<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=harisul-amal&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/harisul-amal/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 05 Oct 2026 06:00:42 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.5</generator>
				<item>
					<title>Reproduksi Ikan Terganggu Akibat Meningkatnya Suhu Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/reproduksi-ikan-terganggu-akibat-meningkatnya-suhu-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/reproduksi-ikan-terganggu-akibat-meningkatnya-suhu-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 06:00:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/30101450/ikan-di-penjualan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134436</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Perikanan Kelautan, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pasokan ikan budi daya bermula dari ketersediaan benih. Namun, proses menghasilkan benih dapat terganggu ketika kondisi lingkungan berubah. Suhu yang meningkat akibat krisis iklim menjadi salah satu ancaman karena reproduksi ikan sangat dipengaruhi lingkungan, termasuk kerja hormon yang mengatur pematangan organ reproduksi dan pemijahan. Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Budi Daya Perairan IPB University, mengatakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/reproduksi-ikan-terganggu-akibat-meningkatnya-suhu-bumi/">Reproduksi Ikan Terganggu Akibat Meningkatnya Suhu Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pasokan ikan budi daya bermula dari ketersediaan benih. Namun, proses menghasilkan benih dapat terganggu ketika kondisi lingkungan berubah. Suhu yang meningkat akibat krisis iklim menjadi salah satu ancaman karena reproduksi ikan sangat dipengaruhi lingkungan, termasuk kerja hormon yang mengatur pematangan organ reproduksi dan pemijahan. Agus Oman Sudrajat, Guru Besar Budi Daya Perairan IPB University, mengatakan gangguan tersebut pernah terjadi pada 2017. Saat itu, banyak induk ikan di unit pembenihan tidak matang gonad sehingga produksi benih terhambat. “Akibatnya, produksi benih terganggu. Padahal, semua pengaruh lingkungan akan direspons hormon di tubuh ikan,” ujarnya. Persoalan ini penting karena perikanan budidaya semakin diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Laporan FAO, The State of World Fisheries and Aquaculture 2024, mencatat produksi perikanan tangkap dan akuakultur dunia mencapai 223,2 juta ton pada 2022. FAO menilai akuakultur akan menjadi bagian penting sistem pangan masa depan, sementara produksi perikanan tangkap memiliki keterbatasan. Agus menawarkan teknologi kontrol hormonal reproduksi sebagai salah satu cara menjaga ketersediaan benih. Hormon dapat membantu mengatur proses reproduksi dan memicu pemijahan. Namun, I Ketut Sugama, Profesor Riset Akuakultur BRIN, mengingatkan bahwa penggunaannya perlu dilakukan dengan hati-hati. Menurut Sugama, menghadapi perubahan lingkungan juga membutuhkan benih unggul yang tahan penyakit, mampu menghadapi perubahan kondisi, dan tumbuh cepat. Pengembangannya dapat dilakukan melalui pemuliaan serta pendekatan genetika. Dengan demikian, upaya menjaga produksi tidak hanya bertumpu pada pengaturan reproduksi. Pengelolaan air juga menjadi bagian penting. Sugama menyebut Recirculating Aquaculture System atau RAS, sistem yang menyaring dan mengolah air agar dapat digunakan kembali. Sensor membantu mendeteksi perubahan kadar oksigen, peningkatan amonia, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/reproduksi-ikan-terganggu-akibat-meningkatnya-suhu-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/reproduksi-ikan-terganggu-akibat-meningkatnya-suhu-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Potensi Megathrust di Indonesia, Apakah Kita Siap Hadapi Bencana?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/05/potensi-megathrust-di-indonesia-apakah-kita-siap-hadapi-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/05/potensi-megathrust-di-indonesia-apakah-kita-siap-hadapi-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 04:05:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/12/14071256/9.-Warga-melewati-banjir-di-Meurah-Dua-Pidie-Jaya-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134534</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, infrastruktur, sains dan Teknologi, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lebih dari dua dekade, kata &#8220;megathrust&#8221; kembali memenuhi linimasa dan memicu kepanikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia yang berada di wilayah tektonik aktif dan dikelilingi sejumlah zona subduksi menjadikannya sangat berpotensi menjadi sumber gempa kuat dari 14 segmen zona megathrust. BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/potensi-megathrust-di-indonesia-apakah-kita-siap-hadapi-bencana/">Potensi Megathrust di Indonesia, Apakah Kita Siap Hadapi Bencana?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lebih dari dua dekade, kata &#8220;megathrust&#8221; kembali memenuhi linimasa dan memicu kepanikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa posisi geografis Indonesia yang berada di wilayah tektonik aktif dan dikelilingi sejumlah zona subduksi menjadikannya sangat berpotensi menjadi sumber gempa kuat dari 14 segmen zona megathrust. BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa bermagnitudo besar di 14 segmen zona megathrust Indonesia. Kawasannya membentang luas, meliputi segmen Aceh-Andaman, Nias-Simeulue, Batu, Mentawai-Siberut, Mentawai-Pagai, Enggano, Jawa, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumba, Sulawesi Utara, Palung Cotabato, serta Filipina Selatan dan Tengah. Melalui rilis di akun resmi lembaga tersebut disebutkan bahwa peta sebaran patahan aktif hasil pemutakhiran data bersama Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), dipublikasikan bukan sebagai prediksi waktu kepastian bencana, melainkan sebagai panduan strategis berbasis data ilmiah untuk memperkuat sistem mitigasi evakuasi mandiri serta tata ruang wilayah pesisir sejak dini. Warga Meurah Dua, Pidie Jaya, Aceh, harus mengungsi akibat wilayah mereka diterjang banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025 lalu. Foto: Junaidi Hanafiah/Mongabay Indonesia. Apa Itu megathrust? Supartoyo, Penyelidik Bumi Ahli Utama Badan Geologi, Kementerian ESDM, menjelaskan bahwa megathrust merupakan zona pertemuan dua lempeng tektonik, ketika satu lempeng menghunjam ke bawah lempeng lainnya. Mega berarti besar dan thrust berarti patahan naik. Zona ini berpotensi menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 8 atau lebih. Indonesia memiliki sejumlah zona megathrust yang tersebar di sepanjang wilayah barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga wilayah Sulawesi dan Halmahera. Gempa Aceh 2004 dan Nias 2005 adalah contoh bencana dari zona semacam ini. Meski waktu, lokasi,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/potensi-megathrust-di-indonesia-apakah-kita-siap-hadapi-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/05/potensi-megathrust-di-indonesia-apakah-kita-siap-hadapi-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tulang Raksasa di Tambang Batu Bara India Dikira Buaya, Ternyata Ular Sepanjang 15 Meter</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/05/tulang-raksasa-di-tambang-batu-bara-india-dikira-buaya-ternyata-ular-sepanjang-15-meter/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/05/tulang-raksasa-di-tambang-batu-bara-india-dikira-buaya-ternyata-ular-sepanjang-15-meter/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 03:42:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/05034146/Vasuki_indicus_edited-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134532</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Fosil ular umumnya ditemukan sebagai tulang belakang lepas, bukan kerangka utuh. Tubuh ular tersusun dari ratusan ruas tulang belakang, tetapi yang terawetkan di dalam batuan biasanya hanya segelintir, dan tengkorak yang rapuh jarang ikut terawetkan. Ruas-ruas itu bisa sulit dibedakan dari tulang reptil lain bila hanya sebagian yang tersedia. Pada sejumlah kelompok ular