<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=l-darmawan-cilacap-jateng&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/l-darmawan-cilacap-jateng/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Fri, 04 Sep 2026 10:00:45 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Karhutla di Konsesi Perusahaan, Siapa Bertanggung Jawab?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 10:00:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30011627/Penanaman-akasia-baru-di-gambut-bekas-terbakar-sekitar-PT-Arara-Abadi.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132789</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau kembali menjadi sorotan. Sepanjang 2026, kepolisian menetapkan 40 orang sebagai tersangka dalam kasus yang mencakup 904 hektar lahan terbakar. Namun, hingga laporan Mongabay terbit pada 30 Agustus 2026, belum ada perusahaan yang ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan pemeriksaan kebakaran di konsesi perusahaan. Walhi Riau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/">Karhutla di Konsesi Perusahaan, Siapa Bertanggung Jawab?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau kembali menjadi sorotan. Sepanjang 2026, kepolisian menetapkan 40 orang sebagai tersangka dalam kasus yang mencakup 904 hektar lahan terbakar. Namun, hingga laporan Mongabay terbit pada 30 Agustus 2026, belum ada perusahaan yang ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan pemeriksaan kebakaran di konsesi perusahaan. Walhi Riau telah menyerahkan temuan dan kajian mengenai empat perusahaan kepada Polda Riau pada penghujung Juli. Keempatnya adalah PT Sekato Pratama Makmur (SPM), PT Meskom Agro Sarimas (MAS), PT Arara Abadi (AA), serta PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup membenarkan adanya indikasi kebakaran di konsesi tersebut. Berdasarkan penghitungan kementerian, luas areal terbakar mencakup 103,4 hektar di SPM, 146,2 hektar di MAS, 66,8 hektar dalam konsesi AA, serta 71 hektar di RAPP. Sebanyak 510,3 hektar lainnya tercatat di luar konsesi AA. Rizal Irawan, Deputi Bidang Penegakan Hukum KLH/BPLH, mengatakan pemeriksaan terhadap keempat perusahaan masih berlangsung. “Untuk keempat perusahaan itu sedang verifikasi lapangan,” katanya. Kepolisian menyatakan proses hukum dilakukan berdasarkan bukti ilmiah. Penyidikan tidak hanya menelusuri orang yang berada di lokasi kebakaran, tetapi juga asal api, motif, pihak yang bertanggung jawab, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain. Meski demikian, organisasi lingkungan mendesak agar pemeriksaan segera menghasilkan perkembangan yang jelas. Kebakaran di dalam konsesi perlu ditindaklanjuti melalui pembuktian pertanggungjawaban, bukan berhenti pada identifikasi lokasi dan penyegelan. Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, mempertanyakan keseriusan penegakan hukum terhadap korporasi. “Tinggal keberanian dan kemauan penegak hukum. Jangan hanya penegakan hukum suka-suka.” Desakan serupa datang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tangkapan Nelayan Tak Menentu, Pemindangan Tongkol Kusamba Terancam Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 08:10:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[I Gusti Ayu Septiari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/02112505/Nyoman-Poni-meletakkan-ikan-ke-keranjang-dan-menaburkan-garam-di-atas-ikan.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132821</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan produk kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tak hanya terkenal garam tradisionalnya, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali juga terkenal pemindangan ikan. Mereka masih menggunakan cara tradisional yang membuat cita rasa ikan berbeda dari wilayah lain. Meski begitu, hasil tangkapan ikan nelayan Kusamba kian menurun dari tahun ke tahun. Nengah Tedun, tengah duduk menatap lautan. Di sisi kanannya orang-orang mengangkut barang ke kapal. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/">Tangkapan Nelayan Tak Menentu, Pemindangan Tongkol Kusamba Terancam Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tak hanya terkenal garam tradisionalnya, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali juga terkenal pemindangan ikan. Mereka masih menggunakan cara tradisional yang membuat cita rasa ikan berbeda dari wilayah lain. Meski begitu, hasil tangkapan ikan nelayan Kusamba kian menurun dari tahun ke tahun. Nengah Tedun, tengah duduk menatap lautan. Di sisi kanannya orang-orang mengangkut barang ke kapal. Ada yang membawa dus minuman, dus mie instan, hingga bahan bangunan. Sisi kirinya, bersandar belasan perahu nelayan. Perahu itu berjejer, menutupi pasir pantai. Sebagai nelayan tradisional, mayoritas mereka menggunakan perahu kurang dari 5 GT dengan bahan fiberglass dan dayung kayu. Salah satu di antara belasan perahu itu ada milik Nengah Tedun. Sudah empat bulan perahu lelaki 75 tahun ini tidak berlayar. Padahal, Agustus ini seharusnya panen ikan. Perahu nelayan berjejer di pesisir Kusamba. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia “Kalau dulu, tiap Agustus saya senang sekali, ikan-ikan udah panen. Sekarang nggak bisa, apa sebabnya nggak ngerti,” kata Tedun ketika ditemui di Balai Kelompok Nelayan Desa Kusamba, Rabu (19/8/26). Sejak 1965, Tedun sebagai nelayan, jadi sudah generasi ke generasi. Mereka masih menggunakan metode penangkapan tradisional dengan jaring insang dan pancing ulur. Sebelum mesin tempel muncul di 1980-an, mereka masih menggunakan layar untuk melaut. Dia bilang tongkol menjadi salah satu tangkapan dominannya. “Karena perkembangan (tongkol) sangat cepat,” kata Tedun. Bahkan sekali panen, tiap nelayan bisa mendapat 500-1000 ekor. “Sampai perahunya nggak muat,” katanya, mengenang masa lalu. Hasil tangkapan melimpah melahirkan industri pemindangan rumahan di Kusamba. Selama itu juga, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, terkenal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Konflik Manusia dan Satwa Liar Tak Bisa Selesai dengan Solusi Tunggal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 06:27:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhamad Muslich*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/04061117/Tulang-gajah-yang-mati-karena-tersengat-arus-listrik-di-Karang-Ampar-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132946</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap kali harimau menerkam petani di kebunnya, atau gajah meluluhlantakkan tanaman warga, responsnya nyaris selalu sama: giring, halau, pasang pagar, atau tangkap dan pindahkan satwanya. Padahal konflik manusia dan satwa liar adalah persoalan yang jauh lebih rumit dari itu. Solusi-solusi teknis semacam ini hanya menambal luka di permukaan dan sifatnya sesaat. Alih-alih menyelesaikan masalah, cara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/">Opini: Konflik Manusia dan Satwa Liar Tak Bisa Selesai dengan Solusi Tunggal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap kali harimau menerkam petani di kebunnya, atau gajah meluluhlantakkan tanaman warga, responsnya nyaris selalu sama: giring, halau, pasang pagar, atau tangkap dan pindahkan satwanya. Padahal konflik manusia dan satwa liar adalah persoalan yang jauh lebih rumit dari itu. Solusi-solusi teknis semacam ini hanya menambal luka di permukaan dan sifatnya sesaat. Alih-alih menyelesaikan masalah, cara ini kerap hanya memindahkan masalah ke lokasi lain. Akar persoalannya nyaris tak pernah disentuh bahkan cenderung dihindari. Tak heran jika penanganan konflik manusia dan satwa liar di Indonesia terus terjadi dan berulang: reaktif, dari satu kejadian ke kejadian berikutnya, tanpa pernah benar-benar selesai. &nbsp; Konflik yang Kompleks Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan, sampai dengan 2026 mencatat 2.732 kejadian konflik yang melibatkan 11 spesies satwa liar sepanjang 2023–2025. Spesiesnya beragam: harimau, gajah, orangutan, beruang madu, monyet ekor panjang, hingga buaya. Dua spesies yang paling sering merenggut korban jiwa dan kerugian