<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=nurul-firmansyah&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/nurul-firmansyah/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 27 Jul 2026 03:11:34 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Rahasia di Balik Gerakan Menyamping Kepiting Sejak 200 Juta Tahun Lalu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/rahasia-di-balik-gerakan-menyamping-kepiting-sejak-200-juta-tahun-lalu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/rahasia-di-balik-gerakan-menyamping-kepiting-sejak-200-juta-tahun-lalu/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jul 2026 03:11:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/25053856/Salah-satu-indukan-kepiting-bakau-di-di-Hatchery-Instalasi-Guntung-yang-banyak-berasal-dari-wilayah-mangrove-tersisa-di-pesisir-timur-Pulau-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131037</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Konservasi, konservasi laut, sains dan Teknologi, dan satwa laut]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pernahkah Anda memperhatikan kepiting yang bergerak cepat di pantai? Alih-alih berjalan lurus ke depan, hewan ini justru melesat ke kanan atau kiri. Gerakannya terlihat janggal, tetapi bukan tanpa alasan. Cara berjalan tersebut merupakan hasil evolusi yang diperkirakan bermula sekitar 200 juta tahun lalu. Rahasia gerakan kepiting terletak pada susunan sendi kakinya. Struktur tersebut membuat kaki [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/rahasia-di-balik-gerakan-menyamping-kepiting-sejak-200-juta-tahun-lalu/">Rahasia di Balik Gerakan Menyamping Kepiting Sejak 200 Juta Tahun Lalu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pernahkah Anda memperhatikan kepiting yang bergerak cepat di pantai? Alih-alih berjalan lurus ke depan, hewan ini justru melesat ke kanan atau kiri. Gerakannya terlihat janggal, tetapi bukan tanpa alasan. Cara berjalan tersebut merupakan hasil evolusi yang diperkirakan bermula sekitar 200 juta tahun lalu. Rahasia gerakan kepiting terletak pada susunan sendi kakinya. Struktur tersebut membuat kaki lebih mudah digerakkan ke samping daripada ke depan. Dengan bentuk tubuh yang lebar dan pipih, kepiting dapat menghasilkan langkah menyamping yang lebih panjang dan cepat. Kemampuan ini sangat berguna ketika harus melarikan diri dari predator tanpa membuang waktu untuk memutar tubuh. Penelitian berjudul Evolution of Sideways Locomotion in Crabs menelusuri asal-usul perilaku tersebut. Para peneliti mengamati 50 spesies kepiting hidup dari lapangan, laboratorium, koleksi pribadi, hingga pasar ikan. Pergerakan setiap kepiting direkam, lalu dibagi menjadi dua kelompok: 35 spesies berjalan menyamping, sedangkan 15 lainnya bergerak maju. Tidak ditemukan jenis gerakan yang berada di antara keduanya. Data perilaku itu kemudian dipadukan dengan pohon filogenetik berbasis data genomik. Hasilnya menunjukkan bahwa semua kepiting yang berjalan menyamping berasal dari leluhur yang berjalan maju. Dalam beberapa garis keturunan, ada spesies yang kemudian kembali berjalan ke depan karena menyesuaikan diri dengan kondisi ekologis tertentu. Para peneliti memperkirakan leluhur kepiting yang berjalan menyamping muncul pada awal periode Jurassic, sekitar 200 juta tahun lalu, setelah kepunahan Trias–Jurassic. Masa itu ditandai oleh pecahnya benua raksasa Pangea, meluasnya habitat laut dangkal, serta meningkatnya persaingan antara pemangsa dan mangsa di laut. Gerak menyamping memberi kepiting keunggulan untuk bertahan. Mereka dapat melarikan diri dengan cepat ke&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/rahasia-di-balik-gerakan-menyamping-kepiting-sejak-200-juta-tahun-lalu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/rahasia-di-balik-gerakan-menyamping-kepiting-sejak-200-juta-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Rawa Paminggir Merajut Asa di Tengah Susutnya Tangkapan Ikan Rawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-rawa-paminggir-merajut-asa-di-tengah-susutnya-tangkapan-ikan-rawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-rawa-paminggir-merajut-asa-di-tengah-susutnya-tangkapan-ikan-rawa/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jul 2026 01:30:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/26202336/toman1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131149</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, komunitas lokal, Lahan Basah, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hingga matahari di atas kepala, hasil tangkapan Lamsah, warga Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan (Kalsel), tidak memuaskan. Berjibaku sejak subuh, perempuan 50 tahun ini baru mendapat empat kilogram ikan kecil dari hasil menarik rengge (jaring insang yang terbentang memanjang di bawah air). &#8220;Sudah sejak subuh di sini dan belum dapat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-rawa-paminggir-merajut-asa-di-tengah-susutnya-tangkapan-ikan-rawa/">Nelayan Rawa Paminggir Merajut Asa di Tengah Susutnya Tangkapan Ikan Rawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hingga matahari di atas kepala, hasil tangkapan Lamsah, warga Desa Bararawa, Kecamatan Paminggir, Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan (Kalsel), tidak memuaskan. Berjibaku sejak subuh, perempuan 50 tahun ini baru mendapat empat kilogram ikan kecil dari hasil menarik rengge (jaring insang yang terbentang memanjang di bawah air). &#8220;Sudah sejak subuh di sini dan belum dapat banyak ikan,&#8221; katanya akhir Juni. Paminggir adalah padang rawa raksasa. Luas 156 kilometer², setara satu setengah Kota Banjarmasin. Kawasan ini habitat berbagai ikan air tawar–mulai dari puyau, papuyu, haruan, seluang, sepat, sanggi, sanggang, lais, pipih, biawan, baung, hingga jelawat. Tangkapan di kampung ini sudah berkurang. Jika dahulu bisa memperoleh puluhan kilogram ikan dengan gampang, kini mencari lima kilogram saja terasa sulit. &#8220;Lima tahun belakangan hasil tangkapan terus berkurang. Apalagi tahun ini, susah sekali.&#8221; Dahulu, katanya, sehari bisa dapat Rp100.000 sampai Rp150.000. Itu waktu harga ikannya murah. Sekarang mencari Rp50 ribu saja berat.&#8221; Padahal, rawa itu tumpuan hidup mayoritas penduduk Paminggir. Lamsah telah menjadi nelayan sejak remaja. Awalnya, dia hanya membantu ibundanya, lalu mulai mandiri di kemudian hari. Ibu 3 anak ini masih mencari ikan untuk menambal penghasilan suaminya yang juga nelayan. &#8220;Sekarang kalau cuma berharap dari pendapatan abahnya (suami), bisa tidak cukup untuk kebutuhan hidup.” Rusmiati, tetangganya, bernasib sama. Meski sudah memasang rengge sebelum matahari terbit, perempuan 53 tahun itu hanya mengumpulkan sekitar 2,5 kilogram ikan. &#8220;Dapat Rp25.000 tetap disyukuri. Memang susah mencari ikan dalam lima tahun terakhir. Beberapa jenis ikan, seperti lais, pipih, dan sanggang, bahkan sudah jarang ditemui,&#8221; kata ibu tiga anak itu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-rawa-paminggir-merajut-asa-di-tengah-susutnya-tangkapan-ikan-rawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-rawa-paminggir-merajut-asa-di-tengah-susutnya-tangkapan-ikan-rawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nelayan Banda Aceh Upaya Jaga Tradisi Tarek Pukat di Tengah Tantangan Sampah Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-banda-aceh-upaya-jaga-tradisi-tarek-pukat-di-tengah-tantangan-sampah-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-banda-aceh-upaya-jaga-tradisi-tarek-pukat-di-tengah-tantangan-sampah-laut/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jul 2026 01:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nurul Hasanah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/24100202/Foto-7-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131038</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, gaya hidup, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di bawah matahari pagi yang mulai menyengat, tujuh orang berdiri di bibir Pantai Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, Aceh. Kaki mundur seirama, menarik