<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=irfan-maulana&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/irfan-maulana/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Thu, 04 Jun 2026 10:01:05 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Harapan Energi Bersih di Tengah Krisis Iklim Global</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/04/harapan-energi-bersih-di-tengah-krisis-iklim-global/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/04/harapan-energi-bersih-di-tengah-krisis-iklim-global/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 10:01:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/04095347/Foto-Rawa-Singkil-7-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128792</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, jawa, pencemaran, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan rekor panas hampir pasti terjadi (91 persen) dalam kurun waktu 2026-2030. Ini memecahkan rekor sebelumnya pada 2024, ketika suhu rata-rata global melebihi 1,5°C di atas tingkat rata-rata dari tahun 1850-1900. &#8220;Ada El Nino yang diprediksi akhir 2026, yang meningkat kemungkinan tahun 2027, menjadi tahun pemecahan rekor (panas) berikutnya,&#8221; [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/harapan-energi-bersih-di-tengah-krisis-iklim-global/">Harapan Energi Bersih di Tengah Krisis Iklim Global</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan rekor panas hampir pasti terjadi (91 persen) dalam kurun waktu 2026-2030. Ini memecahkan rekor sebelumnya pada 2024, ketika suhu rata-rata global melebihi 1,5°C di atas tingkat rata-rata dari tahun 1850-1900. &#8220;Ada El Nino yang diprediksi akhir 2026, yang meningkat kemungkinan tahun 2027, menjadi tahun pemecahan rekor (panas) berikutnya,&#8221; ungkap Leon Hermanson, penulis utama laporan tersebut. Ini berarti pemanasan global masih berlanjut. Es di Arktik mencair lebih cepat, curah hujan berubah drastis, kekeringan lebih parah dan berkepanjangan, dan hilangnya spesies karena gagal beradaptasi dengan cepat, menuju kepunahan massal. Pemanasan global tidak hanya mengubah cuaca, tetapi juga mengancam kesehatan manusia dan menambah beban bencana. Pemanasan global memantik gelombang panas yang memicu heat stress, penyakit menyebar dan meluas, menyebabkan gagal panen, hingga memicu kerusakan infrastruktur. Berita baiknya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, energi angin dan surya berhasil mengalahkan gas alam dalam produksi listrik secara global pada April 2026. Ini bukti nyata bahwa transisi energi sedang berjalan meski masih harus dikerjakan jauh lebih cepat. “Tonggak sejarah ini terjadi selama bulan pertama krisis energi global terbaru yang dipicu konflik di Timur Tengah, menyoroti betapa cepatnya pertumbuhan pembangkit angin dan surya membentuk kembali bauran daya global. Bahkan, di tengah volatilitas pasar bahan bakar fosil,” tulis laporan dari Ember, think tank energi independen yang berbasis di London, Inggris. Angin dan matahari menghasilkan rekor 531 TWh listrik pada April 2026, 54 TWh lebih banyak dari pembangkit gas pada 477 TWh. Lima tahun lalu, pada April 2021, pembangkit gas berada pada tingkat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/harapan-energi-bersih-di-tengah-krisis-iklim-global/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/04/harapan-energi-bersih-di-tengah-krisis-iklim-global/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>King Cobra, Predator Puncak yang Memangsa Sesama Ular Berbisa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/king-cobra-predator-puncak-yang-memangsa-sesama-ular-berbisa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/king-cobra-predator-puncak-yang-memangsa-sesama-ular-berbisa/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 07:02:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233825/king-cobra-3498625_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128787</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara ribuan spesies ular yang hidup di muka bumi, king cobra (Ophiophagus hannah) menempati posisi yang benar-benar berbeda. Bukan hanya karena tubuhnya yang bisa mencapai 5,5 meter, menjadikannya ular berbisa terpanjang di dunia, tetapi karena satu kebiasaan yang nyaris tak dimiliki ular lain: ia berburu dan memakan ular berbisa lainnya. Perilaku ini disebut ophiophagy, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/king-cobra-predator-puncak-yang-memangsa-sesama-ular-berbisa/">King Cobra, Predator Puncak yang Memangsa Sesama Ular Berbisa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara ribuan spesies ular yang hidup di muka bumi, king cobra (Ophiophagus hannah) menempati posisi yang benar-benar berbeda. Bukan hanya karena tubuhnya yang bisa mencapai 5,5 meter, menjadikannya ular berbisa terpanjang di dunia, tetapi karena satu kebiasaan yang nyaris tak dimiliki ular lain: ia berburu dan memakan ular berbisa lainnya. Perilaku ini disebut ophiophagy, dan king cobra adalah salah satu contoh paling ekstrem dari adaptasi tersebut. Mangsanya bukan sembarang ular. Ia secara rutin memburu krait (Bungarus sp.) dan kobra sejati (Naja sp.), dua kelompok ular dengan bisa neurotoksik paling mematikan di Asia. Selain keduanya, ular beludak Russell (Daboia russelii), ular tikus, hingga biawak kecil juga sesekali masuk dalam daftarnya, meski lebih bersifat oportunistik. Penelitian menunjukkan bahwa king cobra memiliki ketahanan terhadap racun neurotoksik dari mangsanya sendiri, sebuah adaptasi evolusi yang membuatnya nyaris tak tertandingi di habitatnya. Meski namanya mengandung kata &#8220;kobra,&#8221; king cobra bukan bagian dari genus Naja yang mencakup kobra India maupun kobra Mesir. Ia adalah satu-satunya anggota genus Ophiophagus, sebuah nama Latin yang secara harfiah berarti &#8220;pemakan ular.&#8221; Tudungnya lebih sempit, tubuhnya jauh lebih besar, dan pola makannya jauh lebih terspesialisasi dibanding kobra mana pun. Dalam berburu, king cobra mengandalkan penglihatan tajam dan organ Jacobson di langit-langit mulutnya untuk menganalisis partikel kimia yang ditangkap lidah bercabangnya. Dengan cara ini, ia bisa melacak keberadaan mangsa dengan akurasi tinggi sebelum menyerang dengan kecepatan luar biasa. Satu gigitan bisa menyuntikkan hingga 7 mililiter racun, mengandung neurotoksin yang melumpuhkan sistem saraf serta kardiotoksin yang menyerang jantung, cukup untuk membunuh seekor gajah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/king-cobra-predator-puncak-yang-memangsa-sesama-ular-berbisa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/king-cobra-predator-puncak-yang-memangsa-sesama-ular-berbisa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cinenen Pisang, Burung Mungil Penjahit Daun yang Akrab di Pekarangan Kita</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/cinenen-pisang-burung-mungil-penjahit-daun-yang-akrab-di-pekarangan-kita/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/cinenen-pisang-burung-mungil-penjahit-daun-yang-akrab-di-pekarangan-kita/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 06:51:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/06/22034527/BURUNG-CINENEN-PISANG-3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128786</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tubuhnya hanya sekitar 10 hingga 11 sentimeter, namun gerakannya tak pernah diam. Ia melompat dari ranting ke ranting, sesekali menyelipkan kepala ke dalam batang bambu untuk mencari makan, lalu muncul kembali seolah tak terjadi apa-apa. Saat tidur, tubuhnya menggulung membulat seperti bola pingpong. Inilah cinenen pisang (Orthotomus sutortus), salah satu burung paling familiar di pekarangan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/cinenen-pisang-burung-mungil-penjahit-daun-yang-akrab-di-pekarangan-kita/">Cinenen Pisang, Burung Mungil Penjahit Daun yang Akrab di Pekarangan Kita</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tubuhnya hanya sekitar 10 hingga 11 sentimeter, namun gerakannya tak pernah diam. Ia melompat dari ranting ke ranting, sesekali menyelipkan kepala ke dalam batang bambu untuk mencari makan, lalu muncul kembali seolah tak terjadi apa-apa. Saat tidur, tubuhnya menggulung membulat seperti bola pingpong. Inilah cinenen pisang (Orthotomus sutortus), salah satu burung paling familiar di pekarangan rumah kita, namun justru