<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=moh-tamimi-alor&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/moh-tamimi-alor/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 03 Jul 2026 09:12:24 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Hiu Berjalan Raja Ampat, Apakah Jenis Ini Tidak Berenang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jul 2026 09:12:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/03090536/Hiu-berjalan-raja-ampat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130073</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hemiscyllium freycineti merupakan hiu berjalan endemik Raja Ampat, banyak mendiami perairan Selat Dampier. Populasinya, diperkirakan mencapai 2.462 individu per kilometer. Lokasi tersebut ada di Kampung Sawinggrai, Pulau Gam. “Angka itu bukan saja banyak, namun juga menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat di dunia untuk genus Hemiscyllium,” jelas Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/">Hiu Berjalan Raja Ampat, Apakah Jenis Ini Tidak Berenang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hemiscyllium freycineti merupakan hiu berjalan endemik Raja Ampat, banyak mendiami perairan Selat Dampier. Populasinya, diperkirakan mencapai 2.462 individu per kilometer. Lokasi tersebut ada di Kampung Sawinggrai, Pulau Gam. “Angka itu bukan saja banyak, namun juga menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat di dunia untuk genus Hemiscyllium,” jelas Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute Indonesia, dalam keterangan tertulis, Rabu (24/6/26). Temuan baru yang penelitiannya memerlukan waktu 14 bulan itu sudah diterbitkan pada laman jurnal internasional Frontiers in Fish Science. Di antara temuan krusial, adalah peran terumbu karang sebagai nursery atau habitat asuhan bagi spesies itu. Meskipun hiu berjalan sudah dilindungi penuh Indonesia, namun informasi mengenai biologi, struktur populasi, dan ekologi spasialnya masih terbatas. “Sehingga menghambat upaya konservasi yang efektif,” jelas laporan tersebut. Tim peneliti melakukan 64 survei malam hari sepanjang Februari 2024 hingga April 2025 di enam lokasi. Menggunakan identifikasi foto dan penandaan transporder terintegrasi pasif, tim berhasil mengidentifikasi 736 individu unik, dari total 1.191 penampakan. Sebagian besar penampakan itu, berasal dari Pulau Arborek, Gam, Fam, Mansuar, dan Batanta. Menariknya, individu yang teridentifikasi didominasi betina (415 individu), dengan panjang mencapai 19,4-75 sentimeter. Tim peneliti yang terlibat aktif adalah Elasmobranch Institute Indonesia, BLUD UPTD Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan di Kepulauan Raja Ampat, Konservasi Indonesia, Masyakakat Arborek, dan Re:wild. Hiu berjalan (Hemiscyllium freycineti) ini merupakan jenis endemik Raja Ampat. Foto: Dok. Edy Setyawan/Elasmobranch Institute Indonesia. Habitat utama Peran terumbu karang sebagai nursery  diketahui karena sebanyak 69 persen individu muda memilih ekosistem tersebut sebagai habitat. Sementara hiu dewasa, memillih menghuni padang lamun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hiu-berjalan-raja-ampat-apakah-jenis-ini-tidak-berenang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Pasir Laut Usik Ketenangan Warga Bintan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/03/tambang-pasir-laut-usik-ketenangan-warga-bintan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/03/tambang-pasir-laut-usik-ketenangan-warga-bintan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jul 2026 06:08:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi E Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/02020112/Penampakan-perkampungan-di-Pulau-Numbing-Kabupaten-Bintan-Provinsi-Kepulauan-Riau.-Foto-Yogi-Eka-Sahputra-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130010</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suasana pesisir desa Pulau Numbing, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau terlihat lengang sore itu, Mei 2026. Hanya ada beberapa nelayan yang sibuk memperbaiki jaring di teras rumah mereka. Suasana lengang itu seolah mengkonfirmasi kondisi kampung yang sedang “bergejolak” sejak rencana tambang pasir laut mencuat di sekitar pulau. Para nelayan terbelah. Sebagian menerima aktivitas berbalut proyek pembersihan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/tambang-pasir-laut-usik-ketenangan-warga-bintan/">Tambang Pasir Laut Usik Ketenangan Warga Bintan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suasana pesisir desa Pulau Numbing, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau terlihat lengang sore itu, Mei 2026. Hanya ada beberapa nelayan yang sibuk memperbaiki jaring di teras rumah mereka. Suasana lengang itu seolah mengkonfirmasi kondisi kampung yang sedang “bergejolak” sejak rencana tambang pasir laut mencuat di sekitar pulau. Para nelayan terbelah. Sebagian menerima aktivitas berbalut proyek pembersihan sedimentasi itu, yang lain menolak. “Rumah ini menolak (tambang pasir), ini [menunjuk rumah lain] menerima, karena dia kerja sebagai perangkat desa,” kata seorang nelayan,  sore itu. Kehadiran tambang pasir laut itu, katanya,  memicu ketegangan sosial antar warga. Bukan hanya antar penghuni pulau  juga  sesama anggota keluarga dekat tidak saling tegur karena perbedaan sikap. “Termasuk saya, saya sama saudara tidak teguran gara-gara ini.” Aksi unjuk rasa sebagian nelayan Numbing atas masuknya perusahaan adalah titik awal dari ketegangan itu. Warga  protes setelah mengetahui bahwa rencana penambangan dengan dalih pengelolaan sedimentasi itu tidak hanya satu, tetapi 13 perusahaan. “Ada 13 perusahaan yang  akan melakukan penambangan itu,” kata Rudi Herdiawan, Ketua Aliansi Nelayan Pesisir Bintan-Lingga. Menyadar risiko berbagai dampak buruk dari aktivitas itu, dia pun menggalang gerakan penolakan. Bersama nelayan lain, mulai dari Pulau Numbing, Karimun dan Lingga berunjuk rasa ke Kantor Gubernur dan DPRD Kepri. Tak semua nelayan menolaknya.  Klaim dari pihak Desa Pulau Numbing menyebut,  hanya ada 13 keluarga yang menolak. Padahal, berdasar data yang dia kumpulkan, di satu RT saja ada  50 keluarga yang menyatakan penolakan. “Kami sudah kumpulkan data yang menolak, lengkap dengan KK (kartu keluarga)-nya. Di RT saya saja sudah 50 KK menolak,” kata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/tambang-pasir-laut-usik-ketenangan-warga-bintan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/03/tambang-pasir-laut-usik-ketenangan-warga-bintan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hadapi Berbagai Tantangan, Garam Kusamba Terancam Punah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hadapi-berbagai-tantangan-garam-kusamba-terancam-punah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hadapi-berbagai-tantangan-garam-kusamba-terancam-punah/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jul 2026 03:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[I Gusti Ayu Septiari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01035446/Nengah-Bantat-menunjukkan-garam-metode-geomembran-yang-hampir-siap-panen.