Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang mudah dikenali dari hidungnya yang panjang dan besar, terutama pada jantan dewasa. Ciri fisik inilah yang membuatnya populer dengan julukan “Monyet Belanda”. Sebutan tersebut berkembang sejak masa kolonial karena hidung besar dan wajah kemerahan bekantan dianggap menyerupai gambaran orang Belanda pada masa itu. Julukan ini bukan nama ilmiah, melainkan sebutan yang hidup di tengah masyarakat Kalimantan.
Hidung besar bukan sekadar penanda penampilan. Pada bekantan jantan, hidung yang menggantung hingga menutupi sebagian mulut diduga membantu memperkuat suara panggilan sekaligus menarik perhatian betina. Ukuran tubuh jantan juga jauh lebih besar dibandingkan betina. Wajah bekantan tidak ditutupi rambut, sedangkan warna tubuhnya terlihat mencolok: bagian punggung berwarna cokelat kemerahan, sementara perut dan anggota tubuhnya putih keabu-abuan. Ekornya pun sangat panjang, hampir sama dengan panjang tubuhnya.
Keunikan lain bekantan terlihat pada bentuk perutnya yang buncit. Bekantan memiliki sistem pencernaan khusus dengan lambung beruang yang membantu memfermentasi daun dan bahan tumbuhan berserat. Makanannya sebagian besar berupa daun, buah, bunga, kulit pohon, serta sesekali serangga dan kepiting. Mereka cenderung memilih tumbuhan dengan kandungan serat kasar dan protein yang tinggi. Meski terlihat tambun, bekantan merupakan pemanjat pohon sekaligus perenang yang tangguh. Jari-jari kakinya memiliki selaput yang membantu mereka berenang dan menyeberangi sungai, bahkan terkadang dengan melompat langsung dari pohon ke air.
Bekantan hidup dalam kelompok sosial yang unik. Ada kelompok yang terdiri atas seekor jantan dewasa dengan beberapa betina dan anak-anaknya, serta kelompok yang seluruh anggotanya merupakan jantan. Mereka lebih banyak beraktivitas di atas tajuk pohon dan sering memilih pohon di tepi sungai sebagai tempat beristirahat. Kedekatan dengan air membantu bekantan mencari makan, berpindah tempat, sekaligus menghindari predator.
Habitat utama bekantan adalah hutan mangrove, hutan rawa, dan kawasan tepi sungai di Kalimantan. Ekosistem tersebut menyediakan daun, buah, bunga, kulit pohon, serta air untuk minum dan berenang. Namun, kerusakan mangrove, perluasan perkebunan, pertambangan, dan perburuan membuat bekantan semakin terdesak. Di beberapa wilayah, kamera jebak bahkan merekam bekantan lebih sering berjalan di tanah, perkebunan sawit, kawasan hutan tanaman industri, dan bekas tambang. Perubahan dari kebiasaan hidup di pohon menjadi lebih terestrial ini diduga terjadi akibat habitatnya yang terfragmentasi.
Hilangnya tutupan hutan membuat bekantan lebih rentan diserang ular piton, macan dahan, dan kucing hutan. Bekantan saat ini berstatus Genting atau Endangered dan termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia. Karena kehidupannya sangat bergantung pada hutan mangrove dan sungai, menjaga bekantan berarti sekaligus menjaga ekosistem pesisir Kalimantan yang menjadi rumah bagi banyak spesies lainnya.
Foto utama: Bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan yang berstatus terancam punah. Foto: Rhett A Butler /Mongabay.