ekonomi besar bagi masyarakat adalah harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang keduanya merupakan spesies paling terancam punah dan sama-sama berstatus Kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah IUCN. Kejadian demi kejadian konflik ini pun tidak lahir dari satu sebab tunggal, melainkan gabungan banyak faktor yang bekerja bersamaan. Habitat yang menyusut akibat alih fungsi lahan, satwa mangsa predator yang berkurang, pakan herbivora yang berubah, perburuan satwa liar yang terus berlangsung, serta menyempitnya ruang jelajah satwa akibat kebutuhan manusia serta infrastruktur. Dalam ruang dan waktu yang sama, manusia dan satwa liar tampak berkompetisi dan memperebutkan sumber daya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Kepala Tembaga Tetap Melahirkan Tanpa Kawin, Meski Pejantan Tersedia di Habitatnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 03:40:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/04033941/Agkistrodon_contortrix_242284249-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132931</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama bertahun-tahun, ilmuwan percaya bahwa kelahiran tanpa pembuahan pada hewan hanya terjadi di tempat penangkaran seperti kebun binatang. Kasus semacam ini pernah tercatat pada ular piton dan komodo yang bertahun-tahun hidup sendirian tanpa pejantan, lalu tiba-tiba menghasilkan telur yang bisa menetas. Fenomena ini biasa disebut kelahiran perawan, atau dalam istilah ilmiah disebut partenogenesis. Karena hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/">Ular Kepala Tembaga Tetap Melahirkan Tanpa Kawin, Meski Pejantan Tersedia di Habitatnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama bertahun-tahun, ilmuwan percaya bahwa kelahiran tanpa pembuahan pada hewan hanya terjadi di tempat penangkaran seperti kebun binatang. Kasus semacam ini pernah tercatat pada ular piton dan komodo yang bertahun-tahun hidup sendirian tanpa pejantan, lalu tiba-tiba menghasilkan telur yang bisa menetas. Fenomena ini biasa disebut kelahiran perawan, atau dalam istilah ilmiah disebut partenogenesis. Karena hanya terlihat pada hewan yang terisolasi, banyak peneliti menganggapnya sebagai semacam jalan pintas darurat, bukan sesuatu yang wajar terjadi di alam. Namun penelitian pada ular kepala tembaga liar di Amerika Serikat mengubah anggapan itu. Ular kepala tembaga sendiri adalah salah satu ular berbisa yang cukup umum dijumpai di wilayah timur dan tengah Amerika Serikat. Ular ini biasa hidup di hutan, semak belukar, dan area berbatu, serta dikenal karena pola warnanya yang menyerupai daun kering, sehingga sulit terlihat di lantai hutan. Di luar cara reproduksinya yang unik ini, ular kepala tembaga juga dikenal sebagai predator penyergap yang mengandalkan kamuflase untuk menangkap mangsa seperti tikus, katak, dan serangga. Penemuan di Alam Liar Penelitian ini dipimpin oleh Warren Booth, yang saat itu bekerja di North Carolina State University. Tim peneliti mengumpulkan ular kepala tembaga (Agkistrodon contortrix) betina yang sedang bunting dari alam liar di Connecticut, lalu membiarkan mereka melahirkan di laboratorium. Ular-ular ini bukan hewan koleksi yang sengaja dipisahkan dari pejantan, melainkan individu yang diambil langsung dari populasi liar tempat perkawinan biasa terjadi setiap tahun. Setelah anak-anak ular lahir, tim memeriksa susunan genetik induk dan anaknya menggunakan sejumlah penanda genetik, untuk melihat apakah ada kontribusi genetik dari pejantan. Ular&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antrean SPBU di Luar Jawa Mengular, Bukti Ketimpangan Energi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 03:00:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki MuazamRichaldo Hariandja]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30071023/IMG_6958-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132683</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta, jawa, dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, sawit, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penumpang Pesona Agatha Tour and Travel di Jambi mulai resah karena sudah lebih 60 menit kendaraan yang harusnya membawa mereka ke Palembang tak kunjung datang. Van yang menampung 11 orang itu baru tiba selewat jam 10.00 WIB, barang-barang dan penumpang pun segera naik, tak sabar segera melaju. “Baru kelar antre solar ini, bang. Parah,” celetuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/">Antrean SPBU di Luar Jawa Mengular, Bukti Ketimpangan Energi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penumpang Pesona Agatha Tour and Travel di Jambi mulai resah karena sudah lebih 60 menit kendaraan yang harusnya membawa mereka ke Palembang tak kunjung datang. Van yang menampung 11 orang itu baru tiba selewat jam 10.00 WIB, barang-barang dan penumpang pun segera naik, tak sabar segera melaju. “Baru kelar antre solar ini, bang. Parah,” celetuk si sopir. Ketika van meluncur melewati pom bensin terdekat, antrean kendaraan berbahan bakar diesel mengular hingga ke bahu jalan. Mulai dari truk hingga kendaraan double cabin semua antre dengan tertib hingga puluhan meter di kanan-kiri Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Fenomena itu tidak hanya terjadi di Kota Jambi, daerah lain di Bumi Melayu Jambi, seperti Kabupaten Merangin, Sarolangun, hingga Muara Bungo. Pun demikian dengan provinsi lain seperti Sumatera Selatan dan Lampung. Beberapa kendaraan bahkan tidak jarang menginap di antrean demi mendapat bahan bakar. Pengalaman yang tidak terlihat di Pulau Jawa. “Bahkan pertalite saja beberapa hari terakhir sulit. Kita beruntung bisa dapat,” ucap Mustakim, Staf Walhi Lampung, saat menemani Mongabay menjelajah Provinsi Sai Bumi Rua Jurai itu. Antrean BBM di salah satu SPBU di Jambi. Foto: Richaldo Hariandja/Mongabay Indonesia. Problem yang mengakar Para pihak menilai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) ini bukan sekadar persoalan distribusi. Ada problem lain yang mengakar. Sudaryadi, Direktur Program Traction Energy Asia mengatakan, menurut kajian mereka, terjadi tekanan secara bersamaan dari sisi fiskal, pasokan bahan baku, dan tata kelola. Dari sisi fiskal, katanya, implementasi biodiesel 50 (B50) pada 1 Juli lalu berdampak pada beban subsidi. Dia bilang, biaya penerapan B50 sangat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Agustus 2026, Karhutla di Sumatera Selatan Banyak Terjadi di Lahan Mineral</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/agustus-2026-karhutla-di-sumatera-selatan-banyak-terjadi-di-lahan-mineral/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/agustus-2026-karhutla-di-sumatera-selatan-banyak-terjadi-di-lahan-mineral/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 03:00:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/04004655/Kekeringan-yang-melanda-berbagai-wilayah-rawa-gambut-di-Sumatera-Selatan-seperti-kekeringan-di-kawasan-rawa-di-Desa-Burai-Kabupaten-Ogan-Ilir.