<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=mochamad-ade-maulidin-jakarta&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/mochamad-ade-maulidin-jakarta/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 26 Oct 2026 11:00:55 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>
				<item>
					<title>Lebah Bersarang pada Alat Berat Rusak di Banjarbaru, Dampak Kebakaran Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 11:00:55 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21212803/IMG_2564-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135375</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum juga padam di Kalimantan Selatan (Kalsel). Periode 1 Januari hingga 14 Oktober 2026, terjadi 4.926 kejadian. Bencana ini tidak hanya menghanguskan vegetasi, juga merenggut habitat serangga penyerbuk. Koloni lebah madu timur (Apis cerana) terlihat membangun sarang di bekas alat berat penuh karat, pada lahan semak belukar di Kecamatan Liang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/">Lebah Bersarang pada Alat Berat Rusak di Banjarbaru, Dampak Kebakaran Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum juga padam di Kalimantan Selatan (Kalsel). Periode 1 Januari hingga 14 Oktober 2026, terjadi 4.926 kejadian. Bencana ini tidak hanya menghanguskan vegetasi, juga merenggut habitat serangga penyerbuk. Koloni lebah madu timur (Apis cerana) terlihat membangun sarang di bekas alat berat penuh karat, pada lahan semak belukar di Kecamatan Liang Anggang, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Fauzan, warga yang mendiami daerah itu, bilang, jenis lebah madu serupa tadinya menghuni pepohonan tinggi sekitar 50 meter ke arah barat dari lokasi sekarang. Tiga bulan terakhir, makhluk berukuran kuku jari kelingking orang dewasa itu pindah tempat yang tidak lazim. Husni Naparin dan Ismu, pemburu lebah madu liar dari Madu Hutan Kaum, tiba di lokasi sarang setelah melacak arah terbang lebah dari jalan raya. Mereka mengamati melalui lubang di sebelah kiri. Lebah tampak aktif keluar masuk sarang. Mereka mengintip lagi melalui celah kecil di sisi kanan penutup rantai berbahan pelat logam tua yang keropos. Saat membuka sedikit penutup, sarang bertumpuk berlapis-lapis. Ukurannya sedikit lebih besar daripada selembar uang kertas. Di dalamnya tersimpan sarang dengan kondisi madu yang berlimpah. Naparin katakan, lebah madu timur membutuhkan waktu sekitar 1-4 minggu untuk dapat menghasilkan nektar sampai siap panen. Itu pun bergantung pada ketersediaan pakan bila sarang sudah terbentuk. Berbeda dengan lebah madu raksasa (Apis dorsata) yang berukuran dua kali lebih besar. Selain memiliki lebih banyak lebah pekerja, anatomi volume lambungnya juga dapat menampung lebih banyak nektar, hingga sarang cepat terisi. Seorang pemadam membasahi lahan gambut yang terbakar di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Foto: Rendy&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/26/lebah-bersarang-pada-alat-berat-rusak-di-banjarbaru-dampak-kebakaran-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hiu Cookiecutter, Pemburu dengan Gigitan seperti Cetakan Kue</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 10:00:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/16133705/960px-Isistius_brasiliensis_SI-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135519</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Luka berbentuk lingkaran pada tubuh paus atau lumba-lumba dapat menjadi petunjuk kehadiran pemburu yang ukurannya jauh lebih kecil. Pelakunya adalah hiu cookiecutter (Isistius brasiliensis), penghuni laut dalam dengan panjang tubuh sekitar setengah meter. Namanya merujuk pada bekas gigitan yang menyerupai hasil cetakan pemotong kue. Melalui jejak luka itulah keberadaannya kerap diketahui, meskipun hewan yang meninggalkannya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/">Hiu Cookiecutter, Pemburu dengan Gigitan seperti Cetakan Kue</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Luka berbentuk lingkaran pada tubuh paus atau lumba-lumba dapat menjadi petunjuk kehadiran pemburu yang ukurannya jauh lebih kecil. Pelakunya adalah hiu cookiecutter (Isistius brasiliensis), penghuni laut dalam dengan panjang tubuh sekitar setengah meter. Namanya merujuk pada bekas gigitan yang menyerupai hasil cetakan pemotong kue. Melalui jejak luka itulah keberadaannya kerap diketahui, meskipun hewan yang meninggalkannya sulit diamati secara langsung. Hiu ini mampu memperoleh makanan dari tubuh satwa laut yang berkali-kali lebih besar darinya. Cara makannya mengandalkan perpaduan bibir pengisap dan susunan gigi yang khas. Ketika mendekati hewan besar, cookiecutter menempelkan mulutnya pada kulit sasaran. Gigi bawahnya yang besar dan saling bertautan kemudian menyayat jaringan, sementara gerakan tubuh membantu melepaskan potongan daging. Paus, lumba-lumba, hingga hiu besar dapat menjadi sasaran. Pola makan ini sering disebut sebagai parasitisme karena cookiecutter mengambil bagian tubuh hewan tanpa harus membunuhnya. Ukuran kecil pun tidak menghalanginya memanfaatkan sumber makanan yang tersedia pada tubuh penghuni samudra lainnya. Selain memiliki alat makan khusus, cookiecutter membawa sumber cahaya pada tubuhnya. Organ bernama fotofor di sisi perut menghasilkan cahaya kehijauan yang membantu menyamarkan siluetnya ketika dilihat dari bawah. Mekanisme ini disebut kontra-iluminasi: cahaya tubuh menyamai latar cahaya redup dari arah permukaan, sehingga bentuk hiu lebih sulit dikenali. Adaptasi tersebut memperlihatkan bahwa menghasilkan cahaya di laut dapat membantu hewan bersembunyi. Bagi cookiecutter, kemampuan menyamarkan tubuh menjadi bagian penting dari kehidupan di perairan yang minim cahaya. Namun, terdapat bagian gelap di sekitar leher yang tidak ikut bercahaya. Sejumlah peneliti menduga bagian ini berfungsi sebagai umpan, menyerupai hewan kecil yang menarik perhatian ikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/hiu-cookiecutter-pemburu-dengan-gigitan-seperti-cetakan-kue/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Katak Pohon Harlequin, Amfibi Hutan Sumatera yang Tidak Mudah Dilihat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/26/katak-pohon-harlequin-amfibi-hutan-sumatera-yang-tidak-mudah-dilihat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/26/katak-pohon-harlequin-amfibi-hutan-sumatera-yang-tidak-mudah-dilihat/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 08:54:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/26084705/Katak-Pohon3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135557</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Warna kuning pada sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, kontras dengan punggungnya yang berwarna cokelat kemerahan. Namanya, katak pohon Rhacophorus pardalis, yang dikenal dalam Bahasa Inggris disebut Harlequin Tree Frog. Katak ini terpantau di Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Mistar, ahli amfibi dan reptil dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), mengatakan, jenis ini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/katak-pohon-harlequin-amfibi-hutan-sumatera-yang-tidak-mudah-dilihat/">Katak Pohon Harlequin, Amfibi Hutan Sumatera yang Tidak Mudah Dilihat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Warna kuning pada sisi tubuhnya tampak mencolok ketika terkena cahaya, kontras dengan punggungnya yang berwarna cokelat kemerahan. Namanya, katak pohon Rhacophorus pardalis, yang dikenal dalam Bahasa Inggris disebut Harlequin Tree Frog. Katak ini terpantau di Cagar Alam Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Mistar, ahli amfibi dan reptil dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), mengatakan, jenis ini memiliki sebaran cukup luas di Sumatera. Namun, perjumpaannya relatif jarang karena lebih sering berada di hutan, khususnya yang ada genangan air. “Hubungan antara pepohonan dan genangan air membuat di hutan sangat mendukung mendukung kehidupannya,” ungkapnya, Senin (28/9/26). Katak pohon Rhacophorus pardalis, yang dikenal juga dengan nama Harlequin Tree Frog. