<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=sariamin-sahari&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/sariamin-sahari/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 15 Sep 2026 16:01:24 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Jejak Rapuh Gua dan Karst</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/jejak-rapuh-gua-dan-karst/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/jejak-rapuh-gua-dan-karst/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 13:53:17 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/09/22044738/IMG_9953-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=133656</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jejak Rapuh Gua dan Karst dan Krisis]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gua dan bentang karst menyimpan rekaman penting perjalanan bumi. Di dalamnya terdapat fauna unik hasil adaptasi ekstrem, peninggalan seni prasejarah tertua, serta sistem hidrologi bawah tanah penyuplai air bersih bagi jutaan orang. Kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Sains bawah tanah, jejak awal manusia, dan ancaman kerusakan lingkungan saling [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/jejak-rapuh-gua-dan-karst/">Jejak Rapuh Gua dan Karst</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gua dan bentang karst menyimpan rekaman penting perjalanan bumi. Di dalamnya terdapat fauna unik hasil adaptasi ekstrem, peninggalan seni prasejarah tertua, serta sistem hidrologi bawah tanah penyuplai air bersih bagi jutaan orang. Kawasan ini menghadapi ancaman nyata dari aktivitas tambang dan alih fungsi lahan. Sains bawah tanah, jejak awal manusia, dan ancaman kerusakan lingkungan saling terhubung, menjadikan perlindungan ekosistem karst kebutuhan mendesak bagi keberlanjutan hidup kita. The post Jejak Rapuh Gua dan Karst appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/09/jejak-rapuh-gua-dan-karst/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/09/jejak-rapuh-gua-dan-karst/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Fitriani Mengubah Duka &#8220;For Gajah Rahman&#8221; Menjadi Gerakan Konservasi Gajah Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kisah-fitriani-mengubah-duka-for-gajah-rahman-menjadi-gerakan-konservasi-gajah-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kisah-fitriani-mengubah-duka-for-gajah-rahman-menjadi-gerakan-konservasi-gajah-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 10:00:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15075222/Ani-pakai-atribut-gajah-saat-Bhayangkara-Run-2025.-Foto-Dokumen-pribadi-708x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133582</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, politik dan hukum, Satwa, sumatera, dan tokoh inspiratif]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setangkai krisan putih dibagikan kepada orang-orang yang melintas di depan Kantor Gubernur Riau. Tanpa teriakan, massa menyampaikan tuntutan yang telah mereka suarakan selama dua tahun: mengungkap pelaku pembunuhan Rahman, gajah binaan Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo. Di tengah aksi sunyi itu berdiri Fitriani Dwi Kurniasari. Perempuan yang akrab disapa Ani tersebut terus mencari cara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kisah-fitriani-mengubah-duka-for-gajah-rahman-menjadi-gerakan-konservasi-gajah-sumatera/">Kisah Fitriani Mengubah Duka &#8220;For Gajah Rahman&#8221; Menjadi Gerakan Konservasi Gajah Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setangkai krisan putih dibagikan kepada orang-orang yang melintas di depan Kantor Gubernur Riau. Tanpa teriakan, massa menyampaikan tuntutan yang telah mereka suarakan selama dua tahun: mengungkap pelaku pembunuhan Rahman, gajah binaan Flying Squad Taman Nasional Tesso Nilo. Di tengah aksi sunyi itu berdiri Fitriani Dwi Kurniasari. Perempuan yang akrab disapa Ani tersebut terus mencari cara agar kematian Rahman tidak dilupakan publik dan penyelidikannya tidak berhenti tanpa kejelasan. “Aksi sunyi itu sebagai pengingat pada penegak hukum untuk melanjutkan tugasnya dan mengingatkan komitmen mengusut tuntas kasus kematian gajah Rahman,” katanya. Rahman ditemukan sekarat pada 10 Januari 2024 setelah diracun. Gading kirinya hilang, tetapi tidak diambil secara utuh. Tidak ditemukan pula ceceran darah dalam jumlah besar. Gajah jantan itu masih bertahan hidup selama delapan jam sebelum akhirnya mati. Kejanggalan tersebut terus menjadi pertanyaan bagi Ani dan para pemerhati satwa. Kedekatan Ani dengan Rahman bermula ketika ia bekerja sebagai Database &amp; Support Officer Wildlife Crime Team WWF Program Riau. Tugasnya membawa Ani ke pengadilan, kejaksaan, dan kantor polisi untuk memantau perkara kejahatan terhadap satwa. Sesekali, ia juga mengunjungi Tesso Nilo dan berinteraksi dengan gajah-gajah Flying Squad, termasuk Rahman. Kabar kematian Rahman membuatnya terpukul. Ani kemudian membuat akun Instagram For Gajah Rahman sebagai ruang untuk menyimpan kenangan sekaligus mengawal perkembangan kasus. Ia mengajak masyarakat yang pernah bertemu “Kapten” Rahman membagikan foto dan cerita. Dalam waktu kurang dari sepekan, akun tersebut memperoleh seribu pengikut. Namun, kampanye melalui media sosial belum menghasilkan titik terang. Ani mengadakan diskusi publik, berkolaborasi dengan komunitas, dan menggelar aksi damai. Ia juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kisah-fitriani-mengubah-duka-for-gajah-rahman-menjadi-gerakan-konservasi-gajah-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kisah-fitriani-mengubah-duka-for-gajah-rahman-menjadi-gerakan-konservasi-gajah-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Masyarakat Sungai Gelam Belajar Deteksi Dini Api</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/15/ketika-masyarakat-sungai-gelam-belajar-deteksi-dini-api/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/15/ketika-masyarakat-sungai-gelam-belajar-deteksi-dini-api/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 08:37:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/15083403/Tahang-menunjukkan-tanaman-kopi-yang-ditanam-sebagai-upaya-pemulihan-ekosistem-gambut-di-kawasan-HKm-Air-Merah-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133646</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan politik, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jalan gambut berdebu. Siang itu, bersepeda motor Tahang membawa sekeranjang penuh nanas. Tubuh dan keranjang bergoyang terkena jalan bergelombang.  Pada Agustus lalu itu, cuaca panas menguap dari celah-celah gambut kering. Lebih dari sebulan, Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam, Muaro Jambi, Jambi,  tak hujan. Di kejauhan, asap tipis muncul samar-samar di balik kebun pinang, di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/ketika-masyarakat-sungai-gelam-belajar-deteksi-dini-api/">Ketika Masyarakat Sungai Gelam Belajar Deteksi Dini Api</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jalan gambut berdebu. Siang itu, bersepeda motor Tahang membawa sekeranjang penuh nanas. Tubuh dan keranjang bergoyang terkena jalan bergelombang.  