purba, termasuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/tulang-raksasa-di-tambang-batu-bara-india-dikira-buaya-ternyata-ular-sepanjang-15-meter/">Tulang Raksasa di Tambang Batu Bara India Dikira Buaya, Ternyata Ular Sepanjang 15 Meter</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Fosil ular umumnya ditemukan sebagai tulang belakang lepas, bukan kerangka utuh. Tubuh ular tersusun dari ratusan ruas tulang belakang, tetapi yang terawetkan di dalam batuan biasanya hanya segelintir, dan tengkorak yang rapuh jarang ikut terawetkan. Ruas-ruas itu bisa sulit dibedakan dari tulang reptil lain bila hanya sebagian yang tersedia. Pada sejumlah kelompok ular purba, termasuk Madtsoiidae, sebagian besar jenisnya dikenal hanya dari ruas tulang belakang. Karena itu, identifikasi awal sebuah fosil kadang perlu diperbaiki setelah pemeriksaan yang lebih teliti, dan ukuran tubuhnya baru bisa ditaksir dengan membandingkan dimensi ruas tersebut dengan ular masa kini. Hal itu terjadi pada fosil yang digali di Tambang Lignit Panandhro, Distrik Kutch, Gujarat, India. Lignit adalah batu bara muda, dan lapisan tempat fosil itu ditemukan berumur sekitar 47 juta tahun, atau awal zaman Eosen Tengah. Tulang-tulang berukuran besar itu semula dikira sisa buaya purba, tetapi pemeriksaan ulang menunjukkan bahwa ia adalah 27 ruas tulang belakang seekor ular raksasa. Debajit Datta dan Sunil Bajpai dari Indian Institute of Technology Roorkee menamainya Vasuki indicus dalam makalah di jurnal Scientific Reports pada 2024. Panjang tubuhnya diperkirakan 10,9 hingga 15,2 meter, sehingga angka 15 meter adalah batas atas estimasi. Dari Dugaan Buaya Menjadi Ular Raksasa Fosil itu berasal dari Formasi Naredi, dan sebagian besar ruasnya terawetkan dengan baik, beberapa di antaranya masih bersambung. Penutupan sutura pada tulangnya menunjukkan bahwa spesimen itu kemungkinan sudah mencapai kematangan kerangka. Ciri-ciri ruasnya membuat tim menempatkannya dalam keluarga Madtsoiidae, kelompok ular yang sudah punah. Ruas tulang Vasuki tergolong sangat besar. Lebar ruasnya, diukur pada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/tulang-raksasa-di-tambang-batu-bara-india-dikira-buaya-ternyata-ular-sepanjang-15-meter/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/05/tulang-raksasa-di-tambang-batu-bara-india-dikira-buaya-ternyata-ular-sepanjang-15-meter/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kebakaran Hutan dan Lahan Pengaruhi Berbagai Aspek Kehidupan di Kalimantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/05/kebakaran-hutan-dan-lahan-pengaruhi-berbagai-aspek-kehidupan-di-kalimantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/05/kebakaran-hutan-dan-lahan-pengaruhi-berbagai-aspek-kehidupan-di-kalimantan/#respond</comments>
					<pubDate>05 Okt 2026 02:30:14 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[lahan basah]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/30190023/IMG_2317-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134383</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, data dan statistik, hutan indonesia, kera besar, Lahan Basah, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Titik panas tersebar di sejumlah wilayah, sementara kabut asap mengganggu kesehatan, berbagai aktivitas masyarakat, dan lingkungan. Di Kalimantan Barat, Maria, Koordinator Simpul Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Kalimantan Barat, melaporkan, kondisi terparah sempat terjadi sekitar 11-13 September 2026. Saat itu, kualitas [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/kebakaran-hutan-dan-lahan-pengaruhi-berbagai-aspek-kehidupan-di-kalimantan/">Kebakaran Hutan dan Lahan Pengaruhi Berbagai Aspek Kehidupan di Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Titik panas tersebar di sejumlah wilayah, sementara kabut asap mengganggu kesehatan, berbagai aktivitas masyarakat, dan lingkungan. Di Kalimantan Barat, Maria, Koordinator Simpul Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) Kalimantan Barat, melaporkan, kondisi terparah sempat terjadi sekitar 11-13 September 2026. Saat itu, kualitas udara di Pontianak berdasarkan indeks United States Air Quality Index (US AQI) sempat mencapai sekitar 1.000-1.200. Konsentrasi Particulate Matter (PM) 2.5 pun sangat tinggi. “Kalau untuk kondisi udara, 200 (AQI) ini sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sebelumnya rata-rata 500 sampai 600 (AQI),” katanya. Ketapang menjadi salah satu daerah dengan sebaran titik panas tinggi di provinsi itu. Di Kubu Raya, kebakaran terjadi cukup dekat dengan pemukiman warga. “Hanya sekitar kurang lebih 300 meter dari rumah warga.” Bencana ini juga berpadu dengan kekeringan. Sebagian masyarakat, katanya, mengalami keterbatasan air bersih. Tidak sedikit bahkan yang mengeluhkan air dari jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang terasa asin. “Kalau saya sendiri sudah sekitar dua bulan mandi pakai air asin. Kita tidak bisa sembarangan menggunakan air karena terbatas.” Akibatnya, warga harus menghemat penggunaan air. Mereka gunakan air untuk kebutuhan penting, seperti memasak, minum, dan mencuci peralatan makan. Untuk dampak pada kesehatan, data Dinas Kesehatan yang dia himpun, menunjukkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sempat mencapai sekitar 800-1.200 kasus per hari. Warga mengeluhkan mata perih, sakit tenggorokan, serta kesulitan beraktivitas akibat kualitas udara yang buruk. Di tengah kondisi itu, penanganan karhutla banyak topangan relawan dan pemadam kebakaran swasta. Sejumlah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/05/kebakaran-hutan-dan-lahan-pengaruhi-berbagai-aspek-kehidupan-di-kalimantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/05/kebakaran-hutan-dan-lahan-pengaruhi-berbagai-aspek-kehidupan-di-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Burung Migran Tak Lagi Singgah di Pesisir Tibang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/04/burung-migran-tak-lagi-singgah-di-pesisir-tibang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/04/burung-migran-tak-lagi-singgah-di-pesisir-tibang/#respond</comments>
					<pubDate>04 Okt 2026 23:21:00 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riska Munawarah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/02/22053115/Falahi-Mubarok-Burung-Cerek-Krenyut-6-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134522</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pagi itu, Zakaria berkali-kali melemparkan jala ke permukaan air yang keruh. Selang beberapa menit, dia menarik tali perlahan, jala terangkat. Hanya tiga ikan tersangkut di sela-selanya. “Sekarang susah dapat ikan,” katanya, Juni lalu. Pria 73 tahun ini, nelayan yang lebih dari 20 tahun menangkap ikan secara tradisional di sekitar pesisir Tibang, Banda Aceh. Pesisir Tibang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/04/burung-migran-tak-lagi-singgah-di-pesisir-tibang/">Burung Migran Tak Lagi Singgah di Pesisir Tibang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pagi itu, Zakaria berkali-kali melemparkan jala ke permukaan air yang keruh. Selang beberapa menit, dia menarik tali perlahan, jala terangkat. Hanya tiga ikan tersangkut di sela-selanya. “Sekarang susah dapat ikan,” katanya, Juni lalu. Pria 73 tahun ini, nelayan yang lebih dari 20 tahun menangkap ikan secara tradisional di sekitar pesisir Tibang, Banda Aceh. Pesisir Tibang masih menyisakan lumpur, mangrove, dan aliran sungai tetapi kondisi tak seperti dulu. Lumpur, rawa, dan hutan mangrove yang dulu luas, kini menjadi permukiman, jalan, dan infrastruktur penunjang ekonomi lainnya. Dalam satu dekade terakhir, wajah pesisir Banda Aceh bergeser dalam kecepatan yang mencemaskan. Zakaria menyaksikan bagaimana bentang pesisir berubah perlahan. Dia tahu perubahan arus, pasang surut, hingga titik-titik tempat ikan berkumpul kini telah berubah. Di beberapa sudut, tambak-tambak tua pun mulai ditinggalkan. Deretan rumah dan kompleks perumahan baru berdiri makin dekat dengan pesisir. “Di sini dulu banyak kali burung, sekarang semua sudah kurang,” ujar Zakaria. Kondisi pesisir sekarang dengan 20 lalu tidak lagi sama. Ikan makin sulit. Sebagian tambak tiram juga warga tinggalkan karena produksi terus menurun. Saat air surut, hamparan lumpur terbuka di sepanjang muara. Lumpur berwarna cokelat kehitaman membentang di antara akar-akar mangrove, saluran tambak, dan tepian sungai yang mengarah ke Selat Malaka. Dulu, katanya, lumpur itu selalu ramai dengan burung. Dia tidak mengenal jenis spesiesnya, tetapi ingat bagaimana kawanan burung datang saat air surut, berjalan cepat di atas lumpur sambil sesekali mematuk sesuatu di permukaan. Kini, suara burung-burung pun redup berganti deru kendaraan. Kawasan perumahan berdiri berdampingan dengan vegetasi mangrove di Gampong Tibang,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/04/burung-migran-tak-lagi-singgah-di-pesisir-tibang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/04/burung-migran-tak-lagi-singgah-di-pesisir-tibang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Proyek Data Center Batam Ancam Sumber Air?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/04/proyek-data-center-batam-ancam-sumber-air/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/04/proyek-data-center-batam-ancam-sumber-air/#respond</comments>