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Katak ini termasuk famili Rhacophoridae, yang banyak dijumpai di kawasan tropis Asia. Tubuhnya relatif kecil. Jantan panjang sekitar 4–5,5 sentimeter, sedangkan mencapai 6–7 sentimeter. Ukuran tersebut diukur dari ujung moncong hingga kloaka, bukan sampai ujung kaki. “Sisi tubuhnya cenderung kekuningan dihiasi bintik-bintik gelap. Bagian bawah tubuh dan paha dapat memperlihatkan warna jingga hingga kemerahan.” Kaki belakangnya yang panjang, mendukung kemampuan melompat. Sementara itu, selaput di antara jari-jari kaki membantu memperluas permukaan tubuh saat katak bergerak di udara. Pada sejumlah katak pohon dari genus Rhacophorus, adaptasi tersebut memungkinkan mereka meluncur dari satu tempat ke tempat lain. Kemampuan meluncur inilah yang membuat sejumlah spesies dalam kelompok tersebut dikenal sebagai katak terbang. Bukan berarti katak dapat terbang aktif seperti burung, melainkan mampu memanfaatkan selaput pada tubuhnya untuk memperlambat penurunan dan mengarahkan pergerakan ketika berpindah di antara pepohonan. Menurut Mistar, perjumpaan dengan Rhacophorus pardalis di Kalimantan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/katak-pohon-harlequin-amfibi-hutan-sumatera-yang-tidak-mudah-dilihat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/26/katak-pohon-harlequin-amfibi-hutan-sumatera-yang-tidak-mudah-dilihat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tanpa Telinga, Ulat Bisa Menangkap Suara Predator Lewat Rambut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tanpa-telinga-ulat-bisa-menangkap-suara-predator-lewat-rambut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tanpa-telinga-ulat-bisa-menangkap-suara-predator-lewat-rambut/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 00:30:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/31105659/erda-estremera-ZxrXgnLNpqQ-unsplash-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135497</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagaimana ulat mengetahui ada ancaman yang terbang mendekat jika tidak memiliki telinga? Jawabannya tersimpan pada rambut-rambut halus di tubuhnya. Penelitian yang melibatkan ilmuwan Universitas Binghamton menunjukkan bahwa ulat mampu mendeteksi suara yang merambat melalui udara. Kemampuan ini memberi petunjuk bahwa dunia sensorik ulat lebih beragam daripada yang terlihat. Mereka dapat menangkap pergerakan udara akibat suara, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tanpa-telinga-ulat-bisa-menangkap-suara-predator-lewat-rambut/">Tanpa Telinga, Ulat Bisa Menangkap Suara Predator Lewat Rambut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagaimana ulat mengetahui ada ancaman yang terbang mendekat jika tidak memiliki telinga? Jawabannya tersimpan pada rambut-rambut halus di tubuhnya. Penelitian yang melibatkan ilmuwan Universitas Binghamton menunjukkan bahwa ulat mampu mendeteksi suara yang merambat melalui udara. Kemampuan ini memberi petunjuk bahwa dunia sensorik ulat lebih beragam daripada yang terlihat. Mereka dapat menangkap pergerakan udara akibat suara, sehingga informasi tentang lingkungan tidak hanya datang melalui getaran pada daun atau batang tempatnya berpijak. Penelitian tersebut berawal dari pengamatan Carol Miles, profesor ilmu biologi di Universitas Binghamton. Dia melihat ulat menunjukkan respons kejut secara konsisten ketika mendengar suara manusia. Untuk mengetahui pemicunya, tim melakukan percobaan dalam ruang anekoik, ruang yang dirancang untuk meminimalkan pantulan suara. Pengujian ini membantu membedakan respons terhadap suara di udara dengan respons terhadap getaran pada permukaan. Hasilnya, ulat menunjukkan reaksi 10-100 kali lebih kuat terhadap suara yang merambat melalui udara, mengarahkan perhatian peneliti pada rambut sensorik di tubuhnya. Rambut-rambut itu disebut setai dan terdapat pada bagian toraks serta abdomen. Cara kerjanya bergantung pada gerakan partikel udara yang menyertai gelombang suara. Ketika udara bergerak bolak-balik, rambut ikut bergetar dan memicu sinyal saraf. Melalui mekanisme tersebut, ulat memperoleh informasi tentang gangguan di sekitarnya tanpa membutuhkan lubang telinga atau membran timpani. Peran rambut ini diuji dengan menghilangkannya secara selektif. Setelah perlakuan tersebut, kemampuan ulat mendeteksi suara menurun drastis, memperkuat bukti bahwa setai merupakan bagian penting dari sistem sensoriknya. Kepekaan tersebut dapat membantu ulat menghadapi musuh yang datang dari udara. Dalam pengujian, sensitivitas tertingginya berada pada frekuensi 100-200 hertz, rentang yang berkaitan dengan kepakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tanpa-telinga-ulat-bisa-menangkap-suara-predator-lewat-rambut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/tanpa-telinga-ulat-bisa-menangkap-suara-predator-lewat-rambut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bisa Setinggi 23 Meter, Mengapa Gelombang Tertinggi Dunia Ada di Samudra Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/26/bisa-setinggi-23-meter-mengapa-gelombang-tertinggi-dunia-ada-di-samudra-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/26/bisa-setinggi-23-meter-mengapa-gelombang-tertinggi-dunia-ada-di-samudra-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>26 Okt 2026 00:00:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/25235101/View_from_the_bow_of_the_Fugro_Discovery_in_the_southern_Indian_Ocean_2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135538</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ombak yang pecah di pantai selatan Jawa atau di Mentawai sering terlihat seperti urusan laut setempat. Padahal sebagian ombak itu berasal dari badai yang terjadi beberapa hari sebelumnya dan ribuan kilometer jauhnya, di perairan dekat Antartika. Gelombang laut memindahkan energi angin lintas samudra, sehingga apa yang terjadi di satu belahan bumi dapat terasa di pantai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/bisa-setinggi-23-meter-mengapa-gelombang-tertinggi-dunia-ada-di-samudra-selatan/">Bisa Setinggi 23 Meter, Mengapa Gelombang Tertinggi Dunia Ada di Samudra Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ombak yang pecah di pantai selatan Jawa atau di Mentawai sering terlihat seperti urusan laut setempat. Padahal sebagian ombak itu berasal dari badai yang terjadi beberapa hari sebelumnya dan ribuan kilometer jauhnya, di perairan dekat Antartika. Gelombang laut memindahkan energi angin lintas samudra, sehingga apa yang terjadi di satu belahan bumi dapat terasa di pantai yang sangat jauh.Perairan itu adalah Samudra Selatan, yang mengelilingi Antartika. Pada Mei 2018, pelampung milik MetOcean Solutions di dekat Pulau Campbell, sekitar 700 kilometer di selatan Selandia Baru, merekam satu gelombang setinggi 23,8 meter, yang dilaporkan sebagai gelombang tertinggi yang pernah terekam di belahan bumi selatan. Gelombang setinggi itu belum menjadi rekor dunia, karena angka tertinggi dunia tercatat di Atlantik Utara. Sabuk angin di sekeliling Antartika Pada lintang sekitar 40 sampai 60 derajat selatan, hampir tidak ada daratan yang menghalangi angin barat. Angin ini bertiup mengelilingi bumi di atas laut terbuka, dan pelaut sejak lama menyebut sabuknya Roaring Forties, Furious Fifties, dan Screaming Sixties sesuai lintangnya. Belahan bumi utara memiliki benua yang memotong lintasan badai, sehingga kondisi seperti ini tidak ditemui di sana. Angin yang kuat, bertiup lama, dan menempuh jarak jauh di atas air tanpa terhalang (fetch) menghasilkan gelombang yang besar. Di Samudra Selatan ketiga syarat itu mudah terpenuhi karena sistem badai bergerak ke timur sepanjang lingkar Antartika. Pada badai 2018, kecepatan badai diperkirakan sepadan dengan kecepatan gelombang, sehingga gelombang terus tumbuh selama badai bergerak. Gelombang yang tumbuh dalam kondisi seperti ini menjadi panjang dan bertenaga. Peta Antartika dan Samudra Selatan. Pelampung di dekat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/26/bisa-setinggi-23-meter-mengapa-gelombang-tertinggi-dunia-ada-di-samudra-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/26/bisa-setinggi-23-meter-mengapa-gelombang-tertinggi-dunia-ada-di-samudra-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Lika Liku Para Pengemudi Becak Listrik di Malioboro [1]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/25/cerita-lika-liku-para-pengemudi-becak-listrik-di-malioboro-1/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/25/cerita-lika-liku-para-pengemudi-becak-listrik-di-malioboro-1/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 23:26:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Olivia Subandi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/25231939/becak-listrik-oliv-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135530</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Gio sumringah penuh asa ketika mendapat hibah becak listrik dari program Kementerian Keuangan 16 Juli lalu. Harapannya, bisa dapat kendaraan penunjang hidup, lebih bersih dan murah. Naas, saat becak dia bawa pulang ke rumahnya di daerah Piyungan, sambungan kabel soket listrik mendadak kendur hingga hangus terbakar di tengah jalan. Becak listrik mati total. “Itu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/cerita-lika-liku-para-pengemudi-becak-listrik-di-malioboro-1/">Cerita Lika Liku Para Pengemudi Becak Listrik di Malioboro [1]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Gio sumringah penuh asa ketika mendapat hibah becak listrik dari program Kementerian Keuangan 16 Juli lalu. Harapannya, bisa dapat kendaraan penunjang hidup, lebih bersih dan murah. Naas, saat becak dia bawa pulang ke rumahnya di daerah Piyungan, sambungan kabel soket listrik mendadak kendur hingga hangus terbakar di tengah jalan. Becak listrik mati total. “Itu kemarin terbakar itu. Enggak bisa jalan. Ya, didatangi di rumah. Setelah itu ya itu untuk jalan susah. Lambat.  