-Foto-Humaidy-Kenedi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132916</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, Lahan Basah, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sepanjang Agustus 2026, titik api (firespot) dan titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan mencapai 2.849 titik. Tapi berbeda dari kebakaran lahan dan hutan (karhutla) sebelumnya, titik api dan titik panas saat ini banyak terjadi di lahan mineral dibandingkan lahan gambut. “Data ini menunjukkan bahwa banyak orang mulai takut membakar di area gambut. Tapi, tradisi membakar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/agustus-2026-karhutla-di-sumatera-selatan-banyak-terjadi-di-lahan-mineral/">Agustus 2026, Karhutla di Sumatera Selatan Banyak Terjadi di Lahan Mineral</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sepanjang Agustus 2026, titik api (firespot) dan titik panas (hotspot) di Sumatera Selatan mencapai 2.849 titik. Tapi berbeda dari kebakaran lahan dan hutan (karhutla) sebelumnya, titik api dan titik panas saat ini banyak terjadi di lahan mineral dibandingkan lahan gambut. “Data ini menunjukkan bahwa banyak orang mulai takut membakar di area gambut. Tapi, tradisi membakar tetap berlangsung di lahan mineral,” kata Bayu Prima, Teknis GIS dan Pemetaan Hutan Kita Institut (HaKI), kepada Mongabay Indonesia, Rabu (2/9/26). Berdasarkan peta titik api dan titik panas yang dicatat HaKI dari sumber Satelit NASA (Modis Terra &amp; Aqua), periode 1-31 Agustus 2026, tercatat 668 titik api dan titik panas di lahan gambut, dan 2.181 titik api dan titik panas di lahan mineral, yang tersebar di 17 kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) tetap menjadi wilayah tertinggi karhutla di Sumatera Selatan. Kabupaten OKI sebanyak 750 titik dan Kabupaten Muba dengan 443 titik. Kemudian disusul Kabupaten Muaraenim (345 titik), Kabupaten Banyuasin (259 titik), Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (180 titik), Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (179 titik), Kabupaten Musirawas Utara (149 titik), Kabupaten Ogan Ilir (144 titik), Kabupaten Lahat (113 titik), serta Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Sementara karhutla yang di bawah 100 titik, antara lain Kabupaten Musirawas, Kabupaten OKU Selatan, Kabupaten Empat Lawang, Kota Palembang, Kota Prabumulih, Kota Lubuklinggau, dan Kota Pagaralam. “Hanya di Kabupaten Banyuasin titik api dan titik panas banyak berada di lahan gambut, mencapai 53 titik. Sedangkan di lahan mineral, hanya 34&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/agustus-2026-karhutla-di-sumatera-selatan-banyak-terjadi-di-lahan-mineral/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/agustus-2026-karhutla-di-sumatera-selatan-banyak-terjadi-di-lahan-mineral/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karhutla Jawa Timur,  Potret Buruknya Tata Kelola Hutan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 01:19:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko WidiantoZuhana A. Zuhro dan RZ. Hakim]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/03075510/1001047183-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132874</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Video unggahan Risawidyana di Instagram menggambarkan keheningan Danau Ranu Kumbolo di Kaki Gunung Semeru. Air berwarna hijau, tenang.  Rerumputan dan pepohonan di tepian danau menghitam bekas terbakar. “Melaporkan kondisi terkini Ranu Kumbolo pada  1 September 2026.,” tulis pemilik akun. Dua hari sebelumnya, pemilik akun Instagram Langit Mahameru menemukan dua gawai dan tripod di area padang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/">Karhutla Jawa Timur,  Potret Buruknya Tata Kelola Hutan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Video unggahan Risawidyana di Instagram menggambarkan keheningan Danau Ranu Kumbolo di Kaki Gunung Semeru. Air berwarna hijau, tenang.  Rerumputan dan pepohonan di tepian danau menghitam bekas terbakar. “Melaporkan kondisi terkini Ranu Kumbolo pada  1 September 2026.,” tulis pemilik akun. Dua hari sebelumnya, pemilik akun Instagram Langit Mahameru menemukan dua gawai dan tripod di area padang sabana yang terbakar. “Sekilas info Kumbolo. Menemukan beberapa barang pendaki yang pernah diberitakan hilang di Oro-Oro Ombo,” tulisnya. Barang itu dia temukan di antara  Oro-oro ombo sampai Cemoro Kandang. “Salah satunya dalam kondisi cukup utuh, LCD rusak. Mohon diinformasikan kepada pemandu yang mengantarkan pendaki,” katanya sembari menunjukkan kondisi gawai yang terbakar. Kondisi itu menggambarkan bagaimana dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Semeru yang berlangsung sejak Rabu (26/8/26) malam. Saat itu, ada sekitar 170 pendaki masih berada di jalur pendakian bersama pemandu. ”Kamis pagi, telah dievakusasi dan turun. Semua selamat di Ranu Pani,” kata Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dalam pernyataan kepada jurnalis Sabtu (29/8/26). Hutan di Ranu Kumbolo menjadi habitat berbagai satwa. Namun, dia  belum bisa mengkalkulasi kebakaran itu dengan dampak kehidupan satwa liar di Ranu Kumbolo. “Sampai saat ini memang belum bisa memastikan penyebab kebakaran. Sekitar lokasi titik api, bukan fasilitas umum dan bukan jalur pendakian.” Tim pemadam berjibaku untuk memadamkan api di kawasan TNTBS. Foto: Dokumen TNBTS. Selidiki penyebab Kini, balai fokus upaya pemadaman. BBTNBTS tengah menyelidiki penyebab kebakaran dengan mengumpulkan bukti-bukti di lapangan dengan melibatkan aparat penegak hukum. Sekaligus mengantisipasi peristiwa itu kembali&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/karhutla-di-jawa-timurdan-buruknya-tata-kelola-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Pembawa Petaka, Burung Hantu Justru Bantu Petani Jaga Lahan Pertanian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-pembawa-petaka-burung-hantu-justru-bantu-petani-jaga-lahan-pertanian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-pembawa-petaka-burung-hantu-justru-bantu-petani-jaga-lahan-pertanian/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 00:30:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/09/22022108/Pungguk-Wengi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132832</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, nusa tenggara, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Muncul dalam gelap dan terbang nyaris tanpa suara membuat burung hantu sering dianggap menyeramkan. Padahal, kemampuan itu bukan tanda kekuatan gaib, melainkan hasil adaptasi untuk berburu. Sayangnya, ketakutan justru membuat satwa ini menjadi korban kekerasan. Pada Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, karena dianggap mengganggu. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-pembawa-petaka-burung-hantu-justru-bantu-petani-jaga-lahan-pertanian/">Bukan Pembawa Petaka, Burung Hantu Justru Bantu Petani Jaga Lahan Pertanian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Muncul dalam gelap dan terbang nyaris tanpa suara membuat burung hantu sering dianggap menyeramkan. Padahal, kemampuan itu bukan tanda kekuatan gaib, melainkan hasil adaptasi untuk berburu. Sayangnya, ketakutan justru membuat satwa ini menjadi korban kekerasan. Pada Januari 2026, seekor burung hantu jenis Tyto alba ditembak mati di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, karena dianggap mengganggu. Pada Agustus, kekerasan kembali terjadi. Tiga pria di Manggarai Barat memukul dan membakar burung yang diduga celepuk flores (Otus alfredi). Para pelaku mengaku percaya burung tersebut membawa pertanda buruk dan berkaitan dengan ilmu hitam. Mereka meyakini pembakaran dapat menghilangkan ancaman sihir. “Tindakan kekerasan terhadap satwa tidak dapat dibenarkan. BBKSDA NTT menyampaikan keprihatinan dan menyayangkan tindakan yang dilakukan terhadap satwa tersebut,” ujar Adhi Nurul Hadi, Kepala BBKSDA NTT, Kamis (13/8/26). Lantas, apa yang membuat burung hantu begitu piawai beraktivitas dalam gelap? Studi genom terhadap 11 spesies yang dipublikasikan dalam Genome Biology and Evolution pada 2020 mengungkap adaptasi pada penglihatan dan pendengaran. Penelitian tersebut menemukan pengemasan DNA yang tidak lazim pada sel retina, yang membantu menyalurkan lebih banyak cahaya menuju fotoreseptor. Wajah berbentuk piringan dan posisi telinga tidak simetris juga membantu mendeteksi keberadaan mangsa. Gemerisik kecil dapat menjadi petunjuk lokasi makanan, bahkan ketika cahaya sangat terbatas. Kemampuan terbang senyap memiliki rahasia lain. Tinjauan ilmiah dalam Interface Focus pada 2017 menjelaskan tiga struktur bulu yang membantu meredam suara: gerigi halus di tepi depan, permukaan menyerupai beludru, dan rumbai lembut di tepi belakang. Perpaduan tersebut membuat kepakan sayap sulit terdengar. Penampilan yang terasa misterius sebenarnya merupakan perlengkapan berburu yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-pembawa-petaka-burung-hantu-justru-bantu-petani-jaga-lahan-pertanian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bukan-pembawa-petaka-burung-hantu-justru-bantu-petani-jaga-lahan-pertanian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Warga