabay dari Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia. Unsur TPPO terbukti, berdasarkan rangkaian proses perekrutan, pemindahan, hubungan antarpelaku, pembayaran jasa perekrutan, dan tujuan eksploitasi. Terhadap putusan PN Denpasar, kelima terdakwa mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Denpasar. Hasilnya sama, bahkan satu terdakwa, I Putu Setyawan diperberat hukumannya menjadi 3,6 tahun. Selain I Putu Setyawan, mantan personel Ditpolairud Polda Bali, empat terdakwa lain adalah Iwan, Direktur PT. Awindo International Perwakilan Bali; Jaja Sucharja, Nakhoda KM Awindo 2A;  Refdiyanto alias Refdi, Direktur CV. Pelaut Bahari Sejahtera/pihak penyalur tenaga kerja; dan Titin Sumartini alias Mami Ina, pihak yang terlibat perekrutan calon AKP. Namun, DFW Indonesia mengonfirmasi kasus tersebut belum final. Mengingat, belum ada putusan inchracht. Selain itu, ada tiga terdakwa lain yang kasusnya baru masuk persidangan di PN Denpasar. Mereka adalah I Nyoman Nelson, Direktur PT. Solusi Kapal Indonesia (SKI) yang berperan sebagai perusahaan keagenan kapal PT Awindo International dan menangani dokumen keberangkatan kapal, termasuk Perjanjian Kerja Laut (PKL). Lalu, Oktofianus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nasib-kelam-awak-kapal-perikanan-domestik-di-pusaran-tindak-pidana-perdagangan-orang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nasib-kelam-awak-kapal-perikanan-domestik-di-pusaran-tindak-pidana-perdagangan-orang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Marak Karhutla, Studi tentang murahnya membuka lahan dengan cara dibakar jadi sorotan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/marak-karhutla-studi-tentang-murahnya-membuka-lahan-dengan-cara-dibakar-jadi-sorotan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/marak-karhutla-studi-tentang-murahnya-membuka-lahan-dengan-cara-dibakar-jadi-sorotan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 08:04:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/27080411/kalbar_drone_190820-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132515</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Titik-titik kebakaran dilaporkan dari Sumatera dan Kalimantan hingga Papua. Di Sumatera dan Kalimantan, aparat menemukan indikasi bahwa sebagian kebakaran berkaitan dengan pembukaan lahan. Hingga 21 Agustus 2026, kepolisian telah menetapkan 72 tersangka dalam 89 perkara karhutla di sembilan provinsi. Polisi mengatakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/marak-karhutla-studi-tentang-murahnya-membuka-lahan-dengan-cara-dibakar-jadi-sorotan/">Marak Karhutla, Studi tentang murahnya membuka lahan dengan cara dibakar jadi sorotan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan kembali meluas di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa pekan terakhir. Titik-titik kebakaran dilaporkan dari Sumatera dan Kalimantan hingga Papua. Di Sumatera dan Kalimantan, aparat menemukan indikasi bahwa sebagian kebakaran berkaitan dengan pembukaan lahan. Hingga 21 Agustus 2026, kepolisian telah menetapkan 72 tersangka dalam 89 perkara karhutla di sembilan provinsi. Polisi mengatakan salah satu pola yang ditemukan adalah lahan lebih dahulu ditebang, kemudian dibakar pada musim kemarau untuk selanjutnya ditanami, termasuk dengan kelapa sawit, saat musim hujan tiba. Temuan tersebut kembali mengangkat pertanyaan lama: mengapa api masih menjadi pilihan untuk membuka lahan meski risiko lingkungan, kesehatan dan hukumnya begitu besar? Di balik penggunaan api untuk membuka lahan terdapat persoalan ekonomi sederhana: membakar jauh lebih murah dibandingkan membersihkan lahan tanpa api. Gambaran mengenai besarnya perbedaan biaya tersebut muncul dalam penelitian Fight Fire with Finance: A Randomized Field Experiment to Curtail Land-Clearing Fire in Indonesia oleh Ryan B. Edwards dan sejumlah peneliti dari Australian National University, Stanford University, Bank Dunia, TNP2K dan SMERU Research Institute. Penelitian itu dilakukan terhadap 275 desa rawan kebakaran di empat kabupaten di Kalimantan Barat, Kubu Raya, Ketapang, Sanggau dan Sintang yang mencakup sekitar 90.000 rumah tangga. Para peneliti menyoroti bahwa api telah lama digunakan untuk membuka lahan karena