Wah, susah. Ya lambat sekali,” kata pria 64 tahun ini. Gio lapor kepada Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY). Produsen datang untuk memperbaiki tetapi tak bisa pulih. Dia berupaya mengumpulkan uang dengan becak pinjam punya teman. Gio pun bisa kumpulkan uang untuk perbaikan beberapa bagian becak listrik itu. Gio juga ganti roda becak listrik dengan ukuran lebih tebal dan kokoh, seperti yang biasa becak motor gunakan. “Satu roda itu kalau baru, habis Rp500.000,” kata Gio. Dia harus merogoh kocek dalam-dalam mengganti ketiga roda becak listrik. Biayanya tidak main-main bagi seorang pengayuh becak, sampai Rp1,5 juta. Gio ganti ban karena roda becak listrik pipih dan tipis. Desain pijakan kaki becak listrik juga sangat tinggi, hingga para penumpang perempuan kadang menolak naik. Sejak gunakan becak listrik, penumpang berkurang, otomatis pendapatan menurun. Penumpang banyak tetap menginginkan naik becak motor karena alasan desain yang kokoh. “Tapi sekarang kendalanya itu, kalah sama yang masih apa ya, seperti becak motor. Itu nggak pernah menarik. Dilihat gini. Wah, kok becak manual. Nggak jadi, cari yang roda motor itu.” Tak hanya Gio, tukang becak lain juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/cerita-lika-liku-para-pengemudi-becak-listrik-di-malioboro-1/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/25/cerita-lika-liku-para-pengemudi-becak-listrik-di-malioboro-1/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kabut Asap Kebakaran Hutan Mulai Selimuti Sumatera Utara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/25/kabut-asap-kebakaran-hutan-mulai-selimuti-sumatera-utara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/25/kabut-asap-kebakaran-hutan-mulai-selimuti-sumatera-utara/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 12:30:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/24192621/Meski-asap-kabut-menutupi-jalanan-Lintas-Sumatera-Padang-Sidempuan-menuju-ke-Sumatera-Barat-namun-para-pengendara-mengabaikan-kesehatan-dengan-tidak-memakai-masker-AyatSKarokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135500</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai merangsek masuki Sumatera Utara (Sumut). Kondisi ini berbahaya bagi masyarakat Sumut terlebih kelompok rentan. Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik (BPS)  Sumut mencatat penduduk mencapai 15,80 juta jiwa. Dari angka itu, sekitar 4,2 juta anak-anak berusia di bawah 15 tahun, 7,9 juta [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/kabut-asap-kebakaran-hutan-mulai-selimuti-sumatera-utara/">Kabut Asap Kebakaran Hutan Mulai Selimuti Sumatera Utara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kabut asap hasil kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai merangsek masuki Sumatera Utara (Sumut). Kondisi ini berbahaya bagi masyarakat Sumut terlebih kelompok rentan. Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 Badan Pusat Statistik (BPS)  Sumut mencatat penduduk mencapai 15,80 juta jiwa. Dari angka itu, sekitar 4,2 juta anak-anak berusia di bawah 15 tahun, 7,9 juta perempuan, dan 1,58 juta lansia. Secara keseluruhan, lebih 13 juta jiwa atau hampir 85% populasi Sumut kategori kelompok rentan yang sistem biologis dan sosialnya paling mudah terdampak oleh krisis kualitas udara ini. Hendro Nugroho, Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan, menjelaskan, sebaran asap terdeteksi di seluruh wilayah Sumut akibat pola pergerakan angin dari arah timur hingga tenggara. &#8220;Asap yang menyelimuti Sumut saat ini adalah kiriman dari Sumatera bagian selatan dan Kalimantan yang terbawa oleh hembusan angin,&#8221; katanya, 16 Oktober. Heri Wahyudi Marpaung, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sumut, dalam konferensi pers menyebut tidak ada lagi titik api di provinsi itu sejak satu setengah bulan lalu. &#8220;Wilayah Sumut relatif aman dari titik api, kabut asap yang terjadi murni akibat hembusan angin dari daerah luar,&#8221; katanya. Wilayah-wilayah yang terpapar secara langsung kabut asap meliputi Kota Medan yang mengalami gangguan penerbangan dan peliburan sekolah. Sektor ekonomi seperti perdagangan dan jasa mulai lesu karena masyarakat enggan beraktivitas di luar ruangan. Selain itu, Kabupaten Karo, kawasan Danau Toba di Kabupaten Toba, Kota Sibolga, Kabupaten Humbahas, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mandailing Natal meliburkan sekolah sesuai instruksi gubernur. Muhammad Bobby Afif Nasution, Gubernur Sumut,  mengambil&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/kabut-asap-kebakaran-hutan-mulai-selimuti-sumatera-utara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/25/kabut-asap-kebakaran-hutan-mulai-selimuti-sumatera-utara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Teluk Saleh, Surga Bahari di Pulau Sumbawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/teluk-saleh-surga-bahari-di-pulau-sumbawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/teluk-saleh-surga-bahari-di-pulau-sumbawa/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 12:26:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001611/Hiu-Paus-%C2%A9%EF%B8%8F-Konservasi-Indonesia-Ismail-Syakurachman-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=135527</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured dan kelautan dan perikanan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Teluk Saleh membentang di antara Kabupaten Sumbawa dan Dompu, Nusa Tenggara Barat. Perairan seluas lebih dari 2.000 kilometer persegi ini menjadi bagian dari Cagar Biosfer Samota sekaligus menyimpan kekayaan ekosistem pesisir yang lengkap, mulai dari terumbu karang, hutan mangrove, hingga padang lamun. Keindahan tersebut menjadikan Teluk Saleh memiliki daya tarik wisata yang kuat. Pulau-pulau kecil, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/teluk-saleh-surga-bahari-di-pulau-sumbawa/">Teluk Saleh, Surga Bahari di Pulau Sumbawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Teluk Saleh membentang di antara Kabupaten Sumbawa dan Dompu, Nusa Tenggara Barat. Perairan seluas lebih dari 2.000 kilometer persegi ini menjadi bagian dari Cagar Biosfer Samota sekaligus menyimpan kekayaan ekosistem pesisir yang lengkap, mulai dari terumbu karang, hutan mangrove, hingga padang lamun. Keindahan tersebut menjadikan Teluk Saleh memiliki daya tarik wisata yang kuat. Pulau-pulau kecil, pasir putih, laut jernih, dan kehidupan bawah air menawarkan beragam aktivitas, seperti menyelam, snorkeling, berkano, berkemah, memancing, hingga mengamati hiu paus. Di Dusun Prajak, Desa Batu Bangka, masyarakat bahkan membentuk kelompok pengelola ekowisata secara swadaya untuk menawarkan berbagai layanan wisata dan kuliner. Namun, potensi Teluk Saleh tidak berhenti pada pariwisata. Perairan ini juga menjadi ruang penghidupan bagi masyarakat melalui perikanan tangkap serta budidaya ikan kakap, kerapu, rumput laut, dan kerang mutiara. Di balik kekayaan tersebut, terdapat tantangan yang perlu diperhatikan. Praktik penangkapan ikan yang merusak masih ditemukan, sebagian terumbu karang mengalami kerusakan, dan ikan yang belum mencapai ukuran layak tangkap masih didaratkan. Pengembangan wisata dan perikanan juga membutuhkan data yang berkelanjutan, sarana pendaratan ikan, fasilitas penyimpanan, pengawasan, serta keterlibatan masyarakat. Tanpa pengelolaan yang tepat, pemanfaatan berlebihan dapat menurunkan daya dukung ekosistem dan mengancam sumber penghidupan warga. Lalu, seberapa besar potensi perikanan, kelautan, dan pariwisata Teluk Saleh? Bagaimana kekayaan tersebut dapat dimanfaatkan tanpa mengorbankan kelestarian alam? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Dr. Soraya Gigentika, peneliti perikanan dan kelautan sekaligus dosen Universitas Mataram. Percakapan ini mengulas kondisi ekosistem pesisir, kegiatan perikanan, pengembangan ekowisata, serta pentingnya kolaborasi pemerintah dan masyarakat dalam menjaga Teluk Saleh agar tetap lestari dan dapat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/teluk-saleh-surga-bahari-di-pulau-sumbawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/teluk-saleh-surga-bahari-di-pulau-sumbawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Balik Spanduk Bundaran HI, Ada Pesan Desakan Atasi Krisis Iklim dan Mahalnya Biaya Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-spanduk-bundaran-hi-ada-pesan-desakan-atasi-krisis-iklim-dan-mahalnya-biaya-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-spanduk-bundaran-hi-ada-pesan-desakan-atasi-krisis-iklim-dan-mahalnya-biaya-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 10:00:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/21225654/Greenpeace-Irfan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135419</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, jawa, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Krisis iklim terasa semakin dekat ketika uang belanja tak lagi cukup, hasil panen berkurang, dan penghasilan makin sulit dipastikan. Hubungan antara kerusakan lingkungan dan tekanan ekonomi itulah yang dibawa enam aktivis Greenpeace ke Monumen Selamat Datang, Bundaran HI, Jakarta, pada 20 Oktober 2026. Mereka memanjat monumen dan membentangkan dua spanduk, salah satunya bertuliskan “Tangani Krisis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-spanduk-bundaran-hi-ada-pesan-desakan-atasi-krisis-iklim-dan-mahalnya-biaya-hidup/">Di Balik Spanduk Bundaran HI, Ada Pesan Desakan Atasi Krisis Iklim dan Mahalnya Biaya Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Krisis iklim terasa semakin dekat ketika uang belanja tak lagi cukup, hasil panen berkurang, dan penghasilan makin sulit dipastikan. Hubungan antara kerusakan lingkungan dan tekanan ekonomi itulah yang dibawa enam aktivis Greenpeace ke Monumen Selamat Datang, Bundaran HI, Jakarta, pada 20 Oktober 2026. Mereka memanjat monumen dan membentangkan dua spanduk, salah satunya bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup.” Bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, aksi tersebut menyoroti kebijakan yang mereka nilai belum mampu melindungi masyarakat dari dampak krisis iklim. Jeanny Sirait, Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, menjelaskan bahwa cuaca tidak menentu dapat mengganggu panen dan menurunkan hasil tangkapan nelayan. Ketika pasokan pangan menyusut sementara kebutuhan tetap tinggi, harga berpotensi meningkat. Dampaknya menjalar dari sawah dan laut hingga meja makan keluarga. Riset Greenpeace berjudul “Besok Harga Naik!” di Jabodetabekjur, Cekungan Bandung, dan Kartamantul menyoroti tekanan pada konsumsi, pendapatan, tempat tinggal, serta transportasi. Untuk bertahan, 57,34% responden memangkas pengeluaran non-esensial, sedangkan 56,79% mengambil pekerjaan sampingan atau membuka usaha baru. Di sektor pertanian, tekanan iklim bertemu persoalan penguasaan lahan. Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, menyoroti meningkatnya jumlah rumah tangga petani dengan lahan kurang dari 1.000 meter persegi. Menurutnya, kebijakan pangan perlu memperhatikan kondisi petani kecil sekaligus kesesuaian lingkungan. Dia mengkritik proyek food estate yang mengabaikan kelayakan pangan dan agroklimat, infrastruktur, teknologi, serta aspek sosial-ekonomi. Pembukaan lahan yang berakhir terbengkalai, katanya, justru dapat memperburuk kerusakan lingkungan. “Kedaulatan pangan menuntut harmoni antara petani dan alam, model produksi agroekologis, perlindungan pasar lokal, serta hak penuh petani atas benih dan teknologi budidaya.”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-spanduk-bundaran-hi-ada-pesan-desakan-atasi-krisis-iklim-dan-mahalnya-biaya-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-spanduk-bundaran-hi-ada-pesan-desakan-atasi-krisis-iklim-dan-mahalnya-biaya-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hampir 9 Dekade Hilang dalam Literatur Ilmiah, Kukang Bangka Masih Ada di Habitatnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/25/hampir-9-dekade-hilang-dalam-literatur-ilmiah-kukang-bangka-masih-ada-di-habitatnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/25/hampir-9-dekade-hilang-dalam-literatur-ilmiah-kukang-bangka-masih-ada-di-habitatnya/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 07:25:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/02/22053048/Kukang-bangka-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135522</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p> Matanya bulat, ukurannya besar jika dibandingkan proporsi wajah. Keduanya menghadap ke depan. Bentuk matanya ini membantunya menangkap cahaya yang minim saat mencari makan malam hari. Bulu berwarna merah tua menutupi bagian kepala hingga ekornya yang sangat pendek. Sementara, kedua tangan dan kakinya dilengkapi jari-jari untuk mencengkeram dahan. Sebenarnya, tubuhnya tak lebih besar dari anak kucing [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/hampir-9-dekade-hilang-dalam-literatur-ilmiah-kukang-bangka-masih-ada-di-habitatnya/">Hampir 9 Dekade Hilang dalam Literatur Ilmiah, Kukang Bangka Masih Ada di Habitatnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[ Matanya bulat, ukurannya besar jika dibandingkan proporsi wajah. Keduanya menghadap ke depan. Bentuk matanya ini membantunya menangkap cahaya yang minim saat mencari makan malam hari. Bulu berwarna merah tua menutupi bagian kepala hingga ekornya yang sangat pendek. Sementara, kedua tangan dan kakinya dilengkapi jari-jari untuk mencengkeram dahan. Sebenarnya, tubuhnya tak lebih besar dari anak kucing kampung. Gerakannya juga terbilang lamban. Meski begitu, kukang bangka (Nycticebus bancanus) adalah pemanjat yang cakap. Dia akan memeriksa dengan teliti dari satu dahan ke dahan lain saat mencari makan. Kadang, makhluk yang terlihat menggemaskan ini masuk ke rumah warga, kebun, atau bergelayut di kawat beraliran listrik. Bagi masyarakat Pulau Bangka, perjumpaan seperti ini bukanlah sesuatu yang sepenuhnya asing. Bagi dunia ilmu pengetahuan, keberadaan satwa tersebut justru membawa kabar penting. Catatan terakhirnya di literatur ilmiah adalah pada 1937 melalui publikasi Sody berjudul “On The Mammals of Bangka.” Dalam Daftar Merah IUCN spesies ini bahkan tercatat sebagai Critically Endangered atau Kritis. Lebih dari satu dekade, Yayasan Alobi, sebuah organisasi konservasi satwa liar di Kepulauan Bangka, telah menyelamatkan kukang bangka dengan cara merawat satwa yang ditemukan warga dan mengembalikannya ke hutan. Upaya penyelamatan itu lalu dilaporkan di jurnal Spixiana (2026), dengan judul “Neglected but still alive: Further evidence for the continued existence of the Bangka Slow Loris (Nycticebus bancanus) on Bangka Island, Indonesia.” Inilah kabar penting tersebut. Para ilmuwan memang tidak mendokumentasikan spesies ini selama hampir satu abad, namun spesies ini tidak pernah hilang dari masyarakat Bangka. &#8220;Kami senang dapat berkontribusi pada catatan ilmiah untuk menunjukkan bahwa kukang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/hampir-9-dekade-hilang-dalam-literatur-ilmiah-kukang-bangka-masih-ada-di-habitatnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/25/hampir-9-dekade-hilang-dalam-literatur-ilmiah-kukang-bangka-masih-ada-di-habitatnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Gorontalo Terdampak Ambisi Bioenergi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/25/petani-gorontalo-terdampak-ambisi-bioenergi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/25/petani-gorontalo-terdampak-ambisi-bioenergi/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 