<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=junaidi-hanafiah-aceh-jaya&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/junaidi-hanafiah-aceh-jaya/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 06 Sep 2026 10:00:25 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Bagaimana Selat Drake Sepanjang 800 Km Mengatur Iklim dan Kehidupan Antartika?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/02015904/bering-sea-patrol-3e03af-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132967</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, terbentang Selat Drake sepanjang s800 kilometer. Perairan yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik ini dikenal sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia. Ombak besarnya bahkan dijuluki Drake Shake oleh para pelaut. Reputasi itu telah terbentuk sejak kapal-kapal layar melintasi ujung selatan Amerika, jauh sebelum [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/">Bagaimana Selat Drake Sepanjang 800 Km Mengatur Iklim dan Kehidupan Antartika?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara Tanjung Horn, Chili, dan Kepulauan Shetland Selatan, terbentang Selat Drake sepanjang s800 kilometer. Perairan yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Atlantik ini dikenal sebagai salah satu jalur laut paling ganas di dunia. Ombak besarnya bahkan dijuluki Drake Shake oleh para pelaut. Reputasi itu telah terbentuk sejak kapal-kapal layar melintasi ujung selatan Amerika, jauh sebelum Terusan Panama menyediakan jalur alternatif. Selat Drake berada di titik pertemuan dua samudra dan berbatasan langsung dengan perairan Antartika. Keganasannya dipengaruhi kondisi yang disebut infinite fetch. Angin dan ombak dapat mengumpulkan energi sepanjang ribuan kilometer tanpa terhalang daratan, sebelum dipaksa melewati celah antara Amerika Selatan dan Semenanjung Antartika. Selat ini juga berada di lintang 50-60 derajat selatan, wilayah yang dijuluki Furious Fifties dan Screaming Sixties. Badai bertekanan rendah bergerak mengelilingi Antartika hampir tanpa hambatan sehingga dapat terus menguat sebelum mencapai Selat Drake. Topografi dasar laut turut memperbesar turbulensi. Shackleton Fracture Zone memaksa arus dari kedalaman ribuan meter naik mendekati permukaan. Proses tersebut menciptakan pusaran dan gelombang tidak beraturan. Arus yang melintasinya adalah Arus Lingkar Antartika, satu-satunya arus laut yang mengelilingi Bumi tanpa terhalang benua. Volume transpornya diperkirakan mencapai 141–173 juta meter kubik per detik, menjadikannya salah satu arus terbesar di planet ini. Meski terkenal berbahaya, kurang dari seperempat penyeberangan dilaporkan benar-benar ganas. Selebihnya relatif tenang dan disebut Drake Lake. Kapal ekspedisi modern juga telah dilengkapi stabilizer untuk mengurangi guncangan. Di balik ombak besarnya, dasar Selat Drake menyimpan sedimen yang merekam perubahan iklim selama 140.000 tahun. Rekaman tersebut membantu ilmuwan menelusuri perubahan kecepatan Arus Lingkar Antartika&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/bagaimana-selat-drake-sepanjang-800-km-mengatur-iklim-dan-kehidupan-antartika/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengapa Paus dan Lumba-lumba Sering Terdampar di Laut Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 07:21:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/02/22080804/Lumba-lumba-hidung-botol-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133052</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[jawa, Kelautan perikanan, pencemaran, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pantai Mbadokai di Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi terdamparnya kawasan paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus) berjumlah 55 individu. Momen itu terjadi pada Senin, 9 Maret 2026. Dari kejadian itu, sebanyak 21 individu mati, dengan 4 anakan dan 17 dewasa. Sisanya, digiring kembali ke laut. Achmad [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/">Mengapa Paus dan Lumba-lumba Sering Terdampar di Laut Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pantai Mbadokai di Desa Deranitan dan Desa Fuafuni, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menjadi saksi terdamparnya kawasan paus pilot sirip pendek (Globicephala macrorhynchus) berjumlah 55 individu. Momen itu terjadi pada Senin, 9 Maret 2026. Dari kejadian itu, sebanyak 21 individu mati, dengan 4 anakan dan 17 dewasa. Sisanya, digiring kembali ke laut. Achmad Sahri, Pakar Mamalia Laut dari Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menyatakan peristiwa itu hal biasa. Paus pilot merupakan spesies yang memiliki ikatan sosial sangat tinggi. Biasanya, komunitas yang dibentuk beranggotakan 50 hingga ratusan individu. Saat satu individu mengalami masalah, baik itu karena faktor kesehatan ataupun karena alam dan manusia, yang lain akan menemani. Paling buruk, kawanan tersebut akan terdampar. “Meski mendekati coastal, mereka terus bersama, hingga terdampar. Jadi, murni karena social bond,” ungkap Peneliti Ahli Madya itu, Kamis (27/8/26). Sahri menyebut, kasus paus pilot sirip pendek menjadi contoh mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba terdampar. Ada dua hal utama penyebabnya, selain faktor alamiah seperti penyakit atau berusia tua, ada juga karena antropogenik dari aktivitas manusia. Paus atau lumba-lumba mengalami keterdamparan, bisa karena faktor biologis atau lingkungan. Bisa tunggal atau kombinasi keduanya. Namun, perlu penelitian lebih lanjut dengan membedah tubuh mereka secara medis. “Faktor alamiah bisa juga karena badai matahari, sesuatu yang mungkin tidak bisa diukur.” Antropogenik dikarenaka penurunan daya dukung lingkungan yang mengakibatkan pencemaran dan perubahan ekosistem laut, seperti sampah. Atau, ada pembangunan pesisir dan penggunaan sonar bawah laut pada eksplorasi minyak dan gas. “Paus dan lumba-lumba menggunakan suara untuk&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/mengapa-paus-dan-lumba-lumba-sering-terdampar-di-laut-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Buruh Serabutan ke Ekowisata, Mencari Penghidupan Baru di Hulu Ciliwung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 05:49:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Donny Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/06054023/Eiger-land-16-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132979</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, dua pacet menempel di pergelangan tangan Erlan. Pemuda 24 tahun asal Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tampaknya tidak terlalu terganggu. Ia sedang sibuk menyusuri tepian aliran sungai. Sesekali pandangannya tertuju ke lantai hutan, mencari dan memetakan keberadaan ki aksara atau anggrek permata (jewel orchid). Tanaman itu sebelumnya asing bagi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/">Dari Buruh Serabutan ke Ekowisata, Mencari Penghidupan Baru di Hulu Ciliwung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, dua pacet menempel di pergelangan tangan Erlan. Pemuda 24 tahun asal Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu tampaknya tidak terlalu terganggu. Ia sedang sibuk menyusuri tepian aliran sungai. Sesekali pandangannya tertuju ke lantai hutan, mencari dan memetakan keberadaan ki aksara atau anggrek permata (jewel orchid). Tanaman itu sebelumnya asing bagi Erlan. Dua tahun lalu, ia bahkan belum membayangkan bakal bekerja keluar-masuk hutan. Ketika itu, ia baru pulang ke kampung setelah mencoba mengadu nasib di Jakarta sebagai buruh serabutan. Kini kesehariannya berubah setelah bekerja sebagai pekerja harian EIGER Nature. “Sudah satu tahun bekerja di sini,” katanya. Sebagai pekerja harian, ia mendapat upah sekitar Rp100 ribu per hari. EIGER Nature merupakan kawasan yang tengah dikembangkan dengan konsep ekowisata di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan areal PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 Kebun Gunung Mas. Pada tahap awal, EIGER Nature menyebut telah mempekerjakan lebih dari 500 orang warga lokal, termasuk Erlan. Meski