<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=l-darmawan-cilacap-jateng&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/l-darmawan-cilacap-jateng/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 20 Jul 2026 08:30:44 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.2</generator>
				<item>
					<title>Warisan Baden-Powell: Menjadikan Alam sebagai Ruang Belajar Sejak 1907 Melalui Pramuka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 08:30:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/02/22030249/baden-powell-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130845</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama ini Pramuka sering identik dengan kegiatan berkemah, tali-temali, atau api unggun. Padahal, sejak awal kelahirannya, gerakan kepanduan juga dirancang sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup. Pendiri Pramuka dunia, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, meyakini bahwa alam bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi ruang belajar terbaik untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap bumi. Gagasan itu masih menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/">Warisan Baden-Powell: Menjadikan Alam sebagai Ruang Belajar Sejak 1907 Melalui Pramuka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama ini Pramuka sering identik dengan kegiatan berkemah, tali-temali, atau api unggun. Padahal, sejak awal kelahirannya, gerakan kepanduan juga dirancang sebagai sarana pendidikan lingkungan hidup. Pendiri Pramuka dunia, Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, meyakini bahwa alam bukan sekadar tempat beraktivitas, tetapi ruang belajar terbaik untuk membentuk karakter, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap bumi. Gagasan itu masih menjadi salah satu fondasi gerakan Pramuka hingga kini. Awal mula gagasan tersebut lahir dalam perkemahan pertama di Pulau Brownsea, Inggris, pada 1907. Selama sembilan hari, Baden-Powell mengajak para peserta belajar membaca jejak, mengamati satwa, memberikan pertolongan pertama, hingga bertahan hidup di alam. Pengalaman itu kemudian ia tuangkan dalam buku Scouting for Boys yang menjadi salah satu buku paling berpengaruh dalam sejarah kepanduan dunia. Di dalamnya, Baden-Powell menekankan bahwa mengenal alam berarti belajar memahami kehidupan sekaligus menumbuhkan tanggung jawab untuk menjaganya. Menurutnya, manusia akan menyadari betapa mudahnya merusak alam, tetapi begitu sulit memulihkannya. Pemikiran tersebut membuat Baden-Powell kerap dipandang sebagai salah satu tokoh pendidikan lingkungan hidup. Alam dijadikan media pembelajaran yang mampu menumbuhkan rasa hormat terhadap kehidupan, melatih disiplin, kerja sama, hingga membangun kesadaran bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem. Bahkan, model pendidikan yang ia kembangkan kemudian diakui sebagai salah satu tonggak penting perkembangan pendidikan lingkungan di dunia. Komitmen itu terus berlanjut di tingkat global. Organisasi Pramuka Sedunia (WOSM) sejak lama menjadikan isu lingkungan sebagai salah satu prioritas gerakannya. Berbagai resolusi mendorong anggota Pramuka di seluruh dunia untuk terlibat dalam pelestarian alam, mulai dari aksi konservasi, dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), hingga program Earth Tribe yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/warisan-baden-powell-menjadikan-alam-sebagai-ruang-belajar-sejak-1907-melalui-pramuka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Wilayah Hilang Ancam Keberadaan Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 05:57:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/08/22073120/marena8-IMG_7059-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130829</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai tekanan tidak hanya mengancam eksistensi masyarakat adat,  juga pengetahuan yang terwarisi dari generasi ke genarasi. Sebab, perlindungan tidak hanya mencakup ruang hidup, juga tradisi, bahasa, hingga nilai-nilai yang hidup bersamanya. &#8220;Yang perlu dijaga bukan hanya wilayahnya, juga praktik baik di dalamnya, termasuk bahasa, istilah, dan nilai-nilai yang menyertainya. Karena di situlah sistem pengetahuan kami [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/">Ketika Wilayah Hilang Ancam Keberadaan Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai tekanan tidak hanya mengancam eksistensi masyarakat adat,  juga pengetahuan yang terwarisi dari generasi ke genarasi. Sebab, perlindungan tidak hanya mencakup ruang hidup, juga tradisi, bahasa, hingga nilai-nilai yang hidup bersamanya. &#8220;Yang perlu dijaga bukan hanya wilayahnya, juga praktik baik di dalamnya, termasuk bahasa, istilah, dan nilai-nilai yang menyertainya. Karena di situlah sistem pengetahuan kami hidup dan hubungan manusia dengan alam dibentuk,&#8221; kata Wiwin Indiarti, perempuan  Adat Osing Banyuwangi, dalam diskusi Peluncuran Data Nasional Indigenous Peoples and Local Communities Conserved Areas and Territories (ICCAs) 2026 di Jakarta, Jumat (5/6/26). Baginya, ancaman terbesar masyarakat adat saat ini bukan hanya kehilangan wilayah, juga terputusnya pengetahuan yang selama ini terwarisi dari generasi ke generasi. Ketika ruang hidup hilang, katanya, yang ikut lenyap bukan sekadar hutan, kebun, atau sumber penghidupan. Bahasa, istilah lokal, nilai-nilai budaya, hingga cara masyarakat memahami hubungan dengan alam pun perlahan dapat ikut hilang. &#8220;Padahal, di situlah sistem pengetahuan kami hidup,&#8221; katanya. Di tengah berbagai tantangan itu, regenerasi menjadi persoalan yang makin menjadi tantangan bagi masyarakat adat.  Tak  mudah, katanya,  mengajak generasi muda untuk terlibat dalam kerja-kerja kebudayaan maupun advokasi masyarakat adat. &#8220;Jangankan mengajak mereka masuk ke urusan advokasi, mengajak anak-anak muda bergerak di luar hal-hal yang mereka anggap menyenangkan saja sudah sangat sulit,&#8221; katanya. Padahal, sejumlah anak muda Osing yang bergabung sejak duduk di bangku sekolah menengah atas telah menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang baik tetapi  jumlahnya masih terbatas. Untuk itu, perlu pendekatan baru agar generasi muda kembali mengenali identitas budaya mereka. &#8220;Kalau identitas ke-Osingan itu hilang, maka yang hilang bukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/ketika-wilayah-hilang-ancam-keberadaan-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Spesies Katak Baru Penghuni Serasah Merapi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/spesies-katak-baru-penghuni-serasah-merapi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/spesies-katak-baru-penghuni-serasah-merapi/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 04:42:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/20043651/Candrageni1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130849</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuh katak ini mungil, panjangnya hanya sekitar dua kuku jempol orang dewasa. Dibandingkan tiga kerabatnya, ia paling mungil. Kulitnya juga lebih halus, dengan warna yang seragam. Panggilan panjangnya hanya sekejap, namun bernada tinggi. Sementara kerabatnya lebih “cerewet”. Inilah katak spesies baru, penghuni serasah Gunung Merapi. Sekelompok peneliti menemukannya tanpa sengaja, saat melakukan riset untuk meninjau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/spesies-katak-baru-penghuni-serasah-merapi/">Spesies Katak Baru Penghuni Serasah Merapi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuh katak ini mungil, panjangnya hanya sekitar dua kuku jempol orang dewasa. Dibandingkan tiga kerabatnya, ia paling mungil. Kulitnya juga lebih halus, dengan warna yang seragam. Panggilan panjangnya hanya sekejap, namun bernada tinggi. Sementara kerabatnya lebih “cerewet”. Inilah katak spesies baru, penghuni serasah Gunung Merapi. Sekelompok peneliti menemukannya tanpa sengaja, saat melakukan riset untuk meninjau ulang