04:40:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20041308/DJI_0304_2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135280</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Cuaca di Desa Bubode, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, begitu terik saat Rifal Bobihu berdiri di tepi lahan jagung yang tampak retak-retak. Dari tempatnya berdiri, dia pandangi barisan bukit yang membentang di utara desa. Belasan tahun lalu, hutan alam masih selimuti bukit itu. Saat angin utara bertiup, aroma tanah basah dan suara burung rimba menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/petani-gorontalo-terdampak-ambisi-bioenergi/">Petani Gorontalo Terdampak Ambisi Bioenergi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Cuaca di Desa Bubode, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, begitu terik saat Rifal Bobihu berdiri di tepi lahan jagung yang tampak retak-retak. Dari tempatnya berdiri, dia pandangi barisan bukit yang membentang di utara desa. Belasan tahun lalu, hutan alam masih selimuti bukit itu. Saat angin utara bertiup, aroma tanah basah dan suara burung rimba menjadi penanda ritme musim. Kini, hutan itu  tergantikan pohon jabon yang tumbuh rapat. Sebagian lain terlihat gundul setelah panen kayu oleh perusahaan. “Dulu, menanam jagung itu tidak pernah membuat kami ragu. Sekarang, setiap kali menebar benih, ada rasa takut. Hujan sedikit saja, air bisa turun tiba-tiba dari bukit dan menghancurkan tanaman kami,” ujarnya. Menurut Rifal, hal bermula saat PT Gema Nusantara Jaya (GNJ) masuk untuk menggantikan hutan alam di utara desa dengan hutan tanaman industri (HTI) pada 2011. Hujan yang dulu menjadi penanda rezeki kini menjelma ancaman. Air bah sering datang tanpa aba-aba, membawa lumpur yang menutupi tanaman jagung dan merusak area persawahan. Januari 2025  paling parah. Hujan di hulu sebabkan Sungai Bubode meluap  ratusan rumah terendam dan  2.117 keluarga terdampak. Tidak hanya itu, sekitar 115 hektar sawah serta puluhan hektar tanaman jagung rusak total, termasuk punya Rifal Bobihu. “Kalau dulu, banjir mungkin dua tahun sekali. Sekarang hampir setiap musim tanam.” Tak jauh dari Rifal berdiri, Nikolas Abdullah sibuk memeriksa saluran yang mengarah ke sawahnya. Berbeda dengan dulu, kini, hampir setiap pekan dia harus turun untuk memastikan tak ada lumpur yang terbawa dari atas. Maklum, beberapa tahun ini sawahnya terus gagal panen akibat lumpur kiriman dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/petani-gorontalo-terdampak-ambisi-bioenergi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/25/petani-gorontalo-terdampak-ambisi-bioenergi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sebelum Dinosaurus Menguasai, Hujan Ekstrem Pernah Mengguyur Planet Bumi Selama Satu Juta Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/25/sebelum-dinosaurus-menguasai-hujan-ekstrem-pernah-mengguyur-planet-bumi-selama-satu-juta-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/25/sebelum-dinosaurus-menguasai-hujan-ekstrem-pernah-mengguyur-planet-bumi-selama-satu-juta-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 02:46:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/25020333/r-q-thunderstorm-10356765_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135508</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Iklim Bumi tidak pernah benar-benar stabil. Dalam rentang ratusan juta tahun, planet ini berkali-kali berganti wajah, dari masa yang sangat panas, masa yang membeku, sampai masa ketika hujan turun dalam jumlah luar biasa. Perubahan itu meninggalkan jejak di batuan dan fosil, dan dari situlah para ilmuwan menyusun cerita tentang apa yang pernah terjadi. Salah satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/sebelum-dinosaurus-menguasai-hujan-ekstrem-pernah-mengguyur-planet-bumi-selama-satu-juta-tahun/">Sebelum Dinosaurus Menguasai, Hujan Ekstrem Pernah Mengguyur Planet Bumi Selama Satu Juta Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Iklim Bumi tidak pernah benar-benar stabil. Dalam rentang ratusan juta tahun, planet ini berkali-kali berganti wajah, dari masa yang sangat panas, masa yang membeku, sampai masa ketika hujan turun dalam jumlah luar biasa. Perubahan itu meninggalkan jejak di batuan dan fosil, dan dari situlah para ilmuwan menyusun cerita tentang apa yang pernah terjadi. Salah satu babak yang menarik terjadi sekitar 232 juta tahun lalu pada zaman Trias Akhir, dikenal sebagai Peristiwa Pluvial Karnia (Carnian Pluvial Episode). Selama lebih dari 1 juta tahun, wilayah yang semula kering mengalami fase yang jauh lebih basah. Saat itu semua benua masih menyatu sebagai satu daratan raksasa bernama Pangea, dan dinosaurus baru mulai muncul. Penyebab Fase Basah di Zaman Trias Para peneliti menduga pemicunya adalah rangkaian letusan gunung api besar di Wrangellia, kawasan yang kini menjadi bagian barat laut Amerika Utara, antara Alaska dan British Columbia, yang mengeluarkan lava dalam jumlah sangat besar selama ratusan ribu hingga jutaan tahun. Bersamaan dengan lava itu, karbon dioksida dan metana ikut terlepas ke udara dalam jumlah yang cukup untuk memengaruhi suhu seluruh planet. Hubungan waktu antara letusan dan perubahan iklim ini belum sepenuhnya pasti, sebab penanggalan batuan Karnia masih memiliki ketidakpastian yang bisa mencapai sekitar satu juta tahun. Gas-gas tersebut menahan panas di atmosfer sehingga suhu Bumi naik, dan udara yang lebih hangat membuat lebih banyak air dari laut maupun sungai menguap. Uap air itu kemudian turun lagi sebagai hujan, dan karena prosesnya berlangsung sangat lama, curah hujan tinggi bertahan selama satu hingga dua juta tahun di banyak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/25/sebelum-dinosaurus-menguasai-hujan-ekstrem-pernah-mengguyur-planet-bumi-selama-satu-juta-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/25/sebelum-dinosaurus-menguasai-hujan-ekstrem-pernah-mengguyur-planet-bumi-selama-satu-juta-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bambu yang Menjaga Air dan Menopang Kehidupan Masyarakat Bali</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bambu-yang-menjaga-air-dan-menopang-kehidupan-masyarakat-bali/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bambu-yang-menjaga-air-dan-menopang-kehidupan-masyarakat-bali/#respond</comments>
					<pubDate>25 Okt 2026 00:30:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/11/22091752/Pengunjung-memotret-hutan-bambu-di-Desa-Penglipuran-Bangli-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135399</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat banjir bandang menerjang Denpasar menjelang akhir 2025, rumah-rumah roboh dan talud beton ambrol. Namun, di tengah sempadan sungai yang rusak, rumpun bambu tetap bertahan. Sistem perakarannya yang rapat membantu mengikat tanah dan mengurangi erosi. Ketangguhan tanaman ini juga terlihat di Desa Sandan, Kabupaten Tabanan, meskipun melalui cerita berbeda. Ketika sumber air mengering hingga sebagian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bambu-yang-menjaga-air-dan-menopang-kehidupan-masyarakat-bali/">Bambu yang Menjaga Air dan Menopang Kehidupan Masyarakat Bali</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat banjir bandang menerjang Denpasar menjelang akhir 2025, rumah-rumah roboh dan talud beton ambrol. Namun, di tengah sempadan sungai yang rusak, rumpun bambu tetap bertahan. Sistem perakarannya yang rapat membantu mengikat tanah dan mengurangi erosi. Ketangguhan tanaman ini juga terlihat di Desa Sandan, Kabupaten Tabanan, meskipun melalui cerita berbeda. Ketika sumber air mengering hingga sebagian warga harus membeli air, masyarakat mulai menanam bambu pada 2004. Dua dekade kemudian, hutan bambu seluas sekitar 100 hektar terbentuk dan mata air kembali mengalir, memenuhi kebutuhan warga hingga wilayah hilir. Warga Sandan menjaga hutan tersebut melalui awig-awig, aturan adat yang melarang penebangan bambu tanpa persetujuan komunitas. Hubungan serupa hidup di Desa Tigawasa, Kabupaten Buleleng. Di sana, hutan bambu menjadi penjaga sumber air sekaligus ruang sakral masyarakat. Kerajinan bambu dan wisata edukasi turut menopang penghidupan warga. Guntur, pemuda Tigawasa, ikut merawat pengetahuan itu dengan memperkenalkan produk bambu bersama ibunya dalam Samsara Bamboo Festival 2026 di Karangasem. Bagi masyarakat seperti mereka, menjaga bambu berarti mempertahankan sumber penghidupan beserta hubungan budaya yang diwariskan antargenerasi. Namun, tingginya pemanfaatan bambu belum diikuti kemampuan membudidayakannya. Nurul Firmansyah, Koordinator Program Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, menyebut kebutuhan bambu di Bali mencapai sekitar 34 juta batang setiap tahun untuk upacara adat, konstruksi, dan pariwisata. “Defisitnya mencapai sekitar 31 juta batang per tahun, sehingga harus didatangkan dari luar Bali,” katanya. Menurut Nurul, tantangannya mencakup hilangnya pengetahuan pembibitan dan pengelolaan bambu. Persoalan ini bahkan ditemukan di Ngada, Nusa Tenggara Timur, wilayah yang memiliki budaya bambu kuat. Kebutuhan terus tumbuh, sementara pengetahuan untuk memastikan persediaannya justru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bambu-yang-menjaga-air-dan-menopang-kehidupan-masyarakat-bali/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bambu-yang-menjaga-air-dan-menopang-kehidupan-masyarakat-bali/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Balik Warna-warni Cat, Ada Ancaman Timbal Bagi Anak-anak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-warna-warni-cat-ada-ancaman-timbal-bagi-anak-anak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-warna-warni-cat-ada-ancaman-timbal-bagi-anak-anak/#respond</comments>