paling jarang mendapat perhatian. Nama Inggrisnya, Common Tailorbird, bukan tanpa alasan. Burung ini membangun sarang dengan cara menjahit lembaran daun menggunakan serat alami dan jaring laba-laba, sebuah teknik yang membuat para pengamat burung berdecak kagum. Afinna Aninnas, peneliti dari Kelompok Pengamat Burung Zoothera Andromedae Universitas Brawijaya, bahkan menyebut teknik konstruksi sarang cinenen pisang bisa menjadi inspirasi bagi manusia dalam merancang struktur bangunan. Secara penampilan, cinenen pisang memadukan warna hijau zaitun di punggung dan sayap, putih keabu-abuan di bagian bawah tubuh, serta mahkota merah karat yang menjadi ciri khasnya. Paruhnya sedikit panjang dan meruncing, sangat pas untuk menangkap serangga kecil seperti ulat, jangkrik, dan telur semut. Kicauannya nyaring dan variatif, sehingga keberadaannya mudah dideteksi bahkan tanpa melihat langsung. Cinenen pisang tersebar luas di Pulau Jawa dan berbagai negara Asia, mulai dari India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, hingga Kamboja. Habitatnya beragam: pekarangan rumah, sawah, semak belukar, hingga hutan produksi. Justru karena terlalu umum itulah, burung ini kerap luput dari agenda riset. &#8220;Populasinya masih banyak, sehingga kurang menarik perhatian para peneliti,&#8221; kata Afinna. Padahal menurutnya, perilaku burung ini, terutama respons terhadap berbagai intervensi di habitat yang berbeda, masih sangat layak untuk dikaji lebih dalam.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/cinenen-pisang-burung-mungil-penjahit-daun-yang-akrab-di-pekarangan-kita/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/cinenen-pisang-burung-mungil-penjahit-daun-yang-akrab-di-pekarangan-kita/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Warga Gugat Pemerintah Karena Lamban Tangani Bencana Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/04/ketika-warga-gugat-pemerintah-karena-lamban-tangani-bencana-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/04/ketika-warga-gugat-pemerintah-karena-lamban-tangani-bencana-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 04:30:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/03092224/Bencana-Sumut-Yuni--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128765</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Belajar dari Bencana Sumatera]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sejumlah organisasi masyarakat sipil dan warga terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menggugat pemerintah karena lambatnya penanganan bencana banjir dan longsor, akhir November 2025. Sudah lebih lima  bulan, masih banyak masyarakat yang belum mendapat hak dasar di daerah terdampak. Gugatan masuk ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), awal Mei. Tim Advokasi Keadilan untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/ketika-warga-gugat-pemerintah-karena-lamban-tangani-bencana-sumatera/">Ketika Warga Gugat Pemerintah Karena Lamban Tangani Bencana Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sejumlah organisasi masyarakat sipil dan warga terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menggugat pemerintah karena lambatnya penanganan bencana banjir dan longsor, akhir November 2025. Sudah lebih lima  bulan, masih banyak masyarakat yang belum mendapat hak dasar di daerah terdampak. Gugatan masuk ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), awal Mei. Tim Advokasi Keadilan untuk Sumatera yang mendampingi koalisi menggunakan dalil yang didasari perluasan objek sengketa administrasi negara di PTUN berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan. Edy Kurniawan, Wakil Ketua Advokasi Bidang Ekonomi, Sosial, Budaya (Ekosob) Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menilai, pemerintah tak mengutamakan pemulihan bencana Sumatera. Dia bilang, pemerintah lebih mementingkan kebijakan populis yang justru menghamburkan anggaran. Misal, program makan bergizi gratis (MBG) yang pos belanjanya mencapai Rp335 triliun, sampai pembelian 65.067 motor listrik Rp3,2 triliun hingga pakaian Rp622,3 miliar hanya untuk kepentingan program itu. Belum lagi, proyek-proyek mercusuar seperti Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Sekolah Rakyat. Sementara, nasib korban bencana Sumatera masih terkatung-katung, tanpa kejelasan pemulihan. Alih-alih mengerahkan seluruh daya dan upaya melakukan tanggap darurat, pemerintah pusat justru banyak melakukan tindakan yang menuai kritik. Seperti pernyataan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) soal situasi mencekam yang hanya ada di media sosial, penolakan bantuan asing, hingga penolakan penetapan status bencana nasional. “Presiden cenderung lambat dan tidak responsif dalam menyikapi desakan untuk meningkatkan status darurat bencana nasional.” Data BNPB menyebut, bencana ini merenggut 1.208 nyawa, 127 orang hilang, 2.578 keluarga mengungsi dan 301.013 rumah rusak. Matinya komunikasi dan listrik kian memperparah situasi, jalan pun&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/ketika-warga-gugat-pemerintah-karena-lamban-tangani-bencana-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/04/ketika-warga-gugat-pemerintah-karena-lamban-tangani-bencana-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sang &#8216;Ikan Hari Kiamat&#8217;: Tubuh Sepanjang 11 Meter, Mangsa Sebesar Kuku Jari</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/04/sang-ikan-hari-kiamat-tubuh-sepanjang-11-meter-mangsa-sebesar-kuku-jari/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/04/sang-ikan-hari-kiamat-tubuh-sepanjang-11-meter-mangsa-sebesar-kuku-jari/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 04:00:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/20130548/download-1-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128779</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Samudera menutupi lebih dari 70 persen permukaan bumi, namun hingga hari ini kurang dari sepertiga dasarnya telah dipetakan secara detail. Di kedalaman yang belum terjamah itulah, jauh dari cahaya matahari dan jangkauan manusia, makhluk-makhluk yang tampak mustahil terus menjalani hidupnya dengan tenang, sampai suatu hari salah satu dari mereka terdampar di pantai dan mengubah semuanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/sang-ikan-hari-kiamat-tubuh-sepanjang-11-meter-mangsa-sebesar-kuku-jari/">Sang &#8216;Ikan Hari Kiamat&#8217;: Tubuh Sepanjang 11 Meter, Mangsa Sebesar Kuku Jari</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Samudera menutupi lebih dari 70 persen permukaan bumi, namun hingga hari ini kurang dari sepertiga dasarnya telah dipetakan secara detail. Di kedalaman yang belum terjamah itulah, jauh dari cahaya matahari dan jangkauan manusia, makhluk-makhluk yang tampak mustahil terus menjalani hidupnya dengan tenang, sampai suatu hari salah satu dari mereka terdampar di pantai dan mengubah semuanya menjadi kehebohan global. Salah satu makhluk itu adalah oarfish, ikan bertulang paling panjang di dunia, dengan catatan spesimen mencapai lebih dari 11 meter, tubuh ramping berwarna perak, dan sirip punggung merah menyala yang membuatnya terlihat seperti naga laut dari dunia mitologi. Namun sering ada pertanyaan yang diajukan ketika oarfish terdampar dan videonya viral: ikan sepanjang 11 meter ini sehari-harinya makan apa? Jawabannya mungkin sedikit mengejutkan. Makanan oarfish bukan ikan besar, bukan paus kecil, bukan pula predator bawah laut yang garang. Oarfish hidup dari plankton, krustasea kecil, dan cumi-cumi mini, mangsa yang ukurannya tidak jauh dari kuku jari manusia. Oarfish terdampar di pantai Queensland, Australia. Sirip punggungnya yang berwarna merah tua masih terlihat jelas di sepanjang tubuh, salah satu ciri khas yang membuatnya dijuluki naga laut. Foto: Gary Dickson/iNaturalist/CC BY 4.0 Dalam bahasa Indonesia ikan ini dikenal sebagai ikan sabuk, karena tubuhnya  panjang dan pipih menyerupai ikat pinggang. Di berbagai belahan dunia, ia dijuluki naga laut karena bentuknya berkilau dan bergerak anggun layaknya ular raksasa yang menari di kedalaman. Di sejumlah budaya Asia, ia mendapat sebutan ikan hari kiamat, sebuah julukan yang lahir dari keyakinan bahwa kemunculannya menandai bencana besar. Oarfish adalah ikan bertulang paling panjang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/sang-ikan-hari-kiamat-tubuh-sepanjang-11-meter-mangsa-sebesar-kuku-jari/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/04/sang-ikan-hari-kiamat-tubuh-sepanjang-11-meter-mangsa-sebesar-kuku-jari/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Permintaan Bambu Flores Tinggi, Bagaimana Jaga Keberlanjutan di Alam?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/04/bambu-flores-laku-bagaimana-jaga-stok-di-alam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/04/bambu-flores-laku-bagaimana-jaga-stok-di-alam/#respond</comments>
