Di hutan pegunungan Papua, sanca bulan (Simalia boeleni) hidup di kawasan terpencil yang sulit dijangkau. Tubuhnya panjang dan ramping, sementara kulit dewasanya berwarna hitam dengan kilap yang dapat tampak berbeda ketika terkena sinar matahari. Keindahan itu menjadi salah satu daya tariknya bagi penghobi dan kolektor, sekaligus membawa ancaman bagi keberadaannya di alam.
Hari Suroto, peneliti Pusat Riset Arkeologi Lingkungan BRIN, mengatakan sanca bulan ditemukan di sejumlah wilayah pegunungan Papua, termasuk Lembah Baliem, Pegunungan Bintang, sekitar Danau Wissel, dan Pegunungan Arfak. Sebarannya juga mencakup Papua Nugini.
“Sanca bulan termasuk jenis yang sangat susah ditemukan. Populasinya menurun karena rusaknya habitat, perburuan ilegal, dan perdagangan liar,” katanya.
Menurut Hari, panjang tubuh sanca bulan berkisar 1,5-3 meter. Pertumbuhannya relatif lambat; ukuran maksimal dapat dicapai pada usia empat hingga enam tahun. Warna tubuhnya juga berubah seiring pertumbuhan. Ular ini cenderung pemalu dan jarang menggigit kecuali diprovokasi. Namun, pengetahuan tentang kehidupannya masih terbatas. “Lingkungan mereka yang terpencil dan sulit diakses, membuat penelitian tentang jenis ini masih terbatas.”
Ancaman perdagangan dibahas dalam publikasi Alamsyah Herlambang, Fajrin Shidiq, dan Amir Hamidy pada 2019. Para peneliti menjelaskan bahwa permintaan terhadap satwa langka dan eksotik dapat mendorong eksploitasi berlebihan. Ketika satwa semakin sulit ditemukan, harga pasarnya bisa meningkat dan justru memicu perburuan tambahan.
“Perdagangan ular sanca bulan dari Indonesia tercatat pertama kali pada 1989 dan berlangsung sampai saat ini. Dari 1989-2000 Indonesia memberlakukan kuota untuk jenis ini sebanyak 120 kuota tangkap alam setiap tahunnya,” tulis para peneliti dalam publikasi tersebut.
Pada 2001-2018, tidak ada kuota tangkap yang diberikan untuk sanca bulan. Publikasi itu menyebut individu yang dapat diperdagangkan dan diekspor melalui ketentuan CITES berasal dari kategori kelahiran atau hasil penangkaran tertentu.
Meski demikian, nilai jualnya tetap tinggi. Berdasarkan wawancara dalam penelitian, anakan sanca bulan dihargai sekitar 2 juta rupiah di Papua dan meningkat menjadi 8-12 juta rupiah ketika sampai di Jakarta. Penelusuran peneliti juga menemukan harga anakan di pasar internasional mencapai US$6.000 per ekor.
Artikel tersebut menyebut sanca bulan tercantum dalam Apendiks II CITES dan daftar satwa dilindungi Indonesia. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa aturan perlu disertai pengawasan dari daerah asal hingga pasar penjualan. Tanpa pencegahan di sepanjang jalur perdagangan, permintaan kolektor dapat terus mendorong pengambilan ular dari alam.
Bagi sanca bulan, sulit dijangkau manusia ternyata belum tentu berarti aman. Habitat terpencil membatasi penelitian, sementara harga tinggi mendorong orang mencarinya. Perlindungannya membutuhkan perhatian terhadap hutan tempatnya hidup sekaligus perdagangan yang membuatnya diburu.
Foto utama: Sanca bulan atau Simalia boeleni merupakan ular endemik Papua yang jarang terlihat. Foto: Wikimedia Commons/Danleo~commonswiki/CC BY 2.5