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari_Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129974</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, infrastruktur, Kelautan perikanan, komunitas lokal, produk kelautan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lembaran plastik berwarna hitam menutup sebagian area pesisir Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Nengah Bantat bersama istrinya, Ketut Keprug, menutup lembaran plastik itu perlahan. Meski punggung mereka sudah membungkuk karena usia, tangan pria 71 tahun itu  cekatan melipat geomembran. Geomembran merupakan lembaran pelapis sintetis berbahan polimer, kedap air dan cairan. Di sisi kanan berdiri [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/hadapi-berbagai-tantangan-garam-kusamba-terancam-punah/">Hadapi Berbagai Tantangan, Garam Kusamba Terancam Punah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lembaran plastik berwarna hitam menutup sebagian area pesisir Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali. Nengah Bantat bersama istrinya, Ketut Keprug, menutup lembaran plastik itu perlahan. Meski punggung mereka sudah membungkuk karena usia, tangan pria 71 tahun itu  cekatan melipat geomembran. Geomembran merupakan lembaran pelapis sintetis berbahan polimer, kedap air dan cairan. Di sisi kanan berdiri tiga gubuk mereka. Satu gubuk berisiko berkarung-karung garam. Satu gubuk berisi palung yang sudah usang. Gubuk satunya terbuka sebagai tempat istirahat. Tempat Bantat berdiri, laut tak lagi terlihat. Tertutup tanggul pantai yang menahan gelombang pasang. Siang itu, Jumat (19/6/26), ombak masih bersahabat. Namun terkadang ombak itu bisa melewati tanggul dan menghantam gubuknya. Bantat, salah satu pewaris dan generasi terakhir petani garam. Dia pertama kali mengenal garam pada 1979, saat usia 24 tahun. “Sane dumunan waktu tahun 1990-an nike ajak ratusan ngae uyah, uli dini ked Pesinggahan (kalau dulu waktu tahun 1990-an itu ada ratusan orang yang jadi petani garam, dari pesisir Kusamba sampai Pesinggahan),” kata Bantat. Petani garam di Desa Kusamba tengah melipat geomembran berisi air laut yang belum siap panen. Foto: I Gusti Ayu Septiari/Mongabay Indonesia Dia berasal dari Banjang Tribuana, Desa Kusamba. Dulu, ayahnya petani garam secara otodidak. Lalu menikah pada usia 24 tahun dan belajar membuat garam dari mertuanya. Sayangnya, kini tak ada yang meneruskan lahan penggaramannya. Anaknya, Nengah Sudarmini, hanya membantu di sela-sela waktunya sebagai ibu rumah tangga. “Tiang nak pedalem ajak panak tiang e. Men ngae uyah nak sing tentu (saya kasihan sama anak saya. Kalau jadi petani garam penghasilannya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/hadapi-berbagai-tantangan-garam-kusamba-terancam-punah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/03/hadapi-berbagai-tantangan-garam-kusamba-terancam-punah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harimau Sumatera Si Penjaga Hutan, Tapi Stigma Agresif Melekat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/03/harimau-sumatera-si-penjaga-hutan-tapi-stigma-agresif-melekat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/03/harimau-sumatera-si-penjaga-hutan-tapi-stigma-agresif-melekat/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jul 2026 01:00:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Tuah Ananda]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/24090150/HS-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130030</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastruktur, Perkebunan, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Ancaman deforestasi hingga perburuan liar kian mengancam populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Alih fungsi lahan menjadi pemukiman, perkebunan, pertambangan dan lainnya membuat habitatnya terpecah-pecah. Kondisi ini membuat perjumpaan dengan harimau sering terjadi. Kemunculannya ini sering kali dianggap tanda bahaya atau ancaman. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/harimau-sumatera-si-penjaga-hutan-tapi-stigma-agresif-melekat/">Harimau Sumatera Si Penjaga Hutan, Tapi Stigma Agresif Melekat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Ancaman deforestasi hingga perburuan liar kian mengancam populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Alih fungsi lahan menjadi pemukiman, perkebunan, pertambangan dan lainnya membuat habitatnya terpecah-pecah. Kondisi ini membuat perjumpaan dengan harimau sering terjadi. Kemunculannya ini sering kali dianggap tanda bahaya atau ancaman. Banyak yang mengira mereka adalah agresif, tapi apa itu benar atau hanya sebatas mitos? Padahal banyak penelitian menyebutkan spesies endemik ini cenderung menghindari manusia dan konflik yang muncul umumnya karena habitat menyempit dan sumber pakan yang berkurang di hutan. Padahal, harimau sumatera menjadi subspesies terakhir dari tiga subspesies endemik Indonesia. Harimau jawa dan harimau bali, misalnya yang kini sudah punah. Yuk, mari kita kenali subspesies endemik Indonesia ini lebih dekat lagi! 1. Paling kecil di antara subspesies lainnya Harimau sumatera yang terekam kamera jebak di hutan Kawasan Ekosistem Leuser, pada Oktober 2023. Foto: Figel dan kolega /Frontiers Harimau sering disebut sebagai “kucing besar”. Namun, tiap subspesies memiliki ciri fisik yang berbeda. Harimau sumatera, misalnya, termasuk subspesies harimau terkecil dibandingkan dengan subspesies harimau lainnya di dunia. Selain itu, ia juga memiliki loreng yang lebih padat dengan warna yang lebih gelap pula. Penelitian Fathoni (2022) menyebutkan harimau sumatera jantan memiliki bobot dan tubuh yang lebih besar dari betina. Jantan memiliki berat 100-140 kg dengan panjang tubuh 140-280 cm, sedangkan betina 100-140 kg dengan ukuran 80–90 cm. Ciri-ciri fisik ini bukan terjadi tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk adaptasi harimau terhadap habitatnya yang berada di iklim tropis tepat di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/03/harimau-sumatera-si-penjaga-hutan-tapi-stigma-agresif-melekat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/03/harimau-sumatera-si-penjaga-hutan-tapi-stigma-agresif-melekat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Warga Sumbawa Barat Ketika Tambang dan Smelter Tembaga Datang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/02/nasib-warga-sumbawa-barat-ketika-tambang-dan-smelter-tembaga-datang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/02/nasib-warga-sumbawa-barat-ketika-tambang-dan-smelter-tembaga-datang/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jul 2026 23:40:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/02233536/sumbawa-tambang-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130049</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[nusa tenggara barat dan sumbawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara deru alat berat mengiringi azan magrib di Dusun Otak Keris, Desa Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), medio Mei lalu. Mata Jumari berkaca-kaca ketika bercerita kondisi mereka yang tinggal di sekitar pabrik peleburan mineral tembaga, emas dan ikutannya itu. “Kita manusia, bukan binatang! Jadi, harapan kita datang baik-baik, tapi ini ndak. Jadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/nasib-warga-sumbawa-barat-ketika-tambang-dan-smelter-tembaga-datang/">Nasib Warga Sumbawa Barat Ketika Tambang dan Smelter Tembaga Datang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara deru alat berat mengiringi azan magrib di Dusun Otak Keris, Desa Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), medio Mei lalu. Mata Jumari berkaca-kaca ketika bercerita kondisi mereka yang tinggal di sekitar pabrik peleburan mineral tembaga, emas dan ikutannya itu. “Kita manusia, bukan binatang! Jadi, harapan kita datang baik-baik, tapi ini ndak. Jadi Otak Keris itu dibelinya dipaksa!” katanya kepada Mongabay Indonesia. Jumari menuturkan kembali hal yang mengubah hidup warga Dusun Otak Keris. Tujuh tahun silam, warga harus angkat kaki dari rumah dan lahan mereka. Pemukiman mereka yang masuk Desa Maluk itu, tergusur pabrik pemurnian tembaga dan emas PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Semula bupati datang ke dusun, bicara dengan warga rencana pembangunan smelter bakal menggusur pemukiman dan kebun. Menurut Jumari, bupati meminta warga mendukung proyek tambang itu. Bupati pun menasehati warga agar rela melepas ruang hidup mereka dan berjanji memberikan kehidupan layak. Citra satelit lahan pertanian Otak Keris sebelum (2017) dan sesudah (2026) menjadi smelter PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia diolah dari Google Earth. Hari demi hari berlalu. Tibalah saat penggusuran itu. Bupati tak pernah kembali ke Dusun Otak Keris. Warga justru berhadapan dengan preman, yang bertindak sewenang-wenang. “[Kala itu] saya melihat preman menutup (akses) jalan pakai pagar bambu. Saya nggak tau tujuannya apa,” ucapnya. Warga menolak penggusuran. Mereka memasang spanduk penolakan di sudut dusun. Penolakan itu tak berlangsung lama. Warga tak kuasa menahan tekanan dari preman–mereka akhirnya melepas rumah dan tanah. Tak ada catatan pasti total warga Otak Keris&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/nasib-warga-sumbawa-barat-ketika-tambang-dan-smelter-tembaga-datang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/02/nasib-warga-sumbawa-barat-ketika-tambang-dan-smelter-tembaga-datang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tragedi Berdarah,  Petugas Keamanan Agrinas Tewaskan Warga Labuhanbatu Utara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/02/tragedi-berdarah-petugas-keamanan-agrinas-tewaskan-warga-labuhanbatu-utara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/02/tragedi-berdarah-petugas-keamanan-agrinas-tewaskan-warga-labuhanbatu-utara/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jul 2026 11:31:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/30005920/Kebun-sawit-milik-cukong-dalam-TNTN-yang-disitas-Satgas-PKH.