					<pubDate>24 Okt 2026 10:00:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2016/05/22094424/Mainan-dengan-cat-warna-warni-mengandung-timbal-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135395</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, politik dan hukum, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Cat yang melapisi rumah, sekolah, dan tempat bermain anak dapat meninggalkan ancaman ketika mulai mengelupas. Debunya bisa terhirup atau tertelan, termasuk ketika anak bermain di lantai lalu memasukkan tangan ke mulut. Jika cat mengandung timbal, paparan tersebut berisiko mengganggu perkembangan mereka. Jeiel Guarino, pengampanye penghapusan cat bertimbal dari International Pollutants Elimination Network (IPEN), menjelaskan bahwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-warna-warni-cat-ada-ancaman-timbal-bagi-anak-anak/">Di Balik Warna-warni Cat, Ada Ancaman Timbal Bagi Anak-anak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Cat yang melapisi rumah, sekolah, dan tempat bermain anak dapat meninggalkan ancaman ketika mulai mengelupas. Debunya bisa terhirup atau tertelan, termasuk ketika anak bermain di lantai lalu memasukkan tangan ke mulut. Jika cat mengandung timbal, paparan tersebut berisiko mengganggu perkembangan mereka. Jeiel Guarino, pengampanye penghapusan cat bertimbal dari International Pollutants Elimination Network (IPEN), menjelaskan bahwa timbal merupakan racun saraf dan tidak memiliki tingkat paparan yang aman bagi tubuh manusia. Pada anak balita, dampaknya dapat berupa kerusakan permanen pada otak dan sistem saraf, penurunan kecerdasan, serta gangguan perilaku dan pertumbuhan. Ancaman itu menjadi perhatian Nexus3 Foundation setelah menguji ulang enam sampel cat produksi PT Avia Avian Tbk atau Avian Brands. Sampel cat dekoratif dan industri tersebut dibeli di Bekasi, Jakarta, dan Depok pada 24-29 Juli 2026, dengan jenis serta warna yang sama seperti pengujian pada 2021. Hasilnya, lima dari enam sampel mengandung timbal melampaui 90 bagian per juta atau parts per million (ppm), angka acuan yang direkomendasikan WHO dan UNEP. Temuan ini menunjukkan persoalan pada produk yang diuji, meskipun tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan kandungan seluruh produk perusahaan. Hasil pengujian tersebut memunculkan pertanyaan tentang pelaksanaan komitmen keberlanjutan perusahaan. Dalam laporan keberlanjutan 2025, Avia Avian menyebut upaya mengurangi logam berat, termasuk timbal dan kromium, melalui kerangka pengembangan produknya. Perusahaan juga melaporkan 40 produk memperoleh sertifikasi Singapore Green Label, tetapi informasi itu tidak menunjukkan bahwa seluruh sampel yang diuji Nexus3 termasuk produk bersertifikat tersebut. Nexus3 meminta bukti pelaksanaan komitmen yang dapat diperiksa publik. Mongabay Indonesia menghubungi layanan pelanggan perusahaan pada 5 dan 7&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-warna-warni-cat-ada-ancaman-timbal-bagi-anak-anak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-balik-warna-warni-cat-ada-ancaman-timbal-bagi-anak-anak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Paus Terdampar Makin Sering Terjadi, Petanda Apa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/24/paus-terdampar-makin-sering-terjadi-petanda-apa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/24/paus-terdampar-makin-sering-terjadi-petanda-apa/#respond</comments>
					<pubDate>24 Okt 2026 08:05:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riza Salman*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/24052020/4-12-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135481</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Insiden paus terdampar kembali terjadi setelah peristiwa serupa di Maluku belum lama ini. Kali ini berlokasi di zona pasang surut di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, Minggu (18/10/26) sekitar pukul 03.00. Peristiwa itu pun mengejutkan sejumlah nelayan yang kala itu tengah menyiapkan jaring. Nelayan pun melaporkan kejadian itu ke tim Sealife First Responder. Dua jam kemudian, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/24/paus-terdampar-makin-sering-terjadi-petanda-apa/">Paus Terdampar Makin Sering Terjadi, Petanda Apa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Insiden paus terdampar kembali terjadi setelah peristiwa serupa di Maluku belum lama ini. Kali ini berlokasi di zona pasang surut di Pantai Parangkusumo, Bantul, Yogyakarta, Minggu (18/10/26) sekitar pukul 03.00. Peristiwa itu pun mengejutkan sejumlah nelayan yang kala itu tengah menyiapkan jaring. Nelayan pun melaporkan kejadian itu ke tim Sealife First Responder. Dua jam kemudian, tim gabungan yang terdiri dari Satlinmas Wilayah 3 Pantai Parangtritis, Satgas Jogo Segoro, Ditpolairud Polda DIY, serta para aktivis lingkungan tiba di lokasi. Dengan  lampu senter dan peralatan seadanya, mereka berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan paus malang itu.  Usaha itu tak membuahkan hasil. Panjang paus yang capai 9 meter dengan berat dua ton lebih itu akhirnya mati sebelum sempat digiring ke tengah samudera. “Saat kami tiba memang masih kode satu (hidup), kemudian menjadi kode dua (baru saja mati),” ujar Galang, anggota Satuan Tugas (Satgas) Linmas Jaga Segara wilayah Pantai Parangtritis setelah proses evakuasi. Petugas mendatangkan dua alat berat untuk membantu proses evakuasi. Selanjutnya, bangkai paus berjenis kelamin jantan itu mereka kuburkan di area berpasir kering di sekitar pantai. Sebelum itu, tim dokter hewan dari Sealife Indonesia dan Dinas Kelautan Perikanan (DKP) melakukan nekropsi guna mengambil sampel organ paus. Selanjutnya, sampel organ akan mereka bawa ke laboratorium guna pemeriksaan untuk mengetahui kemungkinan penyebab kematian paus. Proses itu cukup memakan waktu lantaran banyaknya warga yang berkerumun di lokasi hanya untuk berswafoto dengan bangkai hiu paus. Meski memaklumi, Galang sayangkan sikap warga yang nekat menerobos cross line hanya untuk berswafoto. Selain mengganggu proses evakuasi, paus malang itu juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/24/paus-terdampar-makin-sering-terjadi-petanda-apa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/24/paus-terdampar-makin-sering-terjadi-petanda-apa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Nasib Orangutan Kalimantan yang Terkepung Karhutla?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/24/bagaimana-nasib-orangutan-kalimantan-yang-terkepung-karhutla/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/24/bagaimana-nasib-orangutan-kalimantan-yang-terkepung-karhutla/#respond</comments>