taksonomi katak genus Philautus di Jawa. Kali ini peneliti memakai pendekatan integratif. Mereka berasal dari BRIN, beberapa universitas, dan Herpetological Society of Indonesia. “Melalui pendekatan integratif, mulai dari morfologi, bioakustik, hingga analisis molekuler, kami dapat memahami biodiversitas secara lebih utuh sekaligus memperkuat dasar ilmiah untuk upaya konservasi spesies di masa depan,” ungkap Alamsyah Elang Nusa Herlambang, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, BRIN, dalam akun IG BRIN, Jumat (3/7/26). Saat ini ada beberapa spesies Philautus di Jawa yang status taksonominya masih membingungkan. Pakar merasa perlu memastikan, dengan cara memeriksa ulang lewat data morfologi, suara, dan genetik. Genus Philautus terdiri 52 spesies, 3 di antaranya endemik Jawa. Yaitu Philautus jacobsoni, ditemukan di Gunung Ungaran (Jawa Tengah), Philautus pallidipes di Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat), dan Philautus aurifasciatus di Gunung Tangkuban. Dengan ditemukannya spesies baru yang diberi nama Philautus candrageni di lereng Gunung Merapi, maka kini di Jawa ada 4 spesies untuk genus ini. Genus Philautus atau katak semak tersebar luas di Asia Selatan dan sangat beragam. Sayangnya, P. pallidipes dan P. jacobsoni sudah dianggap spesies yang hilang, karena hanya dikenal lewat spesimennya. Bahkan mungkin, P. jacobsoni telah punah di alam liar karena tidak ada pengamatan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/spesies-katak-baru-penghuni-serasah-merapi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/spesies-katak-baru-penghuni-serasah-merapi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Setelah 200 Tahun, Spesies Siput Laut Baru Sebesar Biji Wijen Ini Baru Ditemukan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/20/setelah-200-tahun-spesies-siput-laut-baru-sebesar-biji-wijen-ini-baru-ditemukan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/20/setelah-200-tahun-spesies-siput-laut-baru-sebesar-biji-wijen-ini-baru-ditemukan/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 01:23:43 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19233450/thecacera-sesama-l-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130834</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lautan masih menyimpan jauh lebih banyak kehidupan daripada yang berhasil dipetakan manusia. Organisme berukuran sangat kecil, terutama yang hidup di celah terumbu karang atau menempel pada permukaan berlumut, kerap luput dari pengamatan bahkan oleh penyelam berpengalaman sekalipun. Sebuah temuan terbaru dari perairan Taiwan menjadi contoh nyata betapa banyak spesies laut yang sebenarnya sudah lama ada, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/setelah-200-tahun-spesies-siput-laut-baru-sebesar-biji-wijen-ini-baru-ditemukan/">Setelah 200 Tahun, Spesies Siput Laut Baru Sebesar Biji Wijen Ini Baru Ditemukan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lautan masih menyimpan jauh lebih banyak kehidupan daripada yang berhasil dipetakan manusia. Organisme berukuran sangat kecil, terutama yang hidup di celah terumbu karang atau menempel pada permukaan berlumut, kerap luput dari pengamatan bahkan oleh penyelam berpengalaman sekalipun. Sebuah temuan terbaru dari perairan Taiwan menjadi contoh nyata betapa banyak spesies laut yang sebenarnya sudah lama ada, namun baru teridentifikasi karena ukurannya yang ekstrem kecil. Seekor siput laut tanpa cangkang berukuran kurang dari 3 milimeter, lebih kecil dari sebutir beras, resmi diidentifikasi sebagai spesies baru setelah ditemukan di perairan utara Taiwan. Spesies bernama Thecacera sesama ini menjadi anggota ketujuh dari genus Thecacera, yang selama hampir 200 tahun hanya diketahui memiliki enam spesies dengan ukuran jauh lebih besar, berkisar antara 1,3 hingga 2,5 sentimeter. Ilustrasi detail morfologi Thecacera sesama sp. nov., digambar tangan oleh C-L Lee. Skala: 1 mm. Sumber: Chan et al. (2026), ZooKeys 1279: 269-284. Penemuan ini bermula dari kejadian tak terduga pada 2019. Ho-Yeung Chan, penulis utama studi yang saat itu masih menempuh pendidikan sarjana, tanpa sengaja memotret hewan kecil bertotol hitam dan kuning saat menyelam rekreasi di perairan Keelung, Taiwan utara. Chan awalnya tidak menyadari bahwa yang ia temukan adalah spesies yang belum pernah tercatat dalam ilmu pengetahuan. Baru setelah ia menghubungi seorang ahli siput laut bernama Hsini Lin melalui Facebook, kemungkinan adanya spesies baru mulai mengemuka. Studi yang mengonfirmasi temuan ini kemudian dipublikasikan di jurnal ZooKeys, hasil kerja sama peneliti dari National Taiwan Ocean University, National Museum of Natural Science, dan National Taipei University of Education. Nama yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/20/setelah-200-tahun-spesies-siput-laut-baru-sebesar-biji-wijen-ini-baru-ditemukan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/20/setelah-200-tahun-spesies-siput-laut-baru-sebesar-biji-wijen-ini-baru-ditemukan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Beban Ganda Saat Krisis Air Bersih di Aceh Besar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/beban-ganda-saat-krisis-air-bersih-di-aceh-besar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/beban-ganda-saat-krisis-air-bersih-di-aceh-besar/#respond</comments>
					<pubDate>20 Jul 2026 00:01:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/25005731/3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130718</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, infrastruktur, komunitas lokal, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejak 2013, Rahmayani rutin datang ke Wisata Kolam Pemandian Mata Ie untuk mencuci pakaian. Air di kolam ini bersumber dari Karst Mata Ie, yang selama ini jadi andalan air bersih bagi 14.234 pelanggan PDAM Tirta Mountala di Darul Imarah, Darul Kamal, Peukan Bada, hingga desa-desa di Lhoknga. &#8220;Lumayan, hemat air dan biaya di rumah,&#8221; kata [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/beban-ganda-saat-krisis-air-bersih-di-aceh-besar/">Beban Ganda Saat Krisis Air Bersih di Aceh Besar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejak 2013, Rahmayani rutin datang ke Wisata Kolam Pemandian Mata Ie untuk mencuci pakaian. Air di kolam ini bersumber dari Karst Mata Ie, yang selama ini jadi andalan air bersih bagi 14.234 pelanggan PDAM Tirta Mountala di Darul Imarah, Darul Kamal, Peukan Bada, hingga desa-desa di Lhoknga. &#8220;Lumayan, hemat air dan biaya di rumah,&#8221; kata Rahma, warga Desa Geundring, Aceh Besar.  Tapi kini, cerita itu perlahan berubah. Pada 2017, Mata Ie kering total untuk pertama kalinya, dan sejak itu kekeringan datang hampir tiap tahun. &#8220;Kalau kemarau seminggu saja, air langsung surut drastis,&#8221; katanya. Ancaman ini bukan tanpa peringatan. Abdillah Imron Nasution, Ketua Karst Aceh sekaligus ahli speleologi Universitas Syiah Kuala, sudah memprediksi sejak 2008 bahwa Mata Ie akan kering dalam sepuluh tahun. &#8220;Pasca-2017, baru kering, itu sudah kita ingatkan juga pada 2008,&#8221; katanya. Warga lain, Ani dari Lambheu, bahkan terpaksa membeli air dari mobil tangki saat kekeringan 2024 berulang, ketika air dari keran tak kunjung keluar selama dua hari. &#8220;Untuk pertama kalinya, saya membeli air dari mobil tangki. Saat itu, saya ingat beli 1 mobil tangki dengan harga Rp300.000 untuk mengisi tiga bak di rumah,&#8221; katanya. Krisis serupa lebih dulu dirasakan warga sekitar Karst Lhoknga, sekitar 17-18 kilometer dari Mata Ie. Yeni Hartini, Ketua SP Aceh sekaligus warga Naga Umbang, mengatakan sumur warga kini kering hanya dalam sebulan tanpa hujan, padahal dulu tak pernah surut. Warga bahkan harus menggali lebih dalam, dari semula delapan cincin sumur, kini butuh 10 sampai 16 cincin. Yeni menduga penambangan batu gamping oleh PT Solusi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/beban-ganda-saat-krisis-air-bersih-di-aceh-besar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/beban-ganda-saat-krisis-air-bersih-di-aceh-besar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jangan Salah Paham, Kukang Mengangkat Tangan Bukan Ingin Digelitik, tapi Melindungi Tubuhnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-salah-paham-kukang-mengangkat-tangan-bukan-ingin-digelitik-tapi-melindungi-tubuhnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-salah-paham-kukang-mengangkat-tangan-bukan-ingin-digelitik-tapi-melindungi-tubuhnya/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 22:34:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2015/07/22102753/0617.Loris-teeth-clipping.600.