<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=clairre-asher&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/clairre-asher/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Mon, 10 Aug 2026 10:00:38 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=7.0.3</generator>
				<item>
					<title>Kelong Cacak, Warisan Maritim yang Menjaga Laut Kepulauan Riau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kelong-cacak-warisan-maritim-yang-menjaga-laut-kepulauan-riau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kelong-cacak-warisan-maritim-yang-menjaga-laut-kepulauan-riau/#respond</comments>
					<pubDate>10 Agu 2026 10:00:38 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/01/21234316/alat-tangkap1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131722</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, gaya hidup, Kelautan perikanan, komunitas lokal, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di pesisir Pulau Karas, Kota Batam, Kepulauan Riau, deretan kayu ditancapkan ke dasar laut dan disusun menyerupai pagar. Di antara kayu-kayu tersebut terpasang jaring berbentuk segitiga dengan ukuran berbeda. Bangunan sederhana ini disebut kelong cacak, alat tangkap tradisional yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan dan cumi. Kelong cacak dipasang pada jalur arus surut air laut. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kelong-cacak-warisan-maritim-yang-menjaga-laut-kepulauan-riau/">Kelong Cacak, Warisan Maritim yang Menjaga Laut Kepulauan Riau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di pesisir Pulau Karas, Kota Batam, Kepulauan Riau, deretan kayu ditancapkan ke dasar laut dan disusun menyerupai pagar. Di antara kayu-kayu tersebut terpasang jaring berbentuk segitiga dengan ukuran berbeda. Bangunan sederhana ini disebut kelong cacak, alat tangkap tradisional yang digunakan nelayan untuk menangkap ikan dan cumi. Kelong cacak dipasang pada jalur arus surut air laut. Ketika mengikuti arus, ikan masuk melalui bagian bernama bunuh luar yang terletak di antara dua sayap kelong. Dari sana, ikan bergerak menuju bunuh pari dan akhirnya terperangkap di bunuh mati. Setelah ikan terkumpul, nelayan dapat mengambilnya dengan menarik jaring atau menyelam. Busri, nelayan Pulau Karas, lebih memilih menyelam untuk mengambil ikan dan cumi dari kelong miliknya. Kelong cacak terdiri dari beberapa bagian, yaitu atas penajur, beremban sayap kiri dan kanan, bunuh luar, bunuh pari, bunuh mati, serta kayu bontot. Kayu-kayunya harus disusun menggunakan cara khusus agar tetap kuat ketika terkena arus laut maupun dinaiki nelayan. Nelayan pesisir Batam biasanya memasang kelong menjelang musim ikan dingkis, sekitar November. Harga ikan tersebut dapat meningkat hingga 100 persen pada musimnya. Modal untuk membangun kelong cacak berkisar Rp6-10 juta. Hasil tangkapannya tidak selalu sama. Dalam sekali panen, Busri dapat memperoleh sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Saat bukan musim ikan dingkis, hasil dari kelong digunakan untuk memenuhi kebutuhan belanja sehari-hari. Sebuah penelitian dari Universitas Riau Kepulauan pada 2022 menyebut kelong sebagai alat tangkap ramah lingkungan sekaligus bentuk kearifan lokal. Kelong tidak hanya menjadi alat untuk memperoleh ikan, tetapi juga bagian dari cara masyarakat pesisir mengatur pemanfaatan ruang laut. Lokasi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kelong-cacak-warisan-maritim-yang-menjaga-laut-kepulauan-riau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kelong-cacak-warisan-maritim-yang-menjaga-laut-kepulauan-riau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup</title>
					<link>https://mongabay.co.id/video/2026/08/lipu-boano-menjaga-adat-dan-memperjuangkan-ruang-hidup/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/video/2026/08/lipu-boano-menjaga-adat-dan-memperjuangkan-ruang-hidup/#respond</comments>
					<pubDate>10 Agu 2026 06:51:21 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niko Wicaksana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/10065053/thumbnail-1-1-768x512.png" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=videos&#038;p=131772</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sulawesi Tengah]]>
						</locations>
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di Bolano, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Masyarakat Hukum Adat (MHA) Lipu Boano masih mempertahankan adat yang diwariskan turun-temurun. Adat tidak hanya menjadi identitas masyarakat, tetapi juga menjadi pedoman dalam mengatur kehidupan sosial dan hubungan mereka dengan wilayah kelola. Danau, laut kecil, kawasan sagu, serta wilayah lainnya menjadi bagian penting dari ruang hidup masyarakat. Sumber [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/08/lipu-boano-menjaga-adat-dan-memperjuangkan-ruang-hidup/">Lipu Boano: Menjaga Adat dan Memperjuangkan Ruang Hidup</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di Bolano, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Masyarakat Hukum Adat (MHA) Lipu Boano masih mempertahankan adat yang diwariskan turun-temurun. Adat tidak hanya menjadi identitas masyarakat, tetapi juga menjadi pedoman dalam mengatur kehidupan sosial dan hubungan mereka dengan wilayah kelola. Danau, laut kecil, kawasan sagu, serta wilayah lainnya menjadi bagian penting dari ruang hidup masyarakat. Sumber daya alam dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun penggunaannya diatur melalui ketentuan adat. Salah satunya melalui sistem buka-tutup danau yang memberi kesempatan bagi sumber daya alam untuk pulih sebelum kembali dimanfaatkan masyarakat. Praktik tersebut menunjukkan bagaimana pengetahuan dan aturan adat masih menjadi bagian dari kehidupan MHA Lipu Boano. Namun, keberadaan sistem adat yang masih berjalan belum sepenuhnya mendapatkan pengakuan hukum dari negara. Persoalan ruang hidup semakin kompleks karena sebagian wilayah kelola MHA Lipu Boano beririsan dengan kawasan Suaka Margasatwa Tanjung Santigi. Kondisi