<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=kendari&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/kendari/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 09 Apr 2026 03:00:28 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Sengkarut Izin Tambang Batubara Masuk Lahan Transmigrasi di Kotabaru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/09/sengkarut-izin-tambang-batubara-masuk-lahan-transmigrasi-di-kotabaru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/09/sengkarut-izin-tambang-batubara-masuk-lahan-transmigrasi-di-kotabaru/#respond</comments>
					<pubDate>09 Apr 2026 03:00:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/07094603/file_00000000dd1c720b815f48e45e4066ac-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126202</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, komunitas lokal, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Bapak Presiden, lihat ke belakang saya. Lahan saya sudah diginiin sama perusahaan, pak. Tolong, saya hanya rakyat kecil. Saya sebagai orang bodoh tidak bisa apa-apa.&#8221;  Begitu ungkapan Nyoman Darpada, perempuan transmigran di Kotabaru, Kalimantan Selatan, dalam video berdurasi 151 detik yang viral baru-baru ini. Dalam video itu, belasan warga eks transmigran Rawa Indah, Desa Bekambit, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/sengkarut-izin-tambang-batubara-masuk-lahan-transmigrasi-di-kotabaru/">Sengkarut Izin Tambang Batubara Masuk Lahan Transmigrasi di Kotabaru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Bapak Presiden, lihat ke belakang saya. Lahan saya sudah diginiin sama perusahaan, pak. Tolong, saya hanya rakyat kecil. Saya sebagai orang bodoh tidak bisa apa-apa.&#8221;  Begitu ungkapan Nyoman Darpada, perempuan transmigran di Kotabaru, Kalimantan Selatan, dalam video berdurasi 151 detik yang viral baru-baru ini. Dalam video itu, belasan warga eks transmigran Rawa Indah, Desa Bekambit, Kabupaten Kotabaru, sambil memegang sertifikat hak milik (SHM), mereka berdiri di lahan yang saat ini tertimpa izin usaha pertambangan (IUP) batubara. Saat Mongabay temui Maret lalu, dia menyatakan, kebingungan karena kebun, sumber penghidupan berubah jadi tambang batubara. Dia sendiri sudah lama tidak mengunjungi lokasi itu. Bukti kepemilikan tanah  dan ratusan warga lain pun tidak berlaku lagi karena pembatalan sepihak Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (Kanwil BPN) Kalsel. Perusahaan leluasa menggarapnya. Potongan video tiktok Borneo Info yang viral. Memperlihatkan para transmigran yang menangis karena SHM-nya dicap merah, tanda tidak berlaku oleh Kanwil BPN Kalsel. I Ketut Buderana, Ketua eks Transmigran Rawa Indah, menceritakan,  sejarah kawasan yang pernah mereka huni sejak 1986 itu. Dia bilang, secara bertahap hingga 1989, ratusan keluarga pemerintah datangkan mulai dari Bali, Jawa, dan Banjar, Kalsel. Orang-orang merintis kehidupan dari nol. Selama belasan tahun, mereka menetap, membuka lahan, dan mengelola pertanian. Seiring waktu, keinginan mereka tak sepenuhnya berjalan sesuai rencana. Walau sudah ada sekolah dan kesehatan, sebagian fasilitas dasar yang sebelumnya pemerintah janjikan untuk lengkapi belum terpenuhi. Misal, akses jalan tetap rusak sekitar enam kilometer, dan air bersih sulit mereka dapat. Kawasan rawa dekat laut itu memiliki kadar air yang sangat asam. Pengeboran&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/sengkarut-izin-tambang-batubara-masuk-lahan-transmigrasi-di-kotabaru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/09/sengkarut-izin-tambang-batubara-masuk-lahan-transmigrasi-di-kotabaru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belut Moray, Pemalu yang Sekilas Mirip Ular</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/09/belut-moray-pemalu-yang-sekilas-mirip-ular/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/09/belut-moray-pemalu-yang-sekilas-mirip-ular/#respond</comments>
					<pubDate>09 Apr 2026 01:31:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/09012020/Belut-Moray-Moray-eel-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126232</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekilas fisiknya seperti seperti ular, namun dengan bobot lebih berat. Panjang tubuhnya bisa mencapai empat meter. Ia adalah belut moray, dikenal dengan sebutan edor-edor atau armang di sejumlah wilayah pesisir Indonesia. Keberadaannya terbatas, utamanya yang memiliki ekosistem terumbu karang sehat. Walau disebut belut laut, namun hewan ini masuk jenis ikan sidat (Ordo Anguilliformes) yang menjadi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/belut-moray-pemalu-yang-sekilas-mirip-ular/">Belut Moray, Pemalu yang Sekilas Mirip Ular</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekilas fisiknya seperti seperti ular, namun dengan bobot lebih berat. Panjang tubuhnya bisa mencapai empat meter. Ia adalah belut moray, dikenal dengan sebutan edor-edor atau armang di sejumlah wilayah pesisir Indonesia. Keberadaannya terbatas, utamanya yang memiliki ekosistem terumbu karang sehat. Walau disebut belut laut, namun hewan ini masuk jenis ikan sidat (Ordo Anguilliformes) yang menjadi Famili Muraenidae. Saat ini, terdapat 200 jenis belut moray yang menyebar luas di berbagai ekosistem perairan dunia. Berdasarkan ukuran panjang tubuh, moray air tawar (Gymnothorax pllyuranodon) dikenal sebagai yang terpendek karena maksimal hanya 11,5 sentimeter. Semetara, moray ramping (Slender moray) menjadi yang terpanjang dengan empat meter. Jika mengacu berat, moray raksasa (Gymnothorax javanicus) menjadi juara karena bisa berbobot 36 kilogram dengan panjang hingga tiga meter. Belut moray bertubuh memanjang, berotot, menyerupai ular, namun tanpa sisik dan dilapisis lendir pelindung. Terdapat lubang insang kecil dan bulat, namun tanpa sirip dada. Mulutnya lebar, dengan rahang dilengkapi gigi kuat dan tajam, yang akan digunakan untuk menyerang mangsa dan musuhnya, termasuk manusia. Mereka akan menyerang manusia jika merasa terganggu. Tak semua belut moray memiliki gigi tajam dan runcing yang digunakan untuk menangkap mangsa licin seperti ikan. Ada juga yang memiliki gigi tumpul mirip gigi geraham belakang (molar) yang berguna untuk menghancurkan mangsa seperti krustasea atau hewan bercangkang. Belut moray yang dikenal pemalu dan senang bersembungi di karang. Foto: Wikimedia Commons/Mstroeck/CC BY-SA 3.0 Perairan Indonesia Perairan Indonesia menjadi lokasi yang disukai belut moray, karena ia mencari wilayah dengan karakteristik tropis dan beriklim sedang. Laut tropis dan subtropis di seluruh dunia,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/belut-moray-pemalu-yang-sekilas-mirip-ular/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/09/belut-moray-pemalu-yang-sekilas-mirip-ular/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Risiko Limbah Beracun dari Smelter Nikel Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>08 Apr 2026 23:59:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/16001056/Kawasan-Industri-IWIP--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126229</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Demam Nikel]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, pencemaran, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia terus membuka peluang eksploitasi nikel yang membawa konsekuensi besar bagi lingkungan dan masyarakat, antara lain, soal limbah tambang.  Teknologi high-pressure acid leaching (HPAL), untuk memproses bijih nikel berkadar rendah menjadi presipitat hidroksida campuran—prekursor penting dalam baterai kendaraan listrik—menjadi penyumbang utama limbah beracun ini. Setiap satu ton logam nikel melalui HPAL memunculkan 133 ton tailing [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/">Risiko Limbah Beracun dari Smelter Nikel Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia terus membuka peluang eksploitasi nikel yang membawa konsekuensi besar bagi lingkungan dan masyarakat, antara lain, soal limbah tambang.  