Kalimantan Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan dan Gambut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/03/nestapa-warga-kalimantan-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan-dan-gambut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/03/nestapa-warga-kalimantan-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan-dan-gambut/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 11:38:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana dan Krismes Santo Haloho]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/03110934/Asap-Kalteng-Krismes--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132896</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan, kalimantan barat, dan kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan kabut asap parah terutama di Kalimantan dan Sumatera, bahkan sudah mampir ke negeri tetangga. Indikator cemaran udara pun memperlihatkan level berbahaya. Kesehatan dan keselamatan warga pun terancam karena terpaksa menghirup udara beracun karhutla berhari-hari. Dari pantauan kualitas udara melalui aplikasi IQAir pada 3 September 2026, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/nestapa-warga-kalimantan-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan-dan-gambut/">Nestapa Warga Kalimantan Hirup Racun Asap Kebakaran Hutan dan Gambut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan mengakibatkan kabut asap parah terutama di Kalimantan dan Sumatera, bahkan sudah mampir ke negeri tetangga. Indikator cemaran udara pun memperlihatkan level berbahaya. Kesehatan dan keselamatan warga pun terancam karena terpaksa menghirup udara beracun karhutla berhari-hari. Dari pantauan kualitas udara melalui aplikasi IQAir pada 3 September 2026, di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, polusi udara pada level berbahaya dengan konsentrasi partikulat PM2,5 sebesar 375.0 µg/m.³  Tak jauh beda kondisi di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, pencemaran udara level berbahaya dengan PM2,5 sebesar 265,1 µg/m.³ Kabut asap di Kota Pontianak, Kalbar. 3 September 2026. Foto: Tursih/Mongabay Indonesia Tursih, warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat  mengatakan, kabut asap langsung berdampak ke kesehatan terutama anak-anak. “Ini anak-anak di rumah sudah dari beberapa pekan lalu batuk pilek,” katanya, akhir Agustus lalu. Dia dan keluarga pun berupaya mengurangi aktivitas ke luar rumah. Ketika terpaksa keluar, mereka gunakan masker. “Adanya yang ini yang kami beli,”  katanya. Yang dia maksud itu masker medis yang sekadar menutup wajah. Asap karhutla parah, Kota Pontianak pun masih sekolah daring.  “Kabut asap tebal. Sekolah masih libur, belajar daring,” kata Tursih. Dia bilang, sekolah secara daring dengan melihat kondisi asap. Ketika pekat, dan udara memburuk, pemerintah umumkan sekolah secara daring dari rumah. Di Palangka Raya, Ibu Kota Kalimantan Tengah pun tak aman lagi. Seminggu setelah Presiden Prabowo Subianto berkunjung, masyarakat kota makin terkepung api dan asap dari karhutla. Bagi warga Kalteng, karhutla bukan fenomena yang hanya terlihat sebagai kepulan asap di langit. Ia jadi acaman kesehatan, keselamatan maupun ekonomi. Hasil pantauan data&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/nestapa-warga-kalimantan-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan-dan-gambut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/03/nestapa-warga-kalimantan-hirup-racun-asap-kebakaran-hutan-dan-gambut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Memberi Makan Monyet Liar, Niat Baik yang Membawa Penyakit</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/memberi-makan-monyet-liar-niat-baik-yang-membawa-penyakit/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/memberi-makan-monyet-liar-niat-baik-yang-membawa-penyakit/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 10:00:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/07/22012303/Monyet3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132808</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Memberikan roti, biskuit, atau camilan kepada monyet liar sering dianggap sebagai pengalaman menyenangkan. Pengunjung dapat melihat satwa itu dari dekat, sementara monyet memperoleh makanan tanpa harus mencarinya. Namun, tindakan yang terlihat baik ini justru dapat mengganggu kesehatan, mengubah perilaku alami, dan meningkatkan risiko penularan penyakit. Secara alami, sistem pencernaan monyet dirancang untuk mengolah buah hutan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/memberi-makan-monyet-liar-niat-baik-yang-membawa-penyakit/">Memberi Makan Monyet Liar, Niat Baik yang Membawa Penyakit</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Memberikan roti, biskuit, atau camilan kepada monyet liar sering dianggap sebagai pengalaman menyenangkan. Pengunjung dapat melihat satwa itu dari dekat, sementara monyet memperoleh makanan tanpa harus mencarinya. Namun, tindakan yang terlihat baik ini justru dapat mengganggu kesehatan, mengubah perilaku alami, dan meningkatkan risiko penularan penyakit. Secara alami, sistem pencernaan monyet dirancang untuk mengolah buah hutan, dedaunan, serangga, serta makanan berserat lainnya. Mikroorganisme di dalam ususnya membantu mengubah makanan tersebut menjadi energi sekaligus menjaga sistem kekebalan tubuh. Masalah muncul ketika makanan alaminya digantikan camilan manusia yang tinggi gula dan lemak, tetapi rendah serat. Perubahan pola makan dapat mengacaukan komunitas mikroorganisme di dalam usus. Kondisi ketidakseimbangan ini disebut disbiosis. Penelitian terhadap beruk (Macaca nemestrina) di Perak, Malaysia, membandingkan dua populasi dengan tingkat interaksi manusia berbeda. Kelompok pertama hidup di Lumut Mangrove Park, kawasan perkotaan tempat monyet sering diberi makan. Kelompok kedua berada di Segari Melintang Forest Reserve, habitat dengan paparan manusia lebih rendah. Hasilnya, monyet yang sering berinteraksi dengan manusia memiliki keragaman mikrobiota usus lebih rendah. Disbiosis berpotensi melemahkan sistem imun serta membuat satwa lebih rentan terhadap penyakit. Peneliti juga mendeteksi antigen Giardia, parasit penyebab diare, pada sekitar 20 persen sampel kotoran monyet di kawasan mangrove perkotaan. Selain itu, ditemukan Helicobacter macacae, bakteri yang berkaitan dengan infeksi usus. Kedekatan manusia dan monyet menciptakan ruang bagi perpindahan patogen antarspesies. Penyakit dapat bergerak dari satwa ke manusia maupun sebaliknya. Karena itu, persoalan memberi makan monyet bukan hanya menyangkut kesehatan satwa, tetapi juga kesehatan masyarakat. Dampaknya turut terlihat pada perilaku. Monyet yang terbiasa menerima makanan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/memberi-makan-monyet-liar-niat-baik-yang-membawa-penyakit/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/memberi-makan-monyet-liar-niat-baik-yang-membawa-penyakit/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akibat Karhutla, 7 Orangutan Kalimantan Diselamatkan di Ketapang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 08:10:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/03075624/Orangutan-Sampurna3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132876</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, pencemaran, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sepanjang Agustus 2026 berdampak langsung terhadap kehidupan orangutan. Paparan asap membuat sejumlah orangutan keluar dari habitatnya dan masuk kebun sawit maupun kebun buah warga. “Ada tujuh individu yang diselamatkan selama Agustus ini,” kata Heribertus Suciadi, Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/">Akibat Karhutla, 7 Orangutan Kalimantan Diselamatkan di Ketapang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, sepanjang Agustus 2026 berdampak langsung terhadap kehidupan orangutan. Paparan asap membuat sejumlah orangutan keluar dari habitatnya dan masuk kebun sawit maupun kebun buah warga. “Ada tujuh individu yang diselamatkan selama Agustus ini,” kata Heribertus Suciadi, Senior Manager Media dan Komunikasi YIARI, Senin (31/8/26). Kasus terbaru terjadi di Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, Minggu (30/8/26). Seekor orangutan jantan dewasa bernama Sampurna, ditemukan warga dalam kondisi lemas di sekitar kebun sawit. Sarbandi, staf SKW I Ketapang BKSDA Kalimantan Barat, mengatakan orangutan itu diduga bergeser dari habitatnya akibat kebakaran hutan dan lahan. “Pagi hari kami menerima informasi dari masyarakat dan langsung melakukan pengecekan lapangan,” jelasnya, melalui keterangan tertulis, Minggu (30/8/26). Komara, Dokter hewan YIARI, menambahkan asap karhutla dapat berdampak serius terhadap sistem pernapasan orangutan. “Pada kondisi paparan berat, terutama ketika asap sangat pekat dan berlangsung beberapa hari, orangutan dapat mengalami gangguan pernapasan dan kekurangan oksigen atau hipoksia.” Menurut Komara, kondisi Sampurna mengarah pada dugaan tersebut. Sampurna dievakuasi ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri untuk pemeriksaan paru-paru dan organ dalam lainnya. Orangutan bernama Sampurna ini diselamatkan akibat terpapar asap karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Foto: Dok. Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Sebelumnya, tim menyelamatkan Mama Yayuk dan anaknya, dari area kebun sawit perusahaan di Desa Mayak, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang. Tim menemukan keberadaan mereka berupa bekas sarang, pada 27 Agustus 2026, lalu mengevakuasi sehari setelahnya. Setelah memastikan induk dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/03/akibat-karhutla-7-individu-orangutan-kalimantan-diselamatkan-di-ketapang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kecoak Laut Raksasa, Penghuni Laut Dalam dari Perairan Jawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/kecoak-laut-raksasa-penghuni-laut-dalam-dari-perairan-jawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/kecoak-laut-raksasa-penghuni-laut-dalam-dari-perairan-jawa/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 07:34:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/07/22045934/Kecoak3.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=132872</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured, sains dan Teknologi, dan satwa laut]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Laut dalam menyimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Ketika kekayaan laut Indonesia sering dikaitkan dengan terumbu karang, ikan, atau penyu, berbagai organisme di dasar perairan justru luput dari perhatian. Penemuan “kecoak laut raksasa” di perairan Selat Sunda dan selatan Jawa membuka jendela untuk memahami dunia yang tersembunyi tersebut. Meski disebut kecoak laut, satwa ini bukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/kecoak-laut-raksasa-penghuni-laut-dalam-dari-perairan-jawa/">Kecoak Laut Raksasa, Penghuni Laut Dalam dari Perairan Jawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Laut dalam menyimpan kehidupan yang belum banyak dikenali. Ketika kekayaan laut Indonesia sering dikaitkan dengan terumbu karang, ikan, atau penyu, berbagai organisme di dasar perairan justru luput dari perhatian. Penemuan “kecoak laut raksasa” di perairan Selat Sunda dan selatan Jawa membuka jendela untuk memahami dunia yang tersembunyi tersebut. Meski disebut kecoak laut, satwa ini bukan serangga. Hewan dari marga Bathynomus tersebut merupakan isopoda, kelompok krustasea yang berkerabat dengan udang, kepiting, dan lobster. Tubuhnya yang pipih dan beruas membuatnya diasosiasikan dengan kecoak. Sebutan populer ini membantu masyarakat membayangkan penampilannya, tetapi juga dapat menimbulkan kekeliruan dalam memahami identitasnya. Spesies bernama Bathynomus raksasa ini ditemukan melalui South Java Deep-Sea Biodiversity Expedition pada 2018, penelitian bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia [LIPI] dan National University of Singapore. Ekspedisi tersebut mengumpulkan sekitar 12.000 spesimen yang diperkirakan mewakili 800 spesies. Temuan ini memperlihatkan bahwa perairan di sekitar Jawa masih menyimpan kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terdokumentasi. Dengan panjang tubuh mencapai sekitar 36 sentimeter, Bathynomus raksasa menarik perhatian bukan hanya karena ukurannya. Sebagai pemakan bangkai, satwa ini memanfaatkan sisa ikan, sotong, dan organisme lain yang jatuh ke dasar laut. Perannya menunjukkan bahwa hewan yang asing bagi manusia tetap menjadi bagian penting dalam jejaring kehidupan. Namun, menemukan spesies baru bukan sekadar menjumpai hewan yang belum pernah terlihat. Peneliti perlu memeriksa karakter tubuh dan membandingkannya dengan spesies yang telah dikenal. Proses ini menegaskan pentingnya taksonomi sebagai dasar untuk memahami keanekaragaman hayati. Lalu, bagaimana peneliti memastikan identitas Bathynomus raksasa? Mengapa satwa ini jarang ditemukan nelayan, dan apa ancaman bagi kehidupannya? Mongabay Indonesia&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/kecoak-laut-raksasa-penghuni-laut-dalam-dari-perairan-jawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/09/kecoak-laut-raksasa-penghuni-laut-dalam-dari-perairan-jawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mencari Solusi Pengelolaan Sampah di Pulau-pulau Kecil</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/03/mencari-solusi-pengelolaan-sampah-di-pulau-pulau-kecil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/03/mencari-solusi-pengelolaan-sampah-di-pulau-pulau-kecil/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 04:30:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wahyu Chandra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/01/22005011/Gili-Balu-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132766</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[makassar dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rizki tergopoh-gopoh masuk barisan. Dia segera mengenakan sarung tangan plastik yang panitia berikan. Sama dengan puluhan temannya yang lain, siswa SMPN 41 Satu Atap Makassar di Pulau Lae-lae, Sulawesi Selatan itu antusias mengikuti aksi bersih pantai hari itu. Pagi itu, Rabu (5/8/26) Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas)  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/mencari-solusi-pengelolaan-sampah-di-pulau-pulau-kecil/">Mencari Solusi Pengelolaan Sampah di Pulau-pulau Kecil</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rizki tergopoh-gopoh masuk barisan. Dia segera mengenakan sarung tangan plastik yang panitia berikan. Sama dengan puluhan temannya yang lain, siswa SMPN 41 Satu Atap Makassar di Pulau Lae-lae, Sulawesi Selatan itu antusias mengikuti aksi bersih pantai hari itu. Pagi itu, Rabu (5/8/26) Himpunan Mahasiswa Antropologi (HUMAN) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin (Unhas)  menggelar aksi bersih sampah yang mereka kemas dalam program Belajar Atasi Sampah Bersama Siswa (Basis). Kegiatan  bagian dari pengabdian masyarakat itu berlangsung 5–7 Agustus lalu. Melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya belajar pentingnya menjaga lingkungan,  juga bagaimana mengolah sampah plastik agar bisa bernilai ekonomis. “Kami percaya perubahan besar selalu dari langkah-langkah kecil. Melalui BASIS, kami ingin menanamkan kesadaran kepada anak-anak bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama,” kata Nabila Ali, Koordinator Divisi Humas Human FISIP Unhas. Nabila bilang, melalui kegiatan ini, dia mengajak siswa memahami dampak buruk sampah plastik dan bagaimana cara menguranginya. Bagi masyarakat di pulau-pulau kecil, persoalan sampah jauh lebih kompleks. Sampah tidak hanya produksi dari daratan pulau, juga datang dari laut. Sementara sistem pengelolaan terbatas. “Botol minuman, kantong belanja, kemasan makanan, gelas sekali pakai dan berbagai produk rumah tangga hadir hampir setiap hari. Praktis dan murah, plastik menjadi pilihan utama masyarakat. Namun setelah digunakan, benda-benda itu berubah menjadi persoalan yang semakin sulit dikendalikan,” katanya. Sampah plastik tidak lagi sekadar persoalan kebersihan kota, telah menjadi masalah global yang menjalar ke sungai, pesisir dan laut. Sampah yang terbuang di daratan dapat terbawa aliran sungai hingga ke pesisir dan laut. “Di pulau-pulau kecil, persoalan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/mencari-solusi-pengelolaan-sampah-di-pulau-pulau-kecil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/03/mencari-solusi-pengelolaan-sampah-di-pulau-pulau-kecil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dua Kali Dinyatakan Punah, Populasi Ular Paling Langka di Dunia Kini Hanya 20 Ekor, Semuanya di Satu Pulau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/03/dua-kali-dinyatakan-punah-populasi-ular-paling-langka-di-dunia-kini-hanya-20-ekor-semuanya-di-satu-pulau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/03/dua-kali-dinyatakan-punah-populasi-ular-paling-langka-di-dunia-kini-hanya-20-ekor-semuanya-di-satu-pulau/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 04:01:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21231630/The-Saint-Lucia-racer-Erythrolamprus-ornatus-Photograph-by-Toby-Ross.