Pada Agustus lalu itu, cuaca panas menguap dari celah-celah gambut kering. Lebih dari sebulan, Desa Persiapan Air Merah, Sungai Gelam, Muaro Jambi, Jambi,  tak hujan. Di kejauhan, asap tipis muncul samar-samar di balik kebun pinang, di areal hutan kemasyarakatan. Tatang terus melaju, pengepul nanas sudah menunggu. Di tempat pengumpulan nanas, tak jauh dari kantor Koperasi Multi Usaha Mandiri lokasi, Tahang bertemu Ali dan Haidir. “Lihat api nggak tadi?” “Ada, tapi kecil,” jawab Haidir. Ali kembali ke kebun mengambil sisa nanas. Tahang pulang ke rumahnya di Desa Muara Medak, Sumatera Selatan, untuk beristirahat. Tak seorang pun menyangka asap tipis itu akan berubah menjadi kebakaran besar. Beberapa jam kemudian, api dengan cepat membakar ilalang kering, lalu menjalar ke gambut sampai akhirnya meledak. “Dum&#8230;meledak, setengah tiga api itu jadi besar,” kata Tahang. Dia menghubungi Amin, bendahara koperasi, mengabarkan ada api, lalu menyaut motornya membawa mesin air dan menuju lokasi kebakaran. “Sampai sana, api sudah mendekati parit satu. Orang dari Manggala Agni, BPBD sudah banyak, tapi air payah.” Bersama puluhan warga, Tahang berusaha memadamkan api. Kemarau tahun itu membuat air kanal mengering. “Kami madamin api dari jam 05.00 sore sampai jam 02.00 malam.” Paginya, api sudah menyeberang melewati tiga parit, bergerak lebih dari satu kilometer dari titik awal. Tahang memperkirakan,  luas kebakaran lebih 130 hektar. “Kami nggak sanggup lagi madamin, air gak ada,” kata lelaki 53 tahun itu. Sekitar 300 personel darat berjibaku di tengah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/ketika-masyarakat-sungai-gelam-belajar-deteksi-dini-api/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/15/ketika-masyarakat-sungai-gelam-belajar-deteksi-dini-api/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/15/asap-karhutla-tak-kenal-batas-administratif-bikin-manusia-dan-satwa-liar-menderita/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/15/asap-karhutla-tak-kenal-batas-administratif-bikin-manusia-dan-satwa-liar-menderita/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 08:05:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/15075237/Kabakaran-di-Ketapang-Kalbar-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133636</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, pencemaran, politik dan hukum, sulawesi, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak pertengahan 2026, langit Kalimantan dan Sumatera kembali kelabu. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membakar jutaan hektar hutan dan rawa gambut, mengirim kabut asap tebal yang tak lagi hanya mengganggu jarak pandang, tapi merenggut napas manusia dan satwa liar sekaligus. Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, asap karhutla menyengsarakan masyarakat. Di Ketapang, Kalimantan Barat, satu individu orangutan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/asap-karhutla-tak-kenal-batas-administratif-bikin-manusia-dan-satwa-liar-menderita/">Asap Karhutla Tak Kenal Batas Administratif, Bikin Manusia dan Satwa Liar Menderita</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak pertengahan 2026, langit Kalimantan dan Sumatera kembali kelabu. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membakar jutaan hektar hutan dan rawa gambut, mengirim kabut asap tebal yang tak lagi hanya mengganggu jarak pandang, tapi merenggut napas manusia dan satwa liar sekaligus. Di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, asap karhutla menyengsarakan masyarakat. Di Ketapang, Kalimantan Barat, satu individu orangutan jantan dewasa bernama Sampurna ditemukan lemas di parit kering sebuah kebun sawit, tak lama sebelum ia mengembuskan napas terakhir. Data terbaru menunjukkan skala krisis ini sangat luas. Menurut siaran pers YLBHI pada 6 September 2026, sekitar 37,9 juta orang di delapan provinsi telah terdampak asap karhutla gambut sepanjang Agustus, dan situasi ini diperkirakan akan berlangsung hingga dua bulan ke depan. Di Kalimantan Barat, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang tercatat mencapai 165.747 kasus per akhir Agustus 2026. Data nasional Kementerian Kesehatan yang dikutip Reuters menyebutkan jumlah warga dengan gangguan pernapasan akibat karhutla melonjak dari 50.891 orang pada 1 September menjadi 113.336 orang pada 9 September 2026, hanya dalam kurun waktu sekitar sepekan. Dampak asap bahkan menyeberang ke Malaysia, Singapura, dan Filipina. Berdasarkan Situation Report Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 27 Agustus 2026, karhutla telah berdampak pada tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan, dengan total penduduk terdampak mencapai 10.674.201 orang. Kebakaran yang terjadi di Kubu Raya, Kalimantan Barat, berdampak pada lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat. Foto: Widya/Mongabay Indonesia. Dante Saksono Harbuwono, Wakil Menteri Kesehatan menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel PM2,5, yakni partikel udara berukuran kurang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/asap-karhutla-tak-kenal-batas-administratif-bikin-manusia-dan-satwa-liar-menderita/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/15/asap-karhutla-tak-kenal-batas-administratif-bikin-manusia-dan-satwa-liar-menderita/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjaga Masa Depan Kukang Jawa di Hutan Ujung Kulon</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/15/menjaga-masa-depan-kukang-jawa-di-hutan-ujung-kulon/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/15/menjaga-masa-depan-kukang-jawa-di-hutan-ujung-kulon/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 04:20:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/15040618/Pelepasliaran-kukang-di-hutan-Ujung-Kulon-berbatasan-dengan-masyarakat-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133624</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi Aen Suptiati (40), Warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Pandeglang, Banten, kukang jawa bukan satwa yang biasa dijumpai di sekitar kampungnya. “Belum pernah lihat sebelumnya,” terangnya, Kamis (27/8/26). Saat mengetahui primata yang aktif malam hari ini dikembalikan ke hutan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), yang berbatasan dengan desanya, dia penasaran. Nycticebus javanicus bukan satu-satunya satwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/menjaga-masa-depan-kukang-jawa-di-hutan-ujung-kulon/">Menjaga Masa Depan Kukang Jawa di Hutan Ujung Kulon</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi Aen Suptiati (40), Warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Pandeglang, Banten, kukang jawa bukan satwa yang biasa dijumpai di sekitar kampungnya. “Belum pernah lihat sebelumnya,” terangnya, Kamis (27/8/26). Saat mengetahui primata yang aktif malam hari ini dikembalikan ke hutan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), yang berbatasan dengan desanya, dia penasaran. Nycticebus javanicus bukan satu-satunya satwa liar yang dikenal warga Rancapinang. Aen juga terbiasa lihat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan lutung jawa (Trachypithecus auratus). Adanya primata tersebut di sekitar hutan maupun kebun mereka, bukan sesuatu yang asing. Kondisi semacam ini, bagi Aen, sudah jadi bagian kehidupan warga. Perempuan yang lahir dan besar di desa sebanyak 1.109 kepala keluarga ini, sudah terbiasa hidup berdampingan dengan satwa liar. “Ada ruang yang harus diberikan pada satwa untuk hidup di habitatnya.” Kukang yang akan dilepasliarkan ini diangkut dengan berjalan kaki menuju wilayah Taman Nasional Ujung Kulon. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Tak hanya mengembalikan kukang Pelepasliaran kukang tak hanya soal mengembalikan ke habitat. Ada pekerjaan lain yang tak kalah penting, yaitu memastikan masyarakat tidak mengganggu primata yang dianggap lucu jika suatu hari muncul di sekitar kebun atau permukiman mereka. Bagi Encun Sunayah, Camat Cimanggu, kembalinya kukang jawa ke kawasan hutan di wilayahnya, bukan sekadar pelepasliaran. Bahkan, sebelum adanya kegiatan tersebut, dia tak mengetahui kukang masih bisa ditemukan di wilayahnya. “Jarang sekali kita lihat,” jelasnya, Kamis (27/8/26). Rute menuju lokasi pelepasliaran kukang jawa di TNUK. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Bagi masyarakat Rancapinang, kukang dikenal dengan sebutan muka. Sebagian warga masih mengenalinya saat diperlihatkan bentuk satwa tersebut.