<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=m-rahim-arza-banjarmasin&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/m-rahim-arza-banjarmasin/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 19 Jul 2026 09:25:48 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Krisis Iklim Bikin Produksi Kopi Arabika Turun 80 Persen</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 09:25:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235604/Petik-kopi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130781</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, hutan indonesia, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi banyak orang, hari seolah belum benar-benar dimulai sebelum menyeruput secangkir kopi. Di balik aroma yang menenangkan itu, ada jutaan petani yang bekerja sejak subuh, merawat tanaman yang membutuhkan keseimbangan suhu, curah hujan, dan kelembapan. Namun, keseimbangan tersebut kini mulai terganggu. Krisis iklim perlahan mengubah masa depan kopi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/">Krisis Iklim Bikin Produksi Kopi Arabika Turun 80 Persen</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi banyak orang, hari seolah belum benar-benar dimulai sebelum menyeruput secangkir kopi. Di balik aroma yang menenangkan itu, ada jutaan petani yang bekerja sejak subuh, merawat tanaman yang membutuhkan keseimbangan suhu, curah hujan, dan kelembapan. Namun, keseimbangan tersebut kini mulai terganggu. Krisis iklim perlahan mengubah masa depan kopi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara penghasil kopi dunia. Berbagai penelitian memperkirakan bahwa dalam 25 tahun mendatang sekitar 80% produksi kopi arabika akan terdampak perubahan iklim. Produktivitas kopi arabika maupun robusta diproyeksikan turun hingga 50% akibat semakin terbatasnya lahan yang sesuai untuk budidaya. Sebagian spesies kopi bahkan dikhawatirkan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi begitu cepat. Dampaknya sudah mulai dirasakan di lapangan. Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, produksi kopi menunjukkan tren penurunan hingga 8,8% dalam kurun 2021-2023. Ironisnya, penurunan ini terjadi ketika luas perkebunan justru meningkat sekitar 6,7%. Artinya, memperluas lahan tidak otomatis menghasilkan panen yang lebih banyak jika kondisi iklim tidak lagi mendukung. Pada periode yang sama, curah hujan di wilayah tersebut juga mengalami penurunan drastis. Kopi memang dikenal sebagai tanaman yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Perubahan kecil pada suhu, kelembapan, atau ketersediaan air tanah dapat mempengaruhi proses pembungaan hingga pembentukan buah. Cuaca ekstrem juga menciptakan masalah baru berupa meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut membuat semakin banyak wilayah tidak lagi cocok untuk menghasilkan kopi secara optimal. Di Jambi, tantangan yang dihadapi petani bahkan lebih rumit. Selain cuaca yang tidak menentu, petani kopi liberika juga menghadapi intrusi air laut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penegakan Hukum Kasus Karhutla dalam Konsesi Perusahaan Lemah di Riau?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 06:13:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19035404/Kanal-dan-gambut-produktif-PT-Meskom-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130790</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Plang segel Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bengkalis masih terpancang di lahan gambut bekas terbakar di Dusun Air Raja, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, 12 Mei lalu. Luas kebakaran tertulis sekitar dua hektar. Bekas kayu terbakar begitu jelas. Akar dan tunggul pohon menghitam. Gelondongan kayu hangus berserakan di lahan gambut yang terlahap api. Spanduk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/">Penegakan Hukum Kasus Karhutla dalam Konsesi Perusahaan Lemah di Riau?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Plang segel Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bengkalis masih terpancang di lahan gambut bekas terbakar di Dusun Air Raja, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, 12 Mei lalu. Luas kebakaran tertulis sekitar dua hektar. Bekas kayu terbakar begitu jelas. Akar dan tunggul pohon menghitam. Gelondongan kayu hangus berserakan di lahan gambut yang terlahap api. Spanduk polisi tak menyertakan nama pemilik lahan. Meski begitu, beberapa petunjuk di sekitar lokasi, seperti plang dan papan informasi, menyebut PT Sekato Pratama Makmur (SPM). Berdasarkan tumpang susun peta yang Mongabay lakukan, fakta itu juga merujuk pada pemegang perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH), unit usaha APP Sinar Mas. Kebakaran di SPM berlangsung antara Februari hingga Maret 2026. Tidak hanya pada titik plang polisi,  sekitar satu kilometer, masih satu deretan dari lokasi pertama, juga terbakar. Kondisinya sama persis. Akar, tunggul kayu dan gelondongan batang pohon menghitam, bekas lahapan api bertebaran di gambut terbakar. Kebakaran lebih luas terjadi pada titik ketiga. Analisis citra satelit Sentinel-2 mendapati luasan kebakaran di lokasi itu 99,7 hektar. Di sini, tiap sisi batas luar area terbakar sudah ada kanal. Letaknya antara hutan alam sekunder dan kebun akasia. Luas perkiraan karhutla di SPM mencapai 115,3 hektar tetapi tak ada plang polisi pada dua lokasi yang juga terbakar dalam waktu bersamaan itu. Di lokasi ketiga, hanya terpancang plang besi baja ringan untuk dirikan spanduk dengan pemberitahuan bahwa areal rawan terbakar, dilarang menyalakan api, plus ancaman pidana. Pada spanduk merah itu, tertera emblem PT SPM dan MPA. Ia mengapit logo Polda Riau dan TNI Angkatan Laut.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mario Andramartik dan Jejak Peradaban Megalitikum Pasemah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/19/mario-andramartik-dan-jejak-peradaban-megalitikum-pasemah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/19/mario-andramartik-dan-jejak-peradaban-megalitikum-pasemah/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 03:11:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19025927/Mario-Andramartik.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indone-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130778</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, infrastruktur, komunitas lokal, Lahan Basah, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wilayah Pasemah, Sumatera Selatan, memiliki jejak peradaban megalitikum, yang tersebar di lanskap seluas 8.000 hektar. Membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam hingga Kabupaten Empat Lawang. Peradaban megalitikum ini berkembang sejak periode 2.500 hingga 1.500 tahun Sebelum Masehi. Mario Andramartik, lelaki kelahiran Lahat pada 31 Juli 1970, terpesona dengan peninggalan mahakarya tersebut. Lelaki yang memiliki nama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/mario-andramartik-dan-jejak-peradaban-megalitikum-pasemah/">Mario Andramartik dan Jejak Peradaban Megalitikum Pasemah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wilayah Pasemah, Sumatera Selatan, memiliki jejak peradaban megalitikum, yang tersebar di lanskap seluas 8.000 hektar. Membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam hingga Kabupaten Empat Lawang. Peradaban megalitikum ini berkembang sejak periode 2.500 hingga 1.500 tahun Sebelum Masehi. Mario Andramartik, lelaki kelahiran Lahat pada 31 Juli 1970, terpesona dengan peninggalan mahakarya tersebut. Lelaki yang memiliki nama kelahiran Maryoto, yang lama bekerja di kapal pesiar Holland America Line, sejak tahun 2009 memutuskan untuk mempelajari dan menggali peradaban megalitikum Pasemah. Dia mengunjungi berbagai situs dan belajar banyak dengan para arkeolog yang melakukan penelitian megalitikum Pasemah. Di antaranya (alm) Nurhadi Rangkuti, Budi Wiyana, Siswanto, Wilston Douglas Mambo, Ramli, Iskandar, (alm) Kristantina