- Muntholib Soetomo menjadi akademisi pertama yang mempopulerkan istilah “Orang Rimbo” melalui disertasinya tahun 1995 di Universitas Padjadjaran. Dia memilih istilah yang digunakan komunitas itu sendiri sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas dan martabat mereka, berbeda dengan penyebutan resmi pemerintah saat itu, yakni Suku Anak Dalam (SAD).
- Penelitian lapangan selama bertahun-tahun membuat Muntholib melihat kuatnya hubungan Orang Rimba dengan hutan dan lingkungan. Selama tinggal sekitar 4,5 tahun di Makekal, Jambi, dia mendokumentasikan berbagai aturan adat yang menunjukkan praktik konservasi, seperti larangan buang air di sungai, penghormatan terhadap kawasan kuburan, dan tata kelola ruang hidup yang menjaga kelestarian hutan.
- Karya Muntholib dinilai sebagai tonggak awal studi akademik tentang Orang Rimba di Indonesia. Antropolog Adi Prasetijjo menyebutnya sebagai pelopor yang pertama kali secara serius menjadikan Orang Rimba sebagai subjek penelitian antropologi, sekaligus membuka ruang bagi kajian-kajian lanjutan mengenai organisasi sosial, kepemimpinan, dan identitas masyarakat itu.
- Meski memiliki keterbatasan perspektif zamannya, kontribusi Muntholib tetap dianggap penting dan progresif. Pendekatan struktural-fungsional yang digunakannya dikritik karena cenderung memisahkan Orang Rimba dari masyarakat Melayu, namun karya itu menjadi fondasi bagi penelitian yang lebih kritis. Pada era Orde Baru, keberaniannya menggunakan istilah “Orang Rimba” juga dipandang sebagai terobosan karena tidak mengikuti nomenklatur resmi pemerintah.
Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mencatat, penyebutan ‘Orang Rimbo’ pertama kali secara akademis Muntholib Soetomo publikasikan melalui disertasinya di Universitas Padjajaran tahun 1995. Judulnya, “Orang Rimbo: Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat Terasing di Makekal, Provinsi Jambi”.
Muntholib ceritakan pengalamannya melakukan penelitian tentang kehidupan Orang Rimba. “Hutan itu hidup dan kehidupan mereka, Orang Rimba,” kata akademisi yang menghabiskan pengabdiannya sebagai dosen di Universitas Islam Negeri Sultan Thaha, Jambi itu.
Orang Rimba, katanya, memiliki tradisi tersendiri tentang bagaimana melindungi perempuan, memilih pemimpin, hingga menjaga lingkungannya.
“Orang Rimba tidak buang air (kotoran manusia) ke sungai. Karena itu tempat minum mereka,” katanya.
Tidak itu saja. Orang Rimba juga menganggap sungai adalah tempat suci yang mereka yakini sebagai tempat berjalannya para dewa.
Peraih gelar profesor ilmu sosial di Universitas Padjajaran ini pertama kali berkenalan dengan Orang Rimba awal 1980-an. Saat itu dia mendapat tugas dari sebuah lembaga untuk meneliti kemungkinan ada pemukiman Orang Rimba yang berpotensi menjadi desa.
Kala itu, akses ke lokasi sangat sulit. “Saya bergerak sendiri, mencari informasi sendiri.”
Selanjutnya pada awal 1990-an dia memulai penelitian disertasinya dan tinggal secara intens di Makekal Kabupaten Tebo kurang lebih 4,5 tahun. “Saya tinggal di lokasi, biaya sendiri, tidak ada yang membantu,” katanya.