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132860</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di lepas pantai selatan Saint Lucia, sebuah pulau kecil bernama Maria Major menjadi rumah terakhir bagi satu-satunya populasi ular Erythrolamprus ornatusyang tersisa di dunia. Spesies yang juga dikenal sebagai Saint Lucia Racer ini sempat dinyatakan punah, ditemukan kembali, lalu diragukan keberadaannya untuk kedua kalinya sebelum akhirnya dipastikan masih bertahan hidup. Kini populasinya diperkirakan hanya sekitar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/dua-kali-dinyatakan-punah-populasi-ular-paling-langka-di-dunia-kini-hanya-20-ekor-semuanya-di-satu-pulau/">Dua Kali Dinyatakan Punah, Populasi Ular Paling Langka di Dunia Kini Hanya 20 Ekor, Semuanya di Satu Pulau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di lepas pantai selatan Saint Lucia, sebuah pulau kecil bernama Maria Major menjadi rumah terakhir bagi satu-satunya populasi ular Erythrolamprus ornatusyang tersisa di dunia. Spesies yang juga dikenal sebagai Saint Lucia Racer ini sempat dinyatakan punah, ditemukan kembali, lalu diragukan keberadaannya untuk kedua kalinya sebelum akhirnya dipastikan masih bertahan hidup. Kini populasinya diperkirakan hanya sekitar 20 ekor, seluruhnya hidup di satu pulau seluas 12 hektare, menjadikan spesies ini kandidat kuat sebagai ular paling langka di Bumi. Kisah ular ini menarik bukan hanya karena jumlahnya yang sedikit, tapi karena perjalanannya yang naik turun selama hampir dua abad. Ia sempat dianggap hilang dari muka bumi, muncul kembali secara mengejutkan, lalu nyaris terlupakan lagi sebelum akhirnya dipastikan masih ada. Dinyatakan Punah, Ditemukan Kembali, Lalu Diragukan Lagi Erythrolamprus ornatus pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada 1851 oleh zoolog Inggris Albert Günther, kurator reptil di British Museum. Günther mencatat ular ini sebagai penghuni hutan kering dataran rendah Saint Lucia, salah satu pulau utama di Lesser Antilles, Karibia. Pada masa itu, ular ini bukan makhluk asing bagi penduduk setempat. Ia dikenal jinak dan tidak berbahaya, sering terlihat berjemur di siang hari di antara semak dan bebatuan dataran rendah, dengan warna coklat keabu-abuan dan garis samar di sepanjang tubuhnya yang membuatnya mudah menyatu dengan lingkungan sekitar. Memasuki akhir abad ke-19, lanskap ekologis Saint Lucia berubah cepat. Perluasan perkebunan tebu mendorong introduksi musang kecil India (Herpestes javanicus) untuk mengendalikan tikus ladang. Niat awal ini sebenarnya baik, tapi musang ternyata lebih suka berburu di siang hari, saat ular justru&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/dua-kali-dinyatakan-punah-populasi-ular-paling-langka-di-dunia-kini-hanya-20-ekor-semuanya-di-satu-pulau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/03/dua-kali-dinyatakan-punah-populasi-ular-paling-langka-di-dunia-kini-hanya-20-ekor-semuanya-di-satu-pulau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asap Kepung Kota Biak, Karhutla Papua Meluas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/03/asap-kepung-kota-biak-karhutla-papua-meluas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/03/asap-kepung-kota-biak-karhutla-papua-meluas/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 01:11:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/02071956/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-20.06.12-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132809</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, ikomunitas lokas, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua terus meningkat. Di Kabupaten Biak Numfor, Papua, misal, aktivitas di sejumlah sekolah, pemerintah dan masyarakat terdampak akibat kabut asap. “Asap mengepung dan menguasai kota, sekolah libur. Dari minggu lalu anak-anak diliburkan sampai saat ini,” kata  Mananwir Apolos Sroyer, Ketua Dewan Adat Manfun Kawasa Byak kepada Mongabay melalui telepon, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/asap-kepung-kota-biak-karhutla-papua-meluas/">Asap Kepung Kota Biak, Karhutla Papua Meluas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua terus meningkat. Di Kabupaten Biak Numfor, Papua, misal, aktivitas di sejumlah sekolah, pemerintah dan masyarakat terdampak akibat kabut asap. “Asap mengepung dan menguasai kota, sekolah libur. Dari minggu lalu anak-anak diliburkan sampai saat ini,” kata  Mananwir Apolos Sroyer, Ketua Dewan Adat Manfun Kawasa Byak kepada Mongabay melalui telepon, Sabtu (29/8/26). Asap karhutla mengepung Kota Biak, Distrik Samofa, Yendidori, Biak Timur, dan Biak Barat. Paparan asap ini, kata Apolos, kemungkinan meluas di wilayah lain karena kemarau panjang dan tidak ada hujan. “Yang terdampak sekali itu kepada anak-anak dan lansia menghirup asap sehingga menjadi sesak nafas, ada yang dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis,” katanya. Apolos mengatakan, kebakaran hampir satu bulan ini, upaya pemadaman kebakaran hanya di pinggiran-pinggiran jalan saja karena alat yang kurang memadai. ”Pemerintah mesti melihat kalau pake mobil tidak bisa kenapa tidak pakai helikopter atau pesawat yang kapasitas besar untuk memadamkan api,” katanya. Kebakaran lahan di Provinsi Biak, Agustus 2026. Dokumentasi Aleks Abrauw, Warga Distrik Biak Utara Berdasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan sejak tanggal 1 Agustus-2 September 2026, sebaran titik panas di Papua mencapai 2.169 dengan tingkat kepercayaan tinggi atau di atas 80%. Yakni, Papua Selatan (1.212), Papua Tengah (374), Papua Pegunungan (300), Papua Barat Daya (38), dan Papua (12). Pada periode sama, di Biak terdapat empat titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi dan 383 tingkat kepercayaan sedang. Angka ini terbilang tinggi dari wilayah Papua lainnya. Aleks Abrauw, masyarakat Distrik Biak Utara menyebutkan,  sudah dua minggu kebakaran terjadi dan wilayah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/03/asap-kepung-kota-biak-karhutla-papua-meluas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/03/asap-kepung-kota-biak-karhutla-papua-meluas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Lielaphis slashi, Ular Tanah Bernama Gitaris Band Rock Legendaris</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-lielaphis-slashi-ular-tanah-bernama-gitaris-band-rock-legendaris/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-lielaphis-slashi-ular-tanah-bernama-gitaris-band-rock-legendaris/#respond</comments>