jaring sepanjang 700 meter yang sebelumnya mereka tebar di laut. “Terus.. teruss.. mundur!,” kata Surya Abid, Ketua Kelompok Nelayan Gampong Jawa berdiri di barisan paling depan memberi aba-aba. Suaranya memecah debur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-banda-aceh-upaya-jaga-tradisi-tarek-pukat-di-tengah-tantangan-sampah-laut/">Nelayan Banda Aceh Upaya Jaga Tradisi Tarek Pukat di Tengah Tantangan Sampah Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di bawah matahari pagi yang mulai menyengat, tujuh orang berdiri di bibir Pantai Gampong Jawa, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, Aceh. Kaki mundur seirama, menarik jaring sepanjang 700 meter yang sebelumnya mereka tebar di laut. “Terus.. teruss.. mundur!,” kata Surya Abid, Ketua Kelompok Nelayan Gampong Jawa berdiri di barisan paling depan memberi aba-aba. Suaranya memecah debur ombak, mengatur ritme tarikan hingga jaring sampai ke daratan. Pagi itu, hari ketiga mereka melaksanakan tradisi tarek pukat setelah sudah hampir sebulan absen. Angin barat membawa timbulan sampah berupa batang kayu, ranting, dan plastik yang membuat mereka enggan melaut. “Kalau ada sampah, kami hanya bisa menjadi penonton. Kalau tetap labuh bikin jaring robek sementara hasil nggak ada. Habis itu, kami juga capek buat jaring lagi. Kadang bisa 3-4 hari. Belum lagi sekali rehab biayanya sampai Rp7 juta,” kata Surya, Kamis (9/7/26). Efendi, apid atau pembantu panglima laot sedang menjahit pukat yang sobek. Foto: Nurul Hasanah/Mongabay Indonesia Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Upaya pertahankan tradisi Tradisi tarek pukat sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir sejak masa Kesultanan Aceh. Di Banda Aceh, sudah tak banyak terapkan cara menangkap ikan secara gotong royong ini. Selain di Gampong Jawa, tradisi ini juga ada di empat kecamatan pesisir, yakni, Syiah Kuala, Kuta Alam, Kutaraja, dan Meuraxa. Tarek pukat biasa mereka lakukan selama 2–3 hari sekali tergantung cuaca, mulai dari pukul 9.00, selepas tengah hari dan sekitar pukul 15.00-an. Surya bilang, mereka berupaya mempertahankan tradisi  leluhur ini di tengah banyaknya pilihan alat tangkap. Tak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-banda-aceh-upaya-jaga-tradisi-tarek-pukat-di-tengah-tantangan-sampah-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/27/nelayan-banda-aceh-upaya-jaga-tradisi-tarek-pukat-di-tengah-tantangan-sampah-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Flamingo Tidak Jatuh Saat Berdiri Satu Kaki, Bahkan Ketika Tidur?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-flamingo-tidak-jatuh-saat-berdiri-satu-kaki-bahkan-saat-tidur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-flamingo-tidak-jatuh-saat-berdiri-satu-kaki-bahkan-saat-tidur/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 23:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/11/22043130/Flamingo-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131015</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dengan leher panjang, bulu merah jambu, dan kaki kurus menjulang, flamingo merupakan salah satu burung yang paling mudah dikenali. Namun, ada satu perilakunya yang terus mengundang rasa penasaran: burung ini mampu berdiri dengan satu kaki dalam waktu lama, bahkan ketika sedang tidur. Bagi manusia, mempertahankan posisi seperti itu membutuhkan kerja otot dan konsentrasi. Pada flamingo, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-flamingo-tidak-jatuh-saat-berdiri-satu-kaki-bahkan-saat-tidur/">Mengapa Flamingo Tidak Jatuh Saat Berdiri Satu Kaki, Bahkan Ketika Tidur?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dengan leher panjang, bulu merah jambu, dan kaki kurus menjulang, flamingo merupakan salah satu burung yang paling mudah dikenali. Namun, ada satu perilakunya yang terus mengundang rasa penasaran: burung ini mampu berdiri dengan satu kaki dalam waktu lama, bahkan ketika sedang tidur. Bagi manusia, mempertahankan posisi seperti itu membutuhkan kerja otot dan konsentrasi. Pada flamingo, justru sebaliknya. Berdiri dengan satu kaki ternyata membutuhkan lebih sedikit energi dibandingkan berdiri dengan kedua kaki. Rahasia kemampuan tersebut terletak pada struktur tubuhnya. Penelitian yang dipimpin Young Hui Chang dari Georgia Institute of Technology dan Lena H. Ting dari Emory University menemukan bahwa sendi kaki flamingo memiliki posisi istirahat yang dapat “terkunci”. Mekanisme ini memungkinkan berat tubuhnya bertumpu pada satu sisi tanpa memerlukan aktivitas otot untuk terus menjaga keseimbangan. Temuan itu diperoleh melalui pengamatan terhadap flamingo hidup dan mati. Dari rekaman flamingo remaja di Kebun Binatang Atlanta, peneliti melihat bahwa gerakan tubuh burung berkurang ketika tertidur sambil berdiri dengan satu kaki. Eksperimen lain memberikan hasil yang lebih mengejutkan. Dua flamingo yang telah mati dari Kebun Binatang Birmingham dapat ditempatkan dalam posisi berdiri dengan satu kaki tanpa penyangga. Tubuh mereka tetap tegak meskipun tidak ada otot yang bekerja. Fenomena ini disebut mekanisme berdiam gravitasional pasif. Selain menghemat energi, berdiri dengan satu kaki diduga membantu flamingo menjaga suhu tubuh. Kaki menjadi salah satu bagian tubuh yang dapat melepaskan panas dengan cepat, terutama ketika berada di air. Dengan mengangkat dan menyembunyikan salah satu kakinya di balik bulu, flamingo dapat mengurangi bagian tubuh yang terpapar udara atau air dingin.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-flamingo-tidak-jatuh-saat-berdiri-satu-kaki-bahkan-saat-tidur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mengapa-flamingo-tidak-jatuh-saat-berdiri-satu-kaki-bahkan-saat-tidur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketekunan Harisyah Pulihkan Mangrove Tanjung Kuras</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/26/ketekunan-harisyah-pulihkan-mangrove-tanjung-kuras/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/26/ketekunan-harisyah-pulihkan-mangrove-tanjung-kuras/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 17:42:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/26173136/Harisyah-menancapkan-kayu-penanda-lokasi-tanam-mangrove.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131140</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Petang awal Juli lalu, Harisyah belum juga selesai dengan pekerjaannya. Di tepi Sungai Siak, dia mengayunkan parang, menebas ranting dan menancapkan puluhan batang kayu, berderet, jarak sekitar 1,5 meter. Harisyah bekerja sejak pagi. Muka berpeluh. Baju pun basah. Lumpur sudah menempel di celananya. Dia sedang siapkan lahan untuk tanam mangrove. Lokasi itu tak jauh dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/ketekunan-harisyah-pulihkan-mangrove-tanjung-kuras/">Ketekunan Harisyah Pulihkan Mangrove Tanjung Kuras</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Petang awal Juli lalu, Harisyah belum juga selesai dengan pekerjaannya. Di tepi Sungai Siak, dia mengayunkan parang, menebas ranting dan menancapkan puluhan batang kayu, berderet, jarak sekitar 1,5 meter. Harisyah bekerja sejak pagi. Muka berpeluh. Baju pun basah. Lumpur sudah menempel di celananya. Dia sedang siapkan lahan untuk tanam mangrove. Lokasi itu tak jauh dari rumahnya di Kampung Tanjung Kuras, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau. Persiapan itu untuk sambut tamu dari Malaysia dan Pekanbaru. Pada 6 Juli 2026 itu akan tanam mangrove. Saat momen tiba, puluhan warga dan siswa sekolah—kebetulan hari itu masih libur kenaikan kelas—berbondong-bondong mereka menyusuri lumpur, mengisi lubang tanam dengan bibit bakau yang sudah tertumpk di sana. “Lokasi ini juga akan kita jadikan rumah bibit baru. Anak-anak generasi alam akan lebih dekat belajar dan memahami mangrove. Bermain sekaligus berkegiatan,” katanya. Pria 53 tahun ini, berharap ada generasi. Untuk itu, dia libatkan anak-anak. Kalau sudah usia dewasa, bahkan berumah tangga, orang-orang akan sibuk memikirkan ekonomi. “Pak Haris, sudah tua. Beberapa tahun lagi tidak tahu kondisi tenaganya. Tapi kalau adik-adik ini, pada fase pertumbuhan sudah mengetahui