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/menjaga-masa-depan-kukang-jawa-di-hutan-ujung-kulon/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/15/menjaga-masa-depan-kukang-jawa-di-hutan-ujung-kulon/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hiu Putih Jantan Terbesar Ditemukan, Beratnya Capai 750 Kilogram, Ilmuwan Sebut di Luar Dugaan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/15/hiu-putih-jantan-terbesar-ditemukan-beratnya-capai-750-kilogram-ilmuwan-sebut-di-luar-dugaan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/15/hiu-putih-jantan-terbesar-ditemukan-beratnya-capai-750-kilogram-ilmuwan-sebut-di-luar-dugaan/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 03:40:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/15033125/19af7547-b656-454b-a8bd-cd238523e864-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133617</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hiu putih besar (Carcharodon carcharias) adalah salah satu predator puncak di ekosistem laut, dengan peran penting dalam menjaga keseimbangan populasi mangsa dan struktur rantai makanan di perairan. Meski menjadi salah satu spesies hiu paling banyak diteliti, data tentang ukuran, usia, dan pola pergerakan individu dewasa, terutama hiu jantan, masih terbatas. Hiu putih dewasa cenderung menempuh [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/hiu-putih-jantan-terbesar-ditemukan-beratnya-capai-750-kilogram-ilmuwan-sebut-di-luar-dugaan/">Hiu Putih Jantan Terbesar Ditemukan, Beratnya Capai 750 Kilogram, Ilmuwan Sebut di Luar Dugaan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hiu putih besar (Carcharodon carcharias) adalah salah satu predator puncak di ekosistem laut, dengan peran penting dalam menjaga keseimbangan populasi mangsa dan struktur rantai makanan di perairan. Meski menjadi salah satu spesies hiu paling banyak diteliti, data tentang ukuran, usia, dan pola pergerakan individu dewasa, terutama hiu jantan, masih terbatas. Hiu putih dewasa cenderung menempuh jarak jauh dan menyelam ke perairan dalam yang sulit dijangkau peneliti, sehingga setiap kesempatan untuk mengamati individu secara langsung dianggap berharga bagi ilmu pengetahuan. Pada Januari 2026, tim peneliti dari organisasi nirlaba Ocearch menangkap seekor hiu putih jantan berukuran tidak biasa di perairan sekitar 70 kilometer dari pantai, di titik yang berada di perbatasan wilayah perairan Georgia dan Florida, Amerika Serikat. Hiu tersebut kemudian diberi nama Contender oleh tim peneliti. Ukuran yang Melampaui Data Ilmiah Sebelumnya Contender tercatat memiliki berat 750 kilogram dan panjang 4,2 meter. Angka ini berada di luar kisaran ukuran yang selama ini dianggap umum untuk hiu putih jantan dewasa. Menurut data Smithsonian National Museum of Natural History, mayoritas hiu putih jantan dewasa memiliki panjang antara 3,4 hingga 4 meter. Harley Newton, dokter hewan utama di Ocearch, menyebut temuan ini di luar dugaan timnya. Ia menjelaskan bahwa hiu putih jantan umumnya mencapai kematangan seksual pada usia sekitar 26 tahun. Angka ini sejalan dengan penelitian Natanson dan Skomal yang menganalisis pola pertumbuhan hiu putih di Atlantik Barat Laut menggunakan sampel vertebra dari 77 individu. Studi tersebut menemukan bahwa hiu putih jantan di kawasan ini baru mencapai kematangan seksual pada usia sekitar 26 tahun,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/hiu-putih-jantan-terbesar-ditemukan-beratnya-capai-750-kilogram-ilmuwan-sebut-di-luar-dugaan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/15/hiu-putih-jantan-terbesar-ditemukan-beratnya-capai-750-kilogram-ilmuwan-sebut-di-luar-dugaan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Panjang Kepala Adat Dayak Kualan Cari Keadilan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/15/jalan-panjang-kepala-adat-dayak-kualan-cari-keadilan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/15/jalan-panjang-kepala-adat-dayak-kualan-cari-keadilan/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 01:40:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Themmy Doaly]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/15012948/SB_00661-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133593</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, kera besar, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tarsisius Fendy Sesupi, Kepala Adat Dusun Lelayang, Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), terus  mencari keadilan. Baru-baru ini, bersama koalisi masyarakat sipil, dia melaporkan kriminalisasi dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan DPR. Tiga tahun silam, dia memberi sanksi adat berupa denda kepada PT Mayawana Persada karena  memicu konflik, menggusur lahan dan tanaman, serta rugikan ekonomi warga. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/jalan-panjang-kepala-adat-dayak-kualan-cari-keadilan/">Jalan Panjang Kepala Adat Dayak Kualan Cari Keadilan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tarsisius Fendy Sesupi, Kepala Adat Dusun Lelayang, Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar), terus  mencari keadilan. Baru-baru ini, bersama koalisi masyarakat sipil, dia melaporkan kriminalisasi dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan DPR. Tiga tahun silam, dia memberi sanksi adat berupa denda kepada PT Mayawana Persada karena  memicu konflik, menggusur lahan dan tanaman, serta rugikan ekonomi warga. Namun, pada 2025, sanksi adat ini berbuah status tersangka dugaan tindak pidana pemerasan, setelah salah seorang pekerja perusahaan melaporkannya ke Polres Ketapang. Fendy dan koalisi masyarakat sipil menganggap, pelaporan itu strategi hukum untuk menghentikan partisipasi publik (SLAPP). Tujuannya, agar Masyarakat Adat Dayak kualan tidak lagi mengganggu aktivitas Mayawan. “Ada berita acara yang disepakati masyarakat dan perusahaan. Kalau tidak ada berita acara tidak mungkin ada batang adat dan uang Rp16 juta yang dikirimkan. Itu murni mengintimidasi masyarakat dan mengkriminalisasi saya,” katanya kepada Mongabay, di Jakarta. Sejak awal 2026, Fendy dan koalisi masyarakat sipil mendatangi sejumlah lembaga negara untuk selesaikan persoalan ini. Komisi II PRD Kalimantan Barat sempat memediasi dan merekomendasikan perusahaan untuk menghormati kedaulatan masyarakat adat. Rekomendasi lainnya, membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penyelesaian Konflik. Tim itu terdiri dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, anggota koalisi dan perwakilan masyarakat. Namun, hingga saat ini, belum ada tindak lanjut dan satuan tugas belum terbentuk. April 2026, dalam suatu mediasi, Bupati Ketapang, Alexander Wilyo mendorong perdamaian antara masyarakat adat dengan Mayawan dengan mekanisme keadilan restoratif (restorative justice/ RJ). Namun Fendy keberatan dengan tawaran tersebut. Sebab, mekanisme itu mengharuskannya minta maaf. “RJ berarti dua hal. Pertama, melemahnya adat istiadat budaya kami. Kedua,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/15/jalan-panjang-kepala-adat-dayak-kualan-cari-keadilan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/15/jalan-panjang-kepala-adat-dayak-kualan-cari-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Misterius Kalimantan Kembali Terekam Kamera di Kayan Mentarang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-misterius-kalimantan-kembali-terekam-kamera-di-kayan-mentarang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-misterius-kalimantan-kembali-terekam-kamera-di-kayan-mentarang/#respond</comments>
					<pubDate>15 Sep 2026 00:30:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/12033849/Kucing-merah-kalimantan-2026-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133583</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, kalimantan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama berbulan, sebuah kamera pengintai bekerja tanpa suara di bawah kanopi hutan primer Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara. Ketika datanya diperiksa, kamera itu menyimpan rekaman istimewa: seekor kucing merah kalimantan berjalan sambil menggigit mangsa. Kucing merah kalimantan (Catopuma badia) merupakan salah satu karnivora paling misterius di Pulau Kalimantan. Satwa berstatus Genting ini sulit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-misterius-kalimantan-kembali-terekam-kamera-di-kayan-mentarang/">Kucing Misterius Kalimantan Kembali Terekam Kamera di Kayan Mentarang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama berbulan, sebuah kamera pengintai bekerja tanpa suara di bawah kanopi hutan primer Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara. Ketika datanya diperiksa, kamera itu menyimpan rekaman istimewa: seekor kucing merah kalimantan berjalan sambil menggigit mangsa. Kucing merah kalimantan (Catopuma badia) merupakan salah satu karnivora paling misterius di Pulau Kalimantan. Satwa berstatus Genting ini sulit diamati karena hidup menyendiri, memiliki kepadatan populasi rendah, dan cenderung menghindari manusia. Rekaman terbaru diperoleh di Resor Mentarang Tubu, Desa Rian Tubu. Kamera dipasang dalam kegiatan patroli perlindungan kawasan pada 2025 dan datanya baru diunduh pada 2026. Tiga tahun sebelumnya, spesies yang sama terekam di Resor Sungai Bahau setelah lebih dari dua dekade tanpa dokumentasi baru di kawasan tersebut. Pada salah satu foto, kucing itu terlihat membawa mangsa yang diduga tupai bergaris (Tupaia dorsalis). Selama ini, makanan kucing merah diketahui mencakup hewan pengerat dan tupai. Foto tersebut memberi petunjuk langka mengenai perilaku berburunya, meski jenis kelamin individu belum dapat diketahui. Umurnya diperkirakan remaja hingga dewasa. “Spesies ini sangat sulit dijumpai langsung, sehingga dokumentasi melalui camera trap membantu kami memperoleh data mengenai keberadaannya di dalam kawasan,” kata Seno Pramudito, Kepala Balai TNKM. Kucing merah umumnya memiliki bulu merah karat, tetapi sebagian individu berwarna abu-abu. Tubuhnya ramping, telinganya bulat, dan ekornya panjang. Bentuk tubuh tersebut memunculkan dugaan bahwa satwa ini mengandalkan kecepatan ketika mengejar mangsa. Pengetahuan mengenai kehidupannya masih sangat terbatas. Para ilmuwan memperkirakan panjang generasinya sekitar enam tahun, tetapi masa kehamilan dan usia individu di alam belum diketahui. Satwa ini sempat dianggap aktif pada malam hari.