<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=dharmadi&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/dharmadi/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Sun, 30 Aug 2026 11:22:33 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.4</generator>
				<item>
					<title>Kebijakan Dekarbonisasi Buka Jalan Langgengkan Industri Fosil?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 11:22:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Rabul Sawal]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/16175024/Sungai-Batanghari-Jambi-jadi-jalur-pengangkutan-batubara-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132690</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Alih-alih mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap fosil, berbagai kebijakan berlabel ‘dekarbonisasi’ makin membuka jalan bagi keberlanjutan industri batubara maupun minyak dan gas (migas).  Skema regulasi, pembiayaan, dan proyek-proyek malah memungkinkan industri fosil tetap bertahan dalam jangka panjang. Kecenderungan itu, tertuang dalam laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam)  berjudul Serigala Fosil Berbulu Dekarbonisasi: Regulasi dan Pembiayaan Transisi Energi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/">Kebijakan Dekarbonisasi Buka Jalan Langgengkan Industri Fosil?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Alih-alih mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap fosil, berbagai kebijakan berlabel ‘dekarbonisasi’ makin membuka jalan bagi keberlanjutan industri batubara maupun minyak dan gas (migas).  Skema regulasi, pembiayaan, dan proyek-proyek malah memungkinkan industri fosil tetap bertahan dalam jangka panjang. Kecenderungan itu, tertuang dalam laporan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam)  berjudul Serigala Fosil Berbulu Dekarbonisasi: Regulasi dan Pembiayaan Transisi Energi Melanggengkan Dominasi Energi Fosil di Indonesia. Melalui laporan ini, Jatam membongkar bagaimana narasi “dekarbonisasi” dan “solusi palsu” justru menjadi alat untuk memperpanjang umur industri fosil, bukan menghentikannya. Laporan itu menyoroti sejumlah proyek sebagai bagian dari transisi energi, mulai dari  carbon capture and storage, carbon capture, utilization, and storage (CCS, CCUS), co-firing biomassa, hidrogen, amonia, biometana, hingga gasifikasi batubara menjadi dimethyl ether (DME). Fanny Tri Jambore, peneliti Jatam Nasional mengatakan,  berbagai teknologi itu sebagai strategi dekarbonisasi dalam sejumlah dokumen resmi negara. Namun, arah kebijakan itu tidak untuk mengakhiri ekstraksi energi fosil. “Merujuk pada etimologi, dekarbonisasi memang mekanisme untuk mengurangi jejak emisi karbon,” katanya dalam keterangan tertulis kepada Mongabay. Idealnya, dekarbonisasi sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil justru bersalin rupa menjadi instrumen mempertahankan batubara, minyak bumi, dan gas dalam jangka panjang. Jatam mencatat, berbagai dokumen seperti rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) 2025–2045, long term strategy for low carbon and climate resilience (LTS-LCCR) 2050. Lalu, second nationally determined contribution (SNDC), Peraturan Pemerintah Nomor 40/2025 tentang Kebijakan Energi Nasional. Kemudian, Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), hingga RUPTL 2025–2034. Secara konsisten, katanya, rencana dan kebijakan itu memasukkan CCS, CCUS, DME, hidrogen, amonia, dan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kebijakan-dekarbonisasi-buka-jalan-langgengkan-industri-fosil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sekilas Mirip, Apa Perbedaan Musang Air dan Berang-berang?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 10:00:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/09/22011123/Berang-berang-cakar-kecil-yang-berhasil-ditemukan-oleh-tim-Asta-Indonesia-di-segmen-4-sungai-Ciliwung-Depok.-Foto_-Dokumentasi-Averroes-Oktaliza--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132583</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Musang air dan berang-berang sering dianggap sebagai satwa yang sama. Keduanya hidup di sekitar perairan, pandai berenang, serta memiliki bentuk tubuh yang sekilas serupa. Namun, musang air sebenarnya bukan anggota keluarga berang-berang. Musang air bernama ilmiah Cynogale bennettii. Satwa yang juga dikenal sebagai otter civet ini termasuk keluarga musang atau Viverridae. Sementara itu, berang-berang merupakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/">Sekilas Mirip, Apa Perbedaan Musang Air dan Berang-berang?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Musang air dan berang-berang sering dianggap sebagai satwa yang sama. Keduanya hidup di sekitar perairan, pandai berenang, serta memiliki bentuk tubuh yang sekilas serupa. Namun, musang air sebenarnya bukan anggota keluarga berang-berang. Musang air bernama ilmiah Cynogale bennettii. Satwa yang juga dikenal sebagai otter civet ini termasuk keluarga musang atau Viverridae. Sementara itu, berang-berang merupakan anggota keluarga Lutrinae. Musang air tersebar dari Malaysia, Sumatera, Kalimantan, hingga Thailand Selatan. Keberadaannya sangat sulit ditemukan. Bukti foto satwa ini pernah diperoleh pada 2009 di hutan rawa gambut Sebangau dan pada 2023 di Bentang Alam Rungan Kahayan. Peneliti IPB University kemudian berhasil merekam musang air menggunakan kamera jebak dan pesawat nirawak atau drone. “Teknologi mempermudah proses deteksi dan pemantauan satwa yang sebelumnya sulit dilakukan melalui pengamatan lapangan secara langsung mengandalkan deteksi mata manusia. Satwa-satwa seperti ini memiliki morfologi tersamarkan di habitatnya dan cenderung pemalu dan sensitif terhadap keberadaan manusia,” ungkap Dede Aulia Rahman, pengajar di Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), dikutip dari laman IPB University, Selasa (24/6/25). Berbeda dari musang lain yang umumnya hidup di daratan atau pepohonan, musang air mampu hidup di darat dan perairan. Kakinya memiliki selaput sebagian, sedangkan moncongnya lebar dan dilengkapi kumis sensorik panjang. Ciri fisik tersebut membuatnya terlihat mirip dengan berang-berang. Kemiripan itu terbentuk karena keduanya beradaptasi dengan lingkungan perairan. Musang air merupakan perenang dan penyelam yang andal. Satwa nokturnal ini mencari makanan di sungai, rawa, dan hutan yang tergenang air. Musang air juga dapat memanjat serta kemungkinan menggunakan rongga pohon sebagai tempat bersarang. Satwa ini cenderung&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/sekilas-mirip-apa-perbedaan-musang-air-dan-berang-berang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Karhutla Riau Jerat Puluhan Tersangka Perorangan,  Bagaimana Perusahaan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 04:01:51 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Suryadi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30011416/Karhutla-Gakum-KLH--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132671</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[riau dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Kepolisian Daerah Riau menetapkan 40 tersangka kebakaran hutan dan lahan seluas 904 hektar sepanjang 2026. Dari jumlah itu, semua tersangka perorangan, tak ada perusahaan. Ade Kuncoro Ridwan, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, mengatakan,  pengungkapan kasus terus mereka lakukan seiring masih ada titik panas di sejumlah wilayah Riau. &#8220;Penyidikan tidak berhenti hanya pada siapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/">Kasus Karhutla Riau Jerat Puluhan Tersangka Perorangan,  Bagaimana Perusahaan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Kepolisian Daerah Riau menetapkan 40 tersangka