mangrove, harapannya ke depan ikut peduli dengan alam yang ada di desanya,” kata Mulyadi, Direktur Yayasan Gambut. Yayasan Gambut (YG) gandeng Haris untuk rehabilitasi mangrove berbasis masyarakat. Program ini kerjasama Global Environment Center (GEC) dukungan Aramco Asia Singapura. Tanjung Kuras, adalah satu dari empat lokasi target, tiga di Bengkalis. Kolaborasi di Tanjung Kuras sudah berlangsung lama. Sebelum pemulihan mangrove, kerja sama lingkungan ini juga pada upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/ketekunan-harisyah-pulihkan-mangrove-tanjung-kuras/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/26/ketekunan-harisyah-pulihkan-mangrove-tanjung-kuras/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Upaya Jawa Timur Siaga Kemarau Panjang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/26/jawa-timur-siaga-dampak-el-nino-godzila/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/26/jawa-timur-siaga-dampak-el-nino-godzila/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 13:03:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22003922/Pertanian-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131118</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemerintah  Jawa Timur (Jatim) meningkatkan kesiapsiagaan antisipasi dampak kemarau panjang (El-Nino)  Godzila. Mulai dari terbitkan status siaga sampai melihat kerentanan daerah-daerah di Jatim saat kemarau dan cari cara tanganinya. Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim   terbitkan surat status siaga kekeringan di tujuh daerah, meliputi Bangkalan, Lamongan, Pasuruan, Blitar, Lumajang, Bondowoso, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/jawa-timur-siaga-dampak-el-nino-godzila/">Bagaimana Upaya Jawa Timur Siaga Kemarau Panjang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemerintah  Jawa Timur (Jatim) meningkatkan kesiapsiagaan antisipasi dampak kemarau panjang (El-Nino)  Godzila. Mulai dari terbitkan status siaga sampai melihat kerentanan daerah-daerah di Jatim saat kemarau dan cari cara tanganinya. Gatot Soebroto, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim   terbitkan surat status siaga kekeringan di tujuh daerah, meliputi Bangkalan, Lamongan, Pasuruan, Blitar, Lumajang, Bondowoso, dan Banyuwangi. Sebanyak 40 juta jiwa berisiko terdampak krisis air. Data BMKG menyebutkan,  puncak musim panas di Jatim terjadi pada Agustus-September. BPBD  telah melakukan sejumlah langkah kesiapsiagaan menghadapi El Nino 2026. “Penanganan yang bersifat tanggap darurat, sementara dan jangka pendek. Seperti di Bondowoso dengan mendistribusikan air bersih sebanyak 10.000 liter,” ujar Gatot. Antisipasi juga BPBD lakukan terhadap sekitar 373.053 hektar lahan potensi kekeringan, mulai tingkat sedang hingga tinggi. Gatot menyebut, Bondowoso dan Situbondo sebagai wilayah yang setiap tahun rawan kekeringan. Jadi,  setiap tahun ada distribusi air bersih ke permukiman. “Kami pernah mengebor di wilayah Bondowoso, sangat dalam. Alhamdulillah airnya bisa dimanfaatkan masyarakat untuk keperluan sehari-hari,” kata Gatot. Kekeringan di Desa Badur, Sumenep, Madura, yang menyebabkan kekeringan hingga warga krisis air beberapa tahun lalu. Foto: Moh Tamimi/ Mongabay Indonesia Untuk penanganan kekeringan dalam jangka panjang perlu keterlibatan semua pihak, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Cipta Karya, perguruan tinggi dan swasta membuat embung, pipanisasi, di daerah yang langganan kekeringan, seperti di Singosari, Kabupaten Malang,  pasang pipa dari sumber air di lereng Gunung Arjuna ke perkampungan. Dia mengimbau,  wali kota dan bupati di Jatim mengoptimalkan embung, sumur resapan, dan kolam untuk memanen air hujan. Tujuannya, menyimpan air hujan untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/jawa-timur-siaga-dampak-el-nino-godzila/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/26/jawa-timur-siaga-dampak-el-nino-godzila/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kelapa yang Menjadi Andalan Masyarakat Flores Timur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/26/kelapa-yang-menjadi-andalan-masyarakat-flores-timur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/26/kelapa-yang-menjadi-andalan-masyarakat-flores-timur/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 10:03:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/26095821/PENJEMURAN-KELAPA-DI-DALAM-REM-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131122</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi bisnis, hutan indonesia, nusa tenggara, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hamparan kebun kelapa membentang di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT. Data BPS NTT menyebutkan, tahun 2025 produksi kelapa Flores Timur mencapai 18.639,13 ton, diikuti Kabupaten Sikka 13.625,34 ton dan Kabupaten Ende 8.969,78 ton. “Kelapa dari Adonara dijual ke luar daerah melalui Kota Maumere, Sikka, berupa gelondongan dan kopra,“ ucap Eman Waton, warga Kota Larantuka, akhir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/kelapa-yang-menjadi-andalan-masyarakat-flores-timur/">Kelapa yang Menjadi Andalan Masyarakat Flores Timur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hamparan kebun kelapa membentang di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT. Data BPS NTT menyebutkan, tahun 2025 produksi kelapa Flores Timur mencapai 18.639,13 ton, diikuti Kabupaten Sikka 13.625,34 ton dan Kabupaten Ende 8.969,78 ton. “Kelapa dari Adonara dijual ke luar daerah melalui Kota Maumere, Sikka, berupa gelondongan dan kopra,“ ucap Eman Waton, warga Kota Larantuka, akhir Juni 2026. Kelapa menjadi bagian penting masyarakat Flores Timur, sebagai sumber pangan, ekonomi, maupun energi. “Kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ekonomi hijau yang mendukung transisi energi,” sebut Melki Koli Baran, Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS), awal Juli 2026. YPPS mendorong perempuan menjadi aktor utama pengembangan ekonomi hijau dan energi terbarukan di tingkat komunitas. Mereka dilatih mengolah kopra putih memanfaatan energi surya, mengembangkan briket tempurung kelapa, serta membuat usaha produktif berbasis sumber daya lokal. “Transisi energi tidak hanya menghasilkan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi, memperkuat ketahanan keluarga, serta meningkatkan kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas,” ungkapnya. Rumah penjemuran kelapa menggunakan energi matahari di Desa Adobala, Flores Timur, NTT. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia. Rumah jemur energi matahari Sebanyak 16 anggota Konten Kaka Rindu, Desa Adobala, tengah mencungkil daging kelapa yang dikeluarkan dari rumah penjemuran menggunakan energi matahari. Rumah jemur terbuat dari balok kelapa bertingkat dua, berbentuk setengah lingkaran. Di dalamnya ada rak bambu belah untuk meletakkan kelapa, di bagian tengah dan kedua sisi rumah. Lapisan plastik ultra violet bening, menutupi rumah jemur yang berfungsi menyerap sinar mentari. “Sebelum menggunakan rumah ini, kelapa kami jemur di tanah beralaskan terpal. Butuh waktu minimal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/kelapa-yang-menjadi-andalan-masyarakat-flores-timur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/26/kelapa-yang-menjadi-andalan-masyarakat-flores-timur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hidup Tanpa Cahaya di Dalam Gua, Ikan Ini Kehilangan Rongga Matanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 06:00:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233456/Ikan-wader-jenis-baru-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131006</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[karst, Konservasi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jauh di dalam gua karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hidup seekor ikan kecil yang tidak pernah melihat cahaya. Namanya Barbodes klapanunggalensis, ikan wader endemik yang telah beradaptasi begitu jauh hingga bukan hanya kehilangan mata, tetapi juga seluruh rongga matanya. Ikan ini menghuni kolam-kolam kecil berisi air jernih yang