					<pubDate>04 Jun 2026 01:45:18 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi dan bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunita lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/03034226/7B-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128722</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Valentinus Hendrik begitu bersemangat saat berbincang bambu. Maklum, di desanya di Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, bambu menjadi komoditas paling menghasilkan saat ini. Seorang sepertinya dia  bahkan bisa meraup hingga Rp40 juta dari menjual bambu. Tak mengherankan, banyak warga yang kemudian menjual rumpun bambu di kebun atau lahan miliknya. Menurut Valentinus, sudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/bambu-flores-laku-bagaimana-jaga-stok-di-alam/">Ketika Permintaan Bambu Flores Tinggi, Bagaimana Jaga Keberlanjutan di Alam?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Valentinus Hendrik begitu bersemangat saat berbincang bambu. Maklum, di desanya di Watu Galang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, bambu menjadi komoditas paling menghasilkan saat ini. Seorang sepertinya dia  bahkan bisa meraup hingga Rp40 juta dari menjual bambu. Tak mengherankan, banyak warga yang kemudian menjual rumpun bambu di kebun atau lahan miliknya. Menurut Valentinus, sudah sejak lama kampung tempatnya lahir terkenal sebagai penghasil bambu. Bambu-bambu itu merupakan hasil penanaman keluarganya terdahulu. Dulu, bambu-bambu itu ditanam untuk menyimpan air, menahan erosi, terasiring, atau bahkan pembatas lahan. Sembari itu, sesekali, warga dapat memanfaatkannya untuk membangun tempat tinggal. Di antara jenis bambu yang ditanam, bambu jenis petung (Dendrocalamus asper) dan peri (Gigantochloa apus) merupakan yang paling banyak. “Paling banyak bambu petung dan bambu peri. Selain di sekitar mata air, juga dipakai untuk batas hutan dan kebun,” ujar Valentinus saat ditemui Mongabay Indonesia, Jumat (8/5/26). Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) paling banyak membeli bambu-bambu dari desa ini untuk dikirim ke pabrik pengolahan di Labuan Bajo. Dengan panjang 2,6 meter dan diameter 8 sentimeter, YBLL mengharga Rp8.000,. Sedangkan diameter 12 sentimeter, Rp10.000. Bersama YBLL, Valentinus yang juga Ketua Kelompok Panen Bambu Wela Nara menentukan lokasi pemanenan bambu. Sekali angkut satu truk bisa memuat 260 batang bambu sesuai ukuran. Biaya transportasi ditanggung YBLL sedang operasional ditanggung pemilik bambu. “Sejak Oktober hingga awal Maret 2026 kami sudah jual 140 truk. Saya dapat uang Rp40 juta, teman yang lainnya pun hampir sama,” katanya. Satu rumpun bambu bisa dapat 40 batang bambu siap panen. Satu batang bambu petung bisa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/04/bambu-flores-laku-bagaimana-jaga-stok-di-alam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/04/bambu-flores-laku-bagaimana-jaga-stok-di-alam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Apodora papuana: Raksasa Senyap yang Menjaga Hutan Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/apodora-papuana-raksasa-senyap-yang-menjaga-hutan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/apodora-papuana-raksasa-senyap-yang-menjaga-hutan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 22:28:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230025/Ular-papua-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128775</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di lantai hutan hujan Papua, di antara dedaunan lembap dan akar-akar yang meliuk, seekor predator bergerak tanpa suara. Panjangnya bisa mencapai lebih dari empat meter, tubuhnya tebal dan berkilau dalam nuansa hijau keabu-abuan yang menyatu sempurna dengan lingkungan sekitarnya. Ini bukan buaya, bukan biawak. Ini piton zaitun papua, Apodora papuana, satu-satunya spesies dalam genusnya. Nama [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/apodora-papuana-raksasa-senyap-yang-menjaga-hutan-papua/">Apodora papuana: Raksasa Senyap yang Menjaga Hutan Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di lantai hutan hujan Papua, di antara dedaunan lembap dan akar-akar yang meliuk, seekor predator bergerak tanpa suara. Panjangnya bisa mencapai lebih dari empat meter, tubuhnya tebal dan berkilau dalam nuansa hijau keabu-abuan yang menyatu sempurna dengan lingkungan sekitarnya. Ini bukan buaya, bukan biawak. Ini piton zaitun papua, Apodora papuana, satu-satunya spesies dalam genusnya. Nama &#8220;zaitun&#8221; bukan sekadar julukan. Warna dominan tubuhnya memang menyerupai buah atau minyak zaitun, hijau keabu-abuan hingga cokelat kehijauan gelap. Yang lebih mengejutkan, ular ini disebut mampu mengubah warnanya, dari hijau zaitun ke kuning, bahkan ke nuansa hitam, kadang memperlihatkan dua warna sekaligus. Perubahan ini diyakini terkait kondisi stres atau agitasi, semacam bahasa tubuh yang diungkapkan lewat pigmen kulit. Seperti kebanyakan piton, Apodora papuana dilengkapi lubang sensor panas di sekitar mulutnya, adaptasi yang membuatnya menjadi pemburu nokturnal yang sangat efisien. Dalam kegelapan total, ia bisa mendeteksi keberadaan mangsa berdarah panas, lalu menyergap dengan serangan cepat dan lilitan yang tak memberi kesempatan. Menurut Hari Suroto, peneliti dari Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, spesies ini tersebar di Papua dan Papua Nugini, mendiami dataran rendah hingga ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Hutan hujan tropis adalah habitatnya yang ideal, menyediakan iklim lembap, dedaunan lebat sebagai kamuflase, dan berlimpahnya mangsa. Beberapa pulau lepas pantai seperti Misool, Biak, Yapen, dan Numfor juga menjadi wilayah sebarannya. Dalam rantai ekosistem, peran piton ini jauh lebih besar dari yang terlihat. Ia mengendalikan populasi hewan pengerat dan marsupial kecil, menjaga keseimbangan rantai makanan. Lebih dari itu, karena ular memiliki daerah jelajah yang lebih&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/apodora-papuana-raksasa-senyap-yang-menjaga-hutan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/apodora-papuana-raksasa-senyap-yang-menjaga-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Ekosistem Gambut Makin Kritis</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/03/ketika-ekosistem-gambut-makin-kritis/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/03/ketika-ekosistem-gambut-makin-kritis/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 19:20:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/28045823/Ancaman-banjir-juga-mengintai-lanskap-gambut-di-Sumatera-Selatan.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128768</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ekosistem di Indonesia berada dalam kondisi kritis. Dari tahun ke tahun, terus mengalami penyusutan wilayah yang masif dan terstruktur. Siklus kehancuran dampak ekspansi industri monokultur, ekstraksi lahan besar-besaran, hingga berujung pada degradasi lingkungan. Wahyu Perdana, Manajer Advokasi, Kampanye, dan Komunikasi Pantau Gambut mengatakan, deforestasi dan pengeringan lahan basah ini terjadi sejak era orde baru. “Yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/ketika-ekosistem-gambut-makin-kritis/">Ketika Ekosistem Gambut Makin Kritis</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ekosistem di Indonesia berada dalam kondisi kritis. Dari tahun ke tahun, terus mengalami penyusutan wilayah yang masif dan terstruktur. Siklus kehancuran dampak ekspansi industri monokultur, ekstraksi lahan besar-besaran, hingga berujung pada degradasi lingkungan. Wahyu Perdana, Manajer Advokasi, Kampanye, dan Komunikasi Pantau Gambut mengatakan, deforestasi dan pengeringan lahan basah ini terjadi sejak era orde baru. “Yang cukup ironi, pemerintah baik langsung ataupun tidak kerap kali melihat gambut sebagai lahan yang tidak produktif dan tidak punya fungsi ekosistem. Itu berakar cukup lama,” katanya kepada Mongabay, Selasa (2/6/16). Analisis Pantau Gambut dari 13,43 juta luasan lahan gambut di Indonesia, sekitar 5,2 juta hektar menjadi konsesi kehutanan dan perkebunan. Kemudian, 8.23 juta hektar kesatuan kesatuan gambut (KHG) menjadi wilayah usaha non berizin.  