ini menimbulkan persoalan tenurial dan ketidakpastian bagi masyarakat dalam mempertahankan serta mengelola wilayah yang secara turun-temurun menjadi bagian dari kehidupan mereka. Karena itu, pengakuan MHA menjadi bagian penting dalam perjuangan masyarakat Lipu Boano. Pengakuan tidak hanya berkaitan dengan identitas dan keberadaan masyarakat adat, tetapi juga menjadi dasar untuk memperkuat perlindungan terhadap hak tenurial dan wilayah kelola mereka. Pada 2026, proses asesmen sosio-legal dilakukan sebagai bagian dari upaya pengajuan pengakuan MHA Lipu Boano kepada pemerintah. Proses ini mendokumentasikan sejarah, kelembagaan adat, sistem hukum adat, serta hubungan masyarakat dengan wilayahnya. Pendokumentasian tersebut diharapkan menjadi dasar yang kuat untuk menunjukkan keberadaan masyarakat adat sekaligus memperjelas hak dan ruang kelola mereka. Perjuangan MHA Lipu Boano bukan hanya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/video/2026/08/lipu-boano-menjaga-adat-dan-memperjuangkan-ruang-hidup/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/video/2026/08/lipu-boano-menjaga-adat-dan-memperjuangkan-ruang-hidup/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Resak Brebes, Pohon Langka yang Hanya Ada di Jawa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/resak-brebes-pohon-langka-yang-hanya-ada-di-jawa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/resak-brebes-pohon-langka-yang-hanya-ada-di-jawa/#respond</comments>
					<pubDate>10 Agu 2026 04:22:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Editor]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2021/01/22042018/Pohon-di-Sulawesi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131640</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, hutan indonesia, dan sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Namanya mungkin belum sepopuler jati atau mahoni. Namun, resak brebes merupakan salah satu kekayaan tumbuhan Pulau Jawa yang keberadaannya semakin terancam. Pohon bernama ilmiah Vatica javanica ssp. javanica ini merupakan tumbuhan endemik Jawa. Resak brebes juga dikenal dengan nama kruing laki dan pelahlar laki. Ukurannya tergolong kecil hingga sedang. Tingginya dapat mencapai 27 meter dengan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/resak-brebes-pohon-langka-yang-hanya-ada-di-jawa/">Resak Brebes, Pohon Langka yang Hanya Ada di Jawa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Namanya mungkin belum sepopuler jati atau mahoni. Namun, resak brebes merupakan salah satu kekayaan tumbuhan Pulau Jawa yang keberadaannya semakin terancam. Pohon bernama ilmiah Vatica javanica ssp. javanica ini merupakan tumbuhan endemik Jawa. Resak brebes juga dikenal dengan nama kruing laki dan pelahlar laki. Ukurannya tergolong kecil hingga sedang. Tingginya dapat mencapai 27 meter dengan diameter batang setinggi dada sekitar 25 sentimeter. Batangnya memiliki ciri khas berupa permukaan berwarna putih keabuan atau cokelat keabuan. Batangnya lurus dengan garis-garis mendatar yang melingkar. Sementara rantingnya ditutupi bulu-bulu halus yang rapat. Kayu resak brebes dikenal keras dan kuat. Karakter tersebut membuatnya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi, seperti untuk rumah dan jembatan, bahkan untuk membuat ukiran. Sayangnya, keberadaan pohon ini terus mengalami tekanan. Buku “Daftar Merah 50 Jenis Pohon Kayu Komersial” yang diterbitkan Pusat Penelitian Biologi LIPI, kini BRIN, menyebut populasinya diperkirakan menurun hingga 50 persen dalam kurun 100 tahun. Kualitas habitatnya juga mengalami penurunan. Ancaman utamanya datang dari perubahan hutan menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan permukiman yang terjadi secara masif di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat habitat resak brebes semakin terdesak dan populasinya menurun. Gambaran keberadaannya dapat dilihat di Desa Capar, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Pada Oktober 2021, komunitas Biologi Satu melakukan ekspedisi selama tiga bulan untuk mendata populasi resak brebes, mencatat ancaman, sekaligus mengenalkan pentingnya pelestarian pohon ini kepada masyarakat. Pengamatan dilakukan pada delapan plot berukuran masing-masing 20 × 20 meter. Hasilnya, ekspedisi mendata 260 individu per hektare. Peneliti juga mencatat 200 seedling atau anakan pohon dengan tinggi kurang dari&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/resak-brebes-pohon-langka-yang-hanya-ada-di-jawa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/resak-brebes-pohon-langka-yang-hanya-ada-di-jawa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Masyarakat Banasu Berupaya Peroleh Penetapan Hutan Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/10/masyarakat-banasu-berupaya-peroleh-penetapan-hutan-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/10/masyarakat-banasu-berupaya-peroleh-penetapan-hutan-adat/#respond</comments>
					<pubDate>10 Agu 2026 03:01:41 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Moh Tamimi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/09115753/Memanen-padi-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131712</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bulir-bulir padi menguning siap panen. Hutan nan lebat mengellilingi Desa Banasu, Kecamatan Pipikoro,  Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), bak sabuk hijau pelindung kawasan. Masyarakat Adat Banasu yang  berada di pedalaman Sulteng ini, berdampingan dengan hutan lindung. Warga Banasu yang jadi bagian suku To Kulawi Uma ini tengah  berjuang mendapatkan pengakuan dan penetapan hutan adat dari  Kementerian [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/10/masyarakat-banasu-berupaya-peroleh-penetapan-hutan-adat/">Masyarakat Banasu Berupaya Peroleh Penetapan Hutan Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bulir-bulir padi menguning siap panen. Hutan nan lebat mengellilingi Desa Banasu, Kecamatan Pipikoro,  Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), bak sabuk