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130832</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekilas, kukang tampak seperti primata yang tenang dan tidak berbahaya. Tubuhnya kecil, gerakannya lambat, serta matanya yang besar membuat banyak orang menganggap satwa ini jinak. Namun, di balik penampilannya yang menggemaskan, kukang memiliki salah satu sistem pertahanan paling unik di antara mamalia. Saat merasa terancam, kukang akan mengangkat kedua tangannya ke atas. Banyak orang mengira [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-salah-paham-kukang-mengangkat-tangan-bukan-ingin-digelitik-tapi-melindungi-tubuhnya/">Jangan Salah Paham, Kukang Mengangkat Tangan Bukan Ingin Digelitik, tapi Melindungi Tubuhnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekilas, kukang tampak seperti primata yang tenang dan tidak berbahaya. Tubuhnya kecil, gerakannya lambat, serta matanya yang besar membuat banyak orang menganggap satwa ini jinak. Namun, di balik penampilannya yang menggemaskan, kukang memiliki salah satu sistem pertahanan paling unik di antara mamalia. Saat merasa terancam, kukang akan mengangkat kedua tangannya ke atas. Banyak orang mengira gerakan ini menandakan kukang sedang menikmati sentuhan atau bahkan ingin digendong. Padahal, posisi tersebut merupakan sikap defensif. Dengan mengangkat lengan, kukang melindungi bagian tubuh sekaligus memudahkan dirinya menjangkau kelenjar racun yang berada di ketiak. Ya, kukang adalah satu dari sedikit mamalia berbisa di dunia. Racun tersebut berasal dari cairan yang dikeluarkan kelenjar di bagian siku atau ketiaknya. Ketika terancam, kukang akan menjilat cairan itu hingga bercampur dengan air liurnya, lalu menggigit musuh. Gigitan ini dapat menimbulkan reaksi serius pada predator maupun manusia. Kemampuan tersebut menjadi senjata penting bagi satwa yang tidak mengandalkan kecepatan untuk melarikan diri. Sesuai namanya dalam bahasa Inggris, slow loris, kukang bergerak sangat lambat saat berpindah dari satu dahan ke dahan lain. Karena sulit kabur dari pemangsa, evolusi membekalinya dengan pertahanan kimia yang jarang dimiliki mamalia. Kukang juga merupakan satwa nokturnal. Hampir seluruh aktivitasnya dilakukan pada malam hari, mulai dari mencari makan hingga berpindah pohon. Mata besarnya bukan sekadar ciri khas yang menggemaskan, tetapi adaptasi agar mampu melihat lebih baik dalam kondisi minim cahaya. Menu makan kukang pun cukup beragam. Di alam liar, mereka mengkonsumsi serangga, jangkrik, telur burung, buah-buahan, serta getah pohon. Getah menjadi salah satu sumber energi penting yang diperoleh&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-salah-paham-kukang-mengangkat-tangan-bukan-ingin-digelitik-tapi-melindungi-tubuhnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/jangan-salah-paham-kukang-mengangkat-tangan-bukan-ingin-digelitik-tapi-melindungi-tubuhnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Iklim Bikin Produksi Kopi Arabika Turun 80 Persen</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 09:25:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/10/21235604/Petik-kopi-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130781</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, hutan indonesia, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi banyak orang, hari seolah belum benar-benar dimulai sebelum menyeruput secangkir kopi. Di balik aroma yang menenangkan itu, ada jutaan petani yang bekerja sejak subuh, merawat tanaman yang membutuhkan keseimbangan suhu, curah hujan, dan kelembapan. Namun, keseimbangan tersebut kini mulai terganggu. Krisis iklim perlahan mengubah masa depan kopi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/">Krisis Iklim Bikin Produksi Kopi Arabika Turun 80 Persen</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi banyak orang, hari seolah belum benar-benar dimulai sebelum menyeruput secangkir kopi. Di balik aroma yang menenangkan itu, ada jutaan petani yang bekerja sejak subuh, merawat tanaman yang membutuhkan keseimbangan suhu, curah hujan, dan kelembapan. Namun, keseimbangan tersebut kini mulai terganggu. Krisis iklim perlahan mengubah masa depan kopi, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara penghasil kopi dunia. Berbagai penelitian memperkirakan bahwa dalam 25 tahun mendatang sekitar 80% produksi kopi arabika akan terdampak perubahan iklim. Produktivitas kopi arabika maupun robusta diproyeksikan turun hingga 50% akibat semakin terbatasnya lahan yang sesuai untuk budidaya. Sebagian spesies kopi bahkan dikhawatirkan tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi begitu cepat. Dampaknya sudah mulai dirasakan di lapangan. Di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, produksi kopi menunjukkan tren penurunan hingga 8,8% dalam kurun 2021-2023. Ironisnya, penurunan ini terjadi ketika luas perkebunan justru meningkat sekitar 6,7%. Artinya, memperluas lahan tidak otomatis menghasilkan panen yang lebih banyak jika kondisi iklim tidak lagi mendukung. Pada periode yang sama, curah hujan di wilayah tersebut juga mengalami penurunan drastis. Kopi memang dikenal sebagai tanaman yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Perubahan kecil pada suhu, kelembapan, atau ketersediaan air tanah dapat mempengaruhi proses pembungaan hingga pembentukan buah. Cuaca ekstrem juga menciptakan masalah baru berupa meningkatnya serangan hama dan penyakit tanaman. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kondisi tersebut membuat semakin banyak wilayah tidak lagi cocok untuk menghasilkan kopi secara optimal. Di Jambi, tantangan yang dihadapi petani bahkan lebih rumit. Selain cuaca yang tidak menentu, petani kopi liberika juga menghadapi intrusi air laut&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/krisis-iklim-bikin-produksi-kopi-arabika-turun-80-persen/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penegakan Hukum Kasus Karhutla dalam Konsesi Perusahaan Lemah di Riau?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 06:13:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19035404/Kanal-dan-gambut-produktif-PT-Meskom-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130790</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Plang segel Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bengkalis masih terpancang di lahan gambut bekas terbakar di Dusun Air Raja, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, 12 Mei lalu. Luas kebakaran tertulis sekitar dua hektar. Bekas kayu terbakar begitu jelas. Akar dan tunggul pohon menghitam. Gelondongan kayu hangus berserakan di lahan gambut yang terlahap api. Spanduk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/">Penegakan Hukum Kasus Karhutla dalam Konsesi Perusahaan Lemah di Riau?