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130017</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, komunitas lokal, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tragedi berdarah terjadi di Desa Sukarame Baru, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara (Sumut).  Seorang warga tewas, dan tiga luka-luka dalam insiden dengan petugas keamanan Agrinas Palma Nusantara, 16 Juni lalu. Organisasi masyarakat sipil mendesak, usut tuntas kasus ini tanpa pengecualian terhadap dua personel TNI yang jadi bagian dari petugas keamanan. Korban tewas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/tragedi-berdarah-petugas-keamanan-agrinas-tewaskan-warga-labuhanbatu-utara/">Tragedi Berdarah,  Petugas Keamanan Agrinas Tewaskan Warga Labuhanbatu Utara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tragedi berdarah terjadi di Desa Sukarame Baru, Kecamatan Kualuh Hulu, Kabupaten Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara (Sumut).  Seorang warga tewas, dan tiga luka-luka dalam insiden dengan petugas keamanan Agrinas Palma Nusantara, 16 Juni lalu. Organisasi masyarakat sipil mendesak, usut tuntas kasus ini tanpa pengecualian terhadap dua personel TNI yang jadi bagian dari petugas keamanan. Korban tewas ialah Luis David Hutabarat (32), tukang timbang buah sawit. Tiga  buruh tani yang luka-luka adalah Jhoni (28), Doni Romadan (29), dan Sutomi alias Tomi (31). Berdasarkan temuan KontraS Sumut, Luis tidak sadarkan diri dengan lidah terjulur keluar di Jalan Perkebunan Kelapa Sawit Blok K33 Jalur 3, wilayah kelola Agrinas. Tim Advokasi Rakyat Melawan Impunitaswe (ARMI) yang terdiri dari KontraS Sumut, LBH, Bakumsu, Huta Keadilan Associates, Fordam Susuba, GMNI Cabang Medan, dan GMKI Cabang Rantau Prapat merilis laporan awal dan menyoroti keterlibatan Sersan Mayor (Serma) Buana Delly, anggota TNI AD aktif yang bertugas di Kodam I/Iskandar Muda, Aceh, dan bertugas mengamankan BUMN itu, serta Budiono, purnawirawan TNI yang juga merupakan pekerja Agrinas. Seorang saksi menceritakan kronologi. Dia bilang, konflik bermula saat keempat korban hendak pulang setelah bekerja membersihkan ladang Ramlan Nainggolan, ayah mertua Luis. Sekitar pukul 16.00, sekelompok oknum bersenjata parang dan gancu menghentikan para korban yang menggunakan sepeda motor langsir. &#8220;Saat pengadangan, saya melihat mereka menabrakkan motor ke arah korban hingga jatuh. Kemudian dilakukan pemukulan terhadap Doni dan Tomi menggunakan gancu dan tangan kosong,&#8221; katanya, 24 Juni. Menurut dia, sebelum insiden,  Buana  melontarkan ancaman pada Luis.  &#8220;Sini turun kau Luis, maen kita, ku bunuh kau,&#8221;&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/tragedi-berdarah-petugas-keamanan-agrinas-tewaskan-warga-labuhanbatu-utara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/02/tragedi-berdarah-petugas-keamanan-agrinas-tewaskan-warga-labuhanbatu-utara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Purba Coelacanth dan Masa Depan Laut Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/02/ikan-purba-coelacanth-dan-masa-depan-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/02/ikan-purba-coelacanth-dan-masa-depan-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jul 2026 09:47:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21231103/Coelacanth-L.-manadoensis_-Chappuis-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130033</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Ikan-Ikan dari Era Pra-Sejarah di Perairan Nusantara]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, kelautan dan perikanan, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap 2 Juli, Indonesia memperingati Hari Kelautan Nasional. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1972, era Presiden Soeharto. Latar belakangnya sederhana: dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Tahun ini, hari istimewa tersebut datang dengan konteks jauh lebih hidup dari sekadar peringatan tahunan. Akhir Juni [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/ikan-purba-coelacanth-dan-masa-depan-laut-indonesia/">Ikan Purba Coelacanth dan Masa Depan Laut Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap 2 Juli, Indonesia memperingati Hari Kelautan Nasional. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1972, era Presiden Soeharto. Latar belakangnya sederhana: dua pertiga wilayah Indonesia adalah lautan, menjadikan Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Tahun ini, hari istimewa tersebut datang dengan konteks jauh lebih hidup dari sekadar peringatan tahunan. Akhir Juni 2026, dunia maya ramai dengan foto dan video ikan purba yang ditemukan mengapung di perairan Manado. Penemuan itu berawal Jumat pagi, 26 Juni 2026. Soni Pontoh, nelayan dari Pulau Siladen, Manado, melaut seperti biasa. Sekitar 100 meter dari tubir terumbu karang, matanya menangkap sesuatu yang aneh mengapung di permukaan laut: seekor ikan besar, bersisik cokelat keemasan, dengan sirip lebih mirip kaki kecil ketimbang sirip ikan biasa. Dia tidak tahu, dia menemukan makhluk paling langka di planet ini, ikan yang sempat dianggap punah selama 66 juta tahun. Ikan yang ditemukan Soni adalah Coelacanth Sulawesi, atau dalam bahasa lokal disebut &#8220;raja laut&#8221; (Latimeria menadoensis). Spesies ini berstatus Rentan (Vulnerable/VU) dalam Daftar Merah IUCN dan masuk Appendix I CITES, sehingga perdagangan internasionalnya untuk tujuan komersial dilarang. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan, spesimen ini memiliki panjang sekitar 105 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan berat sekitar 30 kilogram. Ikan Latimeria menadoensis yang ditemukan di perairan Maluku Utara menunjukkan persebarannya yang lebih luas dari perkiraan sebelumnya. Foto: Alexis Chappuis/Scientific Reports. Penemuan ini bukan yang pertama. Sebelumnya, spesimen lain ditemukan nelayan bernama Oskar Kaluku di perairan Gorontalo Utara pada Januari 2025, dalam kondisi mati dengan panjang sekitar satu meter dan berat 41 kilogram.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/ikan-purba-coelacanth-dan-masa-depan-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/02/ikan-purba-coelacanth-dan-masa-depan-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dua Spesies Burung Beracun Baru Ditemukan, Dagingnya Terasa Membakar seperti Cabai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/02/dua-spesies-burung-beracun-baru-ditemukan-dagingnya-terasa-membakar-seperti-cabai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/02/dua-spesies-burung-beracun-baru-ditemukan-dagingnya-terasa-membakar-seperti-cabai/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jul 2026 05:41:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/02053736/csiro-scienceimage-10442-golden-whistler-jamieson-victoria-1-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130023</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tim peneliti dari Universitas Kopenhagen dan Museum Sejarah Alam Denmark menemukan dua spesies burung beracun baru selama ekspedisi ke pegunungan hutan hujan Papua Nugini. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Molecular Ecology pada 2023 dan menjadi catatan penting karena tidak ada spesies burung beracun baru yang ditemukan dalam lebih dari dua puluh tahun terakhir. Dua spesies [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/dua-spesies-burung-beracun-baru-ditemukan-dagingnya-terasa-membakar-seperti-cabai/">Dua Spesies Burung Beracun Baru Ditemukan, Dagingnya Terasa Membakar seperti Cabai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tim peneliti dari Universitas Kopenhagen dan Museum Sejarah Alam Denmark menemukan dua spesies burung beracun baru selama ekspedisi ke pegunungan hutan hujan Papua Nugini. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal Molecular Ecology pada 2023 dan menjadi catatan penting karena tidak ada spesies burung beracun baru yang ditemukan dalam lebih dari dua puluh tahun terakhir. Dua spesies yang dimaksud adalah kancilan obuhai, atau regent whistler (Pachycephala schlegelii) dan rufous-naped bellbird (Aleadryas rufinucha). Keduanya termasuk burung yang umum dijumpai di kawasan tersebut, sehingga sifat beracun pada bulu dan kulitnya baru terungkap setelah dilakukan analisis laboratorium terhadap sampel yang dikumpulkan di lapangan. Racun yang ditemukan pada kedua burung ini adalah batrachotoxin, salah satu neurotoksin paling kuat yang diketahui sains. Nama batrachotoxin berasal dari bahasa Yunani batrachos yang berarti katak, karena senyawa ini pertama kali diidentifikasi pada katak panah beracun (poison dart frog) di Amerika Tengah dan Selatan. Batrachotoxin diketahui sekitar 250 kali lebih toksik dibanding strychnine, dan pada konsentrasi tinggi seperti yang ditemukan di kulit katak emas beracun (golden poison frog), racun ini dapat menyebabkan kejang otot hebat dan kegagalan jantung dalam hitungan menit setelah kontak. Diagram hasil penelitian yang memetakan keragaman burung beracun di Papua Nugini. (a) Pohon filogenetik famili burung yang diuji kandungan batrachotoxin (BTX)-nya, dengan famili beracun ditandai huruf tebal, termasuk dua spesies yang baru diketahui beracun (kancilan obuhai dan rufous-naped bellbird). (b) Peta panas kadar BTX pada bulu tiap individu burung. (c) Struktur kimia enam turunan BTX yang ditemukan. (d) Jejaring molekuler yang mengonfirmasi keterkaitan antarturunan BTX tersebut. Ilustrasi burung:&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/dua-spesies-burung-beracun-baru-ditemukan-dagingnya-terasa-membakar-seperti-cabai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/02/dua-spesies-burung-beracun-baru-ditemukan-dagingnya-terasa-membakar-seperti-cabai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Muntholib Soetomo, Sosok Pelopor Studi Orang Rimba</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/02/muntholib-soetomo-sosok-pelopor-studi-orang-rimba/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/02/muntholib-soetomo-sosok-pelopor-studi-orang-rimba/#respond</comments>
					<pubDate>02 Jul 2026 03:30:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/02032401/Akademisi-orang-rimba-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129753</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat, penyebutan &#8216;Orang Rimbo&#8217; pertama kali secara akademis Muntholib Soetomo publikasikan melalui disertasinya di Universitas Padjajaran tahun 1995. Judulnya, “Orang Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat Terasing di Makekal, Provinsi Jambi”. Muntholib ceritakan pengalamannya melakukan penelitian tentang kehidupan Orang Rimba. “Hutan itu hidup dan kehidupan mereka, Orang Rimba,” kata akademisi yang menghabiskan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/muntholib-soetomo-sosok-pelopor-studi-orang-rimba/">Mengenal Muntholib Soetomo, Sosok Pelopor Studi Orang Rimba</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat, penyebutan &#8216;Orang Rimbo&#8217; pertama kali secara akademis Muntholib Soetomo publikasikan melalui disertasinya di Universitas Padjajaran tahun 1995. Judulnya, “Orang Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat Terasing di Makekal, Provinsi Jambi”. Muntholib ceritakan pengalamannya melakukan penelitian tentang kehidupan Orang Rimba. “Hutan itu hidup dan kehidupan mereka, Orang Rimba,” kata akademisi yang menghabiskan pengabdiannya sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Thaha, Jambi itu.  Orang Rimba, katanya,  memiliki tradisi tersendiri tentang bagaimana melindungi perempuan, memilih pemimpin, hingga menjaga lingkungannya. “Orang Rimba tidak buang air (kotoran manusia) ke sungai. Karena itu tempat minum mereka,” katanya. Tidak itu saja. Orang Rimba juga menganggap sungai adalah tempat suci yang mereka yakini sebagai tempat berjalannya para dewa. Peraih gelar profesor ilmu sosial di Universitas Padjajaran ini pertama kali berkenalan dengan  Orang Rimba awal 1980-an. Saat itu dia mendapat tugas dari sebuah lembaga untuk meneliti kemungkinan ada pemukiman Orang Rimba yang berpotensi menjadi desa. Kala itu, akses ke lokasi sangat sulit. “Saya bergerak sendiri, mencari informasi sendiri.&#8221; Selanjutnya pada awal 1990-an dia memulai penelitian disertasinya dan tinggal secara intens di Makekal Kabupaten Tebo kurang lebih 4,5 tahun. “Saya tinggal di lokasi, biaya sendiri, tidak ada yang membantu,” katanya. Sungai Air Hitam Sarolangun, Jambi. Foto; Jaka Hendra Baittri/Mongabay Indonesia. Selama tinggal bersama Orang Rimba, pria berdarah Trenggalek ini menemukan banyak praktik yang  menunjukkan hubungan  sangat dekat antara Orang Rimba dan lingkungan hidup. Contoh, ada aturan mengenai lokasi permukiman, larangan mengganggu kuburan anak, hingga larangan buang air di sungai karena dianggap mencemari sumber air minum. Nilai-nilai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/02/muntholib-soetomo-sosok-pelopor-studi-orang-rimba/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/02/muntholib-soetomo-sosok-pelopor-studi-orang-rimba/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Red Devil Invasi Danau Toba, Bagaimana Nasib Ikan Lokal?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/01/red-devil-invasi-danau-toba-bagaimana-nasib-ikan-lokal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/01/red-devil-invasi-danau-toba-bagaimana-nasib-ikan-lokal/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jul 2026 17:15:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Barita News Lumbanbatu]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01170111/Amphilophus_citrinellus_2015_G5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129997</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Red devil bukan ikan asli Danau Toba. Ikan ini berasal dari Amerika Tengah, yaitu di aliran Sungai San Juan, Kosta Rika, serta beberapa danau di Nikaragua, seperti Danau Nikaragua dan Danau Managua. Di beberapa daerah, jenis ini disebut ikan oskar, setan merah, lohan merah, dan nonong. Di Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, sebagian warga menyebutnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/red-devil-invasi-danau-toba-bagaimana-nasib-ikan-lokal/">Red Devil Invasi Danau Toba, Bagaimana Nasib Ikan Lokal?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Red devil bukan ikan asli Danau Toba. Ikan ini berasal dari Amerika Tengah, yaitu di aliran Sungai San Juan, Kosta Rika, serta beberapa danau di Nikaragua, seperti Danau Nikaragua dan Danau Managua. Di beberapa daerah, jenis ini disebut ikan oskar, setan merah, lohan merah, dan nonong. Di Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, sebagian warga menyebutnya ikan tayo-tayo. “Di sini red devil tidak kami konsumsi,” kata Br. Malau (47), istri nelayan di Danau Toba, sambil menimbang ikan tersebut untuk dijual ke penampung. Pagi itu, suaminya, Oloan Simanullang, baru menarik jaring ke atas solu, perahu kayu tradisional Batak. Targetnya ikan mas, nilai, mujair, dan pora-pora, tetapi yang didapat red devil. Harganya murah, 5-10 ribu rupiah per kilogram. Warga tidak terbiasa mengkonsumsi, kadang ada yang beli untuk pakan ternak. “Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata wanita asal Desa Simangulampe, Baktiraja, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, Senin (15/6/26). Galumbang Rajagukguk (53), nelayan Desa Binangaringit, Muara, Tapanuli Utara, menyatakan hal senada. Lebih tiga puluh tahun, dia menjaring ikan di Danau Toba yang kini didominasi red devil. “Kadang dilepas, atau saya berikan ke tetangga yang punya ternak,” ujarnya, Senin (15/6/26). Amphilophus citrinellus atau yang dikenal red devil, merupakan ikan invasif yang berkembang cepat di Danau Toba. Foto: Wikimedia Commons/George Chernilevsky/CC BY-SA 4.0. Ikan akuarium berkembang di danau Charles P.H. Simanjuntak, iktiologis dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, menjelaskan ikan ini belum memiliki nama baku dalam Bahasa Indonesia. Untuk red devil di Danau Toba, tim IPB University