sebelumnya tak banyak mengenal hutan, pekerjaan Erlan kini justru lekat dengan kegiatan konservasi dan ekologi. Bersama timnya, ia ikut memonitor kawasan, memetakan jalur, mengecek keberadaan satwa, dan menandai titik-titik yang kelak dapat digunakan untuk interpretasi habitat. Hutan perlahan menjadi ruang belajar baru baginya. “Gigitan pacet ini bagian dari menyerap pengetahuan baru soal hutan,” ujarnya sambil mencabut pacet dari tangannya. Foto udara kawasan Eiger Nature di Desa Sukagalih, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Foto: Donny Iqbal/ Mongabay Indonesia Pilihan Kerja yang Menyempit Bagi sebagian warga Sukagalih, hadirnya pekerjaan baru menjadi berarti ketika pilihan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/dari-buruh-serabutan-ke-ekowisata-mencari-penghidupan-baru-di-hulu-ciliwung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jelajah Meratus: Berkunjung ke Juhu, Desa Surga Flora Fauna [2]</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/jelajah-meratus-berkunjung-ke-juhu-desa-surga-flora-fauna-2/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/jelajah-meratus-berkunjung-ke-juhu-desa-surga-flora-fauna-2/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 05:00:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/05104420/DSC05066-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133002</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setelah menempuh perjalanan dua hari, tim tiba di Desa Juhu, tertinggi di Pegunungan Meratus. Di sana, kami ke rumah Pinan, warga lokal sekaligus pemandu, dan terkesima dengan aneka buah-buahan yang memenuhi ruang tamunya. Dia bilang, desa mereka jadi satu-satunya lokasi di Meratus yang menghasilkan buah-buahan. Padahal, akhir Juli 2026, sebagian besar wilayah di Kalimantan Selatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/jelajah-meratus-berkunjung-ke-juhu-desa-surga-flora-fauna-2/">Jelajah Meratus: Berkunjung ke Juhu, Desa Surga Flora Fauna [2]</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setelah menempuh perjalanan dua hari, tim tiba di Desa Juhu, tertinggi di Pegunungan Meratus. Di sana, kami ke rumah Pinan, warga lokal sekaligus pemandu, dan terkesima dengan aneka buah-buahan yang memenuhi ruang tamunya. Dia bilang, desa mereka jadi satu-satunya lokasi di Meratus yang menghasilkan buah-buahan. Padahal, akhir Juli 2026, sebagian besar wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel) sedang musim kemarau parah. “Di tempat lain tidak ada yang berbuah. Hanya disini yang ada, aneh juga,” katanya, heran. Pinan jelaskan nama lokal buah itu satu persatu. Mulai dari yang cukup terkenal hingga jenis yang mulai langka dan hanya tumbuh di pedalaman hutan. Salah satunya kapul atau tampui (Baccaurea macrocarpa). Buah eksotis ini masih berkerabat dengan menteng, rambai, dan manggis. Ada juga kulidang atau keledang (Artocarpus lanceifolius), dari keluarga Moraceae atau nangka-nangkaan. Buah ini berkerabat dengan mentawa, kluwih, pintau, cempedak, sukun, selanking, benda, dan nangka. Kata Pinan, buah kulidang kini makin jarang warga temukan seiring berkurangnya hutan alami. “Ini tidak ada di Banua (sebutan bagi wilayah hulu Banjar), kan?” Keledang mulai langka di berbagai wilayah di Borneo. Buah ini memiliki banyak nama lokal, antara lain bangsal, binturung, bunon, kayu dadak, emputu, kakian, sedah, dan tempunang. Durian menjadi salah satu yang paling melimpah ketika kami tiba di Juhu. Buah berduri itu berjatuhan dari pohonnya di jalur perjalanan. “Durian kita, kah ini, Abah?” tanya Ayyub Muhajad, dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lambung Mangkurat. Bagi masyarakat setempat, buah itu sudah menjadi bagian dari keseharian dan kami pun bisa makan sepuasnya. “Banyak durian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/jelajah-meratus-berkunjung-ke-juhu-desa-surga-flora-fauna-2/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/jelajah-meratus-berkunjung-ke-juhu-desa-surga-flora-fauna-2/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kakapo, Burung Nuri Terberat di Dunia yang Hampir Musnah karena Kucing dan Cerpelai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kakapo-burung-nuri-terberat-di-dunia-yang-hampir-musnah-karena-kucing-dan-cerpelai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kakapo-burung-nuri-terberat-di-dunia-yang-hampir-musnah-karena-kucing-dan-cerpelai/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 03:02:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/06025715/25728409257_57e91d9608_k-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133033</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kakapo (Strigops habroptilus) adalah salah satu burung paling unik yang masih bertahan hidup di dunia. Burung asli Selandia Baru ini merupakan satu-satunya jenis burung nuri yang bersifat nokturnal sekaligus tidak bisa terbang, dan tercatat sebagai burung nuri terberat yang pernah ada, dengan bobot dewasa yang bisa mencapai 4 kilogram. Nama kakapo berasal dari bahasa Māori [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/kakapo-burung-nuri-terberat-di-dunia-yang-hampir-musnah-karena-kucing-dan-cerpelai/">Kakapo, Burung Nuri Terberat di Dunia yang Hampir Musnah karena Kucing dan Cerpelai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kakapo (Strigops habroptilus) adalah salah satu burung paling unik yang masih bertahan hidup di dunia. Burung asli Selandia Baru ini merupakan satu-satunya jenis burung nuri yang bersifat nokturnal sekaligus tidak bisa terbang, dan tercatat sebagai burung nuri terberat yang pernah ada, dengan bobot dewasa yang bisa mencapai 4 kilogram. Nama kakapo berasal dari bahasa Māori yang berarti &#8220;burung nuri malam&#8221;, sesuai kebiasaannya yang aktif mencari makan sepanjang malam dan bersembunyi di lantai hutan pada siang hari.Menurut Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), kakapo berstatus kritis terancam punah (critically endangered), kategori tertinggi sebelum sebuah spesies dinyatakan punah di alam liar. Populasi kakapo saat ini hanya bertahan berkat pengelolaan intensif manusia di sejumlah pulau bebas predator, jauh berbeda dari kondisi aslinya ketika burung ini pernah tersebar luas di seluruh daratan Selandia Baru. Fakta dan Keunikan Biologi Kakapo Karena tidak bisa terbang, kakapo mengandalkan kaki yang kuat untuk berjalan jauh dan memanjat pohon, lalu meluncur turun dengan bantuan sayapnya yang pendek layaknya parasut. Bulunya berwarna hijau lumut berbintik kuning dan cokelat, corak yang berfungsi sebagai kamuflase sempurna di lantai hutan Selandia Baru pada masa ketika predator alaminya hanya berupa burung pemangsa dari udara. Kakapo juga memiliki wajah menyerupai burung hantu lengkap dengan kumis sensorik di sekitar paruh, sehingga kadang dijuluki owl parrot. Indra penciumannya termasuk yang paling tajam di antara jenis burung, kemampuan yang digunakan untuk melacak sumber pangan di kegelapan malam. Kakapo termasuk burung dengan usia hidup terpanjang di dunia. Umurnya diperkirakan bisa mencapai 60 hingga 80 tahun, jauh melampaui&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/kakapo-burung-nuri-terberat-di-dunia-yang-hampir-musnah-karena-kucing-dan-cerpelai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/kakapo-burung-nuri-terberat-di-dunia-yang-hampir-musnah-karena-kucing-dan-cerpelai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Gogo-Gigi tentang Rumah Gajah yang Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/06/gogo-gigi-dan-pesan-tentang-rumah-gajah-yang-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/06/gogo-gigi-dan-pesan-tentang-rumah-gajah-yang-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 02:11:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/04/22013941/Gajah-CRU1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132607</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, dan satwa liar]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari bak seekor gajah. Di depan 50-an anak-anak penyandang disabilitas, Kak Acan tampil memukau. Mereka duduk meriung menyimak Kak Acan, termasuk difabel tuli. Kak Arum, menerjemahkan dalam bahasa isyarat. Dongeng gajah Gogo dan Gigi, tersaji ketika memperingati Hari Gajah Sedunia Agustus lalu  di Malang Creative Center (MCC).  