hijau pelindung kawasan. Masyarakat Adat Banasu yang  berada di pedalaman Sulteng ini, berdampingan dengan hutan lindung. Warga Banasu yang jadi bagian suku To Kulawi Uma ini tengah  berjuang mendapatkan pengakuan dan penetapan hutan adat dari  Kementerian Kehutanan. Sepeda motor menjadi moda transportasi utama untuk menuju desa ini. Dari Desa Gimpu, Kulawi Selatan, desa terdekat jaraknya sekitar tiga jam membelah hutan, melewati jalan berlumpur, berkerikil, dan berbatu. Bagi Masyarakat Adat Banasu, hutan tak sekadar bentang alam. Lebih dari itu, ia adalah ruang hidup dan sumber penghidupan. Dari hutan pula mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari. Alasan itu pula yang membuat mereka berjuang untuk mendapat pengakuan dan perlindungan  wilayah adat negara mengambil alih hutan  mereka pada 1999. Demetrius Lkana, Ketua Lembaga Masyarakat Adat Desa Banasu, mengatakan, yang mereka ajukan sebagai wilayah adat itu hanya mencakup wilayah teritorial desa. Area itu yang selama ini mereka kelola turun temurun dari nenek moyang, bahkan sejak sebelum klaim oleh negara. Sebelumnya, pada 22 April 2025, sudah terbit  SK Bupati Nomor 100.3-160/2025 tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat dan Wilayah Adat To Kulawi di Banasu Kabupaten Sigi. Dalam SK itu, Pemerintah  Sigi mengakui wilayah adat di Banasu seluas 5.989,12 hektar. “Kalau hutan yang ada di sekeliling Desa Banasu kami tidak pertahankan, maka ke mana, ke mana nanti masyarakat Desa Banasu untuk mencari kebutuhan?” katanya, Rabu (6/5/26) Mereka juga ingin melindungi hutan mereka dari proyek-proyek besar, eksploitasi alam, yang mengancam kelestarian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/10/masyarakat-banasu-berupaya-peroleh-penetapan-hutan-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/10/masyarakat-banasu-berupaya-peroleh-penetapan-hutan-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Umit dan Peta Global Harimau di Asia Tengah</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/10/umit-dan-peta-global-harimau-di-asia-tengah/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/10/umit-dan-peta-global-harimau-di-asia-tengah/#respond</comments>
					<pubDate>10 Agu 2026 02:28:09 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/10021610/Harimau-Umit1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131739</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, Satwa, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Umit berlari kencang, ketika pintu kerangkeng yang membawanya ke tepian Danau Balkhash dibuka, Jumat (31/7/26). Umit merupakan satu dari empat ekor harimau amur yang menjalani program reintroduksi di Kazakhstan. Sekitar 10 tahun lalu, sebuah proyek besar dirancang untuk mengembalikan sang predator puncak ke habitat alami di kawasan delta Sungai Ili dan Danau Balkhash. Sudah 70 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/10/umit-dan-peta-global-harimau-di-asia-tengah/">Umit dan Peta Global Harimau di Asia Tengah</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Umit berlari kencang, ketika pintu kerangkeng yang membawanya ke tepian Danau Balkhash dibuka, Jumat (31/7/26). Umit merupakan satu dari empat ekor harimau amur yang menjalani program reintroduksi di Kazakhstan. Sekitar 10 tahun lalu, sebuah proyek besar dirancang untuk mengembalikan sang predator puncak ke habitat alami di kawasan delta Sungai Ili dan Danau Balkhash. Sudah 70 tahun, kawasan ini tanpa auman satwa berwibawa. Pada 2018, Cagar Alam Ile Balkhash disiapkan sebagai pusat program reintroduksi. Umit, harimau betina amur (Panthera tigris altaica), nanti tidak sendirian. Amur (jantan dewasa), serta Turan dan Ussuri (keduanya anakan) kini sedang menjalani fase adaptasi dan evaluasi. Pihak yang mengawal proses ini adalah pemerintah Kazakhstan dan Rusia, ilmuwan internasional, serta organisasi konservasi global. “Hari ini, kita menyaksikan sebuah peristiwa bersejarah,” kata Yerlan Nyssanbayev, Menteri Ekologi dan Sumber Daya Alam Kazakhstan, dalam rilis yang diberikan kepada media pada Senin (3/8/26), atau tiga hari setelah pelepasliaran. Harimau betina bernama Umit ini dilepaskan di kawasan delta Sungai Ili dan Danau Balkhash. Kazakhstan. Foto: Dok. Kementerian Ekologi dan Sumber Daya Alam Kazakhstan. Demi keamanan dan keselamatan satwa, waktu dan lokasi pelepasliaran Umit tidak dirinci untuk publik. Terutama, agar tidak terjadi penumpukan massa di hari H, sekaligus antisipasi perburuan, serta demi keselamatan satwa. Bagian hilir Sungai Ili dan wilayah selatan Danau Balkhash dulu merupakan wilayah alami harimau. Bentang alam ini menyediakan air, perlindungan, dan mangsa yang melimpah. Namun, pada 1948 harimau menghilang dari Kazakhstan. Penyebabnya adalah penghancuran dan fragmentasi hutan, penurunan jumlah ungulata liar, meningkatnya aktivitas manusia, dan perburuan tak terkendali yang membuat&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/10/umit-dan-peta-global-harimau-di-asia-tengah/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/10/umit-dan-peta-global-harimau-di-asia-tengah/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Sulitnya Negara Jamin Hak Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/sulitnya-negara-jamin-hak-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/sulitnya-negara-jamin-hak-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 23:48:23 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/08/22000940/Atuk-Sukar-Ketua-Adat-Suku-Mapur-di-Dusun-Pejem-Pulau-Bangka-yang-masih-menetap-di-sekitar-hutan-larangan-Bukit-Tabun.