Teknologi high-pressure acid leaching (HPAL), untuk memproses bijih nikel berkadar rendah menjadi presipitat hidroksida campuran—prekursor penting dalam baterai kendaraan listrik—menjadi penyumbang utama limbah beracun ini. Setiap satu ton logam nikel melalui HPAL memunculkan 133 ton tailing beracun. Laporan terbaru dari organisasi lingkungan global Earthworks berjudul “Tailing yang Difilter di Indonesia: Kegagalan Katastrofik dari Teknologi Disruptif” menyebutkan,  regulasi dan pengawasan pemerintah belum mampu mengimbangi pesatnya ekspansi pabrik pengolahan nikel hingga menimbulkan risiko besar bagi masyarakat, pekerja, dan lingkungan. Hingga pertengahan 2025, terdapat tujuh fasilitas HPAL beroperasi di Indonesia, antara lain dua fasilitas Harita Nickel di Pulau Obi, satu fasilitas di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Pulau Halmahera. Lalu, empat fasilitas di PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah. Bersama-sama, fasilitas-fasilitas ini menghasilkan sekitar 57 juta ton tailing per tahun. Dengan tambahan dua fasilitas HPAL baru di IMIP, total volume limbah dapat meningkat menjadi 62,6 juta ton per tahun. Lebih jauh lagi, ada 12 proyek HPAL yang memperoleh izin atau sedang dibangun, serta 12 proyek lain dalam tahap proposal. Kalau semua terealisasi akan menghasilkan sekitar 275 juta ton tailing setiap tahun. Riset itu menganalisis fasilitas HPAL beroperasi, termasuk Huafei Nickel Cobalt (HFNC) di IWIP dan PT Halmahera Persada Lygend (HPL) di Harita Nickel di Pulau Obi, menunjukkan bahwa ketinggian fasilitas dan volume limbah lebih besar dibandingkan fasilitas penyimpanan tailing serupa di wilayah lain dengan curah hujan setara. Kondisi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/08/risiko-limbah-beracun-dari-smelter-nikel-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset Temukan Dugaan Pelanggaran HAM pada Proyek Panas Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/08/riset-temukan-pelanggaran-ham-di-proyek-panas-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/08/riset-temukan-pelanggaran-ham-di-proyek-panas-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>08 Apr 2026 04:18:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Jaka Hendra Baittri]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/09/22082951/solok2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125817</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penelitian Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) menemukan dampak negatif dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam proyek panas bumi (PLTP) di Indonesia, seperti di  Tandikat-Singgalang Sumatera Barat (Sumbar) dan Dieng, Jawa Tengah (Jateng). Pusham UII menuangkan studinya dalam laporan berjudul “Metastasis Transisi Energi: Dampak Kebijakan dan Praktik Bisnis Panas Bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/riset-temukan-pelanggaran-ham-di-proyek-panas-bumi/">Riset Temukan Dugaan Pelanggaran HAM pada Proyek Panas Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penelitian Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Islam Indonesia (Pusham UII) menemukan dampak negatif dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam proyek panas bumi (PLTP) di Indonesia, seperti di  Tandikat-Singgalang Sumatera Barat (Sumbar) dan Dieng, Jawa Tengah (Jateng). Pusham UII menuangkan studinya dalam laporan berjudul “Metastasis Transisi Energi: Dampak Kebijakan dan Praktik Bisnis Panas Bumi terhadap Hak Asasi Manusia.” Dalam laporannya, Pusham menemukan proyek PLTP Tandikat-Singgalang di Sumbar dan Dieng  ada dugaan melanggar standar HAM.   “Proyek ini secara sistematis mengabaikan pengalaman dan persetujuan warga lokal yang hidup di wilayah kerja proyek,” kata Sahid Hadi, peneliti bisnis dan HAM Pusham UII. Dia sebutkan pembangkit panas bumi di  Nagari Pandai Sikek dan Desa Kepakisan,gagal memenuhi tanggung jawab mereka menghormati HAM warga lokal. Dugaan pelanggaran itu terjadi sejak awal proyek berlangsung. “Perusahaan-perusahaan itu sejak awal tidak pernah melibatkan warga lokal dalam perencanaan, pembuatan keputusan dan pengembangan proyek. Itu dilakukan secara sistematis dan yang diterima warga lokal hanyalah kerugian,” katanya. Heronimus Heron, peneliti gerakan sosial dan HAM Pusham UII menyebut, negara gagal melindungi HAM warga lokal dari bisnis panas bumi di dua wilayah itu. Kegagalan itu, katanya, terlihat dari tidak ada upaya pemerintah pusat sampai daerah memberikan respon dan langkah perlindungan apapun kepada warga. Dia contohkan,  di Nagari Pandai Sikek, pemerintah mengabaikan hak partisipasi warga lokal dalam kebijakan panas bumi. Sementara itu di kasus Desa Kepakisan, saat warga mengalami dampak buruk proyek panas bumi, pemerintah di tingkat daerah hingga kecamatan tidak melakukan apapun untuk melindungi warga. Asnir Umar, warga Gunung Talang yang menolak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/riset-temukan-pelanggaran-ham-di-proyek-panas-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/08/riset-temukan-pelanggaran-ham-di-proyek-panas-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mikroplastik, Ancaman Baru Kucing Bakau di Lahan Basah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/08/mikroplastik-ancaman-baru-kucing-bakau-di-lahan-basah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/08/mikroplastik-ancaman-baru-kucing-bakau-di-lahan-basah/#respond</comments>
					<pubDate>08 Apr 2026 02:22:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001526/Kucing-bakau-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126219</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, Lahan Basah, pencemaran, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Baru berkembang sejak awal abad ke-20, industri plastik kini telah menjadi masalah global–yang mungkin sulit diselesaikan oleh semua negara di dunia. Plastik dapat ditemui di gunung, sungai, hingga lautan. Setelah puluhan tahun, beberapa plastik mungkin masih terlihat utuh, namun sebagian lainnya berubah menjadi butiran makro hingga mikro, lalu menyusup ke rantai makanan, yang tidak hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/mikroplastik-ancaman-baru-kucing-bakau-di-lahan-basah/">Mikroplastik, Ancaman Baru Kucing Bakau di Lahan Basah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Baru berkembang sejak awal abad ke-20, industri plastik kini telah menjadi masalah global–yang mungkin sulit diselesaikan oleh semua negara di dunia. Plastik dapat ditemui di gunung, sungai, hingga lautan. Setelah puluhan tahun, beberapa plastik mungkin masih terlihat utuh, namun sebagian lainnya berubah menjadi butiran makro hingga mikro, lalu menyusup ke rantai makanan, yang tidak hanya mengancam manusia, tapi juga sejumlah satwa terancam punah. Hal ini dikuatkan melalui penelitian terbaru di Thailand yang menemukan adanya mikroplastik di 26 sampel kotoran kucing bakau (Prionailurus viverrinus), satwa langka yang juga ada di Indonesia dan sangat bergantung pada ekosistem lahan basah. “Keberadaan mikroplastik pada kucing penangkap ikan sebagai predator puncak menunjukkan kontaminasi di seluruh ekosistem yang memengaruhi berbagai tingkat trofik dalam jaring makanan lahan basah,” tulis penelitian Wongson dan kolega (2026) berjudul “Occurrence of Microplastics in Fishing Cat (Prionailurus viverrinus) scat: Hidden Threats to Wetland Ecosystems of Thailand”. Sebelumnya, sejumlah penelitian juga menemukan adanya kontaminasi mikroplastik pada kucing bakau di Sri Lanka dan kucing liar lainnya, termasuk kucing kuwuk atau kucing hutan (Prionailurus bengalensis) di Taiwan. Kucing bakau terkena polusi plastik karena memakan ikan yang sudah terkontaminasi. Hewan penyaring seperti kerang dan serangga air tidak bisa membedakan plastik dengan makanan alami, sehingga mereka menelan banyak mikroplastik. Ketika hewan-hewan ini dimakan oleh ikan atau udang, plastik tersebut berpindah dan menumpuk di tubuh mereka. “Hal ini kemudian menciptakan jalur yang terdokumentasi untuk transfer mikroplastik ke spesies predator, termasuk kucing penangkap ikan,” tulis penelitian tersebut. Kucing bakau (Prionailurus viverrinus) yang disebut juga Fishing Cat sangat bergantung pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/mikroplastik-ancaman-baru-kucing-bakau-di-lahan-basah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/08/mikroplastik-ancaman-baru-kucing-bakau-di-lahan-basah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ancaman Hilangnya Kicau Burung di Habitat Aslinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/08/ancaman-hilangnya-kicau-burung-di-habitat-aslinya-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/08/ancaman-hilangnya-kicau-burung-di-habitat-aslinya-2/#respond</comments>