Acan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/gogo-gigi-dan-pesan-tentang-rumah-gajah-yang-hilang/">Cerita Gogo-Gigi tentang Rumah Gajah yang Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mengenakan kostum gajah, Kak Acan bergerak dan menari bak seekor gajah. Di depan 50-an anak-anak penyandang disabilitas, Kak Acan tampil memukau. Mereka duduk meriung menyimak Kak Acan, termasuk difabel tuli. Kak Arum, menerjemahkan dalam bahasa isyarat. Dongeng gajah Gogo dan Gigi, tersaji ketika memperingati Hari Gajah Sedunia Agustus lalu  di Malang Creative Center (MCC).  Acan mengisahkan dua anak gajah, kakak beradik, Gogo dan Gigi. Sang adik, Gigi terpisah dari rombongan gajah karena pemburu yang meletuskan senjatanya. Setelah aman, Gogo pun mencari Gigi di hutan rimba. “Gogo harus mengarungi hutan, sungai dan perbukitan,” kata Kak Acan. Menembus semak belukar dan berbagai halangan ia hadapi untuk bertemu dengan sang adik. Akhirnya, mereka bertemu, Gigi kembali bersama rombongan gajah. Mereka kembali berjalan bersama-sama menembus hutan belantara. “Dimana rumah Gogo dan Gigi?” tanya Kak Acan. “Di hutan,” jawab anak-anak penyandang disabilitas. Mereka antusias, menyimak dan menghayati pesan dari cerita Kak Acan. Kegiatan mendongeng gajah merupakan kerja sama antara Difabel Pecinta Alam (Difpala), Lingkar Sosial (Linksos) dengan Geopix. Kak Acan melontarkan pertanyaan kepada para penonton. Mereka yang menjawab benar mendapat hadiah. Selama tiga jam, mereka duduk tepekur menyimak Kak Acan. Edukasi ringan terkait dengan hutan dan satwa mengawali kegiatan edukasi itu. Di sela-sela mendongeng, mereka mengisinya dengan pentas seni. Dari membaca puisi, menyanyi, hingga membaca Quran. Selain peringati Hari Gajah Sedunia, kegiatan itu juga bagian dari kampanye bersama bertema ”Make Elephant Great Again atau Kembalikan Kejayaan Gajah”. Sebuah gerakan yang mengajak masyarakat bersama-sama menyuarakan perlindungan gajah Indonesia di habitatnya melalui aksi kreatif, edukasi publik, serta&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/06/gogo-gigi-dan-pesan-tentang-rumah-gajah-yang-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/06/gogo-gigi-dan-pesan-tentang-rumah-gajah-yang-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tebar Ular di Sawah Indramayu untuk Kendalikan Populasi Tikus, Efektif atau Ancaman Petani?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus-efektif-atau-ancaman-petani/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus-efektif-atau-ancaman-petani/#respond</comments>
					<pubDate>06 Sep 2026 00:30:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/16054522/Ular-lanang-sapi1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132974</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, pangan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tikus masih menjadi salah satu ancaman bagi pertanian padi. Ketika populasinya tidak terkendali, hama ini dapat merusak tanaman sejak awal masa tanam dan meningkatkan risiko gagal panen. Persoalan tersebut pernah terjadi hampir merata di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Berbagai metode pengendalian telah digunakan petani, mulai dari racun, pengasapan, dan gropyokan hingga pemasangan setrum listrik. Namun, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus-efektif-atau-ancaman-petani/">Tebar Ular di Sawah Indramayu untuk Kendalikan Populasi Tikus, Efektif atau Ancaman Petani?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tikus masih menjadi salah satu ancaman bagi pertanian padi. Ketika populasinya tidak terkendali, hama ini dapat merusak tanaman sejak awal masa tanam dan meningkatkan risiko gagal panen. Persoalan tersebut pernah terjadi hampir merata di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Berbagai metode pengendalian telah digunakan petani, mulai dari racun, pengasapan, dan gropyokan hingga pemasangan setrum listrik. Namun, sebagian cara itu tidak hanya kurang efektif, tetapi juga berbahaya. Penggunaan setrum di persawahan bahkan pernah menimbulkan korban jiwa. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan yang tetap relevan hingga kini: bisakah predator alami dikembalikan untuk mengendalikan tikus dengan lebih aman? Salah satu percobaannya dilakukan melalui program “Ular Sahabat Tani”. Pada 8 Agustus 2025, Pemerintah Kabupaten Indramayu bersama Panji Petualang serta sejumlah pegiat media sosial melepas 200 ular ke area persawahan. Ular yang dilepaskan terdiri dari ular jali (Ptyas mucosa), koros (Ptyas korros), dan lanang sapi (Coelognathus radiatus). Ketiganya tidak berbisa dan merupakan bagian dari ekosistem setempat. Selain tikus, ular-ular tersebut juga memangsa burung dan kodok. Keberadaan ular di sawah sebenarnya bukan hal baru. Namun, populasinya semakin sulit ditemukan karena habitatnya berubah dan ular kerap dibunuh. Hilangnya predator alami membuat tikus lebih leluasa berkembang di kawasan pertanian monokultur yang menyediakan makanan berlimpah. Amir Hamidy, herpetolog dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, menjelaskan bahwa hanya sekitar lima persen ular darat di Jawa yang berbisa. Jenis rat snake yang dilepas di Indramayu umumnya memilih menghindar ketika bertemu manusia dan tidak menyerang kecuali diganggu. Secara biologis, ular dapat menjadi pengendali tikus yang efektif. Ular jali mampu memangsa hingga 12 tikus sehari.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus-efektif-atau-ancaman-petani/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tebar-ular-di-sawah-indramayu-untuk-kendalikan-populasi-tikus-efektif-atau-ancaman-petani/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Akhirnya RUU Reforma Agraria Masuk Meja DPR</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/akhirnya-ruu-reforma-agraria-masuk-meja-dpr/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/akhirnya-ruu-reforma-agraria-masuk-meja-dpr/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 23:22:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/24075153/Hari-Tani-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133021</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Konflik agraria banyak terjadi di berbagai penjuru negeri. Atas desakan berbagai organisasi masyarakat sipil, akhirnya, Rancangan Undang-undang Reforma Agraria (RUURA) resmi masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2026 sebagai inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bob Hasan, Ketua Badan Legislasi (Baleg) sampaikan keputusan ini saat rapat kerja dengan pemerintah dan Panitia Perancang Undang-undang (PPUU), [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/akhirnya-ruu-reforma-agraria-masuk-meja-dpr/">Akhirnya RUU Reforma Agraria Masuk Meja DPR</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Konflik agraria banyak terjadi di berbagai penjuru negeri. Atas desakan berbagai organisasi masyarakat sipil, akhirnya, Rancangan Undang-undang Reforma Agraria (RUURA) resmi masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2026 sebagai inisiatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Bob Hasan, Ketua Badan Legislasi (Baleg) sampaikan keputusan ini saat rapat kerja dengan pemerintah dan Panitia Perancang Undang-undang (PPUU), Senin (24/8/26). “RUU tentang Pengaturan Reforma Agraria dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik agraria struktural yang sampai saat ini belum tuntas,” ujar Bob Hasan. Dia mengatakan, inisiatif pembentukan RUURA berlatar belakang marak konflik agraria karena dua tata kelola hukum. Yakni,  kawasan hutan lewat UU Kehutanan,  dan non kawasan hutan melalui UU Pokok Agraria (UUPA), termasuk perkebunan. Bob bilang, RUURA akan mengadopsi beberapa pasal atau ketentuan yang sebelumnya ada dalam UUPA dan UU Kehutanan. Dia bilang, sejak 2008, masyarakat sudah menuntut agar ada UU khusus yang mengatur reforma agraria. Berdasarkan hasil rapat Badan Musyawarah (Bamus) DPR, menyepakati, pembahasan RUURA kepada Baleg dalam waktu sesingkat-singkatnya. “Bapak-ibu pimpinan memberikan tugas ke Baleg,” ucap Bob. Ahmad Doli Kurnia, Wakil Ketua Baleg menambahkan, RUURA sangat mendesak sebab UUPA, yang secara khusus mengatur agraria dan penguasaan sumber daya alam sudah berusia puluhan tahun. “UU Pokok Agraria itu kan tahun 1960, bayangkan saja 1960 sampai sekarang itu udah berapa tahun? 