- Populasi harimau sumatera kian terancam akibat tekanan habitat yang terus menyempit. Perubahan hutan menjadi perkebunan, pemukiman, dan tambang membuat ruang jelajahnya terfragmentasi dan semakin terbatas.
- Konflik satwa, antara harimau dan manusia, seringkali memunculkan stigma agresif pada harimau sumatera. Padahal banyak penelitian menunjukkan satwa ini cenderung menghindari manusia, dan konflik biasanya muncul akibat gangguan habitat serta berkurangnya mangsa alami.
- Harimau sumatera merupakan subspesies terakhir harimau yang masih bertahan di Indonesia. Dua subspesies lain, harimau jawa dan harimau bali, sudah punah akibat tekanan perburuan dan hilangnya habitat.
- Aktivitas harian harimau sumatera didominasi oleh waktu istirahat. Penelitian menunjukkan sekitar setengah harinya digunakan untuk tidur, sementara aktivitas berburu lebih sering terjadi pada malam hari saat suhu lebih sejuk.
Yuk, segera ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya.
Ancaman deforestasi hingga perburuan liar kian mengancam populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Alih fungsi lahan menjadi pemukiman, perkebunan, pertambangan dan lainnya membuat habitatnya terpecah-pecah. Kondisi ini membuat perjumpaan dengan harimau sering terjadi. Kemunculannya ini sering kali dianggap tanda bahaya atau ancaman.
Banyak yang mengira mereka adalah agresif, tapi apa itu benar atau hanya sebatas mitos? Padahal banyak penelitian menyebutkan spesies endemik ini cenderung menghindari manusia dan konflik yang muncul umumnya karena habitat menyempit dan sumber pakan yang berkurang di hutan.
Padahal, harimau sumatera menjadi subspesies terakhir dari tiga subspesies endemik Indonesia. Harimau jawa dan harimau bali, misalnya yang kini sudah punah. Yuk, mari kita kenali subspesies endemik Indonesia ini lebih dekat lagi!
1. Paling kecil di antara subspesies lainnya

Harimau sering disebut sebagai “kucing besar”. Namun, tiap subspesies memiliki ciri fisik yang berbeda. Harimau sumatera, misalnya, termasuk subspesies harimau terkecil dibandingkan dengan subspesies harimau lainnya di dunia. Selain itu, ia juga memiliki loreng yang lebih padat dengan warna yang lebih gelap pula.
Penelitian Fathoni (2022) menyebutkan harimau sumatera jantan memiliki bobot dan tubuh yang lebih besar dari betina. Jantan memiliki berat 100-140 kg dengan panjang tubuh 140-280 cm, sedangkan betina 100-140 kg dengan ukuran 80–90 cm. Ciri-ciri fisik ini bukan terjadi tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk adaptasi harimau terhadap habitatnya yang berada di iklim tropis tepat di garis khatulistiwa.
2. Habitatnya berada di Leuser dan Kerinci

Harimau sumatera secara alami hanya tersebar di daerah pulau Sumatera. Mereka tersebar di Kawasan Ekosistem Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang menjadi habitat utama dari sang predator hutan itu. Meski begitu, habitat ini kini terancam dengan adanya penyempitan ruang jelajah dan perburuan. Sehingga, tak jarang dia menjelajah ke wilayah pemukiman, yang dahulunya adalah habitat aslinya.
Kini jumlah populasinya diperkirakan 400-600 individu di alam liar. Perdagangan ilegal bagian tubuh harimau dan konflik dengan manusia masih menjadi ancaman serius bagi satwa ini. Sementara itu, hukuman bagi para pelaku perburuan dan perdagangan masih belum memberikan efek jera.
3. Punya hobi tidur dan bermalas-malasan

Kalau ada satu kegiatan favorit harimau sumatera adalah tidur. Penggambaran harimau sumatera yang penuh akan aktivitas berburu dan bertindak agresif justru tidak tepat. Penelitian Universitas Negeri Padang (2024) menyebutkan ia justru menghabiskan 47—50% dalam satu hari untuk beristirahat dan tidur.
Bahkan, ia akan menghabiskan waktu istirahat dan tidurnya pada waktu siang hari. Menurut Zaharani (2024), siang hari menjadi pilihannya untuk tidur karena suhu habitatnya yang panas pada waktu tersebut. Jadi, harimau dapat dikategorikan sebagai hewan nokturnal atau hewan yang aktif pada malam hari. Ia lebih menyukai aktivitas berburu dan mencari mangsa ketika suhu sudah mulai sejuk atau tidak panas lagi.
4. Punya panggilan unik

Sebagian masyarakat memiliki beragam cerita, mitos hingga panggilan kepada harimau sumatera berdasarkan kearifan lokal yang ada. Mayoritas masyarakat di Sumatera sering kali merujuk harimau sumatera dengan panggilan yang setara dengan istilah untuk orang tua.
Ini sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan endemik Indonesia ini. Jadi, masyarakat sekitar justru tumbuh dengan pemahaman bahwa harimau sumatera adalah sosok yang harus dihormati dan dilindungi.
Salah satu sebutan yang umum digunakan untuk harimau sumatera adalah “nenek”. Sebutan tersebut digunakan oleh masyarakat Sumatera Selatan dan Jambi untuk merujuk ke harimau sumatera.
5. Musuh utama dari harimau sumatera

Meski banyak penelitian menyebutkan bahwa satwa ini jarang atau bahkan tidak bertemu dengan manusia, memiliki kedekatan kearifan lokal bagi masyarakat setempat, habitat dan populasinya masih terus terancam.
Aktivitas manusia menjadi penyebabnya. Mulai dari perusakan habitat, perburuan liar, pemasangan jebakan hewan yang buruk, serta perburuan hewan mangsa dari harimau sumatera itu sendiri. Parahnya, banyak anggapan bahwa harimau menjadi hewan yang agresif bahkan mengancam pemukiman warga.
Padahal ruang jelajahnya yang kian menyempit dan pakan di hutan yang sedikit akibat alih fungsi yang menimbulkan ancaman itu sendiri. Oleh karenanya, pembuatan koridor satwa, patroli jerat, pengawasan dan hukuman berat tegas terhadap pemburu bisa menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan alam, sekaligus satwa kunci di dalamnya.
*****
Tuah Ananda adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Indonesia yang memiliki minat dalam dunia kepenulisan serta isu-isu lingkungan. Saat ini, Tuah tengah mengembangkan kemampuannya untuk menyampaikan berbagai permasalahan lingkungan melalui tulisan yang mudah dipahami dengan harapan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu tersebut.
Citation:
Fathoni, M. N. I. (2022). Dampak alih fungsi lahan dalam studi kasus konflik manusia dan harimau sumatera di Sumatera. Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang.
Paiman, A., Anggraini, R., & Maijunita. (2018). Faktor kerusakan habitat dan sumber air terhadap populasi harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae Pocock, 1929) di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Taman Nasional Sembilang. Jurnal Silva Tropika, 2(2), 22–28.
Usman, H., Azmi, U., Ahmad, Z., & Wan Hasbullah, W. M. D. (2014). Mitos harimau dalam tradisi lisan masyarakat Kerinci di Jambi, Sumatera. Jurnal Pengajian Melayu, 25, 24–44.
Zaharani, A., Latifah, M., Zaryanti, R., Fajrina, S., & Razak, A. (2024). Kajian perilaku harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Journal BIOnatural, 11(2), 103–109.