kebakaran hutan dan lahan seluas 904 hektar sepanjang 2026. Dari jumlah itu, semua tersangka perorangan, tak ada perusahaan. Ade Kuncoro Ridwan, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau, mengatakan,  pengungkapan kasus terus mereka lakukan seiring masih ada titik panas di sejumlah wilayah Riau. &#8220;Penyidikan tidak berhenti hanya pada siapa yang berada di lokasi ketika kebakaran terjadi. Kami mengonstruksikan setiap perkara secara menyeluruh untuk memastikan bagaimana api bermula, apa motifnya, siapa yang bertanggung jawab, dan apakah terdapat pihak lain yang berkaitan dengan peristiwa itu,&#8221; katanya seperti dikutip dari CNN Indonesia. Proses hukum, katanya, mereka lakukan dengan pendekatan scientific criminal investigation. Penyidik mendasarkan penyelidikan dan penyidikan pada fakta serta alat bukti untuk mengurai unsur perbuatan melawan hukum maupun unsur kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. &nbsp; Bekas karhutla di konsesi PT SPM. Foto: Suryadi/Mongabay Indonesia Temuan karhutla di konsesi Sedangkan temuan Walhi Riau, sekitar Mei lalu, sedikitnya karhutla terjadi pada empat konsesi perusahaan di Riau. Antara lain, di Bengkalis, PT Sekato Pratama Makmur (SPM) dan PT Meskom Agro Sarimas (MAS). Kemudian PT Arara Abadi (AA), Pelalawan; serta PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Siak. Penghujung Juli lalu, Eko Yunanda, Direktur Eksekutif Walhi Riau menyerahkan hasil temuan dan kajian mereka terhadap empat perusahaan itu pada kepolisian. Ade Kuncoro, Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Riau, menerimanya langsung. Mongabay, mengirim surat permintaan tanggapan melalui WhatsApp, 21 Agustus 2026 tetapi tak ada respon. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), membenarkan temuan itu, setelah Mongabay konfirmasi. “Berdasarkan pemantauan titik&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kasus-karhutla-riau-jerat-puluhan-tersangka-perorangan-bagaimana-perusahaan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gurun Pasir Ini Dulunya Laut, Jejak Tujuh Spesies Hiu Purba Ditemukan Terkubur di Sana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 02:26:39 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30022604/Cretoxyrhina_mantelli_21DB_2-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132677</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Banyak wilayah gurun yang kini kering dan jauh dari pantai sebenarnya menyimpan jejak lautan purba yang pernah menutupinya jutaan tahun lalu. Perubahan permukaan laut dan pergerakan lempeng tektonik dalam skala waktu geologis dapat mengubah dasar laut menjadi daratan, dengan fosil biota laut yang tertinggal di lapisan batuannya sebagai bukti. Salah satu contohnya ditemukan di gurun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/">Gurun Pasir Ini Dulunya Laut, Jejak Tujuh Spesies Hiu Purba Ditemukan Terkubur di Sana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Banyak wilayah gurun yang kini kering dan jauh dari pantai sebenarnya menyimpan jejak lautan purba yang pernah menutupinya jutaan tahun lalu. Perubahan permukaan laut dan pergerakan lempeng tektonik dalam skala waktu geologis dapat mengubah dasar laut menjadi daratan, dengan fosil biota laut yang tertinggal di lapisan batuannya sebagai bukti. Salah satu contohnya ditemukan di gurun barat Mesir. Sebuah studi paleontologi terbaru mengungkap bahwa dataran tinggi yang kini tandus di gurun barat Mesir dahulu merupakan bagian dari laut dangkal yang menjadi rumah bagi setidaknya tujuh spesies hiu purba. Temuan ini berasal dari analisis gigi-gigi fosil yang dikumpulkan di Dataran Tinggi Abu-Tartur, sekitar 650 kilometer barat daya Kairo, dan dipublikasikan dalam jurnal Cretaceous Research oleh tim yang dipimpin ahli paleontologi Tarek Yassin dari Universitas Kairo. Analisis 14 Gigi Fosil Ungkap Lima Spesies Baru Yassin dan rekannya Alhussein Ibrahim mengumpulkan 14 gigi hiu dari lapisan fosfat hitam dan kuning di sektor Maghrabi-Liffiya, bagian dari Formasi Duwi yang berumur Kapur Akhir. Gigi-gigi tersebut memiliki bentuk yang sangat bervariasi, mulai dari yang ramping dan memanjang hingga yang melengkung tajam dan bergerigi, menunjukkan perbedaan strategi makan di antara spesies yang pernah hidup berdampingan di perairan itu. Gigi-gigi fosil yang menjadi bukti utama studi ini: sebagian mewakili lima spesies hiu yang baru tercatat di Abu-Tartur, termasuk dua yang merupakan catatan pertama untuk Mesir. Kredit: Cretaceous Research (2026). DOI: 10.1016/j.cretres.2026.106476 Setelah membandingkan bentuk dan anatomi gigi dengan deskripsi ilmiah yang sudah dipublikasikan serta spesimen pembanding di koleksi museum Swiss, tim mengidentifikasi lima spesies yang belum pernah tercatat di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/gurun-pasir-ini-dulunya-laut-jejak-tujuh-spesies-hiu-purba-ditemukan-terkubur-di-sana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Emas Ilegal Sumatera Barat Menembus Pasar Internasional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 02:00:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/23151028/Jumpa-pers-perdagangan-emas-ilegal-di-Polda-Sumbar-Novia-Harlina-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132570</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, bisnis dan ekonomi, hutan indonesia, Pertambangan, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Penangkapan seorang warga India berinisial A membuka dugaan jaringan perdagangan emas ilegal dari Sumatera Barat hingga ke luar negeri. Polda Sumatera Barat menangkap A pada 20 Agustus 2026 dan menyita tiga batang emas murni di Koto Baru. Polisi juga mengamankan dua telepon seluler, timbangan digital, uang tunai sekitar Rp6 juta, dan satu mobil. Emas tersebut [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/">Jalan Emas Ilegal Sumatera Barat Menembus Pasar Internasional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Penangkapan seorang warga India berinisial A membuka dugaan jaringan perdagangan emas ilegal dari Sumatera Barat hingga ke luar negeri. Polda Sumatera Barat menangkap A pada 20 Agustus 2026 dan menyita tiga batang emas murni di Koto Baru. Polisi juga mengamankan dua telepon seluler, timbangan digital, uang tunai sekitar Rp6 juta, dan satu mobil. Emas tersebut diduga berasal dari pertambangan emas tanpa izin atau PETI di Kabupaten Sijunjung dan Garabak Data, Kabupaten Solok. Penyidik menduga emas yang dikumpulkan A dikirim ke Malaysia melalui jaringan kurir. A mengaku tidak mengenal kurir yang mengambil barang. Ia hanya menerima informasi dari seseorang berinisial N setelah emas pesanan terkumpul. Dalam prosesnya, N disebut mengerahkan dua hingga tiga kurir yang tidak saling mengenal. A diduga menjalankan bisnis tersebut sejak Maret–April 2026. Pada periode itu, ia membeli emas urai rata-rata sekitar 40 gram per hari. Aktivitas tersebut kembali berlangsung sejak Juli, tetapi emas yang dibeli sudah berbentuk batangan dengan rata-rata mencapai satu kilogram per hari. Tommy Adam, Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Barat, menilai penangkapan A membuktikan bahwa emas ilegal dari provinsi itu tidak hanya beredar di pasar lokal. Kepolisian perlu membongkar pihak yang terlibat dari lokasi tambang hingga pembeli akhir. “Jangan hanya menindak pelaku di tingkat tapak,” katanya. Menurut Walhi, PETI di Sumatera Barat telah berkembang menjadi kegiatan terstruktur yang melibatkan alat berat, mesin dompeng, modal besar, dan penggunaan merkuri. Aktivitas tersebut diperkirakan telah membuka sekitar 1.100 hektar kawasan hutan. Lebih dari 50 orang juga dilaporkan meninggal akibat tambang emas ilegal sepanjang 2012 hingga Mei 2026. Riset&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/jalan-emas-ilegal-sumatera-barat-menembus-pasar-internasional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kawasan Konservasi Teluk Moramo, Habitat Penting Napoleon Dalam Ancaman Tambang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 01:00:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[La Ode Risman Hermawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Lusia Arumingtyas]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/27145647/2.