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Plang segel Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Bengkalis masih terpancang di lahan gambut bekas terbakar di Dusun Air Raja, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bandar Laksamana, 12 Mei lalu. Luas kebakaran tertulis sekitar dua hektar. Bekas kayu terbakar begitu jelas. Akar dan tunggul pohon menghitam. Gelondongan kayu hangus berserakan di lahan gambut yang terlahap api. Spanduk polisi tak menyertakan nama pemilik lahan. Meski begitu, beberapa petunjuk di sekitar lokasi, seperti plang dan papan informasi, menyebut PT Sekato Pratama Makmur (SPM). Berdasarkan tumpang susun peta yang Mongabay lakukan, fakta itu juga merujuk pada pemegang perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH), unit usaha APP Sinar Mas. Kebakaran di SPM berlangsung antara Februari hingga Maret 2026. Tidak hanya pada titik plang polisi,  sekitar satu kilometer, masih satu deretan dari lokasi pertama, juga terbakar. Kondisinya sama persis. Akar, tunggul kayu dan gelondongan batang pohon menghitam, bekas lahapan api bertebaran di gambut terbakar. Kebakaran lebih luas terjadi pada titik ketiga. Analisis citra satelit Sentinel-2 mendapati luasan kebakaran di lokasi itu 99,7 hektar. Di sini, tiap sisi batas luar area terbakar sudah ada kanal. Letaknya antara hutan alam sekunder dan kebun akasia. Luas perkiraan karhutla di SPM mencapai 115,3 hektar tetapi tak ada plang polisi pada dua lokasi yang juga terbakar dalam waktu bersamaan itu. Di lokasi ketiga, hanya terpancang plang besi baja ringan untuk dirikan spanduk dengan pemberitahuan bahwa areal rawan terbakar, dilarang menyalakan api, plus ancaman pidana. Pada spanduk merah itu, tertera emblem PT SPM dan MPA. Ia mengapit logo Polda Riau dan TNI Angkatan Laut.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/19/penegakan-hukum-kasus-karhutla-dalam-konsesi-perusahaan-lemah-di-riau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mario Andramartik dan Jejak Peradaban Megalitikum Pasemah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/19/mario-andramartik-dan-jejak-peradaban-megalitikum-pasemah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/19/mario-andramartik-dan-jejak-peradaban-megalitikum-pasemah/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 03:11:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Profil]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19025927/Mario-Andramartik.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indone-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130778</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, infrastruktur, komunitas lokal, Lahan Basah, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wilayah Pasemah, Sumatera Selatan, memiliki jejak peradaban megalitikum, yang tersebar di lanskap seluas 8.000 hektar. Membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam hingga Kabupaten Empat Lawang. Peradaban megalitikum ini berkembang sejak periode 2.500 hingga 1.500 tahun Sebelum Masehi. Mario Andramartik, lelaki kelahiran Lahat pada 31 Juli 1970, terpesona dengan peninggalan mahakarya tersebut. Lelaki yang memiliki nama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/mario-andramartik-dan-jejak-peradaban-megalitikum-pasemah/">Mario Andramartik dan Jejak Peradaban Megalitikum Pasemah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wilayah Pasemah, Sumatera Selatan, memiliki jejak peradaban megalitikum, yang tersebar di lanskap seluas 8.000 hektar. Membentang dari Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam hingga Kabupaten Empat Lawang. Peradaban megalitikum ini berkembang sejak periode 2.500 hingga 1.500 tahun Sebelum Masehi. Mario Andramartik, lelaki kelahiran Lahat pada 31 Juli 1970, terpesona dengan peninggalan mahakarya tersebut. Lelaki yang memiliki nama kelahiran Maryoto, yang lama bekerja di kapal pesiar Holland America Line, sejak tahun 2009 memutuskan untuk mempelajari dan menggali peradaban megalitikum Pasemah. Dia mengunjungi berbagai situs dan belajar banyak dengan para arkeolog yang melakukan penelitian megalitikum Pasemah. Di antaranya (alm) Nurhadi Rangkuti, Budi Wiyana, Siswanto, Wilston Douglas Mambo, Ramli, Iskandar, (alm) Kristantina Indriastuti, Sigit Eko Prasetyo, Muhammad Ruly Fauzi, Mubarak Andi Pampang, Wahyu Rizky Andhifani, dan lainnya. Berbagai buku dia baca, seperti “Megalithic Remains in South Sumatra” karya van der Hoop yang dicetak tahun 1932, “Arca-Arca Megalitik Pasemah Sumatra Selatan” karya Rr. Triwurjani, “Megalitik Pasemah Warisan Budaya Penanda Zaman” yang ditulis Rr. Triwurjani, Nurhadi Rangkuti, Nasruddin, Annissa M Gultom, Rumaejani Setyorini dan Riri Fahlen, “The History of Sumatra” karya Willian Marsden, serta Jurnal Arkeologi Siddhayatra dan hasil penelitian arkeologi Balai Arkeologi Sumatera Selatan – Balai Arkeologi Sumatera Selatan yang diintegrasikan ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Selain mengunjungi setiap situs megalitik Pasemah, saya juga mengunjungi situs megalitik di Lampung (Batu Berak, Batu Bedil, Pugung Raharjo), Gunung Padang (Cianjur), Lebak  (Banten), Cipari  (Kuningan, Jabar), Batu Kenong (Bondowoso) hingga Easter Island Chile,” terangnya, saat mendampingi tim Mongabay Indonesia mengunjungi beberapa situs megalitikum Pasemah di Kabupaten&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/mario-andramartik-dan-jejak-peradaban-megalitikum-pasemah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/19/mario-andramartik-dan-jejak-peradaban-megalitikum-pasemah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Hognose Timur: Berpura-pura Mati dan Berbau Busuk untuk Bertahan Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/19/ular-hognose-timur-berpura-pura-mati-dan-berbau-busuk-untuk-bertahan-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/19/ular-hognose-timur-berpura-pura-mati-dan-berbau-busuk-untuk-bertahan-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 01:50:02 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/19014601/45138249515_30e023e9ff_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130774</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di alam liar, hewan mengembangkan berbagai cara untuk menghindari predator, mulai dari kecepatan lari, kamuflase, hingga gigitan berbisa. Namun sejumlah spesies memilih pendekatan yang berbeda, yaitu berpura-pura sudah mati. Perilaku ini disebut thanatosis, dan salah satu contoh paling banyak dipelajari datang dari ular hognose timur (Heterodon platirhinos) di Amerika Utara. Ular hognose timur termasuk dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/ular-hognose-timur-berpura-pura-mati-dan-berbau-busuk-untuk-bertahan-hidup/">Ular Hognose Timur: Berpura-pura Mati dan Berbau Busuk untuk Bertahan Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di alam liar, hewan mengembangkan berbagai cara untuk menghindari predator, mulai dari kecepatan lari, kamuflase, hingga gigitan berbisa. Namun sejumlah spesies memilih pendekatan yang berbeda, yaitu berpura-pura sudah mati. Perilaku ini disebut thanatosis, dan salah satu contoh paling banyak dipelajari datang dari ular hognose timur (Heterodon platirhinos) di Amerika Utara. Ular hognose timur termasuk dalam genus Heterodon, yang juga mencakup ular hognose barat (Heterodon nasicus) dan ular hognose selatan (Heterodon simus). Ketiganya memiliki perilaku bertahan yang serupa, tetapi ular hognose timur menjadi spesies yang paling sering dijadikan subjek penelitian karena responsnya yang konsisten dan mudah diamati di laboratorium maupun lapangan. Perilaku berpura-pura mati pada spesies ini pertama kali dideskripsikan secara ilmiah pada tahun 1955, dan sejak itu terus menjadi bahan kajian dalam bidang perilaku hewan. Ular hognose timur (Heterodon platirhinos) dengan pola sisik khasnya, berjaga dalam posisi melingkar di antara rerumputan. Foto: Doug McGrady/Flickr (Attribution License) Ular hognose timur hidup di area berpasir, padang rumput, dan hutan terbuka di Amerika Utara bagian timur dan tengah, mulai dari wilayah selatan Kanada hingga Florida dan Texas. Ukurannya tergolong sedang, dengan panjang dewasa sekitar 50-115 sentimeter, dan dikenal karena moncongnya yang sedikit terangkat, digunakan untuk menggali tanah berpasir saat mencari mangsa berupa katak dan kodok, termasuk spesies yang beracun bagi banyak predator lain. Karena pola makannya yang spesifik ini, ular hognose timur berperan penting dalam mengendalikan populasi amfibi di habitatnya. Tahapan Sebelum &#8220;Mati&#8221; Perilaku berpura-pura mati pada ular hognose timur tidak muncul begitu saja. Sebelum sampai ke tahap ini, ular biasanya mencoba menggertak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/19/ular-hognose-timur-berpura-pura-mati-dan-berbau-busuk-untuk-bertahan-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/19/ular-hognose-timur-berpura-pura-mati-dan-berbau-busuk-untuk-bertahan-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>&#8220;Mall&#8221; Sampah di Teluk Youtefa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mall-sampah-di-teluk-youtefa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mall-sampah-di-teluk-youtefa/#respond</comments>