					<pubDate>24 Okt 2026 05:00:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/24030827/Orangutan-terjebak-di-pepohonan-yang-meranggas-akibat-karhutla-Victor-Fidelis-Sentosa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135471</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, kalimantan, kera besar, pencemaran, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagaimana nasib orangutan kalimantan yang bertahan di hutan terbakar? Pengalaman fotografer independen Victor Fidelis Sentosa, mendokumentasikan penyelamatan primata yang hidupnya bergantung pada upaya konservasi ini di Ketapang, Kalimantan Barat, memperlihatkan kondisi orangutan yang tak hanya kehilangan ruang hidup. Namun jugaa, mengalami kelaparan, dehidrasi, dan malnutrisi. Victor mengikuti tiga kali operasi penyelamatan orangutan, selama tujuh hari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/24/bagaimana-nasib-orangutan-kalimantan-yang-terkepung-karhutla/">Bagaimana Nasib Orangutan Kalimantan yang Terkepung Karhutla?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagaimana nasib orangutan kalimantan yang bertahan di hutan terbakar? Pengalaman fotografer independen Victor Fidelis Sentosa, mendokumentasikan penyelamatan primata yang hidupnya bergantung pada upaya konservasi ini di Ketapang, Kalimantan Barat, memperlihatkan kondisi orangutan yang tak hanya kehilangan ruang hidup. Namun jugaa, mengalami kelaparan, dehidrasi, dan malnutrisi. Victor mengikuti tiga kali operasi penyelamatan orangutan, selama tujuh hari di Ketapang. Dalam pengamatannya, kondisi habitat yang terdampak kebakaran, jauh lebih parah dari yang dibayangkannya. Pepohonan meranggas, tutupan vegetasi menghilang, dan panas dari lahan terbakar membuat tim penyelamat bekerja keras. “Ini seperti medan perang. Hancur,” kata Victor, menggambarkan kondisi kawasan yang didatanginya, Jum’at (16/10/26). Orangutan terjebak di pepohonan meranggas akibat karhutla yang terjadi di wilayah Kalimantan Barat. Foto: Dok. Victor Fidelis Sentosa untuk Mongabay Indonesia. Sebelum berangkat, Victor membayangkan masih ada bagian hutan hijau di lokasi penyelamatan. Namun, setelah melihat dokumentasi awal dari tim penyelamat, dia menyadari kondisi lapangan jauh berbeda. Victor bergabung dengan tim Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), untuk mendokumentasikan proses penyelamatan Pongo pygmaeus di kawasan yang aksesnya terbatas. Satu operasi yang diikutinya melibatkan enam individu primata cerdas ini, dalam satu titik lokasi. Sebelumnya, tim melakukan survei beberapa hari untuk mengetahui keberadaan dan jumlah individu, sebelum menjalankan misi penyelamatan. Pengalaman membekas baginya adalah saat seekor induk dan anaknya dievakuasi. Saat proses penyelamatan berlangsung, Victor mendengar anak pongo itu berteriak saat terpisah dari induknya. “Itu sungguh sedih.” Sampurna, orang jantan dewasa ini ditemukan warga dalam kondisi lemas di sekitar kebun sawit di Ketapang, Kalbar, Minggu (30/8/26). Malang, Sampurna mati sore hari, di hari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/24/bagaimana-nasib-orangutan-kalimantan-yang-terkepung-karhutla/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/24/bagaimana-nasib-orangutan-kalimantan-yang-terkepung-karhutla/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gelagapan Tangani Karhutla, Pemerintah Malah Kambinghitamkan Tradisi Masyarakat Adat?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/24/gelagapan-tangani-karhutla-pemerintah-malah-kambinghitamkan-tradisi-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/24/gelagapan-tangani-karhutla-pemerintah-malah-kambinghitamkan-tradisi-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>24 Okt 2026 02:48:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/31231711/IMG_7565-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135420</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih belum teratasi. Bukannya mengevaluasi perizinan dan perbaiki tata kelola, pemerintah malah mengambinghitamkan tradisi masyarakat adat yang terjamin dalam Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). Buntutnya, wacana  menghapus Pasal 69 ayat 2 UU itu kembali mencuat. Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup, mengatakan hal itu setelah Presiden Prabowo Subianto menggelar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/24/gelagapan-tangani-karhutla-pemerintah-malah-kambinghitamkan-tradisi-masyarakat-adat/">Gelagapan Tangani Karhutla, Pemerintah Malah Kambinghitamkan Tradisi Masyarakat Adat?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih belum teratasi. Bukannya mengevaluasi perizinan dan perbaiki tata kelola, pemerintah malah mengambinghitamkan tradisi masyarakat adat yang terjamin dalam Undang-undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). Buntutnya, wacana  menghapus Pasal 69 ayat 2 UU itu kembali mencuat. Jumhur Hidayat, Menteri Lingkungan Hidup, mengatakan hal itu setelah Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas (ratas) membahas penanganan darurat karhutla di Istana Merdeka, Senin (12/10/26). Dia bilang, pemerintah berencana tegas melarang tradisi masyarakat adat yang membakar lahan untuk berladang. Pasal itu memberikan pengecualian kearifan lokal ihwal pembukaan lahan dengan cara membakar. Praktik itu terbatas maksimal dua hektar per keluarga. Dia menuding, banyak masyarakat adat tidak bisa mengontrol praktik pembakaran sebelum berladang. Perusahaan juga rentan menyalahgunakan tradisi ini. “Bakar dua hektar dia tidak bisa kontrol, apalagi di musim El Nino. Nah ini loop hole, Bapak Presiden menginginkan ini tidak boleh ada lagi,” katanya, Selasa (13/10/26). Dia mendorong masyarakat adat beralih mempraktikan pembukaan lahan yang lebih berkelanjutan. Selain menghindari potensi karhutla, praktik itu, harapnya, bisa menguntungkan masyarakat lewat carbon offsets. “Kita cari pendanaan-pendanaan iklim, salah satunya sangat berpotensi untuk bisa membantu mereka sebagai trade-off. Dengan dia tidak membakar, maka dia mengurangi emisi, sehingga itu punya nilai ekonomi.” Sebelumnya, Prabowo telah menerbitkan Instruksi Presiden 11/2026 tentang Penguatan Penegakan Larangan Pembukaan Lahan dengan Cara Membakar dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Lewat Inpres itu, praktik pembukaan lahan dengan kearifan lokal hanya boleh jika masyarakat sudah mendapat rekomendasi dari pemerintah pusat atau daerah dan mendapat pendampingan dari pemerintah daerah. Karhutla di wilayah Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/24/gelagapan-tangani-karhutla-pemerintah-malah-kambinghitamkan-tradisi-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/24/gelagapan-tangani-karhutla-pemerintah-malah-kambinghitamkan-tradisi-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gurita Raksasa hingga 19 Meter Pernah Menghuni Lautan Zaman Dinosaurus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/gurita-raksasa-hingga-19-meter-pernah-menghuni-lautan-zaman-dinosaurus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/gurita-raksasa-hingga-19-meter-pernah-menghuni-lautan-zaman-dinosaurus/#respond</comments>
					<pubDate>24 Okt 2026 00:30:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/11141201/12485587864_5568f941ab_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135411</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lautan pada zaman dinosaurus menyimpan penghuni yang ukurannya sulit dibayangkan: gurita dengan panjang total diperkirakan mencapai 7-19 meter. Pada batas atas perkiraan itu, panjangnya mendekati paus sperma dewasa. Hewan tersebut adalah Nanaimoteuthis haggarti, gurita bersirip yang menghuni Samudra Pasifik Utara kuno pada masa Kapur Akhir. Ukurannya menjadikan spesies ini kandidat salah satu invertebrata nonkolonial terbesar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/gurita-raksasa-hingga-19-meter-pernah-menghuni-lautan-zaman-dinosaurus/">Gurita Raksasa hingga 19 Meter Pernah Menghuni Lautan Zaman Dinosaurus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lautan pada zaman dinosaurus menyimpan penghuni yang ukurannya sulit dibayangkan: gurita dengan panjang total diperkirakan mencapai 7-19 meter. Pada batas atas perkiraan itu, panjangnya mendekati paus sperma dewasa. Hewan tersebut adalah Nanaimoteuthis haggarti, gurita bersirip yang menghuni Samudra Pasifik Utara kuno pada masa Kapur Akhir. Ukurannya menjadikan spesies ini kandidat salah satu invertebrata nonkolonial terbesar dalam sejarah Bumi. Menariknya, gambaran mengenai raksasa ini disusun dari fosil rahang, tanpa penemuan tubuh utuh yang memperlihatkan panjang lengannya secara langsung. Penelitian yang dipimpin Shin Ikegami bersama tim Universitas Hokkaido dan Natural History Museum London menganalisis 27 fosil rahang dari Jepang serta Kanada. Hasilnya diterbitkan dalam jurnal Science pada 23 April 2026. Untuk memperkirakan ukuran tubuh, peneliti membandingkan proporsi rahang dengan tubuh gurita modern. Karena itu, angka 19 meter perlu dipahami sebagai batas atas