Di taman kota, jalur pejalan kaki, hingga pusat Jakarta, seekor burung pendatang semakin mudah dijumpai. Namanya kerak ungu atau Acridotheres tristis. Burung ini kerap terlihat di kawasan Gelora Bung Karno, Monumen Nasional, dan Ragunan, bahkan berbagi pohon dengan kerak kerbau yang merupakan burung lokal.
Pemandangan tersebut mungkin terlihat biasa. Namun, keberadaan kerak ungu menyimpan persoalan ekologis. Burung ini bukan spesies asli Indonesia. Persebaran alaminya meliputi Iran, Asia Selatan (termasuk Pakistan, India, dan Nepal) serta Thailand dan Malaysia.
Kehadirannya di Indonesia diduga berkaitan dengan aktivitas manusia, terutama perdagangan burung. Sebagian kemungkinan berasal dari burung peliharaan yang terlepas atau sengaja dilepaskan. Kerak ungu juga pernah dibeli untuk kegiatan pelepasan satwa secara seremonial tanpa mempertimbangkan asal dan dampaknya terhadap lingkungan.
Burung ini dikenal mampu beradaptasi dengan lingkungan perkotaan. Kerak ungu dapat memanfaatkan makanan yang tersedia dari aktivitas manusia. Ia juga sering mengikuti burung lokal untuk mengenali sumber pakan dan tempat yang aman. Kemampuan tersebut membantunya bertahan di lingkungan baru.
Di Ragunan, kerak ungu terpantau memakai pohon tertentu sebagai tempat bersarang. Dalam satu kali pengamatan, sekitar dua hingga tiga individu dapat terlihat. Jumlahnya memang belum menunjukkan peningkatan besar, tetapi kemunculannya secara konsisten di tempat yang sama menandakan bahwa burung tersebut mulai membentuk wilayahnya.
Spesies invasif umumnya lebih adaptif dan oportunis dibandingkan spesies lokal. Karena itu, kerak ungu berpotensi bersaing memperebutkan makanan dan ruang hidup. Dampaknya di Jakarta memang belum terlihat sepenuhnya, tetapi perubahan komposisi spesies dapat berlangsung perlahan dan sulit disadari.
Sejak 2023, Melisa Qonita (26), pegiat citizen science, rutin menjumpai kerak ungu di pusat Kota Jakarta. Burung pendatang itu bahkan kerap terlihat berbagi tempat dengan burung lokal.
“Hampir selalu ada. Bahkan dalam satu pohon bisa bareng kerak kerbau,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Burung lokal yang paling berpotensi terdampak adalah kerak kerbau. Jika kalah bersaing, kerak kerbau dapat kehilangan ruang hidupnya dan digantikan kerak ungu. Fenomena ketika suatu spesies mengambil alih fungsi atau posisi spesies lain dalam ekosistem disebut perebutan relung ekologi.
Masalahnya, kedua burung tersebut belum tentu mempunyai fungsi ekologis yang sama. Di habitat alaminya, kerak kerbau memakan parasit seperti caplak yang menempel pada tubuh kerbau. Fungsi tersebut tidak dimiliki kerak ungu.
Karena itu, kehadiran kerak ungu perlu dicatat dan dipantau secara rutin. Data dari komunitas pengamat burung dapat membantu mengetahui apakah populasinya hanya bertahan atau mulai berkembang. Burung pendatang ini mungkin sudah terlihat akrab di Jakarta, tetapi dampaknya terhadap kehidupan burung lokal belum boleh diabaikan.
Foto utama: Kerak ungu merupakan jenis burung invasif. Foto: Hammas Zia Urrohman Anshari.