biayanya yang rendah. Dalam publikasi terkait penelitian tersebut, biaya membuka lahan dengan membakar disebut hanya sekitar US$3-5 per hektare, sedangkan pembukaan secara mekanis membutuhkan sekitar US$150-180 per hektare. Artinya, membersihkan satu hektare lahan secara mekanis dapat menghabiskan biaya 30 hingga 60 kali lipatdibandingkan dengan membakarnya. Kesenjangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/marak-karhutla-studi-tentang-murahnya-membuka-lahan-dengan-cara-dibakar-jadi-sorotan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/marak-karhutla-studi-tentang-murahnya-membuka-lahan-dengan-cara-dibakar-jadi-sorotan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Kecil Tuna Maluku Utara Keluhkan BBM Langka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nelayan-kecil-tuna-maluku-utara-keluhkan-bbm-langka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nelayan-kecil-tuna-maluku-utara-keluhkan-bbm-langka/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 07:33:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Mahmud Ichi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/26065748/Ne_ayan-Ikan-Tuna-Bere-bere-Morotai-yang-menurunkan-hasil-tangkapan-mereka-foto-USAID-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132435</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Sebagai salah satu sentra penghasil tuna di Indonesia, Maluku Utara (Malut) masih menghadapi berbagai persoalan. Dari sulitnya mengakses BBM bersubsidi, hingga penempatan rumpon yang mengganggu dan menyulitkan para nelayan kecil. Pertemuan Komite Pengelola Bersama Perikanan (KPBP) tuna Malut ke-XIV awal Agustus mengungkap hal itu. Selain berbagai persoalan, agenda yang mempertemukan para stakeholder perikanan itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nelayan-kecil-tuna-maluku-utara-keluhkan-bbm-langka/">Nelayan Kecil Tuna Maluku Utara Keluhkan BBM Langka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Sebagai salah satu sentra penghasil tuna di Indonesia, Maluku Utara (Malut) masih menghadapi berbagai persoalan. Dari sulitnya mengakses BBM bersubsidi, hingga penempatan rumpon yang mengganggu dan menyulitkan para nelayan kecil. Pertemuan Komite Pengelola Bersama Perikanan (KPBP) tuna Malut ke-XIV awal Agustus mengungkap hal itu. Selain berbagai persoalan, agenda yang mempertemukan para stakeholder perikanan itu juga hasilkan sejumlah rekomendasi, terutama perbaikan sistem distribusi BBM bersubsidi dan tata kelola penempatan rumpon. Supriyanto Ali, nelayan tuna Desa Sangowo,  Pulau Morotai, meminta pemerintah  segera mencari solusiterkait persoalan rumpon dan BBM bersubsidi. Pasalnya, keputusan pemerintah mengurangi kuota BBM bersubsidi berimbas langsung pada aktivitas para nelayan. &#8220;Kuota BBM bersubsidi kami berkurang pada  2026. Padahal bagi nelayan tuna skala kecil, BBM sangat menentukan kelangsungan operasional. Kami berharap forum ini dapat menghasilkan solusi yang benar-benar menjawab persoalan di lapangan,&#8221; katanya dalam pertemuan itu. Salman Adam, nelayan tuna dan Ketua Koperasi Nelayan Sigaro Malaha, Ternate juga mengatakan, pengurangan kuota BBM kontras dengan kebutuhan nelayan saat ini. Pasalnya, saat jarak melaut makin jauh, nelayan justru kian sulit mendapat BBM. Dia ceritakan, pada 2015, dengan menggunakan perahu bermesin 15 PK, dia hanya perlu 25-50 liter BBM untuk memancing tuna di perairan sekitar Ternate yang berjarak 2-3 mil. Kini,  dengan BBM 100 liter, terkadang tak cukup untuk operasional pergi-pulang karena jarak makin jauh. “Menangkap tuna tongkol dan cakalang saat ini bisa 30-40 mil laut dari Ternate. Jadi, semakin jauh dari sebelumnya,” katanya. Menurut dia, banyak nelayan anggota operasi juga keluhkan hal sama. Di Ternate, harga BBM bersubsidi jenis pertalite Rp10.00 per&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nelayan-kecil-tuna-maluku-utara-keluhkan-bbm-langka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nelayan-kecil-tuna-maluku-utara-keluhkan-bbm-langka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Ruang Hidup Kobra Beririsan dengan Manusia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/ketika-ruang-hidup-kobra-beririsan-dengan-manusia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/ketika-ruang-hidup-kobra-beririsan-dengan-manusia/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 05:29:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/07/22073542/Kobra.