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-misterius-kalimantan-kembali-terekam-kamera-di-kayan-mentarang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kucing-misterius-kalimantan-kembali-terekam-kamera-di-kayan-mentarang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti UU Reforma Agraria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/14/menanti-uu-reforma-agraria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/14/menanti-uu-reforma-agraria/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 23:06:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22042023/Bagian_4_Petani-eks-transmigran-Timtim-membersihkan-gulma-di-dalam-kebunnya-pada-Desember-2020.-Hingga-hampir-20-tahun-mengelola-lahan-mereka-belum-mendapatkan-SHM-atas-tanahnya.-Foto-Anton-Muhajir-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133602</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Akhirnya, Rancangan Undang-undang Reforma Agraria (RUURA) resmi jadi usulan inisiatif DPR, dengan pengesahan pada rapat paripurna 8 September lalu. Seluruh fraksi menyetujui draf akan bahas lebih lanjut oleh pemerintah. Mereka memberikan pandangan tertulis, salah satunya Fraksi PDI Perjuangan. Mereka tekankan reforma agraria sebagai instrumen redistribusi tanah, penyelesaian konflik, kepastian hukum, dan perlindungan terhadap kelompok rentan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/menanti-uu-reforma-agraria/">Menanti UU Reforma Agraria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Akhirnya, Rancangan Undang-undang Reforma Agraria (RUURA) resmi jadi usulan inisiatif DPR, dengan pengesahan pada rapat paripurna 8 September lalu. Seluruh fraksi menyetujui draf akan bahas lebih lanjut oleh pemerintah. Mereka memberikan pandangan tertulis, salah satunya Fraksi PDI Perjuangan. Mereka tekankan reforma agraria sebagai instrumen redistribusi tanah, penyelesaian konflik, kepastian hukum, dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Fraksi PDI Perjuangan meminta penetapan lokasi prioritas reforma agraria (LPRA) berdasarkan data faktual dan terverifikasi. “Perlu pengakuan hak masyarakat adat, tanah garapan, nelayan, buruh tani dan kelompok marginal. Mengusulkan Badan Reforma Agraria Nasional serta mekanisme restitusi,” tulis pandangan PDI Perjuangan. Dewi Kartika, Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat,  terdapat sejumlah titik temu penting dari pandangan seluruh fraksi DPR. Seluruh fraksi, sepakat reforma agraria untuk mengurangi ketimpangan penguasaan tanah, redistribusi, menyelesaikan konflik, memulihkan hak rakyat, melindungi masyarakat adat serta kelompok rentan. Juga, memecah konsentrasi penguasaan tanah, dan memastikan adanya penembangan ekonomi setelah redistribusi. “Sejumlah fraksi juga tegas menempatkan reforma agraria bukan sebagai program sertifikasi tanah semata, tetapi koreksi terhadap struktur agraria yang timpang,” ujar Dewi. Badan Legislasi (Baleg) sejak 9 September, hampir setiap hari menggelar rapat dengar pendapat dengan pelbagai pihak untuk menyerap saran draf RUURA sebelum menyusun daftar inventaris masalah (DIM) RUU itu. Baleg mengundang, antara lain, para pakar agraria, organisasi masyarakat sipil seperti Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) serta Urban Poor Consortium (UPC), Sekretaris Mahkamah Agung, Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional, hingga Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Hakim Indonesia. Tulisan yang dipasang warga Pundenrejo di atas lahan yang sebelumnya dikuasai PT LPI. Foto: Triyo Handoko/Mongabay&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/menanti-uu-reforma-agraria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/14/menanti-uu-reforma-agraria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Oarfish Terdampar di Lombok, Mitos Gempa Kembali Muncul</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-oarfish-terdampar-di-lombok-mitos-gempa-kembali-muncul/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-oarfish-terdampar-di-lombok-mitos-gempa-kembali-muncul/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 10:00:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/07055718/WhatsApp-Image-2026-09-06-at-22.32.43-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133385</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, nusa tenggara, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemunculan seekor oarfish di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Lombok Timur, pada 25 Agustus 2026, kembali menghidupkan mitos lama mengenai ikan pertanda gempa. Tubuhnya yang panjang, pipih, dan berwarna keperakan ditemukan sejumlah anak di bibir pantai. Video penemuan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Sebagian warga menghubungkannya dengan gempa yang mengguncang Flores sekitar dua pekan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-oarfish-terdampar-di-lombok-mitos-gempa-kembali-muncul/">Ketika Oarfish Terdampar di Lombok, Mitos Gempa Kembali Muncul</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemunculan seekor oarfish di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Lombok Timur, pada 25 Agustus 2026, kembali menghidupkan mitos lama mengenai ikan pertanda gempa. Tubuhnya yang panjang, pipih, dan berwarna keperakan ditemukan sejumlah anak di bibir pantai. Video penemuan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial. Sebagian warga menghubungkannya dengan gempa yang mengguncang Flores sekitar dua pekan sebelumnya. Spekulasi itu muncul karena oarfish dikenal sebagai penghuni laut dalam yang jarang terlihat manusia. Ketika ikan ini muncul di permukaan atau terdampar, kehadirannya kerap dianggap sebagai peringatan bencana. Oarfish dari genus Regalecus umumnya terdiri dari dua spesies utama. Regalecus glesne tersebar di Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia serta dapat tumbuh hingga lebih dari 11 meter. Sementara Regalecus russellii lebih banyak ditemukan di Jepang, Asia Timur, dan Pasifik Barat. Ikan ini hidup di zona mesopelagik hingga batipelagik, sekitar 200–1.000 meter di bawah permukaan laut. Habitat tersebut hampir tidak tersentuh cahaya matahari, bersuhu rendah, dan memiliki tekanan air sangat tinggi. Kondisi inilah yang membuat perjumpaan dengan oarfish tergolong langka. Menurut Sukuryadi, Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Mataram, kemunculan oarfish di perairan dangkal lebih mungkin dipengaruhi perubahan lingkungan laut. “Tidak ada kaitannya dengan gempa bumi, mungkin anomali pemanasan global yang berdampak pada perubahan dan degradasi habitat,” ujarnya. Perubahan suhu, arus, kadar oksigen, kualitas perairan, serta ketersediaan pakan dapat mengganggu organisme laut dalam. Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut diduga membuat satwa kehilangan orientasi atau berpindah menuju perairan yang lebih dangkal. Mitos oarfish sebagai pertanda gempa juga berkembang di Jepang. Dalam cerita rakyat setempat, ikan ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-oarfish-terdampar-di-lombok-mitos-gempa-kembali-muncul/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/ketika-oarfish-terdampar-di-lombok-mitos-gempa-kembali-muncul/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus 5 Bayi Orangutan di India, Waspadai Perdagangan Satwa Liar Melalui Jalur Laut Aceh</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kasus-5-bayi-orangutan-di-india-waspadai-perdagangan-satwa-liar-melalui-jalur-laut-aceh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kasus-5-bayi-orangutan-di-india-waspadai-perdagangan-satwa-liar-melalui-jalur-laut-aceh/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 06:44:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/14063734/Bayi-Orangutan-Sumatera-di-SRA-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133584</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Perdagangan Satwa Tetap Marak]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kera besar, politik dan hukum, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kasus lima bayi orangutan yang ditemukan di India, Selasa (8/9/26), menguatkan dugaan adanya perdagangan ilegal satwa liar lintas negara. Dwi Nugroho Adhiasto, pakar perdagangan satwa liar yang merupakan Senior Advisor Scents, mengatakan berdasarkan pengamatan visual awal sejumlah pakar dan praktisi penyelamatan satwa, lima bayi orangutan tersebut kuat dugaan merupakan orangutan sumatera (Pongo abelii). “Namun, kepastian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/kasus-5-bayi-orangutan-di-india-waspadai-perdagangan-satwa-liar-melalui-jalur-laut-aceh/">Kasus 5 Bayi Orangutan di India, Waspadai Perdagangan Satwa Liar Melalui Jalur Laut Aceh</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kasus lima bayi orangutan yang ditemukan di India, Selasa (8/9/26), menguatkan dugaan adanya perdagangan ilegal satwa liar lintas negara. Dwi Nugroho Adhiasto, pakar perdagangan satwa liar yang merupakan Senior Advisor Scents, mengatakan berdasarkan pengamatan visual awal sejumlah pakar dan praktisi penyelamatan satwa, lima bayi orangutan tersebut kuat dugaan merupakan orangutan sumatera (Pongo abelii). “Namun, kepastian biologisnya masih menunggu hasil uji atau konfirmasi resmi,” ujarnya, Kamis (10/9/26). India beberapa tahun terakhir menjadi pasar sekaligus pusat transit perdagangan satwa liar asal Indonesia. Dari Aceh, satwa-satwa dilindungi termasuk orangutan, dibawa melalui jalur laut menuju Thailand. Selanjutnya, pergerakan jalur darat melewati Myanmar, menuju Bangladesh, dan masuk India bagian timur, termasuk Odisha dan Mizoram. “Odisha atau Mizoram umumnya berfungsi sebagai titik transit sebelum satwa dikirim ke pemesan akhir atau pasar internasional.” Membawa orangutan dalam jumlah banyak, membutuhkan persiapan, sarana transportasi, tempat penampungan, serta jaringan penerima di berbagai titik. Ini membutuhkan persiapan matang, perahu cepat, sarana penampungan, serta jaringan penerima di setiap titik perbatasan. “Aparat penegak hukum perlu menelusuri seluruh rantai perdagangan, mulai pengambil dari alam, penampung, pengangkut, penyandang dana, hingga penerima akhir. Pemerintah Indonesia harsu membangun investigasi bersama dengan otoritas India. Pengawasan harus diarahkan pada jalur-jalur rawan penyelundupan, terutama perairan Aceh. “Jalur perairan Aceh menuju Thailand sudah menjadi rahasia umum. Fokuskan pemantauan pada area yang sudah terdeteksi dan awasi pergerakan aktor kunci yang terindikasi jaringan ini,” tegasnya. Pada 27 Oktober 2025 lalu, Mongabay Indonesia mewawancarai penampung bayi orangutan sumatera yang mendekam di lembaga pemasyarakatan di Aceh. Safri (nama samaran), pernah mengantar langsung orangutan sumatera dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/kasus-5-bayi-orangutan-di-india-waspadai-perdagangan-satwa-liar-melalui-jalur-laut-aceh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kasus-5-bayi-orangutan-di-india-waspadai-perdagangan-satwa-liar-melalui-jalur-laut-aceh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Aceh hingga Gorontalo, Daun Sirih Menjaga Tradisi Upacara Adat Masyarakat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dari-aceh-hingga-gorontalo-daun-sirih-menjaga-tradisi-upacara-adat-masyarakat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dari-aceh-hingga-gorontalo-daun-sirih-menjaga-tradisi-upacara-adat-masyarakat/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 05:00:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/03/22052126/Daun-sirih-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133365</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas adat, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Daun sirih telah lama menempati posisi istimewa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tanaman ini bukan sekadar bahan yang dikunyah bersama pinang, kapur, gambir, atau tembakau, melainkan bagian dari tata cara masyarakat dalam menerima tamu, membangun hubungan sosial, dan menjalankan upacara adat. Di Aceh, daun sirih disuguhkan dalam upacara penyambutan tamu. Kebiasaan serupa ditemukan dalam kebudayaan Melayu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dari-aceh-hingga-gorontalo-daun-sirih-menjaga-tradisi-upacara-adat-masyarakat/">Dari Aceh hingga Gorontalo, Daun Sirih Menjaga Tradisi Upacara Adat Masyarakat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Daun sirih telah lama menempati posisi istimewa dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tanaman ini bukan sekadar bahan yang dikunyah bersama pinang, kapur, gambir, atau tembakau, melainkan bagian dari tata cara masyarakat dalam menerima tamu, membangun hubungan sosial, dan menjalankan upacara adat. Di Aceh, daun sirih disuguhkan dalam upacara penyambutan tamu. Kebiasaan serupa ditemukan dalam kebudayaan Melayu di Riau, Bangka Belitung, Jambi, dan Sumatera Selatan. Penyajian sirih menjadi tanda keramahtamahan, penerimaan, serta penghormatan terhadap orang yang datang. Tradisi menyirih dahulu juga melintasi batas usia dan kedudukan sosial. Sirih dapat dinikmati anak muda, orang tua, rakyat biasa, maupun keluarga kerajaan. Kedudukannya terlihat dari wadah penyimpanan sirih yang dibuat dengan serius. Sebagian wadah dihiasi emas dan batu mulia, bahkan dibentuk menyerupai hewan mitologi seperti naga atau ikan bersayap. Di Gorontalo, sirih memiliki fungsi penting dalam rangkaian upacara peminangan. Sebuah penelitian mengenai ritual modutu menyebut sirih sebagai lindhidu aadati atau “urat adat”. Istilah tersebut menunjukkan bahwa keberadaan sirih bukan sekadar pelengkap dekoratif, tetapi menjadi bagian penting yang menopang pelaksanaan adat. Sirih dan pinang ditempatkan dalam wadah khusus bernama tonggu, kemudian dipersembahkan kepada tamu undangan. Kehadirannya menandai kesiapan keluarga menjalankan prosesi sesuai aturan dan nilai yang diwariskan antargenerasi. Selain memiliki makna budaya, daun sirih (Piper betle) juga dikenal sebagai tanaman obat. Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah daunnya karena mengandung senyawa turunan fenol. Daun sirih mengandung sejumlah komponen bioaktif dan antioksidan, seperti flavonoid, alkaloid, saponin, polifenol, serta tanin. Penelitian juga menunjukkan potensi aktivitas antibakteri dan antioksidan pada tanaman tersebut. Kandungan itu membuat daun sirih digunakan dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dari-aceh-hingga-gorontalo-daun-sirih-menjaga-tradisi-upacara-adat-masyarakat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/dari-aceh-hingga-gorontalo-daun-sirih-menjaga-tradisi-upacara-adat-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kekeringan, Krisis Sumber Air Hantui Kalimantan Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kekeringan-krisis-sumber-air-hantui-kalimantan-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kekeringan-krisis-sumber-air-hantui-kalimantan-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 04:00:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Data dan Statisitik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22005234/Rawa-lebak-di-Sumatera-Selatan-pada-tahun-2024-diperkirakan-akan-mengalami-kekeringan-panjang-seperti-tahun-2023-lalu.