60 tahun! Justru kami mendorong itu UUPA direvisi, namun sekarang kami lebih memilih buat RUU-RA,” ucap Doli. Perwakilan pemerintah yang menghadiri rapat kerja itu, Edward Omar Sharif Hiariej Wakil Menteri Hukum, menyepakati RUU-RA sebagai inisiatif DPR dan masuk bahasan Baleg. “Disepakati. Biar cepat, Pak,”&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/akhirnya-ruu-reforma-agraria-masuk-meja-dpr/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/akhirnya-ruu-reforma-agraria-masuk-meja-dpr/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sinabung Erupsi, Imbau Warga Waspada,  Hindari Zona Bahaya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 17:23:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2017/05/22084841/hutan-siosar3-Gunung-Sinabung-yang-terus-erupsi-Ayat-S-Karokaro.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132848</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Badan Geologi Sumatera Utara (Sumut) menaikan status aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, menjadi Level III (Siaga) pasca gunung api aktif itu kembali erupsi, Senin (31/8/26) pagi, pukul 10.17 WIB. Warga pun berharap fenomena geologis itu tidak berlangsung lama dan kembali stabil seperti tahun 2023. Kembaren Ketaren, warga Desa Sukanalu, mengaku melihat erupsi sekitar pukul [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/">Sinabung Erupsi, Imbau Warga Waspada,  Hindari Zona Bahaya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Badan Geologi Sumatera Utara (Sumut) menaikan status aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, menjadi Level III (Siaga) pasca gunung api aktif itu kembali erupsi, Senin (31/8/26) pagi, pukul 10.17 WIB. Warga pun berharap fenomena geologis itu tidak berlangsung lama dan kembali stabil seperti tahun 2023. Kembaren Ketaren, warga Desa Sukanalu, mengaku melihat erupsi sekitar pukul 10.00 WIB. Dia mengajak istrinya berlindung di pondok sambil memantau arah sebaran abu. Sebelumnya, dua bulan terakhir, dia mengamati asap tipis keluar dari puncak, namun tidak menganggapnya mengkhawatirkan. Saat erupsi, dia sedang memanen wortel lebih dari 75 kilogram dan markisa sekitar 42 kilogram. Hasil kebun dia hendak kirim ke Berastagi dan menjualnya ke penampung maupun Pasar Buah Berastagi. &#8220;Mudah-mudahan Sinabung reda dan tidak erupsi lagi seperti tahun 2023,&#8221; katanya. Dia sadar risiko tinggal di Sinabung. Satu sisi, aktivitas vulkanisme memang membuat subur, tetapi sisi lain, aktivitas vulkanisme itu mengancam keberadaan warga. Kajian ilmiah Sutawidjaja, Iguchi, dan Pusat Penelitian Pertanian, Kementerian Pertanian menyebut,  Sinabung gunung api strato atau kerucut berlapis yang terbentuk pada zaman Pleistosen hingga Holosen. Batuan penyusun utamanya berjenis basaltik-andesit hingga andesit, kaya mineral plagioklas, piroksen, dan hornblenda. Material vulkanik yang dilapuk mengandung unsur hara kalsium, magnesium, kalium, dan fosfor yang tinggi sehingga menjadi tanah sangat subur bagi pertanian. &nbsp; Pemandangan ini terlihat indah dari atas bukit Gundaling. Tampak Gunung Sinabung mengeluarkan debu vulkanik tipis dari dalam kawahnya. Foto: Ayat S Karokaro/Mongabay Indonesia. Mengungsi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, warga Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, saat ini telah mengungsi ke Posko Penanganan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/sinabung-erupsi-imbau-warga-waspada-hindari-zona-bahaya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menggugat Konservasi Benteng, Mendorong Konservasi Berbasis Rakyat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/menggugat-konservasi-benteng-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/menggugat-konservasi-benteng-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 13:54:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[ridzki.sigit]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/05135126/Atuk-Sukar-Ketua-Adat-Suku-Mapur-di-Dusun-Pejem-Pulau-Bangka-yang-masih-menetap-di-sekitar-hutan-larangan-Bukit-Tabun.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=133010</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan Indoesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Meskipun telah lama merdeka, cara pandang kolonial yang memisahkan antara manusia dan alam dalam praktik konservasi atau yang dikenal sebagai konservasi benteng (fortress conservation), dinilai masih kuat mewarnai praktik konservasi di Indonesia. Dalam pendekatan ini, keberadaan manusia dipandang sebagai ancaman sehingga akses masyarakat terhadap kawasan yang hendak dilindungi dibatasi. Padahal nyatanya, masyarakat adat secara berabad-abad [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/menggugat-konservasi-benteng-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat/">Menggugat Konservasi Benteng, Mendorong Konservasi Berbasis Rakyat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Meskipun telah lama merdeka, cara pandang kolonial yang memisahkan antara manusia dan alam dalam praktik konservasi atau yang dikenal sebagai konservasi benteng (fortress conservation), dinilai masih kuat mewarnai praktik konservasi di Indonesia. Dalam pendekatan ini, keberadaan manusia dipandang sebagai ancaman sehingga akses masyarakat terhadap kawasan yang hendak dilindungi dibatasi. Padahal nyatanya, masyarakat adat secara berabad-abad telah bermukim, menjaga hutan, sungai, dan laut seperti merawat kehidupan mereka sendiri. Bagi mereka, praktik-praktik konservasi bukanlah konsep yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Di berbagai wilayah di Indonesia, relasi antara manusia dengan alam masih banyak dapat dijumpai. Salah satunya masyarakat adat Dayak Iban di Sungai Utik, Kalimantan Barat, yang mengenal filosofi hidup: “Hutan adalah Bapak, Tanah adalah Ibu, dan Air adalah Darah Kami.” Namun ironi justru ada di sini. Banyak masyarakat adat dan komunitas lokal yang selama ini menjaga ruang hidupnya, dalam banyak kasus justru terusir dari tanahnya. “Sampai sekarang kita belum bisa lepas dari bentuk kolonialisme konservasi, yang memisahkan alam dengan manusia. Manusia justru dianggap sebagai ancaman dalam aktivitas konservasi,” ujar Yance Arizona, Ketua Pusat Kajian Demokrasi Konstitusi dan Hak Asasi Manusia (Pandheka) saat dijumpai di Peoples’ Conservation Summit (PCS)/Pertemuan Konservasi Rakyat 2026, yang diselenggarakan pada 1-3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta. Menurutnya, persoalan konservasi benteng masih berhubungan dengan anggapan bahwa pengetahuan pemerintah dan institusi akademik dianggap lebih ilmiah daripada pengetahuan yang berkembang di masyarakat, dan digunakan dalam penyusunan kebijakan konservasi di Indonesia. “Karena itu, upaya dekolonisasi konservasi menjadi penting untuk mengubah hubungan antara negara, masyarakat, dan alam,” tegas Yance&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/menggugat-konservasi-benteng-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/menggugat-konservasi-benteng-mendorong-konservasi-berbasis-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harga Batubara Tak Wajar, Perlindungan Hutan dan Keselamatan Lingkungan Jadi Taruhan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/harga-batubara-tak-wajar-perlindungan-hutan-dan-keselamatan-lingkungan-jadi-taruhan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/harga-batubara-tak-wajar-perlindungan-hutan-dan-keselamatan-lingkungan-jadi-taruhan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 10:00:53 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/16200501/DJI_20260129130630_0023_D-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132873</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, Data