					<pubDate>03 Sep 2026 00:30:13 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/01060154/Ular-Slash1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132788</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, papua, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Nama Slash identik dengan gitar, rambut keriting, dan Guns N’ Roses. Namun, kini nama panggung musisi bernama asli Saul Hudson itu juga melekat pada seekor ular tanah yang baru dikenali dari Papua Nugini. Ular tersebut diberi nama ilmiah Lielaphis slashi. Spesies baru ini diumumkan oleh tim peneliti dari Amerika Serikat, Australia, Papua Nugini, dan Inggris [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-lielaphis-slashi-ular-tanah-bernama-gitaris-band-rock-legendaris/">Mengenal Lielaphis slashi, Ular Tanah Bernama Gitaris Band Rock Legendaris</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Nama Slash identik dengan gitar, rambut keriting, dan Guns N’ Roses. Namun, kini nama panggung musisi bernama asli Saul Hudson itu juga melekat pada seekor ular tanah yang baru dikenali dari Papua Nugini. Ular tersebut diberi nama ilmiah Lielaphis slashi. Spesies baru ini diumumkan oleh tim peneliti dari Amerika Serikat, Australia, Papua Nugini, dan Inggris melalui jurnal Zootaxa pada Agustus 2026. Identifikasinya dilakukan dengan menggabungkan data temuan lama dan analisis DNA modern. Pemberian nama itu berawal dari pengalaman Sara Ruane, salah satu peneliti dalam studi tersebut. Guns N’ Roses telah menjadi band favoritnya sejak kecil. Ia juga pernah melihat foto Slash sedang memegang ular piton dalam sebuah majalah reptil. Slash dipilih bukan hanya karena terkenal sebagai gitaris. Dia diketahui memiliki ketertarikan terhadap ular, museum, kebun binatang, dan sejarah alam. Selama bertahun-tahun, dia juga mempromosikan serta membela keberadaan ular melalui berbagai media. Secara fisik, L. slashi tidak memiliki warna atau pola mencolok. Punggungnya berwarna cokelat polos kemerahan, sedangkan bagian bawah tubuhnya putih hingga krem. Bentuk kepalanya sederhana dan panjang tubuhnya sekitar 60-70 sentimeter. Spesimen yang diteliti berasal dari Desa Utai di Provinsi Sanduan dan Tanjung Kalibobo di Provinsi Madang, Papua Nugini. Sebagian spesimen dikumpulkan oleh herpetolog Chris Austin saat melakukan penelitian lapangan pada 2006. Ular tanah ini aktif pada malam hari. Ia biasanya ditemukan sesaat setelah matahari terbenam di pangkal pohon besar ketika sedang mencari mangsa. Warna tubuh yang menyatu dengan tanah dan kemampuannya bergerak cepat membuatnya sulit diamati di alam. Pengetahuan mengenai perilaku spesies ini masih terbatas. Namun, ular dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-lielaphis-slashi-ular-tanah-bernama-gitaris-band-rock-legendaris/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/mengenal-lielaphis-slashi-ular-tanah-bernama-gitaris-band-rock-legendaris/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Selat Drake, Perairan Paling Ganas di Dunia dengan Rekam Jejak Iklim 140.000 Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/02/selat-drake-perairan-paling-ganas-di-dunia-dengan-rekam-jejak-iklim-140-000-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/02/selat-drake-perairan-paling-ganas-di-dunia-dengan-rekam-jejak-iklim-140-000-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>02 Sep 2026 13:18:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/02015904/bering-sea-patrol-3e03af-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132843</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selat Drake, perairan sepanjang sekitar 800 kilometer yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, dikenal luas sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia, dengan ombak besar yang oleh pelaut disebut Drake Shake. Reputasi ini terbentuk selama berabad-abad, sejak kapal-kapal layar pertama mencoba melintasi ujung selatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/selat-drake-perairan-paling-ganas-di-dunia-dengan-rekam-jejak-iklim-140-000-tahun/">Selat Drake, Perairan Paling Ganas di Dunia dengan Rekam Jejak Iklim 140.000 Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selat Drake, perairan sepanjang sekitar 800 kilometer yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, dikenal luas sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia, dengan ombak besar yang oleh pelaut disebut Drake Shake. Reputasi ini terbentuk selama berabad-abad, sejak kapal-kapal layar pertama mencoba melintasi ujung selatan Amerika untuk berpindah antara Samudra Pasifik dan Atlantik, jauh sebelum Terusan Panama dibangun sebagai jalur alternatif. Posisinya yang berada di titik pertemuan dua samudra sekaligus berbatasan langsung dengan perairan Antartika membuat selat ini tidak pernah benar-benar lepas dari perhatian ahli kelautan maupun pelaut komersial. Ombak besar menghantam geladak kapal saat melintasi Selat Drake, dampak dari infinite fetch yang membuat angin dan arus menumpuk energi tanpa halangan daratan di zona Furious Fifties dan Screaming Sixties. Turbulensi semacam ini justru menjadi bagian dari mekanisme yang membantu Samudra Selatan menyerap karbon dan panas dari atmosfer. (Foto: W. Bulach/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0) Namun di balik reputasi itu, selat ini juga menjadi tempat mengalirnya Arus Lingkar Antartika, satu-satunya arus laut yang mengelilingi bumi tanpa terhalang daratan benua. Dasar laut di selat ini bahkan menyimpan rekaman sedimen berusia 140.000 tahun yang membantu ilmuwan merekonstruksi bagaimana arus ini berubah dari masa ke masa, dan bagaimana perubahan itu berkaitan dengan penyerapan karbon oleh Samudra Selatan. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change pada November 2025 baru saja mengungkap bagaimana arus ini tetap bertahan stabil di tengah perubahan pola angin global, temuan yang memperkuat posisi Selat Drake sebagai salah satu penjaga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/selat-drake-perairan-paling-ganas-di-dunia-dengan-rekam-jejak-iklim-140-000-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/02/selat-drake-perairan-paling-ganas-di-dunia-dengan-rekam-jejak-iklim-140-000-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Putusan PTUN Serang Kasus Gugatan Warga Rancapinang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/02/menyoal-putusan-ptun-serang-kasus-gugatan-warga-rancapinang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/02/menyoal-putusan-ptun-serang-kasus-gugatan-warga-rancapinang/#respond</comments>
					<pubDate>02 Sep 2026 11:15:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/02110631/Rancapinang_Foto-10-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132826</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>  &#160; Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang menyatakan tak menerima atau niet ontvankeljike verklaard (NO) gugatan enam warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, terkait penerbitan sertifikat hak pakai (SHP) Nomor 1/2012 atas nama Kementerian Pertahanan. Putusan perkara Nomor 10/G/2026/PTUN.SRG itu tercatat dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PTUN Serang pada Kamis, (6/8/26). [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/menyoal-putusan-ptun-serang-kasus-gugatan-warga-rancapinang/">Menyoal Putusan PTUN Serang Kasus Gugatan Warga Rancapinang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[  &nbsp; Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang menyatakan tak menerima atau niet ontvankeljike verklaard (NO) gugatan enam warga Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten, terkait penerbitan sertifikat hak pakai (SHP) Nomor 1/2012 atas nama Kementerian Pertahanan. Putusan perkara Nomor 10/G/2026/PTUN.SRG itu tercatat dalam Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) PTUN Serang pada Kamis, (6/8/26). Dalam amar putusannya, majelis hakim menyatakan,  gugatan para penggugat tidak dapat diterima dan menghukum mereka membayar biaya perkara sebesar Rp7.599.000. Abdul Rohim Marbun, Pengacara Publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sekaligus kuasa hukum warga Rancapinang, menilai, Majelis Hakim PTUN Serang gagal dalam melihat substansi perkara. Kasus ini, katanya, merupakan sengketa tata usaha negara karena tindakan badan atau pejabat pemerintah dalam hal ini Kepala Kantor Pertanahan Pandeglang yang menerbitkan sertifikat hak pakai dengan tidak ada bukti perolehan yang jelas dan terang selama proses persidangan. Menurut dia, tak ada bukti