					<pubDate>08 Apr 2026 01:00:01 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Mongabay]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/02/22041019/Kucica-hutan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126214</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[indonesia]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, gaya hidup, hutan indonesia, infrastruktur, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Awal tahun ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali menggagalkan upaya penyelundupan 7.355 burung dari beragam jenis, termasuk spesies yang dilindungi. Ada burung kacamata wallacea, manyar, prenjak, srigunting cucak kombo dan gelatik batu. Angka ini menjadi kasus penyelundupan terbesar dalam tiga tahun terakhir. Di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/ancaman-hilangnya-kicau-burung-di-habitat-aslinya-2/">Ancaman Hilangnya Kicau Burung di Habitat Aslinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, ikuti WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Awal tahun ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bali menggagalkan upaya penyelundupan 7.355 burung dari beragam jenis, termasuk spesies yang dilindungi. Ada burung kacamata wallacea, manyar, prenjak, srigunting cucak kombo dan gelatik batu. Angka ini menjadi kasus penyelundupan terbesar dalam tiga tahun terakhir. Di Indonesia, memelihara burung kicau dalam sangkar tak hanya sekedar hobi, tapi bagian dari budaya dan mencerminkan status sosial. Tak hanya itu, popularitasnya kini menjadi industri yang menguntungkan dengan munculnya beragam kontes burung kicau. Berdasarkan data Badan Karantina Indonesia tahun 2022-2024, terdapat 801 kasus penyelundupan satwa liar di Indonesia. Jumlah spesiesnya mencapai 193.000 satwa liar dan 172.000 burung—166.000 merupakan burung kicau. Kanitha Krishnasamy, Direktur Monitoring Perdagangan Satwa Liar TRAFFIC untuk wilayah Asia Tenggara menyebutkan perdagangan burung dan penyitaan besar-besaran kini menimbulkan kekhawatiran. Ini tentu menyebabkan penurunan jumlah spesies secara cepat di alam dan mendorong spesies menuju kepunahan. Perdagangan pun tak hanya di pasar fisik, tapi merambah pasar online di Indonesia. Peneliti dari Center for International Forestry Research (CIFOR) mengembangkan Support Vector Machine untuk mengumpulkan semua daftar iklan burung kicau dari pasar online di Indonesia. Mereka menggunakan metode web-scraping dan mengidentifikasi sebanyak 284.118 iklan burung kicau di satu situs e-commerce dalam periode April 2020 hingga September 2021. Dari jumlah itu, tercatat sedikitnya 284.118 individu burung diperdagangkan secara online. Dari data tersebut, lebih dari 6% merupakan spesies yang terancam punah, termasuk jalak suren (Gracupica jalla) dan cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) yang berstatus kritis. Situasi ini kian buruk tanpa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/ancaman-hilangnya-kicau-burung-di-habitat-aslinya-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/08/ancaman-hilangnya-kicau-burung-di-habitat-aslinya-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Satu-satunya di Dunia, Inilah Ular Laut yang Tidak Pernah Hidup di Laut</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/08/satu-satunya-di-dunia-inilah-ular-laut-yang-tidak-pernah-hidup-di-laut/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/08/satu-satunya-di-dunia-inilah-ular-laut-yang-tidak-pernah-hidup-di-laut/#respond</comments>
					<pubDate>08 Apr 2026 00:17:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232006/taal-lake-sea-snake-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126216</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alam sering kali menyimpan rahasia di balik nama yang tampak kontradiktif. Di Filipina, terdapat sebuah fenomena biologi yang unik: seekor ular laut yang justru menjadikan air tawar sebagai tempat tinggalnya. Hydrophis semperi, atau ular laut garman, adalah penghuni kawah vulkanik yang telah memutus hubungan dengan leluhur mereka di lautan. Ia menjadi satu-satunya ular laut sejati [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/satu-satunya-di-dunia-inilah-ular-laut-yang-tidak-pernah-hidup-di-laut/">Satu-satunya di Dunia, Inilah Ular Laut yang Tidak Pernah Hidup di Laut</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alam sering kali menyimpan rahasia di balik nama yang tampak kontradiktif. Di Filipina, terdapat sebuah fenomena biologi yang unik: seekor ular laut yang justru menjadikan air tawar sebagai tempat tinggalnya. Hydrophis semperi, atau ular laut garman, adalah penghuni kawah vulkanik yang telah memutus hubungan dengan leluhur mereka di lautan. Ia menjadi satu-satunya ular laut sejati yang berhasil melakukan lompatan evolusi ekstrem, berpindah dari asinnya lautan ke ketenangan danau air tawar di pedalaman. Penting untuk dicatat bahwa meski ada spesies ular laut lain yang tidak hidup di laut, yaitu ular laut crocker (Laticauda crockeri) di Kepulauan Solomon, keduanya memiliki perbedaan fundamental. Ular laut crocker mendiami lingkungan air payau dan masih memiliki sifat amfibi yang memungkinkannya naik ke daratan. Sebaliknya, ular laut garman adalah ular laut sejati dari keluarga Elapidae yang tidak pernah menyentuh air asin sedikit pun dan menghabiskan seluruh siklus hidupnya di dalam air tawar. Keberadaannya di Danau Taal menjadikannya satu-satunya di dunia yang mampu melakukan transisi fisiologis se-ekstrem itu. Dinamika Geologis dan Adaptasi Morfologi di Kaldera Taal Ular laut garman menghuni Danau Taal yang terletak di Provinsi Batangas, sekitar 60 kilometer di sebelah selatan Manila. Lokasi yang relatif dekat dengan pusat populasi manusia ini menjadikannya sangat rentan. Danau ini terbentuk akibat runtuhnya ruang vulkanik saat letusan dahsyat pada tahun 1754. Material letusan membendung jalur menuju laut dan memerangkap berbagai makhluk laut di dalamnya. Seiring waktu, akumulasi air hujan mengubah air yang dulunya asin menjadi tawar. Kondisi ini memaksa nenek moyang ular laut garman beradaptasi secara total agar bisa bertahan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/08/satu-satunya-di-dunia-inilah-ular-laut-yang-tidak-pernah-hidup-di-laut/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/08/satu-satunya-di-dunia-inilah-ular-laut-yang-tidak-pernah-hidup-di-laut/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lebih Tua dari T-Rex: Gegat Adalah Serangga Tertua di Dunia yang Hidup di Rumah Kita</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/07/lebih-tua-dari-t-rex-gegat-adalah-serangga-tertua-di-dunia-yang-hidup-di-rumah-kita/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/07/lebih-tua-dari-t-rex-gegat-adalah-serangga-tertua-di-dunia-yang-hidup-di-rumah-kita/#respond</comments>
					<pubDate>07 Apr 2026 12:46:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/07124123/IMG_1473-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126208</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gagat api atau Lepisma saccharinum merupakan spesies serangga dari ordo Zygentoma yang memiliki catatan sejarah evolusi sangat panjang. Di Indonesia, serangga kecil berwarna perak metalik ini sering ditemukan di area dengan tingkat kelembapan tinggi, seperti gudang penyimpanan buku atau sudut lemari pakaian. Meskipun sering dianggap sebagai hama pemukiman karena aktivitas makannya yang merusak material berbasis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/lebih-tua-dari-t-rex-gegat-adalah-serangga-tertua-di-dunia-yang-hidup-di-rumah-kita/">Lebih Tua dari T-Rex: Gegat Adalah Serangga Tertua di Dunia yang Hidup di Rumah Kita</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gagat api atau Lepisma saccharinum merupakan spesies serangga dari ordo Zygentoma yang memiliki catatan sejarah evolusi sangat panjang. Di Indonesia, serangga kecil berwarna perak metalik ini sering ditemukan di area dengan tingkat kelembapan tinggi, seperti gudang penyimpanan buku atau sudut lemari pakaian. Meskipun sering dianggap sebagai hama pemukiman karena aktivitas makannya yang merusak material berbasis pati, gagat api