dan Statisik, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, kalimantan, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia menguasai 47,3 persen pasar ekspor batubara termal dunia. Namun, menjadi pemasok besar ternyata tidak otomatis membuat Indonesia mampu menentukan harga. Batubara justru dijual terlalu murah, sementara hutan, sungai, dan masyarakat sekitar tambang menanggung akibatnya. Kajian Transisi Bersih yang dirilis pada Juli 2026 menyebut persoalan ini sebagai underpricing. Istilah tersebut bukan sekadar berarti harga murah, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/harga-batubara-tak-wajar-perlindungan-hutan-dan-keselamatan-lingkungan-jadi-taruhan/">Harga Batubara Tak Wajar, Perlindungan Hutan dan Keselamatan Lingkungan Jadi Taruhan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia menguasai 47,3 persen pasar ekspor batubara termal dunia. Namun, menjadi pemasok besar ternyata tidak otomatis membuat Indonesia mampu menentukan harga. Batubara justru dijual terlalu murah, sementara hutan, sungai, dan masyarakat sekitar tambang menanggung akibatnya. Kajian Transisi Bersih yang dirilis pada Juli 2026 menyebut persoalan ini sebagai underpricing. Istilah tersebut bukan sekadar berarti harga murah, melainkan harga yang berada di bawah nilai wajar setelah kualitas, kandungan energi, biaya logistik, syarat pengiriman, dan waktu transaksi diperhitungkan. Peneliti membandingkan ekspor 20 negara eksportir terbesar sepanjang 2020–2024. Perbandingan dilakukan bukan hanya berdasarkan harga setiap ton, tetapi juga nilai energinya. Hasilnya, diskon batubara Indonesia lebih besar daripada yang dapat dijelaskan oleh perbedaan kandungan energi. Mengapa negara pemasok besar justru memiliki posisi tawar lemah? Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan kepada pembeli tertentu. Hampir 46 persen ekspor batubara Indonesia mengalir ke China dan India. Kedua negara memiliki pilihan pemasok lain sehingga dapat beralih ketika harga Indonesia dianggap kurang menarik. Kajian tersebut menemukan, ketika harga batubara acuan naik 10 persen, harga ekspor Indonesia ke kedua negara rata-rata hanya meningkat 5,9 persen. Artinya, kenaikan harga acuan tidak sepenuhnya dinikmati eksportir. Tekanan keuntungan kemudian mendorong perusahaan mengejar penjualan dalam jumlah lebih besar. Kewajiban memasok kebutuhan domestik dengan harga rendah juga disebut memperkuat dorongan tersebut. Namun, produksi berlebihan membanjiri pasar dan semakin melemahkan posisi tawar Indonesia. Lingkaran ini mempunyai konsekuensi nyata bagi lingkungan. Menambah produksi berarti memperluas pembukaan lahan, membangun jalan angkut, serta menambah infrastruktur tambang. Bakhrul Fikri, peneliti Center of Economic and Law Studies atau CELIOS, menjelaskan bahwa dampaknya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/harga-batubara-tak-wajar-perlindungan-hutan-dan-keselamatan-lingkungan-jadi-taruhan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/harga-batubara-tak-wajar-perlindungan-hutan-dan-keselamatan-lingkungan-jadi-taruhan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Asap Karhutla Ancam Kehidupan Orangutan, Tak Hanya Habitat dan Kesehatan, Bahkan Kematian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/asap-karhutla-ancam-kehidupan-orangutan-tak-hanya-habitat-dan-kesehatan-bahkan-kematian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/asap-karhutla-ancam-kehidupan-orangutan-tak-hanya-habitat-dan-kesehatan-bahkan-kematian/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 05:00:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/03075859/Orangutan-Sampurna2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132992</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, kalimantan, kera besar, pencemaran, politik dan hukum, sains dan tekn, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menganggu manusia. Di hutan, satwa juga harus mengirup udara yang sama, bahkan lebih buruk lagi. Kasus orangutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi gambaran nyata. Seperti diberitakan Mongabay Indonesia sebelumnya, sepanjang Agustus 2026, tujuh orangutan dievakuasi setelah terdampak kebakaran. Salah satunya, orangutan jantan dewasa bernama Sampurna, yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/asap-karhutla-ancam-kehidupan-orangutan-tak-hanya-habitat-dan-kesehatan-bahkan-kematian/">Asap Karhutla Ancam Kehidupan Orangutan, Tak Hanya Habitat dan Kesehatan, Bahkan Kematian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menganggu manusia. Di hutan, satwa juga harus mengirup udara yang sama, bahkan lebih buruk lagi. Kasus orangutan di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menjadi gambaran nyata. Seperti diberitakan Mongabay Indonesia sebelumnya, sepanjang Agustus 2026, tujuh orangutan dievakuasi setelah terdampak kebakaran. Salah satunya, orangutan jantan dewasa bernama Sampurna, yang ditemukan lemas di sekitar kebun sawit setelah bergeser dari habitatnya, pada Minggu (30/8/26). Paparan asap karhutla menyebabkan tubuhnya mengalami gangguan pernapasan. Namun, Sampurna mati sekitar pukul 15:20 WIB, setelah pertama kali ditemukan di hari yang sama sekitar pukul 06:00 WIB. Dikutip dari Kompas, kematiannya disebabkan oleh gangguan pernapasan berat, akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan yang memicu hipoksia akut atau kondisi kekurangan oksigen di dalam tubuh. Sampurna, orang jantan dewasa ini ditemukan warga dalam kondisi lemas di sekitar kebun sawit di Ketapang, Kalbar, Minggu (30/8/26). Malang, Sampurna mati sore hari, di hari yang sama akibat paparan asap karhutla yang menyebabkan tubuhnya mengalami gangguan pernapasan. Foto: Dok. YIARI. Kisah Sampurna datang ketika musim kebakaran belum benar-benar berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, terdapat 463 titik panas berkepercayaan tinggi di Kalimantan, dan 264 di Sumatera pada 2 September. Kondisi panas dan kering masih berpotensi berlangsung awal September. Bagi primata, ancaman kebakaran mungkin jauh lebih panjang. Penelitian Harrison dan kolega yang terbit di Global Ecology and Conservation 2026 mencoba melihat persoalan yang selama ini relatif kurang diperhatikan, yakni dampak tidak langsung kebakaran melalui asap dan kabut asap. Peneliti mengumpulkan informasi dari peneliti primata serta menelaah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/asap-karhutla-ancam-kehidupan-orangutan-tak-hanya-habitat-dan-kesehatan-bahkan-kematian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/asap-karhutla-ancam-kehidupan-orangutan-tak-hanya-habitat-dan-kesehatan-bahkan-kematian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pohon Roboh Bisa Bangkit Sendiri, Ada &#8220;Otot&#8221; yang Menariknya Kembali Tegak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/pohon-roboh-bisa-bangkit-sendiri-ada-otot-yang-menariknya-kembali-tegak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/pohon-roboh-bisa-bangkit-sendiri-ada-otot-yang-menariknya-kembali-tegak/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 03:42:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/05033326/pexels-avishek-shrestha-2160510399-36791573-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132989</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pohon yang roboh atau miring ternyata mampu meluruskan dirinya sendiri berkat sebuah sistem di dalam batangnya yang bekerja persis seperti otot. Sebuah studi baru berhasil melacak mekanisme di balik kemampuan ini, yang oleh para peneliti digambarkan sebagai sistem sensorimotor yang beroperasi langsung di jaringan kayu. Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Institut Nasional Penelitian Pertanian, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/pohon-roboh-bisa-bangkit-sendiri-ada-otot-yang-menariknya-kembali-tegak/">Pohon Roboh Bisa Bangkit Sendiri, Ada &#8220;Otot&#8221; yang Menariknya Kembali Tegak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pohon yang roboh atau miring ternyata mampu meluruskan dirinya sendiri berkat sebuah sistem di dalam batangnya yang bekerja persis seperti otot. Sebuah studi baru berhasil melacak mekanisme di balik kemampuan ini, yang oleh para peneliti digambarkan sebagai sistem sensorimotor yang beroperasi langsung di jaringan kayu. Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Institut Nasional Penelitian Pertanian, Pangan, dan Lingkungan Prancis (INRAE) ini melanjutkan temuan tahun 2012 yang pertama kali menunjukkan bahwa tumbuhan memiliki proprioseptif, yaitu kemampuan mengenali posisi bagian tubuhnya sendiri di ruang, kemampuan yang selama ini dianggap hanya dimiliki hewan. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa indra ini membantu tumbuhan menjaga postur dan tetap tegak, namun mekanisme biologis yang menggerakkannya belum terungkap, hingga penelitian terbaru ini menemukan &#8220;otot&#8221; yang selama ini bekerja diam-diam menarik batang pohon kembali ke posisi lurus. Menyingkirkan Gravitasi dan Cahaya untuk Menemukan Otot Tersembunyi Tumbuhan tidak hanya merespons satu sinyal saja. Mereka bereaksi terhadap gravitasi, cahaya, dan bentuk tubuhnya sendiri, sehingga sulit mengisolasi dan mempelajari satu indra secara terpisah. Untuk memisahkan proprioseptif dari faktor-faktor lain itu, peneliti merancang eksperimen yang menghilangkan pengaruh arah gravitasi dan cahaya sepenuhnya. Mereka menempatkan pohon poplar muda pada platform horizontal yang berputar terus-menerus pada porosnya, di dalam sebuah bola yang diterangi merata dari segala arah. Dengan arah gravitasi dihilangkan dan cahaya datang seimbang dari semua sisi, setiap gerakan koreksi diri yang tersisa dapat dikaitkan langsung dengan indra internal pohon terhadap bentuk tubuhnya sendiri. Pohon poplar putih (Populus alba), salah satu spesies induk dari hibrida Populus tremula x alba yang digunakan dalam eksperimen tension&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/pohon-roboh-bisa-bangkit-sendiri-ada-otot-yang-menariknya-kembali-tegak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/pohon-roboh-bisa-bangkit-sendiri-ada-otot-yang-menariknya-kembali-tegak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Iklim Tingkatkan Kerentanan Transmisi Listrik </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/05/krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-transmisi-listrik/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/05/krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-transmisi-listrik/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 01:32:30 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/08/22072635/jambi4-Gardu-induk-PLN-Payo-Selincah.-gardu-ini-ada-di-sekitar-rumah-warga-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132564</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bencana dan krisis iklim turut meningkatkan kerentanan transmisi listrik yang masih bergantung pada energi fosil. Berbagai pihak pun mendorong pemerintah melakukan transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan secara konsisten. Deon Arinaldo, Direktur Transformasi Transisi Energi Institute for Essential Services Reform (IESR) mengingatkan pemerintah untuk mempercepat dekarbonisasi dengan mengandalkan energi terbarukan berbasis surya dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-transmisi-listrik/">Krisis Iklim Tingkatkan Kerentanan Transmisi Listrik </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bencana dan krisis iklim turut meningkatkan kerentanan transmisi listrik yang masih bergantung pada energi fosil. Berbagai pihak pun mendorong pemerintah melakukan transisi energi dari energi fosil ke energi terbarukan secara konsisten. Deon Arinaldo, Direktur Transformasi Transisi Energi Institute for Essential Services Reform (IESR) mengingatkan pemerintah untuk mempercepat dekarbonisasi dengan mengandalkan energi terbarukan berbasis surya dan angin. “Pembangkit Listrik Tenaga Air juga turut terdampak akibat krisis iklim,”katanya. Salah satu implikasi dari pemanasan global, katanya, adalah turunnya pembangkitan listrik 4-5%. Aktivitas PLTA juga rentan  terganggu lantaran pasokan air yang berkurang akibat krisis iklim. Menurut Deon, ada empat area yang perlu menjadi perhatian untuk mempertahankan keandalan listrik. Pertama, infrastructure resilience yang mencakup ketahanan infrastruktur tenaga listrik terhadap shock dan stres dari cuaca ekstrem. Kedua, sistem yang punya interkoneksi baik. Dengan begitu, ketika terjadi disrupsi, maka blackout tidak meluas. Ketiga, sistem pemulihan cepat.  Keempat, ada kemampuan untuk mengantisipasi potensi-potensi risiko baru, termasuk oleh PLN. Muhammad Ihsan, Analis Energi Terbarukan IESR menyebut jaringan ketenagalistrikan krusial karena harus mengakomodir generasi masa lalu dan baru, yakni,  risiko iklim dan transisi energi. Menghadapi dua kepentingan risiko itu, harus ada peningkatan resiliensi dan juga bauran energi terbarukan. “Makin tinggi jaringan transmisi makin tinggi terpapar risiko iklim, makin menjalar lebih jauh ke daerah-daerah berbeda. Ini risikonya baru banjir dan longsor belum gempa bumi,” katanya dalam diskusi daring bertajuk Kerentanan Aset Tenaga Listrik terhadap Dampak Perubahan Iklim belum lama ini. Ihsan memaparkan, riset internal tentang apa yang terjadi pada blackout di Sumatera. Menurutnya jaringan listrik tengah menghadapi dua kepentingan yaitu risiko&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/05/krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-transmisi-listrik/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/05/krisis-iklim-tingkatkan-kerentanan-transmisi-listrik/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Berganti Pengelola, Masyarakat Dayak Basap Tetap Khawatir dengan Bencana Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tambang-berganti-pengelola-masyarakat-dayak-basap-tetap-khawatir-dengan-bencana-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tambang-berganti-pengelola-masyarakat-dayak-basap-tetap-khawatir-dengan-bencana-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Sep 2026 00:30:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/29070725/KPC-TEBANGAN-LEMBAK-15-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132807</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, kalimantan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat Adat Dayak Basap di Desa Tebangan Lembak, Kutai Timur, Kalimantan Timur, telah merasakan dampak pertambangan batubara selama sekitar 15 tahun. Kini, mereka menghadapi kekhawatiran baru setelah sebagian bekas konsesi PT Kaltim Prima Coal beralih kepada PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara atau BUMNU, perusahaan milik Nahdlatul Ulama. Analisis Yayasan Auriga Nusantara menunjukkan sekitar 14.187 hektar [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tambang-berganti-pengelola-masyarakat-dayak-basap-tetap-khawatir-dengan-bencana-lingkungan/">Tambang Berganti Pengelola, Masyarakat Dayak Basap Tetap Khawatir dengan Bencana Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat Adat Dayak Basap di Desa Tebangan Lembak, Kutai Timur, Kalimantan Timur, telah merasakan dampak pertambangan batubara selama sekitar 15 tahun. Kini, mereka menghadapi kekhawatiran baru setelah sebagian bekas konsesi PT Kaltim Prima Coal beralih kepada PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara atau BUMNU, perusahaan milik Nahdlatul Ulama. Analisis Yayasan Auriga Nusantara menunjukkan sekitar 14.187 hektar dari total 37.000 hektar wilayah Desa Tebangan Lembak telah dieksploitasi untuk pertambangan. BUMNU sendiri mengantongi izin usaha pertambangan khusus seluas sekitar 26.000 hektar yang tersebar dalam tujuh blok. Salah satunya berada di Tebangan Lembak dengan luas sekitar 1.812 hektar. BUMNU belum melakukan eksploitasi. Namun, Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) mencatat sedikitnya 14 lubang bekas tambang di wilayah tersebut. Data MapBiomas juga menunjukkan lubang tambang mencakup sekitar 592 hektar. Kerusakan hutan telah menyulitkan masyarakat memperoleh tumbuhan obat yang biasa mereka gunakan. Sungai pun tercemar dan tidak lagi layak dikonsumsi. Saat hujan, air berubah warna dan menjadi kental. Warga akhirnya bergantung pada air isi ulang serta bantuan air dari program tanggung jawab sosial perusahaan. “Makanya, enggak bisa diminum lagi. [Beli] air isi ulang saja [untuk minum],” kata Masri, warga Dayak Basap. Kajian Kementerian Lingkungan Hidup menyebut Daerah Aliran Sungai Bengalon memiliki ekoregion sensitif dan rentan. Jika tutupan hutannya dibuka, proses pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari 100 tahun. Tambang juga mempersempit lahan pertanian masyarakat. Selama lima tahun terakhir, warga tidak lagi memanen padi gunung. Akibatnya, upacara adat Nembang Tahun yang hanya dilakukan setelah panen berhasil tidak dapat digelar. Kekhawatiran bertambah karena warga adat merasa tidak dilibatkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tambang-berganti-pengelola-masyarakat-dayak-basap-tetap-khawatir-dengan-bencana-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/tambang-berganti-pengelola-masyarakat-dayak-basap-tetap-khawatir-dengan-bencana-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karhutla di Konsesi Perusahaan, Siapa Bertanggung Jawab?