- Kelapa menjadi bagian penting masyarakat Flores Timur, NTT, sebagai sumber pangan, ekonomi, maupun energi.
- Kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ekonomi hijau yang mendukung transisi energi.
- Tempurung kelapa dimanfaatkan juga menjadi arang dan briket. Tempurung dibakar di drum atau bak hingga menjadi arang.
- Briket dipergunakan untuk menggantikan kayu atau minyak tanah yang selama ini dipergunakan warga. Briket berbentuk kotak dan bulat dijual Rp13 ribu per kilogram.
Hamparan kebun kelapa membentang di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT.
Data BPS NTT menyebutkan, tahun 2025 produksi kelapa Flores Timur mencapai 18.639,13 ton, diikuti Kabupaten Sikka 13.625,34 ton dan Kabupaten Ende 8.969,78 ton.
“Kelapa dari Adonara dijual ke luar daerah melalui Kota Maumere, Sikka, berupa gelondongan dan kopra,“ ucap Eman Waton, warga Kota Larantuka, akhir Juni 2026.
Kelapa menjadi bagian penting masyarakat Flores Timur, sebagai sumber pangan, ekonomi, maupun energi.
“Kelapa memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ekonomi hijau yang mendukung transisi energi,” sebut Melki Koli Baran, Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS), awal Juli 2026.
YPPS mendorong perempuan menjadi aktor utama pengembangan ekonomi hijau dan energi terbarukan di tingkat komunitas. Mereka dilatih mengolah kopra putih memanfaatan energi surya, mengembangkan briket tempurung kelapa, serta membuat usaha produktif berbasis sumber daya lokal.
“Transisi energi tidak hanya menghasilkan manfaat lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi, memperkuat ketahanan keluarga, serta meningkatkan kepemimpinan perempuan di tingkat komunitas,” ungkapnya.

Rumah jemur energi matahari
Sebanyak 16 anggota Konten Kaka Rindu, Desa Adobala, tengah mencungkil daging kelapa yang dikeluarkan dari rumah penjemuran menggunakan energi matahari.
Rumah jemur terbuat dari balok kelapa bertingkat dua, berbentuk setengah lingkaran. Di dalamnya ada rak bambu belah untuk meletakkan kelapa, di bagian tengah dan kedua sisi rumah. Lapisan plastik ultra violet bening, menutupi rumah jemur yang berfungsi menyerap sinar mentari.
“Sebelum menggunakan rumah ini, kelapa kami jemur di tanah beralaskan terpal. Butuh waktu minimal seminggu agar kelapa bisa menjadi kopra,” sebut Petronela Masi Suban, Ketua Konten Kaka Rindu.
Konten merupakan singkatan Kelompok Energi Terbarukan, sedangkan Kaka Rindu singkatan nama Keba Riang Duli, wilayah lokasi pengolahan kelapa mereka.
Menggunakan rumah jemur energi matahari, produksi kopra butuh waktu 3-4 hari. Kopra yang dihasilkan lebih bersih dan harga jual lebih tinggi.
“Kami jemur kelapa setiap pagi dan sore.”
Satu rumah jemur ukuran panjang 7 meter dan lebar 4 meter bisa menampung 3 ribu kelapa, dengan produksi mencapai 700 kg. Untuk 4 ribu kelapa hasilnya 1 ton kopra.
Puluhan rumah jemur tersebar di 6 desa dampingan YPPS yakni Desa Adobala, Lambunga, Hurung dan Homa di Pulau Adonara, serta Desa Bantala dan Serinuho di Pulau Flores sejak program berjalan hampir tiga tahun.

Produksi arang dan briket
Tempurung kelapa dimanfaatkan juga menjadi arang dan briket. Tempurung dibakar di drum atau bak hingga menjadi arang.
Abu pembakaran serta arang digiling menggunakan mesin hingga halus. Untuk membuat briket, 1 kg tepung arang dicampur kanji 0,8 kilogram.
“Adonan diaduk merata dan dituang ke cetakan. Setelah kering, briket bisa dipergunakan untuk bahan bakar,” sebut Elisabet Fuer, Ketua Konten Wolosina Watoboki, Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, akhir Juni 2026.
Briket dipergunakan untuk menggantikan kayu atau minyak tanah yang selama ini dipergunakan warga. Briket berbentuk kotak dan bulat dijual Rp13 ribu per kilogram.
“Banyak rumah makan membeli hingga satu ton. Warga Flores Timur juga membeli untuk kebutuhan masak saat hajatan atau pesta,” tambahnya.
Peremajaan kelapa varietas kelapa dalam Adonara yang dagingnya tebal dilakukan, agar kesinambungan produksi terjaga. Tahap awal, penanaman 3 ribu pohon di 6 desa dilakukan bertahap, mengingat umur kelapa di Flores Timur rata-rata 30 tahun.

Anggota difabel
Selain perempuan dan lelaki dewasa, Konten di setiap desa juga beranggotakan difabel. Mereka bekerja sama dan terlibat aktif secara sukarela.
“Dua anggota kami perempuan difabel. Mereka ikut mengupas kelapa hingga membuat kopra, arang, dan briket,” sebut Agnes Masa Laot, Ketua Konten Ina Sayang Desa Lambuga.
Agnes mengatakan, di desanya ada tiga Konten dan semuanya aktif mengolah kelapa, termasuk usaha simpan pinjam SILC (Savings and Internal Lending Communities (SILC).
SILC merupakan simpan pinjam berbasis masyarakat. Tujuannya, membangun kemandirian ekonomi, khususnya bagi kelompok rentan atau yang terpinggirkan dari sistem lembaga keuangan formal. Setiap anggota SILC harus punya impian, saat penutupan siklus harus beli aset.

Satu siklus tabungan 9-12 bulan, tergantung kesepakatan anggota. Ada juga simpanan dana sosial Rp2 ribu per orang setiap minggu.
“Seminggu sekali kami berkumpul untuk menabung. Kalau ada saldo, anggota bisa ajukan pinjaman. Adanya SILC membuat anggota terbebas lilitan utang renternir, atau lembaga keuangan,” ujar Agnes.
Melki menambahkan, sistem ini cocok diterapkan di NTT karena banyak masyarakat yang memiliki penghasilan harian.
“Jika tidak ditabung, akan habis. Besaran simpanan, tergantung pendapatan masing-masing anggota,” ujarnya.
*****
Sabut Kelapa, Solusi Konflik Petani dengan Monyet Ekor Panjang di Simeulue