secara biologis merupakan saksi hidup perkembangan kehidupan di bumi yang telah ada jauh sebelum kemunculan dinosaurus. Kehadiran gegat di dalam ruangan sering kali menjadi indikator alami tingkat kelembapan yang tinggi. Sebagai penyintas kepunahan massal, mereka adalah ahli dalam menemukan sumber mikronutrisi di lingkungan yang paling ekstrem sekalipun. Foto: Christian Fischer/Wikimedia Commons. Secara taksonomi, gagat api diklasifikasikan sebagai serangga primitif yang tidak mengalami perubahan morfologi signifikan selama jutaan tahun. Keberhasilan mereka bertahan hidup melintasi berbagai periode kepunahan massal menjadi subjek penelitian yang menarik dalam bidang entomologi dan biologi evolusi. Dengan struktur tubuh yang sederhana namun sangat adaptif, makhluk ini mampu menempati berbagai relung ekologi, mulai dari ekosistem hutan alami hingga lingkungan antropogenik yang diciptakan oleh manusia. Memahami karakteristik biologi mereka memberikan wawasan penting mengenai strategi pertahanan hidup spesifik yang memungkinkan suatu spesies bertahan dalam jangka waktu geologis yang sangat lama. Jejak Evolusi yang Melampaui Era Dinosaurus Gagat api termasuk dalam kelompok serangga yang secara filogenetik sangat primitif. Berdasarkan catatan fosil dan analisis genetik terbaru, nenek moyang mereka diperkirakan sudah ada sejak periode Devonian, yakni sekitar 400 juta tahun yang lalu. Sebagai perbandingan, dinosaurus ikonik seperti Tyrannosaurus rex baru muncul pada periode Kapur, sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/lebih-tua-dari-t-rex-gegat-adalah-serangga-tertua-di-dunia-yang-hidup-di-rumah-kita/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/07/lebih-tua-dari-t-rex-gegat-adalah-serangga-tertua-di-dunia-yang-hidup-di-rumah-kita/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Waswas Perjanjian Dagang Indonesia-Amerika Serikat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/07/waswas-perjanjian-dagang-indonesia-amerika-serikat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/07/waswas-perjanjian-dagang-indonesia-amerika-serikat/#respond</comments>
					<pubDate>07 Apr 2026 07:00:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232758/DAMPAK-PERUBAHAN-IKLIM-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126084</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[banten dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wahana Lingkungan Hidup indonesia (Walhi) mengkritik perjanjian perdagangan resiprokal atau agreement on reciprocal trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Organsasi lingkungan ini menilai, kesepakatan itu tak seimbang dan berisiko tekan sumber lokal karena gempuran pangan impor, kerusakan lingkungan dan berdampak bagi  kehidupan perempuan. “Lebih dari sekadar tarif, perjanjian ini juga mendorong perubahan kebijakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/waswas-perjanjian-dagang-indonesia-amerika-serikat/">Waswas Perjanjian Dagang Indonesia-Amerika Serikat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wahana Lingkungan Hidup indonesia (Walhi) mengkritik perjanjian perdagangan resiprokal atau agreement on reciprocal trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Organsasi lingkungan ini menilai, kesepakatan itu tak seimbang dan berisiko tekan sumber lokal karena gempuran pangan impor, kerusakan lingkungan dan berdampak bagi  kehidupan perempuan. “Lebih dari sekadar tarif, perjanjian ini juga mendorong perubahan kebijakan domestik yang melemahkan kedaulatan negara dan memperluas ruang bagi kepentingan asing,” kata Mida Saragih, Pengkampanye Perlindungan Pesisir dan Laut Eksekutif Nasional Walhi,  dalam diskusi publik bertajuk Bacaan Dampak Perjanjian Dagang Resiprokal terhadap Lingkungan dan Perempuan, 9 Maret lalu. Dia menilai, ART mengancam hak perempuan, memperparah feminasi kemiskinan, memperdalam ketimpangan agraria, serta meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender. Perjanjian itu mewajibkan Indonesia belanja hingga US$33 miliar ke AS, termasuk impor komoditas pangan seperti gandum dan kedelai. Sejumlah pasal dalam perjanjian itu, juga membuka peluang perusahaan AS memiliki kepemilikan penuh dalam sektor energi dan pertambangan di kawasan hutan Indonesia. Mida bilang, ketidakseimbangan terlihat dari sekitar 214 frasa yang menyatakan kewajiban Indonesia. Dari sisi AS, hanya sekitar sembilan poin. Selain itu, hanya sekitar 5% pasal di perjanjian ini yang mengatur soal tarif perdagangan. Sisanya, 95%, mengatur kebijakan non-tarif. Padahal, Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan AS. Misal, pada 2025, ekspor Indonesia ke AS sekitar US$35,96 miliar, sedangkan ekspor AS ke Indonesia hanya sekitar US$12,8 miliar. “Surplus Indonesia mencapai sekitar US$23 miliar.” Namun, melalui perjanjian ini, AS berupaya mengatasi defisit perdagangan tersebut dengan membuka pasar lebih luas bagi produk mereka di Indonesia. Perjanjian ini, katanya, memaksa pembentukan Dewan Perdagangan dan Investasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/waswas-perjanjian-dagang-indonesia-amerika-serikat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/07/waswas-perjanjian-dagang-indonesia-amerika-serikat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menjaga Asa Tarsius Bangka di Gunung Menumbing</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/07/menjaga-asa-tarsius-bangka-di-gunung-menumbing/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/07/menjaga-asa-tarsius-bangka-di-gunung-menumbing/#respond</comments>
					<pubDate>07 Apr 2026 04:06:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/10/22010554/Mentilin-salah-satu-satwa-langka-yang-masih-mudah-ditemui-di-Bukit-Peramun.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126193</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gunung Menumbing, sebuah bukit di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Bukit yang puncaknya 445 meter di atas permukaan laut ini, dikenal bukan hanya sebagai tempat pengasingan Soekarno dan Hatta di masa pendudukan Belanda, juga rumah bagi beragam jenis flora dan fauna, khususnya mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus). Minggu (29/3/2026) siang, Mulyadi (49), [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/menjaga-asa-tarsius-bangka-di-gunung-menumbing/">Menjaga Asa Tarsius Bangka di Gunung Menumbing</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gunung Menumbing, sebuah bukit di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Bukit yang puncaknya 445 meter di atas permukaan laut ini, dikenal bukan hanya sebagai tempat pengasingan Soekarno dan Hatta di masa pendudukan Belanda, juga rumah bagi beragam jenis flora dan fauna, khususnya mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus). Minggu (29/3/2026) siang, Mulyadi (49), Teddy Toriko (49), dan Narto (44) mendampingi Mongabay Indonesia memasuki kawasan Tahura (Taman Hutan Raya) Gunung Menumbing yang luasnya 3.300 hektar. Mereka adalah petugas Pamhut (Pengamanan Hutan) Tahura Gunung Menumbing. “Hutan ini habitatnya mentilin,” kata Narto, saat di hutan yang tidak jauh dari sebuah aliran sungai kecil. “Kalau ingin melihat mentilin harus malam hari dan sehabis hujan. Siang hari mereka sulit terlihat, mungkin karena ukurannya yang kecil dan tengah istirahat,” lanjutnya. Meskipun belum ada data pasti populasi mentilin di Gunung Menumbing, Narto memperkirakan terdapat puluhan hingga seratusan individu. “Semoga mereka hidup aman di sini dan populasinya terjaga.” Mentilin atau tarsius bangka (Cephalopachus bancanus bancanus) yang menjadikan Tahura Gunung Menumbing sebagai habitatnya. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia Mentilin atau dikenal juga sebagai Horsfield&#8217;s Tarsier, adalah primata nokturnal mungil yang bermata besar dan memiliki kaki belakang panjang untuk melompat secara vertikal. “Mentilin sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai satwa endemik Pulau Bangka maupun endemik Indonesia. Mengingat, distribusinya juga mencakup wilayah Malaysia dan bagian lain di Indonesia,” kata Randi Syafutra, peneliti satwa dan dosen di Program Studi Konservasi Sumber Daya Alam [KSDA], Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, kepada Mongabay Indonesia, Rabu (1/4/2026). Dijelaskan Randi, secara ekologis, Tahura Gunung Menumbing memiliki kesesuaian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/menjaga-asa-tarsius-bangka-di-gunung-menumbing/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/07/menjaga-asa-tarsius-bangka-di-gunung-menumbing/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El-Nino &#8216;Godzilla&#8217;, Alarm Krisis Iklim di Depan Mata</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/el-nino-godzilla-alarm-krisis-iklim-di-depan-mata/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/el-nino-godzilla-alarm-krisis-iklim-di-depan-mata/#respond</comments>