merembes dari lantai gua. Siripnya transparan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/">Hidup Tanpa Cahaya di Dalam Gua, Ikan Ini Kehilangan Rongga Matanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jauh di dalam gua karst Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hidup seekor ikan kecil yang tidak pernah melihat cahaya. Namanya Barbodes klapanunggalensis, ikan wader endemik yang telah beradaptasi begitu jauh hingga bukan hanya kehilangan mata, tetapi juga seluruh rongga matanya. Ikan ini menghuni kolam-kolam kecil berisi air jernih yang merembes dari lantai gua. Siripnya transparan, sementara tubuhnya memiliki warna keperakan dengan garis kemerahan. Di dalam air, ikan tersebut cenderung berenang tenang. Namun, ketika mendeteksi gangguan, ia dapat bergerak cepat. Kemampuan itu menunjukkan bahwa kehilangan mata bukan berarti kehilangan kepekaan terhadap lingkungan. Dalam kegelapan total, penglihatan tidak lagi memberikan manfaat. Melalui proses evolusi, B. klapanunggalensis justru mengandalkan indra lain untuk mengenali gerakan, getaran, gelombang air, dan perubahan di sekitarnya. Spesies ini pertama kali terlihat oleh para penelusur gua pada 2020. Dua tahun kemudian, tim peneliti kembali ke lokasi dan mengambil dua spesimen, masing-masing satu jantan dan satu betina. Setelah melalui penelitian selama tiga tahun, ikan tersebut resmi diperkenalkan sebagai spesies baru dalam jurnal ZooKeys pada Februari 2025. Menariknya, kedua spesimen ditemukan di dua kolam berbeda yang tidak terhubung oleh aliran air. Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang cara keduanya berpindah dan berkembang biak. Hingga kini, kehidupan ikan tersebut masih menyimpan banyak teka-teki. Gua tempatnya hidup merupakan laboratorium alami untuk mempelajari evolusi. Lingkungan tanpa cahaya dan sumber energi yang terbatas memaksa organisme mengembangkan strategi khusus agar dapat bertahan. Hampir seluruh spesies khas gua juga memiliki tingkat endemisitas tinggi. Sebagian bahkan hanya ditemukan di satu gua atau lorong tertentu. Keunikan itu sekaligus membuat B.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/hidup-tanpa-cahaya-di-dalam-gua-ikan-ini-kehilangan-rongga-matanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Kebakaran TPA, Solusi Pemerintah Tak Jawab Persoalan Sampah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 03:18:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki MuazamMuhammad Ikbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/26030300/Jatiwaringin-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131016</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Tamil melihat kilauan cahaya merah dari timbulan sampah di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Cipayung, sekitar pukul 19.30  WIB, kamis (16/7/26). Api segera membesar setinggi dua meter melahap gunungan sampah tepat di depan gubuk ketika dia sedang duduk menikmati secangkir kopi di gubuknya malam itu. Perempuan 45 tahun itu bergegas keluar gubuk. “Kebakaran! kebakaran!” Cucunya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/">Menyoal Kebakaran TPA, Solusi Pemerintah Tak Jawab Persoalan Sampah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Tamil melihat kilauan cahaya merah dari timbulan sampah di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Cipayung, sekitar pukul 19.30  WIB, kamis (16/7/26). Api segera membesar setinggi dua meter melahap gunungan sampah tepat di depan gubuk ketika dia sedang duduk menikmati secangkir kopi di gubuknya malam itu. Perempuan 45 tahun itu bergegas keluar gubuk. “Kebakaran! kebakaran!” Cucunya segera lapor ke pos satpam TPA di Kota Depok, Jawa Barat ini. “Api langsung gede. Tiba-tiba api merah bae!” ujar Tamil ketika Mongabay temui Jumat (17/7/26). Saat si jago merah melahap timbulan sampah kondisi sekitar tampak sepi. Hanya terdapat beberapa truk terparkir di sekitar gunungan sampah itu. Dia melihat api juga menyambar truk berisi sampah. Satpam dan supir truk berjibaku memadamkan api dengan alat seadanya. Tak lama, delapan mobil pemadam kebakaran tiba. Reni Siti Nuraeni, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok bilang, api pada 30-45 menit sebelum sempat meluas membakar kawasan pembuangan sampah itu. “Yang terbakar luasnya sekitar 20-25 meter pesegi. Karena itu tadi segera kami lokalisir,”  katanya kepada Mongabay. Dia mengatakan, tidak ada korban jiwa atau luka-luka akibat insiden kebakaran. Hanya dua truk Pemerintah Kota Depok (Pemkot) ikut tersambar panas api. Pantauan Mongabay pada Jumat siang,  area timbulan sampah setinggi sekitar lima meter menghitam seperti bekas terbakar. Truk berbaris antre hingga keluar gerbang TPA menunggu giliran pembuangan sampah. Lima eksavator berbaris vertikal mengeruk sampah, pemulung sibuk memilah sampah bernilai ekonomi di sela alat berat itu. Mobil antre membuang sampah di TPA Cipayung Depok pasca kebakaran. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Penyebab&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/26/menyoal-kebakaran-tpa-solusi-pemerintah-tak-jawab-persoalan-sampah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tsunami Dapat Melaju 800 Km per Jam, Bagaimana Nasib Satwa Laut?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tsunami-dapat-melaju-800-km-per-jam-bagaimana-nasib-satwa-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tsunami-dapat-melaju-800-km-per-jam-bagaimana-nasib-satwa-laut/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jul 2026 02:13:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/04/22063900/terjang-ombak-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130993</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ketika tsunami melintasi laut, apa yang sebenarnya terjadi pada satwa di bawah permukaan? Jawabannya bergantung pada lokasi mereka. Di laut dalam, gelombang tsunami mungkin berlalu tanpa disadari oleh sebagian besar penghuninya. Namun, ketika gelombang mendekati pantai, situasinya berubah drastis. Tsunami terjadi akibat perpindahan badan air secara tiba-tiba, biasanya dipicu perubahan vertikal pada permukaan laut. Di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tsunami-dapat-melaju-800-km-per-jam-bagaimana-nasib-satwa-laut/">Tsunami Dapat Melaju 800 Km per Jam, Bagaimana Nasib Satwa Laut?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ketika tsunami melintasi laut, apa yang sebenarnya terjadi pada satwa di bawah permukaan? Jawabannya bergantung pada lokasi mereka. Di laut dalam, gelombang tsunami mungkin berlalu tanpa disadari oleh sebagian besar penghuninya. Namun, ketika gelombang mendekati pantai, situasinya berubah drastis. Tsunami terjadi akibat perpindahan badan air secara tiba-tiba, biasanya dipicu perubahan vertikal pada permukaan laut. Di laut dalam, gelombangnya dapat melaju hingga 800 kilometer per jam. Meski sangat cepat, kenaikan permukaan air di kawasan ini terkadang hanya beberapa inci. Kapal yang berlayar di atasnya bahkan mungkin tidak menyadari bahwa gelombang tsunami sedang melintas. Hal serupa dapat terjadi pada satwa yang hidup jauh di bawah permukaan. Bahaya sesungguhnya muncul saat gelombang memasuki perairan dangkal. Kecepatannya berkurang, tetapi ketinggian dan daya rusaknya meningkat. Air pantai yang tersedot ke arah laut dapat menyeret satwa keluar dari habitatnya. Hewan yang tidak mampu mengikuti pergerakan air berisiko terdampar, terluka, atau mati. Ketika gelombang menghantam pesisir, bukan hanya satwa yang terkena dampaknya. Habitat penting seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan hamparan rumput laut juga dapat rusak parah. Padahal, kawasan-kawasan ini merupakan tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai jenis ikan serta organisme laut lainnya. Terumbu karang bahkan berperan sebagai pemecah gelombang alami, tetapi tetap dapat hancur akibat kekuatan tsunami. Ancaman belum berakhir setelah air surut. Gelombang yang kembali ke laut membawa puing, bahan kimia beracun, dan berbagai benda berbahaya dari daratan. Sedimen dasar laut ikut teraduk, membuat air menjadi keruh dan menurunkan kualitasnya. Satwa yang selamat dari hantaman