					<pubDate>04 Okt 2026 05:40:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yogi Eka Sahputra]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/03154120/Foto-2-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134487</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[batam dan Kepulauan Riau]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Berkembangnya investasi data center di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) menuai polemik. Apalagi,  setelah viralnya video mengeringnya waduk Nongsa yang berdekatan dengan lokasi proyek Nongsa Digital Park (NDP), salah satu kawasan data center di Batam. Banyak pihak mengaitkan berkurangnya air waduk akibat dari keberadaan data center yang memang memerlukan pasokan air dalam jumlah besar. Narasi dalam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/04/proyek-data-center-batam-ancam-sumber-air/">Proyek Data Center Batam Ancam Sumber Air?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Berkembangnya investasi data center di Batam, Kepulauan Riau (Kepri) menuai polemik. Apalagi,  setelah viralnya video mengeringnya waduk Nongsa yang berdekatan dengan lokasi proyek Nongsa Digital Park (NDP), salah satu kawasan data center di Batam. Banyak pihak mengaitkan berkurangnya air waduk akibat dari keberadaan data center yang memang memerlukan pasokan air dalam jumlah besar. Narasi dalam video itu bahkan menyebut, penyusutan air waduk capai empat sentimeter setiap hari. Lusy Novita, Wakil Direktur Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Hulu Badan Pengusahaan (BP) Batam membantah dugaan itu. Menurut dia, berkurangya air di waduk Nongsa bukan karena mensuplai air ke data center, tetapi murni karena musim kemarau. “Itu tidak benar (waduk nongsa kering karena data center). Waduk Nongsa itu coverage kebutuhan masyarakat dan resort di sekitar, jadi tidak ada kaitan (dengan data center),” kata Lusy dalam Forum Group Discussion (FGD) Penguatan Tata Kelola Air dan Energi Kota Batam yang Badan Riset Daerah (Brida) gelar, Rabu (12/8/26). Gedung data center di Batam yang masih dalam tahap pembangunan. Foto: Yogi Eka Sahputra/Mongabay Indonesia. Menurut Lusy, beberapa data center yang beroperasi mendapat pasokan air dari waduk Duriangkang. Meski begitu, dia memastikan bila pasokan itu dilakukan setelah kebutuhan masyarakat terpenuhi. Seperti apa detailnya, dia mempersilakan awak media menanyakan langsung kepada PT Air Batam Hilir (ABHI), perusahaan mitra yang bergerak di bidang pengelolaan, operasi, dan pemeliharaan SPAM di Batam. Terkait kekhawatiran publik akan  dampak operasional data center pada kebutuhan air masyarakat, Lusy mengelaknya. Dia  memastikan tetap mengutamakan air di waduk untuk penuhi kebutuhan warga, bukan data center. Karena itu,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/04/proyek-data-center-batam-ancam-sumber-air/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/04/proyek-data-center-batam-ancam-sumber-air/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nilai E untuk Indonesia dalam Upaya Perlindungan Hewan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nilai-e-untuk-indonesia-dalam-upaya-perlindungan-hewan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nilai-e-untuk-indonesia-dalam-upaya-perlindungan-hewan/#respond</comments>
					<pubDate>04 Okt 2026 04:46:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/04044604/INDONESIA-BEBAS-TOPENG-MONYET-7-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134508</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah dalam urusan kesejahteraan hewan. Dalam Animal Protection Index (API) 2020 yang disusun World Animal Protection, Indonesia berada di kategori E. Indeks ini menggunakan skala A hingga G, dengan A sebagai nilai tertinggi dan G terendah. Posisi Indonesia bahkan turun dibandingkan penilaian 2014, ketika masih berada di kategori D. API [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nilai-e-untuk-indonesia-dalam-upaya-perlindungan-hewan/">Nilai E untuk Indonesia dalam Upaya Perlindungan Hewan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah dalam urusan kesejahteraan hewan. Dalam Animal Protection Index (API) 2020 yang disusun World Animal Protection, Indonesia berada di kategori E. Indeks ini menggunakan skala A hingga G, dengan A sebagai nilai tertinggi dan G terendah. Posisi Indonesia bahkan turun dibandingkan penilaian 2014, ketika masih berada di kategori D. API melihat lebih dari sekadar bagaimana hewan diperlakukan dalam kehidupan sehari-hari. Penilaiannya mencakup kebijakan pemerintah, aturan hukum dan perlindungan terhadap berbagai kelompok hewan, mulai dari hewan ternak dan peliharaan hingga satwa liar serta hewan yang digunakan untuk penelitian. Penerapan standar kesejahteraan hewan internasional juga menjadi bagian dari penilaian. Di atas kertas, Indonesia sebenarnya sudah memiliki aturan mengenai kesejahteraan hewan. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan mengatur bagaimana kesejahteraan hewan harus diperhatikan sejak pemeliharaan, pengangkutan, hingga pemotongan. Ketentuan tersebut diperkuat melalui Peraturan Pemerintah Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan. Aturan itu antara lain menyebut hewan harus bebas dari rasa lapar dan haus, rasa sakit dan penyakit, ketidaknyamanan, penganiayaan, serta rasa takut dan tertekan. Hewan juga perlu mendapat kesempatan untuk mengekspresikan perilaku alaminya. Persoalannya kemudian adalah bagaimana aturan tersebut dijalankan. World Animal Protection menyoroti masih lemahnya penerapan dan penegakan ketentuan kesejahteraan hewan di Indonesia. Tanggung jawabnya juga tersebar di berbagai lembaga dan pemerintah daerah. Akibatnya, perlindungan yang diterima hewan dapat sangat bergantung pada bagaimana aturan diterapkan di masing-masing daerah. Indonesia juga belum memiliki strategi nasional kesejahteraan hewan yang menyatukan berbagai upaya tersebut. Pada 2014, pemerintah Indonesia pernah melaporkan kepada&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nilai-e-untuk-indonesia-dalam-upaya-perlindungan-hewan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/nilai-e-untuk-indonesia-dalam-upaya-perlindungan-hewan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Liar, Predator Kecil yang Luput Perhatian Masyarakat Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/04/kucing-liar-predator-kecil-yang-luput-perhatian-masyarakat-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/04/kucing-liar-predator-kecil-yang-luput-perhatian-masyarakat-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>04 Okt 2026 04:28:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/04042141/Kucing-kuwuk1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134502</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Di Ambang Hilang: Masa Depan Kucing Liar]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[dunia kucing, hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di balik rapatnya vegetasi hutan, kucing-kucing liar bergerak nyaris tanpa suara. Tubuhnya lentur, kaki pendek hingga sedang, cakar tajam, serta mata yang mampu menangkap gerak mangsa; bahkan hanya dengan bantuan pendar cahaya bulan atau bintang. Corak bulu mereka