mengidentifikasinya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/red-devil-invasi-danau-toba-bagaimana-nasib-ikan-lokal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/01/red-devil-invasi-danau-toba-bagaimana-nasib-ikan-lokal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pemadaman Listrik Bergilir Pertegas Kerentanan Energi Fosil</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/01/pemadaman-listrik-bergilir-mempertegas-kerentanan-energi-fosil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/01/pemadaman-listrik-bergilir-mempertegas-kerentanan-energi-fosil/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jul 2026 09:29:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22004941/suralaya-greenpeace-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129915</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemadaman listrik bergilir di sejumlah kota-kota di Jawa, dan Sumatera belum lama ini membuat warga kelimpungan. Sejumlah usaha besar dan kecil termasuk manufaktur mengalami kerugian akibat terputusnya pasokan listrik ini. Berbagai kalangan pun mengingatkan beratap rentan menggantungkan listrik kepada energi fosil dan dorong beralih ke energi terbarukan. “Biaya rumah tangga dan produksi bisa naik, memicu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/pemadaman-listrik-bergilir-mempertegas-kerentanan-energi-fosil/">Pemadaman Listrik Bergilir Pertegas Kerentanan Energi Fosil</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemadaman listrik bergilir di sejumlah kota-kota di Jawa, dan Sumatera belum lama ini membuat warga kelimpungan. Sejumlah usaha besar dan kecil termasuk manufaktur mengalami kerugian akibat terputusnya pasokan listrik ini. Berbagai kalangan pun mengingatkan beratap rentan menggantungkan listrik kepada energi fosil dan dorong beralih ke energi terbarukan. “Biaya rumah tangga dan produksi bisa naik, memicu peningkatan biaya, secara makro mempengaruhi kepastian akses investasi,” kata Berly Martawardaya, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dalam diskusi daring bertajuk &#8220;Di Balik Pemadaman Listrik: Menelisik Keandalan Sistem Energi dan Urgensi Transisi Energi Berkeadilan”, Jumat (25/6/26). Bagi dia, fenomena pemadaman listrik sebagai anomali di tengah produksi setrum yang kelebihan kapasitas  dalam 10 tahun terakhir. Apalagi, berdasar data INDEF, konsumsi perkapita listrik Indonesia atau rata-rata penggunaan listrik penduduk per kwh per tahun masih di bawah Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Dia soroti sikap pemerintah yang masih memprioritaskan pembangkit berbahan fosil, seperti gas dan batubara ketimbang memberi ruang pada energi terbarukan. Padahal, perhitungan biaya energi terbarukan seperti surya dan angin lebih murah. Dampaknya, ketika harga batubara naik dan pasokan berkurang, produksi listrik turun yang berujung pada pemadaman bergilir. “Batubara kini mahal karena ketidakpastian konflik, supply minyak terganggu. Produsen batubara Indonesia mengekspor dua kali lebih banyak dibanding dalam negeri karena harga jual ke luar lebih mahal,” katanya. Sejak 2019,  dalam data terlihat produksi batubara meningkat. Pada 2024 misal, produksi batubara capai 836 juta, 11% di atas target 711 juta ton. Dari angka itu, volume ekspor capai 555 juta ton, pasokan dalam negeri (domestic market obligation/DMO)&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/pemadaman-listrik-bergilir-mempertegas-kerentanan-energi-fosil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/01/pemadaman-listrik-bergilir-mempertegas-kerentanan-energi-fosil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>&#8220;Laba-Laba Ketapel&#8221; Punya Perangkap Sutra dengan Daya Lontar Tercepat dan Terkuat di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/01/laba-laba-ketapel-punya-perangkap-sutra-dengan-daya-lontar-tercepat-dan-terkuat-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/01/laba-laba-ketapel-punya-perangkap-sutra-dengan-daya-lontar-tercepat-dan-terkuat-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jul 2026 03:07:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01030628/default-768x484.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129969</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alam kerap menyimpan strategi predasi yang tidak terduga, dan laba-laba termasuk kelompok hewan yang paling banyak mengembangkan cara unik untuk menangkap mangsa, mulai dari jaring lengket, jaring pelontar, hingga jebakan yang meniru gerakan mangsanya sendiri. Sebagian besar strategi ini berevolusi untuk menghadapi mangsa yang jauh lebih kecil dan lemah dibanding pemangsanya. Namun, temuan terbaru menunjukkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/laba-laba-ketapel-punya-perangkap-sutra-dengan-daya-lontar-tercepat-dan-terkuat-di-dunia/">&#8220;Laba-Laba Ketapel&#8221; Punya Perangkap Sutra dengan Daya Lontar Tercepat dan Terkuat di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alam kerap menyimpan strategi predasi yang tidak terduga, dan laba-laba termasuk kelompok hewan yang paling banyak mengembangkan cara unik untuk menangkap mangsa, mulai dari jaring lengket, jaring pelontar, hingga jebakan yang meniru gerakan mangsanya sendiri. Sebagian besar strategi ini berevolusi untuk menghadapi mangsa yang jauh lebih kecil dan lemah dibanding pemangsanya. Namun, temuan terbaru menunjukkan ada laba-laba yang justru mengembangkan perangkap untuk menaklukkan mangsa yang jauh lebih berbahaya daripada dirinya sendiri. Di Australia, para peneliti menemukan spesies laba-laba yang membangun perangkap sutra dengan mekanisme pegas paling kuat yang pernah tercatat pada laba-laba. Perangkap ini dirancang khusus untuk menangkap satu jenis mangsa saja, yaitu semut rangrang atau green tree ant (Oecophylla smaragdina), salah satu semut paling agresif di benua tersebut. Spesies laba-laba yang belum diberi nama ilmiah lengkap ini disebut sementara sebagai &#8220;ballista spider&#8221; atau &#8220;laba-laba ketapel&#8221; dan masuk dalam genus Propostira. Penelitian yang dipimpin Ajay Narendra dari Macquarie University dan Jonas O. Wolff dari University of Greifswald ini dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 2026. Semut rangrang dikenal sangat teritorial dan mampu mencengkeram permukaan dengan kekuatan lebih dari seratus kali bobot tubuhnya sendiri. Koloninya bisa mencapai lima juta pekerja dalam satu sarang. Bagi kebanyakan predator, mengambil satu ekor semut dari kerumunan seagresif ini bukan perkara mudah. Namun laba-laba ini justru memanfaatkan sifat agresif semut tersebut sebagai pemicu perangkapnya sendiri. Cara Kerja Perangkap Pengamatan dilakukan pada pohon-pohon di sepanjang jalur jelajah semut rangrang. Pada siang hari, laba-laba bersembunyi di balik daun. Sekitar 30 menit setelah matahari terbenam, laba-laba mulai bekerja membangun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/laba-laba-ketapel-punya-perangkap-sutra-dengan-daya-lontar-tercepat-dan-terkuat-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/01/laba-laba-ketapel-punya-perangkap-sutra-dengan-daya-lontar-tercepat-dan-terkuat-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Korban Tewas di Lubang Tambang Batubara Kaltim Terus Berulang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/01/ketika-korban-tewas-di-lubang-tambang-batubara-kaltim-terus-berulang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/01/ketika-korban-tewas-di-lubang-tambang-batubara-kaltim-terus-berulang/#respond</comments>