Indriastuti, Sigit Eko Prasetyo, Muhammad Ruly Fauzi, Mubarak Andi Pampang, Wahyu Rizky Andhifani, dan lainnya. Berbagai buku dia baca, seperti “Megalithic Remains in South Sumatra” karya van der Hoop yang dicetak tahun 1932, “Arca-Arca Megalitik Pasemah Sumatra Selatan” karya Rr. Triwurjani, “Megalitik Pasemah Warisan Budaya Penanda Zaman” yang ditulis Rr. Triwurjani, Nurhadi Rangkuti, Nasruddin, Annissa M Gultom, Rumaejani Setyorini dan Riri Fahlen, “The History of Sumatra” karya Willian Marsden, serta Jurnal Arkeologi Siddhayatra dan hasil penelitian arkeologi Balai Arkeologi Sumatera Selatan – Balai Arkeologi Sumatera Selatan yang diintegrasikan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Selain mengunjungi setiap situs megalitik Pasemah, saya juga mengunjungi situs megalitik di Lampung (Batu Berak, Batu Bedil, Pugung Raharjo), Gunung Padang (Cianjur), Lebak  (Banten), Cipari  (Kuningan, Jabar), Batu Kenong (Bondowoso) hingga Easter Island Chile,” terangnya, saat mendampingi tim Mongabay Indonesia mengunjungi beberapa situs megalitikum Pasemah di Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/mario-andramartik-dan-jejak-peradaban-megalitikum-pasemah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/19/mario-andramartik-dan-jejak-peradaban-megalitikum-pasemah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Hognose Timur: Berpura-pura Mati dan Berbau Busuk untuk Bertahan Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/19/ular-hognose-timur-berpura-pura-mati-dan-berbau-busuk-untuk-bertahan-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/19/ular-hognose-timur-berpura-pura-mati-dan-berbau-busuk-untuk-bertahan-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 01:50:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19014601/45138249515_30e023e9ff_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130774</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di alam liar, hewan mengembangkan berbagai cara untuk menghindari predator, mulai dari kecepatan lari, kamuflase, hingga gigitan berbisa. Namun sejumlah spesies memilih pendekatan yang berbeda, yaitu berpura-pura sudah mati. Perilaku ini disebut thanatosis, dan salah satu contoh paling banyak dipelajari datang dari ular hognose timur (Heterodon platirhinos) di Amerika Utara. Ular hognose timur termasuk dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/ular-hognose-timur-berpura-pura-mati-dan-berbau-busuk-untuk-bertahan-hidup/">Ular Hognose Timur: Berpura-pura Mati dan Berbau Busuk untuk Bertahan Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di alam liar, hewan mengembangkan berbagai cara untuk menghindari predator, mulai dari kecepatan lari, kamuflase, hingga gigitan berbisa. Namun sejumlah spesies memilih pendekatan yang berbeda, yaitu berpura-pura sudah mati. Perilaku ini disebut thanatosis, dan salah satu contoh paling banyak dipelajari datang dari ular hognose timur (Heterodon platirhinos) di Amerika Utara. Ular hognose timur termasuk dalam genus Heterodon, yang juga mencakup ular hognose barat (Heterodon nasicus) dan ular hognose selatan (Heterodon simus). Ketiganya memiliki perilaku bertahan yang serupa, tetapi ular hognose timur menjadi spesies yang paling sering dijadikan subjek penelitian karena responsnya yang konsisten dan mudah diamati di laboratorium maupun lapangan. Perilaku berpura-pura mati pada spesies ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 1955, dan sejak itu terus menjadi bahan kajian dalam bidang perilaku hewan. Ular hognose timur (Heterodon platirhinos) dengan pola sisik khasnya, berjaga dalam posisi melingkar di antara rerumputan. Foto: Doug McGrady/Flickr (Attribution License) Ular hognose timur hidup di area berpasir, padang rumput, dan hutan terbuka di Amerika Utara bagian timur dan tengah, mulai dari wilayah selatan Kanada hingga Florida dan Texas. Ukurannya tergolong sedang, dengan panjang dewasa sekitar 50-115 sentimeter, dan dikenal karena moncongnya yang sedikit terangkat, digunakan untuk menggali tanah berpasir saat mencari mangsa berupa katak dan kodok, termasuk spesies yang beracun bagi banyak predator lain. Karena pola makannya yang spesifik ini, ular hognose timur berperan penting dalam mengendalikan populasi amfibi di habitatnya. Tahapan Sebelum &#8220;Mati&#8221; Perilaku berpura-pura mati pada ular hognose timur tidak muncul begitu saja. Sebelum sampai ke tahap ini, ular biasanya mencoba menggertak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/ular-hognose-timur-berpura-pura-mati-dan-berbau-busuk-untuk-bertahan-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/19/ular-hognose-timur-berpura-pura-mati-dan-berbau-busuk-untuk-bertahan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>&#8220;Mall&#8221; Sampah di Teluk Youtefa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mall-sampah-di-teluk-youtefa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mall-sampah-di-teluk-youtefa/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 00:01:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17034035/WhatsApp-Image-2026-06-17-at-5.49.32-AM-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130717</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Lahan Basah, Masyarakat Adat, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mama Persila Sanyi masih ingat betul rasanya air jernih di hutan mangrove Teluk Youtefa. Dulu, perempuan 70 tahun asal Kampung Enggros, Jayapura, itu biasa turun mencari kerang, kepiting, dan udang di sana. Kini, setiap kali pulang mencari bia, dia justru harus menahan gatal. &#8220;Kadang-kadang mama pergi cari bia, pulang badan gatal-gatal dan kita harus garuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mall-sampah-di-teluk-youtefa/">&#8220;Mall&#8221; Sampah di Teluk Youtefa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mama Persila Sanyi masih ingat betul rasanya air jernih di hutan mangrove Teluk Youtefa. Dulu, perempuan 70 tahun asal Kampung Enggros, Jayapura, itu biasa turun mencari kerang, kepiting, dan udang di sana. Kini, setiap kali pulang mencari bia, dia justru harus menahan gatal. &#8220;Kadang-kadang mama pergi cari bia, pulang badan gatal-gatal dan kita harus garuk sekalipun sudah mandi di rumah,&#8221; katanya.  Pencemaran kian signifikan akibat masifnya pembangunan terjadi. Tumpukan sampah banyak terlihat di akar-akar mangrove. Mulai dari plastik, styrofoam, kasur bekas, bahkan limbah medis seperti jarum suntik dan infus. Berta Sanyi, perempuan adat lain dari Enggros, menyebut hutan mangrove mereka kini seperti &#8220;mall&#8221;, saking penuhnya dengan segala jenis sampah yang tersangkut di akar-akar pohon. Bukan cuma sampah, alih fungsi lahan untuk kafe, restoran, kios, dan penginapan di sepanjang Pantai Hamadi hingga Holtekamp turut menggerus kawasan yang sejatinya berstatus Taman Wisata Alam sejak 1996 ini. Padahal jauh sebelum itu, sejak 1978, kawasan ini sudah lebih dulu ditetapkan sebagai kawasan lindung. Riset Universitas Cenderawasih Jayapura mencatat deforestasi mangrove di Teluk Youtefa mencapai 159,33 hektar atau sekitar 40,59 persen sepanjang 1994-2017, dari semula 392,45 hektar menyusut jadi hanya 233,12 hektar.  Data BBKSDA Papua bahkan menunjukkan degradasi 7,81 hektar hanya dalam dua tahun terakhir, dari 124,3 hektar pada 2022 jadi 116,49 hektar pada 2024. Sebenarnya, penegakan hukum sempat dilakukan, yaitu pada 2023, tim gabungan BBKSDA Papua, Polda Papua, dan Pemkot Jayapura menindak pihak yang menimbun mangrove di tepi jalan Hamadi. &#8220;Kasus penimbunan mangrove itu telah ditangani Gakkum dan berproses di pengadilan,&#8221; kata Chandra Irwanto&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mall-sampah-di-teluk-youtefa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mall-sampah-di-teluk-youtefa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Memasak dengan Teknik Tanah Liat, Tidak Kalah Pakai Air Fryer Kekinian. Masyarakat Sungai Musi Telah Membuktikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/memasak-dengan-teknik-tanah-liat-tidak-kalah-pakai-air-fryer-kekinian-masyarakat-sungai-musi-telah-membuktikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/memasak-dengan-teknik-tanah-liat-tidak-kalah-pakai-air-fryer-kekinian-masyarakat-sungai-musi-telah-membuktikan/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 23:00:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/28155344/Ikan-tunu-menggunakan-jenis-ikan-dari-keluarga-chana-atau-sejenis-gabus.