-Aktivitas-tambang-batu-gamping-berbatasan-langsung-dengan-KKD-Teluk-Moramo-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132461</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Cerita dari Y. Eva Tan Fellows]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi tenggara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, pencemaran, Pertambangan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bekas bukaan tambang batu gamping pada gugusan perbukitan tampak dari permukiman di Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Di sekitar dermaga desa, air laut keruh berwarna cokelat kemerahan. Teluk Moramo, kawasan konservasi perairan yang jadi rumah ikan napoleon (Cheilinus undulatus), salah satu spesies dilindungi, itu pun tercemar. “Di daerah tercema&#8230; ikan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/">Kawasan Konservasi Teluk Moramo, Habitat Penting Napoleon Dalam Ancaman Tambang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bekas bukaan tambang batu gamping pada gugusan perbukitan tampak dari permukiman di Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Di sekitar dermaga desa, air laut keruh berwarna cokelat kemerahan. Teluk Moramo, kawasan konservasi perairan yang jadi rumah ikan napoleon (Cheilinus undulatus), salah satu spesies dilindungi, itu pun tercemar. “Di daerah tercema&#8230; ikan ini pasti hilang. Ia akan pergi jauh ke kedalaman. Ikan itu punya feeling,” kata Sasanti Retno Suharti, peneliti ekologi ikan terumbu karang, Sabtu (1/8/26). Hilangnya napoleon akan berdampak pada keseimbangan ekosistem terumbu karang. Sebab, napoleon sebagai puncak rantai makanan dan predator utama bintang laut berduri atau bulu seribu (Acanthaster planci) pemakan terumbu karang. “Role-nya menjaga kestabilan ekosistem terumbu karang untuk tetap sehat. Jika dia tidak ada, akhirnya bulu seribu merajai atau memakan karang. Rusaklah ekosistemnya,” kata Sasanti yang juga meneliti napoleon sejak 2006. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat napoleon berasal dari famili Labridae dengan ukuran maksimum lebih dari dua meter dan berat 190 kilogram. Usia betina dapat mencapai 32 tahun dan umur lebih panjang dari jantan. Pertumbuhannya sangat lambat atau sekitar tiga inci dalam lima bulan. Reproduksinya juga rendah dengan kematangan seksual (gonad) di usia 5–7 tahun. “Ia tidak seperti ikan-ikan lain. Ia matang gonadnya aja tujuh tahun, sedangkan ikan-ikan karang lainnya satu tahun,” tambah Sasanti. Ikan napoleon semakin jarang terlihat di habitat terumbu karang TN Wakatobi. Foto: Riza Salman/Mongabay Indonesia Napoleon muda (juvenil) berwarna putih dengan garis sisik gelap dan hitam di dekat mata, tetapi berubah biru kehijauan atau keunguan ketika dewasa. Bukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/kawasan-konservasi-teluk-moramo-habitat-penting-napoleon-dalam-ancaman-tambang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Krisis Air Hantui Bangka Belitung, Kerusakan Lingkungan Harus Diperhatikan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/#respond</comments>
					<pubDate>30 Agu 2026 00:11:47 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/30000451/Hana-Fitri-27-dan-Yustika-51-mencuci-pakaian-dan-beras-di-salah-satu-kolam-yang-tersisa-di-sekitar-Desa-Zed-Kabupaten-Bangka.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132663</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Lahan Basah, pencemaran, Pertambangan, sawit, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Hana Fitri (27) dan Yustika (51) tengah mencuci piring, pakaian, dan beras di sebuah kolam buatan yang hanya menyisakan air setinggi betis orang dewasa. Kolam itu berada di sekitar kebun buah atau kelekak milik Mang Yan (65), warga Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. “Di sekitar sini, kolam inilah yang tersisa. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/">Krisis Air Hantui Bangka Belitung, Kerusakan Lingkungan Harus Diperhatikan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Hana Fitri (27) dan Yustika (51) tengah mencuci piring, pakaian, dan beras di sebuah kolam buatan yang hanya menyisakan air setinggi betis orang dewasa. Kolam itu berada di sekitar kebun buah atau kelekak milik Mang Yan (65), warga Desa Zed, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung. “Di sekitar sini, kolam inilah yang tersisa. Masih bertahan, mungkin karena ada mata airnya,” kata Mang Yan, Minggu (22/8/26). Setiap tahun, warga Desa Zed membuka pintu bagi keluarga dan kerabat dari luar daerah. Warga desa mulai sibuk memasak ketupat, serta menyiapkan beragam kue, mirip lebaran. Tak jarang, jalan raya Desa Zed dipenuhi kendaraan dari pagi hingga malam. Ini dilakukan untuk merayakan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Yustika mengatakan, warga khawatir menyambut maulid tahun ini. Sebab, sebagian besar  mereka kesulitan air. “Sumur-sumur mulai kering, air sungai menyusut,” jelasnya. Warga Desa Zed bergantung pada air yang disalurkan melalui pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat). Namun, sejak dua minggu terakhir, air tersebut tidak mengalir merata ke seluruh rumah. Dalam sehari, hanya seratusan kepala keluarga yang mendapat jatah. “Setelah dapat air, kami harus menunggu minggu depan lagi,” kata Hana Fitri, tetangga Yustika. Hana Fitri dan Yustika mencuci pakaian dan beras di kolam air tersisa di sekitar Desa Zed, Kabupaten Bangka, Bangka Belitung. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Tidak hanya di Desa Zed, hal serupa terjadi di sejumlah desa tetangga mereka. Seperti Desa Puding Besar, Desa Paya Benua, dan Desa Kemuja. Di sepanjang jalan menuju Kota Pangkalpinang, Mongabay Indonesia beberapa kali melihat warga mandi di sejumlah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/30/krisis-air-hantui-bangka-belitung-kerusakan-lingkungan-harus-diperhatikan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Upaya Perempuan dan Generasi Muda Dadap di Tengah Kerusakan Pesisir</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/29/upaya-perempuan-dan-generasi-muda-dadap-di-tengah-kerusakan-pesisir/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/29/upaya-perempuan-dan-generasi-muda-dadap-di-tengah-kerusakan-pesisir/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 18:33:56 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/29183137/Dadap-Azam-15555-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132610</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Tangan Ida, cekatan mengupas kerang hijau pagi itu. Perempuan pesisir Dadap, Tangerang, Banten ini memisahkan daging kerang dari cangkangnya lalu memasukkan ke kantong. Sehari Ida bisa “ngopek kerang” 12–15 kilogram dengan upah Rp4.000 untuk sekilogram kerang. Dalam sehari, perempuan dua anak itu hasilkan uang Rp50.000–Rp60.000. “Dari dulu orang Dadap ngopek kerang. Kalo banyak kerangnya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/upaya-perempuan-dan-generasi-muda-dadap-di-tengah-kerusakan-pesisir/">Upaya Perempuan dan Generasi Muda Dadap di Tengah Kerusakan Pesisir</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Tangan Ida, cekatan mengupas kerang hijau pagi itu. Perempuan pesisir Dadap, Tangerang, Banten ini memisahkan daging kerang dari cangkangnya lalu memasukkan ke kantong. Sehari