<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=donny-iqbal-lebak&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/donny-iqbal-lebak/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 29 Jun 2026 04:45:19 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>
				<item>
					<title>Ratusan Bangkai Paus Ditemukan di Kedalaman 7.000 Meter Samudra Hindia, Berusia hingga 5 Juta Tahun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/29/ratusan-bangkai-paus-ditemukan-di-kedalaman-7-000-meter-samudra-hindia-berusia-hingga-5-juta-tahun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/29/ratusan-bangkai-paus-ditemukan-di-kedalaman-7-000-meter-samudra-hindia-berusia-hingga-5-juta-tahun/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jun 2026 04:44:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/29044417/c5549d57-c283-4bbd-9099-992636621cac-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129900</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Belum lama ini, para ilmuwan mengumumkan penemuan kuburan paus terbesar dan terdalam yang pernah tercatat di sebuah lembah bawah laut di Samudra Hindia bagian tenggara. Ratusan bangkai dan fosil paus ditemukan membentang sepanjang sekitar 1.200 kilometer di dasar laut pada kedalaman lebih dari 7.000 meter. Temuan ini dipublikasikan pada 10 Juni 2026 dalam jurnal Nature. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/ratusan-bangkai-paus-ditemukan-di-kedalaman-7-000-meter-samudra-hindia-berusia-hingga-5-juta-tahun/">Ratusan Bangkai Paus Ditemukan di Kedalaman 7.000 Meter Samudra Hindia, Berusia hingga 5 Juta Tahun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Belum lama ini, para ilmuwan mengumumkan penemuan kuburan paus terbesar dan terdalam yang pernah tercatat di sebuah lembah bawah laut di Samudra Hindia bagian tenggara. Ratusan bangkai dan fosil paus ditemukan membentang sepanjang sekitar 1.200 kilometer di dasar laut pada kedalaman lebih dari 7.000 meter. Temuan ini dipublikasikan pada 10 Juni 2026 dalam jurnal Nature. Lokasi yang dikenal sebagai Diamantina Fracture Zone ini pertama kali disurvei pada awal 2023 menggunakan kapal selam berawak. Tim peneliti melakukan 32 penyelaman dan menemukan 476 bangkai serta fosil paus, termasuk lima individu yang baru saja mati. Meskipun wilayah yang berhasil disurvei hanya sekitar 0,065 kilometer persegi, para peneliti memperkirakan kepadatan sisa-sisa paus di lokasi itu bisa mencapai 2.000 individu per kilometer persegi, menjadikan tempat ini sebagai nekropolis cetacea terbesar yang pernah diketahui. Fosil tengkorak berbagai spesies paus berparuh yang ditemukan di Diamantina Fracture Zone. Termasuk di antaranya dua spesies yang masih hidup hingga kini, Mesoplodon bowdoini (a,b) dan Mesoplodon layardii (c,d), serta spesies baru yang baru dideskripsikan, Pterocetus diamantinae (e,f,g), bersama fosil Pterocetus benguelae berusia 5,3 juta tahun (h) dan Izikoziphius rossi (i). Skala batang: 20 cm. Foto: Xiaotong Peng et al./Nature, CC BY 4.0 Fosil tertua yang ditemukan berasal dari paus berparuh jenis Pterocetus benguelae yang hidup sekitar 5,3 juta tahun lalu, menunjukkan bahwa bangkai paus telah terakumulasi di lokasi ini sejak zaman Pliosen awal. Tim juga menemukan fosil tengkorak dari spesies baru yang dinamai Pterocetus diamantinae, yang menurut peneliti membantu melengkapi pemahaman tentang sejarah evolusi kelompok paus berparuh. Mengapa Begitu Banyak Bangkai&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/ratusan-bangkai-paus-ditemukan-di-kedalaman-7-000-meter-samudra-hindia-berusia-hingga-5-juta-tahun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/29/ratusan-bangkai-paus-ditemukan-di-kedalaman-7-000-meter-samudra-hindia-berusia-hingga-5-juta-tahun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Ilegal  Gerogoti  Banjarbaru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/29/tambang-ilegal-gerogoti-banjarbaru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/29/tambang-ilegal-gerogoti-banjarbaru/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jun 2026 04:00:28 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rendy Tisna]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/28193659/DJI_0565-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129889</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, data dan statistik, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pertambangan ilegal dari galian C sampai batubara menggerogoti Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Kalsel menemukan enam titik aktivitas ilegal itu yang berlangsung bertahun-tahun, meninggalkan luas area terbuka sekitar 99,59 hektar. Tidak pernah ada penindakan hukum. Temuan itu tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Kepatuhan atas Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/tambang-ilegal-gerogoti-banjarbaru/">Tambang Ilegal  Gerogoti  Banjarbaru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pertambangan ilegal dari galian C sampai batubara menggerogoti Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Kalsel menemukan enam titik aktivitas ilegal itu yang berlangsung bertahun-tahun, meninggalkan luas area terbuka sekitar 99,59 hektar. Tidak pernah ada penindakan hukum. Temuan itu tertuang dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Kepatuhan atas Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Tahun Anggaran 2023 hingga Triwulan III Tahun 2025 pada Pemerintah  Kalimantan Selatan dan instansi terkait lainnya. Andriyanto, Kepala BPK Perwakilan Kalsel, menjelaskan, seluruh kegiatan usaha pertambangan harusnya sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi maupun kota 2023-2043. &#8220;Itu kan harus sesuai, enggak boleh saling bertentangan,&#8221; katanya kepada Mongabay. Temuan itu,  dari uji petik yang menggabungkan analisis spasial citra satelit secara time series, pemeriksaan fisik lapangan, serta konfirmasi dengan sejumlah instansi terkait sebagai bagian dari proses verifikasi data. Temuan pertama, merupakan pertambangan galian C jenis tanah urug di Kelurahan Cempaka, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Berada pada titik koordinat -3.469682, 114.861437. Analisis spasial menunjukkan lokasi  sangat dekat dengan kawasan permukiman warga itu memiliki luas pit terbesar, sekitar 83,47 hektar. Dari pemeriksaan fisik lapangan, BPK Kalsel menemukan kegiatan di lokasi tanpa izin usaha pertambangan itu berlangsung dengan mekanisme upah angkut Rp350.000-Rp400.000 per truk. Sebagai pengganti jual beli material galian secara langsung. Meski aktivitas tidak seramai dahulu, Mongabay masih mendapati satu eksavator serta satu mobil pikap di depan satu pondok untuk berjaga. Bergeser ke arah tenggara, tiga lokasi tambang pasir tanpa izin saling berdekatan. Dua di antaranya berada pada koordinat -3.519949, 114.861308 dan -3.522363, 114.862191, dengan luas pit&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/tambang-ilegal-gerogoti-banjarbaru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/29/tambang-ilegal-gerogoti-banjarbaru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petani Lifuleo Keluhkan Hasil Rumput Laut Turun Setelah Ada PLTU Timor</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/29/petani-lifuleo-keluhkan-hasil-rumput-laut-turun-setelah-ada-pltu-timor/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/29/petani-lifuleo-keluhkan-hasil-rumput-laut-turun-setelah-ada-pltu-timor/#respond</comments>