awal pun dapat mati kemudian akibat rusaknya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tsunami-dapat-melaju-800-km-per-jam-bagaimana-nasib-satwa-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tsunami-dapat-melaju-800-km-per-jam-bagaimana-nasib-satwa-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sampah Plastik Ancam Biodiversitas Laut dan Rugikan Ekonomi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/25/sampah-plastik-ancam-biodiversitas-laut-dan-rugikan-ekonomi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/25/sampah-plastik-ancam-biodiversitas-laut-dan-rugikan-ekonomi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 13:12:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[polusi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/24202139/20260628_145826-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131056</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>World Economic Forum (WEF) melaporkan polusi plastik menjadi salah satu penyebab hilangnya keanekaragaman hayati di dunia. Sejak 1950, produksi plastik tahunan terus melonjak, dari 2 juta ton menjadi hampir 500 juta ton. Daur ulang hanya 10%. Sebanyak 130 juta ton sampah plastik mencemari air, udara dan tanah. WEF juga prediksi,  lonjakan sampah plastik akan meningkat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/sampah-plastik-ancam-biodiversitas-laut-dan-rugikan-ekonomi/">Sampah Plastik Ancam Biodiversitas Laut dan Rugikan Ekonomi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[World Economic Forum (WEF) melaporkan polusi plastik menjadi salah satu penyebab hilangnya keanekaragaman hayati di dunia. Sejak 1950, produksi plastik tahunan terus melonjak, dari 2 juta ton menjadi hampir 500 juta ton. Daur ulang hanya 10%. Sebanyak 130 juta ton sampah plastik mencemari air, udara dan tanah. WEF juga prediksi,  lonjakan sampah plastik akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada 2040 jika tak ada tindakan nyata dari komunitas global. Jumlah itu setara dengan membuang satu truk sampah setiap detik ke alam. Dampak ekonomi dari fenomena ini sangat besar. Sebanyak 75-150 juta ton plastik di laut global sebabkan kerugian antara US$500 miliar dan US$2,5 triliun dari jasa lingkungan ekosistem laut yang hilang atau berkurang setiap tahun. Banyak sektor terdampak, mulai dari perikanan hingga pariwisata, termasuk kerugian ekonomi karena hilangnya penyerapan karbon karena hutan bakau rusak. Sedangkan emisi gas rumah kaca plastik sebanyak 2,7 miliar ton per tahun dengan perkiraan  melampaui emisi setiap negara pada 2040. Alaika Rahmatullah, Peneliti Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton katakan, pada konteks lokal, kondisi laut Indonesia juga tak tak memprihatinkan akibat ‘kebocoran sampah’ dari sungai. “Data kami, kebocoran sampah di laut 82% berasal dari sungai dan 18%  dari pesisir dan pantai,” katanya. Dia bilang, buruknya tata kelola sampah dari hulu memperburuk situasi itu. Penelitian Ecoton pada 2026 menyebutkan, kawasan pesisir utara Kota Surabaya aliran sampah dari sungai yang ke laut rata-rata mencapai 1,5 ton per harinya “Kenaikan sebanyak hampir 10 kali lipat jika dibandingkan temuan kami di 2023.&#8221; Dia tegaskan, penanganan sampah laut seharusnya  dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/sampah-plastik-ancam-biodiversitas-laut-dan-rugikan-ekonomi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/25/sampah-plastik-ancam-biodiversitas-laut-dan-rugikan-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ada Ikan Gobi Baru dari Laut Banyuwangi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ada-ikan-gobi-baru-dari-laut-banyuwangi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ada-ikan-gobi-baru-dari-laut-banyuwangi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 10:48:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/25104003/Ikan-gobi-banyuwangi1.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131080</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ikan gobi kalah populer dibanding ikan badut, yang diwakili Nemo dalam budaya pop. Sama-sama hidup di terumbu karang dan ekosistem laut dangkal, ikan gobi sering dipandang sebelah mata. Umumnya, ikan gobi (famili Gobiidae) berwarna serupa pasir dasar laut. Kusam, kelabu kehitaman. Meski sebenarnya dari sekitar dua ribu tiga ratus spesies, beberapa ratus di antaranya berwarna [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/ada-ikan-gobi-baru-dari-laut-banyuwangi/">Ada Ikan Gobi Baru dari Laut Banyuwangi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ikan gobi kalah populer dibanding ikan badut, yang diwakili Nemo dalam budaya pop. Sama-sama hidup di terumbu karang dan ekosistem laut dangkal, ikan gobi sering dipandang sebelah mata. Umumnya, ikan gobi (famili Gobiidae) berwarna serupa pasir dasar laut. Kusam, kelabu kehitaman. Meski sebenarnya dari sekitar dua ribu tiga ratus spesies, beberapa ratus di antaranya berwarna cerah dan beberapa bahkan menghiasi aquascape. Mungkin, karena kurangnya ekspos ikan gobi urung menjadi ikan favorit seperti ikan badut (subfamili Amphiprioninae). Baru-baru ini, sekelompok peneliti BRIN berhasil mendeskripsikan spesies baru ikan gobi hasil tangkapan nelayan Banyuwangi. Spesies baru ini diberi nama ikan gobi udang atau Tomiyamichthys oriens. Oriens berasal dari Bahasa Latin yang berarti timur atau matahari terbit. Nama ini dipilih karena tubuhnya memiliki bercak oranye terang menyerupai cahaya matahari terbit. Sebagai lokasi penemuan, Banyuwangi, Jawa Timur, dikenal sebagai “Sunrise of Java” karena letaknya di ujung timur Pulau Jawa. Suatu hari, nelayan Banyuwangi bernama Darsono, memberikan tangkapan ikan gobi ke sebuah perusahaan eksportir ikan hias dan biota laut. Dari sana spesimen kemudian sampai ke peneliti BRIN. “Kami mengombinasikan karakter morfologi dengan analisis DNA untuk memperoleh bukti lebih komprehensif. Hasilnya, Tomiyamichthys oriens memiliki karakter yang konsisten dan berbeda dari spesies terdekatnya, sehingga layak ditetapkan sebagai spesies baru,&#8221; ujar Kunto Wibowo, mewakili tim peneliti, dalam laporan di jurnal ZooKeys, edisi 24 Juni 2026. Laporan tersebut berjudul “Tomiyamichthys oriens, a new species of shrimpgoby (Teleostei, Gobiidae) from the coast of Banyuwangi, East Java, Indonesia.” “Spesies ini sangat mirip dengan spesies Jepang yang baru dideskripsikan T. hyacinthinus Sato &amp; Motomura, 2025, terutama karena memiliki&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/ada-ikan-gobi-baru-dari-laut-banyuwangi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ada-ikan-gobi-baru-dari-laut-banyuwangi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tidur di Ketinggian 20 Meter, Apakah Orangutan Juga Bermimpi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-di-ketinggian-20-meter-apakah-orangutan-juga-bermimpi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-di-ketinggian-20-meter-apakah-orangutan-juga-bermimpi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 06:00:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/11103845/Orangutan-tapanuli_Junaidi-Mongabay1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130977</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap malam, orangutan tidak sekadar mencari cabang untuk beristirahat. Primata cerdas ini membangun “kasur” sendiri di atas pohon, lengkap dengan pondasi, alas, bahkan terkadang bantal, selimut, dan atap. Kemampuan tersebut bukan hanya memperlihatkan keterampilan bertahan hidup, tetapi juga mengisyaratkan betapa pentingnya tidur bagi kehidupan orangutan. Sarang biasanya dibangun pada ketinggian 11-20 meter. Setelah menemukan cabang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-di-ketinggian-20-meter-apakah-orangutan-juga-bermimpi/">Tidur di Ketinggian 20 Meter, Apakah Orangutan Juga Bermimpi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap malam, orangutan tidak sekadar mencari cabang untuk beristirahat. Primata cerdas ini membangun “kasur” sendiri di atas pohon, lengkap dengan pondasi, alas, bahkan terkadang bantal, selimut, dan atap. Kemampuan tersebut bukan hanya memperlihatkan