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130772</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, Lahan Basah, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di era air fryer, slow cooker, dan oven pintar, siapa sangka salah satu teknik memasak paling sehat justru berasal dari masa ketika manusia belum mengenal peralatan dapur. Caranya sederhana: makanan dibungkus daun, dilapisi tanah liat, lalu dipanggang di atas bara api. Meski terdengar kuno, metode ini masih dipraktikkan hingga kini oleh masyarakat lahan basah Sungai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/memasak-dengan-teknik-tanah-liat-tidak-kalah-pakai-air-fryer-kekinian-masyarakat-sungai-musi-telah-membuktikan/">Memasak dengan Teknik Tanah Liat, Tidak Kalah Pakai Air Fryer Kekinian. Masyarakat Sungai Musi Telah Membuktikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di era air fryer, slow cooker, dan oven pintar, siapa sangka salah satu teknik memasak paling sehat justru berasal dari masa ketika manusia belum mengenal peralatan dapur. Caranya sederhana: makanan dibungkus daun, dilapisi tanah liat, lalu dipanggang di atas bara api. Meski terdengar kuno, metode ini masih dipraktikkan hingga kini oleh masyarakat lahan basah Sungai Musi di Sumatera Selatan melalui hidangan tradisional yang dikenal sebagai ‘ikan tunu’. Sekilas, ikan tunu terlihat seperti ikan bakar biasa. Namun, proses pembuatannya sangat berbeda. Ikan segar dibungkus daun pisang, kemudian seluruh permukaannya diselimuti tanah liat sebelum diletakkan di atas bara. Setelah sekitar 30 menit, lapisan tanah mulai mengeras dan retak. Saat dipecahkan, kulit ikan ikut terangkat bersama tanah liat, meninggalkan daging yang putih, lembut, dan harum. Yang membuat teknik ini menarik adalah cara kerjanya. Tanah liat bertindak seperti oven alami. Lapisan tersebut memerangkap uap air yang keluar dari ikan selama dipanaskan sehingga daging matang perlahan dari dalam. Hasilnya, ikan tetap lembap, tidak kering, dan matang merata tanpa perlu tambahan minyak atau mentega. Tak heran jika banyak teknik memasak modern, seperti slow cooking atau steam roasting, sebenarnya mengandalkan prinsip yang sama. Keuntungan lainnya adalah cita rasa. Karena ikan dimasak dalam &#8220;ruang tertutup&#8221;, sari alami tidak banyak menguap. Aroma daun pisang meresap perlahan ke dalam daging, sementara rasa asli ikan tetap mendominasi tanpa tertutup bumbu berlebihan. Bagi pencinta makanan yang mengutamakan kualitas bahan, metode ini memungkinkan rasa alami ikan benar-benar menjadi bintang utama. Bukan hanya soal rasa, teknik ini juga memiliki sejumlah keunggulan dari sisi kesehatan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/memasak-dengan-teknik-tanah-liat-tidak-kalah-pakai-air-fryer-kekinian-masyarakat-sungai-musi-telah-membuktikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/memasak-dengan-teknik-tanah-liat-tidak-kalah-pakai-air-fryer-kekinian-masyarakat-sungai-musi-telah-membuktikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Aksi Warga Jaga Pegunungan Menoreh dari Pemburu Burung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/18/aksi-warga-jaga-pegunungan-menoreh-dari-pemburu-burung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/18/aksi-warga-jaga-pegunungan-menoreh-dari-pemburu-burung/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 13:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/18091215/PHOTO-2026-07-10-15-47-21-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130755</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, komunitas lokal, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kelompok Lestari Purwosari, penggerak ekowisata di Desa Wisata Purwosari, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, menangkap seorang lelaki pemburu burung di wilayah mereka, Mei lalu.  Kalurahan Purwosari memang sasaran para pemburu untuk memasok kebutuhan pasar burung kicau yang sebagian besar berstatus dilindungi. Tegar Cahaya Putra, inisiator dan pegiat Kelompok Lestari Purwosari, menceritakan  kisah itu pada Mongabay, belum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/aksi-warga-jaga-pegunungan-menoreh-dari-pemburu-burung/">Aksi Warga Jaga Pegunungan Menoreh dari Pemburu Burung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kelompok Lestari Purwosari, penggerak ekowisata di Desa Wisata Purwosari, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, menangkap seorang lelaki pemburu burung di wilayah mereka, Mei lalu.  Kalurahan Purwosari memang sasaran para pemburu untuk memasok kebutuhan pasar burung kicau yang sebagian besar berstatus dilindungi. Tegar Cahaya Putra, inisiator dan pegiat Kelompok Lestari Purwosari, menceritakan  kisah itu pada Mongabay, belum lama ini. Dia bilang, awalnya pria itu kedapatan membawa speaker kecil, pulut, dan sebuah sangkar di salah satu bukit. Warga pun langsung menegurnya. Pria asal Sleman itu kemudian pergi, namun hanya berpindah tempat. Warga lain pun memergokinya dan mengabarkan ke grup percakapan di WhatsApp. Mereka langsung menangkap orang itu, karena mengabaikan teguran pertama. Mereka membawanya ke sekretariat komunitas, memeriksa dan menahan identitas pelaku, kemudian menyodorkan surat pernyataan bermaterai yang mengikat pelaku tidak mengulangi aksinya lagi. “Setelah kami cek ternyata sempat mendapat beberapa ekor burung, lalu langsung kami lepaskan,” katanya. Dia masih ingat jenis burung yang pelaku tangkap, seperti, kacamata kuning, cucak delima, dan poksay kuda, semua langsung mereka lepas. Selepas kejadian itu, masih ada pemburu lain yang nekat menangkap burung di desa paling barat Kulonprogo itu. Kali ini, pemburu masih bawah umur, dari desa tetangga, Kapanewon Girimulyo. “Dia masih siswa SMP di sekitar sini juga, awalnya ditegur tapi tidak kooperatif lalu dibawa ke sini.” Motifnya untuk mendapat uang. Model pemburuan sama, dengan memanfaatkan pulut sebagai lem untuk menjebak burung yang sudah terperangkap agar tidak bisa terbang lagi. “Cara memancing burung agar terjebaknya dengan speaker kecil yang diputarkan rekaman suara kicauan burung, sehingga tertarik untuk masuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/aksi-warga-jaga-pegunungan-menoreh-dari-pemburu-burung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/18/aksi-warga-jaga-pegunungan-menoreh-dari-pemburu-burung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tim Solidaritas Desak Setop Ambil Tanah Warga Rempang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/18/tim-solidaritas-desak-setop-ambil-tanah-warga-rempang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/18/tim-solidaritas-desak-setop-ambil-tanah-warga-rempang/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 08:38:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/17082105/Warga-menyampaikan-protes-pemasangan-patok-lahan-BP-Batam-di-Pulau-Rempang.