					<pubDate>29 Jun 2026 01:00:58 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Bapthista Mario Yosryandi Sara*]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/24052816/FOTO-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129648</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Nusa Tenggara dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan pencemaran]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tumpukan rumput laut basah memenuhi pondok di pesisir Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Siang itu, Oktaf Alexander Saketu bersama istri dan keluarganya duduk melingkar sambil membersihkan hasil panen. Tangan mereka bergerak perlahan memisahkan rumput laut yang masih layak jual dan yang rusak akibat terjangkit ice-ice. Sejak September 2023, PLTU Timor-1 beroperasi di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/petani-lifuleo-keluhkan-hasil-rumput-laut-turun-setelah-ada-pltu-timor/">Petani Lifuleo Keluhkan Hasil Rumput Laut Turun Setelah Ada PLTU Timor</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tumpukan rumput laut basah memenuhi pondok di pesisir Desa Lifuleo, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Siang itu, Oktaf Alexander Saketu bersama istri dan keluarganya duduk melingkar sambil membersihkan hasil panen. Tangan mereka bergerak perlahan memisahkan rumput laut yang masih layak jual dan yang rusak akibat terjangkit ice-ice. Sejak September 2023, PLTU Timor-1 beroperasi di Dusun Panaf, Desa Lifuleo, Kupang, NTT. Oktaf bercerita, banyak perubahan lingkungan dan hasil tangkapan yang warga desa rasakan. Tangkapan ikan menurun dan rumput terkena ice-ice yang membuat komoditas ini memucat, berlendir, lalu patah sebelum panen. “Kemarin-kemarin rumput laut di sini bagus sekali. Sekarang susah sekali dapat hasil,” kata Oktaf, Ketua Umum Pembudidaya Rumput Laut Desa Lifuleo, Kamis (21/5/26). Dia sudah lama hidup dari hasil laut. Sebelum membudidayakan rumput laut ini, dia sempat sebagai nelayan. Memasuki tahun 2000, dia memilih jadi petani rumput laut karena lebih menjanjikan dan tak perlu modal besar. “Kalau di sini, dulu cukup pakai sampan kecil. Kadang air surut, jalan kaki juga bisa sampai lokasi rumput laut,” katanya. Hasil panen rumput laut yang dikeringkan setelah dipisahkan dari tanaman yang terserang ice-ice. Foto: Mario Sara/Mongabay Indonesia. Perairan Lifuleo dikenal sebagai kawasan budidaya rumput laut produktif sejak 1999. Hamparan rumput membentang luas di sepanjang perairan. Nelayan masih mudah memperoleh ikan di lepas Pantai Oesina. Bagi masyarakat, budidaya rumput laut menjadi sumber penghidupan utama, setelah hasil tangkapan ikan terus menurun. Seprianus Alexander merasakan pencemaran laut terjadi perlahan terjadi sesudah operasional PLTU. Terumbu karang rusak, ikan menjauh dan rumput laut sering mati sebelum masa panen tiba.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/29/petani-lifuleo-keluhkan-hasil-rumput-laut-turun-setelah-ada-pltu-timor/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/29/petani-lifuleo-keluhkan-hasil-rumput-laut-turun-setelah-ada-pltu-timor/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ikan Tunu, Kuliner Sehat Masyarakat Lahan Basah Sungai Musi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ikan-tunu-kuliner-sehat-masyarakat-lahan-basah-sungai-musi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ikan-tunu-kuliner-sehat-masyarakat-lahan-basah-sungai-musi/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jun 2026 16:03:35 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/28155653/Ikan-tunu-salah-satu-kuliner-leluhur-masyarakat-Tempirai.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129880</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal, Lahan Basah, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi di lahan basah melahirkan berbagai pengetahuan lokal, termasuk teknik pengolahan masakan berbahan ikan. Di Tempirai, masyarakat mengenal ikan tunu, yakni ikan bakar yang dibungkus daun serta tanah liat. “Ini teknik masak paling lama, sudah ada sejak zaman puyang (leluhur) kami,” kata Cik Mir (84), saat mempraktikkan teknik memasak ikan tunu [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/ikan-tunu-kuliner-sehat-masyarakat-lahan-basah-sungai-musi/">Ikan Tunu, Kuliner Sehat Masyarakat Lahan Basah Sungai Musi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi di lahan basah melahirkan berbagai pengetahuan lokal, termasuk teknik pengolahan masakan berbahan ikan. Di Tempirai, masyarakat mengenal ikan tunu, yakni ikan bakar yang dibungkus daun serta tanah liat. “Ini teknik masak paling lama, sudah ada sejak zaman puyang (leluhur) kami,” kata Cik Mir (84), saat mempraktikkan teknik memasak ikan tunu pada Festival Lahan Basah Tempirai 2026, di Turunan Gajah, Desa Tempirai Selatan, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, Kamis (18/6/26). Ikan yang biasa mereka gunakan berasal dari keluarga Chanidae (sejenis gabus), misalnya ruan (Channa striata), bujuk (Channa lucius), dan serandang (Channa pleurophthalmus). Sementara daun yang digunakan berasal dari pohon pisang. “Kalau tanah liat, itu bisa didapat di sekitar talang atau tepian sungai,” kata Cik Mir. Sebelum di balut tanah liat, isi perut ikan dibuang. Kemudian, bumbu seperti bawang merah, garam, cabai, serta asam kandis, dimasukkan ke perut ikan. Setelah itu, ikan dibalut daun pisang lalu dibungkus lagi dengan tanah liat. Ikan siap disantap ketika tanah liat mulai merekah atau berubah kehitaman. “Kalau sudah matang betul, biasanya kulit ikan akan terkelupas sendirinya, atau menempel langsung dengan tanah liat. Jadi, kita makan dagingnya saja,” tutur Cik Mir. Di masa lalu, ikan tunu sering menjada santapan masyarakat Tempirai saat bermalam di kebun atau ume. Ikan tunu dinilai praktis, karena tidak perlu menggunakan alat bantu masak seperti panci atau wajan. “Teknik ini paling sering dipakai saat kami berhari-hari menangkap ikan di hutan atau rawa. Cukup cari daun, tanah liat, lalu panggang di api. Tanah liat yang membungkus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/ikan-tunu-kuliner-sehat-masyarakat-lahan-basah-sungai-musi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ikan-tunu-kuliner-sehat-masyarakat-lahan-basah-sungai-musi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hewan yang Dikira Anjing Ini Ternyata Satu Keluarga dengan Kucing, dan Lebih Cerdas dari Keduanya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hewan-yang-dikira-anjing-ini-ternyata-satu-keluarga-dengan-kucing-dan-lebih-cerdas-dari-keduanya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hewan-yang-dikira-anjing-ini-ternyata-satu-keluarga-dengan-kucing-dan-lebih-cerdas-dari-keduanya/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jun 2026 09:30:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/05/22003122/Hyena_51846902165-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129879</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ukurannya sebesar anjing gembala Jerman. Mukanya mirip anjing. Cara bergeraknya pun mengingatkan pada anjing. Hampir semua orang yang melihatnya untuk pertama kali akan mengira hyena adalah kerabat dekat anjing. Tapi studi genetik sudah memutuskan sebaliknya: hyena jauh lebih dekat dengan kucing. Dan dari segi kecerdasan, ia melampaui keduanya. Penelitian Dr. Sarah Benson-Amram dari University of [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hewan-yang-dikira-anjing-ini-ternyata-satu-keluarga-dengan-kucing-dan-lebih-cerdas-dari-keduanya/">Hewan yang Dikira Anjing Ini Ternyata Satu Keluarga dengan Kucing, dan Lebih Cerdas dari Keduanya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ukurannya sebesar anjing gembala Jerman. Mukanya mirip anjing. Cara bergeraknya pun mengingatkan pada anjing. Hampir semua orang yang melihatnya untuk pertama kali akan mengira hyena adalah kerabat dekat anjing. Tapi studi genetik sudah memutuskan sebaliknya: hyena jauh lebih dekat dengan kucing. Dan dari segi kecerdasan, ia melampaui keduanya. Penelitian Dr. Sarah Benson-Amram dari University of St Andrews menyimpulkan bahwa hyena adalah salah satu hewan terpintar karena kemampuannya mengatasi masalah secara naluri sekaligus kemampuan berhitung. Hyena tutul (Crocuta crocuta), spesies terbesar dan paling umum, memiliki kecerdasan yang kerap disetarakan dengan primata. Mereka bisa memecahkan masalah sederhana, mengenali suara individu dalam kawanan, dan menghitung jumlah penyusup di wilayahnya untuk memperkirakan berapa banyak rekan yang harus dipanggil untuk mengusirnya. Kemampuan berhitung itu juga membantu mereka memutuskan apakah harus menghadapi musuh atau melarikan diri. Lalu mengapa hyena terlihat seperti anjing jika kekerabatannya lebih dekat ke kucing? Jawabannya adalah evolusi konvergen, proses di mana organisme dari garis keturunan berbeda mengembangkan morfologi yang mirip sebagai respons terhadap tekanan lingkungan yang serupa. Secara filogeni, karnivora terbagi dalam dua superfamili besar: Caniformia yang mencakup anjing, beruang, musang, dan walrus; serta Feliformia yang mencakup kucing, linsang, dan hyena. Hyena satu kelompok besar dengan kucing, bukan anjing. Bahkan anjing ternyata lebih dekat kekerabatannya dengan panda dibanding dengan hyena. Pengurutan DNA mempertegas hal ini. Leluhur hyena dan leluhur kucing baru berpisah sekitar 35 juta tahun lalu. Sementara perpisahan leluhur hyena dengan leluhur anjing terjadi jauh lebih lama, sekitar 58 juta tahun lalu. Saat ini ada empat spesies hyena yang masih hidup.