Victoria amazonica adalah tanaman air raksasa asal Amazon dengan daun yang bisa tumbuh hingga sekitar 3 meter, menjadikannya salah satu daun terbesar di dunia. Namun ukurannya bukan satu-satunya keunikan tanaman ini. Daun tersebut juga mampu menahan beban hingga 30 kilogram, cukup untuk menopang tubuh anak kecil tanpa robek atau tenggelam. Kemampuan ini telah menarik perhatian ilmuwan sejak abad ke-19, ketika penjelajah Eropa pertama kali mendokumentasikan tanaman ini dan membawanya ke kebun-kebun botani di benua lain.
Salah satu spesimen yang dikirim ke Inggris bahkan disebut menginspirasi arsitek Joseph Paxton dalam merancang struktur Crystal Palace pada 1851, karena kekagumannya pada pola urat daun yang menopang bobot besar dengan bahan yang relatif tipis. Penelitian terbaru dengan drone serta analisis struktur daun kini mengungkap mekanisme di balik kekuatan daun ini secara lebih rinci.
Struktur di Balik Kekuatan Daun
Bagian bawah daun Victoria amazonica memiliki tulang utama yang menyebar dari pusat, lalu bercabang menjadi tulang sekunder yang tersusun rapat dan saling terhubung. Pola ini menyerupai rangka baja atau jaring kisi pada konstruksi modern, di mana setiap titik sambungan membantu menyalurkan beban ke area yang lebih luas. Susunan tersebut membuat tekanan dari atas terdistribusi merata ke seluruh permukaan daun, sehingga tekanan di satu titik tidak membuatnya sobek meski daun hanya setebal beberapa milimeter.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Science Advances oleh tim peneliti dari University of Manchester dan University of Oxford menemukan bahwa bentuk geometris daun Victoria amazonica secara struktural lebih efisien dibanding spesies teratai air lain yang berukuran lebih kecil. Ketebalan daun yang bervariasi secara spasial, dikombinasikan dengan percabangan urat utama yang teratur, memberikan kekuatan struktural yang cukup untuk menopang daun dalam ukuran besar tanpa menambah bobot secara signifikan. Susunan ini memungkinkan daun menutupi permukaan air secara luas untuk menyerap cahaya matahari secara optimal, meski biomassa daunnya relatif ringan dibanding ukurannya.

Selain jaringan urat, tiga elemen lain berperan menjaga daun tetap mengapung. Permukaan atas dilapisi lilin tebal yang mencegah air menempel dan membuat daun tetap kering, sehingga bobotnya tidak bertambah akibat genangan. Tepi daun melengkung ke atas seperti dinding rendah setinggi beberapa sentimeter, berfungsi menahan air hujan atau riak agar tidak masuk ke tengah daun dan menambah beban. Di dalam jaringan daun juga terdapat rongga udara yang tersebar merata dan bekerja seperti pelampung alami, mirip fungsi sekat udara pada lambung kapal. Kombinasi keempat elemen ini, yaitu lapisan lilin, jaringan urat, rim penahan air, dan rongga udara, menjelaskan mengapa daun setipis dan selebar itu bisa menahan berat anak kecil tanpa tenggelam maupun robek.
Peran dalam Ekosistem dan Ancaman yang Dihadapi
Di habitat aslinya, daun Victoria amazonica tumbuh di perairan tenang seperti rawa dan danau dangkal di sepanjang cekungan Amazon. Daun yang lebar memberi naungan bagi ikan kecil, katak, dan serangga air dari predator maupun sinar matahari langsung, sekaligus menjadi tempat berlindung yang stabil di tengah arus yang relatif tenang. Bayangan yang dihasilkan juga memengaruhi pertumbuhan alga dan organisme fotosintetik lain di bawahnya, sehingga tanaman ini turut menjaga keseimbangan cahaya dan suhu di kolom air tempatnya tumbuh.
Penelitian berbasis drone kini membantu ilmuwan memantau pertumbuhan tanaman ini di habitat asli tanpa perlu mendekat atau merusak lingkungan sekitarnya. Citra drone digunakan untuk mengukur lebar daun, tinggi rim, dan panjang tangkai secara berkala, memberikan data pertumbuhan yang lebih akurat dibanding pengukuran manual dari darat. Metode ini terutama berguna di kawasan rawa yang sulit diakses langsung oleh peneliti.
Meski demikian, populasi Victoria amazonica di alam liar menghadapi tekanan yang terus meningkat. Deforestasi Amazon mengubah pola aliran air dan meningkatkan sedimentasi di rawa dan danau tempat tanaman ini hidup, yang pada akhirnya mengubah kualitas dan kedalaman air yang dibutuhkan untuk pertumbuhan daun. Polusi dan pembangunan di sekitar habitatnya turut mengganggu kondisi perairan, sementara perubahan iklim menambah tekanan lain berupa pergeseran pola hujan dan suhu air yang tidak menentu sepanjang tahun.
Spesies ini masuk dalam genus Victoria yang beranggotakan tiga spesies bersaudara, yaitu V. amazonica, V. cruziana, dan V. boliviana, dengan spesies terakhir baru dikonfirmasi sebagai spesies terpisah pada 2022. Sejumlah kebun botani di dunia, termasuk Kew Gardens di Inggris, kini menjaga koleksi hidup tanaman ini sebagai bagian dari upaya konservasi di luar habitat aslinya. Di sisi lain, pemantauan berbasis drone yang lebih terjangkau mulai dilirik sebagai cara melibatkan komunitas lokal di sekitar Amazon dalam menjaga kelestarian tanaman ini untuk jangka panjang.
**
Referensi:
Box, F., Erlich, A., Guan, J. H., & Thorogood, C. (2022). Gigantic floating leaves occupy a large surface area at an economical material cost. Science Advances, 8(6), Article eabg3790. https://doi.org/10.1126/sciadv.abg3790