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=132492</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemunculan ular kobra di kawasan permukiman hampir selalu memicu kepanikan. Ketika seekor ular ditemukan di pekarangan, saluran air, gudang, atau bahkan di dalam rumah, satwa tersebut kerap dianggap sengaja memasuki ruang hidup manusia untuk mencari mangsa atau menyerang. Ketakutan semakin besar ketika beberapa anak kobra muncul dalam waktu berdekatan. Situasi ini kemudian melahirkan anggapan bahwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/ketika-ruang-hidup-kobra-beririsan-dengan-manusia/">Ketika Ruang Hidup Kobra Beririsan dengan Manusia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemunculan ular kobra di kawasan permukiman hampir selalu memicu kepanikan. Ketika seekor ular ditemukan di pekarangan, saluran air, gudang, atau bahkan di dalam rumah, satwa tersebut kerap dianggap sengaja memasuki ruang hidup manusia untuk mencari mangsa atau menyerang. Ketakutan semakin besar ketika beberapa anak kobra muncul dalam waktu berdekatan. Situasi ini kemudian melahirkan anggapan bahwa populasi kobra sedang meledak dan permukiman warga tengah menghadapi “serbuan” ular berbisa. Namun, kemunculan kobra di sekitar manusia tidak dapat dipahami hanya sebagai serangan satwa liar. Ular telah menghuni bentang alam Indonesia jauh sebelum kawasan tersebut berubah menjadi persawahan, perkebunan, jalan, dan perumahan. Ketika habitat mengalami perubahan, ruang hidup manusia dan satwa semakin beririsan. Sebagian satwa tidak mampu bertahan, sementara jenis tertentu, termasuk kobra, dapat beradaptasi dengan lingkungan yang telah dimodifikasi manusia. Permukiman bahkan dapat menyediakan berbagai kebutuhan hidup ular. Tikus, katak, kadal, burung, dan ular lain menjadi sumber makanan. Sementara itu, semak yang tidak terawat, tumpukan kayu, sampah, saluran air, serta celah pada bangunan menawarkan tempat berlindung. Kehadiran kobra dengan demikian tidak hanya berkaitan dengan perubahan habitat, tetapi juga kondisi lingkungan permukiman yang secara tidak langsung menyediakan makanan dan ruang persembunyian. Kemunculan anak kobra dalam jumlah banyak juga berhubungan dengan siklus reproduksi. Telur yang menetas pada awal musim hujan membuat anakan menyebar untuk mencari tempat aman dan mangsa. Pada saat bersamaan, berkurangnya predator alami, seperti biawak, garangan, dan elang ular bido, dapat mengganggu pengendalian populasi di alam. Perubahan pada satu bagian rantai makanan akhirnya memengaruhi keseimbangan ekosistem secara keseluruhan. Lalu, mengapa kobra dapat bertahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/ketika-ruang-hidup-kobra-beririsan-dengan-manusia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/08/ketika-ruang-hidup-kobra-beririsan-dengan-manusia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nyanyian Paus Sirip Terdengar Seperti Lebih Cepat dari Kecepatan Suara, Ilmuwan Temukan Sebabnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nyanyian-paus-sirip-terdengar-seperti-lebih-cepat-dari-kecepatan-suara-ilmuwan-temukan-sebabnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nyanyian-paus-sirip-terdengar-seperti-lebih-cepat-dari-kecepatan-suara-ilmuwan-temukan-sebabnya/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 05:13:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/27050704/Finhval_1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132494</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Paus sirip dikenal sebagai salah satu hewan laut yang suaranya paling jauh terdengar. Nyanyiannya bisa merambat hingga ratusan kilometer di bawah permukaan laut, dan selama ini para peneliti mengandalkan suara tersebut untuk melacak keberadaan paus di lautan lepas. Namun ketika seorang ilmuwan mencoba menghitung ulang kecepatan rambat suara paus sirip secara lebih teliti, ia justru [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nyanyian-paus-sirip-terdengar-seperti-lebih-cepat-dari-kecepatan-suara-ilmuwan-temukan-sebabnya/">Nyanyian