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hewan-yang-dikira-anjing-ini-ternyata-satu-keluarga-dengan-kucing-dan-lebih-cerdas-dari-keduanya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/hewan-yang-dikira-anjing-ini-ternyata-satu-keluarga-dengan-kucing-dan-lebih-cerdas-dari-keduanya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ubah Paradigma Pembangunan Abai Alam di Papua</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ubah-paradigma-pembangunan-abai-alam-di-papua/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ubah-paradigma-pembangunan-abai-alam-di-papua/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jun 2026 05:23:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/14010436/Papua-Pusaka-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129869</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Anggrek Nusantara di Hutan yang Kian Menyempit dan Nasib Hutan dan Masyarakat Adat Papua]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[papua]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Film Pesta Babi : Kolonialisme di Zaman Kita, yang rilis belum lama ini menyita perhatian masyarakat.   Film dokumenter yang memperlihatkan bagaimana proyek strategis nasional (PSN) pangan dan energi memarjinalkan masyarakat adat di Merauke, Papua Selatan. Hutan yang menjadi ruang hidup suku-suku seperti Auyu, Muyu, Yei, dan Malind, rusak demi proyek pangan dengan rencana lebih 2,7 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/ubah-paradigma-pembangunan-abai-alam-di-papua/">Ubah Paradigma Pembangunan Abai Alam di Papua</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Film Pesta Babi : Kolonialisme di Zaman Kita, yang rilis belum lama ini menyita perhatian masyarakat.   Film dokumenter yang memperlihatkan bagaimana proyek strategis nasional (PSN) pangan dan energi memarjinalkan masyarakat adat di Merauke, Papua Selatan. Hutan yang menjadi ruang hidup suku-suku seperti Auyu, Muyu, Yei, dan Malind, rusak demi proyek pangan dengan rencana lebih 2,7 juta hektar ini. “Film Pesta Babi bukan hanya soal Papua,” kata Dandhy Dwi Laksono usai merilis Film Dokumenter Pesta Babi ke kanal Youtube Jubi TV, setelah sebelumnya selama lebih dari dua bulan, publik hanya bisa menyaksikan lewat nonton bareng (nobar). Sutradara film ini bilang, perampasan lahan, kehancuran ruang hidup hingga tersingkirnya masyarakat adat Papua berdalih investasi nasional juga terjadi di banyak tempat di Indonesia. “Film ini didasari keinginan kami membantu menyuarakan apa yang kami gelisahkan. Untuk sama-sama mengkritik militerisme, eksploitasi sumber daya alam dan masalah agraria,” katanya  di Jayapura, 22 Mei lalu. Film yang diproduksi selama tiga tahun oleh kolaborasi kelompok masyarakat sipil dan media Independen ini juga menunjukkan, konflik bersenjata serta militerisme membuat ribuan masyarakat Papua harus mengungsi. Pesta Babi pun tak hanya membahas soal kondisi Papua, juga Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku yang bernasib tak jauh berbeda. “Papua sebuah lokus yang kami anggap mewakili Indonesia yang digabung jadi satu semua masalahnya, tentang peminggirannya, tentang eksploitasi sumber daya alamnya dan tentang kejahatan kemanusiaannya. Kami pinjam cerita dari Papua karena skalanya sangat besar dan menumpuk,” katanya.  Polemik, ada apa? Semula, film ini lancar saat pemutaran perdana di Auckland, Australia 7 Maret 2026. Begitu juga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/ubah-paradigma-pembangunan-abai-alam-di-papua/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/28/ubah-paradigma-pembangunan-abai-alam-di-papua/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menanti Penyelesaian Masalah Agraria Perusahaan Tambang Batubara di Kotabaru</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/28/menanti-penyelesaian-masalah-agraria-perusahaan-tambang-batubara-di-kotabaru/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/28/menanti-penyelesaian-masalah-agraria-perusahaan-tambang-batubara-di-kotabaru/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jun 2026 05:00:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Riyad Dafhi Rizki]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/28031911/batubara-kalsel-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129848</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, komunitas lokal, pencemaran, Pertambangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Konflik agraria warga Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel)  dengan perusahaan tambang batubara mulai mengarah pada penyelesaian. Meskipun demikian, Kantor Wilayah (Kanwil) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kotabaru masih belum bisa menerangkan akar persoalan. Organisasi Masyarakat Sipil melihat kerentanan kejadian berulang. Dalam tulisan Mongabay sebelumnya menceritakan kasus konflik lahan itu. Pertama, kasus Yoni Gunawan, warga Desa Megasari, Kecamatan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/menanti-penyelesaian-masalah-agraria-perusahaan-tambang-batubara-di-kotabaru/">Menanti Penyelesaian Masalah Agraria Perusahaan Tambang Batubara di Kotabaru</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Konflik agraria warga Kotabaru, Kalimantan Selatan (Kalsel)  dengan perusahaan tambang batubara mulai mengarah pada penyelesaian. Meskipun demikian, Kantor Wilayah (Kanwil) Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kotabaru masih belum bisa menerangkan akar persoalan. Organisasi Masyarakat Sipil melihat kerentanan kejadian berulang. Dalam tulisan Mongabay sebelumnya menceritakan kasus konflik lahan itu. Pertama, kasus Yoni Gunawan, warga Desa Megasari, Kecamatan Pulau Laut Utara yang lahannya masuk izin usaha pertambangan (IUP) perusahaan tambang saat mengajukan status lahan yang dia beli jadi sertifikat hak milik (SHM). Kedua, lahan Anton Timur dan Abdul Muthalib  berstatus  SHM di Desa Selaru sejak 2015.  Pada 2021, sebagian lahan masuk konsesi tambang. Ketiga, penghapusan 717 SHM warga eks transmigran Rawa Indah, Desa Bekambit, setelah terbit IUP batubara seluas 8.139 hektar. Muhammad Fajaruddin, Kepala Seksi Penanganan dan Pengendalian Sengketa BPN Kotabaru, menyampaikan, informasi yang mereka dapatkan, sengketa Yoni Gunawan maupun Anton Timur–Abdul Muthalib sudah mengarah pada penyelesaian. Para pihak, katanya, sudah  mencapai kesepakatan terkait penggantian lahan. Kini tengah menyelesaikan proses administrasi lanjutan. “Untuk besarannya berapa, kami tidak masuk ke ranah tersebut. Tapi yang kami terima informasinya, prosesnya sedang berjalan. Kabarnya bahkan sudah penandatanganan akta perdamaian dan menuju proses akta pelepasan,&#8221; katanya, Rabu (3/6/26). Lubang batubara dan tambak ikan air payau di kawasan pesisir yang masuk di area Hak Penggunaan Lahan (HPL) warga Transmigran, Kecamatan Pulau Laut Timur, Kotabaru. Foto: Rendy Tisna/ Mongabay Indonesia. Soal kasus Bekambit, dia menilai persoalan itu  secara normatif bukan lagi kewenangan BPN Kotabaru, setelah Kementerian ATR/BPN menerbitkan surat keputusan pencabutan pembatalan atau pemulihan 717 SHM warga. Bersama itu, aspirasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/menanti-penyelesaian-masalah-agraria-perusahaan-tambang-batubara-di-kotabaru/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/28/menanti-penyelesaian-masalah-agraria-perusahaan-tambang-batubara-di-kotabaru/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jaringan Jamur Bawah Tanah  Sepanjang 110 Kuadriliun Km Dipetakan untuk Pertama Kalinya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/28/jaringan-jamur-bawah-tanah-sepanjang-110-kuadriliun-km-dipetakan-untuk-pertama-kalinya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/28/jaringan-jamur-bawah-tanah-sepanjang-110-kuadriliun-km-dipetakan-untuk-pertama-kalinya/#respond</comments>