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131731</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Afrida Erna Ngato masih waswas dan trauma pasca penetapan tersangka pada 14 April 2026. Perempuan adat Suku Pagu Halmahera Utara, di Maluku Utara ini khawatir bepergian sendiri,  bahkan tak berani beraktivitas seperti belanja ke pasar sekalipun. “Kemana-mana saya menyamar pakai kerudung,” ujar Afrida kepada Mongabay Indonesia. Rasa waswas itu membuat dia takut pergi berladang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/sulitnya-negara-jamin-hak-masyarakat-adat/">Sulitnya Negara Jamin Hak Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Afrida Erna Ngato masih waswas dan trauma pasca penetapan tersangka pada 14 April 2026. Perempuan adat Suku Pagu Halmahera Utara, di Maluku Utara ini khawatir bepergian sendiri,  bahkan tak berani beraktivitas seperti belanja ke pasar sekalipun. “Kemana-mana saya menyamar pakai kerudung,” ujar Afrida kepada Mongabay Indonesia. Rasa waswas itu membuat dia takut pergi berladang. Bahkan sebagai guru sekolah, dia sempat tak mengajar. Baru belakangan dia memberanikan diri. “Sampai sekarang masih ada perasaan takut. Takut polisi tiba-tiba sergap atau orang jahat.” Afrida cerita, penetapan tersangka itu berdampak pada keluarga. Anak-anaknya yang seharusnya berkuliah di Jakarta mengurungkan niat karena khawatir meninggalkan Ida di rumah. Ida jadi tersangka karena tuduhan menghalang-halangi aktivitas tambang emas PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) di Kecamatan Malifut, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara (Malut). Dia juga dianggap melakukan aktivitas tambang ilegal di area konsesi perusahaan. Afrida bahkan sempat masuk daftar pencarian orang (DPO) pada 19–31 Mei lalu. Penetapan DPO itu lantaran Ida, sapaan akrabnya, tidak ada di rumah saat polisi berpasukan lengkap ingin menangkapnya pada 19 Mei siang. “Saya sedang di rumah saudara saat itu.” Kasus Ida bermula pada 2023, saat dia menolak rencana perluasan tambang emas perusahaan di wilayah adat Suku Pagu. Ida lalu menggelar ritual adat bersama warga sebagai bentuk protes. Dia juga aktif menyuarakan hak-hak pekerja tambang yang acapkali tidak perusahaan penuhi. Dia bahkan mengkoordinir sejumlah organisasi mahasiswa dan pemuda untuk demo di depan perusahaan. Jerat hukum kerap masyarakat adat hadapi ketika melawan perusahaan atau protes tak ingin lingkungan rusak maupun mau menjaga wilayah adat.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/sulitnya-negara-jamin-hak-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/sulitnya-negara-jamin-hak-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Belimbing Wuluh, Salah Satu Buah Paling Asam di Dunia yang Menyimpan Risiko Kesehatan Tersembunyi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/belimbing-wuluh-salah-satu-buah-paling-asam-di-dunia-yang-menyimpan-risiko-kesehatan-tersembunyi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/belimbing-wuluh-salah-satu-buah-paling-asam-di-dunia-yang-menyimpan-risiko-kesehatan-tersembunyi/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 23:30:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/09232449/505612189_1dc34be718_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131727</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dikenal luas di dapur-dapur Indonesia sebagai bahan pengasam alami, pengganti asam jawa atau tomat dalam berbagai masakan. Namun di balik popularitasnya, buah ini juga tercatat sebagai salah satu buah paling asam di dunia, dengan kandungan asam oksalat yang jauh lebih tinggi dibandingkan kerabat dekatnya, belimbing manis (Averrhoa carambola). Klaim keasaman ini  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/belimbing-wuluh-salah-satu-buah-paling-asam-di-dunia-yang-menyimpan-risiko-kesehatan-tersembunyi/">Belimbing Wuluh, Salah Satu Buah Paling Asam di Dunia yang Menyimpan Risiko Kesehatan Tersembunyi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) dikenal luas di dapur-dapur Indonesia sebagai bahan pengasam alami, pengganti asam jawa atau tomat dalam berbagai masakan. Namun di balik popularitasnya, buah ini juga tercatat sebagai salah satu buah paling asam di dunia, dengan kandungan asam oksalat yang jauh lebih tinggi dibandingkan kerabat dekatnya, belimbing manis (Averrhoa carambola). Klaim keasaman ini  didukung oleh pengukuran laboratorium. Tingkat keasaman buah biasanya diukur lewat dua parameter, yaitu pH (skala yang menunjukkan konsentrasi ion hidrogen, semakin rendah nilainya semakin asam) dan titratable acidity atau keasaman tertitrasi (jumlah asam total yang dapat dinetralkan lewat proses titrasi dengan basa). Sebuah penelitian mencatat pH jus belimbing wuluh berada di angka 2,2, dengan titratable acidity sebesar 0,66 persen. Sebagai perbandingan, penelitian lain terhadap buah sejenis dari Brasil mencatat bahwa pH daging buahnya lebih rendah dibandingkan buah-buah yang lazim dianggap sangat asam oleh masyarakat umum, seperti lemon, acerola, dan markisa. Selain pH, kandungan asam oksalat pada belimbing wuluh juga tercatat mencapai 10 hingga 14 miligram per gram pada buah muda, dan 8 hingga 10 miligram per gram pada buah matang, jauh lebih tinggi dibandingkan belimbing manis. Buah belimbing wuluh bergelantungan lebat langsung dari cabang pohonnya, salah satu ciri khas tanaman ini yang mampu menghasilkan puluhan kilogram buah per tahun. Meski melimpah, buah ini nyaris tidak pernah dimakan langsung karena rasa asamnya yang sangat tajam. Foto: Fpalli/Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0) Buah ini berbentuk lonjong, panjang sekitar 4 sampai 10 sentimeter, dengan kulit tipis berlilin yang berubah dari hijau muda menjadi kuning kehijauan saat matang. Dagingnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/belimbing-wuluh-salah-satu-buah-paling-asam-di-dunia-yang-menyimpan-risiko-kesehatan-tersembunyi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/belimbing-wuluh-salah-satu-buah-paling-asam-di-dunia-yang-menyimpan-risiko-kesehatan-tersembunyi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jamin Hak dan Perlindungan,  Koalisi Masukkan 11 Poin Substansi RUU Masyarakat Adat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jamin-hak-dan-perlindungan-koalisi-masukkan-11-poin-substansi-ruu-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jamin-hak-dan-perlindungan-koalisi-masukkan-11-poin-substansi-ruu-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 