keterampilan bertahan hidup, tetapi juga mengisyaratkan betapa pentingnya tidur bagi kehidupan orangutan. Sarang biasanya dibangun pada ketinggian 11-20 meter. Setelah menemukan cabang yang kokoh, orangutan membengkokkan atau mematahkan ranting lain ke arah titik pusat, kemudian merangkainya sebagai fondasi. Cabang-cabang yang lebih kecil ditambahkan di atasnya untuk membentuk alas yang empuk. Struktur ini dirancang agar berat tubuh tersebar secara merata sehingga sarang tetap stabil dan tidak mudah rusak. Sejumlah orangutan bahkan menambahkan berbagai fitur yang terbilang “mewah”. Ranting berdaun besar dapat digunakan sebagai selimut, sementara kumpulan daun lainnya dijadikan bantal. Mereka juga bisa mengepang ranting di atas kepala untuk membentuk atap atau membuat sarang tambahan di atas tempat tidur utama. Semua itu menunjukkan bahwa orangutan memahami sifat bahan dan mampu merancang tempat istirahat yang aman sekaligus nyaman. Kenyamanan tersebut berpengaruh terhadap kualitas tidur. Dibandingkan primata lain seperti babun, orangutan diketahui tidur lebih lama, lebih nyenyak, dan lebih jarang terbangun. Sarang di atas pohon juga melindungi mereka dari predator, serangga, dan kelembapan. Kebiasaan membangun tempat tidur ini diperkirakan telah muncul pada nenek moyang kera besar sekitar 14-18 juta tahun lalu. Tidur panjang dan berkualitas diduga ikut mendukung perkembangan otak yang lebih besar serta kemampuan kognitif yang tinggi pada kera besar. Lalu, apakah orangutan juga bermimpi? Hingga kini, belum ada penelitian yang secara langsung membuktikan bahwa orangutan mengalami mimpi. Kajian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-di-ketinggian-20-meter-apakah-orangutan-juga-bermimpi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/tidur-di-ketinggian-20-meter-apakah-orangutan-juga-bermimpi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Gurita Betina Memakan Pasangannya Setelah Kawin? Ini Kata Sains</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/25/mengapa-gurita-betina-memakan-pasangannya-setelah-kawin-ini-kata-sains/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/25/mengapa-gurita-betina-memakan-pasangannya-setelah-kawin-ini-kata-sains/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 03:23:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/25031526/2560px-octopus-vulgaris-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131072</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gurita dikenal sebagai salah satu hewan laut dengan siklus hidup yang singkat namun penuh perilaku unik, mulai dari kemampuan kamuflase hingga cara mereka bereproduksi. Salah satu perilaku yang paling banyak dibicarakan adalah kanibalisme seksual, yaitu ketika gurita betina memakan pejantan setelah proses kawin. Fenomena ini sering muncul di berbagai platform media sosial dengan narasi bahwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/mengapa-gurita-betina-memakan-pasangannya-setelah-kawin-ini-kata-sains/">Mengapa Gurita Betina Memakan Pasangannya Setelah Kawin? Ini Kata Sains</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gurita dikenal sebagai salah satu hewan laut dengan siklus hidup yang singkat namun penuh perilaku unik, mulai dari kemampuan kamuflase hingga cara mereka bereproduksi. Salah satu perilaku yang paling banyak dibicarakan adalah kanibalisme seksual, yaitu ketika gurita betina memakan pejantan setelah proses kawin. Fenomena ini sering muncul di berbagai platform media sosial dengan narasi bahwa betina melakukannya karena sedang tidak berminat, merasa terganggu, atau sedang dalam suasana hati yang buruk. Penjelasan semacam ini tidak akurat. Riset menunjukkan bahwa kanibalisme seksual pada gurita bukan hasil dari penolakan emosional, melainkan konsekuensi dari kebutuhan energi reproduksi dan proses fisiologis yang terprogram dalam siklus hidup gurita. Kanibalisme seksual adalah fenomena nyata yang terdokumentasi baik di alam liar maupun dalam observasi penangkaran. Pada sejumlah spesies gurita, betina diketahui membunuh dan memakan pejantan setelah, atau bahkan saat, proses kopulasi berlangsung. Penyebabnya berkaitan dengan kebutuhan energi yang besar dalam reproduksi gurita betina. Setelah pembuahan, betina berhenti makan dan mencurahkan sisa hidupnya untuk menjaga dan membersihkan telur hingga menetas. Dalam kondisi ini, tubuh pejantan menjadi sumber protein dan nutrisi tambahan yang dapat mendukung kematangan telur, sehingga berpotensi meningkatkan peluang bertahan hidup keturunannya. Bagaimana Pejantan Menghindari Risiko Dimakan Dimorfisme seksual turut memengaruhi dinamika ini, karena betina umumnya berukuran jauh lebih besar daripada pejantan. Pada gurita bergaris biru (Hapalochlaena fasciata), betina berukuran sekitar dua kali lipat pejantan, sehingga pejantan menghadapi risiko nyata setiap kali mendekat untuk kawin. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Current Biology oleh tim peneliti Universitas Queensland, Australia, mendokumentasikan bagaimana pejantan spesies ini menggigit area dekat aorta&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/mengapa-gurita-betina-memakan-pasangannya-setelah-kawin-ini-kata-sains/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/25/mengapa-gurita-betina-memakan-pasangannya-setelah-kawin-ini-kata-sains/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Konsesi Tambang dan Sawit Gerogoti Taman Nasional Kutai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ketika-konsesi-tambang-dan-sawit-gerogoti-taman-nasional-kutai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ketika-konsesi-tambang-dan-sawit-gerogoti-taman-nasional-kutai/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 02:13:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/25021140/PREVAB-TNK-BUMNU-15-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131025</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, hutan indonesia, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bertahun-tahun kerja di perusahaan batubara lokal hingga asing, Unding mengaku tidak pernah melihat satwa sebanyak saat dia bekerja di PT Tambang Damai (TD), Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) sekitar 2018-2019. Tak jarang, orangutan (Pongo pygmaeus), payau atau rusa sambar (Cervus unicolor), hingga burung rangkong (Bucerotidae) menemani kesehariannya di mess pekerja masa itu. Saat dia mandi, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/ketika-konsesi-tambang-dan-sawit-gerogoti-taman-nasional-kutai/">Ketika Konsesi Tambang dan Sawit Gerogoti Taman Nasional Kutai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bertahun-tahun kerja di perusahaan batubara lokal hingga asing, Unding mengaku tidak pernah melihat satwa sebanyak saat dia bekerja di PT Tambang Damai (TD), Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim) sekitar 2018-2019. Tak jarang, orangutan (Pongo pygmaeus), payau atau rusa sambar (Cervus unicolor), hingga burung rangkong (Bucerotidae) menemani kesehariannya di mess pekerja masa itu. Saat dia mandi, orangutan kerap masuk dan mengambil jatah sarapannya. Bahkan ketika perjalanan ke tempat kerja, payau sering berlalu lalang. Satwa yang jarang dia temui di sekitar pemukiman, seperti macan tutul kerap memperlihatkan diri di sekitar mess. Kawanan burung pun termasuk rangkong, sering nangkring di teras mess menyambutnya sepulang kerja. Perusahaan tambang batubara tempat Unding kerja ini, persis  bersebelahan dengan Taman Nasional Kutai (TNK). TD mengantongi izin konsesi 24.391 hektar, setara sepertiga Kota Samarinda. Bahkan, 19.391 hektar konsesinya masuk kawasan konservasi itu. Perusahaan mendapat izin produksi sejak 2017 dan sudah membuka dua blok galian tambang, Pit A dan Pit B. Data Kementerian Kehutanan 2020 mencatat, berbagai keanekaragaman hayati di sana, mulai burung rangkong, paok kepala bir endemik Kalimantan, orangutan, bekantan, reptil, kupu-kupu, hingga macan dahan. Saat Mongabay datangi Februari lalu, kawasan yang tumpang tindih dengan taman nasional ini justru sesak dengan sawit. Hamparan tumbuhan monokotil itu terlihat sekitar 4-7 km dari Jalan Ahmad Yani-Jalan Poros Bontang Sangatta ke kawasan TNK bagian selatan. Beberapa motor dan mobil pick up terparkir di sana, siap angkut tandan buah segar (TBS) sawit. Ada juga pembalakan liar dan bukaan lahan. Keterangan warga, bukaan lahan itu bukan untuk tambang, melainkan untuk sawit. Ironisnya, lokasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/25/ketika-konsesi-tambang-dan-sawit-gerogoti-taman-nasional-kutai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/25/ketika-konsesi-tambang-dan-sawit-gerogoti-taman-nasional-kutai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>13 Ribu Tahun Punah, Serigala House Stark di Game of Thrones Dihidupkan Kembali</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/13-ribu-tahun-punah-serigala-house-stark-di-game-of-thrones-dihidupkan-kembali/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/13-ribu-tahun-punah-serigala-house-stark-di-game-of-thrones-dihidupkan-kembali/#respond</comments>