					<pubDate>19 Jul 2026 00:01:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/17034035/WhatsApp-Image-2026-06-17-at-5.49.32-AM-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130717</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Lahan Basah, Masyarakat Adat, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mama Persila Sanyi masih ingat betul rasanya air jernih di hutan mangrove Teluk Youtefa. Dulu, perempuan 70 tahun asal Kampung Enggros, Jayapura, itu biasa turun mencari kerang, kepiting, dan udang di sana. Kini, setiap kali pulang mencari bia, dia justru harus menahan gatal. &#8220;Kadang-kadang mama pergi cari bia, pulang badan gatal-gatal dan kita harus garuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mall-sampah-di-teluk-youtefa/">&#8220;Mall&#8221; Sampah di Teluk Youtefa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mama Persila Sanyi masih ingat betul rasanya air jernih di hutan mangrove Teluk Youtefa. Dulu, perempuan 70 tahun asal Kampung Enggros, Jayapura, itu biasa turun mencari kerang, kepiting, dan udang di sana. Kini, setiap kali pulang mencari bia, dia justru harus menahan gatal. &#8220;Kadang-kadang mama pergi cari bia, pulang badan gatal-gatal dan kita harus garuk sekalipun sudah mandi di rumah,&#8221; katanya.  Pencemaran kian signifikan akibat masifnya pembangunan terjadi. Tumpukan sampah banyak terlihat di akar-akar mangrove. Mulai dari plastik, styrofoam, kasur bekas, bahkan limbah medis seperti jarum suntik dan infus. Berta Sanyi, perempuan adat lain dari Enggros, menyebut hutan mangrove mereka kini seperti &#8220;mall&#8221;, saking penuhnya dengan segala jenis sampah yang tersangkut di akar-akar pohon. Bukan cuma sampah, alih fungsi lahan untuk kafe, restoran, kios, dan penginapan di sepanjang Pantai Hamadi hingga Holtekamp turut menggerus kawasan yang sejatinya berstatus Taman Wisata Alam sejak 1996 ini. Padahal jauh sebelum itu, sejak 1978, kawasan ini sudah lebih dulu ditetapkan sebagai kawasan lindung. Riset Universitas Cenderawasih Jayapura mencatat deforestasi mangrove di Teluk Youtefa mencapai 159,33 hektar atau sekitar 40,59 persen sepanjang 1994-2017, dari semula 392,45 hektar menyusut jadi hanya 233,12 hektar.  Data BBKSDA Papua bahkan menunjukkan degradasi 7,81 hektar hanya dalam dua tahun terakhir, dari 124,3 hektar pada 2022 jadi 116,49 hektar pada 2024. Sebenarnya, penegakan hukum sempat dilakukan, yaitu pada 2023, tim gabungan BBKSDA Papua, Polda Papua, dan Pemkot Jayapura menindak pihak yang menimbun mangrove di tepi jalan Hamadi. &#8220;Kasus penimbunan mangrove itu telah ditangani Gakkum dan berproses di pengadilan,&#8221; kata Chandra Irwanto&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mall-sampah-di-teluk-youtefa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/mall-sampah-di-teluk-youtefa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Memasak dengan Teknik Tanah Liat, Tidak Kalah Pakai Air Fryer Kekinian. Masyarakat Sungai Musi Telah Membuktikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/memasak-dengan-teknik-tanah-liat-tidak-kalah-pakai-air-fryer-kekinian-masyarakat-sungai-musi-telah-membuktikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/memasak-dengan-teknik-tanah-liat-tidak-kalah-pakai-air-fryer-kekinian-masyarakat-sungai-musi-telah-membuktikan/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 23:00:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/28155344/Ikan-tunu-menggunakan-jenis-ikan-dari-keluarga-chana-atau-sejenis-gabus.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130772</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, Lahan Basah, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di era air fryer, slow cooker, dan oven pintar, siapa sangka salah satu teknik memasak paling sehat justru berasal dari masa ketika manusia belum mengenal peralatan dapur. Caranya sederhana: makanan dibungkus daun, dilapisi tanah liat, lalu dipanggang di atas bara api. Meski terdengar kuno, metode ini masih dipraktikkan hingga kini oleh masyarakat lahan basah Sungai [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/memasak-dengan-teknik-tanah-liat-tidak-kalah-pakai-air-fryer-kekinian-masyarakat-sungai-musi-telah-membuktikan/">Memasak dengan Teknik Tanah Liat, Tidak Kalah Pakai Air Fryer Kekinian. Masyarakat Sungai Musi Telah Membuktikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di era air fryer, slow cooker, dan oven pintar, siapa sangka salah satu teknik memasak paling sehat justru berasal dari masa ketika manusia belum mengenal peralatan dapur. Caranya sederhana: makanan dibungkus daun, dilapisi tanah liat, lalu dipanggang di atas bara api. Meski terdengar kuno, metode ini masih dipraktikkan hingga kini oleh masyarakat lahan basah Sungai Musi di Sumatera Selatan melalui hidangan tradisional yang dikenal sebagai ‘ikan tunu’. Sekilas, ikan tunu terlihat seperti ikan bakar biasa. Namun, proses pembuatannya sangat berbeda. Ikan segar dibungkus daun pisang, kemudian seluruh permukaannya diselimuti tanah liat sebelum diletakkan di atas bara. Setelah sekitar 30 menit, lapisan tanah mulai mengeras dan retak. Saat dipecahkan, kulit ikan ikut terangkat bersama tanah liat, meninggalkan daging yang putih, lembut, dan harum. Yang membuat teknik ini menarik adalah cara kerjanya. Tanah liat bertindak seperti oven alami. Lapisan tersebut memerangkap uap air yang keluar dari ikan selama dipanaskan sehingga daging matang perlahan dari dalam. Hasilnya, ikan tetap lembap, tidak kering, dan matang merata tanpa perlu tambahan minyak atau mentega. Tak heran jika banyak teknik memasak modern, seperti slow cooking atau steam roasting, sebenarnya mengandalkan prinsip yang sama. Keuntungan lainnya adalah cita rasa. Karena ikan dimasak dalam &#8220;ruang tertutup&#8221;, sari alami tidak banyak menguap. Aroma daun pisang meresap perlahan ke dalam daging, sementara rasa asli ikan tetap mendominasi tanpa tertutup bumbu berlebihan. Bagi pencinta makanan yang mengutamakan kualitas bahan, metode ini memungkinkan rasa alami ikan benar-benar menjadi bintang utama. Bukan hanya soal rasa, teknik ini juga memiliki sejumlah keunggulan dari sisi kesehatan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/memasak-dengan-teknik-tanah-liat-tidak-kalah-pakai-air-fryer-kekinian-masyarakat-sungai-musi-telah-membuktikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/memasak-dengan-teknik-tanah-liat-tidak-kalah-pakai-air-fryer-kekinian-masyarakat-sungai-musi-telah-membuktikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Aksi Warga Jaga Pegunungan Menoreh dari Pemburu Burung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/18/aksi-warga-jaga-pegunungan-menoreh-dari-pemburu-burung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/18/aksi-warga-jaga-pegunungan-menoreh-dari-pemburu-burung/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 13:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/18091215/PHOTO-2026-07-10-15-47-21-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130755</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, komunitas lokal, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kelompok Lestari Purwosari, penggerak ekowisata di Desa Wisata Purwosari, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, menangkap seorang lelaki pemburu burung di wilayah mereka, Mei lalu.  