Selama tinggal bersama Orang Rimba, pria berdarah Trenggalek ini menemukan banyak praktik yang menunjukkan hubungan sangat dekat antara Orang Rimba dan lingkungan hidup. Contoh, ada aturan mengenai lokasi permukiman, larangan mengganggu kuburan anak, hingga larangan buang air di sungai karena dianggap mencemari sumber air minum.
Nilai-nilai inilah yang gagal dipahami negara dan berusaha mengubah Orang Rimba dengan cara pandang orang luar. Karena itu, bagi Muntholib, istilah Orang Rimba bukan sekadar pilihan akademik, tetapi pengakuan terhadap komunitas yang memiliki hak untuk mendefinisikan dirinya sendiri.
“Kenapa disebut Orang Rimba? Karena memang mereka hidup di rimba, dalam bahasa Jambi hutan itu rimba.”
Menurut dia, sama seperti orang Sunda yang tidak ingin disebut Orang Jawa, atau Orang Tapanuli yang tidak ingin disamakan dengan Batak. Karena itu, Orang Rimba, juga memiliki hak sama untuk mendapat sebutan yang sesuai dengan identitas mereka sendiri. Hal itu sekaligus sebagai penghormatan terhadap identitas dan martabat mereka.
“Saya memakai istilah yang menurut mereka adalah nama mereka sendiri, bukan menurut nasional,” katanya.

Jadi pionir
Adi Prasetijjo, Antropolog Universitas Diponegoro yang concern ke isu Orang Rimba dan masyarakat hukum adat menyebut Muntholib sebagai intelektual lokal pertama yang serius menjadikan Suku Anak Dalam sebagai subjek penelitian antropologi.
“Disertasinya di Universitas Padjajaran yang menggunakan perspektif struktural-fungsional memberikan kontribusi awal dalam mendokumentasikan organisasi sosial, sistem kekerabatan, kepemimpinan dan pola kehidupan kelompok yang saat itu masih sedikit diteliti oleh akademisi Indonesia,” katanya.
Dia mengatakan, kontribusi itu jadi penting karena pada periode ketika kajian soal Orang RImba masih sangat terbatas. Dalam konteks itu, Muntholib berperan sebagai pionir yang membantu menghadirkan Orang Rimba dalam ruang akademik Indonesia dan memperkenalkan realitas kehidupan mereka ke khalayak lebih luas.
Meskipun begitu, karya Muntholib tak bisa lepas dari konteks intelektual dan sosial di zamannya. Pendekatan struktural-fungsional cenderung melihat masyarakat sebagai sistem sosial yang relatif stabil dan terpisah dari relasi kekuasaan yang lebih luas.
“Akibatnya, Orang Rimba sering diposisikan sebagai kelompok sosial yang berbeda dan terpisah dari masyarakat Melayu di sekitarnya. Kritik ini penting karena penelitian-penelitian yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa hubungan Orang Rimba dan Melayu sesungguhnya jauh lebih kompleks. Ditandai sejarah interaksi, pertukaran budaya, mobilitas sosial dan proses saling memengaruhi yang berlangsung selama berabad-abad,” katanya.
Meski demikian, kontribusi Muntholib tak dapat terreduksi hanya pada keterbatasan perspektif itu. Melalui karyanya, terbuka ruang bagi generasi peneliti berikutnya untuk mengembangkan pembacaan yang lebih kritis mengenai identitas, sejarah, dan relasi kuasa yang membentuk kehidupan Orang Rimba.
Sebab itu, kata Adi, posisi Muntholib dalam sejarah antropologi Jambi sebagai pelopor yang meletakkan pondasi awal studi Orang Rimba. “Sekaligus sebagai seorang intelektual yang merefleksikan batas-batas paradigma antropologi pada masanya.”
Rudy Syaf, Manajer Komunikasi KKI Warsi mengatakan, pada masa orde baru, hampir semua akademisi di Jambi selalu menyebut Orang Rimba dengan sebutan Suku Anak Dalam (SAD). Karena itu, apa yang Muntholib dengan sebutan ‘Orang Rimba’ sebagai sebuah terobosan.
“Biasanya akademisi cenderung mengikut pada pemerintah. Tapi Muntholib berani berbeda,” katanya.

*****