Ida bisa “ngopek kerang” 12–15 kilogram dengan upah Rp4.000 untuk sekilogram kerang. Dalam sehari, perempuan dua anak itu hasilkan uang Rp50.000–Rp60.000. “Dari dulu orang Dadap ngopek kerang. Kalo banyak kerangnya hasilnya lebih besar lagi,” katanya saat ditemui Mongabay Indonesia medio Juli 2026. Sepanjang perjalanan mengitari Kampung Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten, aktivitas “ngopek kerang” jadi rutinitas perempuan. Pagi hingga sore mereka sibuk mengupas kerang berkarung-karung. Para lelaki memanen kerang dan merebus hingga matang, juga memasang dan merawat keramba jaring. Perahu-perahu nelayan di Pesisir Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten. Foto: Achmad R Azam/Mongabay Indonesia Dulu nelayan tangkap di laut, kini buruh keramba Dadap sebagai penghasil kerang hijau di Jabodetabek. Mereka budidaya kerang hijau dengan metode keramba jaring apung, terbuat dari jeriken-jeriken plastik terikat mengitari perairan. Mayoritas keramba apung punya orang luar sebagai pemodal. Nelayan Dadap hanya menjadi buruh kupas dan mengurus budidaya itu. Bikin keramba perlu modal besar, itu juga alasan nelayan lokal tak memiliki keramba kerang sendiri. Investasi awal untuk budidaya kerang hijau mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Dulu, nelayan Dadap mencari kerang hijau di alam tanpa harus budidaya. Seiring perubahan lanskap pesisir dan Teluk Jakarta, nelayan kini kesulitan mencari kerang di alam. Rico saputra, nelayan Dadap, mengatakan,  pembangunan di pesisir, termasuk reklamasi Teluk Jakarta merusak ekosistem laut. Aktivitas itu membuat laut jadi dangkal dan air tercemar. Hutan mangrove, rumah bagi biota laut termasuk kerang hijau,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/upaya-perempuan-dan-generasi-muda-dadap-di-tengah-kerusakan-pesisir/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/29/upaya-perempuan-dan-generasi-muda-dadap-di-tengah-kerusakan-pesisir/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan Tokek di Alam Liar?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 10:00:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/03/22014557/Tokek-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132537</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tokek rumah (Gekko gecko) diperjualbelikan secara terbuka di sejumlah marketplace Indonesia. Dalam penelusuran Mongabay Indonesia, seorang penjual menawarkan tokek hidup seharga Rp30.500 per ekor. Stok yang dicantumkan mencapai 493 ekor dan beberapa di antaranya telah terjual. Penjual juga menyertakan berbagai klaim khasiat, seperti meningkatkan stamina, mengatasi asma, dan membantu mengobati kanker. Namun, tidak ada penjelasan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/">Dijual Bebas di Marketplace, Bagaimana Aturan Pengambilan Tokek di Alam Liar?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tokek rumah (Gekko gecko) diperjualbelikan secara terbuka di sejumlah marketplace Indonesia. Dalam penelusuran Mongabay Indonesia, seorang penjual menawarkan tokek hidup seharga Rp30.500 per ekor. Stok yang dicantumkan mencapai 493 ekor dan beberapa di antaranya telah terjual. Penjual juga menyertakan berbagai klaim khasiat, seperti meningkatkan stamina, mengatasi asma, dan membantu mengobati kanker. Namun, tidak ada penjelasan yang memastikan apakah tokek tersebut berasal dari penangkaran atau ditangkap langsung dari alam. Perdagangan tokek mulai mendapat perhatian lebih besar setelah reptil ini masuk Appendix II CITES pada 2019. Status tersebut bukan berarti tokek telah terancam punah. Dalam Daftar Merah IUCN, tokek rumah masih berstatus Risiko Rendah atau Least Concern. Meski demikian, perdagangan internasionalnya harus diatur agar legal, dapat ditelusuri asal-usulnya, dan tidak mengancam populasi liar. Indonesia juga wajib menyusun Non-Detriment Finding atau NDF, yakni kajian ilmiah untuk memastikan pemanfaatan tokek tidak membahayakan kelestarian spesies. Menurut Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, penentuan jumlah tokek yang boleh dimanfaatkan harus didahului survei populasi. Peneliti perlu mengetahui jumlah, persebaran, dan kemampuan berkembang biaknya. Pada 2026, pemerintah menetapkan kuota pengambilan tokek rumah dari alam sebanyak 2.509.362 ekor. Sebanyak 2.487.750 ekor dialokasikan untuk konsumsi dalam bentuk tokek kering, sedangkan 21.612 ekor diperuntukkan bagi perdagangan sebagai satwa hidup atau peliharaan. Jawa Timur memperoleh kuota konsumsi terbesar, yakni 480.000 ekor. Provinsi ini juga mendapat kuota tertinggi untuk perdagangan tokek hidup sebanyak 5.035 ekor. Selain jumlah, pemerintah mengatur ukuran tokek yang boleh ditangkap. Untuk kebutuhan konsumsi, panjang tubuh dari moncong hingga kloaka minimal 15 sentimeter, dengan lebar dada sedikitnya 13&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/dijual-bebas-di-marketplace-bagaimana-aturan-pengambilan-tokek-di-alam-liar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tambang Batubara NU Bisa Perburuk Nasib Masyarakat Dayak Basap dan Picu Bencana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 09:00:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[batubara]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Pertambangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/29065641/WhatsApp-Image-2026-07-26-at-10.53.27-3-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132595</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[batubara, bencana, hutan indonesia, Masyarakat Adat, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masri, Masyarakat Adat Dayak Basap tengah asyik menyeruput air rebusan akar-akar tumbuhan dari gelasnya yang mengepul, suatu siang di Desa Tebangan Lembak, Bengalon, Kalimantan Timur (Kaltim). Panas terik tidak menyurutkan tradisinya itu, apalagi, Panding, sang istri, yang membuatkannya. Pria lanjut usia ini percaya, rutin minum rebusan akan membuat stamina tubuh  tak mudah loyo. Terbukti, pria [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/">Tambang Batubara NU Bisa Perburuk Nasib Masyarakat Dayak Basap dan Picu Bencana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masri, Masyarakat Adat Dayak Basap tengah asyik menyeruput air rebusan akar-akar tumbuhan dari gelasnya yang mengepul, suatu siang di Desa Tebangan Lembak, Bengalon, Kalimantan Timur (Kaltim). Panas terik tidak menyurutkan tradisinya itu, apalagi, Panding, sang istri, yang membuatkannya. Pria lanjut usia ini percaya, rutin minum rebusan akan membuat stamina tubuh  tak mudah loyo. Terbukti, pria itu masih sehat di usia yang menginjak 113 tahun. Hanya daya dengar saja yang menurun. Tidak hanya Masri, mayoritas warga di sana  biasa menggunakan akar-akar pohon sebagai obat demam, flu, hingga sesak napas. Kini, akar-akar pepohonan obat itu kini sulit mereka dapatkan di sekitar rumah. Pasalnya, wilayah itu sudah terkepung tambang. Masri bilang, harus jauh ke dalam hutan untuk menemukan akar jenis pohon tertentu. “Kita ini di tengah-tengah perusahaan sudah,” katanya, 19 Februari. Siang itu, kami melihat truk-truk tambang batubara hilir mudik, menyebabkan debu beterbangan sepanjang jalan. Kendaraan tonase besar itu lebih sering terlihat ketimbang warga, meskipun data kecamatan mencatat populasi penduduk ada 256 jiwa. Analisis Yayasan Auriga Nusantara menunjukan sejumlah perusahaan tambang ada di Tebangan Lembak, antara lain PT Rahmat family Group, PT Perkasa Inakakerta, PT Kobexindo Limestone, PT Bengalon Limestone, PT Tawabu Mineral Resource (TMR), PT Damanka Prima, PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Selaju Nusantara Bersama, dan terbaru PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara (BUMNU). Lahan yang tereksploitasi pertambangan mencapai 14.187,74 hektar dari luas Desa Tebangan Lembak 37.000 hektar. Peta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menunjukkan rumah Panding dan Masri tumpang tindih dengan konsesi BUMNU, perusahaan ormas keagamaan Nahdlatul Ulama (NU).&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/29/tambang-batubara-nu-bisa-perburuk-nasib-masyarakat-dayak-basap-dan-picu-bencana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kumbang Ini Dinobatkan Sains sebagai Serangga Terkuat di Dunia, Tarik Beban 1.141 Kali Berat Tubuhnya</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 02:42:32 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/29023820/Bull-headed_Dung_Beetle_imported_from_iNaturalist_photo_308636278_on_6_August_2024-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132584</guid>

