Permukaan air Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, terus menyusut akibat kemarau panjang yang dipengaruhi El Niño Godzilla. Kondisi ini mengkhawatirkan ratusan petani yang mengandalkan telaga sebagai sumber irigasi.
Telaga seluas sekitar 25 hektar yang berada di antara Bukit Pangonan dan Bukit Semurup tersebut menjadi tumpuan sekitar 200 petani dari Desa Karangtengah, Butuh, dan Bakal. Setiap hari, ribuan liter air dipompa menuju lahan pertanian di kawasan Dataran Tinggi Dieng, terutama kebun kentang.
Zaenuri, petani asal Karangtengah, telah menyedot air dari telaga selama dua bulan. Untuk mengairi lahan kentang seluas sekitar 2.500 meter persegi, dia membutuhkan tujuh liter pertalite setiap hari. “Ini satu-satunya harapan kami untuk menyelamatkan tanaman kentang,” katanya.
Petani lain juga menghadapi persoalan serupa. Mereka harus mengoperasikan mesin pompa dan mengalirkan air hingga sejauh satu kilometer. Biaya bahan bakar membuat ongkos produksi meningkat dibandingkan musim hujan. Namun, penyiraman tidak dapat dihentikan karena tanaman kentang memerlukan pasokan air berkala agar produktivitasnya tidak menurun.
Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan musim kemarau 2026 datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis. Puncak kemarau terjadi pada Agustus, sedangkan durasinya diperkirakan berlangsung sekitar lima hingga tujuh bulan sejak Mei atau Juni.
“Artinya, kemarau tahun ini diperkirakan bisa terjadi hingga Oktober–November mendatang.”
Petani dianjurkan menyesuaikan jadwal tanam, menggunakan varietas tahan kering, dan memprioritaskan pengelolaan cadangan air. Langkah tersebut penting karena penurunan debit Telaga Merdada diperkirakan terus berlangsung apabila hujan belum turun dalam beberapa bulan mendatang.
Selain menghadapi tekanan akibat kemarau, Telaga Merdada juga terancam aktivitas pertanian intensif di kawasan sekitarnya. Penelitian dari Universitas Gadjah Mada dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menemukan bahwa penggunaan pupuk berlebihan di lahan kentang dapat meningkatkan kandungan nutrien dalam telaga.
Masuknya unsur hara secara berlebihan dapat memicu eutrofikasi, yaitu kondisi ketika badan air dipenuhi nutrien sehingga pertumbuhan alga meningkat dan kualitas air menurun. Dalam jangka panjang, keadaan tersebut dapat mengganggu keseimbangan ekosistem air tawar.
Pengelolaan Telaga Merdada karena itu tidak cukup hanya dengan mengatur penyedotan air saat kemarau. Pemerintah dan masyarakat juga perlu menata penggunaan lahan, mengendalikan pemakaian pupuk, membangun sistem irigasi yang lebih efisien, dan menerapkan zonasi berdasarkan daya dukung lingkungan. Tanpa pengelolaan berkelanjutan, sumber air utama petani Dieng tersebut akan semakin rentan menghadapi kemarau panjang pada masa mendatang.
Foto utama: Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, yang airnya berkurang drastis akibat kemarau. Foto: L Darmawan/Mongabay Indonesia.