					<pubDate>28 Jun 2026 01:34:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/28013054/pexels-zelch-30596223-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129851</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil memetakan jaringan jamur bawah tanah secara global dan hasilnya jauh melampaui perkiraan sebelumnya: total panjang filamen jamur di seluruh permukaan Bumi mencapai lebih dari 110 kuadriliun kilometer, setara hampir satu miliar kali jarak Bumi ke Matahari. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science dengan menganalisis lebih dari 16.000 sampel tanah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/jaringan-jamur-bawah-tanah-sepanjang-110-kuadriliun-km-dipetakan-untuk-pertama-kalinya/">Jaringan Jamur Bawah Tanah  Sepanjang 110 Kuadriliun Km Dipetakan untuk Pertama Kalinya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Untuk pertama kalinya, para ilmuwan berhasil memetakan jaringan jamur bawah tanah secara global dan hasilnya jauh melampaui perkiraan sebelumnya: total panjang filamen jamur di seluruh permukaan Bumi mencapai lebih dari 110 kuadriliun kilometer, setara hampir satu miliar kali jarak Bumi ke Matahari. Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science dengan menganalisis lebih dari 16.000 sampel tanah dari 300 studi ilmiah yang dilakukan di berbagai wilayah dunia. Data kepadatan filamen jamur, atau hifa, dari sampel-sampel tersebut kemudian diproses menggunakan model pembelajaran mesin untuk membangun peta distribusi global di lapisan tanah atas. Ini adalah upaya pertama yang berhasil mengintegrasikan data dari ratusan penelitian lokal menjadi satu gambaran kohesif tentang ekosistem bawah tanah di tingkat planet. Jaringan hifa jamur mikoriza arbuskular yang divisualisasikan dengan pewarnaan berdasarkan ukuran radius filamen (1,5 hingga 5,0 mikrometer). Warna kuning-oranye pada bagian tengah menunjukkan hifa berdiameter lebih besar yang berfungsi sebagai jalur utama transportasi, sementara cabang-cabang ungu yang lebih tipis di bagian tepi berperan dalam penyerapan nutrisi. Jaringan ini bekerja sebagai sistem dua arah: menyalurkan air, fosfor, dan nitrogen ke tanaman, sekaligus mengangkut karbon dari tanaman ke dalam tanah. (Foto: Corentin Bisot &#8211; VU Amsterdam, AMOLF / Justin Stewart &#8211; SPUN) Jamur yang menjadi fokus studi ini adalah jamur mikoriza arbuskular, kelompok mikroorganisme yang hidup di lapisan tanah atas dan membentuk hubungan simbiosis dengan akar tanaman. Keberadaannya tidak mencolok, tapi skala dan fungsinya jauh dari sepele. Lebih dari 70 persen spesies tanaman darat bergantung pada kemitraan dengan jamur ini untuk menyerap air, fosfor, nitrogen, dan berbagai mineral dari tanah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/28/jaringan-jamur-bawah-tanah-sepanjang-110-kuadriliun-km-dipetakan-untuk-pertama-kalinya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/28/jaringan-jamur-bawah-tanah-sepanjang-110-kuadriliun-km-dipetakan-untuk-pertama-kalinya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ratifikasi ILO C-188, Bagaimana Masa Depan Industri Perikanan Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/27/ratifikasi-ilo-c-188-bagaimana-masa-depan-industri-perikanan-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/27/ratifikasi-ilo-c-188-bagaimana-masa-depan-industri-perikanan-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 15:19:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/06/22074308/IKAN-DI-TPI-5-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129843</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, jawa, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Harapan muncul, ketika Indonesia meratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 188 tentang Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan, pada 1 Mei 2026. Terutama, pengembangan dan peningkatan nilai jual produk perikanan dari Indonesia di pasar internasional. Alasannya, aturan yang populer dengan sebutan ILO C-188 itu, mewajibkan proses pekerjaan dilakukan dengan menerapkan banyak hal, sebut saja keselamatan dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/ratifikasi-ilo-c-188-bagaimana-masa-depan-industri-perikanan-indonesia/">Ratifikasi ILO C-188, Bagaimana Masa Depan Industri Perikanan Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Harapan muncul, ketika Indonesia meratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 188 tentang Pekerjaan dalam Penangkapan Ikan, pada 1 Mei 2026. Terutama, pengembangan dan peningkatan nilai jual produk perikanan dari Indonesia di pasar internasional. Alasannya, aturan yang populer dengan sebutan ILO C-188 itu, mewajibkan proses pekerjaan dilakukan dengan menerapkan banyak hal, sebut saja keselamatan dan kesejahteraan para pekerja perikanan. Ketua Umum Asosiasi Tuna Indonesia (Astuin) Saut P Hutagalung, meyakini C-188 bisa memajukan industri perikanan nasional, karena ada sejumlah tujuan baik. Selain memperkuat perlindungan awak kapal perikanan (AKP), ada juga tata kelola industri perikanan, serta keberlanjutan sektor perikanan nasional. “Namun, implementasi matang perlu dipersiapkan agar tidak menimbulkan gangguan operasional industri perikanan Indonesia,” ungkapnya kepada Mongabay baru-baru ini. Gangguan yang dimaksud berupa munculnya risiko besar disebabkan impelementasi yang terlalu cepat, sementara kesiapan teknis kurang. Atau, kurangnya dukungan pembiayaan, sumber daya manusia (SDM), dan harmonisasi antarkementerian. Kesiapan kapal juga penting, khususnya aturan turunan pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 25 Tahun 2026 melalui koordinasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Ketenagakerjaan. Astuin menilai, persiapan ini memerlukan peta jalan implementasi bertahap, konsultasi publik memadai, penilaian dampak regulasi (regulatory impact assessment), serta proyek percontohan kapal yang lebih siap. Tegasnya, C-188 tak hanya mendukung perlindungan AKP dan prinsip pekerjaan yang layak saja. Implementasi juga harus bisa berjalan realistis, bertahap, dan mempertimbangkan keberlanjutan industri perikanan nasional. Tantangan C-188 ada pada aspek desain fisik kapal, fasilitas AKP, serta sistem rekrutmen dan kesiapan operasional kapal. Dampaknya, penerapan standar fasilitas, ruang akomodasi, keselamatan, dan standar kerja tidak dapat dilakukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/ratifikasi-ilo-c-188-bagaimana-masa-depan-industri-perikanan-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/27/ratifikasi-ilo-c-188-bagaimana-masa-depan-industri-perikanan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dorong Penguatan Pengakuan Wilayah Konservasi Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/27/dorong-penguatan-pengakuan-wilayah-konservasi-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/27/dorong-penguatan-pengakuan-wilayah-konservasi-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 08:31:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/23085918/Dalam-kawasan-Hutan-Adat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129804</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat adat maupun komunitas lokal merupakan penjaga utama alam Indonesia.   Cindy Julianty, Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia (WGII), mengatakan, selama berabad-abad, masyarakat adat dan komunitas lokal telah mengembangkan sistem pengetahuan, nilai budaya, aturan sosial, dan tata kelola yang memungkinkan manusia hidup berdampingan dengan alam. Di Maluku terkenal praktik sasi. Masyarakat Dayak di Kalimantan mengenal [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/dorong-penguatan-pengakuan-wilayah-konservasi-masyarakat-adat/">Dorong Penguatan Pengakuan Wilayah Konservasi Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat adat maupun komunitas lokal merupakan penjaga utama alam Indonesia.   Cindy Julianty, Koordinator Eksekutif Working Group ICCAs Indonesia (WGII), mengatakan, selama berabad-abad, masyarakat adat dan komunitas lokal telah mengembangkan sistem pengetahuan, nilai budaya, aturan sosial, dan tata kelola yang memungkinkan manusia hidup berdampingan dengan alam. Di Maluku terkenal praktik sasi. Masyarakat Dayak di Kalimantan mengenal tana ulen. Di Bali dan Nusa Tenggara berkembang sistem awig-awig, di Masyarakat Kasepuhan di Jawa Barat menjaga kawasan hutan melalui konsep leuweung titipan dan banyak lagi di berbagai komunitas adat. Praktik-praktik itu memperlihatkan, bahwa, konservasi tidak hanya berbicara tentang perlindungan spesies dan kawasan,  juga hubungan antara manusia, budaya, dan alam. &#8220;Di dalamnya terdapat pengetahuan tradisional, nilai spiritual, sistem pangan, pengobatan tradisional, serta tata kelola sosial yang diwariskan lintas generasi,&#8221; katanya saat membuka Peluncuran Data Nasional Indigenous Peoples and Local Communities Conserved Areas and Territories (ICCAs), Jumat (5/6/26). Dengan berbagai temuan itu, katanya, Indonesia tidak hanya layak mendapat julukan negara megabiodiversitas, tetapi juga sebagai negara dengan kekayaan biokultural (bio-cultural megabiodiversity). Dialog publik bertajuk Mengakui Konservasi Rakyat dan Memajukan Kepemimpinan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam Tata Kelola Keanekaragaman Hayati Indonesia turut melengkapi kegiatan yang berlangsung di Aula Nusantara, Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Jakarta Selatan, itu. Dialog publik oleh Working Group ICCAs Indonesia (WGII), bertajuk Mengakui Konservasi Rakyat dan Memajukan Kepemimpinan Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal dalam Tata Kelola Keanekaragaman Hayati Indonesia di Aula Nusantara, Fakultas Hukum Universitas Pancasila, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/26). Foto: Christ Belseran/Mongabay Indonesia. Satu juta hektar Jika praktik konservasi rakyat sudah lama hadir, seberapa besar sebenarnya kontribusinya?