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 10:00:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30011627/Penanaman-akasia-baru-di-gambut-bekas-terbakar-sekitar-PT-Arara-Abadi.-Foto-Suryadi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132789</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau kembali menjadi sorotan. Sepanjang 2026, kepolisian menetapkan 40 orang sebagai tersangka dalam kasus yang mencakup 904 hektar lahan terbakar. Namun, hingga laporan Mongabay terbit pada 30 Agustus 2026, belum ada perusahaan yang ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan pemeriksaan kebakaran di konsesi perusahaan. Walhi Riau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/">Karhutla di Konsesi Perusahaan, Siapa Bertanggung Jawab?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Riau kembali menjadi sorotan. Sepanjang 2026, kepolisian menetapkan 40 orang sebagai tersangka dalam kasus yang mencakup 904 hektar lahan terbakar. Namun, hingga laporan Mongabay terbit pada 30 Agustus 2026, belum ada perusahaan yang ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kelanjutan pemeriksaan kebakaran di konsesi perusahaan. Walhi Riau telah menyerahkan temuan dan kajian mengenai empat perusahaan kepada Polda Riau pada penghujung Juli. Keempatnya adalah PT Sekato Pratama Makmur (SPM), PT Meskom Agro Sarimas (MAS), PT Arara Abadi (AA), serta PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup membenarkan adanya indikasi kebakaran di konsesi tersebut. Berdasarkan penghitungan kementerian, luas areal terbakar mencakup 103,4 hektar di SPM, 146,2 hektar di MAS, 66,8 hektar dalam konsesi AA, serta 71 hektar di RAPP. Sebanyak 510,3 hektar lainnya tercatat di luar konsesi AA. Rizal Irawan, Deputi Bidang Penegakan Hukum KLH/BPLH, mengatakan pemeriksaan terhadap keempat perusahaan masih berlangsung. “Untuk keempat perusahaan itu sedang verifikasi lapangan,” katanya. Kepolisian menyatakan proses hukum dilakukan berdasarkan bukti ilmiah. Penyidikan tidak hanya menelusuri orang yang berada di lokasi kebakaran, tetapi juga asal api, motif, pihak yang bertanggung jawab, serta kemungkinan keterlibatan pihak lain. Meski demikian, organisasi lingkungan mendesak agar pemeriksaan segera menghasilkan perkembangan yang jelas. Kebakaran di dalam konsesi perlu ditindaklanjuti melalui pembuktian pertanggungjawaban, bukan berhenti pada identifikasi lokasi dan penyegelan. Boy Jerry Even Sembiring, Direktur Eksekutif Walhi Nasional, mempertanyakan keseriusan penegakan hukum terhadap korporasi. “Tinggal keberanian dan kemauan penegak hukum. Jangan hanya penegakan hukum suka-suka.” Desakan serupa datang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/09/karhutla-di-konsesi-perusahaan-siapa-bertanggung-jawab/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tangkapan Nelayan Tak Menentu, Pemindangan Tongkol Kusamba Terancam Hilang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 08:10:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[I Gusti Ayu Septiari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/02112505/Nyoman-Poni-meletakkan-ikan-ke-keranjang-dan-menaburkan-garam-di-atas-ikan.-Foto_-I-Gusti-Ayu-Septiari-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132821</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, infrastruktur, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan produk kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tak hanya terkenal garam tradisionalnya, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali juga terkenal pemindangan ikan. Mereka masih menggunakan cara tradisional yang membuat cita rasa ikan berbeda dari wilayah lain. Meski begitu, hasil tangkapan ikan nelayan Kusamba kian menurun dari tahun ke tahun. Nengah Tedun, tengah duduk menatap lautan. Di sisi kanannya orang-orang mengangkut barang ke kapal. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/">Tangkapan Nelayan Tak Menentu, Pemindangan Tongkol Kusamba Terancam Hilang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tak hanya terkenal garam tradisionalnya, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali juga terkenal pemindangan ikan. Mereka masih menggunakan cara tradisional yang membuat cita rasa ikan berbeda dari wilayah lain. Meski begitu, hasil tangkapan ikan nelayan Kusamba kian menurun dari tahun ke tahun. Nengah Tedun, tengah duduk menatap lautan. Di sisi kanannya orang-orang mengangkut barang ke kapal. Ada yang membawa dus minuman, dus mie instan, hingga bahan bangunan. Sisi kirinya, bersandar belasan perahu nelayan. Perahu itu berjejer, menutupi pasir pantai. Sebagai nelayan tradisional, mayoritas mereka menggunakan perahu kurang dari 5 GT dengan bahan fiberglass dan dayung kayu. Salah satu di antara belasan perahu itu ada milik Nengah Tedun. Sudah empat bulan perahu lelaki 75 tahun ini tidak berlayar. Padahal, Agustus ini seharusnya panen ikan. Perahu nelayan berjejer di pesisir Kusamba. Foto: I Gusti Ayu Septiari/ Mongabay Indonesia “Kalau dulu, tiap Agustus saya senang sekali, ikan-ikan udah panen. Sekarang nggak bisa, apa sebabnya nggak ngerti,” kata Tedun ketika ditemui di Balai Kelompok Nelayan Desa Kusamba, Rabu (19/8/26). Sejak 1965, Tedun sebagai nelayan, jadi sudah generasi ke generasi. Mereka masih menggunakan metode penangkapan tradisional dengan jaring insang dan pancing ulur. Sebelum mesin tempel muncul di 1980-an, mereka masih menggunakan layar untuk melaut. Dia bilang tongkol menjadi salah satu tangkapan dominannya. “Karena perkembangan (tongkol) sangat cepat,” kata Tedun. Bahkan sekali panen, tiap nelayan bisa mendapat 500-1000 ekor. “Sampai perahunya nggak muat,” katanya, mengenang masa lalu. Hasil tangkapan melimpah melahirkan industri pemindangan rumahan di Kusamba. Selama itu juga, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, terkenal&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/tangkapan-nelayan-tak-menentu-pemindangan-tongkol-kusamba-terancam-hilang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Opini: Konflik Manusia dan Satwa Liar Tak Bisa Selesai dengan Solusi Tunggal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 06:27:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhamad Muslich*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[admin]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Opini]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/04061117/Tulang-gajah-yang-mati-karena-tersengat-arus-listrik-di-Karang-Ampar-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132946</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Setiap kali harimau menerkam petani di kebunnya, atau gajah meluluhlantakkan tanaman warga, responsnya nyaris selalu sama: giring, halau, pasang pagar, atau tangkap dan pindahkan satwanya. Padahal konflik manusia dan satwa liar adalah persoalan yang jauh lebih rumit dari itu. Solusi-solusi teknis semacam ini hanya menambal luka di permukaan dan sifatnya sesaat. Alih-alih