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133492</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, dan hutan indonesia]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jerubu tebal menyelimuti pondok Bambang saat api mengepung kebunnya di Kota Banjarbaru, Kalimantan selatan (Kalsel), 24 Agustus. Sekitar 50 pohon rambutan hangus, sementara mesin pompa yang baru dia beli pagi tadi terus meraung. Ketersedian air di kanal di dekat kebunnya yang penuh eceng gondok dan ilalang, nyaris mengering. “Hari ini saya tekor banyak. Tadi pagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/kekeringan-krisis-sumber-air-hantui-kalimantan-selatan/">Kekeringan, Krisis Sumber Air Hantui Kalimantan Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jerubu tebal menyelimuti pondok Bambang saat api mengepung kebunnya di Kota Banjarbaru, Kalimantan selatan (Kalsel), 24 Agustus. Sekitar 50 pohon rambutan hangus, sementara mesin pompa yang baru dia beli pagi tadi terus meraung. Ketersedian air di kanal di dekat kebunnya yang penuh eceng gondok dan ilalang, nyaris mengering. “Hari ini saya tekor banyak. Tadi pagi beli mesin, selang, habis sekitar tiga jutaan,” ujarnya. Di jalan masuk menuju area itu, sekitar 100 meter ke arah jalan raya, dua unit mobil pemadam dengan satu tangki bertengger. Belasan petugas pemadam dan relawan lainnya juga sibuk memadamkan api di lahan gambut orang lain. Ada juga dua buah helikopter water bombing yang lalu-lalang sejak siang di atas atap pondok Bambang, tetapi tidak pernah menarget area perkebunan seluas 1.2 hektar miliknya. “Padahal tanaman ini untuk bekal masa pensiun, tetapi sudah habis terbakar.” Bambang bersama keluarganya berjibaku memadamkan api di lahan perkebunan miliknya di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia. Kekeringan, keterbatasan sumber air Sepanjang Agustus, seiring meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, Kalsel kekeringan parah. Terlihat dari berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Kalsel pun mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis dasarian III Agustus 2026 periode 21–31 Agustus. Dalam peta peringatan itu, Kota Banjarbaru masuk kategori Siaga, bersama Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Kotabaru, Tapin, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, Tanah Bumbu, dan Tabalong. Ada juga Kabupaten Tanah Laut yang berada pada status &#8220;Awas&#8221;, sedangkan Kabupaten Balangan masuk kategori &#8220;Waspada&#8221;. “Kekurangan curah hujan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/kekeringan-krisis-sumber-air-hantui-kalimantan-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/14/kekeringan-krisis-sumber-air-hantui-kalimantan-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Laut Indonesia Jalur Migrasi Lumba-lumba, Namun Data Populasinya Sangat Sedikit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/14/laut-indonesia-jalur-migrasi-lumba-lumba-namun-data-populasinya-sangat-sedikit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/14/laut-indonesia-jalur-migrasi-lumba-lumba-namun-data-populasinya-sangat-sedikit/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 02:36:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/01/22015515/Gambar-2.-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133570</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut yang 17 jenis adalah lumba-lumba. Keberadaan mereka sangat penting, sebagai indikator alami bahwa ekosistem laut sehat. Perairan Indonesia menghubungkan Samudera Pasifik dan Hindia, jika lumba-lumba bermigrasi, mereka akan melewati Indonesia. Perairan Indonesia yang menjadi lokasi favorit lumba-lumba sebagai jalur migrasi atau habitatnya adalah Laut Banda, Selat Bali, Selat Lombok, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/laut-indonesia-jalur-migrasi-lumba-lumba-namun-data-populasinya-sangat-sedikit/">Laut Indonesia Jalur Migrasi Lumba-lumba, Namun Data Populasinya Sangat Sedikit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia memiliki 37 jenis mamalia laut yang 17 jenis adalah lumba-lumba. Keberadaan mereka sangat penting, sebagai indikator alami bahwa ekosistem laut sehat. Perairan Indonesia menghubungkan Samudera Pasifik dan Hindia, jika lumba-lumba bermigrasi, mereka akan melewati Indonesia. Perairan Indonesia yang menjadi lokasi favorit lumba-lumba sebagai jalur migrasi atau habitatnya adalah Laut Banda, Selat Bali, Selat Lombok, dan Laut Sawu. Dondy Arafat, pengajar Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, mengatakan perairan sehat akan mengundang lumba-lumba menetap atau melintas. Namun di sisi lain, kehadiran mereka akan meningkatkan risiko dan ancaman di sekitar perairan. “Lumba-lumba adalah mamalia laut yang berenang dengan jarak tempuh jauh. Mereka bisa mencari habitat baru di lokasi lain, beda samudera,” ungkapnya, Rabu (9/9/26). Ancaman dan risiko yang dihadapi lumba-lumba tak mengenal batas perairan. Bisa di mana dan kapan saja. Ancaman yang dihadapi seperti terjebak jaring ikan karena tangkapan tidak disengaja (bycatch) dan berakibat pada kematian, sampah plastik dan pencemaran laut, kebisingan kapal yang mengganggu komunikasi dan ekolokasi, kerusakan habitat pesisir, dan eksploitasi untuk wisata. Bisa jadi, lumba-lumba terdampar karena mengalami masalah seperti itu. Dampaknya, risiko kematian semakin tinggi. Lumba-lumba hidung botol yang terpantau di perairan Malang, Jawa Timur. Falahi Mubarok/ Mongabay Indonesia. Jalur migrasi Perlindungan bisa dilakukan pada habitat dan jalur migrasi lumba-lumba. Menurutnya, semua pihak wajib memberikan perhatian, terutama dari pemegang kebijakan seperti Pemerintah Indonesia. Mengingat, lumba-lumba bagian megafauna kelompok cetacea yang jumlahnya masih misteri sampai sekarang. “Padahal, satwa lain sudah dibentuk kelembagaan secara khusus. Megafauna sangat perlu itu.” Upaya konservasi dan perlindungan lumba-lumba di Indonesia juga menghadapi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/laut-indonesia-jalur-migrasi-lumba-lumba-namun-data-populasinya-sangat-sedikit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/14/laut-indonesia-jalur-migrasi-lumba-lumba-namun-data-populasinya-sangat-sedikit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Masyarakat Wawonii Jaga Laut di Tengah Beragam Tantangan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/14/upaya-masyarakat-wawonii-jaga-laut-di-tengah-beragam-tantangan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/14/upaya-masyarakat-wawonii-jaga-laut-di-tengah-beragam-tantangan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Sep 2026 02:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/14002414/Nelayan-Wawonii-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133364</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Pulau Wawonii bergantung pada laut dan hutan tetapi ancaman silih berganti datang, mulai dari praktik penangkapan ikan merusak yang menghancurkan terumbu karang hingga tambang nikel. Di tengah berbagai tantangan itu, masyarakat berupaya menjaga pesisir dan laut, antara lain lewat  pembentukan Kelompok Muda Jaga Laut dan Pesisir Tahi Tewabuno. Wa Niia membawa tombak berjalan pelan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/upaya-masyarakat-wawonii-jaga-laut-di-tengah-beragam-tantangan/">Upaya Masyarakat Wawonii Jaga Laut di Tengah Beragam Tantangan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Pulau Wawonii bergantung pada laut dan hutan tetapi ancaman silih berganti datang, mulai dari praktik penangkapan ikan merusak yang menghancurkan terumbu karang hingga tambang nikel. Di tengah berbagai tantangan itu, masyarakat berupaya menjaga pesisir dan laut, antara lain lewat  pembentukan Kelompok Muda Jaga Laut dan Pesisir Tahi Tewabuno. Wa Niia membawa tombak berjalan pelan seorang diri di sela karang dekat tubir pesisir Tekonea, Kecamatan Wawonii Timur, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Sulawesi Tenggara (Sultra). Tangannya menusuk-nusuk pasir dengan besi kecil runcing, menggalinya dengan kedua tangannya, menusukkan besi sekali lagi dan langsung kena perut ikan. “Tengangisi untuk sayur (lauk), tidak dijual,” kata Wa Niia sembari mengangkat ikan lalu memasukkannya ke baki-baki (keranjang kecil berbahan dasar rotan), Minggu (9/8/26). Terangisi merupakan sebutan lokal ikan pasir (Xyrichtys novacula) yang banyak hidup di perairan dangkal. Sehari-hari, perempuan 57 tahun itu, mencari gurita dan ikan