13:00:22 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Themmy Doaly]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230639/Nikel-haltim-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131698</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Masyarakat sipil memakai momentum Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (Himas), 9 Agustus, mendesak pemerintah segera mengakui dan melindungi hak masyarakat masyarakat adat atas wilayahnya. Secara khusus, dalam proses penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) Masyarakat Adat. Tahun 2026, secara global, Himas mengambil tema “Menghormati dukun beranak: memajukan hak, memastikan keberlanjutan budaya dan mempromosikan kesejahteraan antar generasi.” Veni [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/jamin-hak-dan-perlindungan-koalisi-masukkan-11-poin-substansi-ruu-masyarakat-adat/">Jamin Hak dan Perlindungan,  Koalisi Masukkan 11 Poin Substansi RUU Masyarakat Adat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Masyarakat sipil memakai momentum Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (Himas), 9 Agustus, mendesak pemerintah segera mengakui dan melindungi hak masyarakat masyarakat adat atas wilayahnya. Secara khusus, dalam proses penyusunan Rancangan Undang-undang (RUU) Masyarakat Adat. Tahun 2026, secara global, Himas mengambil tema “Menghormati dukun beranak: memajukan hak, memastikan keberlanjutan budaya dan mempromosikan kesejahteraan antar generasi.” Veni Siregar, Koordinator Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat, bilang, tema dukun beranak berkaitan erat dengan pengetahuan masyarakat adat, khusus, perempuan adat, dalam melestarikan dan merawat pengetahuan tradisional. Peran penting itu terbukti dari kemampuan dukun beranak dalam melayani kebutuhan medis masyarakat, jauh sebelum ilmu dan teknologi kedokteran berkembang. Sampai sekarang, peran itu masih masyarakat adat butuhkan. Terutama di wilayah-wilayah yang belum terjangkau fasilitas dan layanan kesehatan dari negara. Namun, pengetahuan tradisional ini tidak mungkin bertahan tanpa kepastian dan jaminan terhadap ruang hidup masyarakat adat. Karena itu, pemerintah harus memberi pengakuan terhadap kedaulatan wilayah, pengetahuan tradisional dan pengakuan hak-hak perempuan adat. “Apalagi dukun beranak kerap kali menghadapi diskriminasi dan stigmatisasi ketika menjalankan perannya,” katanya pada Mongabay, Jumat (7/8/26). Proses pembersihan gabah oleh masyarakat adat Banasu, Kabupaten Sigi. Foto: Moh. Tamimi/Mongabay Indonesia. Subtansi hak perempuan adat dan pengetahuan trandisional hilang dari RUU Masyarakat Adat? Ironisnya, substansi tentang hak perempuan adat dan pengetahuan tradisional itu hilang dari usulan Badan Legislatif (Baleg). Hingga dalam suatu pertemuan dengan tenaga ahli Baleg dan Pimpinan DPR, Juli lalu, Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat meminta hak perempuan adat dan pengetahuan tradisional itu kembali masuk substansi RUU. “(Hak perempuan adat dan pengetahuan tradisional) itu hal yang&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/jamin-hak-dan-perlindungan-koalisi-masukkan-11-poin-substansi-ruu-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jamin-hak-dan-perlindungan-koalisi-masukkan-11-poin-substansi-ruu-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kepiting Raksasa Ini Bisa Angkat Beban 29 Kg dan Suka Makan Kelapa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kepiting-raksasa-ini-bisa-angkat-beban-29-kg-dan-suka-makan-kelapa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kepiting-raksasa-ini-bisa-angkat-beban-29-kg-dan-suka-makan-kelapa/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 10:00:54 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2023/02/22014938/Kepiting-kenari1-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131638</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bayangkan seekor kepiting dengan berat mencapai empat kilogram, tubuh sepanjang 40 sentimeter, dan bentangan kaki hingga dua meter. Satwa ini memiliki banyak nama. Selain kepiting kenari, ia juga dikenal sebagai ketam kenari, kepiting kelapa, dan kepiting pencuri atau robber crab. Sebutan terakhir berkaitan dengan kebiasaannya mengambil kelapa untuk dimakan. Kepiting kenari merupakan satwa dilindungi berdasarkan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kepiting-raksasa-ini-bisa-angkat-beban-29-kg-dan-suka-makan-kelapa/">Kepiting Raksasa Ini Bisa Angkat Beban 29 Kg dan Suka Makan Kelapa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bayangkan seekor kepiting dengan berat mencapai empat kilogram, tubuh sepanjang 40 sentimeter, dan bentangan kaki hingga dua meter. Satwa ini memiliki banyak nama. Selain kepiting kenari, ia juga dikenal sebagai ketam kenari, kepiting kelapa, dan kepiting pencuri atau robber crab. Sebutan terakhir berkaitan dengan kebiasaannya mengambil kelapa untuk dimakan. Kepiting kenari merupakan satwa dilindungi berdasarkan SK MenHut No.12/Kpts/II/1987 dan Peraturan Pemerintah No.7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Dan masuk dalam Daftar Merah Spesies IUCN dengan status Rentan (Vulnerable/VU). Meski berstatus hewan dilindungi, tetapi kepiting kenari kerap diburu dan dijual untuk dikonsumsi. Bahkan harganya sangat mahal, bisa mencapai Rp800.000 per ekornya. Di Indonesia, kepiting kenari dapat ditemukan di beberapa wilayah, salah satunya Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Di kawasan ini, mereka biasa tinggal di lubang-lubang bebatuan di pesisir pantai atau di antara bekas kayu. Kepiting kenari memiliki ketertarikan kuat terhadap kelapa. Warga Togean bahkan menggunakan potongan daging kelapa sebagai umpan. Potongan itu ditebar di sekitar lubang persembunyian. Saat malam tiba, kepiting akan mencium aroma kelapa, keluar dari lubangnya, lalu memakan umpan tersebut. Mengapa kepiting kenari begitu menyukai kelapa? Jawabannya ternyata belum benar-benar diketahui. Artikel Mongabay Indonesia