					<pubDate>25 Jul 2026 00:30:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232528/Dire-Wolf-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130966</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dire wolf (Canis dirus) pernah menjadi predator puncak yang menakutkan di Amerika Utara dan Selatan pada Zaman Es. Satwa purba ini diperkirakan punah sekitar 13.000 tahun lalu. Namun, kemajuan rekayasa genetika kini seolah membuka jalan untuk “menghidupkannya kembali”. Perusahaan bioteknologi Colossal Biosciences mengumumkan kelahiran tiga anak serigala bernama Romulus, Remus, dan Khaleesi. Para ilmuwan menggunakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/13-ribu-tahun-punah-serigala-house-stark-di-game-of-thrones-dihidupkan-kembali/">13 Ribu Tahun Punah, Serigala House Stark di Game of Thrones Dihidupkan Kembali</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dire wolf (Canis dirus) pernah menjadi predator puncak yang menakutkan di Amerika Utara dan Selatan pada Zaman Es. Satwa purba ini diperkirakan punah sekitar 13.000 tahun lalu. Namun, kemajuan rekayasa genetika kini seolah membuka jalan untuk “menghidupkannya kembali”. Perusahaan bioteknologi Colossal Biosciences mengumumkan kelahiran tiga anak serigala bernama Romulus, Remus, dan Khaleesi. Para ilmuwan menggunakan DNA dari gigi berusia 13.000 tahun dan tengkorak berusia 72.000 tahun untuk mempelajari ciri genetik dire wolf. Informasi tersebut kemudian dipakai untuk memodifikasi genom serigala abu-abu dengan teknologi CRISPR. Embrio hasil rekayasa lalu ditanamkan pada anjing domestik yang menjadi induk pengganti. Meski disebut sebagai keberhasilan de-ekstinksi, ketiganya bukan dire wolf murni secara genetik. Mereka merupakan serigala abu-abu yang genomnya telah diubah agar memiliki sejumlah ciri fisik yang diasosiasikan dengan predator purba tersebut. Dire wolf memiliki ukuran hampir setara dengan serigala abu-abu modern terbesar, tetapi tubuhnya lebih kekar dan sekitar 25 persen lebih berat. Berat rata-ratanya mencapai 50–68 kilogram, dengan tinggi bahu sekitar 0,8–1 meter. Rahangnya kuat, giginya besar, sementara kaki yang lebih pendek membuatnya kurang lincah dibandingkan serigala modern. Tubuh semacam itu dirancang untuk menghadapi mangsa besar. Sebagai karnivora hiper, lebih dari 70 persen makanannya berupa daging. Dire wolf kemungkinan memburu kuda dan bison purba, serta memanfaatkan bangkai dan tulang saat makanan sulit ditemukan. Banyaknya fosil di satu lokasi juga mengindikasikan bahwa mereka mungkin berburu secara berkelompok. Ketergantungan pada megafauna diduga ikut membawa dire wolf menuju kepunahan. Ketika perubahan iklim menyebabkan banyak hewan besar menghilang, mereka harus bersaing dengan serigala abu-abu yang lebih fleksibel dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/13-ribu-tahun-punah-serigala-house-stark-di-game-of-thrones-dihidupkan-kembali/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/13-ribu-tahun-punah-serigala-house-stark-di-game-of-thrones-dihidupkan-kembali/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antisipasi Karhutla saat Kemarau Panjang, Jaga Gambut Tetap Basah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 13:18:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16051601/Diperkirakan-kebakaran-lahan-dan-hutan-di-rawa-gambut-di-Sumatera-Selatan-akan-terus-berlangsung.-Sebab-terus-dilakukan-pengeringan-rawa-gambut-untuk-perkebunan-dan-pertanian.-Foto-Humaidy-Kenedy-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131049</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan menghantui beberapa wilayah di Indonesia pada masa kemarau, terlebih tahun ini dari prediksi musim panas (El-Nino)  bakal lebih panjang.  Daerah dengan gambut punya tantangan tersendiri,  bagaimana menjaga lahan itu tetap basah demi mencegah kemunculan titik api (hotspot) atau kebakaran. Kementerian Lingkungan Hidup pun meminta seluruh pemegang konsesi memperketat mitigasi, dengan fokus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/">Antisipasi Karhutla saat Kemarau Panjang, Jaga Gambut Tetap Basah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan menghantui beberapa wilayah di Indonesia pada masa kemarau, terlebih tahun ini dari prediksi musim panas (El-Nino)  bakal lebih panjang.  Daerah dengan gambut punya tantangan tersendiri,  bagaimana menjaga lahan itu tetap basah demi mencegah kemunculan titik api (hotspot) atau kebakaran. Kementerian Lingkungan Hidup pun meminta seluruh pemegang konsesi memperketat mitigasi, dengan fokus utama pada pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut. Dengan target utama menekan angka kebakaran hingga menyentuh titik nol. Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup /Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), bilang, urusan gambut bukan sekedar menjaga lahan. Melainkan melindungi ekosistem yang memiliki jasa besar bagi pelestarian lingkungan, termasuk kemampuannya menyimpan karbon berkali-kali lipat dibanding tanaman biasa. &#8220;Jadi,  sebetulnya kita tidak sekadar menghindari kebakaran, tapi gambut itu sendiri bagian penting daripada ekosistem di lingkungan hidup kita,&#8221; katanya dalam Rapat Kerja Pencegahan dan Antisipasi Karhutla Pada Ekosistem Gambut di Jakarta, Jumat, (10/7/26). Jumhur bilang, strategi mitigasi ini bertumpu pada pengelolaan tata air agar lahan gambut tidak mengering hingga ke lapisan dalam. Perusahaan wajib menyekat kanal-kanal (canal blocking) agar air tak langsung terbuang ke sungai, melainkan tergenang di sekitar konsesi untuk menjaga kelembaban tanah, serta membangun embung-embung air sebagai cadangan. &#8220;Kita ingin memastikan, di konsesi mereka tidak boleh ada kebakaran. Tidak boleh ada titik-titik api yang berpotensi menjadi kebakaran, dan mitigasi itu harus dilakukan dengan berbagai cara.” Sekat kanal, kata Jumhur menjadi bagian dari strategi perlindungan ekosistem gambut sebagai salah satu benteng utama pencegahan karhutla. KLH/BPLH mencatat, hingga kini, pada gambut seluas sekitar 4,15 juta hektar 314 perusahaan kelola, terbangun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/24/antisipasi-karhutla-saat-kemarau-panjang-jaga-gambut-tetap-basah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kenali Hiu Paus, Ikan Terbesar di Dunia dengan Mulut Selebar 1,5 Meter</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 06:00:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001611/Hiu-Paus-%C2%A9%EF%B8%8F-Konservasi-Indonesia-Ismail-Syakurachman-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130943</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[konservasi laut, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuh raksasa dan nama “hiu” mungkin membuat hiu paus terdengar menakutkan. Namun, ikan bernama ilmiah Rhincodon typus ini justru dikenal jinak terhadap manusia maupun satwa laut lainnya. Sebagai ikan terbesar di dunia, hiu paus menjadi contoh bahwa ukuran besar tidak selalu identik dengan sifat ganas. Hiu paus mempunyai mulut selebar sekitar 1,5 meter. Di dalamnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/">Kenali Hiu Paus, Ikan Terbesar di Dunia dengan Mulut Selebar 1,5 