menyelesaikan masalah, cara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/">Opini: Konflik Manusia dan Satwa Liar Tak Bisa Selesai dengan Solusi Tunggal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Setiap kali harimau menerkam petani di kebunnya, atau gajah meluluhlantakkan tanaman warga, responsnya nyaris selalu sama: giring, halau, pasang pagar, atau tangkap dan pindahkan satwanya. Padahal konflik manusia dan satwa liar adalah persoalan yang jauh lebih rumit dari itu. Solusi-solusi teknis semacam ini hanya menambal luka di permukaan dan sifatnya sesaat. Alih-alih menyelesaikan masalah, cara ini kerap hanya memindahkan masalah ke lokasi lain. Akar persoalannya nyaris tak pernah disentuh bahkan cenderung dihindari. Tak heran jika penanganan konflik manusia dan satwa liar di Indonesia terus terjadi dan berulang: reaktif, dari satu kejadian ke kejadian berikutnya, tanpa pernah benar-benar selesai. &nbsp; Konflik yang Kompleks Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan, sampai dengan 2026 mencatat 2.732 kejadian konflik yang melibatkan 11 spesies satwa liar sepanjang 2023–2025. Spesiesnya beragam: harimau, gajah, orangutan, beruang madu, monyet ekor panjang, hingga buaya. Dua spesies yang paling sering merenggut korban jiwa dan kerugian ekonomi besar bagi masyarakat adalah harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang keduanya merupakan spesies paling terancam punah dan sama-sama berstatus Kritis (Critically Endangered) dalam daftar merah IUCN. Kejadian demi kejadian konflik ini pun tidak lahir dari satu sebab tunggal, melainkan gabungan banyak faktor yang bekerja bersamaan. Habitat yang menyusut akibat alih fungsi lahan, satwa mangsa predator yang berkurang, pakan herbivora yang berubah, perburuan satwa liar yang terus berlangsung, serta menyempitnya ruang jelajah satwa akibat kebutuhan manusia serta infrastruktur. Dalam ruang dan waktu yang sama, manusia dan satwa liar tampak berkompetisi dan memperebutkan sumber daya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/opini-konflik-manusia-dan-satwa-liar-tak-bisa-selesai-dengan-solusi-tunggal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Kepala Tembaga Tetap Melahirkan Tanpa Kawin, Meski Pejantan Tersedia di Habitatnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 03:40:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/04033941/Agkistrodon_contortrix_242284249-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132931</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama bertahun-tahun, ilmuwan percaya bahwa kelahiran tanpa pembuahan pada hewan hanya terjadi di tempat penangkaran seperti kebun binatang. Kasus semacam ini pernah tercatat pada ular piton dan komodo yang bertahun-tahun hidup sendirian tanpa pejantan, lalu tiba-tiba menghasilkan telur yang bisa menetas. Fenomena ini biasa disebut kelahiran perawan, atau dalam istilah ilmiah disebut partenogenesis. Karena hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/">Ular Kepala Tembaga Tetap Melahirkan Tanpa Kawin, Meski Pejantan Tersedia di Habitatnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama bertahun-tahun, ilmuwan percaya bahwa kelahiran tanpa pembuahan pada hewan hanya terjadi di tempat penangkaran seperti kebun binatang. Kasus semacam ini pernah tercatat pada ular piton dan komodo yang bertahun-tahun hidup sendirian tanpa pejantan, lalu tiba-tiba menghasilkan telur yang bisa menetas. Fenomena ini biasa disebut kelahiran perawan, atau dalam istilah ilmiah disebut partenogenesis. Karena hanya terlihat pada hewan yang terisolasi, banyak peneliti menganggapnya sebagai semacam jalan pintas darurat, bukan sesuatu yang wajar terjadi di alam. Namun penelitian pada ular kepala tembaga liar di Amerika Serikat mengubah anggapan itu. Ular kepala tembaga sendiri adalah salah satu ular berbisa yang cukup umum dijumpai di wilayah timur dan tengah Amerika Serikat. Ular ini biasa hidup di hutan, semak belukar, dan area berbatu, serta dikenal karena pola warnanya yang menyerupai daun kering, sehingga sulit terlihat di lantai hutan. Di luar cara reproduksinya yang unik ini, ular kepala tembaga juga dikenal sebagai predator penyergap yang mengandalkan kamuflase untuk menangkap mangsa seperti tikus, katak, dan serangga. Penemuan di Alam Liar Penelitian ini dipimpin oleh Warren Booth, yang saat itu bekerja di North Carolina State University. Tim peneliti mengumpulkan ular kepala tembaga (Agkistrodon contortrix) betina yang sedang bunting dari alam liar di Connecticut, lalu membiarkan mereka melahirkan di laboratorium. Ular-ular ini bukan hewan koleksi yang sengaja dipisahkan dari pejantan, melainkan individu yang diambil langsung dari populasi liar tempat perkawinan biasa terjadi setiap tahun. Setelah anak-anak ular lahir, tim memeriksa susunan genetik induk dan anaknya menggunakan sejumlah penanda genetik, untuk melihat apakah ada kontribusi genetik dari pejantan. Ular&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/ular-kepala-tembaga-tetap-melahirkan-tanpa-kawin-meski-pejantan-tersedia-di-habitatnya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Antrean SPBU di Luar Jawa Mengular, Bukti Ketimpangan Energi?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/#respond</comments>
					<pubDate>04 Sep 2026 03:00:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki MuazamRichaldo Hariandja]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30071023/IMG_6958-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132683</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta, jawa, dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, politik dan hukum, sawit, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penumpang Pesona Agatha Tour and Travel di Jambi mulai resah karena sudah lebih 60 menit kendaraan yang harusnya membawa mereka ke Palembang tak kunjung datang. Van yang menampung 11 orang itu baru tiba selewat jam 10.00 WIB, barang-barang dan penumpang pun segera naik, tak sabar segera melaju. “Baru kelar antre solar ini, bang. Parah,” celetuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/">Antrean SPBU di Luar Jawa Mengular, Bukti Ketimpangan Energi?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penumpang Pesona Agatha Tour and Travel di Jambi mulai resah karena sudah lebih 60 menit kendaraan yang harusnya membawa mereka ke Palembang tak kunjung datang. Van yang menampung 11 orang itu baru tiba selewat jam 10.00 WIB, barang-barang dan penumpang pun segera naik, tak sabar segera melaju. “Baru kelar antre solar ini, bang. Parah,” celetuk si sopir. Ketika van meluncur melewati pom bensin terdekat, antrean kendaraan berbahan bakar diesel mengular hingga ke bahu jalan. Mulai dari truk hingga kendaraan double cabin semua antre dengan tertib hingga puluhan meter di kanan-kiri Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Fenomena itu tidak hanya terjadi di Kota Jambi, daerah lain di Bumi Melayu Jambi, seperti Kabupaten Merangin, Sarolangun, hingga Muara Bungo. Pun demikian dengan provinsi lain seperti Sumatera Selatan dan Lampung. Beberapa kendaraan bahkan tidak jarang menginap di antrean demi mendapat bahan bakar. Pengalaman yang tidak terlihat di Pulau Jawa. “Bahkan pertalite saja beberapa hari terakhir sulit. Kita beruntung bisa dapat,” ucap Mustakim, Staf Walhi Lampung, saat menemani Mongabay menjelajah Provinsi Sai Bumi Rua Jurai itu. Antrean BBM di salah satu SPBU di Jambi. Foto: Richaldo Hariandja/Mongabay Indonesia. Problem yang mengakar Para pihak menilai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) ini bukan sekadar persoalan distribusi. Ada problem lain yang mengakar. Sudaryadi, Direktur Program Traction Energy Asia mengatakan, menurut kajian mereka, terjadi tekanan secara bersamaan dari sisi fiskal, pasokan bahan baku, dan tata kelola. Dari sisi fiskal, katanya, implementasi biodiesel 50 (B50) pada 1 Juli lalu berdampak pada beban subsidi. Dia bilang, biaya penerapan B50 sangat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/09/04/antrean-spbu-di-luar-jawa-mengular-bukti-ketimpangan-energi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>