beragam. Berbintik, bergaris, atau loreng yang membantu tubuhnya menyatu dengan bayang-bayang vegetasi. Mereka memang bukan harimau atau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/04/kucing-liar-predator-kecil-yang-luput-perhatian-masyarakat-dunia/">Kucing Liar, Predator Kecil yang Luput Perhatian Masyarakat Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di balik rapatnya vegetasi hutan, kucing-kucing liar bergerak nyaris tanpa suara. Tubuhnya lentur, kaki pendek hingga sedang, cakar tajam, serta mata yang mampu menangkap gerak mangsa; bahkan hanya dengan bantuan pendar cahaya bulan atau bintang. Corak bulu mereka beragam. Berbintik, bergaris, atau loreng yang membantu tubuhnya menyatu dengan bayang-bayang vegetasi. Mereka memang bukan harimau atau macan tutul yang menjadi ikon predator hutan. Namun dengan tubuh yang jauh lebih kecil, kucing-kucing ini tetaplah berburu karena demikianlah cara mereka mendapatkan makanan. Ada mamalia kecil, reptil, hingga burung yang menjadi target mereka. Sayangnya, posisinya sebagai predator kecil seolah tak dianggap dalam menjaga rantai makanan hutan. Berapa banyak orang yang mengenal misalnya, kucing kuwuk, kucing merah, dan kucing emas dibanding harimau, singa, atau macan tutul? Akibatnya merekapun kerap terlupakan dalam aksi konservasi. Padahal menjaga ekosistem tak selalu diperankan satwa besar. Namun juga oleh predator-predator kecil ini. Kucing kuwuk atau kucing hutan merupakan predator alami yang menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Foto: Dok. Risa Adelia. Kucing liar di Indonesia Di hutan Kalimantan, ada kucing merah (Pardofelis badia) yang rekamannya pada 2023 lalu mengejutkan dunia ilmu pengetahuan, karena muncul setelah lebih dari 20 tahun tidak ada dokumentasi baru. Sangat sedikit yang diketahui tentang kucing endemik Kalimantan ini. Sampai-sampai, sebagian peneliti dan pegiat konservasi menjulukinya “hantu”. Beruntung pada Agustus 2026 pergerakannya kembali terekam kamera pantau di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Kali ini satwa eksotik ini membawa sesuatu di mulutnya. “Kemungkinan besar satwa mangsa yang dibawa adalah jenis Tupaia dorsalis. Sampai saat ini diketahui&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/04/kucing-liar-predator-kecil-yang-luput-perhatian-masyarakat-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/04/kucing-liar-predator-kecil-yang-luput-perhatian-masyarakat-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sulawesi Merana, Daya Dukung Lingkungan Sudah Lewati Batas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/03/sulawesi-merana-daya-dukung-lingkungan-sudah-lewati-batas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/03/sulawesi-merana-daya-dukung-lingkungan-sudah-lewati-batas/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 23:35:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Sarjan Lahay]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/07/17025842/WhatsApp-Image-2026-07-04-at-03.52.42-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134495</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo dan sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komuinitas lokal, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Sepanjang periode 2014–2024, rata-rata sekitar 224 hektar hutan di Sulawesi berubah menjadi kawasan tambang setiap hari. Dalam periode sama, ruang di Pulau Sulawesi yang kini jadi pertambangan dan kawasan industri mencapai 1,1 juta hektar, sekitar 18 kali luas Jakarta. Riset Center of Economic and Law Studies (Celios) bertajuk “Melampaui Batas”, yang rilis Agustus lalu, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/sulawesi-merana-daya-dukung-lingkungan-sudah-lewati-batas/">Sulawesi Merana, Daya Dukung Lingkungan Sudah Lewati Batas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Sepanjang periode 2014–2024, rata-rata sekitar 224 hektar hutan di Sulawesi berubah menjadi kawasan tambang setiap hari. Dalam periode sama, ruang di Pulau Sulawesi yang kini jadi pertambangan dan kawasan industri mencapai 1,1 juta hektar, sekitar 18 kali luas Jakarta. Riset Center of Economic and Law Studies (Celios) bertajuk “Melampaui Batas”, yang rilis Agustus lalu, menyebut,  Pulau Sulawesi melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan hidupnya. Berdasarkan pengukuran kondisi udara, air, lahan, sosial, dan pengendalian kebijakan, Sulawesi memperoleh skor agregat 4,5 dari 5 dan kategori kondisi “melampaui batas” sejak 2024. Skor itu tersusun dari lima matriks. Daya tampung udara memperoleh 4,8 dari lima dengan status darurat, daya dukung lahan 4,6, daya tampung air 4,1, dan daya dukung sosial 3,9. Nilai tertinggi justru jatuh pada matriks veto kebijakan, yakni, 5,0 — ukuran sejauh mana negara gagal menggunakan kewenangan untuk menolak izin ketika batas ekologis sudah terlampaui. Muhamad Saleh, peneliti bidang hukum dan regulasi Celios mengatakan, Pulau Sulawesi sudah “melampaui batas” sejak 2024 bukan hanya karena tekanan ekologis yang makin berat, tetapi karena kegagalan regulasi menerjemahkan status menjadi tindakan hukum yang mengikat. Kondisi “melampaui batas” belum otomatis menghentikan izin baru, evaluasi izin lama, ataupun mewajibkan pemulihan lingkungan. Padahal, kata Saleh, daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup (D3TLH) merupakan salah satu instrumen utama dalam sistem perlindungan lingkungan hidup di Indonesia. Instrumen ini melalui Undang-undang Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH) sebagai dasar menopang kehidupan serta mempertahankan fungsi ekologisnya. Dalam kerangka Pasal 14 UU PPLH, instrumen itu bekerja bertingkat,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/sulawesi-merana-daya-dukung-lingkungan-sudah-lewati-batas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/03/sulawesi-merana-daya-dukung-lingkungan-sudah-lewati-batas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sulit Ditemukan, Mengapa Ular Sanca Bulan Jadi Incaran Pemburu di Hutan Papua?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sulit-ditemukan-mengapa-ular-sanca-bulan-jadi-incaran-pemburu-di-hutan-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sulit-ditemukan-mengapa-ular-sanca-bulan-jadi-incaran-pemburu-di-hutan-papua/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 10:00:40 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/09/10093157/Sanca-bulan-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134410</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di hutan pegunungan Papua, sanca bulan (Simalia boeleni) hidup di kawasan terpencil yang sulit dijangkau. Tubuhnya panjang dan ramping, sementara kulit dewasanya berwarna hitam dengan kilap yang dapat tampak berbeda ketika terkena sinar matahari. Keindahan itu menjadi salah satu daya tariknya bagi penghobi dan kolektor, sekaligus membawa ancaman bagi keberadaannya di alam. Hari Suroto, peneliti [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sulit-ditemukan-mengapa-ular-sanca-bulan-jadi-incaran-pemburu-di-hutan-papua/">Sulit Ditemukan, Mengapa Ular Sanca Bulan Jadi Incaran Pemburu di Hutan Papua?