Sejak 2011, ekosistem gambut turun 1,5 juta hektar. Wahyu mengatakan, secara keseluruhan, Kesatuan Ekosistem Gambut (KHG) di Indonesia 16 juta hektar. Hasil riset mereka, 25% KHG masuk dalam kategori kerentanan banjir tinggi, 18% rentan sedang, dan 57% dengan kerentanan rendah. Dia bilang, kegagalan terbesar dalam pengelolaan lahan basah mulai ketika terbit kebijakan proyek pembukaan lahan gambut (PLG) 1 juta hektar di Kalimantan Tengah masa pemerintahan Presiden Soeharto 1995. Proyek ambisius itu berujung bencana ekologis berskala internasional karena mengabaikan karakteristik sains gambut. Pasca keruntuhan Orde Baru, alih-alih menghentikan total dan pemulihan gambut, negara justru berulang kali jatuh pada lubang sama. Gambut terkoyak untuk PLG justru jadi program pengembangan pangan skala besar (food estate) dan berbuah kegagalan. Kegagalan proyek yang mengorbankan kawasan gambut juga terjadi di Papua Selatan dalam proyek Merauke Integrated Food and&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/ketika-ekosistem-gambut-makin-kritis/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/03/ketika-ekosistem-gambut-makin-kritis/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menyoal Skor &#8220;Hijau&#8217; Alamtri Resources</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 15:15:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/31230025/Tambang-Pari-Coal_JATAM-Kaltim_Foto-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128595</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, ekonomi dan bisnis, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Albed, bersiap menuju kebun karetnya, pagi itu. Kedua tangan membawa perlengkapan buat menyadap. Ada pisau sadap sampai tumpukan ember di tangan kiri. Kebun itu berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya di Kampung Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dia biasa pakai sepeda motor ke sana. Kebun Albed tak jauh dari lokasi jetty [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/">Menyoal Skor &#8220;Hijau&#8217; Alamtri Resources</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Albed, bersiap menuju kebun karetnya, pagi itu. Kedua tangan membawa perlengkapan buat menyadap. Ada pisau sadap sampai tumpukan ember di tangan kiri. Kebun itu berjarak sekitar lima kilometer dari rumahnya di Kampung Geleo Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Dia biasa pakai sepeda motor ke sana. Kebun Albed tak jauh dari lokasi jetty PT Pari Coal, anak perusahaan tambang batubara PT Adaro Energy Indonesia (ADRO), yang kini berganti nama menjadi PT Alamtri Resources Indonesia,  bagian Grup Adaro. Siang itu,  motor Albed terhenti setelah dia kena hadang sekelompok orang, ada TNI dan Polri serta keamanan Pari Coal. “Saya ingat betul&#8230;. ada 12 orang saat itu. Tiga TNI, tiga polisi, dan lima petugas keamanan yang mengaku dari Pari Coal,” katanya saat Mongabay hubungi, Kamis (21/5/26). Peristiwa pencegatan terjadi pada pertengahan 2024, ketika Pari Coal mulai masuk dan membuka akses menuju lokasi jetty di sekitar Kampung Geleo Asa. Albed sempat kebingungan. Dia merasa tidak melakukan pelanggaran apapun. Jalan itu dia lalui selama ini sebagai akses warga menuju kebun dan sungai. “Mereka bilang saya tidak boleh lewat karena ini area perusahaan. Padahal,  dari dulu masyarakat lewat situ untuk ke kebun,” katanya. Hingga kini, Albed tak bisa masuk ke kebun karet karena aparat jaga ketat. Ketegangan antara warga dan perusahaan, katanya,  mulai meningkat setelah pembukaan lahan untuk bikin jetty batubara. Warga khawatir proyek itu akan mempersempit ruang hidup mereka, termasuk akses menuju kebun dan sumber air. Jetty Pari Coal berada di Sungai Waliwai,  yang selama ini tempat nelayan Geleo Asa cari ikan. Jetty&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/03/menyoal-skor-hijau-alamtri-resources/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Minim Penelitian, Kelinci Belang Sumatera Antara Ada dan Tiada</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/03/minim-penelitian-kelinci-belang-sumatera-antara-ada-dan-tiada/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/03/minim-penelitian-kelinci-belang-sumatera-antara-ada-dan-tiada/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 14:27:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Agustinus Wijayanto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/03142151/Kelinci-belang-sumatera2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=128753</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dua anakan kelinci belang sumatera atau kelinci sumatera (Nesolagus netscheri) ditemukan di kebun warga, di sekitar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Satwa dilindungi tersebut, kini telah dikembalikan ke habitat alaminya. Kasus bermula dari unggahan di Facebook dengan keterangan “Mainan Anak di Kebun &#8211; Kelinci Hutan” pada 26 April 2026. Postingan itu teridentifikasi tim patroli [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/minim-penelitian-kelinci-belang-sumatera-antara-ada-dan-tiada/">Minim Penelitian, Kelinci Belang Sumatera Antara Ada dan Tiada</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dua anakan kelinci belang sumatera atau kelinci sumatera (Nesolagus netscheri) ditemukan di kebun warga, di sekitar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Satwa dilindungi tersebut, kini telah dikembalikan ke habitat alaminya. Kasus bermula dari unggahan di Facebook dengan keterangan “Mainan Anak di Kebun &#8211; Kelinci Hutan” pada 26 April 2026. Postingan itu teridentifikasi tim patroli siber Yayasan Scents (Science for Endangered and Trafficked Species), yang secara rutin memantau aktivitas perdagangan satwa liar di platform digital. Dwi Nugroho Adhiasto, Senior Advisor Scents, menyatakan pihaknya melakukan pemantauan rutin di media sosial. “Setelah ditelusuri, pengunggah mengaku menemukan anak kelinci tersebut di kebunnya dan berniat memelihara,” jelasnya, Minggu (26/4/2026). Tim melakukan pendekatan persuasif dan memberikan penjelasan status perlindungan kelinci sumatera. Juga, risiko hukum jika satwa tersebut dipelihara atau diperdagangkan. “Pendekatan ini penting dalam upaya konservasi, terutama dalam konteks masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat satwa liar.” Kelinci belang sumatera, satwa langka dilindungi ini diselamatkan saat hendak diperdagangkan. Foto: Dok. Taman Nasional Kerinci Seblat. Maruf Erawan, Direktur Scents, menambahkan bahwa perdagangan ilegal satwa dilindungi semakin kompleks bahkan lintas negara. “Kasus ini mencerminkan tantangan konservasi yang semakin berat,” ungkapnya, Senin (27/4/2026). Berdasarkan catatan Scents, Pada April dan Juni 2025, terjadi tiga kasus penyelundupan dengan total enam kelinci sumatera di India dan Thailand. Berikutnya, pada 15 Juli 2025 di Pune, India, sebanyak 20 spesies langka disita, berupa ular piton pohon hijau, burung beo ara bermata dua, dan kelinci sumatera, yang ditemukan di bagasi penumpang dari Bangkok. “Ancaman terhadap satwa liar tidak hanya terjadi di hutan, tetapi juga di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/03/minim-penelitian-kelinci-belang-sumatera-antara-ada-dan-tiada/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/03/minim-penelitian-kelinci-belang-sumatera-antara-ada-dan-tiada/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tujuh Gajah Mati, Satu Kawasan Dibiarkan Hancur</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tujuh-gajah-mati-satu-kawasan-dibiarkan-hancur/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tujuh-gajah-mati-satu-kawasan-dibiarkan-hancur/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:52:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/18065351/Seekor-harimau-sumatera-ditemukan-mati-di-kawasan-Bentang-Seblat.