&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/dorong-penguatan-pengakuan-wilayah-konservasi-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/27/dorong-penguatan-pengakuan-wilayah-konservasi-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tersembunyi di Lumpur dan Dahan Bakau, Ular Ini Berbisa dan Tidak Segan Memangsa Ular Lain</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tersembunyi-di-lumpur-dan-dahan-bakau-ular-ini-berbisa-dan-tidak-segan-memangsa-ular-lain/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tersembunyi-di-lumpur-dan-dahan-bakau-ular-ini-berbisa-dan-tidak-segan-memangsa-ular-lain/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 05:44:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/25110244/Shore_pit_viper_from_Singapore-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129816</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di hutan mangrove Asia Tenggara, ada ular yang tersembunyi sempurna di dua dunia sekaligus: di dahan rendah di antara dedaunan, dan di permukaan lumpur gelap di bawahnya. Warnanya bervariasi dari hitam legam, hijau gelap, abu-abu, hingga cokelat keunguan, menyatu sempurna dengan akar bakau, lumpur, dan bayangan kontras hutan pesisir. Siang hari ia hampir tidak bergerak, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tersembunyi-di-lumpur-dan-dahan-bakau-ular-ini-berbisa-dan-tidak-segan-memangsa-ular-lain/">Tersembunyi di Lumpur dan Dahan Bakau, Ular Ini Berbisa dan Tidak Segan Memangsa Ular Lain</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di hutan mangrove Asia Tenggara, ada ular yang tersembunyi sempurna di dua dunia sekaligus: di dahan rendah di antara dedaunan, dan di permukaan lumpur gelap di bawahnya. Warnanya bervariasi dari hitam legam, hijau gelap, abu-abu, hingga cokelat keunguan, menyatu sempurna dengan akar bakau, lumpur, dan bayangan kontras hutan pesisir. Siang hari ia hampir tidak bergerak, melingkar satu hingga dua meter dari permukaan, menunggu dengan kesabaran yang hampir tidak terlihat. Namanya ular viper bakau (Trimeresurus purpureomaculatus), atau Mangrove Viper. Dan ia lebih berbahaya dari yang penampilannya sugestikan. Ular ini termasuk kelompok pit viper dari famili Viperidae, dengan panjang maksimum sekitar 100 sentimeter. Di antara mata dan hidungnya terdapat organ lubang yang sangat sensitif terhadap panas inframerah, memungkinkannya mendeteksi bayangan panas mangsa berdarah panas dalam kegelapan total. Saat malam, ia menjadi pemburu aktif. Saat siang, kamuflasenya adalah senjata utama. Bisanya bersifat hemotoksik, merusak jaringan sel, pembuluh darah, dan mengganggu sistem pembekuan darah. Selama ini gigitan ular pohon dianggap hanya menyebabkan efek lokal yang ringan. Bukti klinis menunjukkan sebaliknya. Sebuah laporan kasus dari Singapura mendokumentasikan seorang pria berusia 40 tahun yang digigit di tangan kanan oleh ular bakau. &#8220;Gigitannya berbisa parah, dapat menyebabkan efek lokal signifikan, seperti pembengkakan luas dan nekrosis jaringan,&#8221; tulis Mong dan Tan dalam publikasi mereka di jurnal Wilderness &amp; Environmental Medicine (2016). Pasien akhirnya membaik setelah mendapat enam vial antivenom polivalen India, meski antivenom spesifik untuk ular bakau sendiri tidak tersedia secara lokal. Persebarannya luas: Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Singapura, Semenanjung Malaysia, dan Indonesia. Hutan mangrove adalah habitatnya yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tersembunyi-di-lumpur-dan-dahan-bakau-ular-ini-berbisa-dan-tidak-segan-memangsa-ular-lain/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/tersembunyi-di-lumpur-dan-dahan-bakau-ular-ini-berbisa-dan-tidak-segan-memangsa-ular-lain/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kucing Adalah Hewan Peliharaan Terpopuler di Dunia, dan Salah Satu Predator Paling Merusak</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-adalah-hewan-peliharaan-terpopuler-di-dunia-dan-salah-satu-predator-paling-merusak/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-adalah-hewan-peliharaan-terpopuler-di-dunia-dan-salah-satu-predator-paling-merusak/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 03:40:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/12/22031813/Feral-cat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129815</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Populasi kucing di seluruh dunia diperkirakan mencapai ratusan juta ekor, tersebar di hampir setiap negara. Tidak ada hewan peliharaan yang lebih populer. Tapi para ilmuwan sudah lama menempatkan kucing dalam daftar yang sangat berbeda: salah satu spesies invasif paling merusak di dunia, sejajar dengan tikus dan anjing liar. Di Australia, kucing diperkirakan membunuh lebih dari [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-adalah-hewan-peliharaan-terpopuler-di-dunia-dan-salah-satu-predator-paling-merusak/">Kucing Adalah Hewan Peliharaan Terpopuler di Dunia, dan Salah Satu Predator Paling Merusak</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Populasi kucing di seluruh dunia diperkirakan mencapai ratusan juta ekor, tersebar di hampir setiap negara. Tidak ada hewan peliharaan yang lebih populer. Tapi para ilmuwan sudah lama menempatkan kucing dalam daftar yang sangat berbeda: salah satu spesies invasif paling merusak di dunia, sejajar dengan tikus dan anjing liar. Di Australia, kucing diperkirakan membunuh lebih dari satu miliar mamalia setiap tahun, ditambah ratusan juta burung dan reptil. Bukan hanya dari kucing liar, tapi juga dari kucing rumahan yang dibiarkan bebas berkeliaran. Kajian U.S. Fish and Wildlife Service mengaitkan kucing dengan kepunahan sedikitnya 33 spesies. Dampak paling parah terjadi di ekosistem pulau, di mana fauna berevolusi tanpa predator seperti kucing sehingga tidak punya pertahanan alami. Numbat di Australia Barat kini tersisa kurang dari 1.000 individu, dengan predasi kucing sebagai ancaman utama. Burung kakapo di Selandia Baru bertahan berkat upaya konservasi masif tapi tetap rentan. Di Tasmania, seekor kucing yang masuk ke fasilitas penangkaran burung beo perut oranye pada 2013 membunuh beberapa individu dari spesies yang sudah sangat tertekan. Ancaman dari kucing tidak hanya soal predasi langsung. Kucing adalah inang utama parasit Toxoplasma gondii. Di Hawaii, parasit ini berkontribusi pada kematian burung nene dan anjing laut biksu Hawaii. Di Florida, wabah leukemia kucing menyerang macan kumbang Florida pada 2000-an. Di Eropa, kawin silang kucing liar Skotlandia dengan kucing rumahan mengancam kemurnian genetik spesies liar itu secara perlahan. Bahkan kehadiran kucing saja sudah cukup mengubah perilaku satwa liar. Penelitian menemukan satwa kecil jauh lebih aktif ketika kucing tidak ada, tapi bersembunyi dan mengurangi aktivitas&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-adalah-hewan-peliharaan-terpopuler-di-dunia-dan-salah-satu-predator-paling-merusak/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/kucing-adalah-hewan-peliharaan-terpopuler-di-dunia-dan-salah-satu-predator-paling-merusak/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>25 Tahun Memburu Anjing Hantu Amazon, Ilmuwan Temukan Populasinya Jauh Lebih Besar dari Perkiraan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/27/25-tahun-memburu-anjing-hantu-amazon-ilmuwan-temukan-populasinya-jauh-lebih-besar-dari-perkiraan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/27/25-tahun-memburu-anjing-hantu-amazon-ilmuwan-temukan-populasinya-jauh-lebih-besar-dari-perkiraan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 02:54:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/27025356/9b2eff647804c9c039733ed29be8d74d4f22c22f8a3a1f44b4f2bac091f4f07e-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129808</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di kedalaman hutan hujan Amazon, tersembunyi seekor predator yang selama puluhan tahun nyaris tidak tercatat oleh sains. Anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) begitu pandai menghilang sehingga para ilmuwan menjulukinya &#8220;anjing hantu.