mencatat belum banyak penelitian yang menjelaskan alasan di balik kegemaran tersebut. Namun, penelitian di Kepulauan Togean menunjukkan bahwa buah kelapa merupakan umpan paling efektif untuk menariknya keluar dari lubang. Kemampuan kepiting kenari juga tidak bisa dianggap remeh. Capitnya sangat kuat dan disebut mampu mengangkat beban hingga 29 kilogram. Selain itu, satwa ini mampu memanjat pohon kelapa, kemampuan yang ikut menarik perhatian wisatawan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kepiting-raksasa-ini-bisa-angkat-beban-29-kg-dan-suka-makan-kelapa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/kepiting-raksasa-ini-bisa-angkat-beban-29-kg-dan-suka-makan-kelapa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Jalan Panjang Soge Natarmage dan Goban Runut Pertahankan Tanah Ulayat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jalan-panjang-soge-natarmage-dan-goban-runut-pertahankan-tanah-ulayat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jalan-panjang-soge-natarmage-dan-goban-runut-pertahankan-tanah-ulayat/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 09:01:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/09085429/Sikka-1r56777-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131691</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Hutan adat, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Antonius Toni,  tersentak saat dapat kabar terjadi penggusuran di kediamannya, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh PT Kristus Raja Maumere (Krisrama), 22 Januari 2025. Kala itu, dia tengah menghadiri sidang delapan warga adat desa itu di Pengadilan Negeri (PN) Maumere. Dia panik, langsung balik pulang. Sampai di desa, pria 61 [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/jalan-panjang-soge-natarmage-dan-goban-runut-pertahankan-tanah-ulayat/">Jalan Panjang Soge Natarmage dan Goban Runut Pertahankan Tanah Ulayat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Antonius Toni,  tersentak saat dapat kabar terjadi penggusuran di kediamannya, Desa Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) oleh PT Kristus Raja Maumere (Krisrama), 22 Januari 2025. Kala itu, dia tengah menghadiri sidang delapan warga adat desa itu di Pengadilan Negeri (PN) Maumere. Dia panik, langsung balik pulang. Sampai di desa, pria 61 tahun ini terperangah melihat rumah-rumah dan tanaman tani Soge Natarmage dan Goban Runut, keduanya, sub Suku Tana Ai,  sudah hancur. Ekskavator perusahaan sudah beraksi, masyarakat terusir. Aparat mengawal ketat. Hanya isak tangis dan histeris masyarakat menyaksikan rumah hancur sekejap. Sebagian warga, kata Antonius, sampai pingsan hingga dibawa ke rumah sakit. “Kondisi di desa saat itu sepi, tidak ada yang berjaga karena tidak ada informasi akan ada penggusuran saat itu. Saya menangis. Rumah itu saya bangun susah payah,” kata pegiat dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) NTT ini kepada Mongabay Indonesia, Kamis, (9/7/26). Bapak lima anak ini berusaha tegar, sembari mengaisi puing-puing reruntuhan rumah berukuran 8&#215;6 meter dan harta benda tersisa. Sebagian dia serahkan ke polisi sebagai bukti pelaporan. “Langsung kami laporkan polisi, tapi sampai hari ini tidak ditanggapi.” Kini, Anton dan masyarakat adat yang lain terpaksa mengungsi. “Saya sekarang tinggal di rumah anak. Rumah sudah hancur, pasrah saja.” Penggusuran ini berdasarkan klaim sertifikat hak guna usaha (HGU) Krisrama, perusahan milik keuskupan Maumere yang bergerak bidang perkebunan kelapa. Mereka mengklaim, lahan-lahan yang masyarakat tempati masuk HGU. John Balla, Pengurus Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di Sikka mengatakan, HGU perusahaan sudah kadaluarsa sejak 2013. Permohonan perpanjangan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/jalan-panjang-soge-natarmage-dan-goban-runut-pertahankan-tanah-ulayat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/jalan-panjang-soge-natarmage-dan-goban-runut-pertahankan-tanah-ulayat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ular Laut Ini Mencatat Rekor Menyelam hingga Kedalaman 245 Meter</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/ular-laut-ini-mencatat-rekor-menyelam-hingga-kedalaman-245-meter/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/ular-laut-ini-mencatat-rekor-menyelam-hingga-kedalaman-245-meter/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 07:49:03 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/02/21233834/omar-roque-n_dEPUaTAFk-unsplash-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131694</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Ular laut merupakan salah satu kelompok reptil laut yang paling banyak ditemukan di perairan tropis dan subtropis, termasuk di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara. Selama puluhan tahun, pengetahuan tentang perilaku dan sebaran ular laut sebagian besar berasal dari pengamatan di perairan dangkal, seperti terumbu karang, muara, dan kawasan pesisir yang relatif mudah diakses penyelam maupun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/ular-laut-ini-mencatat-rekor-menyelam-hingga-kedalaman-245-meter/">Ular Laut Ini Mencatat Rekor Menyelam hingga Kedalaman 245 Meter</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Ular laut merupakan salah satu kelompok reptil laut yang paling banyak ditemukan di perairan tropis dan subtropis, termasuk di kawasan Indonesia dan Asia Tenggara. Selama puluhan tahun, pengetahuan tentang perilaku dan sebaran ular laut sebagian besar berasal dari pengamatan di perairan dangkal, seperti terumbu karang, muara, dan kawasan pesisir yang relatif mudah diakses penyelam maupun peneliti. Anggapan umum yang berkembang adalah bahwa ular laut, sebagai reptil yang bernapas dengan paru-paru, memiliki keterbatasan alami dalam menyelam ke laut dalam. Namun, sebuah temuan yang dipublikasikan beberapa tahun lalu menunjukkan bahwa batas kemampuan menyelam ular laut mungkin jauh lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya. Seekor