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di hutan pegunungan Papua, sanca bulan (Simalia boeleni) hidup di kawasan terpencil yang sulit dijangkau. Tubuhnya panjang dan ramping, sementara kulit dewasanya berwarna hitam dengan kilap yang dapat tampak berbeda ketika terkena sinar matahari. Keindahan itu menjadi salah satu daya tariknya bagi penghobi dan kolektor, sekaligus membawa ancaman bagi keberadaannya di alam. Hari Suroto, peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, mengatakan sanca bulan ditemukan di sejumlah wilayah pegunungan Papua, termasuk Lembah Baliem, Pegunungan Bintang, sekitar Danau Wissel, dan Pegunungan Arfak. Sebarannya juga mencakup Papua Nugini. “Sanca bulan termasuk jenis yang sangat susah ditemukan. Populasinya menurun karena rusaknya habitat, perburuan ilegal, dan perdagangan liar,” katanya. Menurut Hari, panjang tubuh sanca bulan berkisar 1,5-3 meter. Pertumbuhannya relatif lambat; ukuran maksimal dapat dicapai pada usia empat hingga enam tahun. Warna tubuhnya juga berubah seiring pertumbuhan. Ular ini cenderung pemalu dan jarang menggigit kecuali diprovokasi. Namun, pengetahuan tentang kehidupannya masih terbatas. “Lingkungan mereka yang terpencil dan sulit diakses, membuat penelitian tentang jenis ini masih terbatas.” Ancaman perdagangan dibahas dalam publikasi Alamsyah Herlambang, Fajrin Shidiq, dan Amir Hamidy pada 2019. Para peneliti menjelaskan bahwa permintaan terhadap satwa langka dan eksotik dapat mendorong eksploitasi berlebihan. Ketika satwa semakin sulit ditemukan, harga pasarnya bisa meningkat dan justru memicu perburuan tambahan. “Perdagangan ular sanca bulan dari Indonesia tercatat pertama kali pada 1989 dan berlangsung sampai saat ini. Dari 1989-2000 Indonesia memberlakukan kuota untuk jenis ini sebanyak 120 kuota tangkap alam setiap tahunnya,” tulis para peneliti dalam publikasi tersebut. Pada 2001-2018, tidak ada kuota tangkap yang diberikan untuk sanca&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sulit-ditemukan-mengapa-ular-sanca-bulan-jadi-incaran-pemburu-di-hutan-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/sulit-ditemukan-mengapa-ular-sanca-bulan-jadi-incaran-pemburu-di-hutan-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Di Hutan Beutong Ateuh, Burung Langka dan Harimau Sumatera Berbagi Ruang dengan Masyarakat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-hutan-beutong-ateuh-burung-langka-dan-harimau-sumatera-berbagi-ruang-dengan-masyarakat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-hutan-beutong-ateuh-burung-langka-dan-harimau-sumatera-berbagi-ruang-dengan-masyarakat/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 05:56:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01085818/Spectacle-Laughingthrush-atau-Poksai-genting-di-pinggir-hutan-Beutong-Ateuh-Banggalang-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134435</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[aceh dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara beragam burung terdengar di hutan pegunungan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Sebagian mencari makan di tajuk pohon, sementara lainnya bergerak di antara vegetasi dan lantai hutan. Setiap lapisan menyediakan kebutuhan berbeda, mulai dari buah dan serangga hingga tempat berlindung serta berkembang biak. Pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh mencatat 31 jenis [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-hutan-beutong-ateuh-burung-langka-dan-harimau-sumatera-berbagi-ruang-dengan-masyarakat/">Di Hutan Beutong Ateuh, Burung Langka dan Harimau Sumatera Berbagi Ruang dengan Masyarakat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara beragam burung terdengar di hutan pegunungan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Sebagian mencari makan di tajuk pohon, sementara lainnya bergerak di antara vegetasi dan lantai hutan. Setiap lapisan menyediakan kebutuhan berbeda, mulai dari buah dan serangga hingga tempat berlindung serta berkembang biak. Pengamatan Kelompok Studi Lingkungan Hidup (KSLH) Aceh mencatat 31 jenis burung di kawasan ini. Empat di antaranya berstatus Genting, yaitu Sumatran Mesia (Leiothrix laurinae), Aceh Bulbul (Pycnonotus snouckaerti), Sumatran Laughingthrush (Garrulax bicolor), dan Sumatran Leafbird (Chloropsis media). “Hutan Beutong penting bagi burung-burung Sumatera,” kata Heri Tarmizi, Koordinator KSLH Aceh. Tim juga mencatat tiga jenis berstatus Rentan dan empat jenis Hampir Terancam. Sementara itu, 19 jenis masuk kategori Risiko Rendah dan satu jenis, Sumatran Robin, berstatus Belum Dievaluasi. Catatan tersebut memperlihatkan pentingnya kawasan ini sebagai habitat berbagai burung dengan kebutuhan hidup yang berbeda. Menurut Heri, burung dapat membantu memberikan gambaran tentang perubahan lingkungan. Setiap jenis memiliki kebutuhan pakan, habitat, dan tingkat toleransi terhadap gangguan yang berbeda. “Perubahan komposisi jenis, dapat memberikan gambaran kondisi lingkungan.” Berkurangnya tutupan hutan atau terpecahnya habitat dapat memengaruhi ruang hidup burung, terutama jenis dengan sebaran terbatas. Hutan Beutong juga menopang kehidupan manusia. Kecamatan ini terdiri atas empat desa dengan sekitar 2.400 penduduk. Masyarakat menggantungkan penghidupan pada sawah, kebun, hutan, dan Sungai Meureubo. Hamparan sawah seluas sekitar 500 hektar menjadi sumber pangan sekaligus pendapatan warga. “Kami hidup dari hasil alam. Hutan yang membentengi Beutong Ateuh, sungai yang membelah kecamatan, sawah dan kebun yang mengelilingi kampung kami merupakan harta yang harus dijaga dan tidak&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-hutan-beutong-ateuh-burung-langka-dan-harimau-sumatera-berbagi-ruang-dengan-masyarakat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/di-hutan-beutong-ateuh-burung-langka-dan-harimau-sumatera-berbagi-ruang-dengan-masyarakat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Endemik Danau Sentani Dalam Ancaman Kepunahan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 04:00:31 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Larius Kogoya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/05/22074832/Chilatherina-sentaniensis-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134373</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Lahan Basah, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Beberapa ikan berwarna merah atau red devil (Amphilopus labiotus) seukuran jari telunjuk orang dewasa tampak berenang di pinggiran Danau Sentani. Sore itu, beberapa orang memancing ikan di Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Angin bertiup dari timur membawa harapan para nelayan untuk membawa pulang ikan, tetapi bukan ikan asing itu. “Itu ikan louhan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/">Ikan Endemik Danau Sentani Dalam Ancaman Kepunahan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Beberapa ikan berwarna merah atau red devil (Amphilopus labiotus) seukuran jari telunjuk orang dewasa tampak berenang di pinggiran Danau Sentani. Sore itu, beberapa orang memancing ikan di Kampung Nendali, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua. Angin bertiup dari timur membawa harapan para nelayan untuk membawa pulang ikan, tetapi bukan ikan asing itu. “Itu ikan louhan (red devil). Setelah ikan-ikan baru seperti ikan louhan itu masuk (ke danau), hampir semua ikan asli kita terdesak. Sekarang tidak kelihatan lagi dan jarang sekali dapatkan,” kata Yanpit Wally, Ondofolo (Kepala Suku Adat Besar) Kampung Nendali sembari menunjukkan ke pinggiran danau, Selasa (22/9/26). Dulu, kata Yanpit, dia dan warga Danau Sentani menggantungkan hidup dari mencari ikan di Danau Sentani. Jumlah ikan-ikannya melimpah, namun kini makin berkurang bahkan menghilang. Kini, dia pun beralih menggantungkan hidup dengan berkebun. “Dulu ikan asli banyak, kalau cari ikan dapatnya banyak. Dulu kita punya alat tangkap sederhana saja,” ujarnya. Mulai dari ikan gete-gete kecil (Glossamia beauforti), gete-gete besar (Glossamia wichmanni), kayou (gabus asli sentani), hingga himen (Glossogobius sentaniensis). Yanpit Wally (72) Ondofolo (Kepala Suku Adat Besar) Kampung Nendali, Selasa (22/9/26) Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (22/9/2026). Foto: Larius Kogoya/Mongabay Bernard Mebri juga merasakan hal sama. Pria 77 tahun dari Kampung Yoka, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua ini menghabiskan hari tua di Danau Sentani. Biasanya, dia menjaring dan memancing ikan dengan satu perahu kecil yang terbuat dari kayu. “Dulu, kita hanya molo (menyelam) atau pancing saja bisa dapat banyak ikan dan cukup buat makan keluarga. Kalau sekarang ini susahnya kita&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ikan-endemik-danau-sentani-dalam-ancaman-kepunahan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ratusan Nelayan Datangi Kementerian Kelautan Tolak PSN Tambak </title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ratusan-nelayan-datangi-kementerian-kelautan-tolak-psn-tambak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ratusan-nelayan-datangi-kementerian-kelautan-tolak-psn-tambak/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 02:30:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Muhammad Iqbal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/03020857/KKP-IKBAL-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134469</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ratusan nelayan  dari Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (Kompi), Jaringan Tanpa Asap Batubara Indramayu (Jatayu) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menggeruduk Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta, Kamis (24/9/26). Mereka menuntut KKP membatalkan proyek strategis nasional (PSN) revitalisasi tambak di pesisir utara Jawa Barat (Jabar). Rustam, nelayan yang ikut aksi mengatakan, salah satu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/ratusan-nelayan-datangi-kementerian-kelautan-tolak-psn-tambak/">Ratusan Nelayan Datangi Kementerian Kelautan Tolak PSN Tambak </a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ratusan nelayan  dari Koalisi Masyarakat Pesisir Indramayu (Kompi), Jaringan Tanpa Asap Batubara Indramayu (Jatayu) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menggeruduk Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta, Kamis (24/9/26). Mereka menuntut KKP membatalkan proyek strategis nasional (PSN) revitalisasi tambak di pesisir utara Jawa Barat (Jabar). Rustam, nelayan yang ikut aksi mengatakan, salah satu alasan penolakan lantaran proyek itu minim libatkan warga. “Sejak awal proyek ini tidak melibatkan warga. Jangankan dipekerjakan, untuk sosialisasi saja tidak,” katanya di sela aksi. Revitalisasi tambak merupakan satu dari 77 PSN era Pemerintahan Prabowo Subianto.  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bertugas sebagai pelaksana proyek dengan tahap awal seluas 20.000 hektar tersebar di Kabupaten Bekasi, Karawang, Subang dan Indramayu, Jawa Barat. Rustam sayangkan sikap pemerintah yang tak libatkan warga dalam proyek bernilai triliunan rupiah ini, kendati wilayah mereka masuk dalam rencana proyek. Mereka khawatir, kehadiran proyek dapat merugikan dan mengancam sumber mata pencaharian mereka. Ratiman, nelayan asal Kampung Cantigi, Indramayu ungkapkan hal senada. Demi suarakan aspirasinya itu, dia rela urunan Rp250.000 untuk berangkat ke Jakarta. Dia mengatakan, punya  lahan tambak bandeng seluas empat hektar yang dia warisi dari orang tuanya. “Dari saya belum lahir lahan ini sudah ada, ini memang turun temurun kami garap untuk menghidupi keluarga, bukan untuk kaya,” ujarnya. Dari hasil tambak itu, dia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dia butuh waktu sekitar enam bulan untuk panen bandeng dari tambak. Sekali panen, dia bisa mendapat Rp20 juta yang sebagian dia pakai modal benih dan pakan. Sisanya, untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk menutup utang selama menunggu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/ratusan-nelayan-datangi-kementerian-kelautan-tolak-psn-tambak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/03/ratusan-nelayan-datangi-kementerian-kelautan-tolak-psn-tambak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bessé, Perempuan Toalean dari Sulawesi 7.200 Tahun Lalu</title>
					<link>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/besse-perempuan-toalean-dari-sulawesi-7-200-tahun-lalu/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/besse-perempuan-toalean-dari-sulawesi-7-200-tahun-lalu/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 02:22:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akita Verselita]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/08/22033559/Leang-Paningnge-_-Bagian-Kepala-tengkorak-Besse-_-DOKUMENTASI-Departemen-Arkeologi-Universitas-Hasanuddin-Makassar-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=podcasts&#038;p=134449</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[featured dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Jejak kehidupan manusia purba tidak hanya tersimpan dalam artefak batu atau lukisan gua. Tulang belulang yang terkubur selama ribuan tahun juga dapat menyimpan informasi genetik tentang asal-usul, migrasi, dan perjumpaan antarpopulasi manusia. Namun, di wilayah tropis seperti Indonesia, DNA purba sangat sulit bertahan karena suhu, kelembapan, air, dan mikroorganisme dapat mempercepat kerusakannya. Karena itu, temuan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/besse-perempuan-toalean-dari-sulawesi-7-200-tahun-lalu/">Bessé, Perempuan Toalean dari Sulawesi 7.200 Tahun Lalu</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Jejak kehidupan manusia purba tidak hanya tersimpan dalam artefak batu atau lukisan gua. Tulang belulang yang terkubur selama ribuan tahun juga dapat menyimpan informasi genetik tentang asal-usul, migrasi, dan perjumpaan antarpopulasi manusia. Namun, di wilayah tropis seperti Indonesia, DNA purba sangat sulit bertahan karena suhu, kelembapan, air, dan mikroorganisme dapat mempercepat kerusakannya. Karena itu, temuan rangka perempuan muda di Leang Panninge, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memiliki arti penting. Rangka yang ditemukan pada 2015 tersebut diberi nama Bessé, sebutan yang umum digunakan untuk perempuan dalam masyarakat Bugis. Ia diperkirakan meninggal ketika berusia 17–18 tahun dan hidup sekitar 7.200–7.300 tahun lalu. Bessé hidup dalam lingkungan budaya Toalean, kelompok pemburu dan peramu yang berkembang di selatan Sulawesi sekitar 8.000 hingga 1.500 tahun lalu. Jejak kebudayaan mereka antara lain terlihat melalui mata panah bergerigi yang dikenal sebagai Maros Point, mikrolit, dan alat dari tulang. Kebudayaan ini sejauh ini hanya ditemukan di wilayah selatan Sulawesi. Analisis terhadap tulang telinga Bessé berhasil mengungkap DNA yang bertahan selama lebih dari tujuh milenium. Hasilnya memperlihatkan hubungan genetik dengan populasi Papua dan Aborigin Australia, sekaligus jejak percampuran dengan Denisovan, kelompok manusia purba yang pertama kali dikenali melalui temuan di Siberia. Temuan tersebut membuka pertanyaan baru tentang perjalanan manusia menuju Wallacea serta perjumpaan berbagai populasi pada masa lalu. Siapakah Bessé dan bagaimana DNA-nya dapat bertahan di lingkungan tropis? Apa hubungan perempuan Toalean ini dengan Denisovan dan manusia yang hidup di Indonesia sekarang? Mongabay Indonesia membahasnya bersama Basran Burhan, arkeolog dan kandidat doktor Griffith University, Australia, saat diskusi berlangsung. Percakapan ini&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/besse-perempuan-toalean-dari-sulawesi-7-200-tahun-lalu/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/podcast/2026/10/besse-perempuan-toalean-dari-sulawesi-7-200-tahun-lalu/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lebih Pendek 2 Meter, Anaconda Bisa Seberat Sanca Sulawesi, Ular Terpanjang di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/03/lebih-pendek-2-meter-anaconda-bisa-seberat-sanca-sulawesi-ular-terpanjang-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/03/lebih-pendek-2-meter-anaconda-bisa-seberat-sanca-sulawesi-ular-terpanjang-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>03 Okt 2026 02:04:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/12/21234432/Northern-green-anaconda-feeding.