					<pubDate>07 Apr 2026 03:06:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Kadek Dian Dwiyanti H.*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/01034456/WhatsApp-Image-2026-03-31-at-20.42.15-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=126166</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Fenomena El Nino ‘Godzilla’ akan menguat di bulan April-Oktober 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional mengingatkan Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang. Ancaman kekeringan dan kebakaran lahan kian mengintai.  Anomali pemanasan suhu permukaan yang sangat signifikan menjadi salah satu kejadian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/el-nino-godzilla-alarm-krisis-iklim-di-depan-mata/">El-Nino &#8216;Godzilla&#8217;, Alarm Krisis Iklim di Depan Mata</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yuk, segera follow WhatsApp Channel Mongabay Indonesia dan dapatkan artikel terbaru setiap harinya. Fenomena El Nino ‘Godzilla’ akan menguat di bulan April-Oktober 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional mengingatkan Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang. Ancaman kekeringan dan kebakaran lahan kian mengintai.  Anomali pemanasan suhu permukaan yang sangat signifikan menjadi salah satu kejadian krisis iklim yang makin sering kita rasakan. Kejadian lingkungan tak pernah berhenti selama aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan dan sikap serakah terus terjadi. Bulan Maret ini banyak kejadian bagaimana kejadian alam tak lepas dari hubungannya dengan manusia. Salah satunya, spesies ular beludak di Gunung Muria yang terancam akibat minimnya pengetahuan masyarakat terkait karakternya. Alih-alih berbahaya dan mengancam, ular ini justru pengendali ekosistem yang baik. Selain itu, kita juga akan menceritakan tentang kerbau yang memiliki kemampuan unik. Salah satunya, kerbau rawa di Kalimantan Selatan. Berbeda dengan kebiasaannya untuk membajak sawah, kerbau ini ternyata juga mampu menyelam.  Ada juga laporan investigasi yang mengungkap terkait kerugian negara akibat praktik tambang emas ilegal. Perputaran uang dari aktivitas ini mencapai Rp 992 Triliun atau mendekati seperempat APBN. Sementara itu, di industri perikanan, praktik kerja paksa masih ditemukan dalam rantai produksi tuna.  Selain cerita permasalahan lingkungan, ada cerita baik dari Jambi tentang perempuan-perempuan Komunitas Batin Sembilan yang merawat pengetahuan tentang pengobatan alami dari hutan. Ini tak hanya bicara tradisi, tapi ini upaya mereka mempertahankan hubungan mereka dengan alam.  Berikut lima artikel dalam bulan Maret dengan pembaca terbanyak melalui kurasi editorial: &nbsp; 1. Ular beludak, penjaga ekosistem Gunung Muria Ular beludak merupakan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/el-nino-godzilla-alarm-krisis-iklim-di-depan-mata/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/04/el-nino-godzilla-alarm-krisis-iklim-di-depan-mata/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebijakan Tata Ruang Terus Kikis Ruang Hijau Batam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/07/tata-ruang-batam-antara-ambisi-industri-dan-krisis-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/07/tata-ruang-batam-antara-ambisi-industri-dan-krisis-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>07 Apr 2026 01:58:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/07162454/Cuplikan-layar-2025-12-05-074607-768x511.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126141</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dalam beberapa tahun terakhir, wajah Kota Batam berubah sangat cepat, antara lain, hutan mangrove terus terkikis berubah jadi berbagai peruntukan. Semua itu tak lepas dari ambisi pemerintah jadikan pulau di wilayah barat Indonesia ini sebagai motor pertumbuhan ekonomi melalui industri, perdagangan, dan logistik internasional.  Dokumen perencanaan seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2021–2041 hingga Rencana [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/tata-ruang-batam-antara-ambisi-industri-dan-krisis-lingkungan/">Kebijakan Tata Ruang Terus Kikis Ruang Hijau Batam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dalam beberapa tahun terakhir, wajah Kota Batam berubah sangat cepat, antara lain, hutan mangrove terus terkikis berubah jadi berbagai peruntukan. Semua itu tak lepas dari ambisi pemerintah jadikan pulau di wilayah barat Indonesia ini sebagai motor pertumbuhan ekonomi melalui industri, perdagangan, dan logistik internasional.  Dokumen perencanaan seperti Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2021–2041 hingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Batam terbaru memperlihatkan ambisi besar mulai dari perluasan kawasan industri, pengembangan pelabuhan, investasi, hingga reklamasi pesisir dalam skala luas. Pertanyaannya, apakah ruang Batam masih mampu menopang laju pembangunan itu? Terlihat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan ada tekanan serius terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan. Demikian antara lain bahasan dalam diskusi masyarakat sipil di Batam, akhir Maret lalu.  Dalam diskusi itu mereka banyak menyoroti aktivitas reklamasi, degradasi kawasan pesisir dan hutan, serta keterbatasan ruang terbuka hijau menjadi sinyal bahwa tata ruang Batam tidak sedang berjalan dalam kondisi ideal. Alih-alih, berbagai dampak yang timbul memperkuat sinyalemen bahwa aktivitas pembangunan telah jauh melampaui daya dukung dan daya tampung Batam. Hadir dalam kegiatan itu, Hendrik Hermawan, Pendiri Akar Bhumi Indonesia (ABI); Supriyanto, akademisi  Tata Ruang;  Nofita Putri Manik,  Direktur LsBH Mars Keadilan (MK), serta Wahyu Eka Setiyawan, Manajer Kampanye Perkotaan Berkeadilan &amp; Divisi Riset Eksekutif Walhi Nasional. Warga Rempang membentangkan spanduk penolakan relokasi PSN Rempang Eco City. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia Daya dukung terbatas Hendrik Hermawan mengatakan, perubahan tata ruang Batam tak lepas dari dua faktor utama, yakni,  pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Sebagai lokomotif ekonomi nasional di bagian barat Indonesia, Batam terus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/07/tata-ruang-batam-antara-ambisi-industri-dan-krisis-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/07/tata-ruang-batam-antara-ambisi-industri-dan-krisis-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Menakar Percepatan Penetapan Hutan Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/opini-menakar-percepatan-penetapan-hutan-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/opini-menakar-percepatan-penetapan-hutan-adat/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 23:47:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[R. Yando Zakaria*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230639/Nikel-haltim-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126189</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>“Jadi dalam satu tahun ini dengan mencari pola, pattern yang baru, (diharapkan) pada tahun kedua nanti bisa akan lebih cepat lagi (kepastian hukum hutan adat lainnya). Hingga (harapannya) apa yang dikerjakan delapan tahun lalu, mungkin nanti bisa kami lampaui dalam waktu yang lebih pendek lagi,” kata Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan seperti dikutip dari Kantor Berita Antara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/opini-menakar-percepatan-penetapan-hutan-adat/">Opini: Menakar Percepatan Penetapan Hutan Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[“Jadi dalam satu tahun ini dengan mencari pola, pattern yang baru, (diharapkan) pada tahun kedua nanti bisa akan lebih cepat lagi (kepastian hukum hutan adat lainnya). Hingga (harapannya) apa yang dikerjakan delapan tahun lalu, mungkin nanti bisa kami lampaui dalam waktu yang lebih pendek lagi,” kata Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan seperti dikutip dari Kantor Berita Antara September tahun lalu. Data Kementerian Kehutanan 2025, dalam delapan tahun terakhir, penetapan hutan adat pemerintah hanya 160 unit, seluas 333.687 hektar, atau setara 20 unit per tahun. Pada masa Pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Rakka 2024-2029,  sasaran penetapan hutan adat 95 unit seluas 1.417.197 hektar hektar. Hutan adat seluas 1,4 jt hektar untuk 95 komunitas adat setara dengan 20 unit per tahun. Di mana letak percepatannya? Perlu dicatat, rendahnya capaian realisasi penetapan hutan adat dalam satu dekade terakhir mengidikasikan ada persoalan struktural (baca: kerangka kebijakan) yang menghadang upaya itu selama ini. Belajar dari pengalaman, syarat harus ada peraturan daerah dan, atau Surat Keputusan Bupati/Walikota yang menetapkan subyek dan obyek hak atas hutan adat, tidak mudah dipenuhi (Zakaria, 2024). Maka, sekadar mencari “pola baru” dalam struktur kebijakan yang menghambat itu, tentu mudah tergelincir menjadi upaya sia-sia belaka. Hutan adat yang terancam proyek pangan dan energi dan masyarakat adat terus bertahan. Foto: Yayasan Pusaka Beberapa kendala Menurut Kartodihardjo, et al. (2013), faktanya masyarakat tidak dapat memenuhi berbagai prosedur administrasi yang jadi syarat peraturan perundang-undangan turunan Putusan MK 35/2012 yang menjadi payung hukum penetapan hutan adat. Selain tidak sederhana, dalam praktik tidak ada standar baku dalam proses validasi dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/opini-menakar-percepatan-penetapan-hutan-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/opini-menakar-percepatan-penetapan-hutan-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Desak Revisi UU Kehutanan yang Berkadilan dan Berpihak Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/desak-revisi-uu-kehutanan-yang-berkadilan-dan-berpihak-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/desak-revisi-uu-kehutanan-yang-berkadilan-dan-berpihak-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 12:06:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ignatius Dwiana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/08/22073123/marena2-_MG_0335-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126061</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berbagai organisasi masyarakat sipil mendorong revisi Undang-undang 41/199 tentang Kehutanan yang tengah berlangsung di DPR memastikan perlindungan  hutan dan kepentingan masyarakat. Karena, selama ini, penegakan hukum belum optimal dan cenderung menjerat rakyat kecil. Henri Subagyo, peneliti senior Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL), mengatakan, negara lebih gesit dengan delik formil seperti menangkap warga yang membawa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/desak-revisi-uu-kehutanan-yang-berkadilan-dan-berpihak-lingkungan/">Desak Revisi UU Kehutanan yang Berkadilan dan Berpihak Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berbagai organisasi masyarakat sipil mendorong revisi Undang-undang 41/199 tentang Kehutanan yang tengah berlangsung di DPR memastikan perlindungan  hutan dan kepentingan masyarakat. Karena, selama ini, penegakan hukum belum optimal dan cenderung menjerat rakyat kecil. Henri Subagyo, peneliti senior Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL), mengatakan, negara lebih gesit dengan delik formil seperti menangkap warga yang membawa parang atau mengangkut kayu tanpa surat, ketimbang delik materiil seperti mengusut kerusakan hutan yang terlihat. Akibatnya, ada kegagalan menyasar kejahatan kehutanan yang terorganisir. “Aneh sekali. Kita bisa menerbangkan drone dan melihat hutan gundul di mana-mana secara kasat mata tetapi tidak ada tersangkanya,” katanya dalam diskusi  Koalisi Masyarakat Sipil Advokasi UU Kehutanan helat di Jakarta,  Maret lalu. Dia bilang, studi ICEL terhadap putusan pengadilan 2019-2024 ihwal penerapan UU 18/2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H), menunjukkan penegakan hukum belum optimal. Hanya enam korporasi kena tindakan hukum, sedang dominan, atau 54 warga. Selama ini, katanya, aparat sering jadi satu-satunya pengendali sistem penegakan hukum hingga masyarakat sipil jarang terlibat. Karena itu, dia mendorong penguatan peran publik melalui akses informasi, partisipasi, dan mekanisme pengaduan. Revisi UU Kehutanan, jadi momentum untuk mendorong hal itu. Karena regulasi sebelumnya hampir tidak pernah membahas sistem pengaduan publik atau mekanisme partisipasi warga. “Penting juga hak menggugat secara administrasi. Keputusan penetapan kawasan hutan atau izin kehutanan seharusnya dapat dipersoalkan oleh masyarakat tanpa prosedur yang berbelit.” Mardi Minangsari, dari Perkumpulan Kaoem Telapak, menyatakan hal serupa. Dia bilang, peran publik jadi penting untuk pengawasan karena selama ini negara gagal mengawasi hutan. Salah satu alasan personil terbatas.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/desak-revisi-uu-kehutanan-yang-berkadilan-dan-berpihak-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/desak-revisi-uu-kehutanan-yang-berkadilan-dan-berpihak-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan &#8220;Spider-man&#8221;, Ikan Kecil yang Sanggup Mendaki Dinding Batu Terjal Selama 10 Jam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/ikan-spider-man-ikan-kecil-yang-sanggup-mendaki-dinding-batu-terjal-selama-10-jam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/ikan-spider-man-ikan-kecil-yang-sanggup-mendaki-dinding-batu-terjal-selama-10-jam/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 10:55:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/06104635/IMG_1460-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126183</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fenomena migrasi ikan umumnya dipahami sebagai pergerakan horizontal di dalam air. Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports mengungkap perilaku luar biasa pada spesies ikan air tawar di Republik Demokratik Kongo. Ikan shellear (Parakneria thysi) tercatat mampu melakukan migrasi vertikal dengan memanjat dinding air terjun Luvilombo yang tegak lurus setinggi 15 meter. Temuan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/ikan-spider-man-ikan-kecil-yang-sanggup-mendaki-dinding-batu-terjal-selama-10-jam/">Ikan &#8220;Spider-man&#8221;, Ikan Kecil yang Sanggup Mendaki Dinding Batu Terjal Selama 10 Jam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fenomena migrasi ikan umumnya dipahami sebagai pergerakan horizontal di dalam air. Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports mengungkap perilaku luar biasa pada spesies ikan air tawar di Republik Demokratik Kongo. Ikan shellear (Parakneria thysi) tercatat mampu melakukan migrasi vertikal dengan memanjat dinding air terjun Luvilombo yang tegak lurus setinggi 15 meter. Temuan ini menjadi dokumentasi formal pertama mengenai perilaku memanjat pada ikan di benua Afrika. Spesies ini memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil, rata-rata hanya sepanjang 5 sentimeter atau seukuran sepotong kentang goreng. Dalam pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dari Université de Lubumbashi dan Royal Museum for Central Africa, ribuan individu shellear terlihat merayap di permukaan batu di balik tirai air terjun. Secara teknis, pendakian ini merupakan pencapaian luar biasa bagi biota air karena mereka harus melawan gravitasi dan arus air secara bersamaan selama hampir 10 jam untuk mencapai puncak hulu. Mekanisme Adaptasi dan Anatomi Kemampuan memanjat layaknya &#8220;Spider-man&#8221; ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari adaptasi anatomi yang sangat spesifik. Ikan ini memiliki sirip pektoral khusus yang pada bagian depannya dilengkapi dengan susunan kait mikro. Struktur tersebut bekerja mirip dengan Velcro untuk mencengkeram permukaan batu yang licin di zona percikan air terjun. Selain itu, terdapat korset pektoral yang merupakan struktur tulang kuat untuk mendukung kerja otot besar yang dibutuhkan saat memanjat. Selama proses pendakian yang melelahkan, ikan juga menggunakan sirip pelvis sebagai penopang utama saat mereka berhenti sejenak untuk beristirahat di celah-celah batu. Tinjauan Spesies dan Lokasi Studi. (a) Spesimen hidup Parakneria thysi seukuran ~60 mm&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/ikan-spider-man-ikan-kecil-yang-sanggup-mendaki-dinding-batu-terjal-selama-10-jam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/ikan-spider-man-ikan-kecil-yang-sanggup-mendaki-dinding-batu-terjal-selama-10-jam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sains untuk Pengelolaan Perikanan Skala Kecil di Indonesia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/sains-untuk-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-di-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/sains-untuk-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-di-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 07:10:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2019/10/22055505/Nelayan-yang-mencari-ikan-di-Sungai-Lalan-yang-berbatasan-di-TN-Sembilang-yang-terdapat-mangrove.-Foto-Nopri-Ismi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126177</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pengelolaan perikanan skala kecil di Indonesia, kini didorong untuk mengadopsi pendekatan berbasis sains dan teknologi. Keterbatasan data yang sering menjadi hambatan utama dalam merumuskan kebijakan di kawasan pesisir, mulai dicarikan solusi. Melalui pendekatan baru berbasis simulasi komputer yang memungkinkan pengujian strategi pemanfaatan atau harvest strategy sebelum diterapkan di lapangan, diharapkan dapat membantu nelayan pesisir menjaga [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/sains-untuk-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-di-indonesia/">Sains untuk Pengelolaan Perikanan Skala Kecil di Indonesia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pengelolaan perikanan skala kecil di Indonesia, kini didorong untuk mengadopsi pendekatan berbasis sains dan teknologi. Keterbatasan data yang sering menjadi hambatan utama dalam merumuskan kebijakan di kawasan pesisir, mulai dicarikan solusi. Melalui pendekatan baru berbasis simulasi komputer yang memungkinkan pengujian strategi pemanfaatan atau harvest strategy sebelum diterapkan di lapangan, diharapkan dapat membantu nelayan pesisir menjaga keberlanjutan stok ikan. Terutama, meningkatkan hasil tangkapan. Sektor perikanan pesisir yang sarat akan tangkapan multispesies dan alat tangkap beragam, minim akan data rentang waktu historis (time series) tangkapan yang lengkap. Ini berisiko meningkatkan ketidakpastian setiap perumusan tata kelola. Sementara, istilah harvest strategy terdengar teknis bagi masyarakat awam, terutama bagi nelayan kecil dan tradisional. Tri Ernawati, peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, menjelaskan bahwa harvest strategy bukan aturan tunggal, melainkan sebuah ekosistem pengelolaan. Menurutnya, strategi ini kumpulan berbagai komponen saling terkait, mulai dari pemantauan (monitoring), pengkajian stok, hingga aturan pengendalian pemanfaatan atau harvest control rule (HCR). &#8220;Ini kesatuan kerangka kerja formal. Di dalamnya ada monitoring, ada pengkajian, dan yang paling krusial adalah aturan pengendalian. Tanpa aturan pengendalian yang jelas, pengelolaan tidak akan berjalan secara adaptif,&#8221; ujarnya dalam kuliah umum daring kolaboratif, bertajuk “Pengembangan dan Penerapan Kerangka Kerja Pengujian Simulasi Strategi Pemanfaatan untuk Perikanan Skala Kecil yang Dikelola Masyarakat” pada Jumat (27/3/2026). Pengelolaan perikanan tidak boleh terhenti hanya karena keterbatasan data atau data yang dianggap belum komprehensif. “Data yang ada bisa digunakan sebagai bahan baku untuk dikemas  dalam pengelolaan perikanan.” Nelayan kecil melakukan pengecatan perahunya yang rusak. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Adrian Hordyk, Kepala Teknologi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/sains-untuk-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-di-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/sains-untuk-pengelolaan-perikanan-skala-kecil-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Begini Berbagai Modus Jual Beli Satwa Ilegal secara Online</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/begini-berbagai-modus-jual-beli-satwa-ilegal-secara-online/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/begini-berbagai-modus-jual-beli-satwa-ilegal-secara-online/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 05:04:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/06050222/Belingcat-foto--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126169</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Satwa liar terus jadi target perdagangan baik di pasar konvensional, maupun di platform digital, seperti media sosial Facebook dan pasar daring. Investigasi Mongabay dan Bellingcat menemukan sejumlah trik dan modus para pelaku melancarkan aksinya, meski platform digital melarang aktivitas jual-beli satwa liar. Bagaimana modus mereka beraksi? Dalam investigasi Mongabay dan Belingcat, para pelaku memanfaatkan grup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/begini-berbagai-modus-jual-beli-satwa-ilegal-secara-online/">Begini Berbagai Modus Jual Beli Satwa Ilegal secara Online</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Satwa liar terus jadi target perdagangan baik di pasar konvensional, maupun di platform digital, seperti media sosial Facebook dan pasar daring. Investigasi Mongabay dan Bellingcat menemukan sejumlah trik dan modus para pelaku melancarkan aksinya, meski platform digital melarang aktivitas jual-beli satwa liar. Bagaimana modus mereka beraksi? Dalam investigasi Mongabay dan Belingcat, para pelaku memanfaatkan grup Facebook sebagai sarana jual-beli satwa liar ilegal. Nama grup disamarkan dengan sebutan ‘adopsi hewan peliharaan’  yang disertai nama daerah. Bellingcat menelusuri sedikitnya sembilan grup yang total anggota lebih 70.000 orang, dengan pelbagai nama, antara lain, Adopsi Musang Depok; Rumah Adopsi Musang Bogor &amp; sekitarnya; Adopsi Musang Depok Citayam dan sekitarnya. Ada juga grup bernama “Forum Jual Beli Hewan Bogor Barat,” salah satu anggota memposting iklan penjualan seekor rangkong badak yang berstatus rentan. Di grup itu lebih dari 200 posting iklan hanya dalam seminggu. Sebanyak 18 iklan menawarkan spesies berstatus rentan, seperti dua bayi owa Jawa dan berang-berang. Grup lain juga memperjualbelikan beragam spesies dilindungi, seperti bubut jawa, celepuk jawa, lutung jawa, binturong, dan rangkong kalung. Aktivitas ilegal ini berlangsung bertahun-tahun. Tiga dari sembilan grup sudah aktif di Facebook,  selama lima tahun. Empat grup lain aktif selama 12 bulan lebih, dua yang lain mulai 2025. Tangkapan layar iklan anak rangkong badak, spesies yang dilindungi dan berstatus rentan, diposting di Facebook pada 11 Juli 2025. Foto: Bellingcat. Gunakan kode Anggota grup menggunakan kode dalam bertransaksi secara online. Praktik ini untuk menghindari pemblokiran grup oleh Meta yang telah melarang perdagangan hewan di semua platformnya. Kode alfanumerik dipakai untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/begini-berbagai-modus-jual-beli-satwa-ilegal-secara-online/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/begini-berbagai-modus-jual-beli-satwa-ilegal-secara-online/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Daerah Tak Berdaya Hadapi Ekspansi Proyek Nasional?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/06/daerah-tak-berdaya-hadapi-ekspansi-proyek-nasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/06/daerah-tak-berdaya-hadapi-ekspansi-proyek-nasional/#respond</comments>
