Setiap malam, orangutan tidak sekadar mencari cabang untuk beristirahat. Primata cerdas ini membangun “kasur” sendiri di atas pohon, lengkap dengan pondasi, alas, bahkan terkadang bantal, selimut, dan atap. Kemampuan tersebut bukan hanya memperlihatkan keterampilan bertahan hidup, tetapi juga mengisyaratkan betapa pentingnya tidur bagi kehidupan orangutan.
Sarang biasanya dibangun pada ketinggian 11-20 meter. Setelah menemukan cabang yang kokoh, orangutan membengkokkan atau mematahkan ranting lain ke arah titik pusat, kemudian merangkainya sebagai fondasi. Cabang-cabang yang lebih kecil ditambahkan di atasnya untuk membentuk alas yang empuk. Struktur ini dirancang agar berat tubuh tersebar secara merata sehingga sarang tetap stabil dan tidak mudah rusak.
Sejumlah orangutan bahkan menambahkan berbagai fitur yang terbilang “mewah”. Ranting berdaun besar dapat digunakan sebagai selimut, sementara kumpulan daun lainnya dijadikan bantal. Mereka juga bisa mengepang ranting di atas kepala untuk membentuk atap atau membuat sarang tambahan di atas tempat tidur utama. Semua itu menunjukkan bahwa orangutan memahami sifat bahan dan mampu merancang tempat istirahat yang aman sekaligus nyaman.
Kenyamanan tersebut berpengaruh terhadap kualitas tidur. Dibandingkan primata lain seperti babun, orangutan diketahui tidur lebih lama, lebih nyenyak, dan lebih jarang terbangun. Sarang di atas pohon juga melindungi mereka dari predator, serangga, dan kelembapan. Kebiasaan membangun tempat tidur ini diperkirakan telah muncul pada nenek moyang kera besar sekitar 14-18 juta tahun lalu.
Tidur panjang dan berkualitas diduga ikut mendukung perkembangan otak yang lebih besar serta kemampuan kognitif yang tinggi pada kera besar. Lalu, apakah orangutan juga bermimpi?
Hingga kini, belum ada penelitian yang secara langsung membuktikan bahwa orangutan mengalami mimpi. Kajian mendalam tentang tahapan tidur mereka pun masih terbatas. Namun, pola tidur yang menyerupai manusia, kondisi tidur yang nyaman, serta kemampuan kognitif dan emosional mereka membuka kemungkinan bahwa orangutan juga memasuki fase tidur yang memungkinkan munculnya mimpi.
Kecerdasan orangutan turut terlihat dari ingatan sosialnya. Dalam sebuah percobaan, kera besar dewasa lebih mampu mengingat menara balok yang dibuat oleh tangan manusia dibandingkan oleh cakar mekanik. Analisis berbasis kecerdasan buatan menunjukkan bahwa mereka memberi perhatian lebih besar pada tindakan yang melibatkan manusia.
Kita mungkin belum mengetahui apa yang hadir dalam tidur orangutan. Namun, sarang rumit dan pikiran mereka yang tajam memberi petunjuk menarik: di balik mata yang terpejam, bisa jadi berlangsung dunia yang tidak jauh berbeda dari mimpi manusia.
Artikel asli ditulis oleh Christopel Paino.
Foto utama: Induk dan anak orangutan tapanuli yang terpantau di hutan gambut di Desa Lumut Maju, Kecamatan Lumut, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia.