Fenomena migrasi ikan umumnya dipahami sebagai pergerakan horizontal di dalam air. Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports mengungkap perilaku luar biasa pada spesies ikan air tawar di Republik Demokratik Kongo. Ikan shellear (Parakneria thysi) tercatat mampu melakukan migrasi vertikal dengan memanjat dinding air terjun Luvilombo yang tegak lurus setinggi 15 meter. Temuan ini menjadi dokumentasi formal pertama mengenai perilaku memanjat pada ikan di benua Afrika.
Spesies ini memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil, rata-rata hanya sepanjang 5 sentimeter atau seukuran sepotong kentang goreng. Dalam pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dari Université de Lubumbashi dan Royal Museum for Central Africa, ribuan individu shellear terlihat merayap di permukaan batu di balik tirai air terjun. Secara teknis, pendakian ini merupakan pencapaian luar biasa bagi biota air karena mereka harus melawan gravitasi dan arus air secara bersamaan selama hampir 10 jam untuk mencapai puncak hulu.
Mekanisme Adaptasi dan Anatomi
Kemampuan memanjat layaknya “Spider-man” ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari adaptasi anatomi yang sangat spesifik. Ikan ini memiliki sirip pektoral khusus yang pada bagian depannya dilengkapi dengan susunan kait mikro. Struktur tersebut bekerja mirip dengan Velcro untuk mencengkeram permukaan batu yang licin di zona percikan air terjun.
Selain itu, terdapat korset pektoral yang merupakan struktur tulang kuat untuk mendukung kerja otot besar yang dibutuhkan saat memanjat. Selama proses pendakian yang melelahkan, ikan juga menggunakan sirip pelvis sebagai penopang utama saat mereka berhenti sejenak untuk beristirahat di celah-celah batu.

Melalui pemindaian CT, tim peneliti menemukan bahwa kombinasi fitur fisik ini memungkinkan ikan melakukan gerakan power burst atau undulasi lateral yang sangat cepat. Ikan-ikan ini seolah-olah sedang berenang secara vertikal di atas permukaan batu yang tegak lurus. Hanya individu muda dengan panjang tubuh di bawah 5 sentimeter yang sanggup mencapai puncak. Ikan yang lebih dewasa cenderung menjadi terlalu berat untuk menopang bobot tubuhnya sendiri saat harus memanjat secara vertikal dalam durasi yang lama.
Risiko Kepunahan dan Konektivitas Populasi
Dari sisi konservasi, temuan ini menjadi peringatan penting bagi pengelolaan wilayah sungai di Afrika. Ketergantungan ikan shellear pada aliran air terjun membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan bentang alam buatan manusia. Pembangunan bendungan atau pengalihan arus air untuk kepentingan irigasi yang menghentikan aliran air terjun dapat secara otomatis memutus jalur migrasi unik ini. Jika air berhenti mengalir, jalur pendakian yang menjadi tumpuan hidup ikan ini pun akan hilang.
Ikan migran secara statistik memiliki risiko kepunahan yang jauh lebih tinggi dibandingkan ikan non-migran jika jalur habitatnya terputus. Tanpa adanya aliran air yang kontinu di air terjun Luvilombo, konektivitas populasi antara hulu dan hilir akan terganggu secara permanen.
**
Referensi:
Kiwele Mutambala, P., Ngoy Kalumba, L., Cerwenka, A.F. et al. Fish climbing in the upper Congo Basin (Central Africa), first report for the shellear Parakneria thysi on the Luvilombo Falls. Sci Rep 16, 8509 (2026). https://doi.org/10.1038/s41598-026-42534-8