					<pubDate>01 Jul 2026 03:02:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yuda Almerio]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/01025338/Foto-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129962</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lubang bekas tambang batubara di Kalimantan Timur terus meminta korban jiwa. Data Jaringan Advokasi tambang (Jatam), sudah lebih 50 orang jadi korban lubang tambang batubara. Terbaru,  Muhammad Aji Wardana, warga Jalan Al Hasani RT5, Kelurahan Bantuas, Samarinda, Kalimantan Timur, tewas tenggelam diduga dalam konsesi PT Energi Cahaya Industritama (ECI) 6 Juni lalu. Bagaimana tindakan pemerintah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/ketika-korban-tewas-di-lubang-tambang-batubara-kaltim-terus-berulang/">Ketika Korban Tewas di Lubang Tambang Batubara Kaltim Terus Berulang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lubang bekas tambang batubara di Kalimantan Timur terus meminta korban jiwa. Data Jaringan Advokasi tambang (Jatam), sudah lebih 50 orang jadi korban lubang tambang batubara. Terbaru,  Muhammad Aji Wardana, warga Jalan Al Hasani RT5, Kelurahan Bantuas, Samarinda, Kalimantan Timur, tewas tenggelam diduga dalam konsesi PT Energi Cahaya Industritama (ECI) 6 Juni lalu. Bagaimana tindakan pemerintah dan penegakan hukumnya? Kematian Aji ini menambah panjang daftar korban di lubang bekas tambang batubara yang selama satu dekade lebih menjadi sorotan tajam Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim. Organisasi masyarakat sipil itu mencatat, pria 29 tahun itu merupakan korban ke-53 yang meninggal dunia di lubang bekas tambang di Bumi Mulawarman. Mustari Sihombing,  Dinamisator Jatam Kaltim, menilai,  penegak hukum tidak menunjukkan keseriusan dalam menindak laporan yang selama ini masyarakat sipil sampaikan. “Ini bukan kasus baru. Dari 2011 sudah terjadi dan Jatam berkali-kali melaporkan kasus serupa ke Polres Samarinda. Tapi sampai sekarang enggak ada penyelesaian,” kata Judika, sapaan akrabnya, Jumat (12/6/26). Seharusnya, kematian di lubang tambang batubara bisa kena pidana karena unsur kelalaian sudah jelas dalam perundang-undangan, termasuk dalam ketentuan KUHP baru. “Kalau kematian disebabkan kelalaian itu ada ancaman pidana sampai lima tahun. Harusnya para pelaku usaha yang lalai bisa diproses,” katanya. Dia bilang, desakan penanganan lubang tambang sudah berlangsung lama. Pada 2015, gerakan masyarakat sipil di Samarinda sempat memaksa perusahaan tambang memasang pagar dan papan peringatan di sekitar bekas lubang agar tidak lagi memakan korban. Pada 2016, 116 perusahaan tambang membubuhkan tanda tangan di atas Pakta Integritas dalam pertemuan di Balikpapan. Perjanjian itu memuat lima poin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/01/ketika-korban-tewas-di-lubang-tambang-batubara-kaltim-terus-berulang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/01/ketika-korban-tewas-di-lubang-tambang-batubara-kaltim-terus-berulang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Buntal di Belitung Ini Membuka Jejak Sungai Purba yang Hilang Sejak Zaman Es</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-buntal-di-belitung-ini-membuka-jejak-sungai-purba-yang-hilang-sejak-zaman-es/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-buntal-di-belitung-ini-membuka-jejak-sungai-purba-yang-hilang-sejak-zaman-es/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jun 2026 14:11:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/07/22012421/Ikan-buntal-air-tawar-di-Tebat-Rasau-secara-morfologi-dan-etologi-pemangsa-mirip-dengan-spesies-P.-hilgendorfii-dari-Kalimantan-Timur.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129945</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suhandi mendayung sampannya menerobos rapatnya tumbuhan rasau di Tebat Rasau, rawa luas di Desa Lintang, Kabupaten Belitung Timur. Saat memeriksa bubunya, satu ikan menarik perhatian: ikan buntal yang langsung menggembung ketika dipegang. &#8220;Ini dia yang kita cari-cari, aman dipegang dan dikonsumsi karena tidak beracun seperti ikan buntal umumnya,&#8221; katanya. Bagi Suhandi dan masyarakat Desa Lintang, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-buntal-di-belitung-ini-membuka-jejak-sungai-purba-yang-hilang-sejak-zaman-es/">Ikan Buntal di Belitung Ini Membuka Jejak Sungai Purba yang Hilang Sejak Zaman Es</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suhandi mendayung sampannya menerobos rapatnya tumbuhan rasau di Tebat Rasau, rawa luas di Desa Lintang, Kabupaten Belitung Timur. Saat memeriksa bubunya, satu ikan menarik perhatian: ikan buntal yang langsung menggembung ketika dipegang. &#8220;Ini dia yang kita cari-cari, aman dipegang dan dikonsumsi karena tidak beracun seperti ikan buntal umumnya,&#8221; katanya. Bagi Suhandi dan masyarakat Desa Lintang, ikan ini sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dimasak untuk konsumsi pribadi, kulitnya yang kasar dipakai untuk mengamplas sampan. Tapi bagi para ilmuwan, ikan buntal air tawar ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar: bukti biologis tentang sungai purba yang pernah membentang jutaan tahun lalu, menghubungkan Belitung dengan Kalimantan jauh sebelum kedua wilayah ini terpisah oleh laut. Menurut jurnal Keim dkk. (2021), ikan buntal air tawar dari genus Pao tersebar dari lembah Sungai Mekong di Indochina hingga Sumatera. Di perairan air tawar Indonesia bagian barat, ada empat spesies yang teridentifikasi: P. bergii di Kalimantan Barat, P. hilgendorfii di Kalimantan Timur, P. leiurus dari Thailand hingga Jawa, dan P. palembangensis di anak-anak Sungai Musi, Palembang. Dari keempatnya, hanya P. bergii dan P. hilgendorfii yang tidak beracun dan aman dikonsumsi. Yang mengejutkan, spesies di Tebat Rasau justru lebih mirip dengan P. hilgendorfii dari Kalimantan Timur, bukan dengan P. bergii dari Kalimantan Barat yang secara geografis jauh lebih dekat ke Belitung. &#8220;Ikan buntal air tawar di Tebat Rasau memiliki morfologi dan etologi pemangsa yang sangat mirip dengan spesies Kalimantan Timur, P. hilgendorfii,&#8221; tulis jurnal tersebut. Kemiripan ini terlihat dari bentuk tubuh memanjang hingga bulat telur, posisi mata,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-buntal-di-belitung-ini-membuka-jejak-sungai-purba-yang-hilang-sejak-zaman-es/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ikan-buntal-di-belitung-ini-membuka-jejak-sungai-purba-yang-hilang-sejak-zaman-es/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kucing Tidak Pernah Menabrak Dinding di Kegelapan? Jawabannya Ada di Kumisnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-kucing-tidak-pernah-menabrak-dinding-di-kegelapan-jawabannya-ada-di-kumisnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-kucing-tidak-pernah-menabrak-dinding-di-kegelapan-jawabannya-ada-di-kumisnya/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jun 2026 13:09:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/12/22031808/kucing-China-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129944</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pernah memperhatikan kucing berjalan mulus di ruangan gelap tanpa menabrak apa pun, padahal mata manusia di posisi yang sama akan menabrak sofa atau meja? Jawabannya bukan soal penglihatan malam yang lebih baik saja. Jawabannya ada di kumisnya. Banyak yang mengira kumis kucing hanya pelengkap wajah, detail estetik yang membuatnya terlihat lucu. Padahal di baliknya tersembunyi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-kucing-tidak-pernah-menabrak-dinding-di-kegelapan-jawabannya-ada-di-kumisnya/">Mengapa Kucing Tidak Pernah Menabrak Dinding di Kegelapan? Jawabannya Ada di Kumisnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pernah memperhatikan kucing berjalan mulus di ruangan gelap tanpa menabrak apa pun, padahal mata manusia di posisi yang sama akan menabrak sofa atau meja? Jawabannya bukan soal penglihatan malam yang lebih baik saja. Jawabannya ada di kumisnya. Banyak yang mengira kumis kucing hanya pelengkap wajah, detail estetik yang membuatnya terlihat lucu. Padahal di baliknya tersembunyi salah satu sistem sensorik paling canggih di dunia hewan, alat navigasi yang memungkinkan kucing bergerak, berburu, dan bertahan hidup bahkan dalam kegelapan total. Leonie Richards, kepala praktik umum di Rumah Sakit Hewan U-Vet Universitas Melbourne, menjelaskan bahwa kumis kucing berfungsi sebagai alat navigasi sekaligus petunjuk arah bahaya yang akan terjadi. Secara ilmiah, kumis disebut vibrissae, berasal dari kata Latin vibrio yang berarti bergetar. Helai sensorik serupa juga tumbuh di alis, dagu, dan bagian belakang pergelangan kaki depan, di belakang cakar. &#8220;Semua punya sifat sensorik yang dapat membantu kucing mengetahui di mana mereka berada, secara spasial. Kumis menjadi organ sensorik yang ideal,&#8221; kata Richards. Cara kerjanya sederhana tapi sangat efektif. Setiap kali kumis menyentuh sesuatu, perubahan bentuk yang terjadi diteruskan ke mekanoreseptor di folikel pada pangkal kumis. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE (Januari 2023) menjelaskan bahwa vibrissae adalah struktur tipis, meruncing, dan fleksibel yang menjadi sumber informasi sensorik penting bagi banyak spesies mamalia, berbeda dari antena serangga yang memiliki sensor di sepanjang pangkalnya. Dengan kumis ini, kucing bisa mengetahui apakah tubuhnya cukup kecil untuk masuk ke dalam kotak atau ruang sempit, mendeteksi aliran udara untuk mengetahui kedekatannya dengan dinding atau objek lain di ruangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-kucing-tidak-pernah-menabrak-dinding-di-kegelapan-jawabannya-ada-di-kumisnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengapa-kucing-tidak-pernah-menabrak-dinding-di-kegelapan-jawabannya-ada-di-kumisnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Kungkang Disebut Hewan Pemalas?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/30/mengapa-kungkang-disebut-hewan-pemalas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/30/mengapa-kungkang-disebut-hewan-pemalas/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jun 2026 13:03:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/30125537/Kungkang1.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129939</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jalannya pelan, hanya bergerak saat makan daun. Kegiatannya, nyaris tidur sepanjang hari. Inilah alasan kungkang disebut hewan pemalas. Namun, di balik simbol malas itu, kungkang memiliki strategi evolusi paling unik. Ketika dunia berubah drastis di sekelilingnya, kungkang tetap diam di atas pohon. Bukan karena tidak bisa bergerak lebih cepat, tapi karena ia telah menemukan cara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/30/mengapa-kungkang-disebut-hewan-pemalas/">Mengapa Kungkang Disebut Hewan Pemalas?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jalannya pelan, hanya bergerak saat makan daun. Kegiatannya, nyaris tidur sepanjang hari. Inilah alasan kungkang disebut hewan pemalas. Namun, di balik simbol malas itu, kungkang memiliki strategi evolusi paling unik. Ketika dunia berubah drastis di sekelilingnya, kungkang tetap diam di atas pohon. Bukan karena tidak bisa bergerak lebih cepat, tapi karena ia telah menemukan cara untuk tidak perlu melakukannya. Kungkang dan kukang merupakan dua jenis satwa berbeda. Keduanya memang sama-sama bergerak lamban, sama-sama berbulu, dan namanya sama-sama membingungkan dalam Bahasa Indonesia. Kukang (Slow Loris, Genus Nycticebus), merupakan primata nokturnal yang hidup di hutan-hutan tropis Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan berstatus dilindungi. Meskipun,  kerap menjadi korban perdagangan ilegal karena parasnya yang menggemaskan. Sementara kungkang, dikutip dari situs YIARI, merupakan mamalia arboreal yang hidup di pohon. Hewan ini berasal dari hutan-hutan tropis di Amerika Tengah dan Amerika Selatan, terutama di Brasil, Panama, dan Kosta Rika. Dalam Bahasa Inggris, kungkang dikenal dengan nama sloth, yang berarti “kemalasan”, karena durasi tidurnya 15-20 jam per hari. Kungkang termasuk Ordo Pilosa, yang berkerabat dengan trenggiling bersisik dan armadillo. Kelompok ini merupakan satu garis mamalia tertua, yang telah menghuni bumi sekitar 65,5 juta tahun. Kungkang dijuluki hewan pemalas karena sebagian besar waktunya digunakan untuk tidur. Foto: Dok. The Sloth Conservation Foundation. Penelitian kungkang Para ilmuwan yang melakukan penelitian terhadap kungkang, kini memiliki petunjuk mengapa jenis ini bisa bertahan hidup dengan bergerak lambat selama puluhan juta tahun. Jawabannya ada pada DNA-nya, yang oleh para genetikawan dijuluki &#8220;gen loncat&#8221;; potongan-potongan kode genetik yang mampu berpindah tempat di dalam genom. Sebuah studi genomik terbaru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/30/mengapa-kungkang-disebut-hewan-pemalas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/30/mengapa-kungkang-disebut-hewan-pemalas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Jejak Tambang Ilegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/06/dari-jejak-tambang-illegal-hingga-upaya-warga-lestarikan-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/06/dari-jejak-tambang-illegal-hingga-upaya-warga-lestarikan-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jun 2026 03:00:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Karen Anastasia Surbakti*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/15171025/3-4-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=129896</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Di balik kejadian alam, kerusakan lingkungan, hingga kerugian negara ada cerita masyarakat yang seringkali tak pernah muncul. Ada kerusakan lingkungan, ekonomi dan budaya yang tak pernah dihitung dalam angka oleh pemerintah. Pembangunan ekonomi menjadi salah satu tolak ukur yang seringkali hanya ilusi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/06/dari-jejak-tambang-illegal-hingga-upaya-warga-lestarikan-hutan/">Dari Jejak Tambang Ilegal hingga Upaya Warga Lestarikan Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Di balik kejadian alam, kerusakan lingkungan, hingga kerugian negara ada cerita masyarakat yang seringkali tak pernah muncul. Ada kerusakan lingkungan, ekonomi dan budaya yang tak pernah dihitung dalam angka oleh pemerintah. Pembangunan ekonomi menjadi salah satu tolak ukur yang seringkali hanya ilusi bagi masyarakat di sekitarnya. Sementara itu, masyarakat dan alam terus berupaya melakukan adaptasi. Dalam kurun waktu terakhir, terdapat berbagai dinamika yang menunjukkan persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Dari Pulau Jawa, Sulawesi hingga Nusa Tenggara Timur, ada cerita inspiratif hingga jejak gelap yang berkaitan dengan masa depan lingkungan hidup kita. Alam yang semakin sulit diprediksi berjalan bersamaan dengan aktivitas manusia yang meninggalkan dampak buruk bagi lingkungan. Dari jejak tambang emas ilegal yang menyeret kerugian negara dan pencemaran merkuri, kehidupan nelayan kepiting di mangrove bangkalan, kemandirian energi warga Desa Banasu melalui mikro hidro hingga peluang ekonomi bambu di Flores. Kisah ini akan menggambarkan bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Ada yang sebagai perusak demi kepentingan sesaat, ada pula yang menjadi penjaga kelestarian alam untuk jangka panjang. Mari simak lebih lanjut kisahnya lewat artikel pilihan bulan ini dalam Mongabay Snaps! 1. Jejak panjang kerugian negara akibat tambang emas ilegal Deretan ponton yang beroperasi di sungai di kawasan Geopark Silokek sebelum hanyut. Foto: Novia Harlina/Mongabay Indonesia. Praktik Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) terus marak terjadi di Indonesia. Data PPATK menunjukkan nilai transaksi mencurigakan yang mencapai angka Rp1.000 triliun dalam dua tahun terakhir. Sayangnya, pemerintah tidak tegas dalam penanganan kasus ini.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/06/dari-jejak-tambang-illegal-hingga-upaya-warga-lestarikan-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/06/dari-jejak-tambang-illegal-hingga-upaya-warga-lestarikan-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menelisik Bisnis Minyak Hati Hiu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/30/menelisik-bisnis-minyak-hati-hiu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/30/menelisik-bisnis-minyak-hati-hiu/#respond</comments>