yang menunjukkan ada jual-beli antara masyarakat dengan PT Mandirinusa Grahaperkasa (MGP),  sebagai bentuk perusahaan itu melakukan ruislag dengan TNI-AD. “Putusan ini mencerminkan kegagalan lembaga peradilan yang memiliki kewenangan untuk memeriksa dan menyelesaikan sengketa administrasi atas tindakan badan atau pejabat pemerintah,” kata Rohim kepada Mongabay, Senin, (10/8/26). Sengketa itu berkaitan dengan sekitar 364 hektar tanah di Desa Rancapinang yang masuk klaim SHP pemerintah. Enam warga yang menjadi penggugat  yaitu, Tajudin, Masdoni, Rohani, Hamjah, Marki, dan Mista. Para penggugat menyatakan, mereka dan keluarga sudah menguasai dan mengelola tanah itu secara turun-temurun untuk pertanian dan perkebunan. Dalam persidangan, warga antara lain mempersoalkan tak ada bukti pelepasan hak atas tanah yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/menyoal-putusan-ptun-serang-kasus-gugatan-warga-rancapinang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/02/menyoal-putusan-ptun-serang-kasus-gugatan-warga-rancapinang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Inilah Stiphodon annieae, Ikan Unik yang Menghubungkan Sungai dan Laut Halmahera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/inilah-stiphodon-annieae-ikan-unik-yang-menghubungkan-sungai-dan-laut-halmahera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/inilah-stiphodon-annieae-ikan-unik-yang-menghubungkan-sungai-dan-laut-halmahera/#respond</comments>
					<pubDate>02 Sep 2026 10:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/08131237/Ikan-Gobi-jenis-baru-di-Halmahera-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132625</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[maluku utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[kelautan dan perikanan, Lahan Basah, maluku, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Stiphodon annieae merupakan ikan gobi air tawar yang memiliki siklus hidup unik. Ikan ini ditemukan pertama kali di Sungai Wosea, Desa Sawai, Weda Tengah, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 22 Januari 2010. Penemuan tersebut merupakan hasil riset bersama BRIN dan Muséum National d’Histoire Naturelle Paris, Prancis. Secara fisik, S. annieae memiliki 14 jari-jari sirip dada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/inilah-stiphodon-annieae-ikan-unik-yang-menghubungkan-sungai-dan-laut-halmahera/">Inilah Stiphodon annieae, Ikan Unik yang Menghubungkan Sungai dan Laut Halmahera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Stiphodon annieae merupakan ikan gobi air tawar yang memiliki siklus hidup unik. Ikan ini ditemukan pertama kali di Sungai Wosea, Desa Sawai, Weda Tengah, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pada 22 Januari 2010. Penemuan tersebut merupakan hasil riset bersama BRIN dan Muséum National d’Histoire Naturelle Paris, Prancis. Secara fisik, S. annieae memiliki 14 jari-jari sirip dada dan sembilan jari-jari sirip punggung. Kepala serta lehernya tidak memiliki sisik. Individu jantan dapat dikenali dari warna merah cerah dengan bintik dan pola biru di bagian punggung. Keunikan utama ikan ini terletak pada siklus hidupnya yang disebut amfidromus. Telur menetas di sungai, kemudian larvanya terbawa arus menuju laut. Setelah berkembang, ikan kembali ke perairan tawar dan hidup hingga dewasa untuk berkembang biak. Artinya, kelangsungan hidupnya bergantung pada hubungan yang tidak terputus antara sungai dan laut. Perairan Maluku Utara merupakan salah satu wilayah penting bagi persebaran ikan gobi. Sejumlah sungai di Halmahera Tengah, seperti Sungai Sagea, Ake Sawai, DAS Kobe, dan Muara Sungai Waibulen, menjadi habitat berbagai ikan endemik Halmahera, termasuk S. annieae. Namun, keberadaan ikan ini disebut mulai berkurang. Iwan Kader, Dosen Fakultas Perikanan Universitas Khairun Ternate, mengatakan bahwa S. annieae semakin sulit dijumpai. “Jenis ikan ini makin langka ditemukan,” ujarnya. Awalnya, S. annieae dianggap memiliki wilayah persebaran sangat sempit karena hanya diketahui berada di Halmahera. Namun, penelitian berikutnya menemukan ikan ini di Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, sekitar 500-600 kilometer di sebelah barat Halmahera. Tim peneliti mengumpulkan 23 spesimen dari tiga sungai pesisir yang tidak saling terhubung di Luwuk Banggai. Temuan tersebut menunjukkan bahwa S.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/inilah-stiphodon-annieae-ikan-unik-yang-menghubungkan-sungai-dan-laut-halmahera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/inilah-stiphodon-annieae-ikan-unik-yang-menghubungkan-sungai-dan-laut-halmahera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Emas Ilegal Marak, Maklumat Forkopimda Aceh Tidak Dianggap?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/02/tambang-emas-ilegal-marak-maklumat-forkopimda-aceh-tidak-dianggap/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/02/tambang-emas-ilegal-marak-maklumat-forkopimda-aceh-tidak-dianggap/#respond</comments>
					<pubDate>02 Sep 2026 04:00:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/08/22012015/Tambang3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132796</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Horor Merkuri di Tengah Kilauan Emas]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, pencemaran, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Maraknya aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI), mendapat perhatian serius Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh. Para pimpinan daerah itu mengultimatum, seluruh kegiatan pertambangan emas ilegal harus dihentikan paling lambat 17 Agustus 2026. Hal tersebut disampaikan melalui Maklumat Bersama Forkopimda Aceh yang dikeluarkan Rabu (22/7/26). Mereka juga meminta penggunaan bahan berbahaya merkuri dan sianida dihentikan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/tambang-emas-ilegal-marak-maklumat-forkopimda-aceh-tidak-dianggap/">Tambang Emas Ilegal Marak, Maklumat Forkopimda Aceh Tidak Dianggap?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Maraknya aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI), mendapat perhatian serius Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh. Para pimpinan daerah itu mengultimatum, seluruh kegiatan pertambangan emas ilegal harus dihentikan paling lambat 17 Agustus 2026. Hal tersebut disampaikan melalui Maklumat Bersama Forkopimda Aceh yang dikeluarkan Rabu (22/7/26). Mereka juga meminta penggunaan bahan berbahaya merkuri dan sianida dihentikan. Forkopimda Aceh terdiri Wali Nanggroe Aceh, Gubernur Aceh, Ketua DPRA, Pangdam Iskandar Muda, Kapolda Aceh, Kepala Kejaksaan Tinggi Aceh, Kabinda Aceh, Danlanud Sultan Iskandar Muda, Danlanal Sabang, Ketua Pengadilan Tinggi Banda Aceh, dan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh. Dalam maklumat disebutkan, praktik PETI menyebabkan penurunan kualitas lingkungan hidup serta mengancam keselamatan manusia dan makhluk hidup lain. Seluruh pelaku diminta segera menghentikan penambangan, termasuk pengadaan, penyimpanan, penggunaan, dan perdagangan merkuri maupun sianida tanpa izin. Forkopimda mengingatkan, pelaku PETI dapat dijerat sejumlah ketentuan hukum. Ada UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, serta UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Seluruh bupati dan wali kota di Aceh, diinstruksikan meningkatkan pengawasan dan mengambil tindakan terhadap aktivitas PETI. “Seluruh pelaku diwajibkan menghentikan operasional serta mengeluarkan alat berat dan peralatan tambang, paling lambat 17 Agustus 2026.” M. Nasir, Sekretaris Daerah Aceh, mengungkapkan bahwa pemerintah masih menemukan kegiatan penambangan emas ilegal di sejumlah daerah, yaitu di Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, dan Aceh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/02/tambang-emas-ilegal-marak-maklumat-forkopimda-aceh-tidak-dianggap/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/02/tambang-emas-ilegal-marak-maklumat-forkopimda-aceh-tidak-dianggap/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>