Nama Slash identik dengan gitar, rambut keriting, dan Guns N’ Roses. Namun, kini nama panggung musisi bernama asli Saul Hudson itu juga melekat pada seekor ular tanah yang baru dikenali dari Papua Nugini.
Ular tersebut diberi nama ilmiah Lielaphis slashi. Spesies baru ini diumumkan oleh tim peneliti dari Amerika Serikat, Australia, Papua Nugini, dan Inggris melalui jurnal Zootaxa pada Agustus 2026. Identifikasinya dilakukan dengan menggabungkan data temuan lama dan analisis DNA modern.
Pemberian nama itu berawal dari pengalaman Sara Ruane, salah satu peneliti dalam studi tersebut. Guns N’ Roses telah menjadi band favoritnya sejak kecil. Ia juga pernah melihat foto Slash sedang memegang ular piton dalam sebuah majalah reptil.
Slash dipilih bukan hanya karena terkenal sebagai gitaris. Dia diketahui memiliki ketertarikan terhadap ular, museum, kebun binatang, dan sejarah alam. Selama bertahun-tahun, dia juga mempromosikan serta membela keberadaan ular melalui berbagai media.
Secara fisik, L. slashi tidak memiliki warna atau pola mencolok. Punggungnya berwarna cokelat polos kemerahan, sedangkan bagian bawah tubuhnya putih hingga krem. Bentuk kepalanya sederhana dan panjang tubuhnya sekitar 60-70 sentimeter.
Spesimen yang diteliti berasal dari Desa Utai di Provinsi Sanduan dan Tanjung Kalibobo di Provinsi Madang, Papua Nugini. Sebagian spesimen dikumpulkan oleh herpetolog Chris Austin saat melakukan penelitian lapangan pada 2006.
Ular tanah ini aktif pada malam hari. Ia biasanya ditemukan sesaat setelah matahari terbenam di pangkal pohon besar ketika sedang mencari mangsa. Warna tubuh yang menyatu dengan tanah dan kemampuannya bergerak cepat membuatnya sulit diamati di alam.
Pengetahuan mengenai perilaku spesies ini masih terbatas. Namun, ular dalam genus Lielaphis memiliki gigi besar di bagian belakang mulut. Gigi tersebut kemungkinan digunakan untuk menangkap kadal kecil bersisik licin dan memakan telur reptil lain.
Lielaphis slashi tidak berbisa dan tidak mengancam manusia. Meski begitu, pengamat tetap harus berhati-hati karena beberapa ular berbisa di Papua Nugini memiliki penampilan serupa.
Sejauh ini, spesies tersebut diketahui hidup di hutan sekunder yang relatif belum terganggu di sebelah utara pegunungan tengah Papua Nugini. Persebarannya diperkirakan mencakup Provinsi Sanduan, East Sepik, dan Madang. Peneliti menduga ular ini mungkin juga hidup di wilayah Papua, Indonesia, khususnya di utara pegunungan tengah.
Ancaman justru datang dari aktivitas manusia. Pertambangan dan budidaya kopi berpotensi merusak hutan sekunder yang menjadi habitatnya. Meski bukan hutan primer, kawasan tersebut tetap menyediakan ruang hidup penting bagi berbagai spesies endemik. Penemuan Lielaphis slashi menunjukkan bahwa masih banyak kekayaan hayati Papua yang belum dikenali.