di pesisir. Ikan pasir merupakan target buruan saat tangkapan gurita sedikit atau tidak ada sama sekali. Saat menyusuri pesisir, Wa Niia bercerita banyak terumbu karang mati dan memutih dengan bagian-bagian patah atau retak. Masyarakat bilang itu akibat pemakaian potasium sianida (potas) untuk menangkap ikan sejak empat tahun terakhir. Kondisi ini memperparah dampak penggunaan bahan peledak yang sudah berlangsung lama di wilayah ini. Terumbu karang memutih akibat penggunaan bahan peledak dan potas di pesisir Tekonea, Kecamatan Wawonii Timur, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: La Ode Risman Hermawan/Mongabay Indonesia Sore itu, tak hanya ikan pasir, dia juga menangkap seekor gurita (Octopus cyanea) ukuran kecil yang laku Rp20 ribu. “Termasuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/14/upaya-masyarakat-wawonii-jaga-laut-di-tengah-beragam-tantangan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/14/upaya-masyarakat-wawonii-jaga-laut-di-tengah-beragam-tantangan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asa Wujudkan Rumah Mangrove Dunia di Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/asa-wujudkan-rumah-mangrove-dunia-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/asa-wujudkan-rumah-mangrove-dunia-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 23:42:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/07132806/Tampilan-udara-hutan-mangrove-dan-sungai-di-pesisir-timur-Aceh-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133548</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Indonesia kembali menghidupkan gagasan besar yang sempat mandek selama bertahun-tahun,  mewujudkan World Mangrove Center (WMC), pusat kolaborasi global untuk konservasi dan restorasi mangrove. Dyan Murtiningsih, Direktur Jenderal  Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (Ditjen PDASRH), Kementerian Kehutanan mengatakan,  gagasan WMC sangat menjanjikan karena Indonesia memiliki modal yang sulit negara lain tandingi. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/asa-wujudkan-rumah-mangrove-dunia-di-indonesia/">Asa Wujudkan Rumah Mangrove Dunia di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Indonesia kembali menghidupkan gagasan besar yang sempat mandek selama bertahun-tahun,  mewujudkan World Mangrove Center (WMC), pusat kolaborasi global untuk konservasi dan restorasi mangrove. Dyan Murtiningsih, Direktur Jenderal  Direktorat Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (Ditjen PDASRH), Kementerian Kehutanan mengatakan,  gagasan WMC sangat menjanjikan karena Indonesia memiliki modal yang sulit negara lain tandingi. Dengan sekitar 3,4 juta hektar mangrove, Indonesia menguasai hampir seperempat luas mangrove dunia. Dia bilang, mangrove bukan sekadar kumpulan pohon di garis pantai. Mangrove, katanya,  adalah benteng alami yang melindungi garis pantai, habitat berbagai flora dan fauna, penyimpan karbon penting, sekaligus sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat pesisir. Pengelolaan mangrove, katanya,  memiliki tiga dimensi yang tidak terpisahkan, pertama, ekologis untuk menjaga keanekaragaman hayati dan keseimbangan ekosistem pesisir. Kedua, dimensi sosial-ekonomi untuk mendukung mata pencaharian dan kesejahteraan masyarakat, dan ketiga, dimensi global berupa kontribusi terhadap mitigasi dan adaptasi perubahan iklim Menurut dia, hutan pesisir ini tidak hanya menjadi benteng alami terhadap abrasi dan badai, juga habitat berbagai spesies, penyerap karbon biru, sekaligus sumber penghidupan jutaan masyarakat pesisir. Dyan bilang, luasnya mangrove Indonesia merupakan anugerah sekaligus amanah dan tanggung jawab besar. Dia mengingatkan tantangan pengelolaan mangrove kian kompleks. Dari tekanan terhadap kawasan pesisir, perubahan penggunaan lahan, pencemaran, dampak perubahan iklim, serta kapasitas kelembagaan yang belum merata di berbagai daerah. “Karena itu, tidak ada satu negara, satu kementerian, atau satu organisasi pun yang bisa menyelesaikan persoalan ini sendirian, perlu ilmu pengetahuan yang kuat, kebijakan tepat, tata kelola inklusif, pendanaan berkelanjutan, dan kemitraan yang nyata,” katanya dalam Webinar Series bertajuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/asa-wujudkan-rumah-mangrove-dunia-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/asa-wujudkan-rumah-mangrove-dunia-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Keseriusan Bali Beralih dari Energi Fosil</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/menanti-keseriusan-bali-beralih-dari-energi-fosil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/menanti-keseriusan-bali-beralih-dari-energi-fosil/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 18:12:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/05/22094859/PLTS-Kubu-Anak-Sekolah-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133513</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah baru saja meluncurkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 300 MW di Gilimanuk, Bali. Berbagai pihak pun mendorong agar proyek itu menjadi momentum bagi Bali untuk benar-benar meninggalkan pembangkit berbasis fosil. Trend Asia, LBH Bali, dan 350 Indonesia dalam pernyataannya mendesak agar proyek yang menjadi bagian dari proyek PLTS 100 Giga Watt (GW) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/menanti-keseriusan-bali-beralih-dari-energi-fosil/">Menanti Keseriusan Bali Beralih dari Energi Fosil</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah baru saja meluncurkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 300 MW di Gilimanuk, Bali. Berbagai pihak pun mendorong agar proyek itu menjadi momentum bagi Bali untuk benar-benar meninggalkan pembangkit berbasis fosil. Trend Asia, LBH Bali, dan 350 Indonesia dalam pernyataannya mendesak agar proyek yang menjadi bagian dari proyek PLTS 100 Giga Watt (GW) itu jadi momentum untuk mempercepat transisi energi secara menyeluruh dan mendorong percepatan transisi di tingkat komunitas. “Jangan sampai transisi energi hanya menjadi proyek besar yang dimiliki segelintir investor, sementara masyarakat yang ingin memasang PLTS Atap justru dibatasi,” kata  Sisilia Nurmala Dewi, Country managers 350 Indonesia. Dia katakan, pengembangan energi surya harus membuka ruang yang luas bagi PLTS skala kecil, termasuk surya atap skala rumah tangga, komunitas, fasilitas publik, maupun dunia usaha. Dia meyakini, cara ini akan menjadikan transisi energi berlangsung lebih cepat. Selain itu, juga mencegah konversi lahan dalam skala besar. Saat ini, katanya,  pengembangan surya atap masih menghadapi berbagai pembatasan menyusul terbitnya Permen ESDM No. 2 Tahun 2024. Regulasi itu  menerapkan kuota pengembangan surya atap, mengatur periode pengajuan, serta menghapus mekanisme perhitungan kelebihan energi listrik yang diekspor ke jaringan PLN sebagai pengurang tagihan listrik. Kondisi itu memperlambat pertumbuhan PLTS atap. Padahal, pembangkit skala kecil dapat berkembang lebih cepat dan tersebar tanpa perlu pembebasan lahan dalam skala besar. Di Bali, sejumlah desa sudah memasang PLTS atap terutama untuk membantu operasional mesin-mesin pertanian, pompa air di pasar tradisional, dan energi listrik untuk kegiatan di banjar, bangunan komunal untuk berbagai kegiatan. Novita Indri, Juru Kampanye Trend Asia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/menanti-keseriusan-bali-beralih-dari-energi-fosil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/menanti-keseriusan-bali-beralih-dari-energi-fosil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Beras Adan Krayan, Pangan Andalan Masyarakat Dayak Lundayeh di Bentang Kayan Mentarang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 12:21:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yovanda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/13121527/Dayak-Lundayeh2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133527</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Dayak Lundayeh di Dataran Tinggi Krayan, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih mempertahankan cara bertani tradisional, warisan orangtua mereka. Hamparan sawah mereka yang berada di dasar lembah, dikelilingi pegunungan dan hutan, berbatasan langsung dengan Malaysia. Dari lahan seluas 3.600 