Meter</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuh raksasa dan nama “hiu” mungkin membuat hiu paus terdengar menakutkan. Namun, ikan bernama ilmiah Rhincodon typus ini justru dikenal jinak terhadap manusia maupun satwa laut lainnya. Sebagai ikan terbesar di dunia, hiu paus menjadi contoh bahwa ukuran besar tidak selalu identik dengan sifat ganas. Hiu paus mempunyai mulut selebar sekitar 1,5 meter. Di dalamnya terdapat sekitar 300–350 deret gigi kecil berukuran hanya sekitar enam milimeter. Meski demikian, gigi-gigi tersebut bukanlah senjata untuk mencabik mangsa besar. Makanan hiu paus terutama berupa plankton dan ikan-ikan kecil yang di Indonesia Timur dikenal sebagai ikan furi. Makanan itu diperoleh dengan cara menyaring air laut melalui lembaran penyaring dan lima pasang insangnya yang besar. Penampilan hiu paus juga mudah dikenali. Tubuhnya berwarna keabu-abuan dengan bagian perut putih serta dihiasi bintik dan garis kekuningan yang membentuk pola menyerupai kotak. Di Indonesia, ciri tersebut membuatnya dikenal sebagai hiu totol atau gurano bintang. Menariknya, pola bintik setiap individu berbeda, layaknya sidik jari pada manusia. Ciri khas ini dapat membantu membedakan satu hiu paus dari individu lainnya. Walaupun mampu hidup hingga sekitar 70 tahun, hiu paus bukan perenang yang cepat. Kecepatannya hanya sekitar lima kilometer per jam. Gerakan yang lambat membuatnya rentan bertabrakan dengan kapal. Namun, di balik gaya berenangnya yang santai, hiu paus merupakan penyelam tangguh. Ikan ini mampu mencapai kedalaman sekitar 1.000 meter, meskipun lebih menyukai perairan dangkal pada kedalaman sekitar 50 meter. Hiu paus hidup di perairan tropis dan hangat. Di Indonesia, kemunculannya tercatat antara lain di Nabire, Kaimana, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Sabang, Situbondo,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/kenali-hiu-paus-ikan-terbesar-di-dunia-dengan-mulut-selebar-15-meter/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upwelling dan El Nino Datang Bersamaan, Tangkapan Ikan Melimpah?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 03:15:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/04/22025156/Seorang-nelayan-memperoleh-ikan-tenggiri-saat-perjalanan-menuju-Pulau-Gelasa.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131019</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fenomena upwelling telah berlangsung di Indonesia bagian selatan sejak Juni yang puncaknya diperkirakan September 2026. Kejadian alam ini datangnya bersamaan dengan el nino. Widodo Setiyo Pranomo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memiliki kepakaran Oseanografi Terapan, menjelaskan wilayah selatan Indonesia yang sudah mengalami upwelling adalah Laut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/">Upwelling dan El Nino Datang Bersamaan, Tangkapan Ikan Melimpah?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fenomena upwelling telah berlangsung di Indonesia bagian selatan sejak Juni yang puncaknya diperkirakan September 2026. Kejadian alam ini datangnya bersamaan dengan el nino. Widodo Setiyo Pranomo, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memiliki kepakaran Oseanografi Terapan, menjelaskan wilayah selatan Indonesia yang sudah mengalami upwelling adalah Laut Jawa-Bali-Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor. Upwelling merupakan fenomena alami yang sangat penting untuk keberlanjutan ekosistem laut. Biasanya, ketika upwelling terjadi, massa air dari kedalaman laut akan naik ke permukaan dengan membawa nutrien, untuk menjadi bahan makanan penting. Nutrien yang mengandung gizi penting itu akan dikonsumsi fitoplankton sebagai fondasi penting rantai makanan di laut. Saat upwelling, ikan-ikan pelagis kecil maupun besar akan mendatangi kawasan tersebut untuk mencari makan. “Kondisi ini penting, karena produktivitas perikanan meningkat tajam,” ungkapnya kepada Mongabay Indonesia, Minggu (19/7/26). Tanda-tanda upwelling adalah menurunnya suhu permukaan laut, meningkatnya salinitas air, arus ke atas, dan konsentrasi klorofil naik. Semua itu menunjukkan nutrien sudah naik ke permukaan. Naiknya klorofil ke permukaan bertujuan menangkap sinar matahari untuk menghasilkan makanan, seperti biomassa karbon dan oksigen. Jika produksi makanan berhasil, fitoplankton akan memakannya. “Semakin banyak fitoplankton maka semakin banyak oksigen. Fitoplankton dimakan zooplankton, dan zooplankton dimakan ikan kecil, lalu ikan kecil dimakan ikan besar. Itulah rantai makanan.” Saat ini, intensitas upwelling lemah dan sedang. Secara spasial belum rata, meski diamati menggunakan parameter oseanografi. Kawasan yang sudah terjadi upwelling, meluas ke Laut Banda bagian selatan-tenggara, Laut Arafura, perairan barat Sumatera hingga Laut Andaman, dan Selat Makassar mengarah ke&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/24/upwelling-dan-el-nino-datang-bersamaan-tangkapan-ikan-melimpah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Leher Lentur dan Sonar Canggih, Inilah Sederet Keunikan Pesut Mahakam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/#respond</comments>
					<pubDate>24 Jul 2026 00:30:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/11/11115135/Mahakam-River-Dolhin-RASI-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130889</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[pencemaran, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, hidup salah satu mamalia air tawar paling unik di Indonesia. Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) bukan hanya ikon daerah, tetapi juga satwa cerdas dengan berbagai kemampuan biologis yang membantunya bertahan di lingkungan sungai. Berbeda dari ikan, pesut bernapas menggunakan paru-paru, melahirkan, dan menyusui anaknya. Proses kelahirannya pun terbilang unik. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/">Leher Lentur dan Sonar Canggih, Inilah Sederet Keunikan Pesut Mahakam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik permukaan Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, hidup salah satu mamalia air tawar paling unik di Indonesia. Pesut mahakam (Orcaella brevirostris) bukan hanya ikon daerah, tetapi juga satwa cerdas dengan berbagai kemampuan biologis yang membantunya bertahan di lingkungan sungai. Berbeda dari ikan, pesut bernapas menggunakan paru-paru, melahirkan, dan menyusui anaknya. Proses kelahirannya pun terbilang unik. Anak pesut keluar dengan posisi ekor terlebih dahulu. Cara ini membantu mengurangi risiko bayi menghirup air sebelum seluruh tubuhnya berhasil dilahirkan. Bayi pesut juga memiliki rambut-rambut halus di sekitar moncong. Rambut tersebut menjadi penanda bahwa pesut merupakan mamalia, meskipun kemudian menghilang seiring pertumbuhannya. Setelah lahir, bayi akan menyusu melalui kelenjar susu induknya yang berada di bagian bawah tubuh, dekat area anus. Keunikan lain terlihat dari bentuk lehernya yang lentur. Tidak seperti kebanyakan lumba-lumba, pesut dapat menggerakkan kepala ke berbagai arah. Kemampuan ini memudahkannya bermanuver dan mencari mangsa di sungai yang keruh, dangkal, dan memiliki banyak cabang. Penglihatan bukan satu-satunya andalan pesut. Mamalia ini dilengkapi sistem sonar yang sangat canggih. Pesut memancarkan suara ultrasonik berfrekuensi tinggi, lalu membaca pantulannya untuk mengenali benda, menentukan arah, dan menemukan ikan atau udang. Sementara itu, suara berfrekuensi lebih rendah digunakan untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Pesut juga memiliki strategi berburu yang menarik. Mereka dapat menyemprotkan air dari mulut untuk mengejutkan atau membingungkan mangsa. Perilaku serupa juga dilakukan saat bermain dan berinteraksi, menunjukkan tingkat kecerdasan yang tinggi. Bahkan ketika beristirahat, pesut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Sebagian otaknya tetap aktif agar satwa ini dapat mengendalikan pernapasan dan naik ke permukaan untuk mengambil udara.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/leher-lentur-dan-sonar-canggih-inilah-sederet-keunikan-pesut-mahakam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>