&#8221; Kini, setelah lebih dari dua dekade penelitian, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation (2026) mulai mengungkap misteri salah satu karnivora [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/25-tahun-memburu-anjing-hantu-amazon-ilmuwan-temukan-populasinya-jauh-lebih-besar-dari-perkiraan/">25 Tahun Memburu Anjing Hantu Amazon, Ilmuwan Temukan Populasinya Jauh Lebih Besar dari Perkiraan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di kedalaman hutan hujan Amazon, tersembunyi seekor predator yang selama puluhan tahun nyaris tidak tercatat oleh sains. Anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) begitu pandai menghilang sehingga para ilmuwan menjulukinya &#8220;anjing hantu.&#8221; Kini, setelah lebih dari dua dekade penelitian, sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation (2026) mulai mengungkap misteri salah satu karnivora paling misterius di Amerika Latin tersbeut. Anjing telinga pendek adalah satu-satunya anggota genus Atelocynus, dan satu-satunya spesies canid yang benar-benar endemik di kawasan Amazon. Sebelum penelitian ini, hampir tidak ada yang diketahui tentang perilaku, kepadatan populasi, maupun preferensi habitatnya secara pasti. Bahkan distribusi geografis dan habitatnya pun belum jelas, dan ekologinya hampir sepenuhnya tidak diketahui, kata Dr. Robert Wallace dari Wildlife Conservation Society (WCS), penulis utama studi ini. Antara 2001 dan 2024, tim peneliti melakukan 34 survei intensif dengan perangkap kamera di wilayah dataran rendah Greater Madidi-Tambopata Landscape di Bolivia barat laut dan Peru tenggara, serta Llanos de Moxos Biocultural Landscape di Bolivia utara. Hasilnya: 594 foto individu terdokumentasi, lebih banyak dari yang pernah dikumpulkan sebelumnya. Langka dan sulit dijumpai, dua ekor anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) tertangkap kamera di hutan Peru. Spesies endemik Amazon ini lebih sering meninggalkan jejak ketimbang menampakkan diri. Foto: Jon Irvine/GBIF (CC BY-NC 4.0) Dari rekaman itu, peneliti mendapatkan gambaran fisik yang lebih jelas. Anjing ini berbobot sekitar 9 hingga 10 kg, bertubuh ramping dengan kepala besar, telinga bulat yang relatif kecil dibanding canid lain, kaki pendek, ekor panjang berbulu lebat, serta bulu gelap yang bervariasi dari cokelat kemerahan hingga&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/25-tahun-memburu-anjing-hantu-amazon-ilmuwan-temukan-populasinya-jauh-lebih-besar-dari-perkiraan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/27/25-tahun-memburu-anjing-hantu-amazon-ilmuwan-temukan-populasinya-jauh-lebih-besar-dari-perkiraan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Byar Pet Listrik di Jateng, Saatnya Serius Manfaatkan Energi Terbarukan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/27/byar-pet-listrik-di-jateng-saatnya-serius-manfaatkan-energi-terbarukan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/27/byar-pet-listrik-di-jateng-saatnya-serius-manfaatkan-energi-terbarukan/#respond</comments>
					<pubDate>27 Jun 2026 01:28:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Wulan Yanuarwati]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[infrastruktur]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/05/21232204/DJI_0067-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129733</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, Data dan Statisik, infrastruktur, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Pemadaman listrik di beberapa titik di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), menunjukkan lemahnya sistem ketenagalistrikan karena ketergantungan bahan bakar fosil ini. Peristiwa ini harus jadi momentum pemerintah beralih ke energi terbarukan, apalagi, potensi energi terbarukan di provinsi ini tinggi sekitar 197,96 GWp. Pemadaman listrik di Jateng terjadi dengan durasi tak menentu dan berulang. Aktivitas warga, baik [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/byar-pet-listrik-di-jateng-saatnya-serius-manfaatkan-energi-terbarukan/">Byar Pet Listrik di Jateng, Saatnya Serius Manfaatkan Energi Terbarukan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Pemadaman listrik di beberapa titik di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), menunjukkan lemahnya sistem ketenagalistrikan karena ketergantungan bahan bakar fosil ini. Peristiwa ini harus jadi momentum pemerintah beralih ke energi terbarukan, apalagi, potensi energi terbarukan di provinsi ini tinggi sekitar 197,96 GWp. Pemadaman listrik di Jateng terjadi dengan durasi tak menentu dan berulang. Aktivitas warga, baik rumah tangga, pekerjaan, hingga bisnis terhambat. “Gak ada peringatan dan sosialisasi. Tiba-tiba listrik padam, cucian berhenti dan gak produktif. Rugi dan gak ada solusi dan alternatif,” kata Sri, pemilik laundry rumahan di Semarang. Semarang sedang panas-panasnya. &#8220;Pompa mati, air untuk kebutuhan harian habis. Repot gak ada peringatan. Kipas mati, anak rewel kepanasan. Stok ASI (air susu ibu)  basi semua,” keluh Najwa, ibu muda di Semarang. Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai, seharusnya bisa antisipasi gangguan pada pembangkit atau satu elemen jaringan dalam sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali). Caranya, melalui ketersediaan cadangan daya (reserve margin), sistem proteksi, dan redundansi jaringan yang memadai. Apalagi di sistem kelistrikan PLN, ada ketentuan reserve margin 30% yang seharusnya menjamin keamanan pasokan pembangkit. IESR menduga, pemicu listrik padam bergilir adalah rendahnya cadangan bahan bakar di sejumlah PLTU pada sistem kelistrikan Jawa-Bali. Keterbatasan pasokan batubara yang membuat hari operasi pembangkit (HOP) di bawah batas aman. Keterlambatan pengiriman batubara ke PLTU, salah satunya, karena tertundanya pengesahan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). IESR mendesak, pemerintah segera investigasi independen berbasis data demi mengidentifikasi penyebab langsung, faktor pemicu, dan akar masalah gangguan pemadaman listrik. Hasilnya juga harus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/27/byar-pet-listrik-di-jateng-saatnya-serius-manfaatkan-energi-terbarukan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/27/byar-pet-listrik-di-jateng-saatnya-serius-manfaatkan-energi-terbarukan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Populasi Orangutan Tapanuli Berkurang Tujuh Persen Akibat Bencana Sumatera</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/26/populasi-orangutan-tapanuli-berkurang-tujuh-persen-akibat-bencana-sumatera/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/26/populasi-orangutan-tapanuli-berkurang-tujuh-persen-akibat-bencana-sumatera/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jun 2026 13:35:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro dan Junaidi Hanafiah]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/10/11110459/Orangutan-tapanuli_Junaidi-Mongabay2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129794</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Pertahanan Terakhir Orangutan Tapanuli]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, kera besar, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gaung peringatan itu datang dari para peneliti. Hujan ekstrem yang terjadi akhir 2025 lalu, tak hanya menimbulkan dampak sangat besar bagi masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera. Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) pun terancam kelestariannya akibat hujan luar biasa itu. Curah hujan dengan intensitas sangat tinggi beberapa hari itu, telah memicu banjir bandang dan tanah longsor di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/26/populasi-orangutan-tapanuli-berkurang-tujuh-persen-akibat-bencana-sumatera/">Populasi Orangutan Tapanuli Berkurang Tujuh Persen Akibat Bencana Sumatera</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gaung peringatan itu datang dari para peneliti. Hujan ekstrem yang terjadi akhir 2025 lalu, tak hanya menimbulkan dampak sangat besar bagi masyarakat di sejumlah wilayah Sumatera. Orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) pun terancam kelestariannya akibat hujan luar biasa itu. Curah hujan dengan intensitas sangat tinggi beberapa hari itu, telah memicu banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah Sumatera. Selain merusak permukiman, lahan pertanian, serta fasilitas umum, bencana juga merenggut ribuan korban jiwa dan memaksa banyak warga mengungsi dari tempat tinggal mereka. Laporan BNPB menyebut, bencana di Sumatera hingga pertengahan Desember tahun lalu telah merenggut korban jiwa 1.016 orang. Kalibrasi data citra satelit yang digunakan para peneliti, memperlihatkan tutupan hutan seluas 8.303 