Paus Sirip Terdengar Seperti Lebih Cepat dari Kecepatan Suara, Ilmuwan Temukan Sebabnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Paus sirip dikenal sebagai salah satu hewan laut yang suaranya paling jauh terdengar. Nyanyiannya bisa merambat hingga ratusan kilometer di bawah permukaan laut, dan selama ini para peneliti mengandalkan suara tersebut untuk melacak keberadaan paus di lautan lepas. Namun ketika seorang ilmuwan mencoba menghitung ulang kecepatan rambat suara paus sirip secara lebih teliti, ia justru menemukan sesuatu yang sulit dijelaskan, dan butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami penyebabnya. Dr. John Spiesberger dari University of Pennsylvania mendapati bahwa perhitungan kecepatan suara paus sirip kerap menghasilkan angka yang aneh, kadang jauh di bawah, kadang jauh di atas kecepatan suara rata-rata di air laut yang seharusnya sekitar 1.500 meter per detik. Bersama Dr. Eugene Terray dari Woods Hole Oceanographic Institution, ia akhirnya menemukan jawabannya. Penyebabnya bukan kesalahan alat atau program komputer, melainkan sebuah gejala fisika yang disebut interferensi temporal, atau dalam istilah aslinya temporal interference. Dua Jalur Suara yang Membuat Perhitungan Jadi Kacau Spiesberger awalnya mengira ada yang salah dengan program pengolah datanya, karena hasil pengukuran sangat berubah-ubah, mulai dari sekitar 1.000 meter per detik hingga 3.000 meter per detik. Setelah ditelusuri, penyebabnya adalah suara paus yang sampai ke alat perekam lewat dua jalur berbeda. Sebagian suara merambat langsung dari paus ke penerima, sementara sebagian lainnya memantul dulu di permukaan laut sebelum sampai, sehingga menempuh jarak yang lebih jauh. Peneliti menurunkan alat perekam akustik TOSSIT ke laut, yang kemudian tenggelam hingga ke dasar untuk merekam suara paus sirip dalam jangka panjang. Alat berdesain tanpa tali ini menjadi kunci dalam mendeteksi gejala interferensi temporal yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/nyanyian-paus-sirip-terdengar-seperti-lebih-cepat-dari-kecepatan-suara-ilmuwan-temukan-sebabnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/nyanyian-paus-sirip-terdengar-seperti-lebih-cepat-dari-kecepatan-suara-ilmuwan-temukan-sebabnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ancaman Tambang Emas Ilegal di Hulu Danau Sentani</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 04:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25035550/IMG_20260706_143008-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132365</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air Sungai Hubay tampak keruh, berwarna kecoklatan mengalir dan bermuara ke Danau Sentani, Papua. Hulu berada di kaki pegunungan Cycloops, perbatasan kabupaten dan Kota Jayapura, yang menjadi cagar alam dan menyimpan keanekaragaman hayati tinggi. Kini, danau ini terancam lumpur penambangan emas ilegal di hulu. Sepanjang sungai dari hulu ke hilir muara penuh material pasir, batu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/">Ancaman Tambang Emas Ilegal di Hulu Danau Sentani</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air Sungai Hubay tampak keruh, berwarna kecoklatan mengalir dan bermuara ke Danau Sentani, Papua. Hulu berada di kaki pegunungan Cycloops, perbatasan kabupaten dan Kota Jayapura, yang menjadi cagar alam dan menyimpan keanekaragaman hayati tinggi. Kini, danau ini terancam lumpur penambangan emas ilegal di hulu. Sepanjang sungai dari hulu ke hilir muara penuh material pasir, batu kerikil, lumpur, yang menyebabkan pendangkalan sungai hingga beberapa titik, muara, hingga melebar ke tengah danau. Salah satunya di jembatan II (hilir Sungai Hubay) kian menyempit. Anggi Rivaldo Ohee, warga Kampung Asei Kecil, Distrik Sentani Timur, mengatakan, kerusakan sungai itu sudah terjadi kurang lebih 10 tahun terakhir. “Tiap hari sungai mengalir keruh, kadang membawa material masuk ke danau,” katanya kepada Mongabay, (25/7/26). Dia bilang, lumpur mencemarkan Danau Sentani, mulai dari jembatan II sampai Kampung Telaga Maya, Telaga Ria, dan Yoka. Kondisi ini menyebabkan warga kesulitan mendapatkan ikan danau. Meski sudah molo (menyelam), menyaring hingga memancing sudah sulit untuk saat ini. “Sebelum