					<pubDate>30 Jun 2026 01:06:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan dan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/27055358/20260412_135004-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129817</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan lombok]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, kelautan dan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan huku]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sulla, bukan nama sebenarnya,  pamit sebentar untuk masuk ke kamar. Sesaat kemudian dia keluar dengan dua botol produk berbahan minyak hati hiu di tangan. Satu botol berisi cairan 100 ml. Satunya, kapsul 60 butir. Dia pasarkan produk itu lewat platform media sosial, seperti Facebook, dan Tiktok. Marketplace macam Shopee juga menjadi pilihan Sul untuk membuka [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/30/menelisik-bisnis-minyak-hati-hiu/">Menelisik Bisnis Minyak Hati Hiu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sulla, bukan nama sebenarnya,  pamit sebentar untuk masuk ke kamar. Sesaat kemudian dia keluar dengan dua botol produk berbahan minyak hati hiu di tangan. Satu botol berisi cairan 100 ml. Satunya, kapsul 60 butir. Dia pasarkan produk itu lewat platform media sosial, seperti Facebook, dan Tiktok. Marketplace macam Shopee juga menjadi pilihan Sul untuk membuka lapak dagangan. Untuk botol ukuran 100 ml, dia patok harga Rp112.500 per botol, harga sama untuk kapsul 60 butir. Isi 30 butir Rp58.500 dan Rp215.000 untuk isi 120 butir. Bahan baku dia beli dalam bentuk minyak hati curah dari para nelayan Tanjung Luar. Setelah itu, dia kemas dalam botol berlabel. Proses produksi kapsul Sul lakukan secara manual menggunakan mesin press  bantuan pemerintah. Bahan-bahan lain seperti cangkang kapsul dan botol kemasan dia beli secara online. Dalam sebulan, Sul menghabiskan 4-5 liter bahan baku untuk jualan. Bahan baku itu dengan mudah dia dapatkan dari nelayan penangkap hiu yang cukup banyak di Tanjung Luar. Seorang nelayan di Lombok Timur membelah bagian tubuh hiu guna diambil hatinya. Foto: Achmad Rizki Muazam/Mongabay Indonesia. Di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tanjung Luar, jadi satu  titik pendaratan nelayan hiu di Lombok. Abdulgus, bukan nama sebenarnya,  sejak 1999, aktif tangkap hiu. Saban tahun, terutama kurun Oktober-April, kala musim angin timur berhembus, pria asal Tanjung Luar itu melepas tambatan perahu untuk berburu hiu. Terkadang dia melaut berdua menggunakan kapal berukuran 5 GT menyusuri perairan Lombok yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Lokasinya sekitar 20 mil dari bibir pantai. Rawai dasar (bottom longline) dengan 400 mata&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/30/menelisik-bisnis-minyak-hati-hiu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/30/menelisik-bisnis-minyak-hati-hiu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Kedaulatan Pangan Para Perempuan dari Lonca</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/29/cerita-kedaulatan-pangan-para-perempuan-dari-lonca/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/29/cerita-kedaulatan-pangan-para-perempuan-dari-lonca/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jun 2026 16:05:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/29155649/Pampa-tamimi-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129914</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Matahari di ufuk timur saat beberapa perempuan berjalan beriringan menuju kebun. Di kiri-kanan jalan terlihat pohon kakao dan durian. Ada juga pinus di kejauhan. Pagi itu,  langit cerah. Udara segar. Para perempuan itu adalah warga Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Mereka tergabung dalam Komunitas Tobine Mohintuhu. Tobine Mohintuhu, berasal dari Bahasa Uma, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/cerita-kedaulatan-pangan-para-perempuan-dari-lonca/">Cerita Kedaulatan Pangan Para Perempuan dari Lonca</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Matahari di ufuk timur saat beberapa perempuan berjalan beriringan menuju kebun. Di kiri-kanan jalan terlihat pohon kakao dan durian. Ada juga pinus di kejauhan. Pagi itu,  langit cerah. Udara segar. Para perempuan itu adalah warga Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Mereka tergabung dalam Komunitas Tobine Mohintuhu. Tobine Mohintuhu, berasal dari Bahasa Uma, berarti perempuan bersatu. Komunitas ini dari anggota sampai pengurus adalah perempuan. Kebun itu juga berisi ladang jagung, posisi tertinggi dibanding lahan sekitar. Ada pondok kayu di tengah-tengah lahan yang mereka sebut pampa. “Bahasa kampung sudah itu,” kata Elna Hadajuga juga Kominas Tobine kepada Mongabay, Kamis (7/5/26). Pampa merujuk kepada kebun dengan tanaman apa saja, termasuk pohon kayu keras seperti kopi, durian, atau kakao. “Iya, pampa semua.” Tanaman kakao di pampa perempuan Desa Lonca, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Foto: Moh Tamimi/Mongabay Indonesia Selain pampa komunitas, setiap keluarga biasa punya pampa sendiri-sendiri. Setiap pampa itu para perempuan yang mengelolanya. Elda bilang, pampa di sana biasa tanam jagung, padi, sayur mayur, durian, kopi, hingga kakao. “Biasanya jagung, kalau (lahan) baru buka, buka jagung dulu,” kata Elna. Warga Desa Lonca biasa buka lahan di sekitar mereka, tidak jauh dari pemukiman. Saat ke lahan, mereka biasa bekerja gotong royong atau mereka sebut mapalus. Sayur mayur seperti sawi, terung, tomat, cabai, hasil dari pampa biasa mereka konsumsi untuk keluarga, kalaupun jual, kepada tetangga dekat mereka saja. Untuk mata pencarian, mereka lebih bergantung kepada tanaman cokelat, durian, getah pinus atau madu hutan. Kalau jagung mereka jadikan pakan ternak, kadang jual.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/cerita-kedaulatan-pangan-para-perempuan-dari-lonca/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/29/cerita-kedaulatan-pangan-para-perempuan-dari-lonca/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perdagangan Ilegal Lutung Jawa Masih Terjadi, Begini Modusnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/29/perdagangan-ilegal-lutung-jawa-masih-terjadi-begini-modusnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/29/perdagangan-ilegal-lutung-jawa-masih-terjadi-begini-modusnya/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jun 2026 08:27:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/29082159/REHABILITASI-LUTUNG-JAWA-DI-JLC-Falahi-Mubarok_Mongabay-Indonesia-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129907</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengapa lutung jawa yang dilindungi undang-undang masih banyak ditemukan di kandang peliharaan? Pertanyaan ini merupakan pekerjaan besar bagi perlindungan Trachypithecus auratus. Sebab, sebagian besar penghuni pusat rehabilitasi, merupakan hasil perdagangan ilegal dan peliharaan. Di Javan Langur Center (JLC) The Aspinall Foundation Indonesia, kisah seperti ini datang hampir setiap tahun. Ada yang disita dari perdagangan satwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/perdagangan-ilegal-lutung-jawa-masih-terjadi-begini-modusnya/">Perdagangan Ilegal Lutung Jawa Masih Terjadi, Begini Modusnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengapa lutung jawa yang dilindungi undang-undang masih banyak ditemukan di kandang peliharaan? Pertanyaan ini merupakan pekerjaan besar bagi perlindungan Trachypithecus auratus. Sebab, sebagian besar penghuni pusat rehabilitasi, merupakan hasil perdagangan ilegal dan peliharaan. Di Javan Langur Center (JLC) The Aspinall Foundation Indonesia, kisah seperti ini datang hampir setiap tahun. Ada yang disita dari perdagangan satwa liar, ada yang diserahkan sukarela pemiliknya, ada juga  yang datang dalam kondisi memprihatinkan setelah hidup jauh dari habitat alaminya. Pusat rehabilitasi tersebut telah menangani 192 individu lutung jawa. Data JLC menunjukkan, hampir 60 persen primata endemik Jawa yang direhabilitasi ini berasal dari sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Gakkum Kementerian Kehutanan, maupun kepolisian. “Sisanya, peliharaan masyarakat yang diserahkan ke lembaga konservasi,” jelas Iwan Kurniawan, Manajer JLC The Aspinall Foundation Indonesia, Rabu (24/6/26). Meski demikian, dua tahun terakhir jumlah lutung yang masuk ke JLC justru lebih banyak dari penyerahan masyarakat. Namun, menurut Iwan, bila ditelusuri lebih jauh, sebagian besar kasus penyerahan tetap bermuara pada perdagangan ilegal. “Sebagian besar tetap dari perdagangan liar.” Pola yang umum terjadi adalah masyarakat membeli dan memelihara lutung jawa sebagai hewan peliharaan. Saat keberadaannya diketahui BKSDA, si pemilik diberi pilihan untuk menjalani proses hukum atau menyerahkan lutung sukarela. Sebagian besar pemilik menyerahkan ke BKSDA, yang kemudian dititipkan ke JLC untuk direhabilitasi. Menurut Iwan, banyak masyarakat memelihara lutung sejak masih bayi karena dianggap lucu dan jinak. Namun ketika beranjak dewasa, primata tersebut mulai menunjukkan sifat alaminya sebagai satwa liar. “Selucu apa pun ketika kecil, saat besar pasti akan bermasalah.” Dampaknya tak hanya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/perdagangan-ilegal-lutung-jawa-masih-terjadi-begini-modusnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/29/perdagangan-ilegal-lutung-jawa-masih-terjadi-begini-modusnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>