Kalurahan Purwosari memang sasaran para pemburu untuk memasok kebutuhan pasar burung kicau yang sebagian besar berstatus dilindungi. Tegar Cahaya Putra, inisiator dan pegiat Kelompok Lestari Purwosari, menceritakan  kisah itu pada Mongabay, belum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/aksi-warga-jaga-pegunungan-menoreh-dari-pemburu-burung/">Aksi Warga Jaga Pegunungan Menoreh dari Pemburu Burung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kelompok Lestari Purwosari, penggerak ekowisata di Desa Wisata Purwosari, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, menangkap seorang lelaki pemburu burung di wilayah mereka, Mei lalu.  Kalurahan Purwosari memang sasaran para pemburu untuk memasok kebutuhan pasar burung kicau yang sebagian besar berstatus dilindungi. Tegar Cahaya Putra, inisiator dan pegiat Kelompok Lestari Purwosari, menceritakan  kisah itu pada Mongabay, belum lama ini. Dia bilang, awalnya pria itu kedapatan membawa speaker kecil, pulut, dan sebuah sangkar di salah satu bukit. Warga pun langsung menegurnya. Pria asal Sleman itu kemudian pergi, namun hanya berpindah tempat. Warga lain pun memergokinya dan mengabarkan ke grup percakapan di WhatsApp. Mereka langsung menangkap orang itu, karena mengabaikan teguran pertama. Mereka membawanya ke sekretariat komunitas, memeriksa dan menahan identitas pelaku, kemudian menyodorkan surat pernyataan bermaterai yang mengikat pelaku tidak mengulangi aksinya lagi. “Setelah kami cek ternyata sempat mendapat beberapa ekor burung, lalu langsung kami lepaskan,” katanya. Dia masih ingat jenis burung yang pelaku tangkap, seperti, kacamata kuning, cucak delima, dan poksay kuda, semua langsung mereka lepas. Selepas kejadian itu, masih ada pemburu lain yang nekat menangkap burung di desa paling barat Kulonprogo itu. Kali ini, pemburu masih bawah umur, dari desa tetangga, Kapanewon Girimulyo. “Dia masih siswa SMP di sekitar sini juga, awalnya ditegur tapi tidak kooperatif lalu dibawa ke sini.” Motifnya untuk mendapat uang. Model pemburuan sama, dengan memanfaatkan pulut sebagai lem untuk menjebak burung yang sudah terperangkap agar tidak bisa terbang lagi. “Cara memancing burung agar terjebaknya dengan speaker kecil yang diputarkan rekaman suara kicauan burung, sehingga tertarik untuk masuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/aksi-warga-jaga-pegunungan-menoreh-dari-pemburu-burung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/18/aksi-warga-jaga-pegunungan-menoreh-dari-pemburu-burung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tim Solidaritas Desak Setop Ambil Tanah Warga Rempang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/18/tim-solidaritas-desak-setop-ambil-tanah-warga-rempang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/18/tim-solidaritas-desak-setop-ambil-tanah-warga-rempang/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 08:38:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/17082105/Warga-menyampaikan-protes-pemasangan-patok-lahan-BP-Batam-di-Pulau-Rempang.-Foto-Amar-GB-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130704</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suasana Kampung Pantai Melayu, Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau,  kembali memanas Selasa pagi (14/7/26). Cekcok antara aparat kepolisian dan warga Rempang tak terhindarkan menyusul pemasangan plang hak pengelolaan lahan (HPL) sepihak oleh BP Batam. Masalahnya, lahan untuk sekolah rakyat itu berada di lokasi yang warga kelola. Dalam rekaman video, tampak Kompol. Yudiarta Rustam, Kasat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/tim-solidaritas-desak-setop-ambil-tanah-warga-rempang/">Tim Solidaritas Desak Setop Ambil Tanah Warga Rempang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suasana Kampung Pantai Melayu, Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau,  kembali memanas Selasa pagi (14/7/26). Cekcok antara aparat kepolisian dan warga Rempang tak terhindarkan menyusul pemasangan plang hak pengelolaan lahan (HPL) sepihak oleh BP Batam. Masalahnya, lahan untuk sekolah rakyat itu berada di lokasi yang warga kelola. Dalam rekaman video, tampak Kompol. Yudiarta Rustam, Kasat Intelkam Batam di lokasi kejadian. Dia mengenakan pakaian sipil, Yudi bersama polisi lain mencoba masuk Kampung Pantai Melayu, namun  warga menghadangnya. “Ini tanah kami, kalian masuk tidak minta izin,” kata salah seorang ibu. Yudi kemudian berjalan naik ke atas mobil sambil membentak seorang perempuan. “Saya nggak ada urusan dengan kau,” katanya,  lantas mengendarai mobil ke dalam kampung. Teo Reffelsen, Manajer Pembelaan Walhi Nasional,  mengatakan, persoalan di Rempang bukan semata soal keamanan dan ketertiban masyarakat, melainkan sengketa hak atas tanah dan wilayah adat.  Karena itu, dia meminta polisi tidak terlibat upaya BP Batam dalam penguasaan maupun pengambilalihan lahan di Pulau Rempang. “Aparat kepolisian harus menjalankan fungsinya secara netral, mengedepankan penghormatan terhadap HAM, tidak melakukan upaya kriminalisasi serta tidak menjadi alat untuk memfasilitasi praktik perampasan tanah dan ruang hidup masyarakat.&#8221; ujar Teo. AKP. Budi Santosa, Humas Polresta Barelang Budi belum menjawab upaya konfirmasi Mongabay. Plang HPL BP Batam yang diduga berada di lahan milik warga Pulau Rempang. Foto Amar GB. Warga tertekan Selain di permukiman, ketegangan juga terjadi di lokasi pemasangan plang HPL BP Batam yang proyeksikan untuk Sekolah Rakyat. “Tolong dipindahkan plang ini ke lahan sekolah (Sekolah Rakyat), kami kalau di lahan Sekolah Rakyat 1.000 plang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/tim-solidaritas-desak-setop-ambil-tanah-warga-rempang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/18/tim-solidaritas-desak-setop-ambil-tanah-warga-rempang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Paus Orca Bisa Meniru Suara Manusia? Fakta yang Mengejutkan Ilmuwan dan Ini Sungguh Terjadi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/paus-orca-bisa-meniru-suara-manusia-fakta-yang-mengejutkan-ilmuwan-dan-ini-sungguh-terjadi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/paus-orca-bisa-meniru-suara-manusia-fakta-yang-mengejutkan-ilmuwan-dan-ini-sungguh-terjadi/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 07:53:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/02/22090432/Paus-orca2-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130750</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bayangkan seekor paus mengucapkan &#8220;hello&#8221; atau menghitung &#8220;one, two, three&#8221;. Kedengarannya seperti adegan film fiksi ilmiah, tetapi kemampuan itu benar-benar dimiliki oleh orca (Orcinus orca), mamalia laut yang lebih dikenal sebagai paus pembunuh atau killer whale. Orca sebenarnya bukan paus sejati, melainkan anggota terbesar keluarga lumba-lumba. Selain dikenal sebagai predator puncak di lautan, mereka juga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/paus-orca-bisa-meniru-suara-manusia-fakta-yang-mengejutkan-ilmuwan-dan-ini-sungguh-terjadi/">Paus Orca Bisa Meniru Suara Manusia? Fakta yang Mengejutkan Ilmuwan dan Ini Sungguh Terjadi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bayangkan seekor paus mengucapkan &#8220;hello&#8221; atau menghitung &#8220;one, two, three&#8221;. Kedengarannya seperti adegan film fiksi ilmiah, tetapi kemampuan itu benar-benar dimiliki oleh orca (Orcinus orca), mamalia laut yang lebih dikenal sebagai paus pembunuh atau killer whale. Orca sebenarnya bukan paus sejati, melainkan anggota terbesar keluarga lumba-lumba. Selain dikenal sebagai predator puncak di lautan, mereka juga termasuk salah satu hewan paling cerdas di Bumi. Otak orca dewasa bahkan dapat mencapai berat sekitar enam kilogram, jauh lebih besar dibandingkan rata-rata otak manusia yang sekitar 1,4 kilogram. Besarnya otak ini mendukung kemampuan