-Foto-Amar-GB-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130704</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suasana Kampung Pantai Melayu, Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau,  kembali memanas Selasa pagi (14/7/26). Cekcok antara aparat kepolisian dan warga Rempang tak terhindarkan menyusul pemasangan plang hak pengelolaan lahan (HPL) sepihak oleh BP Batam. Masalahnya, lahan untuk sekolah rakyat itu berada di lokasi yang warga kelola. Dalam rekaman video, tampak Kompol. Yudiarta Rustam, Kasat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/tim-solidaritas-desak-setop-ambil-tanah-warga-rempang/">Tim Solidaritas Desak Setop Ambil Tanah Warga Rempang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suasana Kampung Pantai Melayu, Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau,  kembali memanas Selasa pagi (14/7/26). Cekcok antara aparat kepolisian dan warga Rempang tak terhindarkan menyusul pemasangan plang hak pengelolaan lahan (HPL) sepihak oleh BP Batam. Masalahnya, lahan untuk sekolah rakyat itu berada di lokasi yang warga kelola. Dalam rekaman video, tampak Kompol. Yudiarta Rustam, Kasat Intelkam Batam di lokasi kejadian. Dia mengenakan pakaian sipil, Yudi bersama polisi lain mencoba masuk Kampung Pantai Melayu, namun  warga menghadangnya. “Ini tanah kami, kalian masuk tidak minta izin,” kata salah seorang ibu. Yudi kemudian berjalan naik ke atas mobil sambil membentak seorang perempuan. “Saya nggak ada urusan dengan kau,” katanya,  lantas mengendarai mobil ke dalam kampung. Teo Reffelsen, Manajer Pembelaan Walhi Nasional,  mengatakan, persoalan di Rempang bukan semata soal keamanan dan ketertiban masyarakat, melainkan sengketa hak atas tanah dan wilayah adat.  Karena itu, dia meminta polisi tidak terlibat upaya BP Batam dalam penguasaan maupun pengambilalihan lahan di Pulau Rempang. “Aparat kepolisian harus menjalankan fungsinya secara netral, mengedepankan penghormatan terhadap HAM, tidak melakukan upaya kriminalisasi serta tidak menjadi alat untuk memfasilitasi praktik perampasan tanah dan ruang hidup masyarakat.&#8221; ujar Teo. AKP. Budi Santosa, Humas Polresta Barelang Budi belum menjawab upaya konfirmasi Mongabay. Plang HPL BP Batam yang diduga berada di lahan milik warga Pulau Rempang. Foto Amar GB. Warga tertekan Selain di permukiman, ketegangan juga terjadi di lokasi pemasangan plang HPL BP Batam yang proyeksikan untuk Sekolah Rakyat. “Tolong dipindahkan plang ini ke lahan sekolah (Sekolah Rakyat), kami kalau di lahan Sekolah Rakyat 1.000 plang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/tim-solidaritas-desak-setop-ambil-tanah-warga-rempang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/18/tim-solidaritas-desak-setop-ambil-tanah-warga-rempang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Paus Orca Bisa Meniru Suara Manusia? Fakta yang Mengejutkan Ilmuwan dan Ini Sungguh Terjadi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/paus-orca-bisa-meniru-suara-manusia-fakta-yang-mengejutkan-ilmuwan-dan-ini-sungguh-terjadi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/paus-orca-bisa-meniru-suara-manusia-fakta-yang-mengejutkan-ilmuwan-dan-ini-sungguh-terjadi/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 07:53:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/02/22090432/Paus-orca2-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130750</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bayangkan seekor paus mengucapkan &#8220;hello&#8221; atau menghitung &#8220;one, two, three&#8221;. Kedengarannya seperti adegan film fiksi ilmiah, tetapi kemampuan itu benar-benar dimiliki oleh orca (Orcinus orca), mamalia laut yang lebih dikenal sebagai paus pembunuh atau killer whale. Orca sebenarnya bukan paus sejati, melainkan anggota terbesar keluarga lumba-lumba. Selain dikenal sebagai predator puncak di lautan, mereka juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/paus-orca-bisa-meniru-suara-manusia-fakta-yang-mengejutkan-ilmuwan-dan-ini-sungguh-terjadi/">Paus Orca Bisa Meniru Suara Manusia? Fakta yang Mengejutkan Ilmuwan dan Ini Sungguh Terjadi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bayangkan seekor paus mengucapkan &#8220;hello&#8221; atau menghitung &#8220;one, two, three&#8221;. Kedengarannya seperti adegan film fiksi ilmiah, tetapi kemampuan itu benar-benar dimiliki oleh orca (Orcinus orca), mamalia laut yang lebih dikenal sebagai paus pembunuh atau killer whale. Orca sebenarnya bukan paus sejati, melainkan anggota terbesar keluarga lumba-lumba. Selain dikenal sebagai predator puncak di lautan, mereka juga termasuk salah satu hewan paling cerdas di Bumi. Otak orca dewasa bahkan dapat mencapai berat sekitar enam kilogram, jauh lebih besar dibandingkan rata-rata otak manusia yang sekitar 1,4 kilogram. Besarnya otak ini mendukung kemampuan belajar, memecahkan masalah, hingga berkomunikasi secara kompleks. Kecerdasan orca terlihat dari kehidupan sosialnya. Mereka hidup dalam kelompok keluarga yang sangat erat, dipimpin oleh induk betina, dan setiap kelompok memiliki &#8220;dialek&#8221; sendiri. Layaknya manusia yang memiliki aksen berbeda di setiap daerah, kelompok orca menggunakan pola bunyi khas untuk saling mengenali dan berkomunikasi. Dialek tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga dianggap sebagai bentuk budaya di dunia hewan. Kemampuan vokal orca semakin menarik perhatian setelah penelitian yang dipublikasikan pada 2018. Dalam percobaan yang melibatkan dua orca bernama Wikie dan Moana di Marineland, Prancis, para peneliti memperdengarkan berbagai suara yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, mulai dari bunyi derit pintu hingga kata-kata yang diucapkan manusia. Hasilnya mengejutkan. Wikie mampu menirukan hampir seluruh suara yang diperdengarkan. Bahkan, kata &#8220;hello&#8221; dan &#8220;one, two, three&#8221; berhasil ditirukannya pada percobaan pertama. Meski pengucapannya tidak sejelas burung beo, analisis spektrogram menunjukkan bahwa suara yang dihasilkan memiliki kemiripan kuat dengan suara asli manusia. Yang membuat temuan ini semakin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/paus-orca-bisa-meniru-suara-manusia-fakta-yang-mengejutkan-ilmuwan-dan-ini-sungguh-terjadi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/paus-orca-bisa-meniru-suara-manusia-fakta-yang-mengejutkan-ilmuwan-dan-ini-sungguh-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Nelayan Kabaena di Tengah Sengkarut Tata Ruang Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/18/nasib-nelayan-kecil-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/18/nasib-nelayan-kecil-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 03:03:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Muhlas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/17025842/WhatsApp-Image-2026-07-04-at-03.52.42-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130680</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sudah berhari-hari perahu nelayan Suku Bajau terombang-ambing di bawah kolong rumah di Desa Baliara, Kabaena Barat. Sulawesi Tenggara (Sultra). Nelangsa mereka tidak dapat meraup nafkah setelah terpaksa berhenti melaut karena sulit mendapat bahan bakar minyak (BBM) solar. “Kita mau ambil apa mi ini kasihan? Cuma dari situ (melaut) kita bisa hidup,” kata Aco lirih  saat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/nasib-nelayan-kecil-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut/">Nasib Nelayan Kabaena di Tengah Sengkarut Tata Ruang Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sudah berhari-hari perahu nelayan Suku Bajau terombang-ambing di bawah kolong rumah di Desa Baliara, Kabaena Barat. Sulawesi Tenggara (Sultra). Nelangsa mereka tidak dapat meraup nafkah setelah terpaksa berhenti melaut karena sulit mendapat bahan bakar minyak (BBM) solar. “Kita mau ambil apa mi ini kasihan? Cuma dari situ (melaut) kita bisa hidup,” kata Aco lirih  saat kumpul bersama keluarga di teras rumahnya,  penghujung Mei 2026. Bukan kali ini saja Aco tak bisa melaut imbas BBM yang langka. Dua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) lebih sering kosong. Kalau pun ada, acapkali kuota BBM terpangkas. “Waktu itu dikasih 20 liter satu orang. Sekarang cuma 10 liter. Tidak cukup sekali melaut. Baru harus setiap hari mengantri tapi di SPBU selalu kosong. Kalau begini terus kita mau dapat apa?” Padahal, bagi para nelayan seperti Aco, kebutuhan BBM kian berlipat menguras 80% total biaya melaut. Pasalnya, ketimbang dulu, jarak lokasi tangkapan sekarang makin jauh dan