hektar yang longsor, di habitat orangutan tapanuli, kawasan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Spesies kera besar ini paling sedikit populasinya, dibanding kerabatnya, yaitu orangutan sumatera dan orangutan kalimantan. Sehingga kabar kematiannya, seberapapun kecil angkanya, menjadi pukulan besar bagi upaya konservasi. Dalam bencana tersebut, media hanya melaporkan satu individu orangutan tapanuli yang menjadi korban peristiwa itu. Namun, hasil penelitian menggunakan citra satelit menyebut, jatuhnya korban sesungguhnya puluhan kali lipat. Jumlahnya, diperkirakan 58 individu dan itu angka moderat. Bisa jadi, korbannya jauh lebih besar. Dengan populasi liar yang hanya tersisa kurang dari 800 individu, kehilangan puluhan individu dalam satu kejadian merupakan guncangan demografis serius dan bisa mempercepat jalan menuju kepunahan. “Hilangnya sekitar 58 individu ini merupakan kejutan besar bagi kelangsungan hidup populasi orangutan tapanuli. (Padahal) potensi kematian yang disebabkan efek lain, seperti kerusakan kanopi yang disebabkan curah hujan dan berkurangnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/26/populasi-orangutan-tapanuli-berkurang-tujuh-persen-akibat-bencana-sumatera/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/26/populasi-orangutan-tapanuli-berkurang-tujuh-persen-akibat-bencana-sumatera/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dari Tambak Sederhana di Lombok, Kepiting Bakau Biayai Sekolah Anak dan Beli Beras, Tanpa Bantuan Siapa pun</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dari-tambak-sederhana-di-lombok-kepiting-bakau-biayai-sekolah-anak-dan-beli-beras-tanpa-bantuan-siapa-pun/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dari-tambak-sederhana-di-lombok-kepiting-bakau-biayai-sekolah-anak-dan-beli-beras-tanpa-bantuan-siapa-pun/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jun 2026 08:37:11 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/01/25053856/Salah-satu-indukan-kepiting-bakau-di-di-Hatchery-Instalasi-Guntung-yang-banyak-berasal-dari-wilayah-mangrove-tersisa-di-pesisir-timur-Pulau-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129770</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[NTB]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Eli Ernawati tidak pernah mendapat pelatihan dari pemerintah. Tidak ada modal dari bank, tidak ada pendampingan dari dinas pertanian. Setiap hari ia memilah kepiting hasil panen suaminya di rumah berdinding batako di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Sebagian dijual ke pengepul, sebagian ke pembeli tetap. Dari aktivitas rumahan itu, ia membiayai beras, listrik, dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dari-tambak-sederhana-di-lombok-kepiting-bakau-biayai-sekolah-anak-dan-beli-beras-tanpa-bantuan-siapa-pun/">Dari Tambak Sederhana di Lombok, Kepiting Bakau Biayai Sekolah Anak dan Beli Beras, Tanpa Bantuan Siapa pun</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Eli Ernawati tidak pernah mendapat pelatihan dari pemerintah. Tidak ada modal dari bank, tidak ada pendampingan dari dinas pertanian. Setiap hari ia memilah kepiting hasil panen suaminya di rumah berdinding batako di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur. Sebagian dijual ke pengepul, sebagian ke pembeli tetap. Dari aktivitas rumahan itu, ia membiayai beras, listrik, dan ongkos sekolah tiga anaknya. &#8220;Kalau lagi ramai, bisa cukup untuk semua kebutuhan rumah,&#8221; katanya. Tidak jauh dari rumah Eli, Jamil berdiri di bibir tambaknya setiap sore, menebar cacahan ikan rucah dan kepala ayam ke beberapa sudut kolam. Riak air pecah, capit muncul lebih dulu, lalu tubuh gelap kehijauan menyusul ke permukaan. Kepiting bakau yang ia besarkan dari ukuran kecil mulai aktif makan. &#8220;Kami belajar sendiri. Kalau gagal ya rugi sendiri,&#8221; katanya, tertawa kecil. Itulah gambaran sektor kepiting bakau di pesisir Lombok Timur: menghidupi banyak keluarga, tapi berjalan hampir sepenuhnya tanpa dukungan negara yang berarti. Model yang dijalankan Jamil sebenarnya cerdas secara ekologis maupun ekonomis. Kepiting kecil hasil tangkapan nelayan yang belum layak jual ditampung di tambak, dibesarkan selama beberapa bulan, lalu dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi. Nelayan tetap punya pasar, kepiting kecil tidak langsung habis diambil dari alam, dan nilai jual meningkat signifikan. &#8220;Kalau langsung dijual kecil, harganya murah. Kalau dibesarkan dulu, nilainya beda,&#8221; katanya. Yang membuat budidaya ini lebih menarik adalah kesesuaiannya dengan konservasi mangrove. Kepiting bakau tidak nyaman di air jernih. Ia butuh lingkungan menyerupai muara alami: air payau, sedikit keruh, kaya bahan organik. Akar mangrove menyediakan tempat berlindung, meningkatkan oksigen&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dari-tambak-sederhana-di-lombok-kepiting-bakau-biayai-sekolah-anak-dan-beli-beras-tanpa-bantuan-siapa-pun/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/dari-tambak-sederhana-di-lombok-kepiting-bakau-biayai-sekolah-anak-dan-beli-beras-tanpa-bantuan-siapa-pun/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menelusuri Karhutla Riau di Hutan Alam dan Gambut Perusahaan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/26/menelusuri-karhutla-riau-di-hutan-alam-dan-gambut-perusahaan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/26/menelusuri-karhutla-riau-di-hutan-alam-dan-gambut-perusahaan/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jun 2026 08:28:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Sawit]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/06/26021247/A-karhutla-RAPP-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129700</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Akar dan tunggul pohon hangus masih tersisa, menyembul dari atas lahan gambut. Batang-batang pohon menghitam jadi arang.  Bertebaran di sepanjang hamparan area yang terbakar. Bekas kebakaran dalam kawasan perizinan berusaha pemanfaatan hutan  (PBPH)  PT Sekato Pratama Makmur (SPM) ini begitu tampak jelas, Selasa (12/5/26). Walau tanah gambut itu mulai tertutup tumbuhan hijau seperti pakis, jejak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/26/menelusuri-karhutla-riau-di-hutan-alam-dan-gambut-perusahaan/">Menelusuri Karhutla Riau di Hutan Alam dan Gambut Perusahaan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Akar dan tunggul pohon hangus masih tersisa, menyembul dari atas lahan gambut. Batang-batang pohon menghitam jadi arang.  Bertebaran di sepanjang hamparan area yang terbakar. Bekas kebakaran dalam kawasan perizinan berusaha pemanfaatan hutan  (PBPH)  PT Sekato Pratama Makmur (SPM) ini begitu tampak jelas, Selasa (12/5/26). Walau tanah gambut itu mulai tertutup tumbuhan hijau seperti pakis, jejak kebakaran di konsesi hutan tanaman industri (HTI) grup usaha APP Sinar Mas itu tak terbantahkan. Di tepi lahan kebakaran, masih ada bekas gubuk kayu walau hanya kerangka. Diduga, pondok itu ditempati selama pemadaman berlangsung. Plastik minuman kemasan juga berserakan di sekitarnya. Di depannya, terpacak spanduk dengan rangka baja ringan berisi peringatan kawasan rawan terbakar, dilarang menyalakan api beserta ancaman pidana. Bagian paling atas ada dua kotak merah berisi tulisan berwarna putih: PT SPM dan MPA. Ia mengapit logo Polda Riau dan TNI Angkatan Laut. Hamparan hutan gambut terbakar di konsesi SPM sudah berkanal sepanjang batas kebakaran. Penjelajahan pesawat tanpa awak juga menemukan satu kanal yang membelah areal itu. Pengukuran menggunakan citra satelit Sentinel-2, luas kebakaran sekitar 99,7 hektar. Temuan ini saat Mongabay bersama Walhi Riau ke lapangan untuk memverifikasi sebaran titik api (hotspot) di empat perizinan, Mei lalu. Sejak awal 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah melanda Riau. Laporan Sipongi, situs pemantauan karhutla Kementerian Kehutanan (Kemenhut), luas kebakaran per 24 Juni sudah mencapai 15.318,02 hektar, atau 70% dari tahun lalu. Analisa satelit NASA FIRMS yang Walhi Riau olah, sepanjang Januari &#8211; Mei, terdapat 450 titik titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan di atas 70%.