- Penampakan belut moray sekilas seperti seperti ular, namun dengan bobot lebih berat.
- Walau disebut belut laut, namun hewan ini masuk jenis ikan sidat (Ordo Anguilliformes) yang menjadi Famili Muraenidae. Saat ini, terdapat 200 jenis belut moray yang menyebar luas di berbagai ekosistem perairan dunia.
- Perairan Indonesia menjadi lokasi yang disukai belut moray, karena ia mencari wilayah dengan karakteristik tropis dan beriklim sedang. Bukti Indonesia perairan penting bagi belut moray adalah terdapat 70 spesies yang tumbuh dan berkembang di sini.
- Kawasan segitiga karang, khususnya perairan Raja Ampat di Provinsi Papua Barat Daya, menjadi lokasi favorit kemunculan belut moray.
Sekilas fisiknya seperti seperti ular, namun dengan bobot lebih berat. Panjang tubuhnya bisa mencapai empat meter.
Ia adalah belut moray, dikenal dengan sebutan edor-edor atau armang di sejumlah wilayah pesisir Indonesia. Keberadaannya terbatas, utamanya yang memiliki ekosistem terumbu karang sehat.
Walau disebut belut laut, namun hewan ini masuk jenis ikan sidat (Ordo Anguilliformes) yang menjadi Famili Muraenidae. Saat ini, terdapat 200 jenis belut moray yang menyebar luas di berbagai ekosistem perairan dunia.
Berdasarkan ukuran panjang tubuh, moray air tawar (Gymnothorax pllyuranodon) dikenal sebagai yang terpendek karena maksimal hanya 11,5 sentimeter. Semetara, moray ramping (Slender moray) menjadi yang terpanjang dengan empat meter. Jika mengacu berat, moray raksasa (Gymnothorax javanicus) menjadi juara karena bisa berbobot 36 kilogram dengan panjang hingga tiga meter.
Belut moray bertubuh memanjang, berotot, menyerupai ular, namun tanpa sisik dan dilapisis lendir pelindung. Terdapat lubang insang kecil dan bulat, namun tanpa sirip dada. Mulutnya lebar, dengan rahang dilengkapi gigi kuat dan tajam, yang akan digunakan untuk menyerang mangsa dan musuhnya, termasuk manusia. Mereka akan menyerang manusia jika merasa terganggu.
Tak semua belut moray memiliki gigi tajam dan runcing yang digunakan untuk menangkap mangsa licin seperti ikan. Ada juga yang memiliki gigi tumpul mirip gigi geraham belakang (molar) yang berguna untuk menghancurkan mangsa seperti krustasea atau hewan bercangkang.

Perairan Indonesia
Perairan Indonesia menjadi lokasi yang disukai belut moray, karena ia mencari wilayah dengan karakteristik tropis dan beriklim sedang. Laut tropis dan subtropis di seluruh dunia, menjadi surga bagi belut moray. Terutama, perairan dangkal di antara terumbu karang dengan bebatuan yang memiliki celah tersembunyi.
Di Indonesia, belut moray sudah mencuri perhatian warga lokal dan para penyelam yang hobi menjelajahi keindahan bawah laut. Kawasan segitiga karang, khususnya perairan Raja Ampat di Provinsi Papua Barat Daya, menjadi lokasi favorit kemunculannya.
Ada puluhan spesies bisa ditemukan di bawah air Raja Ampat. Para penyelam bisa tanpa sengaja melihat belut moray raksasa atau Uropterygius hades, belut hitam pekat yang mencolok dan hanya muncul di lumpur estuari.
Bentang alam Raja Ampat yang unik dengan formasi bukit karst kapur, dipadukan pinggiran hutan mangrove dan lereng yang penuh terumbu karang, menjadi lokasi ideal belut moray untuk bersembunyi.

Kunto Wibowo, Ketua Kelompok Riset Iktiologi Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRI), mengatakan belut moray merupakan hewan laut yang habitatnya ada di perairan Indonesia.
Bahkan, sebarannya merata dari barat hingga timur Indonesia yang didominasi kawasan segitiga karang dunia. Namun, setiap spesies habitatnya berbeda, ada yang di perairan terbuka dan yang tersembunyi.
Dia mengakui, fisik belut moray hampir menyerupai ular di darat. Hanya yang membedakan, ukuran tubuhnya besar meski ada yang kecil. Hewan ini juga tergolong pemalu dan nokturnal atau beraktivitas malam hari.
Bukti Indonesia perairan penting bagi belut moray adalah terdapat 70 spesies yang tumbuh dan berkembang di sini.
“Sampai sekarang saya belum menemukan atau mendengar ada warga pesisir yang mengonsumsi belut moray. Tidak enak, itu kata mereka,” ungkapnya kepada Mongabay, Rabu (1/4/2026).

Ancaman kerusakan
Masyarakat Indonesia diketahui ada yang memanfaatkan belut moray sebagai sumber tangkapan untuk keperluan ekonomi. Seperti yang terjadi di Kepulauan Spermonde, Provinsi Sulawesi Selatan.
Aktivitas tersebut didokumentasikasan dalam sebuah laporan khusus TRAFFIC Bulletin vol 25/2012. Berdasarkan laporan tersebut, target utama tangkapan adalah belut moray raksasa dan perburuan dimulai sejak Februari 2012.
Alasan belut moray ditangkap, karena ada permintaan dari Tiongkok dan Taiwan yang digunakan sebagai bagian pengobatan tradisional. Setelah ditangkap, belut moray dipotong filet dan diekspor ke dua negara tersebut.
Meskipun warga lokal tak mengonsumsi dagingnya karena dinilai tidak enak, namun perburuan tak berhenti: menggunakan senapan tombak dan racun sianida, atau memasang perangkap ikan pada terumbu karang. Akibatnya, aktivitas tersebut menambah tekanan pada terumbu karang.
Perairan Spermonde menjadi bagian segitiga karang dunia bersama Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste. Degradasi lingkungan laut di perairan tersebut, juga terjadi sebelum belut moray dieksploitasi.
Kunto mengungkapkan, aktivitas itu memang memberi keuntungan secara ekonomi bagi warga lokal. Namun, cara menangkap di alam harus diperhatikan dengan benar, karena ancaman kerusakan pada terumbu karang sangat besar terjadi.
Jika spesies yang menjadi buruan sudah mengalami kelangkaan, bahkan kepunahan, maka biasanya spesies yang mendekati atau menyerupai akan menjadi incaran.
“Saya sering melihat belut moray saat menyelam, dan memang wujudnya besar, bahkan raksasa. Tapi, mereka ini bagian dari predator puncak, karena mengonsumsi karnivora. Jadi, keberadaannya memengaruhi ekosistem laut.”
Referensi:
BlueOcean-eg.com. The Giant Moray
LiveAboard.com. Into the Depths: the Secret Life of Moray Eels
TRAFFIC Buletin Vol.25 No 1 2013. Moray Eel fishing in Spermonde Archipelago, South Sulawesi, Indonesia
Wilbert, N., & Nugrahapraja, H (2023). Diversity analysis of moray eel (muraenidae) on artificial reef structure in mengiat beach, Nusa Dua, Bali. Environmental and Materials, 1(1)
*****