-Foto-Koalisi-Selamatkan-Bentang-Alam-Seblat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128748</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pada 29 April 2026, dua ekor gajah Sumatera ditemukan mati di Bentang Alam Seblat, Bengkulu. Tidak jauh dari lokasi, konsorsium pemantau menemukan kantung-kantung berisi racun yang digantung di batang kayu, diduga sengaja dipasang untuk membasmi gajah yang dianggap mengganggu kebun sawit. Ini bukan kejadian pertama. Sejak 2018, sedikitnya tujuh gajah telah mati di kawasan yang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tujuh-gajah-mati-satu-kawasan-dibiarkan-hancur/">Tujuh Gajah Mati, Satu Kawasan Dibiarkan Hancur</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pada 29 April 2026, dua ekor gajah Sumatera ditemukan mati di Bentang Alam Seblat, Bengkulu. Tidak jauh dari lokasi, konsorsium pemantau menemukan kantung-kantung berisi racun yang digantung di batang kayu, diduga sengaja dipasang untuk membasmi gajah yang dianggap mengganggu kebun sawit. Ini bukan kejadian pertama. Sejak 2018, sedikitnya tujuh gajah telah mati di kawasan yang sama. Ada yang diracun, ada yang ditembak, ada yang kakinya berlubang karena jebakan paku. Harimau Sumatera pun ikut ditemukan mati di dalam area konsesi perusahaan. Merespons kasus ini, Menteri Kehutanan Raja Juli Anton menyatakan akan mencabut izin usaha pemanfaatan hutan (PBPH) dua perusahaan yang beroperasi di kawasan itu: PT Bentara Arga Timber (BAT) dan PT Anugerah Pratama Inspirasi (API). Keduanya sebelumnya telah dibekukan pada 2025 dengan kewajiban restorasi ekosistem, namun alih-alih memulihkan hutan, justru ditemukan indikasi pembalakan liar dan penanaman sawit ilegal di dalam kawasan yang seharusnya dipulihkan. &#8220;Tidak hanya sampai sanksi administratif, pencabutan, tapi sampai ke pidana,&#8221; kata Raja dalam konferensi pers, 7 Mei 2026. Bagi para pegiat konservasi, pernyataan itu terdengar familiar. Egi Ade Saputra, Direktur Eksekutif Yayasan Genesis Bengkulu, menilai langkah pemerintah sangat terlambat. &#8220;Kita melihat ini suatu yang harus dibuktikan dalam bentuk dikeluarkan dan dipublikasi SK pencabutan,&#8221; ujarnya. Analisis citra satelit Landsat 8 yang dilakukan Genesis pada periode Februari hingga April 2026 menunjukkan bukaan lahan masih terus terjadi di dalam kawasan konsesi. Februari saja tercatat 307 titik bukaan seluas lebih dari 2.000 hektar. Dalam dua tahun terakhir, Bentang Seblat kehilangan sekitar 6.800 hektar tutupan hutan. Wishnu Sukmantoro dari Forum Konservasi Gajah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tujuh-gajah-mati-satu-kawasan-dibiarkan-hancur/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tujuh-gajah-mati-satu-kawasan-dibiarkan-hancur/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ketika Tikus Membawa Lebih dari Sekadar Kotoran</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ketika-tikus-membawa-lebih-dari-sekadar-kotoran/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ketika-tikus-membawa-lebih-dari-sekadar-kotoran/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:43:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[flora dan fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/05/17023733/Tikus-di-sekitar-kita-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128747</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kapal pesiar MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, menuju Antarktika pada awal April 2026 dengan membawa ratusan penumpang dan, tanpa disadari siapa pun, sebuah wabah. Tiga penumpang meninggal dalam rentang kurang dari sebulan, semuanya akibat hantavirus. WHO menyatakan kejadian itu sebagai wabah resmi pada 4 Mei 2026, dengan total 11 kasus terkonfirmasi. Kapal itu tidak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ketika-tikus-membawa-lebih-dari-sekadar-kotoran/">Ketika Tikus Membawa Lebih dari Sekadar Kotoran</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kapal pesiar MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina, menuju Antarktika pada awal April 2026 dengan membawa ratusan penumpang dan, tanpa disadari siapa pun, sebuah wabah. Tiga penumpang meninggal dalam rentang kurang dari sebulan, semuanya akibat hantavirus. WHO menyatakan kejadian itu sebagai wabah resmi pada 4 Mei 2026, dengan total 11 kasus terkonfirmasi. Kapal itu tidak pernah singgah di Indonesia. Namun alarm yang berbunyi di Eropa dan Amerika Selatan seharusnya juga terdengar di sini. Sebab Indonesia, menurut sebuah kajian yang terbit di jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases pada Maret 2026, adalah negara dengan prevalensi hantavirus tertinggi di Asia Tenggara. Angkanya mencapai 17,49 persen pada populasi mamalia kecil, jauh di atas Singapura yang berada di posisi kedua dengan 10,53 persen. Studi metaanalisis yang dipimpin Zixiao Guo dari Hainan Medical University itu merupakan tinjauan sistematis pertama yang mencakup seluruh kawasan Asia Tenggara. Data dari Kementerian Kesehatan RI memperkuat kekhawatiran itu. Sepanjang 2024 hingga Mei 2026, tercatat 256 suspek dengan 23 kasus terkonfirmasi tipe HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome), tersebar dari DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, hingga Nusa Tenggara Timur. Tren konfirmasinya naik tajam: 1 kasus pada 2024, 17 kasus pada 2025. Hantavirus tidak menyebar seperti COVID-19. Tidak ada penularan lewat udara dari manusia ke manusia, setidaknya untuk varian yang beredar di Asia. Virus ini menular melalui kontak dengan tikus atau celurut, lewat gigitan, atau lebih sering lagi, lewat menghirup partikel kering dari urine, feses, dan air liur hewan yang terinfeksi. Risiko meningkat saat seseorang membersihkan gudang lama, rumah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ketika-tikus-membawa-lebih-dari-sekadar-kotoran/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/ketika-tikus-membawa-lebih-dari-sekadar-kotoran/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Peperomia pellucida: Si &#8220;Gulma&#8221; Pekarangan yang Kini Diperebutkan Industri Herbal</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peperomia-pellucida-si-gulma-pekarangan-yang-kini-diperebutkan-industri-herbal/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peperomia-pellucida-si-gulma-pekarangan-yang-kini-diperebutkan-industri-herbal/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:39:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22041821/sirih-cina-IMG_20201212_070657-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128745</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di sela-sela pot bunga, di pinggir parit, atau menempel diam-diam di tembok lembab, tumbuhan kecil bertangkai transparan ini sudah lama dicabut dan dibuang begitu saja. Petani menyebutnya hama. Padahal, dunia sains menyebutnya sesuatu yang lain: kandidat superfood yang patut diperhitungkan. Namanya bermacam-macam tergantung dari mana asalnya. Sirih cina, sirih bumi, ketumpang air. Nama latinnya satu: [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peperomia-pellucida-si-gulma-pekarangan-yang-kini-diperebutkan-industri-herbal/">Peperomia pellucida: Si &#8220;Gulma&#8221; Pekarangan yang Kini Diperebutkan Industri Herbal</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di sela-sela pot bunga, di pinggir parit, atau menempel diam-diam di tembok lembab, tumbuhan kecil bertangkai transparan ini sudah lama dicabut dan dibuang begitu saja. Petani menyebutnya hama. Padahal, dunia sains menyebutnya sesuatu yang lain: kandidat superfood yang patut diperhitungkan. Namanya bermacam-macam tergantung dari mana asalnya. Sirih cina, sirih bumi, ketumpang air. Nama latinnya satu: Peperomia pellucida. Tumbuhan herbal yang berasal dari Amerika tropis ini kini tumbuh liar hampir di seluruh wilayah Indonesia, terutama di tempat-tempat lembab saat musim hujan. Tingginya hanya sekitar 15 hingga 45 sentimeter, dengan daun berbentuk menyerupai daun sirih namun lebih kecil, lebih tebal, dan bertekstur lunak. Batangnya berwarna cerah, berair, dan sedikit transparan seperti kaca. Sekilas tampak seperti tanaman tak berguna. Tapi kandungannya justru mengejutkan. Menurut Septiana Kurniasari, dosen Farmasi Universitas Islam Madura, Peperomia pellucida mengandung minyak esensial, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid. Kombinasi senyawa ini memberikan potensi yang cukup luas, mulai dari antibakteri, antiseptik, hingga antimikroba. &#8220;Dari kandungan itu, sirih cina memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri,&#8221; ujarnya. Secara