					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Semut sering dianggap sebagai simbol kekuatan di dunia serangga karena kemampuannya mengangkat beban puluhan kali berat tubuhnya sendiri. Semut pemotong daun dari genus Atta, misalnya, mampu membawa potongan daun seberat 20 hingga 50 kali berat badannya saat berjalan kembali ke sarang. Namun gelar serangga terkuat di dunia, jika diukur berdasarkan rasio kekuatan terhadap berat badan, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/">Kumbang Ini Dinobatkan Sains sebagai Serangga Terkuat di Dunia, Tarik Beban 1.141 Kali Berat Tubuhnya</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Semut sering dianggap sebagai simbol kekuatan di dunia serangga karena kemampuannya mengangkat beban puluhan kali berat tubuhnya sendiri. Semut pemotong daun dari genus Atta, misalnya, mampu membawa potongan daun seberat 20 hingga 50 kali berat badannya saat berjalan kembali ke sarang. Namun gelar serangga terkuat di dunia, jika diukur berdasarkan rasio kekuatan terhadap berat badan, ternyata tidak dipegang oleh semut, melainkan oleh kumbang. Studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B menemukan bahwa kumbang kotoran memiliki rasio kekuatan yang jauh melampaui semua serangga lain yang pernah diuji, termasuk kumbang badak yang sebelumnya dianggap sebagai pemegang rekor. Penelitian ini mengukur kekuatan tarik beberapa jenis kumbang menggunakan alat uji sederhana yang dipasang di dalam terowongan buatan, menyerupai kondisi pertarungan yang sesungguhnya terjadi di alam liar. Studi yang sama juga menemukan bahwa kekuatan kumbang sangat dipengaruhi oleh kualitas makanan yang mereka konsumsi sejak masa larva, sehingga kumbang dengan asupan gizi buruk cenderung memiliki kekuatan tarik yang jauh lebih rendah meski berasal dari spesies yang sama. Kumbang Kotoran, Pemegang Rekor Kekuatan Kumbang kotoran jantan dari spesies Onthophagus taurus tercatat sebagai serangga dengan rasio kekuatan tertinggi yang pernah diukur secara ilmiah. Dalam eksperimen yang dilakukan Robert Knell dari Queen Mary University of London bersama Leigh Simmons dari University of Western Australia, kumbang ini mampu menarik beban hingga 1.141 kali berat tubuhnya sendiri. Sebagai perbandingan, kekuatan itu setara dengan seorang manusia dewasa seberat 70 kilogram yang mampu menarik beban seberat 80 ton, atau setara enam bus tingkat penuh penumpang. Kumbang kotoran jantan Onthophagus&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/29/132584/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 02:07:35 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/01/22015329/Semut-zombie-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=132582</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sisi lain kehidupan semut menyimpan rahasia luar biasa yang sering terlewatkan. Dari fosil purba yang merekam jejak ribuan tahun lalu hingga kebiasaan ekstrem modern seperti menyengat, menyerang jaringan listrik, dan menghadapi ancaman predator, serangga kecil ini terus berevolusi dengan strategi yang cerdas. Keragaman jenis, keunikan perilaku, serta daya tahan tubuhnya membuktikan bahwa ukuran bukanlah penghalang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/">Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sisi lain kehidupan semut menyimpan rahasia luar biasa yang sering terlewatkan. Dari fosil purba yang merekam jejak ribuan tahun lalu hingga kebiasaan ekstrem modern seperti menyengat, menyerang jaringan listrik, dan menghadapi ancaman predator, serangga kecil ini terus berevolusi dengan strategi yang cerdas. Keragaman jenis, keunikan perilaku, serta daya tahan tubuhnya membuktikan bahwa ukuran bukanlah penghalang untuk menguasai lingkungan. Adaptasi yang mengagumkan dan peran ekologis yang vital secara perlahan memperlihatkan bagaimana makhluk mungil ini tumbuh menjadi raksasa sejati di skala dunia kecil. The post Sisi Lain Semut: Kisah Spektakuler Raksasa di Dunia Kecil appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/08/sisi-lain-semut-kisah-spektakuler-raksasa-di-dunia-kecil/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>El Niño Godzilla dan Ancaman Kekeringan di Dataran Tinggi Dieng</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/#respond</comments>
					<pubDate>29 Agu 2026 00:45:20 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25154215/Telaga3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132415</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, jawa, dan komunitas lokal]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Permukaan air Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, terus menyusut akibat kemarau panjang yang dipengaruhi El Niño Godzilla. Kondisi ini mengkhawatirkan ratusan petani yang mengandalkan telaga sebagai sumber irigasi. Telaga seluas sekitar 25 hektar yang berada di antara Bukit Pangonan dan Bukit Semurup tersebut menjadi tumpuan sekitar 200 petani dari Desa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/">El Niño Godzilla dan Ancaman Kekeringan di Dataran Tinggi Dieng</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Permukaan air Telaga Merdada di Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, terus menyusut akibat kemarau panjang yang dipengaruhi El Niño Godzilla. Kondisi ini mengkhawatirkan ratusan petani yang mengandalkan telaga sebagai sumber irigasi. Telaga seluas sekitar 25 hektar yang berada di antara Bukit Pangonan dan Bukit Semurup tersebut menjadi tumpuan sekitar 200 petani dari Desa Karangtengah, Butuh, dan Bakal. Setiap hari, ribuan liter air dipompa menuju lahan pertanian di kawasan Dataran Tinggi Dieng, terutama kebun kentang. Zaenuri, petani asal Karangtengah, telah menyedot air dari telaga selama dua bulan. Untuk mengairi lahan kentang seluas sekitar 2.500 meter persegi, dia membutuhkan tujuh liter pertalite setiap hari. “Ini satu-satunya harapan kami untuk menyelamatkan tanaman kentang,” katanya. Petani lain juga menghadapi persoalan serupa. Mereka harus mengoperasikan mesin pompa dan mengalirkan air hingga sejauh satu kilometer. Biaya bahan bakar membuat ongkos produksi meningkat dibandingkan musim hujan. Namun, penyiraman tidak dapat dihentikan karena tanaman kentang memerlukan pasokan air berkala agar produktivitasnya tidak menurun. Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, mengatakan musim kemarau 2026 datang lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologis. Puncak kemarau terjadi pada Agustus, sedangkan durasinya diperkirakan berlangsung sekitar lima hingga tujuh bulan sejak Mei atau Juni. “Artinya, kemarau tahun ini diperkirakan bisa terjadi hingga Oktober–November mendatang.” Petani dianjurkan menyesuaikan jadwal tanam, menggunakan varietas tahan kering, dan memprioritaskan pengelolaan cadangan air. Langkah tersebut penting karena penurunan debit Telaga Merdada diperkirakan terus berlangsung apabila hujan belum turun dalam beberapa bulan mendatang. Selain menghadapi tekanan akibat kemarau, Telaga Merdada juga terancam aktivitas pertanian intensif di kawasan sekitarnya.