lebih lama karena zona tangkap sebelumnya sepi ikan lantaran terdampak limbah tambang nikel, terutama di area pesisir. Ada  beberapa konsesi perusahaan nikel menghimpit Desa Baliara. Intensitas pengerukan tanah nikel memicu residu lumpur di sungai sebelum akhirnya berakhir di laut. Di wilayah pesisir, jejak sedimentasi mencapai mencapai tinggi betis orang dewasa. Berdasarkan analisis spasial berbasis citra satelit dari Satya Bumi per April 2026, pencemaran lumpur sudah menyebar di laut seluas 14,98 hektar setara 20 lapangan sepak bola. Dengan radius sejauh 250 meter dari bibir pantai. Penelitian Satya Bumi sebelumnya menemukan,  pencemaran lumpur tambang membunuh ekosistem terumbu karang dan menyingkirkan habitat ikan. Dulu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/nasib-nelayan-kecil-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/18/nasib-nelayan-kecil-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/kisah-orangutan-sumatera-yang-tergusur-dari-rumah-sendiri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/kisah-orangutan-sumatera-yang-tergusur-dari-rumah-sendiri/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 01:06:12 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/06/22084619/Orangutan-di-Ketambe-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=130719</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/07/kisah-orangutan-sumatera-yang-tergusur-dari-rumah-sendiri/">Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang menagih janji ketegasan hukum dan ruang hidup yang tersisa sebelum semuanya terlambat. The post Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/07/kisah-orangutan-sumatera-yang-tergusur-dari-rumah-sendiri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/kisah-orangutan-sumatera-yang-tergusur-dari-rumah-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sejak Laut Tercemar, Petani Rumput Laut Tinanggea Kehilangan Segalanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/sejak-laut-tercemar-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/sejak-laut-tercemar-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 00:01:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/12/22081558/rumput2-55615808-ed9f-4a72-8398-907c407e0ac4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130626</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, kelautan dan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dulu, La Ode Baharuddin tak pernah menyangka akan menghabiskan hari-harinya mencari keong bakau di lumpur bakau Desa Akuni, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bertahun-tahun lalu, dia adalah petani rumput laut yang hidup dari komoditas dulunya sangat menjanjikan. Bahkan, desanya sempat dijuluki &#8220;desa dolar&#8221;. Julukan itu bukan sekedar kiasan belaka. Pada 2014-2015, harga rumput laut kering sempat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/sejak-laut-tercemar-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya/">Sejak Laut Tercemar, Petani Rumput Laut Tinanggea Kehilangan Segalanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dulu, La Ode Baharuddin tak pernah menyangka akan menghabiskan hari-harinya mencari keong bakau di lumpur bakau Desa Akuni, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bertahun-tahun lalu, dia adalah petani rumput laut yang hidup dari komoditas dulunya sangat menjanjikan. Bahkan, desanya sempat dijuluki &#8220;desa dolar&#8221;. Julukan itu bukan sekedar kiasan belaka. Pada 2014-2015, harga rumput laut kering sempat menyentuh sampai Rp45 ribu/kilogram. Mardiana, ibu enam anak di Bungin Permai pernah merasakan kejayaan itu. Dari 300 bentang tali rumput laut yang terpasang, dia bisa mengantongi pendapatan bersih hingga Rp40 juta sekali panen, cukup untuk membeli sepeda motor dan perahu. Tapi kini, itu hanya jadi kenangan. Sejak tiga tahun terakhir, budidaya rumput laut di Tinanggea perlahan runtuh. Baharuddin bilang, sejak tambang nikel beroperasi di sekitar perairan mereka, air laut kerap berubah warna jadi kuning setiap hujan turun, dan rumput laut pun gagal tumbuh. Demi untuk menyekolahkan tiga anaknya, dia terpaksa menjual sapi, bahkan tanah. “Sudah ada beberapa tahun agar (rumput laut) tidak bagus (panen), setelah ada tambang ini,” kata Baharuddin. Warga pesisir lainnya pun mengeluhkan adanya keberadaan penampungan ore nikel di bibir pantai dan lalu lalang kapal tambang. Andi Rahman, Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara, menyebut operasional pelabuhan itu memicu sedimentasi yang membuat air laut berubah warna dan mengganggu ekosistem laut. Sementara itu, Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan justru menyebutkan informasi yang berbeda, data resmi mereka menunjukkan produksi rumput laut Tinanggea terus naik tiap tahun, dari 18.644 ton pada 2021 jadi 33.946 ton pada 2025. Bagi Mardiana, angka itu tak masuk akal. &#8220;Kalau khusus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/sejak-laut-tercemar-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/sejak-laut-tercemar-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Satwa Terancam Punah Ini Dijuluki “Monyet Belanda”, Padahal Hidupnya di Hutan Mangrove Kalimantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/satwa-terancam-punah-ini-dijuluki-monyet-belanda-padahal-hidupnya-di-hutan-mangrove-kalimantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/satwa-terancam-punah-ini-dijuluki-monyet-belanda-padahal-hidupnya-di-hutan-mangrove-kalimantan/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 22:30:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004623/Proboscis-monkey-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130703</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang mudah dikenali dari hidungnya yang panjang dan besar, terutama pada jantan dewasa. Ciri fisik inilah yang membuatnya populer dengan julukan “Monyet Belanda”. Sebutan tersebut berkembang sejak masa kolonial karena hidung besar dan wajah kemerahan bekantan dianggap menyerupai gambaran orang Belanda pada masa itu. Julukan ini bukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/satwa-terancam-punah-ini-dijuluki-monyet-belanda-padahal-hidupnya-di-hutan-mangrove-kalimantan/">Satwa Terancam Punah Ini Dijuluki “Monyet Belanda”, Padahal Hidupnya di Hutan Mangrove Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang mudah dikenali dari hidungnya yang panjang dan besar, terutama pada jantan dewasa. Ciri fisik inilah yang membuatnya populer dengan julukan “Monyet Belanda”. Sebutan tersebut berkembang sejak masa kolonial karena hidung besar dan wajah kemerahan bekantan dianggap menyerupai gambaran orang Belanda pada masa itu. Julukan ini bukan nama ilmiah, melainkan sebutan yang hidup di tengah masyarakat Kalimantan. Hidung besar bukan sekadar penanda penampilan. Pada bekantan jantan, hidung yang menggantung hingga menutupi sebagian mulut diduga membantu memperkuat suara panggilan sekaligus menarik perhatian betina. Ukuran tubuh jantan juga jauh lebih besar dibandingkan betina. Wajah bekantan tidak ditutupi rambut, sedangkan warna tubuhnya terlihat mencolok: bagian punggung berwarna cokelat kemerahan, sementara perut dan anggota tubuhnya putih keabu-abuan. Ekornya pun sangat panjang, hampir sama dengan panjang tubuhnya. Keunikan lain bekantan terlihat pada bentuk perutnya yang buncit. Bekantan memiliki sistem pencernaan khusus dengan lambung beruang yang membantu memfermentasi daun dan bahan tumbuhan berserat. Makanannya sebagian besar berupa daun, buah, bunga, kulit pohon, serta sesekali serangga dan kepiting. Mereka cenderung memilih tumbuhan dengan kandungan serat kasar dan protein yang tinggi. Meski terlihat tambun, bekantan merupakan pemanjat pohon sekaligus perenang yang tangguh. Jari-jari kakinya memiliki selaput yang membantu mereka berenang dan menyeberangi sungai, bahkan terkadang dengan melompat langsung dari pohon ke air. Bekantan hidup dalam kelompok sosial yang unik. Ada kelompok yang terdiri atas seekor jantan dewasa dengan beberapa betina dan anak-anaknya, serta kelompok yang seluruh anggotanya merupakan jantan. Mereka lebih banyak beraktivitas di atas tajuk pohon dan sering memilih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/satwa-terancam-punah-ini-dijuluki-monyet-belanda-padahal-hidupnya-di-hutan-mangrove-kalimantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/satwa-terancam-punah-ini-dijuluki-monyet-belanda-padahal-hidupnya-di-hutan-mangrove-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Cara Menghentikan Laju Kerusakan Lingkungan Pantura Jawa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 13:41:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/04/22051547/Karawang-6144-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130713</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Waswas PSN Tambak Pantura Jawa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, infrastruktur, komunitas lokal, dan Lahan Basah]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa terus mengalami degradasi lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, erosi mendominasi hingga 65,8 persen garis pantai dari Kabupaten Serang di Banten hingga Kabupaten Situbondo di Jawa Timur. Tubagus Solihuddin, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan meluasnya erosi karena sebagian besar pesisir Pantura Jawa tersusun dari endapan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/">Bagaimana Cara Menghentikan Laju Kerusakan Lingkungan Pantura Jawa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa terus mengalami degradasi lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, erosi mendominasi hingga 65,8 persen garis pantai dari Kabupaten Serang di Banten hingga Kabupaten Situbondo di Jawa Timur. Tubagus Solihuddin, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan meluasnya erosi karena sebagian besar pesisir Pantura Jawa tersusun dari endapan pluvial dan delta. Secara geologi, kedua endapan tersebut belum bersatu baik (unconsolidated). Kondisi itu diperparah morfologi pantai yang didominasi relief rendah dan dataran rendah, dengan elevasi kurang dari sepuluh meter. Di saat yang sama, akresi juga terjadi di angka 34,2 persen yang memicu kemunculan daratan baru. Berdasarkan riset, laju erosi terjadi juga di delta pantai yang alamiahnya menjadi pusat sedimentasi. Sementara, proses terkumpulnya sedimentasi, berkaitan erat dengan aktivitas di hulu. “Ada kanalisasi, pembelokan arah sungai, atau pembangunan bendungan. Itu semua akan menghentikan pasokan sedimen ke muara sungai,” ucapnya kepada Mongabay, Selasa (13/7/26). Akibat erosi, air masuk hingga empat kilometer ke daratan di kawasan Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. “Selain menenggelamkan infrastruktur publik dan warga hingga permanen, erosi juga membuat air laut masuk dan merendam lebih dari 1.000 hektar tambak warga.” Situasi serupa terjadi di Tanjung Pontang, Serang; Legonkulon, Subang; dan Demak, Jawa Tengah yang saat ini, air laut sudah merengsek ke daratan hingga 5-6 km, serta menenggelamkan sawah dan permukiman. Pantura Jawa menghadapi ancaman karena kenaikan muka air laut (sea level rise/SLR) dan penurunan muka tanah (land subsidence) bersamaan. Tren kenaikan SLR mencapai rerata 0,41-0,42 sentimeter per tahun. “Jika dihitung selama 1993-2025, kenaikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagi Masyarakat Sumba, Kuda Bukan Sekadar Tunggangan, Tapi Identitas Budaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bagi-masyarakat-sumba-kuda-bukan-sekadar-tunggangan-tapi-identitas-budaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bagi-masyarakat-sumba-kuda-bukan-sekadar-tunggangan-tapi-identitas-budaya/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 08:00:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/12/22054132/kuda-sandlewood-di-savana-2a-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130702</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Masyarakat Adat, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hamparan sabana yang luas, perbukitan bergelombang, dan kawanan kuda yang berlari bebas telah lama menjadi wajah Pulau Sumba. Namun, bagi masyarakat Sumba, kuda bukan sekadar penghias lanskap. Hewan yang mereka sebut ‘ndara’ ini merupakan bagian dari identitas budaya yang telah menyatu dengan kehidupan selama berabad-abad. Bagi masyarakat Tanah Marapu, kuda menempati posisi yang nyaris setara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bagi-masyarakat-sumba-kuda-bukan-sekadar-tunggangan-tapi-identitas-budaya/">Bagi Masyarakat Sumba, Kuda Bukan Sekadar Tunggangan, Tapi Identitas Budaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hamparan sabana yang luas, perbukitan bergelombang, dan kawanan kuda yang berlari bebas telah lama menjadi wajah Pulau Sumba. Namun, bagi masyarakat Sumba, kuda bukan sekadar penghias lanskap. Hewan yang mereka sebut ‘ndara’ ini merupakan bagian dari identitas budaya yang telah menyatu dengan kehidupan selama berabad-abad. Bagi masyarakat Tanah Marapu, kuda menempati posisi yang nyaris setara dengan leluhur. Bahkan, berbeda dengan hewan peliharaan lain, kuda di Sumba tidak diberi nama karena dianggap memiliki kedudukan yang terlalu mulia untuk dipersonalisasi. Kuda hadir dalam hampir seluruh fase kehidupan: menjadi alat transportasi, simbol status sosial, bagian dari mas kawin (belis), hewan kurban dalam upacara adat, hingga dipercaya sebagai tunggangan terakhir menuju alam baka. Tak heran jika di antara ternak penting masyarakat Sumba seperti babi, kerbau, dan kuda, justru kuda dianggap memiliki peran paling lengkap. Kuda khas Sumba dikenal sebagai Sandalwood Pony, salah satu rumpun kuda asli Indonesia. Nama &#8220;Sandalwood&#8221; berasal dari kayu cendana yang dahulu menjadi komoditas ekspor utama Nusa Tenggara. Secara fisik, kuda ini tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 110–130 sentimeter. Tubuhnya kompak, berdada lebar, dengan telinga kecil dan surai tebal. Meski bertubuh mungil, keunggulan utamanya justru terletak pada daya tahan. Selama ratusan tahun, Sandalwood berkembang di lingkungan savana Sumba yang panas dan kering. Adaptasi itu membuatnya mampu berjalan jauh, bekerja di medan berbukit, serta bertahan dengan pakan yang relatif terbatas. Ketahanan tersebut juga menjadi alasan mengapa rumpun ini dikenal lebih tahan terhadap cuaca tropis dibanding banyak kuda impor. Kemampuan itulah yang dahulu menjadikan Sandalwood sebagai alat transportasi utama masyarakat, bahkan kendaraan perang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bagi-masyarakat-sumba-kuda-bukan-sekadar-tunggangan-tapi-identitas-budaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/bagi-masyarakat-sumba-kuda-bukan-sekadar-tunggangan-tapi-identitas-budaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Pulihkan Hutan Mangrove Soropia di Tengah Ancaman Proyek Terminal Migas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/17/warga-pulihkan-hutan-mangrove-soropia-di-tengah-ancaman-proyek-terminal-migas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/17/warga-pulihkan-hutan-mangrove-soropia-di-tengah-ancaman-proyek-terminal-migas/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 07:00:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/15080124/2.