estimasi. Zoe Hughes, kurator fosil sefalopoda Natural History Museum London, menggambarkan perbedaan ukurannya dengan temuan yang biasa ia jumpai. “Kebanyakan gurita Kapur yang saya tahu seukuran telapak tangan,” katanya. “Ini jauh, jauh lebih besar.” Selain ukuran, rahang tersebut menyimpan petunjuk tentang kebiasaan makan. Keausan yang kuat menunjukkan bahwa gurita ini kemungkinan sering menghancurkan mangsa bercangkang keras. Permukaan rahang kanan dan kirinya juga tidak aus secara merata, mengindikasikan kecenderungan menggunakan salah satu sisi ketika mengolah makanan. Pola ini menyerupai dominasi sisi tubuh pada sejumlah hewan modern, meskipun belum cukup untuk memastikan kecerdasannya. Tubuh besar dan kemampuan menghancurkan mangsa mendukung dugaan bahwa N. haggarti menempati posisi tinggi dalam rantai makanan, kemungkinan bersaing dengan reptil laut besar seperti mosasaurus. Tim peneliti juga mengkaji&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/gurita-raksasa-hingga-19-meter-pernah-menghuni-lautan-zaman-dinosaurus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/gurita-raksasa-hingga-19-meter-pernah-menghuni-lautan-zaman-dinosaurus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Negeri Liang Jaga Laut Lewat Kewang-Sasi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/23/masyarakat-negeri-liang-jaga-laut-lewat-kewang-sasi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/23/masyarakat-negeri-liang-jaga-laut-lewat-kewang-sasi/#respond</comments>
					<pubDate>23 Okt 2026 11:35:17 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Edison Waas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/22061859/WhatsApp-Image-2026-10-21-at-22.45.02-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=135401</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Maluku]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Deru mesin perahu mengawali pagi di Pantai Inasela, Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Agustus. Satu per satu perahu nelayan bergerak meninggalkan pesisir. Sementara di daratan, para perempuan menunggu hasil tangkapan untuk mereka jual. Dari menjual ikan hasil tangkapan itu pula, masyarakat Negeri Liang memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Membeli beras, membayar kebutuhan sekolah, hingga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/23/masyarakat-negeri-liang-jaga-laut-lewat-kewang-sasi/">Masyarakat Negeri Liang Jaga Laut Lewat Kewang-Sasi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Deru mesin perahu mengawali pagi di Pantai Inasela, Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, Agustus. Satu per satu perahu nelayan bergerak meninggalkan pesisir. Sementara di daratan, para perempuan menunggu hasil tangkapan untuk mereka jual. Dari menjual ikan hasil tangkapan itu pula, masyarakat Negeri Liang memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Membeli beras, membayar kebutuhan sekolah, hingga ragam keperluan rumah tangga. Dari sebuah rumah panggung di pinggiran pantai, Baim Rehalat pandangi deretan perahu yang mulai beranjak pergi itu. Menjadi nelayan sejak remaja, Baim yang kini berusaha 75 tahun merasakan betul perubahan yang terjadi di laut. “Dulu menangkap ikan mudah. Di sekitar sini sudah bisa dapat banyak. Kalau sekarang, harus lebih jauh,” ujarnya sembari mengarahkan jari telunjuknya ke area pesisir di depannya. Saking mudahnya menangkap ikan, kampung tempatnya tinggal lekat dengan aroma amis ikan. “Ada tuna, momar, kawalinya dan cumi,” ujarnya menyebut beberapa jenis ikan yang biasa nelayan tangkap. Kala itu, hasil tangkapan cukup melimpah. Para nelayan membagikan sebagian ikan hasil tangkapannya kepada warga lainnya. Sebagian lainnya baru mereka jual. Namun, lambat laut, kondisi itu mulai berubah. Jaring dan umpan yang dahulu menghasilkan banyak ikan, kini tak lagi. Alih-alih membagikan hasil tangkapan, nelayan bahkan kerap berhutang untuk tutupi biaya operasional. “Mulai sulit itu sekitar 2002.&#8221;  Sejumlah perempuan di Negeri Liang berjualan ikan. Foto: Muhammad/Mongabay Indonesia. Terumbu karang rusak Rehalat menduga, penurunan hasil tangkapan itu lantaran terumbu karang di perairan Maluku banyak rusak akibat praktik penangkapan ikan merusak, seperti racun, potassium, hingga bom. Dia bahkan masih ketika masa-masa konflik sosial di Maluku, banyak sisa-sisa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/23/masyarakat-negeri-liang-jaga-laut-lewat-kewang-sasi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/23/masyarakat-negeri-liang-jaga-laut-lewat-kewang-sasi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukit Karst Jadi Resor, Warga Gunungsewu Khawatir Lingkungan Rusak dan Kehilangan Penghidupan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bukit-karst-jadi-resor-warga-gunungsewu-khawatir-lingkungan-rusak-dan-kehilangan-penghidupan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bukit-karst-jadi-resor-warga-gunungsewu-khawatir-lingkungan-rusak-dan-kehilangan-penghidupan/#respond</comments>
					<pubDate>23 Okt 2026 10:00:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/20233154/2-1.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=135393</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi Suparjiyanti, keindahan Pantai Sanglen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, merupakan tempat mencari nafkah. Namun, pembangunan resor membuat masa depan usahanya tidak pasti. Bukit karst dipangkas dan dibelah, sementara pedagang diminta meninggalkan kawasan. Sedikitnya 57 keluarga menggantungkan hidup dari berjualan di pantai tersebut. Kekhawatiran kehilangan penghasilan dan akses pantai mendorong Suparjiyanti bersama warga lain, didampingi Walhi Yogyakarta, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bukit-karst-jadi-resor-warga-gunungsewu-khawatir-lingkungan-rusak-dan-kehilangan-penghidupan/">Bukit Karst Jadi Resor, Warga Gunungsewu Khawatir Lingkungan Rusak dan Kehilangan Penghidupan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi Suparjiyanti, keindahan Pantai Sanglen, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, merupakan tempat mencari nafkah. Namun, pembangunan resor membuat masa depan usahanya tidak pasti. Bukit karst dipangkas dan dibelah, sementara pedagang diminta meninggalkan kawasan. Sedikitnya 57 keluarga menggantungkan hidup dari berjualan di pantai tersebut. Kekhawatiran kehilangan penghasilan dan akses pantai mendorong Suparjiyanti bersama warga lain, didampingi Walhi Yogyakarta, membawa persoalan itu kepada Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta. “Kami yang memanfaatkan kawasan itu untuk dagang diminta keluar karena pembangunan resort,” katanya. Keresahan serupa muncul di Pantai Watu Bolong, tempat sedikitnya 37 keluarga terdampak ekspansi wisata. Yulianto, warga sekaligus anggota Kelompok Sadar Wisata, khawatir proyek baru menggerus usaha yang dibangun masyarakat. “Kami mengembangkan usaha wisata berbasis komunitas sejak 2020. Proyek itu berpotensi menghilangkan sumber ekonomi warga,” ujarnya. Menurutnya, Pokdarwis tidak dilibatkan dalam sosialisasi proyek. Bagi warga, perubahan kawasan pesisir menyangkut kesempatan bekerja dan keterlibatan dalam menentukan masa depan tempat tinggal mereka. Investigasi Walhi Jogja mencatat 13 destinasi wisata beroperasi di kawasan karst Gunungsewu. Rizky Abiyoga dari Walhi menyebut pembangunannya mengubah bentang alam sekitar 34,46 hektar. Pemangkasan bukit, menurutnya, berisiko mengganggu fungsi karst sebagai penyimpan air tanah dan penangkap karbon, sekaligus merusak sistem hidrologi alami. Walhi juga menyoroti penggunaan air untuk hunian, fasilitas penunjang, dan operasional wisata. Berdasarkan perhitungannya pada tiga perusahaan, kebutuhan tersebut mencapai puluhan juta liter per tahun untuk masing-masing fasilitas. Tekanan terhadap air menjadi perhatian karena berkaitan dengan fungsi ekologis kawasan. Walhi menduga terdapat pelanggaran berlapis, termasuk perubahan morfologi karst, ketiadaan amdal, pelanggaran sempadan pantai, dan pengabaian hak ekonomi warga. Endah Subekti Kuntariningsih,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bukit-karst-jadi-resor-warga-gunungsewu-khawatir-lingkungan-rusak-dan-kehilangan-penghidupan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/bukit-karst-jadi-resor-warga-gunungsewu-khawatir-lingkungan-rusak-dan-kehilangan-penghidupan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>