tradisional, tumbuhan ini sudah lama digunakan untuk mengatasi bisul, jerawat, radang kulit, sakit kepala, demam, dan gangguan ginjal. Penelitian lebih lanjut menunjukkan potensinya sebagai obat asam urat, penyembuh luka, antihipertensi, bahkan antikanker. Relevansinya kian kuat di tengah tren 2025-2026 yang mendorong kembali ke pangan lokal dan herbal alami sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan. Di berbagai platform belanja daring, bibit sirih cina kini sudah diperjualbelikan, dengan harga per kilogram yang bisa mencapai lebih dari Rp75.000. Nissa Wargadipura, pendiri Pesantren Ekologi Ath Thaariq di Garut, sudah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peperomia-pellucida-si-gulma-pekarangan-yang-kini-diperebutkan-industri-herbal/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peperomia-pellucida-si-gulma-pekarangan-yang-kini-diperebutkan-industri-herbal/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menelusuri Jejak Purba dan Akar Migrasi Nenek Moyang Tanah Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/menelusuri-jejak-purba-dan-akar-migrasi-nenek-moyang-tanah-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/menelusuri-jejak-purba-dan-akar-migrasi-nenek-moyang-tanah-papua/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:37:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/09/22021849/Puncak-Yomokho-di-Danau-Sentani-yang-merupakan-lokasi-penggalian-tulang-belulang-manusia-yang-diduga-nenek-moyang-orang-Papua.-Foto_-Hari-Suroto-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128746</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kekayaan budaya dan fisik masyarakat Papua tidak lepas dari sejarah migrasi panjang yang dimulai sejak zaman es. Berdasarkan kajian paleo-antropologi, pada masa Pleistosen sekitar 800.000 tahun lalu, ketika Pulau Papua masih menyatu dengan Benua Australia, wilayah ini dihuni oleh manusia Paleo-Melanesoid. Ketika permukaan laut naik dan memisahkan kedua daratan, kelompok ini berevolusi menjadi ras Melanesoid [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/menelusuri-jejak-purba-dan-akar-migrasi-nenek-moyang-tanah-papua/">Menelusuri Jejak Purba dan Akar Migrasi Nenek Moyang Tanah Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kekayaan budaya dan fisik masyarakat Papua tidak lepas dari sejarah migrasi panjang yang dimulai sejak zaman es. Berdasarkan kajian paleo-antropologi, pada masa Pleistosen sekitar 800.000 tahun lalu, ketika Pulau Papua masih menyatu dengan Benua Australia, wilayah ini dihuni oleh manusia Paleo-Melanesoid. Ketika permukaan laut naik dan memisahkan kedua daratan, kelompok ini berevolusi menjadi ras Melanesoid di Papua dan Melanesia, serta Australoid di Australia. Jejak fisik nenek moyang Paleo-Melanesoid ini bahkan dapat dilacak hingga pada tengkorak Homo Wajakensis di Jawa Timur. Secara lebih spesifik, manusia Australomelanesid tercatat sebagai penghuni pertama Pulau New Guinea yang tiba di Teluk Huon, Papua Nugini, sekitar 50.000 tahun lalu. Merekalah leluhur langsung orang Papua, Papua Nugini, dan masyarakat Melanesia modern. Kelompok pemburu dan pengumpul makanan ini membawa pengetahuan penting berupa pembuatan api. Kehadiran mereka berdampak besar pada ekosistem lokal, di mana perburuan intensif memicu kepunahan berbagai mamalia marsupial berbadan besar. Setelah megafauna punah, mereka beralih berburu hewan yang lebih kecil seperti kuskus dan kanguru pohon. Ribuan tahun kemudian, kelompok Australomelanesid mulai mengembangkan peradaban yang lebih kompleks. Mereka bergerak ke dataran tinggi, seperti di Situs Kuk, Papua Nugini, di mana mereka mulai membudidayakan keladi sekitar 8.000 tahun lalu. Migrasi ke barat berlanjut hingga ke Lembah Baliem di Papua, tempat pertanian buah merah dikembangkan sekitar 7.000 tahun lalu. Masyarakat dataran tinggi ini hidup terisolasi dari pendatang baru, sehingga budaya mereka tidak mengenal penggunaan wadah tanah liat untuk memasak. Peta budaya Papua berubah signifikan sekitar 3.000 tahun lalu dengan kedatangan manusia Austronesia di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Interaksi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/menelusuri-jejak-purba-dan-akar-migrasi-nenek-moyang-tanah-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/menelusuri-jejak-purba-dan-akar-migrasi-nenek-moyang-tanah-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sumatera Selatan: Ketika Ratusan Pulau Lenyap dan Banjir Mengintai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sumatera-selatan-ketika-ratusan-pulau-lenyap-dan-banjir-mengintai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sumatera-selatan-ketika-ratusan-pulau-lenyap-dan-banjir-mengintai/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:33:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/11/22005934/Pulau-atau-delta-di-Kecamatan-Pampangan-Kabupaten-OKI-Sumsel-yang-menghilang-dikarenakan-perubahan-lahan-basah-di-sekitarnya.-Foto-Drone-Humaidy-Kenedy-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128744</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Hutan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Wajah geografis Sumatera Selatan terus mengalami perubahan drastis yang kian mengikis identitas baharinya. Provinsi yang dulunya diperkirakan memiliki ratusan pulau kecil atau delta di tengah lahan basah kini hanya menyisakan 23 pulau. Sebagian besar pulau yang tersisa, seperti Pulau Kemaro dan Pulau Kreto, kini berdiri sebagai peninggalan terisolasi di Sungai Musi, sementara ratusan pulau lainnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sumatera-selatan-ketika-ratusan-pulau-lenyap-dan-banjir-mengintai/">Sumatera Selatan: Ketika Ratusan Pulau Lenyap dan Banjir Mengintai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Wajah geografis Sumatera Selatan terus mengalami perubahan drastis yang kian mengikis identitas baharinya. Provinsi yang dulunya diperkirakan memiliki ratusan pulau kecil atau delta di tengah lahan basah kini hanya menyisakan 23 pulau. Sebagian besar pulau yang tersisa, seperti Pulau Kemaro dan Pulau Kreto, kini berdiri sebagai peninggalan terisolasi di Sungai Musi, sementara ratusan pulau lainnya telah lenyap ditelan perubahan bentang alam yang masif. Hilangnya pulau-pulau ini bukanlah fenomena alamiah semata, melainkan akibat berkelanjutan dari alih fungsi lahan basah dan rawa gambut, terutama di wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Ogan Ilir. Hingga saat ini, ratusan ribu hektare rawa telah dikeringkan dan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, hingga permukiman dan infrastruktur jalan darat. Pengeringan rawa dan pembangunan jalan yang menyambungkan daratan telah secara permanen menghapus batas perairan, membuat pulau-pulau kecil menyatu dengan daratan utama dan kehilangan eksistensinya. Kepunahan pulau-pulau ini juga menandai memudarnya kearifan lokal masyarakat bahari Palembang. Secara historis, masyarakat Palembang memandang Sungai Musi sebagai &#8220;laut&#8221; dan daratan kecil di perairannya sebagai &#8220;pulau&#8221;. Mereka hidup beradaptasi dengan air melalui rumah rakit, perahu kajang, dan rumah panggung. Dalam pandangan masyarakat bahari tradisional, air bukanlah sumber bencana, melainkan sumber kehidupan dan jalur transportasi utama yang ramah. Namun, pola pembangunan modern yang mengadopsi konsep daratan; dengan menimbun sungai, mengeringkan rawa, dan membangun infrastruktur tanpa tiang; telah memutus hubungan harmonis tersebut. Ironisnya, upaya untuk &#8220;mengusir&#8221; air dari ruang hidup manusia ini justru menjadi bumerang yang nyata saat ini. Setiap kali musim hujan tiba atau saat pasang laut naik, Sumatera Selatan, khususnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sumatera-selatan-ketika-ratusan-pulau-lenyap-dan-banjir-mengintai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sumatera-selatan-ketika-ratusan-pulau-lenyap-dan-banjir-mengintai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jejak Sejarah dan Ancaman Fatal di Balik Tradisi Daging Anjing Minahasa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-sejarah-dan-ancaman-fatal-di-balik-tradisi-daging-anjing-minahasa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-sejarah-dan-ancaman-fatal-di-balik-tradisi-daging-anjing-minahasa/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:29:24 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011534/Pasar-Tomohon-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128743</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tradisi mengonsumsi daging anjing di Minahasa, Sulawesi Utara, yang dikenal dengan hidangan Rintek Wuuk (RW), merupakan kebiasaan yang telah berakar sejak lama. Meskipun belum ada bukti penanggalan karbon dari tulang anjing di situs prasejarah, relief motif anjing pada Waruga yang berasal dari abad ke-7 Masehi mengindikasikan bahwa hewan ini telah lama berinteraksi dengan masyarakat setempat. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-sejarah-dan-ancaman-fatal-di-balik-tradisi-daging-anjing-minahasa/">Jejak Sejarah dan Ancaman Fatal di Balik Tradisi Daging Anjing Minahasa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tradisi mengonsumsi daging anjing di Minahasa, Sulawesi Utara, yang dikenal dengan hidangan Rintek Wuuk (RW), merupakan kebiasaan yang telah berakar sejak lama. Meskipun belum ada bukti penanggalan karbon dari tulang anjing di situs prasejarah, relief motif anjing pada Waruga yang berasal dari abad ke-7 Masehi mengindikasikan bahwa hewan ini telah lama berinteraksi dengan masyarakat setempat. Anjing diperkenalkan oleh manusia berbahasa Austronesia sekitar 3.000 tahun lalu. Pada masa lalu, daging anjing hanya dikonsumsi oleh keluarga saat musim paceklik atau ketika buruan sulit didapat, bukan untuk diperjualbelikan. Menariknya, dalam budaya Minahasa, satu-satunya hewan yang pantang dikonsumsi adalah burung hantu atau manguni yang sangat disakralkan. Seiring berjalannya waktu dan masuknya ekonomi pasar, tradisi yang awalnya berfungsi untuk mengendalikan populasi anjing yang cepat bereproduksi ini bergeser menjadi komoditas perdagangan. Pusat perdagangan daging anjing yang terkenal adalah Pasar Ekstrem Tomohon. Namun, kesadaran akan dampak negatif dari perdagangan ini mulai membuahkan hasil.  Pemerintah Kota Tomohon resmi melarang perdagangan anjing dan kucing. Langkah ini diambil untuk menyelamatkan ribuan hewan dari penyembelihan kejam serta melindungi masyarakat dari ancaman kesehatan yang serius. Sebelumnya,  Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan juga telah mengeluarkan surat edaran yang menegaskan bahwa daging anjing tidak termasuk dalam definisi pangan dan berisiko menularkan penyakit zoonosis. Larangan ini sangat beralasan mengingat konsumsi dan perdagangan daging anjing membawa ancaman besar bagi kesehatan manusia. Anjing merupakan penular utama penyakit rabies di Indonesia, menyumbang hingga 98 persen kasus. Selain rabies, mengonsumsi daging anjing juga berisiko memicu hipertensi, gangguan saluran pencernaan, hingga kolera. Di sisi lain, perdagangan ini juga memberikan dampak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-sejarah-dan-ancaman-fatal-di-balik-tradisi-daging-anjing-minahasa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/jejak-sejarah-dan-ancaman-fatal-di-balik-tradisi-daging-anjing-minahasa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Mengenal Rambusa, Tanaman Merambat Liar yang Kaya Manfaat Kesehatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengenal-rambusa-tanaman-merambat-liar-yang-kaya-manfaat-kesehatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengenal-rambusa-tanaman-merambat-liar-yang-kaya-manfaat-kesehatan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:25:29 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[flora dan fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22004232/Rambusa2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128742</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[flora fauna]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Rambusa (Passiflora foetida), yang sering dijuluki sebagai markisa mini, merupakan tanaman merambat asli dari wilayah Amerika yang kini tumbuh liar di berbagai daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki panjang 1,5 hingga 5 meter dengan alat pembelit berbentuk spiral yang memudahkannya memanjat pepohonan. Ciri khasnya meliputi daun hijau mengkilat yang terasa lengket, bunga dengan mahkota [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengenal-rambusa-tanaman-merambat-liar-yang-kaya-manfaat-kesehatan/">Mengenal Rambusa, Tanaman Merambat Liar yang Kaya Manfaat Kesehatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Rambusa (Passiflora foetida), yang sering dijuluki sebagai markisa mini, merupakan tanaman merambat asli dari wilayah Amerika yang kini tumbuh liar di berbagai daerah tropis, termasuk Indonesia. Tanaman ini memiliki panjang 1,5 hingga 5 meter dengan alat pembelit berbentuk spiral yang memudahkannya memanjat pepohonan. Ciri khasnya meliputi daun hijau mengkilat yang terasa lengket, bunga dengan mahkota putih dan bagian tengah ungu, serta buah bulat berukuran 1,5-3 cm yang dibungkus serabut berambut. Saat mentah, kulit buahnya berwarna hijau, namun berubah menjadi kuning cerah ketika matang, dengan biji hitam di dalamnya yang diselimuti cairan bening layaknya markisa. Di Indonesia, rambusa sangat mudah dijumpai tumbuh liar di semak belukar, tepi hutan, pesisir pantai, hingga pinggir jalan raya. Tanaman ini biasanya lebih banyak berbuah pada musim hujan. Selain dikenal dengan nama rambusa atau markisa mini, tanaman ini memiliki berbagai sebutan lokal di berbagai daerah, seperti ceplukan, blungsun, rajutan, permot, hingga timun padang. Bagi anak-anak di beberapa daerah seperti Maumere, Nusa Tenggara Timur, buah yang rasanya manis ini menjadi camilan favorit yang sering dipetik langsung dari pohon inangnya di alam liar. Meskipun lezat saat matang, masyarakat perlu mewaspadai bahwa buah rambusa mengandung racun jika dikonsumsi saat masih muda. Namun, ketika sudah matang sempurna, buah ini menyimpan segudang manfaat kesehatan. Berdasarkan penelitian, buah rambusa kaya akan kalsium, zat besi, antioksidan, mineral, dan Vitamin C. Menariknya, kadar Vitamin C pada buah rambusa matang tercatat lebih tinggi, yaitu sebesar 2,21 mg/g, dibandingkan saat masih mentah yang hanya 1,31 mg/g. Kandungan nutrisinya yang padat membuat rambusa berpotensi besar sebagai tanaman&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengenal-rambusa-tanaman-merambat-liar-yang-kaya-manfaat-kesehatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/mengenal-rambusa-tanaman-merambat-liar-yang-kaya-manfaat-kesehatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kapulaga: Dari Rempah Tradisional hingga Primadona Ekspor dan Obat Diabetes</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kapulaga-dari-rempah-tradisional-hingga-primadona-ekspor-dan-obat-diabetes/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kapulaga-dari-rempah-tradisional-hingga-primadona-ekspor-dan-obat-diabetes/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:21:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232031/kapulaga-jawa-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128741</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kapulaga atau kapulaga jawa merupakan tanaman asli Indonesia dari famili Zingiberaceae yang kini telah mendunia. Tumbuh subur di ketinggian 300-500 meter di atas permukaan laut, tanaman tahunan ini banyak ditemukan di Jawa Barat dan kawasan Gunung Honje, Banten. Masyarakat lokal telah lama memanfaatkan berbagai bagian tanaman ini, dari akar hingga daun. Di Gunung Honje, buah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kapulaga-dari-rempah-tradisional-hingga-primadona-ekspor-dan-obat-diabetes/">Kapulaga: Dari Rempah Tradisional hingga Primadona Ekspor dan Obat Diabetes</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kapulaga atau kapulaga jawa merupakan tanaman asli Indonesia dari famili Zingiberaceae yang kini telah mendunia. Tumbuh subur di ketinggian 300-500 meter di atas permukaan laut, tanaman tahunan ini banyak ditemukan di Jawa Barat dan kawasan Gunung Honje, Banten. Masyarakat lokal telah lama memanfaatkan berbagai bagian tanaman ini, dari akar hingga daun. Di Gunung Honje, buah kapulaga diramu dengan minyak kayu putih untuk menghangatkan tubuh anak-anak. Biji kapulaga juga ampuh mengobati batuk, sakit perut, dan kembung, serta berfungsi sebagai rempah penyedap makanan dan pewangi alami. Di berbagai daerah, rempah ini memiliki nama yang beragam, seperti kardamon, palogo, kapol, hingga karkolaka. Tidak hanya berkhasiat sebagai obat tradisional, kapulaga kini menjadi primadona di pasar global. Kementerian Perdagangan mencatat kapulaga masuk dalam daftar 10 rempah ekspor andalan Indonesia.  