hektar tersebut, masyarakat membudidayakan padi adan, varietas lokal yang dikenal sebagai beras khas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/">Beras Adan Krayan, Pangan Andalan Masyarakat Dayak Lundayeh di Bentang Kayan Mentarang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Dayak Lundayeh di Dataran Tinggi Krayan, Kecamatan Krayan Barat, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masih mempertahankan cara bertani tradisional, warisan orangtua mereka. Hamparan sawah mereka yang berada di dasar lembah, dikelilingi pegunungan dan hutan, berbatasan langsung dengan Malaysia. Dari lahan seluas 3.600 hektar tersebut, masyarakat membudidayakan padi adan, varietas lokal yang dikenal sebagai beras khas Krayan. Padi adan tumbuh di antara bentang alam yang luas. Di sekelilingnya terdapat Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) seluas 1,27 juta hektar. Sementara wilayah adat Dayak Lundayeh Krayan sekitar 343.000 hektar. Bagi masyarakat Lundayeh, padi adan bukan sekadar bahan pangan, tetapi juga warisan budaya sekaligus sumber penghasilan. Otnel Akun, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Batu Pun Bersama di Desa Long Pua, Kecamatan Krayan Barat, mengatakan masyarakat mengenal beberapa jenis padi lokal. Namun, padi adan putih, merah, dan hitam yang paling banyak ditanam. Ketiganya memiliki pasar hingga ke Sarawak, Malaysia. “Ini selalu kami kirim ke sana,” ujarnya kepada Mongabay Indonesia, Jumat (14/8/26). Beras adan merupakan andalan pertanian Masyarakat Dayak Lundayeh, Kalimantan Utara. Foto: Yovanda/Mongabay Indonesia. Harga beras adan kisaran Rp350-400 ribu per kaleng, ukuran 15 kilogram. Pada kondisi tertentu, nilainya bisa mencapai Rp450 ribu. Ada sesuatu yang membuat beras ini berbeda. Masyarakat mengelola lahan secara tradisional, dengan mempertahankan pola budidaya yang tidak menggunakan bahan kimia. “Pernah menggunakan pupuk kimia, namun, kini ditinggalkan.” Para petani memanfaatkan sumber daya di sekitar mereka, termasuk kotoran dan urine kerbau untuk menyuburkan tanah. Cara tersebut bukan sesuatu yang baru, telah dikenal dari generasi sebelumnya. “Alam menyediakan segala kebutuhan kami,” ujarnya. Padi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/beras-adan-krayan-pangan-andalan-masyarakat-dayak-lundayeh-di-bentang-kayan-mentarang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kekeringan di Hulu, Ancaman bagi Air Bersih Jabodetabek</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/10152211/DSCF7056-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=133445</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, jawa, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Air yang biasanya mengalir deras di sejumlah sungai kawasan Bogor kini menyusut, bahkan menghilang. Kondisi tersebut bukan hanya mengubah wajah sungai, tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga Jabodetabek. Di Kampung Katulampa, Rosmiati terpaksa memandikan kedua anaknya di Kali Baru, saluran irigasi yang mengambil air dari Sungai Ciliwung. Pasokan air sumur di rumahnya berkurang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/">Kekeringan di Hulu, Ancaman bagi Air Bersih Jabodetabek</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Air yang biasanya mengalir deras di sejumlah sungai kawasan Bogor kini menyusut, bahkan menghilang. Kondisi tersebut bukan hanya mengubah wajah sungai, tetapi juga mengancam pasokan air bersih bagi warga Jabodetabek. Di Kampung Katulampa, Rosmiati terpaksa memandikan kedua anaknya di Kali Baru, saluran irigasi yang mengambil air dari Sungai Ciliwung. Pasokan air sumur di rumahnya berkurang. Ia juga membawa pulang air menggunakan galon bekas untuk mencuci pakaian, membersihkan peralatan rumah tangga, dan kebutuhan sanitasi. Sungai Ciliwung telah mengering selama lebih dari satu bulan. Tinggi muka air di Bendungan Katulampa bahkan mencapai titik terendah, yakni nol sentimeter. Penurunan debit juga terlihat di Kampung Pulo Geulis, Kota Bogor. Kondisi ini berpengaruh terhadap ketersediaan air baku Perumda Tirta Pakuan. Instalasi Pengolahan Air Katulampa biasanya mampu memproduksi 307,14 liter air per detik dan melayani 35.492 pelanggan di Bogor Utara, Bogor Timur, serta sebagian Kabupaten Bogor. Kekeringan juga melanda Sungai Cipamingkis yang berhulu di kawasan Puncak 2, Sukamakmur. Aliran Curug Cipamingkis diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan warga sehingga pintu air menuju sungai ditutup. Air dialirkan ke saluran irigasi dan bak penampungan yang terhubung dengan rumah-rumah penduduk. Sungai Ciherang mengalami kondisi serupa. Dasar sungai dipenuhi bebatuan tanpa aliran air, sedangkan tanah persawahan di sekitarnya retak dan tanaman padi menguning. Curah hujan rendah serta El Niño memang memperpanjang periode tanpa hujan, tetapi faktor iklim bukan satu-satunya penyebab. Wahyu Eka Styawan, Pengkampanye Urban Berkeadilan Walhi Nasional, menilai kemarau hanya menyingkap krisis ekologis yang telah lama terjadi di kawasan hulu. “Kita terlalu lama memperlakukan sungai seolah-olah ia berdiri sendiri, padahal kesehatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/kekeringan-di-hulu-ancaman-bagi-air-bersih-jabodetabek/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Desak Pemerintah Jalankan Aksi Iklim sesuai Saran Mahkamah Internasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/#respond</comments>
					<pubDate>13 Sep 2026 06:08:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/09005631/kawasan-industtri-nikel-di-Sulawesi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133484</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyoroti kontradiksi pemerintah dalam opini pendapat penasihat (advisory opinion) Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) dengan kenyataan di lapangan. Satu sisi pemerintah setuju kewajiban negara dalam aksi iklim, sisi lain, kebijakan dalam negeri justru menjadi pemicu kenaikan emisi yang memperparah krisis iklim. Advisory Opinion itu keluar 23 Juli. Pemerintah Indonesia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/">Desak Pemerintah Jalankan Aksi Iklim sesuai Saran Mahkamah Internasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyoroti kontradiksi pemerintah dalam opini pendapat penasihat (advisory opinion) Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) dengan kenyataan di lapangan. Satu sisi pemerintah setuju kewajiban negara dalam aksi iklim, sisi lain, kebijakan dalam negeri justru menjadi pemicu kenaikan emisi yang memperparah krisis iklim. Advisory Opinion itu keluar 23 Juli. Pemerintah Indonesia turut terlibat dan setuju kewajiban negara mengambil tindakan iklim dan berkontribusi terhadap respons global perubahan iklim. Christine Constanta, Manajer Pembelaan Hukum Eksekutif Nasional Walhi, mengatakan, pendapat ICJ menegaskan negara memiliki kewajiban hukum internasional untuk melindungi sistem iklim dan lingkungan hidup. Juga, bertanggung jawab atas tindakan maupun kelalaian (omission) yang menyebabkan kerusakan signifikan terhadap sistem iklim atau lingkungan. Namun, meski pemerintah Indonesia terlibat dalam advisory opinion itu, dia melihat kontradiksi. “Kalau kita melihat data-data, kontradiksi,” katanya, baru-baru ini. Data Walhi menunjukkan, 26,5 juta hektar dari kawasan hutan kurang lebih 103 juta hektar terbebani izin ekstraktif dan perkebunan. Sebanyak 21,1 juta hektar hutan terbebani perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH). Lalu, 4,7 juta hektar di bawah izin pertambangan (WIUP) dan 717.000  hektar di bawah izin perkebunan (HGU). Ini merupakan legalisasi deforestasi oleh negara. Padahal, hutan mempunyai fungsi ekologis dan menyerap karbon. Pada lahan seluas 23 juta hektar yang terbebani izin itu saja, cadangan karbonnya mencapai 2,46 miliar ton. Jika hutan itu lenyap, potensi emisinya setara sekitar 9,03 miliar ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). “Ini akan mempercepat krisis iklim dan punahnya keanekaragaman hayati.” Dia mengutip data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) yang menyebut pertambangan aktif masih sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/13/desak-pemerintah-jalankan-aksi-iklim-sesuai-saran-mahkamah-internasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>