Di antara keluarga Spheniscidae, yakni kelompok taksonomi yang menaungi seluruh spesies penguin yang masih hidup di dunia, penguin biru kecil (Eudyptula minor) memegang rekor sebagai spesies penguin terkecil di dunia, dengan tinggi tubuh hanya sekitar 30 hingga 33 sentimeter dan bobot rata-rata 1 kilogram, kira-kira seukuran sepatu bot orang dewasa. Nama ilmiahnya sendiri berarti “penyelam kecil yang baik”, sebuah julukan yang cukup pas mengingat kemampuan menyelamnya yang jauh melebihi ukuran tubuhnya. Namun ukuran mungil bukan satu-satunya yang membuat burung ini berbeda dari kerabatnya. Penguin biru kecil juga dikenal karena kebiasaan nokturnalnya yang jarang ditemukan pada spesies penguin lain, sebuah sifat yang menjadikannya salah satu anggota keluarga penguin paling unik secara perilaku.
Burung ini dijuluki fairy penguin di Australia dan kororā dalam bahasa Māori di Selandia Baru. Berbeda dari kerabatnya di Antartika yang berukuran besar dengan warna hitam-putih kontras, penguin biru kecil memiliki bulu kebiruan di bagian punggung dan kepala. Warna ini dihasilkan oleh struktur melanosom, yakni organel penghasil pigmen di dalam sel bulu, yang tersusun sangat padat pada penguin biru kecil. Kepadatan struktur inilah yang sekaligus membuat bulu lebih tahan air saat berenang.
Setiap tahun, penguin dewasa mengalami proses ganti bulu total yang disebut catastrophic moult, atau molting menyeluruh, yakni seluruh bulunya rontok sekaligus dan digantikan bulu baru dalam waktu dua hingga tiga minggu. Selama periode ini mereka tidak bisa melaut karena bulu belum tahan air, sehingga harus bertahan di darat dengan mengandalkan cadangan lemak yang ditimbun sebelumnya.
Kehidupan Nokturnal dan Adaptasi Unik
Habitat alami penguin biru kecil membentang di sepanjang pesisir selatan Australia dan pulau-pulau di Selandia Baru. Sebagian besar waktu hidupnya dihabiskan di laut untuk berburu ikan kecil, cumi-cumi, dan krustasea kecil seperti udang-udangan, dengan jarak jelajah yang bisa mencapai puluhan kilometer dari pantai. Saat kembali ke darat, mereka baru mendarat setelah matahari terbenam dan bergerak secara bergerombol, sebuah strategi yang membantu mengurangi risiko dimangsa predator laut maupun udara yang lebih aktif pada siang hari. Pola aktivitas malam di daratan seperti ini tergolong langka di antara spesies penguin lain, yang umumnya justru lebih banyak beraktivitas di darat pada siang hari.

Penguin ini juga tidak membangun sarang di permukaan terbuka seperti kebanyakan spesies penguin lain. Mereka bertelur dan membesarkan anak di dalam lubang tanah, celah bebatuan, atau di bawah semak pesisir yang rimbun. Telur biasanya menetas dalam waktu 33 hingga 37 hari, dan anakan baru benar-benar mandiri serta meninggalkan sarang setelah berusia 7 hingga 8 minggu. Di alam liar, penguin biru kecil rata-rata hidup sekitar 6,5 tahun, meski beberapa individu tercatat bertahan hingga lebih dari 20 tahun. Meski berukuran kecil, mereka mampu menyelam hingga kedalaman puluhan meter untuk mengejar mangsa, kemampuan yang cukup mengesankan untuk burung laut seukuran ini.
Ancaman Perubahan Iklim dan Predator Introduksi
Organisasi Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) saat ini masih mengategorikan spesies ini sebagai Risiko Rendah (Least Concern), dengan estimasi populasi global sekitar 500 ribu pasang penguin yang tersebar di ratusan koloni. Namun sejumlah populasi lokal di Australia dan Selandia Baru menunjukkan tren penurunan yang konsisten dalam beberapa dekade terakhir.
Salah satu bukti paling kuat datang dari studi demografi jangka panjang yang dilakukan selama 40 tahun terhadap koloni penguin biru kecil di Pulau Phillip, Australia. Penelitian tersebut menemukan bahwa suhu permukaan laut menjadi faktor dominan yang memengaruhi kelangsungan hidup burung dewasa maupun anakan. Sejak pertengahan tahun 1990-an, kenaikan suhu laut di kawasan tersebut berkaitan langsung dengan penurunan tingkat kelangsungan hidup dan penyusutan populasi. Suhu laut yang lebih hangat menggeser distribusi ikan-ikan kecil yang menjadi sumber pakan utama penguin, sehingga induk harus berenang lebih jauh untuk mencari makan, meningkatkan risiko anakan di sarang kekurangan pasokan makanan.

Di sisi lain, ancaman juga datang dari daratan. Predator introduksi seperti kucing, anjing, dan feret yang dibawa manusia menjadi penyebab kematian signifikan bagi anak penguin dan telur di sarang. Pembangunan kawasan pesisir untuk permukiman dan infrastruktur jalan turut memperparah kondisi ini, karena merusak lahan bersarang alami sekaligus meningkatkan risiko penguin tertabrak kendaraan saat melintasi jalan menuju sarangnya.
Sebagai respons atas ancaman-ancaman ini, sejumlah program konservasi berbasis masyarakat terus dijalankan di Australia dan Selandia Baru. Upaya tersebut mencakup pemagaran kawasan pesisir untuk membatasi akses predator, penyediaan kotak sarang buatan sebagai pengganti lubang alami yang hilang, serta program penangkapan predator invasif secara berkala. Langkah-langkah ini menjadi kunci untuk memastikan spesies penguin terkecil di dunia ini tetap bertahan di tengah perubahan kondisi laut yang terus berlangsung.
Referensi
Dann, P., & Chambers, L. (2013). Ecological effects of climate change on little penguins (Eudyptula minor) and the potential economic impact on tourism. Climate Research, 58(1), 67–79.