belajar, memecahkan masalah, hingga berkomunikasi secara kompleks. Kecerdasan orca terlihat dari kehidupan sosialnya. Mereka hidup dalam kelompok keluarga yang sangat erat, dipimpin oleh induk betina, dan setiap kelompok memiliki &#8220;dialek&#8221; sendiri. Layaknya manusia yang memiliki aksen berbeda di setiap daerah, kelompok orca menggunakan pola bunyi khas untuk saling mengenali dan berkomunikasi. Dialek tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga dianggap sebagai bentuk budaya di dunia hewan. Kemampuan vokal orca semakin menarik perhatian setelah penelitian yang dipublikasikan pada 2018. Dalam percobaan yang melibatkan dua orca bernama Wikie dan Moana di Marineland, Prancis, para peneliti memperdengarkan berbagai suara yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, mulai dari bunyi derit pintu hingga kata-kata yang diucapkan manusia. Hasilnya mengejutkan. Wikie mampu menirukan hampir seluruh suara yang diperdengarkan. Bahkan, kata &#8220;hello&#8221; dan &#8220;one, two, three&#8221; berhasil ditirukannya pada percobaan pertama. Meski pengucapannya tidak sejelas burung beo, analisis spektrogram menunjukkan bahwa suara yang dihasilkan memiliki kemiripan kuat dengan suara asli manusia. Yang membuat temuan ini semakin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/paus-orca-bisa-meniru-suara-manusia-fakta-yang-mengejutkan-ilmuwan-dan-ini-sungguh-terjadi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/paus-orca-bisa-meniru-suara-manusia-fakta-yang-mengejutkan-ilmuwan-dan-ini-sungguh-terjadi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Nelayan Kabaena di Tengah Sengkarut Tata Ruang Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/18/nasib-nelayan-kecil-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/18/nasib-nelayan-kecil-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 03:03:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Muhlas]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/17025842/WhatsApp-Image-2026-07-04-at-03.52.42-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130680</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sudah berhari-hari perahu nelayan Suku Bajau terombang-ambing di bawah kolong rumah di Desa Baliara, Kabaena Barat. Sulawesi Tenggara (Sultra). Nelangsa mereka tidak dapat meraup nafkah setelah terpaksa berhenti melaut karena sulit mendapat bahan bakar minyak (BBM) solar. “Kita mau ambil apa mi ini kasihan? Cuma dari situ (melaut) kita bisa hidup,” kata Aco lirih  saat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/nasib-nelayan-kecil-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut/">Nasib Nelayan Kabaena di Tengah Sengkarut Tata Ruang Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sudah berhari-hari perahu nelayan Suku Bajau terombang-ambing di bawah kolong rumah di Desa Baliara, Kabaena Barat. Sulawesi Tenggara (Sultra). Nelangsa mereka tidak dapat meraup nafkah setelah terpaksa berhenti melaut karena sulit mendapat bahan bakar minyak (BBM) solar. “Kita mau ambil apa mi ini kasihan? Cuma dari situ (melaut) kita bisa hidup,” kata Aco lirih  saat kumpul bersama keluarga di teras rumahnya,  penghujung Mei 2026. Bukan kali ini saja Aco tak bisa melaut imbas BBM yang langka. Dua Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) lebih sering kosong. Kalau pun ada, acapkali kuota BBM terpangkas. “Waktu itu dikasih 20 liter satu orang. Sekarang cuma 10 liter. Tidak cukup sekali melaut. Baru harus setiap hari mengantri tapi di SPBU selalu kosong. Kalau begini terus kita mau dapat apa?” Padahal, bagi para nelayan seperti Aco, kebutuhan BBM kian berlipat menguras 80% total biaya melaut. Pasalnya, ketimbang dulu, jarak lokasi tangkapan sekarang makin jauh dan lebih lama karena zona tangkap sebelumnya sepi ikan lantaran terdampak limbah tambang nikel, terutama di area pesisir. Ada  beberapa konsesi perusahaan nikel menghimpit Desa Baliara. Intensitas pengerukan tanah nikel memicu residu lumpur di sungai sebelum akhirnya berakhir di laut. Di wilayah pesisir, jejak sedimentasi mencapai mencapai tinggi betis orang dewasa. Berdasarkan analisis spasial berbasis citra satelit dari Satya Bumi per April 2026, pencemaran lumpur sudah menyebar di laut seluas 14,98 hektar setara 20 lapangan sepak bola. Dengan radius sejauh 250 meter dari bibir pantai. Penelitian Satya Bumi sebelumnya menemukan,  pencemaran lumpur tambang membunuh ekosistem terumbu karang dan menyingkirkan habitat ikan. Dulu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/18/nasib-nelayan-kecil-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/18/nasib-nelayan-kecil-di-tengah-sengkarut-tata-ruang-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/kisah-orangutan-sumatera-yang-tergusur-dari-rumah-sendiri/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/kisah-orangutan-sumatera-yang-tergusur-dari-rumah-sendiri/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 01:06:12 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/06/22084619/Orangutan-di-Ketambe-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=130719</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/07/kisah-orangutan-sumatera-yang-tergusur-dari-rumah-sendiri/">Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mereka adalah pemilik sah rimba Sumatera, tetapi kini dipaksa menjadi pengembara tanpa arah di tanah kelahiran sendiri. Kepungan perkebunan monokultur dan moncong senapan pemburu perlahan menghapus jejak primata cerdas ini dari muka bumi. Dari Rawa Tripa hingga Leuser, bentang alam yang menyusut menjadi saksi bisu runtuhnya rumah besar mereka. Setiap detiknya adalah jeritan sunyi yang menagih janji ketegasan hukum dan ruang hidup yang tersisa sebelum semuanya terlambat. The post Kisah Orangutan Sumatera yang Tergusur dari Rumah Sendiri appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/07/kisah-orangutan-sumatera-yang-tergusur-dari-rumah-sendiri/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/07/kisah-orangutan-sumatera-yang-tergusur-dari-rumah-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sejak Laut Tercemar, Petani Rumput Laut Tinanggea Kehilangan Segalanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/sejak-laut-tercemar-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/sejak-laut-tercemar-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya/#respond</comments>
					<pubDate>18 Jul 2026 00:01:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/12/22081558/rumput2-55615808-ed9f-4a72-8398-907c407e0ac4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130626</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, kelautan dan perikanan, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dulu, La Ode Baharuddin tak pernah menyangka akan menghabiskan hari-harinya mencari keong bakau di lumpur bakau Desa Akuni, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bertahun-tahun lalu, dia adalah petani rumput laut yang hidup dari komoditas dulunya sangat menjanjikan. Bahkan, desanya sempat dijuluki &#8220;desa dolar&#8221;. Julukan itu bukan sekedar kiasan belaka. Pada 2014-2015, harga rumput laut kering sempat [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/sejak-laut-tercemar-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya/">Sejak Laut Tercemar, Petani Rumput Laut Tinanggea Kehilangan Segalanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dulu, La Ode Baharuddin tak pernah menyangka akan menghabiskan hari-harinya mencari keong bakau di lumpur bakau Desa Akuni, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bertahun-tahun lalu, dia adalah petani rumput laut yang hidup dari komoditas dulunya sangat menjanjikan. Bahkan, desanya sempat dijuluki &#8220;desa dolar&#8221;. Julukan itu bukan sekedar kiasan belaka. Pada 2014-2015, harga rumput laut kering sempat menyentuh sampai Rp45 ribu/kilogram. Mardiana, ibu enam anak di Bungin Permai pernah merasakan kejayaan itu. Dari 300 bentang tali rumput laut yang terpasang, dia