ular laut tercatat berenang pada kedalaman 245 meter di perairan lepas pantai Australia Barat, sebuah catatan yang menjadi penyelaman terdalam yang diketahui untuk kelompok reptil tersebut. Ular laut umumnya berburu mangsa di dekat dasar laut atau sedimen, seperti terlihat pada foto ini. Perilaku serupa juga teramati pada individu yang menyelam hingga kedalaman 245 meter di Australia | Foto: Jenna Crowe-Riddell Ular itu terekam kamera kendaraan bawah air yang dikendalikan dari permukaan atau remotely operated vehicle (ROV) di Browse Basin, North West Shelf, Australia, pada tahun 2014. ROV jenis ini umumnya dioperasikan oleh industri minyak dan gas untuk inspeksi infrastruktur bawah laut, dan rekamannya kemudian dimanfaatkan peneliti untuk mengamati satwa di kedalaman yang sulit dijangkau metode survei perairan dangkal. Identifikasi hingga tingkat spesies tidak dapat dilakukan dari rekaman tersebut, tetapi peneliti memasukkan individu ini ke dalam kelompok Hydrophis. Hampir tiga tahun kemudian, ROV kembali merekam seekor ular laut di&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/ular-laut-ini-mencatat-rekor-menyelam-hingga-kedalaman-245-meter/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/ular-laut-ini-mencatat-rekor-menyelam-hingga-kedalaman-245-meter/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Petugas Gagalkan Aksi Jual-beli Owa Sumatera  via Ojek Online</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/09/petugas-gagalkan-aksi-jual-beli-owa-sumatera-via-ojek-online/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/09/petugas-gagalkan-aksi-jual-beli-owa-sumatera-via-ojek-online/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 02:35:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ayat S Karokaro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kera besar]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Satwa]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/08085905/Habitatnya-rusak-Owa-Sumatera-diburu-dan-diperdagangkan-secara-ilegalfoto-Ayat-S-Karokaro-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131662</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sumatera dan sumatera utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kera besar, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Polisi Kehutanan Wilayah 3 Stabat Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) menggagalkan perdagangan owa Sumatera  21 Juli lalu. Kelompok ini memanfaatkan aplikasi ojek online dengan sistem bayar di tempat atau cash on delivery (COD). Petugas mengamankan pengemudi ojek pria berinisial B di Warkop [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/petugas-gagalkan-aksi-jual-beli-owa-sumatera-via-ojek-online/">Petugas Gagalkan Aksi Jual-beli Owa Sumatera  via Ojek Online</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Polisi Kehutanan Wilayah 3 Stabat Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) menggagalkan perdagangan owa Sumatera  21 Juli lalu. Kelompok ini memanfaatkan aplikasi ojek online dengan sistem bayar di tempat atau cash on delivery (COD). Petugas mengamankan pengemudi ojek pria berinisial B di Warkop Agam 2, Kota Binjai, saat mengirimkan satu owa Sumatera (Symphalangus syndactylus) anakan. Pelaku mengaku barang itu milik Raihan, yang memesan jasa pengantaran melalui aplikasi Gojek. Petugas kemudian mengejar dan menangkap Raihan yang melarikan dir ke   belakang Supermall Binjai. “Itu bukan barangku, Bang. Owa Sumatera itu punya Thomas, dia sekarang lagi di Kamboja. Aku disuruh mengirimkan barang saja, Bang, kepada pemesannya,” kata  Raihan. Yang dia maksud ialah Thomas Raider Chaniago, residivis kasus perdagangan satwa liar. Thomas bertugas mencari pembeli dan menetapkan harga, sedangkan Raihan mengurus pengiriman. Di dalam aplikasi WhatsApp-nya, terlihat jelas perbincangan antara Raihan dan Thomas terkait pengadaan barang, rencana pengiriman, serta pemesanan satwa liar yang dilindungi. Selain itu, terdapat pula ratusan foto satwa yang jadi objek perdagangan. Keduanya pernah petugas amankan pada 2022 saat akan menjual anak orangutan Sumatera tetapi dia lolos dari jerat hukum karena petugas anggap tidak terlibat. Petugas kemudian serahkan owa Sumatera yang mereka amankan ke pusat rehabilitasi Sumatran Rescue Alliance (SRA) di Kabupaten Langkat. Sementara, Raihan petugas serahkan ke Markas Komando Satuan Polisi Reaksi Cepat (SPORC) Brigade Macan Tutul, Balai Gakkumhut Wilayah 1 Medan di Marindal untuk proses hukum lebih lanjut. Leo Hutapea, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Gojek Sudirman Medan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/09/petugas-gagalkan-aksi-jual-beli-owa-sumatera-via-ojek-online/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/09/petugas-gagalkan-aksi-jual-beli-owa-sumatera-via-ojek-online/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Perempuan Hebat Batin Sembilan, Kelola 399 Hektar Hutan Komunal dan Ahlinya Obat Tradisional</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/perempuan-hebat-batin-sembilan-kelola-399-hektar-hutan-komunal-dan-ahlinya-obat-tradisional/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/perempuan-hebat-batin-sembilan-kelola-399-hektar-hutan-komunal-dan-ahlinya-obat-tradisional/#respond</comments>
					<pubDate>09 Agu 2026 01:00:08 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