-Susur-mangrove-di-Waworaha-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130574</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, infrastrtuktur, Kelautan perikanan, Lahan Basah, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Angin laut bertiup menerpa tubuh Bakring yang duduk di teras belakang rumahnya di Desa Tapulaga, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Sejak 2017, pria 63 tahun itu menanam kembali mangrove jenis Rhizopora sp. agar ekosistem kembali terjaga di pesisir Soropia. Dulu, era 1970-1980-an, sepanjang pesisir laut dekat rumah Bakring tumbuh mangrove jenis beropa (Sonneratia alba) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/warga-pulihkan-hutan-mangrove-soropia-di-tengah-ancaman-proyek-terminal-migas/">Warga Pulihkan Hutan Mangrove Soropia di Tengah Ancaman Proyek Terminal Migas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Angin laut bertiup menerpa tubuh Bakring yang duduk di teras belakang rumahnya di Desa Tapulaga, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Sejak 2017, pria 63 tahun itu menanam kembali mangrove jenis Rhizopora sp. agar ekosistem kembali terjaga di pesisir Soropia. Dulu, era 1970-1980-an, sepanjang pesisir laut dekat rumah Bakring tumbuh mangrove jenis beropa (Sonneratia alba) dan api-api (Avicennia alba). Warga dulu memanfaatkan daun untuk pakan ternak dan batang jadi bahan bakar pembuatan batu kapur. Wilayah ini juga sebagai tempat mencari ikan bagi para nelayan. Ada persepsi muncul jika hutan mangrove menjadi habitat nyamuk. Hutan mangrove pun berubah menjadi permukiman dan vila-vila dengan pemandangan laut untuk menarik pelancong, karena hanya berjarak 20 kilometer dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. “Sehingga banyak yang ditebang pada waktu itu. Padahal, kalau kita lihat ada banyak kerang-kerang hidup di bawah pohon mangrove yang bisa kita konsumsi,” kata Bakring ketika ditemui di rumahnya sekaligus Rumah Belajar Konservasi Mangrove, Senin (29/6/26). Padahal, saat mangrove hilang, ekosistem lebih luas akan lenyap. Nelayan makin sulit mendapat tangkapan ikan di pesisir, kata Bakring, juga akibat dari menurunnya fungsi ekosistem mangrove. “Masa-masa itu kalau pergi menyuluh malam, hampir semua jenis ikan kita dapat. Kepiting rajungan kita pilih-pilih saja yang mana mau kita ambil saking banyaknya,” kata Bakring. “Itu masih banyak pohon mangrove.” Bakring berdiri dekat pepohonan mangrove di belakang rumahnya di Desa Tapulaga, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Foto: La Ode Risman Hermawan/Mongabay Indonesia Berkurangnya mangrove dalam skala besar di kampung halamannya mendorong Bakring menginisiasi pembibitan dan penanaman. Bakring menargetkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/warga-pulihkan-hutan-mangrove-soropia-di-tengah-ancaman-proyek-terminal-migas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/17/warga-pulihkan-hutan-mangrove-soropia-di-tengah-ancaman-proyek-terminal-migas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penertiban Tambang Ilegal Lebih Pentingkan Ekonomi Minim Pemulihan Lingkungan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/17/penertiban-tambang-ilegal-lebih-pentingkan-ekonomi-minim-pemulihan-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/17/penertiban-tambang-ilegal-lebih-pentingkan-ekonomi-minim-pemulihan-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 04:55:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/20164835/4-10-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130683</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pangan, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selain penertiban kebun sawit di kawan hutan, pemerintah melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) juga menyasar tambang-tambang ilegal di kawasan hutan, termasuk perusahaan yang beroperasi di luar izin.  Berbagai kalangan pesimis langkah ini bisa memperbaiki tata kelola. Bahkan, cenderung kuat aspek ekonomi daripada pemulihan lingkungan. Pada April lalu, Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi segera menertibkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/penertiban-tambang-ilegal-lebih-pentingkan-ekonomi-minim-pemulihan-lingkungan/">Penertiban Tambang Ilegal Lebih Pentingkan Ekonomi Minim Pemulihan Lingkungan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selain penertiban kebun sawit di kawan hutan, pemerintah melalui Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) juga menyasar tambang-tambang ilegal di kawasan hutan, termasuk perusahaan yang beroperasi di luar izin.  Berbagai kalangan pesimis langkah ini bisa memperbaiki tata kelola. Bahkan, cenderung kuat aspek ekonomi daripada pemulihan lingkungan. Pada April lalu, Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi segera menertibkan ratusan tambang ilegal. Ketika itu Prabowo mengatakan, pemerintah tidak akan lagi memberikan toleransi terhadap praktik pertambangan dengan legalitas tak jelas dan merusak hutan. Era &#8220;titip-menitip&#8221; atau perlindungan terhadap kelompok tertentu telah berakhir. &#8220;Kita sudah enggak ada waktu untuk terlalu kasihan. Enggak ada kasihan sekarang ya. Kita hanya membela kepentingan nasional dan kepentingan rakyat, bukan kepentingan kawan, kepentingan konco, kepentingan keluarga, kepentingan kelompok itu nomor sekian,” katanya dalam Rapat Kerja Kabinet Merah Putih di Jakarta, April lalu. Dia pun meminta laporan evaluasi pertambangan kepada Bahlil Lahadalia, Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Bahlil mengatakan, penertiban fokus pada aktivitas tambang tanpa izin, terutama di kawasan hutan lindung, konservasi, dan cagar alam. &#8220;Saya sudah melaporkan dan insyaallah hasilnya juga baik, dan sudah saya mendapatkan arahan teknis untuk segera saya akan melakukan eksekusi lebih lanjut.” Dalam menindak aktivitas ilegal di dalam kawasan hutan, Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) menjadi andalan pemerintah. Sejak terbentuk 4 Februari 2025, hingga kini, Satgas PKH klaim telah melakukan penyelamatan keuangan aset negara Rp371 lebih, setara 10% APBN Rp3.700 triliun. Pulau Kabaena yang sudah tercemar limbah tambang nikel. Tambang  nikel menyebabkan kerusakan parah ke lingkungan dan masyarakat. Apa penegakan hukumnya?  Foto: Satya Bumi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/penertiban-tambang-ilegal-lebih-pentingkan-ekonomi-minim-pemulihan-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/17/penertiban-tambang-ilegal-lebih-pentingkan-ekonomi-minim-pemulihan-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Meski Telah Dijinakkan Ribuan Tahun, Kuda Ternyata Masih Mampu Mengenali Predator</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/17/meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/17/meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 04:20:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/17041730/daithiturner-horse-8542469_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130685</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Meski telah dijinakkan manusia selama ribuan tahun, kuda ternyata masih mampu mengenali predator hanya dari penglihatan. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kuda peliharaan yang ditunjukkan rekaman video serigala tanpa suara tetap mengenali hewan tersebut sebagai ancaman, meskipun sebagian besar dari mereka kemungkinan besar belum pernah bertemu serigala secara langsung. Detak jantung mereka meningkat saat menonton, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator/">Meski Telah Dijinakkan Ribuan Tahun, Kuda Ternyata Masih Mampu Mengenali Predator</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Meski telah dijinakkan manusia selama ribuan tahun, kuda ternyata masih mampu mengenali predator hanya dari penglihatan. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kuda peliharaan yang ditunjukkan rekaman video serigala tanpa suara tetap mengenali hewan tersebut sebagai ancaman, meskipun sebagian besar dari mereka kemungkinan besar belum pernah bertemu serigala secara langsung. Detak jantung mereka meningkat saat menonton, tetapi secara kasat mata perilaku mereka nyaris tidak menunjukkan perubahan apa pun. Penelitian dilakukan di Pusat Kuda Ohio State University (OSU). Sebanyak 18 ekor kuda dibawa satu per satu ke kandang yang sudah mereka kenal, lalu ditunjukkan video berdurasi 60 detik tanpa suara. Alat pemantau detak jantung dipasang pada tiap hewan, sementara kamera merekam wajah dan gerak tubuhnya. Video dibuka dengan tayangan wombat, hewan berkantung penggali asal Australia, yang tampak sedang merumput dengan tenang. Bagian ini berfungsi sebagai kontrol netral. Selanjutnya video beralih ke kawanan serigala, satu klip menampilkan serigala yang berkelahi dan satu klip lain menampilkan serigala yang saling merawat diri (grooming). Ilustrasi stimulus predator berupa perilaku agresif. Foto ini hanya untuk tujuan ilustrasi, tidak identik dengan segmen video kelompok serigala (Canis lupus) yang berkelahi, yang digunakan untuk memicu respons anti-predator dalam penelitian tersebut. Kredit foto: David Selbert/Pexels. Penelitian ini dipimpin oleh Zeynep Benderlioglu, dosen senior di bidang evolusi, ekologi, dan biologi organisme di universitas tersebut. Ia ingin mengetahui apakah kuda bisa mengenali predator hanya melalui penglihatan, tanpa bantuan indra penciuman atau pendengaran. Riset sebelumnya menunjukkan bahwa kuda sangat mengandalkan penciuman dan pendengaran. Sebuah studi pada 2020 menemukan bahwa kuda menjadi waspada dan berkumpul&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/17/meski-telah-dijinakkan-ribuan-tahun-kuda-ternyata-masih-mampu-mengenali-predator/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Waswas Ketika Hutan Gorontalo Utara Terus Tergerus</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/16/warga-waswas-ketika-hutan-gorontalo-utara-terus-tergerus/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/16/warga-waswas-ketika-hutan-gorontalo-utara-terus-tergerus/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jul 2026 18:09:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan huku]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/12091704/DJI_0743-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130480</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rifal Bobihu, tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dari tepian desa, dia menunjuk hamparan sisi utara yang penuh pohon jabon dan sengon dalam konsesi hutan tanaman energi.  PT Gema Nusantara Jaya (GNJ). Pohon-pohon seragam itu menutup lanskap yang dulu merupakan hutan alam dan menghidupi warga Desa Bubode, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo. Kehadiran perusahaan  bukan tanpa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/16/warga-waswas-ketika-hutan-gorontalo-utara-terus-tergerus/">Warga Waswas Ketika Hutan Gorontalo Utara Terus Tergerus</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rifal Bobihu, tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dari tepian desa, dia menunjuk hamparan sisi utara yang penuh pohon jabon dan sengon dalam konsesi hutan tanaman energi.  PT Gema Nusantara Jaya (GNJ). Pohon-pohon seragam itu menutup lanskap yang dulu merupakan hutan alam dan menghidupi warga Desa Bubode, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo. Kehadiran perusahaan  bukan tanpa persoalan. GNJ,  semula sebagai perusahaan hutan tanaman industri (HTI)  kini bertransformasi menjadi perusahaan multi usaha kehutanan (MUK)  ini  membawa dampak ekologis. Lanskap banyak berubah yang  akhirnya menurunkan hasil panen para petani. Sebelum GNJ hadir, kata Rifai, konsesi perusahaan itu adalah hutan lebat. Kawasan itu berfungsi menyerap air, penyangga musim, sekaligus pelindung alami desa dari cuaca ekstrem. Kini, lanskap di punggung bukit itu berubah rupa, hutan alami di atasnya  tergantikan barisan jabon dan sengon yang jadi pola tanaman industri. Warga mulai rasakan dampak dari perubahan yang berlangsung  lebih  satu dekade lalu itu . Air dari hulu datang lebih cepat dan lebih keruh dari perbukitan. Sedimen yang terbawa arus menutup daun tanaman dan merendam batang. Bagi Rifal, musim hujan kini menghadirkan cemas, bukan sekadar harap. “Perubahan itu bukan sekadar soal pemandangan. Ada rasa waswas yang menyertai setiap musim tanam. Sekarang kami menanam bukan dengan keyakinan, tapi dengan kekhawatiran,” katanya di sela kesibukan tanam jagung.  Pada Januari 2025, hujan sepanjang hari sebabkan Sungai Bubode meluap. Pada malam hari, air menerobos tanggul dan merendam sawah, kebun jagung, hingga rumah-rumah warga. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat,  2.117 keluarga terdampak. Sekitar 115 hektar sawah dan puluhan hektar kebun jagung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/16/warga-waswas-ketika-hutan-gorontalo-utara-terus-tergerus/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/16/warga-waswas-ketika-hutan-gorontalo-utara-terus-tergerus/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sabut Kelapa, Solusi Konflik Petani dengan Monyet Ekor Panjang di Simeulue</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/16/sabut-kelapa-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/16/sabut-kelapa-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue/#respond</comments>
					<pubDate>16 Jul 2026 10:54:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/16104416/MEP-saat-turun-ke-permukiman-Falahi-Mubarok-Mongabay-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130668</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Akhir Perjalanan Topeng Monyet di Jalanan]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sebagian petani di Desa Batu Ralang, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Aceh, pernah menganggap monyet ekor panjang sebagai musuh mereka. Primata ini dianggap merusak buah kelapa yang merupakan sumber penghidupan utama masyarakat. Sekarang, cara pandang mereka berubah. Bukan karena konflik hilang, melainkan karena gagasan sederhana, yaitu menjadikan kelapa yang dirusak Macaca fascicularis fusca itu menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/16/sabut-kelapa-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue/">Sabut Kelapa, Solusi Konflik Petani dengan Monyet Ekor Panjang di Simeulue</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sebagian petani di Desa Batu Ralang, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Aceh, pernah menganggap monyet ekor panjang sebagai musuh mereka. Primata ini dianggap merusak buah kelapa yang merupakan sumber penghidupan utama masyarakat. Sekarang, cara pandang mereka berubah. Bukan karena konflik hilang, melainkan karena gagasan sederhana, yaitu menjadikan kelapa yang dirusak Macaca fascicularis fusca itu menjadi sumber ekonomi baru. Caranya? Mereka menjadikan sabut kelapa sebagai produk bernilai jual, mulai dari cocopeat, cocofiber, cocobristle, hingga aneka kerajinan tangan. Sabut kelapa yang yang sebelumnya dibakar atau dibuang, kini jadi sumber pendapatan tambahan petani. Sekaligus, membuka ruang hidup berdampingan antara warga dan monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang yang tak jarang turun ke permukiman warga. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Mitra Rofendi (31), mengtakan konflik antara petani dengan monyet bukan sekadar cerita. Sebagai petani kelapa sekaligus pengelola rumah produksi kerajinan sabut kelapa yang mulai dirintis sejak 2024, dia merasakan langsung gangguan primata itu. Kerugian akibat buat kelapa yang dimakan monyet bisa mencapai sekitar 4,1 juta setiap bulan. “Sejak kami bisa memanfaatkan sabut kelapa, dampak kerugian mulai berkurang,” jelas Ketua Kelompok Tani SIMCO itu, Rabu (15/7/26). Mitra mengakui, sebelum ada pendekatan baru, sebagian warga memilih membersihkan kebun agar monyet tidak bersarang di semak. Namun, ada pula yang mengambil langkah lebih ekstrem. “Ada yang mengusirnya dengan kekerasan, padahal itu tidak baik karena mereka juga bagian ekosistem.” Melalui pelatihan, masyarakat mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat sebagai media tanam, cocofiber untuk kebutuhan industri, cocobristle, hingga aneka kerajinan seperti tas, pot bunga, sandal, lukisan, dan kaligrafi. “Ibu-ibu membuat berbagai kreasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/16/sabut-kelapa-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/16/sabut-kelapa-solusi-konflik-petani-dengan-monyet-ekor-panjang-di-simeulue/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>