Ketika tsunami melintasi laut, apa yang sebenarnya terjadi pada satwa di bawah permukaan? Jawabannya bergantung pada lokasi mereka. Di laut dalam, gelombang tsunami mungkin berlalu tanpa disadari oleh sebagian besar penghuninya. Namun, ketika gelombang mendekati pantai, situasinya berubah drastis.
Tsunami terjadi akibat perpindahan badan air secara tiba-tiba, biasanya dipicu perubahan vertikal pada permukaan laut. Di laut dalam, gelombangnya dapat melaju hingga 800 kilometer per jam. Meski sangat cepat, kenaikan permukaan air di kawasan ini terkadang hanya beberapa inci. Kapal yang berlayar di atasnya bahkan mungkin tidak menyadari bahwa gelombang tsunami sedang melintas. Hal serupa dapat terjadi pada satwa yang hidup jauh di bawah permukaan.
Bahaya sesungguhnya muncul saat gelombang memasuki perairan dangkal. Kecepatannya berkurang, tetapi ketinggian dan daya rusaknya meningkat. Air pantai yang tersedot ke arah laut dapat menyeret satwa keluar dari habitatnya. Hewan yang tidak mampu mengikuti pergerakan air berisiko terdampar, terluka, atau mati.
Ketika gelombang menghantam pesisir, bukan hanya satwa yang terkena dampaknya. Habitat penting seperti terumbu karang, hutan mangrove, dan hamparan rumput laut juga dapat rusak parah. Padahal, kawasan-kawasan ini merupakan tempat berlindung, mencari makan, dan berkembang biak bagi berbagai jenis ikan serta organisme laut lainnya. Terumbu karang bahkan berperan sebagai pemecah gelombang alami, tetapi tetap dapat hancur akibat kekuatan tsunami.
Ancaman belum berakhir setelah air surut. Gelombang yang kembali ke laut membawa puing, bahan kimia beracun, dan berbagai benda berbahaya dari daratan. Sedimen dasar laut ikut teraduk, membuat air menjadi keruh dan menurunkan kualitasnya. Satwa yang selamat dari hantaman awal pun dapat mati kemudian akibat rusaknya habitat atau memburuknya kondisi perairan.
Tsunami juga dapat memindahkan organisme dalam jarak sangat jauh. Setelah tsunami Jepang, misalnya, ratusan spesies terbawa hingga ke pesisir Amerika. Sebagian menjadi spesies invasif yang berpotensi mengganggu habitat barunya.
Jadi, meskipun satwa di laut dalam mungkin nyaris tidak merasakan tsunami, kehidupan di perairan dangkal dan pesisir menghadapi kerusakan besar yang dampaknya dapat bertahan lama.
Foto utama: Debur ombak laut menerjang. Tanpa mangrove, air akan langsung menerjang permukiman masyarakat. Foto: Rhett Butler/Mongabay.