Tingginya permintaan global membuktikan bahwa kapulaga memiliki nilai ekonomis yang sangat menjanjikan bagi devisa negara. Di balik nilai ekonominya yang tinggi, kapulaga menyimpan potensi medis luar biasa yang telah dibuktikan secara ilmiah. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Agritech pada tahun 2013 mengungkap bahwa ekstrak daun kapulaga berpotensi besar sebagai obat diabetes. Uji coba pada hewan menunjukkan bahwa ekstrak ini mampu mengendalikan kadar glukosa darah dan berat badan. Daun kapulaga kaya akan antioksidan, flavonoid, dan Vitamin C yang berfungsi sebagai pangan fungsional antidiabetes, antiaterogenik, dan antiobesitas. Potensi ini sangat relevan mengingat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ratusan juta orang di dunia menderita diabetes, dengan Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus tertinggi. Dengan segala khasiat tradisional, potensi medis, dan nilai ekonomisnya, kapulaga membuktikan posisinya sebagai rempah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kapulaga-dari-rempah-tradisional-hingga-primadona-ekspor-dan-obat-diabetes/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kapulaga-dari-rempah-tradisional-hingga-primadona-ekspor-dan-obat-diabetes/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sisa Hidup Era Jurassic: Pohon &#8216;Monkey Puzzle&#8217; di Ambang Kepunahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sisa-hidup-era-jurassic-pohon-monkey-puzzle-di-ambang-kepunahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sisa-hidup-era-jurassic-pohon-monkey-puzzle-di-ambang-kepunahan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:16:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[flora dan fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/08/22022553/Araucaria_araucana_02-600x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128452</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pohon bernama latin Araucaria araucana atau lebih dikenal sebagai &#8220;Monkey Puzzle&#8221; merupakan saksi bisu sejarah Bumi. Spesies ini telah ada sejak era Jurassic, lebih dari 145 juta tahun lalu, berhasil bertahan hidup melewati masa kepunahan dinosaurus 65 juta tahun silam. Pohon cemara raksasa ini hanya tumbuh di Amerika Selatan, tepatnya di lereng pegunungan Patagonia, Chile [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sisa-hidup-era-jurassic-pohon-monkey-puzzle-di-ambang-kepunahan/">Sisa Hidup Era Jurassic: Pohon &#8216;Monkey Puzzle&#8217; di Ambang Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pohon bernama latin Araucaria araucana atau lebih dikenal sebagai &#8220;Monkey Puzzle&#8221; merupakan saksi bisu sejarah Bumi. Spesies ini telah ada sejak era Jurassic, lebih dari 145 juta tahun lalu, berhasil bertahan hidup melewati masa kepunahan dinosaurus 65 juta tahun silam. Pohon cemara raksasa ini hanya tumbuh di Amerika Selatan, tepatnya di lereng pegunungan Patagonia, Chile dan Argentina. Dengan tinggi mencapai hampir 50 meter dan usia hingga 700 tahun, ciri khasnya terletak pada cabang bersisik keras dan daun spiral yang kaku. Sayangnya, ketangguhan pohon purba ini kini terancam punah di era modern. Habitatnya mengalami kerusakan akibat meluasnya permukiman manusia, kebakaran hutan, dan penggembalaan ternak yang berlebihan. Populasi Monkey Puzzle di alam liar kini semakin menyusut. Kelangsungan hidup pohon ini memiliki keterkaitan erat dengan burung parkit austral (Enicognathus ferrugineus) dan burung paruh bengkok hijau. Burung-burung ini mengandalkan biji besar pohon tersebut sebagai sumber makanan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa burung-burung ini berperan vital dalam regenerasi hutan. Mereka sering memakan biji secara parcial dan menyisakan &#8220;sisa&#8221; yang dibuang di tanah jauh dari pohon induk. Para ilmuwan menyatakan biji yang dimakan sebagian ini mampu berkecembah lebih cepat dan bertindak sebagai penyangga terhadap ancaman pemanenan biji oleh manusia. Selain burung, biji pohon ini juga menjadi sumber makanan tradisional bagi suku Mapuche, penduduk asli di sekitar pegunungan Patagonia. Namun, pemanenan biji secara berlebihan, termasuk oleh pengumpul ilegal, mengancam reproduksi alami pohon. Suku Mapuche sendiri memiliki sejarah panjang dalam melindungi spesies ini, bahkan sempat berkonflik dengan penebang liar dan pemerintah untuk melawan penebangan tanpa ampun pada masa lalu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sisa-hidup-era-jurassic-pohon-monkey-puzzle-di-ambang-kepunahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/sisa-hidup-era-jurassic-pohon-monkey-puzzle-di-ambang-kepunahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Peran Spiritual Dukun dalam Melestarikan Bukit-Bukit Sakral Bangka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peran-spiritual-dukun-dalam-melestarikan-bukit-bukit-sakral-bangka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peran-spiritual-dukun-dalam-melestarikan-bukit-bukit-sakral-bangka/#respond</comments>
					<pubDate>03 Jun 2026 09:04:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2022/11/22020809/Ratusan-tahun-titik-ritual-yang-dijadikan-para-dukun-sebagai-lokasi-ritual-kini-menjadi-hutan-tersisa-di-Pulau-Bangka-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=128740</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Hutan adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pulau Bangka yang luasnya sekitar 1,1 juta hektar kini hanya menyisakan bukit-bukit granit sebagai hutan tersisa. Ratusan tahun ekstraksi timah dan perkebunan monokultur seperti sawit telah menggerus lanskap alami. Di tengah kerusakan ini, para dukun kampung dan masyarakat adat masih berusaha menjaga bukit-bukit yang dianggap sakral melalui ritual tradisional. Suku Jerieng di Desa Pelangas, Kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peran-spiritual-dukun-dalam-melestarikan-bukit-bukit-sakral-bangka/">Peran Spiritual Dukun dalam Melestarikan Bukit-Bukit Sakral Bangka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pulau Bangka yang luasnya sekitar 1,1 juta hektar kini hanya menyisakan bukit-bukit granit sebagai hutan tersisa. Ratusan tahun ekstraksi timah dan perkebunan monokultur seperti sawit telah menggerus lanskap alami. Di tengah kerusakan ini, para dukun kampung dan masyarakat adat masih berusaha menjaga bukit-bukit yang dianggap sakral melalui ritual tradisional. Suku Jerieng di Desa Pelangas, Kabupaten Bangka Barat, memiliki Bukit Penyabung setinggi 300 meter sebagai wilayah tertinggi dan area sakral. Setiap bulan Muharram, mereka melaksanakan ritual &#8220;taber gunung&#8221; sebagai bentuk syukur atas hasil alam dan doa agar dijauhkan dari bencana. Janum bin Lamat, Ketua Adat Suku Jerieng dan keturunan ketujuh &#8220;batin gunung&#8221;, menjelaskan bahwa tugas dukun kampung sangat berat karena tanggung jawabnya tidak hanya mengurusi manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan. &#8220;Rusaknya bukit tidak hanya merugikan kehidupan kami di dunia, tetapi juga spiritual kami,&#8221; kata Janum. Ritual ini sempat vakum pada 1991-1997 bersamaan dengan masuknya perkebunan sawit yang menggerus hutan sekitar Bukit Penyabung. Baru pada Agustus 2022, Janum mendapat kepercayaan leluhur melalui mimpi untuk meneruskan ritual yang telah terhenti hampir 25 tahun tersebut. Di Bangka Selatan, Bukit Nenek setinggi 380 meter menjadi lokasi ritual &#8220;Ketupat Gong&#8221; masyarakat Desa Gudang. Makmun, dukun kampung setempat, menjelaskan bahwa sebelum penetapan kawasan Taman Wisata Alam Gunung Permisan tahun 2016, masyarakat sudah menjaga bukit tersebut karena nilai sakralnya. Ritual ini menjadi bukti bahwa kepercayaan tradisional efektif melestarikan hutan. Gunung Maras setinggi 705 meter ditetapkan sebagai Taman Nasional sejak 2016 dengan luas 16.806 hektar. Bagi masyarakat adat, gunung ini adalah titik spiritual terkuat dan dianggap sebagai &#8220;kakek&#8221;&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peran-spiritual-dukun-dalam-melestarikan-bukit-bukit-sakral-bangka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/peran-spiritual-dukun-dalam-melestarikan-bukit-bukit-sakral-bangka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>