-Credit-Jesus-Rivas-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134477</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ukuran ular raksasa selama ini lebih sering dibicarakan lewat cerita warga, foto yang sulit diperiksa, dan angka yang terus membesar dari satu sumber ke sumber lain. Bagi peneliti, angka yang dapat dipakai hanyalah hasil pengukuran langsung yang disertai saksi dan dokumentasi. Dengan syarat itu, daftar ular liar terbesar yang terverifikasi menjadi jauh lebih pendek daripada [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/lebih-pendek-2-meter-anaconda-bisa-seberat-sanca-sulawesi-ular-terpanjang-di-dunia/">Lebih Pendek 2 Meter, Anaconda Bisa Seberat Sanca Sulawesi, Ular Terpanjang di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ukuran ular raksasa selama ini lebih sering dibicarakan lewat cerita warga, foto yang sulit diperiksa, dan angka yang terus membesar dari satu sumber ke sumber lain. Bagi peneliti, angka yang dapat dipakai hanyalah hasil pengukuran langsung yang disertai saksi dan dokumentasi. Dengan syarat itu, daftar ular liar terbesar yang terverifikasi menjadi jauh lebih pendek daripada yang beredar di internet. Dua nama hampir selalu berada di puncaknya, yaitu sanca kembang (Malayopython reticulatus) dari Asia Tenggara sebagai ular terpanjang dan anaconda hijau dari Amerika Selatan sebagai ular terberat. Pada awal 2026, Guinness World Records mengonfirmasi seekor sanca kembang betina bernama Ibu Baron dari Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, sebagai ular liar terpanjang yang pernah diukur secara terverifikasi. Ular yang ditemukan pada akhir 2025 itu diukur pada 18 Januari 2026 dengan hasil 7,22 meter dari kepala hingga ujung ekor dan bobot 96,5 kilogram dalam kondisi perut kosong. Ketika angka itu disandingkan dengan data lapangan anaconda hijau, selisih bobot keduanya ternyata jauh lebih kecil daripada selisih panjangnya. Anaconda terbesar dalam penelitian lapangan di Venezuela tercatat sekitar 2 meter lebih pendek daripada Ibu Baron, tetapi bobotnya hampir sama. Rekor Ibu Baron dan Catatan Lama dari Kalimantan Timur Rekor Ibu Baron menggeser catatan lama yang dipublikasikan pada 2005. Catatan itu berasal dari Kalimantan Timur dan dilaporkan oleh peneliti beruang madu Gabriella Fredriksson di jurnal Raffles Bulletin of Zoology, untuk seekor sanca betina sepanjang 6,95 meter dengan bobot 59 kilogram. Ular tersebut tercatat karena menelan seekor beruang madu (Helarctos malayanus) betina dewasa yang sedang dipantau dengan kalung radio,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/03/lebih-pendek-2-meter-anaconda-bisa-seberat-sanca-sulawesi-ular-terpanjang-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/03/lebih-pendek-2-meter-anaconda-bisa-seberat-sanca-sulawesi-ular-terpanjang-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 14:25:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/02141719/Kukang-Foto-Falahi-Mubarok-2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134460</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Apakah ada kaitannya kasus kukang tersengat listrik dengan krisis iklim yang terjadi saat ini? Indri Saptorini, Dokter Hewan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), mengatakan kasus kukang tersengat listrik sempat meningkat pada 2019-2020. Namun, pada 2021-2025 kasusnya menurun dan tahun 2026 ini  kembali muncul. “Kami sempat membahas fenomena ini secara internal. Satu dugaan yang muncul adalah karena [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/">Kasus Kukang Tersengat Listrik, Ada Kaitan dengan Krisis Iklim?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Apakah ada kaitannya kasus kukang tersengat listrik dengan krisis iklim yang terjadi saat ini? Indri Saptorini, Dokter Hewan Yayasan IAR Indonesia (YIARI), mengatakan kasus kukang tersengat listrik sempat meningkat pada 2019-2020. Namun, pada 2021-2025 kasusnya menurun dan tahun 2026 ini  kembali muncul. “Kami sempat membahas fenomena ini secara internal. Satu dugaan yang muncul adalah karena krisis iklim, termasuk fenomena El Nino. Iklim yang berubah mempengaruhi kondisi hutan, termasuk ketersediaan buah yang menjadi sumber pakan kukang,” jelasnya, Senin (21/9/26). Kukang satwa arboreal, sebagian besar aktivitasnya berlangsung di pepohonan. Primata ini punya kemampuan bergerak dari satu pohon ke pohon  dan sangat jarang turun ke permukaan tanah. Saat sumber makanan di hutan berkurang, pilihan satwa dilindungi ini jadi tidak sederhana. Kukang jawa merupakan primata yang hanya hidup di Pulau Jawa. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Dugaannya, kondisi iklim yang lebih panas, termasuk saat El Nino, bisa mempengaruhi musim berbuah tumbuhan di hutan. Saat buah-buahan hutan gagal berproduksi seperti biasa, kukang diduga terdorong keluar dari habitatnya untuk mencari sumber pakan lain. “Mereka keluar dari hutan, melewati kabel-kabel listrik untuk cari makan.” Kukang memang bisa bergerak di pepohonan, namun lanskap di luar hutan tidak selalu ada jalur alami berupa tajuk pohon yang terhubung. Di kawasan terfragmentasi jalan, permukiman, perkebunan, maupun infrastruktur manusia, kabel listrik jadi jalur yang dilalui kukang. “Kabel listrik akhirnya jadi semacam jembatan buatan bagi kukang yang pindah. Namun, jalur tersebut punya risiko mematikan.” Kukang merupakan satwa arboreal yang hidup di pohon. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia. Luka sengatan listrik Indri menjelaskan, untuk kasus kukang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/02/kasus-kukang-tersengat-listrik-ada-kaitan-dengan-krisis-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Galodo, Bukan Peristiwa Alam Biasa yang Terjang Solok</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 10:00:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/09/25154643/1288709-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134275</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, ikomunitas lokal, poiitik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara gemuruh dari arah hulu sungai mengejutkan Ali Priyono saat berjualan gorengan dekat Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Dalam hitungan detik, air bah membawa kayu dan batu besar memenuhi aliran sungai. Ali berlari ke rumah untuk membawa istri dan tiga anaknya menjauh dari jembatan. Mereka selamat, tetapi rumahnya dipenuhi lumpur [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/">Galodo, Bukan Peristiwa Alam Biasa yang Terjang Solok</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara gemuruh dari arah hulu sungai mengejutkan Ali Priyono saat berjualan gorengan dekat Kantor Bupati Solok, Sumatera Barat, Senin malam, 21 September 2026. Dalam hitungan detik, air bah membawa kayu dan batu besar memenuhi aliran sungai. Ali berlari ke rumah untuk membawa istri dan tiga anaknya menjauh dari jembatan. Mereka selamat, tetapi rumahnya dipenuhi lumpur dan bebatuan. “Belum pernah terjadi seperti ini,” kata Ali, yang telah tinggal di Solok sejak 2008. Banjir bandang atau galodo itu menerjang Arosuka setelah hujan lebat mengguyur kawasan hulu Gunung Talang. Menurut BPBD Sumatera Barat, sekitar 10 kantor pemerintahan dan tujuh kendaraan dinas rusak. Satu orang meninggal, satu orang hilang, dan sejumlah warga terluka. Mahyeldi Ansharullah, Gubernur Sumatera Barat, menyebut sekitar 100-150 rumah serta kurang lebih 300 warga terdampak. BMKG mencatat hujan di sekitar Solok mencapai 94 milimeter per hari. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramadhani, mengatakan hujan lebat yang berlangsung di hulu memicu luapan sungai. Namun, sejumlah pihak meminta agar evaluasi tidak berhenti pada curah hujan. “Hujan memang menjadi pemicu, tetapi besarnya dampak sangat berkaitan dengan kondisi ekologis kawasan, tutupan hutan, perubahan penggunaan lahan, kemiringan lereng, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, sempadan sungai,” kata Tommy Adam, Direktur WALHI Sumatera Barat. Tommy mengingatkan bahwa peta kawasan rawan bencana Gunung Talang telah tersedia sejak 2007. Menurutnya, kawasan perkantoran bupati hingga permukiman termasuk wilayah yang berpotensi dilalui material dari Gunung Talang. Ia mempertanyakan sejauh mana informasi tersebut digunakan untuk melindungi hulu, mengendalikan pembangunan di sempadan sungai, dan menyiapkan jalur evakuasi. Analisis WALHI mencatat sekitar&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/galodo-bukan-peristiwa-alam-biasa-yang-terjang-solok/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Badut Memang Unik, Lahir Sebagai Jantan Lalu Berubah Jadi Betina</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 08:52:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233702/Ikan-badut-jantan-dan-betina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=134437</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Kelautan perikanan, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ikan badut mudah dikenali dari warna cerah dan garis putih pada tubuhnya. Popularitasnya semakin meningkat setelah film animasi Finding Nemo. Namun, di balik penampilan mungilnya, ikan penghuni anemon ini memiliki kemampuan reproduksi yang menarik: individu jantan dapat berubah menjadi betina. Perubahan tersebut berkaitan dengan susunan sosial kelompok ikan badut. Kelompoknya memiliki hierarki yang ketat, dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/">Ikan Badut Memang Unik, Lahir Sebagai