bisa mengantongi pendapatan bersih hingga Rp40 juta sekali panen, cukup untuk membeli sepeda motor dan perahu. Tapi kini, itu hanya jadi kenangan. Sejak tiga tahun terakhir, budidaya rumput laut di Tinanggea perlahan runtuh. Baharuddin bilang, sejak tambang nikel beroperasi di sekitar perairan mereka, air laut kerap berubah warna jadi kuning setiap hujan turun, dan rumput laut pun gagal tumbuh. Demi untuk menyekolahkan tiga anaknya, dia terpaksa menjual sapi, bahkan tanah. “Sudah ada beberapa tahun agar (rumput laut) tidak bagus (panen), setelah ada tambang ini,” kata Baharuddin. Warga pesisir lainnya pun mengeluhkan adanya keberadaan penampungan ore nikel di bibir pantai dan lalu lalang kapal tambang. Andi Rahman, Direktur Eksekutif Walhi Sulawesi Tenggara, menyebut operasional pelabuhan itu memicu sedimentasi yang membuat air laut berubah warna dan mengganggu ekosistem laut. Sementara itu, Dinas Perikanan dan Kelautan Konawe Selatan justru menyebutkan informasi yang berbeda, data resmi mereka menunjukkan produksi rumput laut Tinanggea terus naik tiap tahun, dari 18.644 ton pada 2021 jadi 33.946 ton pada 2025. Bagi Mardiana, angka itu tak masuk akal. &#8220;Kalau khusus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/sejak-laut-tercemar-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/sejak-laut-tercemar-petani-rumput-laut-tinanggea-kehilangan-segalanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Satwa Terancam Punah Ini Dijuluki “Monyet Belanda”, Padahal Hidupnya di Hutan Mangrove Kalimantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/satwa-terancam-punah-ini-dijuluki-monyet-belanda-padahal-hidupnya-di-hutan-mangrove-kalimantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/satwa-terancam-punah-ini-dijuluki-monyet-belanda-padahal-hidupnya-di-hutan-mangrove-kalimantan/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 22:30:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004623/Proboscis-monkey-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=130703</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang mudah dikenali dari hidungnya yang panjang dan besar, terutama pada jantan dewasa. Ciri fisik inilah yang membuatnya populer dengan julukan “Monyet Belanda”. Sebutan tersebut berkembang sejak masa kolonial karena hidung besar dan wajah kemerahan bekantan dianggap menyerupai gambaran orang Belanda pada masa itu. Julukan ini bukan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/satwa-terancam-punah-ini-dijuluki-monyet-belanda-padahal-hidupnya-di-hutan-mangrove-kalimantan/">Satwa Terancam Punah Ini Dijuluki “Monyet Belanda”, Padahal Hidupnya di Hutan Mangrove Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan primata endemik Pulau Kalimantan yang mudah dikenali dari hidungnya yang panjang dan besar, terutama pada jantan dewasa. Ciri fisik inilah yang membuatnya populer dengan julukan “Monyet Belanda”. Sebutan tersebut berkembang sejak masa kolonial karena hidung besar dan wajah kemerahan bekantan dianggap menyerupai gambaran orang Belanda pada masa itu. Julukan ini bukan nama ilmiah, melainkan sebutan yang hidup di tengah masyarakat Kalimantan. Hidung besar bukan sekadar penanda penampilan. Pada bekantan jantan, hidung yang menggantung hingga menutupi sebagian mulut diduga membantu memperkuat suara panggilan sekaligus menarik perhatian betina. Ukuran tubuh jantan juga jauh lebih besar dibandingkan betina. Wajah bekantan tidak ditutupi rambut, sedangkan warna tubuhnya terlihat mencolok: bagian punggung berwarna cokelat kemerahan, sementara perut dan anggota tubuhnya putih keabu-abuan. Ekornya pun sangat panjang, hampir sama dengan panjang tubuhnya. Keunikan lain bekantan terlihat pada bentuk perutnya yang buncit. Bekantan memiliki sistem pencernaan khusus dengan lambung beruang yang membantu memfermentasi daun dan bahan tumbuhan berserat. Makanannya sebagian besar berupa daun, buah, bunga, kulit pohon, serta sesekali serangga dan kepiting. Mereka cenderung memilih tumbuhan dengan kandungan serat kasar dan protein yang tinggi. Meski terlihat tambun, bekantan merupakan pemanjat pohon sekaligus perenang yang tangguh. Jari-jari kakinya memiliki selaput yang membantu mereka berenang dan menyeberangi sungai, bahkan terkadang dengan melompat langsung dari pohon ke air. Bekantan hidup dalam kelompok sosial yang unik. Ada kelompok yang terdiri atas seekor jantan dewasa dengan beberapa betina dan anak-anaknya, serta kelompok yang seluruh anggotanya merupakan jantan. Mereka lebih banyak beraktivitas di atas tajuk pohon dan sering memilih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/satwa-terancam-punah-ini-dijuluki-monyet-belanda-padahal-hidupnya-di-hutan-mangrove-kalimantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/07/satwa-terancam-punah-ini-dijuluki-monyet-belanda-padahal-hidupnya-di-hutan-mangrove-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Cara Menghentikan Laju Kerusakan Lingkungan Pantura Jawa?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/#respond</comments>
					<pubDate>17 Jul 2026 13:41:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/04/22051547/Karawang-6144-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=130713</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Waswas PSN Tambak Pantura Jawa]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan politik, hutan indonesia, infrastruktur, komunitas lokal, dan Lahan Basah]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa terus mengalami degradasi lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, erosi mendominasi hingga 65,8 persen garis pantai dari Kabupaten Serang di Banten hingga Kabupaten Situbondo di Jawa Timur. Tubagus Solihuddin, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan meluasnya erosi karena sebagian besar pesisir Pantura Jawa tersusun dari endapan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/">Bagaimana Cara Menghentikan Laju Kerusakan Lingkungan Pantura Jawa?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa terus mengalami degradasi lingkungan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, erosi mendominasi hingga 65,8 persen garis pantai dari Kabupaten Serang di Banten hingga Kabupaten Situbondo di Jawa Timur. Tubagus Solihuddin, Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan meluasnya erosi karena sebagian besar pesisir Pantura Jawa tersusun dari endapan pluvial dan delta. Secara geologi, kedua endapan tersebut belum bersatu baik (unconsolidated). Kondisi itu diperparah morfologi pantai yang didominasi relief rendah dan dataran rendah, dengan elevasi kurang dari sepuluh meter. Di saat yang sama, akresi juga terjadi di angka 34,2 persen yang memicu kemunculan daratan baru. Berdasarkan riset, laju erosi terjadi juga di delta pantai yang alamiahnya menjadi pusat sedimentasi. Sementara, proses terkumpulnya sedimentasi, berkaitan erat dengan aktivitas di hulu. “Ada kanalisasi, pembelokan arah sungai, atau pembangunan bendungan. Itu semua akan menghentikan pasokan sedimen ke muara sungai,” ucapnya kepada Mongabay, Selasa (13/7/26). Akibat erosi, air masuk hingga empat kilometer ke daratan di kawasan Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. “Selain menenggelamkan infrastruktur publik dan warga hingga permanen, erosi juga membuat air laut masuk dan merendam lebih dari 1.000 hektar tambak warga.” Situasi serupa terjadi di Tanjung Pontang, Serang; Legonkulon, Subang; dan Demak, Jawa Tengah yang saat ini, air laut sudah merengsek ke daratan hingga 5-6 km, serta menenggelamkan sawah dan permukiman. Pantura Jawa menghadapi ancaman karena kenaikan muka air laut (sea level rise/SLR) dan penurunan muka tanah (land subsidence) bersamaan. Tren kenaikan SLR mencapai rerata 0,41-0,42 sentimeter per tahun. “Jika dihitung selama 1993-2025, kenaikan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/07/17/bagaimana-cara-menghentikan-laju-kerusakan-lingkungan-pantura-jawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>