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/el-nino-godzilla-dan-ancaman-kekeringan-di-dataran-tinggi-dieng/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kabut Asap dan Karhutla Berulang di Sumatera Selatan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 15:02:33 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28145823/Anggota-Manggala-Agni-wilayah-Kabupaten-Banyuasin-Sumsel-tengah-memadamkan-api-di-lahan-gambut-terbakar-di-Desa-Babatan-Saudagar-Kabupaten-Ogan-Ilir.-Foto-Ahmad-Rizki-Prabu-Mongabay-Indonesia-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132573</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Data dan Statisik, hutan indonesia, Lahan Basah, politik dan hukum, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sumatera Selatan kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran di lahan gambut dan mineral ini menciptakan kabut asap yang kembali dirasakan masyarakat Palembang. Mengapa persoalan ini tidak kunjung teratasi sejak 1997? “Pertama, pengetahuan bahwa gambut dapat dikelola menjadi perkebunan bukan hanya dikuasai perusahaan, juga masyarakat,” kata Yulion Zalpa, peneliti ekologi politik dari Universitas Islam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/">Kabut Asap dan Karhutla Berulang di Sumatera Selatan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sumatera Selatan kembali dilanda kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kebakaran di lahan gambut dan mineral ini menciptakan kabut asap yang kembali dirasakan masyarakat Palembang. Mengapa persoalan ini tidak kunjung teratasi sejak 1997? “Pertama, pengetahuan bahwa gambut dapat dikelola menjadi perkebunan bukan hanya dikuasai perusahaan, juga masyarakat,” kata Yulion Zalpa, peneliti ekologi politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Minggu (23/8/26). Masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki pengetahuan dalam memanfaatkan atau mengelola lahan gambut untuk pertanian dan perkebunan, saat ini mulai memahaminya. Mereka tidak hanya mengelola lahan mineral, juga gambut. Pengetahuan ini mereka dapatkan dari aktivitas perusahaan yang memanfaatkan gambut, seperti yang dilakukan perusahaan perkebunan sawit dan hutan tanaman industri (HTI). “Berdasarkan pemantauan saya di beberapa desa atau dusun di Sumatera Selatan yang wilayahnya terdapat gambut, sebagian besar masyarakat sudah memanfaatkan lahan ini untuk berkebun sawit. Luasannya mulai setengah hektar hingga puluhan hektar. Gambut bukan lagi dipahami sebagai hutan,” jelas Yulion, yang pernah terlibat dalam beberapa penelitian restorasi gambut di Sumatera Selatan. Kebakaran lahan gambut di Desa Babatan Saudagar, Kabupaten Ogan Ilir, Sumsel, awal Agustus 2026. Foto: Ahmad Rizki Prabu/Mongabay Indonesia. Kedua, pengetahuan atau teknologi mengelola lahan mineral dan lahan gambut yang baik, tidak terlihat. Membakar lahan tetap dipahami sebagai tindakan terbaik dalam mengelola lahan. Cepat dan murah. Bahkan, bukan hanya lahan gambut yang mereka olah menjadi perkebunan. Rawa dan mangrove turut diubah menjadi perkebunan. Pengeringan lahan dengan cara membangun kanal sudah menjadi pengetahuan umum bagi masyarakat desa. Dua hal ini yang menyebabkan lahan mineral dan lahan gambut terus mengalami&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/28/kabut-asap-dan-karhutla-berulang-di-sumatera-selatan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Memiliki Mata Kucing, Ular dari Hutan Malang Selatan Ini Pandai Menyamar</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/memiliki-mata-kucing-ular-dari-hutan-malang-selatan-ini-pandai-menyamar/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/memiliki-mata-kucing-ular-dari-hutan-malang-selatan-ini-pandai-menyamar/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 10:00:50 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/22001503/Banjang-Tupai-Foto-Fariq-Izzudien-Ash-Shidiq-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132489</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Saat menyusuri hutan bervegetasi rapat di Malang Selatan, Jawa Timur, Fariq Izzudien Ash Shidiq dan rekannya melihat seekor ular berada sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah. Warna tubuhnya begitu menyatu dengan lingkungan sehingga sulit dikenali tanpa pengamatan teliti. Ular tersebut adalah banjang tupai atau Boiga drapiezii. Salah satu cirinya yang paling menarik adalah bentuk dan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/memiliki-mata-kucing-ular-dari-hutan-malang-selatan-ini-pandai-menyamar/">Memiliki Mata Kucing, Ular dari Hutan Malang Selatan Ini Pandai Menyamar</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Saat menyusuri hutan bervegetasi rapat di Malang Selatan, Jawa Timur, Fariq Izzudien Ash Shidiq dan rekannya melihat seekor ular berada sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah. Warna tubuhnya begitu menyatu dengan lingkungan sehingga sulit dikenali tanpa pengamatan teliti. Ular tersebut adalah banjang tupai atau Boiga drapiezii. Salah satu cirinya yang paling menarik adalah bentuk dan iris mata yang menyerupai mata kucing. Kepalanya berukuran lebih besar daripada lehernya, sementara beberapa bagian tubuhnya memiliki kombinasi warna putih dan hitam. Pertemuan itu menjadi pengalaman istimewa bagi Fariq karena merupakan kali pertama ia melihat langsung spesies tersebut. Dalam istilah pengamatan satwa, perjumpaan pertama dengan suatu spesies dikenal sebagai lifer. “Matanya sangat spesial. Seperti memotret kucing-kucingan,” ujar Fariq, yang merupakan Research Assistant di Laboratorium Entomologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Selama diamati, banjang tupai tidak memperlihatkan perilaku agresif. Ketika didekati, ular itu memilih menjauh dan tidak berusaha menyerang. Menurut Fariq, ular tersebut terlihat tenang, tetapi tetap waspada terhadap keberadaan manusia. Pengamatan hanya berlangsung sekitar lima hingga sepuluh menit. Langit yang semula mendung segera berubah menjadi hujan. Kondisi itu membuat Fariq dan rekannya tidak sempat mengukur panjang tubuh, memastikan jenis kelamin, maupun mengambil foto dari berbagai sisi. Setelah dokumentasi selesai, ular tersebut dibiarkan kembali ke habitatnya. Secara global, Uni Internasional untuk Konservasi Alam atau IUCN menempatkan banjang tupai dalam kategori Risiko Rendah atau Least Concern. Penilaian tersebut didasarkan pada luasnya wilayah persebaran alami serta belum adanya ancaman atau tingkat pemanfaatan yang dapat menempatkannya dalam kategori terancam. Namun, status Risiko Rendah bukan berarti kondisi seluruh populasinya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/memiliki-mata-kucing-ular-dari-hutan-malang-selatan-ini-pandai-menyamar/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/memiliki-mata-kucing-ular-dari-hutan-malang-selatan-ini-pandai-menyamar/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gambut Kalimantan Tengah Terus Membara</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 03:55:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Krismes Santo Haloho]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/28034352/Karhutla-Kalteng-2-Ini--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132553</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kemarau panjang, Kalimantan Tengah,  pun kembali membara, kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) pun menyelimuti kota dan kabupaten di provinsi ini. Dari alat pemantau kualitas udara, IQAir, pada 28 Agustus 2026, pagi, USIQ pada angka 564 dengan status berbahaya (hazardous). Level PM2,5 mencapai 357.4 5 µg/m.