					<pubDate>06 Apr 2026 02:05:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ Belseran *]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/05/22013330/Pomalaa-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126162</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kajian Komunitas Teras tentang konflik tata ruang dan ekspansi proyek strategis nasional (PSN) di Sulawesi Tenggara (Sultra) memantik respons dari berbagai kalangan baik  pemerintah pusat, daerah, hingga organisasi masyarakat sipil. Pemerintah (pusat) klaim PSN sudah melalui mekanisme evaluasi berlapis dan menjadi kepentingan nasional.  Sisi lain, pemerintah daerah (pemda) merasa kerap tak terlibat sejak awal. Pemerintah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/daerah-tak-berdaya-hadapi-ekspansi-proyek-nasional/">Daerah Tak Berdaya Hadapi Ekspansi Proyek Nasional?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kajian Komunitas Teras tentang konflik tata ruang dan ekspansi proyek strategis nasional (PSN) di Sulawesi Tenggara (Sultra) memantik respons dari berbagai kalangan baik  pemerintah pusat, daerah, hingga organisasi masyarakat sipil. Pemerintah (pusat) klaim PSN sudah melalui mekanisme evaluasi berlapis dan menjadi kepentingan nasional.  Sisi lain, pemerintah daerah (pemda) merasa kerap tak terlibat sejak awal. Pemerintah Sultra, misal, menyebut sejumlah PSN di wilayahnya muncul tanpa komunikasi memadai. “PSN itu tiba-tiba muncul. Kami di daerah tidak diberi informasi sejak awal. Tiba-tiba ada penambahan proyek, termasuk kawasan industri baru,” kata Nurfitrah Edyansyah, Perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Sultra dalam diskusi kajian tentang konflik tata ruang dan ekspansi PSN di Jakarta, Kamis (12/3/26) . Kehadiran tiga kawasan industri baru dalam skema PSN di Sultra, katanya, tanpa proses konsultasi yang jelas. Akibatnya, pemda alami dilema. Terutama ketika wilayah yang direncanakan telah padat dengan izin atau ruang hidup masyarakat. “Kalau semua wilayah sudah masuk izin, lalu ditambah lagi PSN, pertanyaannya: masyarakat mau tinggal di mana?” katanya. Secara formal, pemda memang memiliki ruang untuk memberikan masukan, baik menerima dengan syarat maupun menolak dalam forum pembahasan teknis. Namun, dalam praktiknya, ruang tersebut sangat terbatas. Lokasi penambangan ilegal tanpa IUP dan Amdal di Desa Oko-Oko, Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Foto: Gakkum LHK Wilayah Sulawesi. Dalih pemerintah pusat Dedi Rohimat S, Perwakilan Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, mengatakan, penetapan PSN tidak secara tiba-tiba. Dia bilang, ada tahapan evaluasi yang libatkan lintas kementerian. Dia berdalih, setiap PSN, melalui kajian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/06/daerah-tak-berdaya-hadapi-ekspansi-proyek-nasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/06/daerah-tak-berdaya-hadapi-ekspansi-proyek-nasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/#respond</comments>
					<pubDate>05 Apr 2026 09:46:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/05093443/Parijoto3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126156</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sudah hampir tiga dekade, Mashuri (62) membudidayakan parijoto di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Dari kebun seluas 1,4 hektar, lelaki asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kini bisa meraup penghasilan harian dari buah yang dulu jarang dilirik sebagai komoditas ekonomi. Di bawah naungan pepohonan hutan, Medinilla speciosa ini tumbuh berdampingan dengan kopi dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/">Bukan Hanya Simbol Konservasi, Parijoto Sumber Daya Genetik Gunung Muria</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sudah hampir tiga dekade, Mashuri (62) membudidayakan parijoto di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Dari kebun seluas 1,4 hektar, lelaki asal Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, kini bisa meraup penghasilan harian dari buah yang dulu jarang dilirik sebagai komoditas ekonomi. Di bawah naungan pepohonan hutan, Medinilla speciosa ini tumbuh berdampingan dengan kopi dan tanaman lain, membentuk lanskap kebun tetap teduh yang produktif. “Dulu, buah khas Muria ini belum banyak dibudidayakan,” ujar Huri, yang mulai menanam parijoto sejak 1996, Selasa (31/4/2026). Seringnya, warga memetik langsung di hutan, tanpa ada upaya serius untuk menanam atau mengelolanya sebagai sumber penghasilan. Seiring waktu, situasi berubah. Parijoto dikenal luas, terutama oleh para peziarah yang datang ke kawasan Gunung Muria. Buah kecil berwarna ungu kemerahan ini dipercaya punya nilai simbolik, bahkan dikaitkan dengan kisah Sunan Muria. Dari sini, permintaan mulai tumbuh. Melihat peluang itu, Huri bersama sejumlah petani mulai membudidayakan parijoto di kebun mereka. Menanamnya tak menebang pohon-pohon besar, melainkan memanfaatkan naungan alami yang ada. “Harus di bawah pohon, tidak bisa kena sinar matahari langsung.” Tumbuhan parijoto yang menjadi simbol konservasi Gunung Muria. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Pola tanam ini menjadikan kebun parijoto tetap menyerupai hutan. Pepohonan seperti alpukat dan berbagai jenis kayu hutan dibiarkan tumbuh, menciptakan ekosistem yang mendukung keberlangsungan tanaman. Selain menjaga kesuburan tanah, cara ini juga membantu mempertahankan keseimbangan lingkungan di lereng Muria. Berbeda dengan kopi yang hanya panen setahun sekali, parijoto fleksibel. Pada musim hujan, Huri bisa memetik buahnya hampir setiap hari. Hasil panen juga bisa langsung dijual pada wisatawan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/05/bukan-hanya-simbol-konservasi-parijoto-sumber-daya-genetik-gunung-muria/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akankah Perlindungan Masyarakat Adat di Nusantara Ini Terwujud?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/#respond</comments>
					<pubDate>05 Apr 2026 08:29:59 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/03/21232853/Pulau-Seram-HUtan-adat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=125954</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Konflik agraria antara  masyarakat adat dan perusahaan bahkan pemerintah terjadi di berbagai penjuru negeri. Salah satu, kojnflik lahan Masyarakat Adat Bahau Umaq Telivaq dengan perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim). Hingga kini, perusahaan tak juga penuhi tuntutan warga. Warga mendesak agar perusahaan mengembalikan lahan adat yang sebelumnya masuk dalam konsesi perusahaan. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/">Akankah Perlindungan Masyarakat Adat di Nusantara Ini Terwujud?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Konflik agraria antara  masyarakat adat dan perusahaan bahkan pemerintah terjadi di berbagai penjuru negeri. Salah satu, kojnflik lahan Masyarakat Adat Bahau Umaq Telivaq dengan perusahaan perkebunan sawit di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim). Hingga kini, perusahaan tak juga penuhi tuntutan warga. Warga mendesak agar perusahaan mengembalikan lahan adat yang sebelumnya masuk dalam konsesi perusahaan. Mereka juga menuntut perusahaan melakukan pemulihan lingkungan. Januarius Kayah, tokoh adat Bahau Umaq mengatakan, meski sudah satu dekade beroperasi, kehadiran  perusahaan tak bawa kebaikan pada masyarakat. Alih-alih, kesepakatan kerjasama dengan petani lokal melalui sistem inti plasma tak pernah terwujud. Warga juga mengeluhkan bau menyengat yang kerap kali menyeruak dari tepi sungai. Bahkan, tak sedikit warga yang menderita penyakit kulit. Sejak 2015, warga berulangkali mengeluhkan kondisi itu. Sejauh ini, belum mendapat tanggapan berarti. Padahal, gangguan kesehatan itu hampir semua lapisan usia alami. Termasuk mereka yang usia lanjut, dengan kulit mengelupas. “Kalau dulu kan, karena belum ada perusahaan ini, jernihnya (air). Kita ambil air minum dari situ. Kalau sekarang ini, jangankan untuk diminum, mandi saja nggak bisa (gatal-gatal),” katanya. Pemerintah  Mahulu, katanya, belum pernah berdialog dengan warga. Bahkan, untuk hadir menginisiasi mediasi antara perusahaan dengan masyarakat pun belum pernah pemerintah lakukan. Konflik di Kampung Matalibaq, hanyalah satu dari ratusan bahkan ribuan kasus serupa yang menimpa  masyarakat adat di nusantara ini. Jalan yang terbangun dengan membersihkan hutan dan lahan masyarakat adat Papua. Foto: Yayasan Pusaka Konflik tenurial Catatan Akhir Tahun 2025 Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), menyebutkan, konflik berupa perampasan wilayah adat, kriminalisasi, dan kekerasan terus terjadi di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/05/ketika-perlindungan-masyarakat-adat-semakin-jauh/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>