Jantan Lalu Berubah Jadi Betina</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ikan badut mudah dikenali dari warna cerah dan garis putih pada tubuhnya. Popularitasnya semakin meningkat setelah film animasi Finding Nemo. Namun, di balik penampilan mungilnya, ikan penghuni anemon ini memiliki kemampuan reproduksi yang menarik: individu jantan dapat berubah menjadi betina. Perubahan tersebut berkaitan dengan susunan sosial kelompok ikan badut. Kelompoknya memiliki hierarki yang ketat, dengan individu dominan memperoleh akses lebih baik terhadap sumber daya dan kesempatan berkembang biak. Kemampuan mengubah jenis kelamin membantu kelompok menyesuaikan diri ketika kehilangan anggota yang berperan dalam reproduksi. Penelitian yang dipimpin Laura Casas menelusuri proses itu melalui analisis ekspresi gen, yakni bagaimana gen bekerja selama perubahan berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi sekaligus di seluruh tubuh. “Perubahan kelamin melibatkan perubahan ekspresi gen yang sangat kompleks dan cepat. Otak ikan badut mengalami perubahan signifikan terlebih dahulu, diikuti perubahan pada gonad,” ungkap Casas dan koleganya. Gonad merupakan organ reproduksi. Peneliti menemukan aktivitas tinggi pada gen yang mengkode enzim aromatase, yang berperan dalam produksi estrogen. Aktivitas tersebut ditemukan di otak maupun gonad ikan yang sedang berubah jenis kelamin, menunjukkan pentingnya pengaturan hormon dalam proses ini. Kehidupan ikan badut juga erat dengan anemon laut. Di terumbu karang dangkal, tentakel anemon menyediakan tempat berlindung dari predator. Lapisan lendir khusus pada tubuh ikan badut membantu melindunginya dari sengatan inangnya. Hubungan tersebut menguntungkan kedua pihak. Ikan badut mendapat perlindungan dan makanan, sementara anemon memperoleh bantuan untuk mengusir pengganggu serta membersihkan parasit. Sebelum menetap, ikan badut melakukan gerakan menyerupai “tarian” untuk menyesuaikan diri dengan anemon. Makanan ikan badut antara lain zooplankton dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/10/ikan-badut-memang-unik-lahir-sebagai-jantan-lalu-berubah-jadi-betina/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita di Hari Tani,  dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/#respond</comments>
					<pubDate>02 Okt 2026 04:30:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L DarmawanLuh De SuriyaniTriyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[petambangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/06/22002417/Petani-Pati--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134425</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, dan Pertambangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hari Tani jatuh pada 24 September. Di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), warga dari 22 kabupaten dan kota menggelar aksi  suarakan berbagai kerusakan lingkungan karena tambang semen, proyek panas bumi dan lain-lain. Zainuddin, warga  Karanganyar, Jateng nekat lari ratusan kilometer menuju Kantor Gunernur Jateng.  Aksinya itu dia bilang sebagai bagian dari kampanye tolak proyek panas bumi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/">Cerita di Hari Tani,  dari Waswas Pembangkit Panas Bumi sampai Hak Tanah Perempuan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hari Tani jatuh pada 24 September. Di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), warga dari 22 kabupaten dan kota menggelar aksi  suarakan berbagai kerusakan lingkungan karena tambang semen, proyek panas bumi dan lain-lain. Zainuddin, warga  Karanganyar, Jateng nekat lari ratusan kilometer menuju Kantor Gunernur Jateng.  Aksinya itu dia bilang sebagai bagian dari kampanye tolak proyek panas bumi di Gunung Lawu. Pemandu pendakian Gunung Lawu ini tak sendirian. Dia bersama rombongan warga dengan rute Solo, Boyolali, Salatiga, hingga Semarang. “Kalau proyek ini berjalan, risikonya besar bagi pendaki Gunung Lawu terutama ancaman kebocoran gas beracun seperti yang sudah terjadi di Dieng. Bukan hanya pendaki, kami sebagai warga juga terancam,” katanya. Aksi lari ratusan kilometer ini berlangsung selama tiga hari. Aan Shopanudin, Koordinator Jaga Lawu, menyebut, sebelum sampai Semarang, rombongan mampir ke pemukiman warga di sekitar Gunung Ungaran yang juga hadapi ancaman serupa. Warga sekitar Gunung Ungaran menyambut mereka dengan penuh suka cita. Aksi lari itu, katanya,  sekaligus upaya menggalang dukungan lebih luas untuk menolak geothermal dan menjaga kelestarian kawasan sakral. “Kami di Karanganyar sudah sejak 2016, sedangkan di Lawu sejak 2010. Ternyata suara kami ini tidak pernah didengar maka kami akan terus menolaknya,” kata Aan. Di Jateng ada  enam lokasi yang pemerintah tetapkan sebagai wilayah kerja panas bumi (WKP). Keenam lokasi itu meliputi WKP Dieng, Banjarnegara, WKP Guci, Tegal, WKP Baturaden (Banyumas,) WKP Ungaran dan Telomoyo di Semarang serta sekitar, dan WKP Jenawi di Karanganyar. Dari enam WKP ini yang sudah beroperasi adalah Dieng, menurut Aan banyak menimbulkan dampak bagi warga sekitar terutama Kabupaten Banjarnegara.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/02/cerita-di-hari-tani-dari-waswas-pembangkit-panas-bumi-sampai-hak-tanah-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Ular Weling Bisa Bertahan Hidup di Tengah Permukiman Padat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/#respond</comments>
					<pubDate>01 Okt 2026 22:38:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/10/01223406/bungarus-candidus-blue-krait-cha-am-district-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=134440</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Perluasan permukiman, kawasan kampus, dan lahan pertanian telah mengubah banyak lanskap di Asia Tenggara. Sebagian satwa liar terdesak keluar, sementara sebagian lain mampu bertahan dan memanfaatkan ruang yang dibangun manusia. Ular termasuk satwa yang kerap bersinggungan dengan manusia di ruang semacam ini, dan pertemuan itu kadang berujung gigitan. Secara global, gigitan ular menimpa lebih dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/">Bagaimana Ular Weling Bisa Bertahan Hidup di Tengah Permukiman Padat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Perluasan permukiman, kawasan kampus, dan lahan pertanian telah mengubah banyak lanskap di Asia Tenggara. Sebagian satwa liar terdesak keluar, sementara sebagian lain mampu bertahan dan memanfaatkan ruang yang dibangun manusia. Ular termasuk satwa yang kerap bersinggungan dengan manusia di ruang semacam ini, dan pertemuan itu kadang berujung gigitan. Secara global, gigitan ular menimpa lebih dari 2,5 juta orang setiap tahun dan menyebabkan sekitar 81.000 hingga 138.000 kematian. Pada 2017, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan keracunan akibat gigitan ular ke dalam daftar penyakit tropis terabaikan dengan prioritas tinggi. Salah satu ular yang hidup berdampingan dengan manusia adalah ular weling (Bungarus candidus), anggota famili Elapidae yang berbisa tinggi. Di Indonesia, ular ini tersebar di Sumatra, Jawa, dan Bali, sementara di luar Indonesia ia ditemukan di Semenanjung Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Di Thailand, weling tercatat sebagai penyebab kematian tertinggi akibat gigitan ular, dan dalam satu studi jumlah korbannya setara dengan ular tanah (Calloselasma rhodostoma). Meski berbahaya, informasi tentang pergerakan ular ini masih terbatas, karena sebelumnya hanya ada empat studi yang masing-masing melacak satu individu. Untuk mengisi kekosongan itu, tim peneliti melacak 14 ekor ular weling di kampus Suranaree University of Technology di Provinsi Nakhon Ratchasima, timur laut Thailand, dan menerbitkan hasilnya di jurnal Scientific Reports. Berlindung di Bawah Gedung dan Saluran Beton Kampus seluas sekitar 11 kilometer persegi itu dihuni lebih dari 15.000 mahasiswa, dengan ribuan di antaranya tinggal di asrama. Di sela gedung kuliah, laboratorium, rumah sakit, dan sekolah dasar, masih tersisa 37 petak hutan gugur campuran, sementara di luar kampus terbentang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/10/01/bagaimana-ular-weling-bisa-bertahan-hidup-di-tengah-permukiman-padat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>