³ Level bahaya juga terlihat di Kabupaten [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/">Gambut Kalimantan Tengah Terus Membara</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kemarau panjang, Kalimantan Tengah,  pun kembali membara, kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) pun menyelimuti kota dan kabupaten di provinsi ini. Dari alat pemantau kualitas udara, IQAir, pada 28 Agustus 2026, pagi, USIQ pada angka 564 dengan status berbahaya (hazardous). Level PM2,5 mencapai 357.4 5 µg/m.³ Level bahaya juga terlihat di Kabupaten Kota Waringin Timur, dengan USIQ475, tingkat PM2,5  312 µg/m.³ Ahmad Toyib, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah, menyampaikan data 1 Januari-22 Agustus 2026 ada 19.992 titik panas di provinsi ini. Dalam periode sama, tercatat 1.639 karhutla mencapai 4.499,21 hektar. Data itu dari laporan harian 14 kabupaten, kota melalui Pusdalops Satgas Karhutla, Kalimantan Tengah. “Kami berharap dukungan penanganan karhutla dapat ditingkatkan, khususnya dengan menambah dua hingga tiga helikopter water bombing untuk melengkapi empat yang saat ini sudah beroperasi,” katanya,   saat rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Posko Satgas Udara Aju Penanganan Karhutla Kalteng di Palangka Raya, Sabtu (22/8/26), dikutip dari laman resmi Pemerintah  Kalteng. Selain itu, mereka juga perlu tambahan sekitar 100-200 pompa air untuk memperkuat efektivitas penanganan karhutla melalui jalur darat. Kualitas udara di Palangka Raya, 28 Agustus 2026. Foto: rekam IQAir Kanal dan parit yang biasa menjadi sumber air mulai mengering. Seperti di tengah lahan yang membara di Kelurahan Petuk Ketimpun, Palangka Raya, tim pemadam harus mencari sumber air yang tersisa untuk memadamkan api yang terus menjalar di lahan gambut. Saat itu, presiden memimpin rapat koordinasi bersama sejumlah pejabat pusat dan daerah, termasuk Mensesneg Prasetyo Hadi, Mendagri Tito Karnavian,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/28/gambut-kalimantan-tengah-terus-membara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Harapan Pulihkan Mangrove di Tengah Tambak Pesisir Sugian</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/28/harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/28/harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 01:09:16 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ahmad H Ramdhani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis dan ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/25125519/IMG-20260419-WA0027-1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132388</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[lombok dan nusa tenggara barat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bisnis dan ekonomi, hutan indonesia, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan pangan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Idrus bergeming memandang ke arah muara yang tak jauh dari sawahnya di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari sana, air asin pernah masuk ke daratan dan merendam tanamannya yang dia rawat berbulan-bulan. Panen yang semestinya menjadi sumber penghidupan justru berujung kerugian. Kini, harapan ada baru memulihkan  ekosistem mangrove bersama kehadiran [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian/">Harapan Pulihkan Mangrove di Tengah Tambak Pesisir Sugian</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Idrus bergeming memandang ke arah muara yang tak jauh dari sawahnya di Desa Sugian, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dari sana, air asin pernah masuk ke daratan dan merendam tanamannya yang dia rawat berbulan-bulan. Panen yang semestinya menjadi sumber penghidupan justru berujung kerugian. Kini, harapan ada baru memulihkan  ekosistem mangrove bersama kehadiran tambak. Sebelum itu, ketika hutan mangrove tergerus tambak, intrusi air laut ke daratan. “Kalau air laut pasang, tanaman yang di sini mati semua. Gagal panen,” ucap Idrus sembari menunjuk petakan sawah di ujung. Baginya, persoalan itu bukan sekadar tentang air laut yang masuk ke sawah. Lebih jauh, menggambarkan berubahnya wajah pesisir Sugian. Hutan mangrove yang dulu memenuhi sepanjang pesisir semakin berkurang. Ketika pelindung alami itu hilang, air laut menjadi lebih mudah mencapai daratan. Abrasi meningkat dan intrusi air laut mulai mengganggu lahan pertanian warga. Apalagi, posisi lahan pertanian memang berdekatan dengan pesisir, bahkan nyaris tak berjarak dengan pantai. Pengalaman Idrus memperlihatkan bagaimana kerusakan ekosistem pesisir pada akhirnya kembali kepada masyarakat yang hidup di sekitarnya. Dampaknya tak hanya terjadi di muara, tetapi merambat ke sawah dan sumber penghidupan warga lainnya. Tidak jauh dari sana, Jamil sibuk dengan tambaknya. Di sebuah petak berukuran 8&#215;5 meter, dia taburkan potongan-potongan kepala ayam untuk pakan kepiting bakau yang dia budidayakan. “Kami kan tidak punya pilihan lain. Selain melaut ya tambak ini. Kalau gak, darimana kami dapat uang,” ucap Jamil sambil menebar pakan di tambaknya. Kondisi ini menyimpan cerita panjang tentang pesisir Sugian. Satu sisi, masyarakat perlun tambak untuk mendapatkan penghasilan.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/28/harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/28/harapan-pulihkan-mangrove-di-tengah-tambak-pesisir-sugian/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polusi Udara Jakarta Bukan Sekadar Masalah Musiman</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/polusi-udara-jakarta-bukan-sekadar-masalah-musiman/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/polusi-udara-jakarta-bukan-sekadar-masalah-musiman/#respond</comments>
					<pubDate>28 Agu 2026 01:00:12 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001741/UDARA-JAKARTA-KEMBALI-TIDAK-SEHAT-1-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=132486</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[Data dan Statisik, jawa, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polusi udara kembali menyelimuti Jakarta sepanjang Agustus 2026. Kabut tipis membuat gedung-gedung pencakar langit tampak samar, sementara sejumlah warga mengeluhkan sesak napas, bersin, batuk, dan mata perih setelah beraktivitas di luar ruangan. Seperti pada 16 Agustus 2026 pukul 06.01 WIB, IQAir menempatkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia. Indeks kualitas udara [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/polusi-udara-jakarta-bukan-sekadar-masalah-musiman/">Polusi Udara Jakarta Bukan Sekadar Masalah Musiman</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polusi udara kembali menyelimuti Jakarta sepanjang Agustus 2026. Kabut tipis membuat gedung-gedung pencakar langit tampak samar, sementara sejumlah warga mengeluhkan sesak napas, bersin, batuk, dan mata perih setelah beraktivitas di luar ruangan. Seperti pada 16 Agustus 2026 pukul 06.01 WIB, IQAir menempatkan Jakarta sebagai kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia. Indeks kualitas udara atau AQI mencapai 167, dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 79 mikrogram per meter kubik. Pada 22 Agustus, AQI Jakarta masih berada di angka 158, sedangkan konsentrasi PM2.5 mencapai 68 mikrogram per meter kubik. Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan musiman. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menilai pencemaran udara merupakan kegagalan struktural dalam pengelolaan lingkungan. Pembangunan yang masih bergantung pada energi fosil serta lemahnya pengendalian sumber pencemar membuat masalah terus berulang. Putusan gugatan warga Nomor 374/Pdt.G/LH/2019/PN.Jkt.Pst pada 2021 sebenarnya telah memerintahkan pemerintah mengambil tindakan. Langkah itu mencakup pengetatan baku mutu udara, penambahan alat pemantau, serta pengintegrasian data kualitas udara dengan kesehatan masyarakat. Namun, pelaksanaannya dinilai belum menunjukkan perubahan berarti. Wahyu Eka Styawan, Pengkampanye Urban Berkeadilan dan Kebijakan Tata Ruang Walhi Eksekutif Nasional, menyoroti minimnya kemajuan tersebut. “Saya melihat belum ada upaya signifikan pemerintah,” katanya. El Niño turut memperburuk keadaan. Cuaca panas, berkurangnya curah hujan, serta melemahnya pergerakan udara membuat polutan lebih sulit terurai. Padahal, Jakarta telah memiliki beban pencemar tinggi dari kendaraan bermotor, industri, aktivitas rumah tangga, pembangkit listrik, dan pembakaran terbuka. Dampaknya terlihat pada kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mencatat 15,6 juta kasus infeksi saluran pernapasan akut secara nasional sepanjang Januari-Agustus 2026. Penelitian di 11 kota dan kabupaten Jabodetabek&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/polusi-udara-jakarta-bukan-sekadar-masalah-musiman/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/polusi-udara-jakarta-bukan-sekadar-masalah-musiman/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Penguin Biru Kecil, Spesies Terkecil di Dunia dengan Aktivitas Malam yang Langka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/penguin-biru-kecil-spesies-terkecil-di-dunia-dengan-aktivitas-malam-yang-langka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/penguin-biru-kecil-spesies-terkecil-di-dunia-dengan-aktivitas-malam-yang-langka/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 23:44:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/27234035/Eudyptula_minor_-Featherdale_Wildlife_Park_Doonside_New_South_Wales_Australia-8a-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132544</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di antara keluarga Spheniscidae, yakni kelompok taksonomi yang menaungi seluruh spesies penguin yang masih hidup di dunia, penguin biru kecil (Eudyptula minor) memegang rekor sebagai spesies penguin terkecil di dunia, dengan tinggi tubuh hanya sekitar 30 hingga 33 sentimeter dan bobot rata-rata 1 kilogram, kira-kira seukuran sepatu bot orang dewasa. Nama ilmiahnya sendiri berarti &#8220;penyelam [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/penguin-biru-kecil-spesies-terkecil-di-dunia-dengan-aktivitas-malam-yang-langka/">Penguin Biru Kecil, Spesies Terkecil di Dunia dengan Aktivitas Malam yang Langka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di antara keluarga Spheniscidae, yakni kelompok taksonomi yang menaungi seluruh spesies penguin yang masih hidup di dunia, penguin biru kecil (Eudyptula minor) memegang rekor sebagai spesies penguin terkecil di dunia, dengan tinggi tubuh hanya sekitar 30 hingga 33 sentimeter dan bobot rata-rata 1 kilogram, kira-kira seukuran sepatu bot orang dewasa. Nama ilmiahnya sendiri berarti &#8220;penyelam kecil yang baik&#8221;, sebuah julukan yang cukup pas mengingat kemampuan menyelamnya yang jauh melebihi ukuran tubuhnya. Namun ukuran mungil bukan satu-satunya yang membuat burung ini berbeda dari kerabatnya. Penguin biru kecil juga dikenal karena kebiasaan nokturnalnya yang jarang ditemukan pada spesies penguin lain, sebuah sifat yang menjadikannya salah satu anggota keluarga penguin paling unik secara perilaku. Burung ini dijuluki fairy penguin di Australia dan kororā dalam bahasa Māori di Selandia Baru. Berbeda dari kerabatnya di Antartika yang berukuran besar dengan warna hitam-putih kontras, penguin biru kecil memiliki bulu kebiruan di bagian punggung dan kepala. Warna ini dihasilkan oleh struktur melanosom, yakni organel penghasil pigmen di dalam sel bulu, yang tersusun sangat padat pada penguin biru kecil. Kepadatan struktur inilah yang sekaligus membuat bulu lebih tahan air saat berenang. Setiap tahun, penguin dewasa mengalami proses ganti bulu total yang disebut catastrophic moult, atau molting menyeluruh, yakni seluruh bulunya rontok sekaligus dan digantikan bulu baru dalam waktu dua hingga tiga minggu. Selama periode ini mereka tidak bisa melaut karena bulu belum tahan air, sehingga harus bertahan di darat dengan mengandalkan cadangan lemak yang ditimbun sebelumnya. Kehidupan Nokturnal dan Adaptasi Unik Habitat alami penguin biru kecil membentang di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/penguin-biru-kecil-spesies-terkecil-di-dunia-dengan-aktivitas-malam-yang-langka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/penguin-biru-kecil-spesies-terkecil-di-dunia-dengan-aktivitas-malam-yang-langka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cerita Para Perempuan Penjaga Kampung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/27/cerita-para-perempuan-penjaga-kampung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/27/cerita-para-perempuan-penjaga-kampung/#respond</comments>
					<pubDate>27 Agu 2026 23:30:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Vitri Angreni dan Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/11/21235410/Ruang-Hidup-yang-Hilang-scaled-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=132542</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Aleta Kornelia Baun, masih ingat betul ketika bersama para perempuan adat Mollo mengusir perusahaan tambang batu marmer yang merusak dan merampas ruang hidup mereka selama tiga dekade. Bukan dengan perang atau kekerasan, melainkan dengan aksi damai sambil menenun. Kisah perjuangan Mama Aleta, bermula ketika sejumlah perusahaan tambang mendapat izin dari pemerintah menambang di Bukit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/cerita-para-perempuan-penjaga-kampung/">Cerita Para Perempuan Penjaga Kampung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Aleta Kornelia Baun, masih ingat betul ketika bersama para perempuan adat Mollo mengusir perusahaan tambang batu marmer yang merusak dan merampas ruang hidup mereka selama tiga dekade. Bukan dengan perang atau kekerasan, melainkan dengan aksi damai sambil menenun. Kisah perjuangan Mama Aleta, bermula ketika sejumlah perusahaan tambang mendapat izin dari pemerintah menambang di Bukit Anjaaf dan Nausus, Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1980. Tak ada persetujuan masyarakat sama sekali. Deretan bukit itu bagian dari ekosistem Gunung Mutis, wilayah yang tak hanya menopang kehidupan, juga memiliki keterikatan kosmologis dan spiritual dengan masyarakat adat setempat. Masyarakat resah dan protes saat aktivitas tambang mengakibatkan deforestasi, longsor dan pencemaran sungai. Perjuangan perempuan adat selama bertahun-tahun ini tak sia-sia. Setelah melalui berbagai dinamika perlawanan, perusahaan tambang berhasil mereka usir pada 2010. Perempuan kelahiran tahun 1966 ini bilang, mempertahankan alam adalah soal menjaga keberlangsungan hidup dan identitas. Mereka, mengibaratkan alam sebagai anggota tubuh. &#8220;Gunung dan alam itu dilambangkan sebagai tubuh manusia. Seperti air adalah darah, tanah adalah daging, hutan adalah rambut, dan pori-pori batu adalah tulang. Jadi ketika salah satu hilang, maka dia sudah lumpuh. Dia bukan hidup lagi, tapi dia adalah mayat,” kata Aleta kepada Mongabay, Sabtu, (8/8/26). Melalui UU 11/1967, UU 5/1967 dan UU 1/1967, pada dekade 1980-an, tambang dalam kawasan hutan seperti Gunung Mutis tergolong legal. Saat itu, negara memegang kendali penuh atas izin pengelolaan tanpa kewajiban meminta persetujuan masyarakat adat. Tambang mulai terlarang dalam kawasan konservasi setelah pemerintah menerbitkan UU 41 tahun 1999 tentang kehutanan. Mama Aleta Baun bersama&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/27/cerita-para-perempuan-penjaga-kampung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/27/cerita-para-perempuan-penjaga-kampung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>