ada tambang, mudah cari ikan. Sejak ada tambang di atas, kita yang tinggal di danau ini setengah mati terutama mencari ikan. Danau makin hari makin dangkal akibat lumpur tambang yang turun,” ujar Anggi. Aktivitas tambang emas sudah ada sejak 1999 hingga kini. Tepatnya, di kawasan Bumi Perkemahan (Buper) Waena. Tambang itu dikelola mandiri pemilik ulayat, meski yang merasakan dampak masyarakat adat di Sentani yang ada di hilir. Danau Sentani menjadi danau terbesar kedua Papua, luas mencapai 9.360 hektar. Danau ini membentang di kaki Pegunungan Cycloops, kabupaten dan Kota Jayapura. Setidaknya, ada 24 kampung di sekitarnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/ancaman-tambang-emas-ilegal-di-hulu-danau-sentani/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Kerak Ungu, Burung Pendatang yang Kini jadi Spesies Invasif di Jakarta</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kisah-kerak-ungu-burung-pendatang-yang-kini-jadi-spesies-invasif-di-jakarta/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kisah-kerak-ungu-burung-pendatang-yang-kini-jadi-spesies-invasif-di-jakarta/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 01:00:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/25134931/Kerak-ungu-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132380</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di taman kota, jalur pejalan kaki, hingga pusat Jakarta, seekor burung pendatang semakin mudah dijumpai. Namanya kerak ungu atau Acridotheres tristis. Burung ini kerap terlihat di kawasan Gelora Bung Karno, Monumen Nasional, dan Ragunan, bahkan berbagi pohon dengan kerak kerbau yang merupakan burung lokal. Pemandangan tersebut mungkin terlihat biasa. Namun, keberadaan kerak ungu menyimpan persoalan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kisah-kerak-ungu-burung-pendatang-yang-kini-jadi-spesies-invasif-di-jakarta/">Kisah Kerak Ungu, Burung Pendatang yang Kini jadi Spesies Invasif di Jakarta</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di taman kota, jalur pejalan kaki, hingga pusat Jakarta, seekor burung pendatang semakin mudah dijumpai. Namanya kerak ungu atau Acridotheres tristis. Burung ini kerap terlihat di kawasan Gelora Bung Karno, Monumen Nasional, dan Ragunan, bahkan berbagi pohon dengan kerak kerbau yang merupakan burung lokal. Pemandangan tersebut mungkin terlihat biasa. Namun, keberadaan kerak ungu menyimpan persoalan ekologis. Burung ini bukan spesies asli Indonesia. Persebaran alaminya meliputi Iran, Asia Selatan (termasuk Pakistan, India, dan Nepal) serta Thailand dan Malaysia. Kehadirannya di Indonesia diduga berkaitan dengan aktivitas manusia, terutama perdagangan burung. Sebagian kemungkinan berasal dari burung peliharaan yang terlepas atau sengaja dilepaskan. Kerak ungu juga pernah dibeli untuk kegiatan pelepasan satwa secara seremonial tanpa mempertimbangkan asal dan dampaknya terhadap lingkungan. Burung ini dikenal mampu beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Kerak ungu dapat memanfaatkan makanan yang tersedia dari aktivitas manusia. Ia juga sering mengikuti burung lokal untuk mengenali sumber pakan dan tempat yang aman. Kemampuan tersebut membantunya bertahan di lingkungan baru. Di Ragunan, kerak ungu terpantau memakai pohon tertentu sebagai tempat bersarang. Dalam satu kali pengamatan, sekitar dua hingga tiga individu dapat terlihat. Jumlahnya memang belum menunjukkan peningkatan besar, tetapi kemunculannya secara konsisten di tempat yang sama menandakan bahwa burung tersebut mulai membentuk wilayahnya. Spesies invasif umumnya lebih adaptif dan oportunis dibandingkan spesies lokal. Karena itu, kerak ungu berpotensi bersaing memperebutkan makanan dan ruang hidup. Dampaknya di Jakarta memang belum terlihat sepenuhnya, tetapi perubahan komposisi spesies dapat berlangsung perlahan dan sulit disadari. Sejak 2023, Melisa Qonita (26), pegiat citizen science, rutin menjumpai kerak ungu di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kisah-kerak-ungu-burung-pendatang-yang-kini-jadi-spesies-invasif-di-jakarta/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kisah-kerak-ungu-burung-pendatang-yang-kini-jadi-spesies-invasif-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>