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/26/menelusuri-karhutla-riau-di-hutan-alam-dan-gambut-perusahaan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/26/menelusuri-karhutla-riau-di-hutan-alam-dan-gambut-perusahaan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Babi Kutil Bawean: Salah Satu Babi Paling Langka di Dunia, Terancam dari Segala Arah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/babi-kutil-bawean-salah-satu-babi-paling-langka-di-dunia-terancam-dari-segala-arah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/babi-kutil-bawean-salah-satu-babi-paling-langka-di-dunia-terancam-dari-segala-arah/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jun 2026 06:05:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/02/21105955/Babi-kutil-bawean-di-Prigen-Conservation-Breeding-Ark-Foto-Petrus-Riski-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=129769</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hampir setiap malam menjelang panen, Arkham dan petani lain di Desa Pundakit Timur, Pulau Bawean, harus berjaga. Kawanan babi kutil turun dari hutan, memasuki ladang, dan memakan padi, jagung, singkong, serta pisang yang sudah mereka rawat berbulan-bulan. Bagi para petani, babi kutil adalah hama. Bagi para ilmuwan, ia adalah salah satu mamalia paling terancam punah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/babi-kutil-bawean-salah-satu-babi-paling-langka-di-dunia-terancam-dari-segala-arah/">Babi Kutil Bawean: Salah Satu Babi Paling Langka di Dunia, Terancam dari Segala Arah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hampir setiap malam menjelang panen, Arkham dan petani lain di Desa Pundakit Timur, Pulau Bawean, harus berjaga. Kawanan babi kutil turun dari hutan, memasuki ladang, dan memakan padi, jagung, singkong, serta pisang yang sudah mereka rawat berbulan-bulan. Bagi para petani, babi kutil adalah hama. Bagi para ilmuwan, ia adalah salah satu mamalia paling terancam punah di dunia. Babi kutil Bawean (Sus verrucosus blouchi) adalah satwa endemik Pulau Bawean, sebuah pulau kecil seluas 196,3 kilometer persegi di Laut Jawa, bagian dari Kabupaten Gresik, Jawa Timur. IUCN menetapkan statusnya sebagai Endangered atau terancam punah. Populasinya diperkirakan antara 172 hingga 467 individu, tersebar di hutan lindung seluas hanya 46,6 kilometer persegi. Mark Rademaker dari VHL University of Applied Sciences Belanda, yang melakukan survei menggunakan 100 kamera jebak pada 2016, menyebut spesies ini sebagai salah satu babi paling langka di dunia. Ciri fisiknya khas: surai memanjang dari kepala hingga ekor sepanjang tulang belakang, dan tiga pasang tonjolan daging mengeras di sekitar moncong. Kutil seukuran buah anggur itu hanya dimiliki babi jantan, dan menjadi penanda spesies yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Ancaman terhadapnya datang dari beberapa arah sekaligus. Faldy Devalen Fehabtoro, Ketua Binaya Foundation yang meneliti ekologi babi kutil Bawean sepanjang Januari hingga Maret 2025, menemukan tanda-tanda perburuan liar di dalam kawasan cagar alam dan suaka margasatwa: jejak anjing pemburu, jerat sling baja, benang, dan tombak. Sebagian warga desa penyangga memburu babi kutil dengan dalih mengendalikan hama, bahkan di dalam kawasan yang seharusnya dilindungi. Penebangan liar memperparah situasi. Kayu buluh (Irvingia malayana)&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/babi-kutil-bawean-salah-satu-babi-paling-langka-di-dunia-terancam-dari-segala-arah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/06/babi-kutil-bawean-salah-satu-babi-paling-langka-di-dunia-terancam-dari-segala-arah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nestapa Burung Berkicau Nusantara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/nestapa-burung-berkicau-nusantara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/nestapa-burung-berkicau-nusantara/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jun 2026 02:17:20 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2020/03/22052204/anis-sisik-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=129751</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Nestapa Burung Berkicau Nusantara]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Krisis keanekaragaman hayati Indonesia tersingkap erat melalui lensa jurnalisme investigasi dan konservasi. Di balik pesona suara dan tingginya minat masyarakat terhadap kontes burung, terdapat sisi gelap berupa masifnya perburuan liar, penyelundupan antarpulau seperti jalur Sumatra ke Jawa, hingga pemanfaatan platform digital untuk perdagangan ilegal. Seluruh laporan memotret urgensi penyelamatan satwa, pentingnya pemanfaatan data dalam memantau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/06/nestapa-burung-berkicau-nusantara/">Nestapa Burung Berkicau Nusantara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Krisis keanekaragaman hayati Indonesia tersingkap erat melalui lensa jurnalisme investigasi dan konservasi. Di balik pesona suara dan tingginya minat masyarakat terhadap kontes burung, terdapat sisi gelap berupa masifnya perburuan liar, penyelundupan antarpulau seperti jalur Sumatra ke Jawa, hingga pemanfaatan platform digital untuk perdagangan ilegal. Seluruh laporan memotret urgensi penyelamatan satwa, pentingnya pemanfaatan data dalam memantau pasar gelap, serta perjuangan nyata di lapangan demi menjaga agar kepunahan tidak membungkam melodi alami yang menjadi kekayaan Nusantara. The post Nestapa Burung Berkicau Nusantara appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/06/nestapa-burung-berkicau-nusantara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/06/nestapa-burung-berkicau-nusantara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kontroversi PLTSa dalam Mengatasi Darurat Sampah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/06/26/kontroversi-pltsa-dalam-mengatasi-darurat-sampah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/06/26/kontroversi-pltsa-dalam-mengatasi-darurat-sampah/#respond</comments>
					<pubDate>26 Jun 2026 00:59:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Eko Widianto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/04/21232743/rorotan-4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=129708</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sukma (nama samaran), penyintas kanker asal Kampung Mulabaru, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan, tak bisa menutupi kegelisahannya. Dia khawatir, rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berdampak pada kesehatannya. “Dulu,  mungkin saya tidak terlalu memikirkan udara yang dihirup setiap hari.  Setelah saya sakit, saya sadar bahwa tubuh manusia sangat rentan,” katanya dalam  diskusi daring [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/26/kontroversi-pltsa-dalam-mengatasi-darurat-sampah/">Kontroversi PLTSa dalam Mengatasi Darurat Sampah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sukma (nama samaran), penyintas kanker asal Kampung Mulabaru, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan, tak bisa menutupi kegelisahannya. Dia khawatir, rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berdampak pada kesehatannya. “Dulu,  mungkin saya tidak terlalu memikirkan udara yang dihirup setiap hari.  Setelah saya sakit, saya sadar bahwa tubuh manusia sangat rentan,” katanya dalam  diskusi daring Mei lalu. Sukma kemoterapi dua tahun lalu, kondisi badan naik turun, kadang kuat tetapi kadang hanya bisa diam di tempat tidur. Ditambah cairan di paru-paru membuat napas terasa sesak dan capek. Dia pun khawatir,  selain dirinya, polusi dari PLTSa juga akan berdampak pada anak-anaknya. “Sedangkan rumah saya jaraknya sangat dekat, cuma sekitar satu meter dari lokasi rencana pembangunan PLTSa,” katanya. Sebagai orang yang memiliki riwayat kanker, dia membutuhkan udara yang baik dan lingkungan  aman. Dia  berharap,  pemerintah mendengarkan suara masyarakat. Dadang, warga lain yang tinggal sekitar 250 meter dari lokasi PLTSa juga ungkapkan kegelisahan sama. Bersama warga lain, dia pun berulang kali berunjuk rasa untuk menolak pembangunan PLTSa itu. Mulai dari Kantor DPRD dan Wali Kota Makassar, hingga Kantor Gubernur Sulsel. Di media sosial, mereka juga aktif berkampanye dan menggalang solidaritas. “Apalagi jumlah fantastis, 1.000 ton-1.500 ton. Tentu dampaknya tidak main-main bagi warga.&#8221; PLTSa merupakan proyek strategis nasional (PSN) yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35/2018 dan Perpres Nomor 109/2025, tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Melansir Tempo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta Pemerintah Kota Makassar dan konsorsium PT Sarana Utama Synergy (SUS) tetap melanjutkan proyek PLTSa&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/06/26/kontroversi-pltsa-dalam-mengatasi-darurat-sampah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/06/26/kontroversi-pltsa-dalam-mengatasi-darurat-sampah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>