							<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/03/08093151/Gendum-untuk-upacara-adat-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131609</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, dan Masyarakat Adat]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi masyarakat adat Batin Sembilan di Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, hutan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Hutan juga menjadi sumber makanan, ruang hidup, dan tempat memperoleh berbagai tumbuhan yang mereka gunakan sebagai obat. Pengetahuan itu masih dipegang oleh Yunani, perempuan Batin Sembilan berusia 40 tahun. Ketika suaminya meriang, ia masuk ke hutan yang hanya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/perempuan-hebat-batin-sembilan-kelola-399-hektar-hutan-komunal-dan-ahlinya-obat-tradisional/">Perempuan Hebat Batin Sembilan, Kelola 399 Hektar Hutan Komunal dan Ahlinya Obat Tradisional</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi masyarakat adat Batin Sembilan di Desa Bungku, Kabupaten Batanghari, Jambi, hutan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Hutan juga menjadi sumber makanan, ruang hidup, dan tempat memperoleh berbagai tumbuhan yang mereka gunakan sebagai obat. Pengetahuan itu masih dipegang oleh Yunani, perempuan Batin Sembilan berusia 40 tahun. Ketika suaminya meriang, ia masuk ke hutan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumah untuk mencari pasak bumi. Akar tanaman tersebut kemudian direbus sebagai obat penurun panas. Saat mengambil pasak bumi, Yunani tidak mencabut seluruh tanaman. Ia hanya mengupas sebagian akarnya. Dengan begitu, tanaman tidak rusak dan tetap dapat tumbuh. Bagi Yunani, tumbuhan obat masih banyak tersedia di hutan tempat masyarakat Batin Sembilan tinggal. Pengetahuan tentang tumbuhan obat sudah dikenalkan sejak kecil dan diwariskan oleh orang tua. Masyarakat mengetahui pasak bumi sebagai tanaman untuk menguatkan tubuh, daun kandis untuk menurunkan demam, serta kulit kayu berumbung yang digunakan untuk mengobati malaria. Berbagai tumbuhan lainnya juga memiliki kegunaan berbeda. Ketika anak mengalami campak, masyarakat menggunakan kulit sengkuang. Untuk luka akibat parang atau duri, getah dan urat akar sekriput ditempelkan pada bagian yang terluka. Sementara rebusan akar kait-kait digunakan ketika tubuh terasa letih. Tumbuhan hutan juga hadir dalam kehidupan masyarakat sejak kelahiran. Ketika seorang bayi lahir, perempuan Batin Sembilan mencari kulit kayu terap. Serat kulit kayunya dipintal untuk mengikat ari-ari. Ada pula tumbuhan yang memiliki peran dalam kehidupan spiritual. Buah gendum, sejenis sorgum, merupakan salah satu syarat dalam Besale, ritual penyembuhan dan pembersihan roh yang menghubungkan masyarakat dengan arwah nenek moyang. Bagi para perempuan Batin Sembilan,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/perempuan-hebat-batin-sembilan-kelola-399-hektar-hutan-komunal-dan-ahlinya-obat-tradisional/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/perempuan-hebat-batin-sembilan-kelola-399-hektar-hutan-komunal-dan-ahlinya-obat-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Cek Kualitas Ruang Hijau Perkotaan, Cukup Amati Burung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cek-kualitas-ruang-hijau-perkotaan-cukup-amati-burung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cek-kualitas-ruang-hijau-perkotaan-cukup-amati-burung/#respond</comments>
					<pubDate>08 Agu 2026 23:41:25 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/02/22004707/burung-taman-surapati-smartcity.jakarta.go_.id_-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131618</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di tengah gedung, jalan raya, dan padatnya aktivitas manusia di Jakarta, burung ternyata dapat membantu menunjukkan kualitas ruang terbuka hijau. Kehadiran mereka bukan sekadar membuat taman kota terasa lebih hidup. Dalam penelitian lingkungan, burung dapat digunakan sebagai bioindikator atau penanda kondisi suatu lingkungan. Alasannya berkaitan dengan kehidupan burung yang sangat bergantung pada pepohonan. Pohon digunakan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cek-kualitas-ruang-hijau-perkotaan-cukup-amati-burung/">Cek Kualitas Ruang Hijau Perkotaan, Cukup Amati Burung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di tengah gedung, jalan raya, dan padatnya aktivitas manusia di Jakarta, burung ternyata dapat membantu menunjukkan kualitas ruang terbuka hijau. Kehadiran mereka bukan sekadar membuat taman kota terasa lebih hidup. Dalam penelitian lingkungan, burung dapat digunakan sebagai bioindikator atau penanda kondisi suatu lingkungan. Alasannya berkaitan dengan kehidupan burung yang sangat bergantung pada pepohonan. Pohon digunakan untuk mencari makanan, berlindung, beristirahat, hingga berkembang biak. Karena itu, perubahan kondisi vegetasi di suatu kawasan dapat ikut memengaruhi jenis burung yang mampu hidup di sana. Menurut Walid Rumblat, Dosen Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penyebaran berbagai jenis burung dapat dipengaruhi oleh fragmentasi habitat dan struktur habitat. Burung juga relatif mudah diamati dibandingkan kelompok hewan lain. Data mengenai jenis dan taksonominya pun sudah banyak diketahui. Namun, menilai kualitas ruang hijau tidak cukup hanya dengan menghitung jumlah burung. Jenis burung yang ditemukan juga penting. Burung dengan kebutuhan ekologis yang lebih khusus mendapatkan nilai lebih tinggi dalam penilaian. Salah satu contohnya adalah betet biasa. Sebaliknya, jika sebuah kawasan hanya dihuni burung yang umum dijumpai seperti burung gereja atau emprit, nilainya lebih rendah. Penilaian tersebut dapat dilakukan menggunakan Indeks Komunitas Burung atau IKB. Sebelum menghitungnya, burung dikelompokkan berdasarkan sejumlah karakter, seperti jenis makanan, asal spesies, strategi reproduksi, lokasi sarang, waktu aktivitas, dan habitat utamanya. Dari nilai IKB kemudian dapat ditentukan kategori kualitas lingkungan. Burung juga memiliki posisi penting dalam rantai makanan. Jenis yang berada pada tingkat trofik lebih tinggi dapat mencerminkan perubahan yang terjadi pada tingkat di bawahnya. Komposisi komunitas burung juga dapat menunjukkan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cek-kualitas-ruang-hijau-perkotaan-cukup-amati-burung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/cek-kualitas-ruang-hijau-perkotaan-cukup-amati-burung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bagaimana Dorong Tata Kelola Laut dan Pesisir Berkeadilan?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/08/bagaimana-dorong-tata-kelola-laut-dan-pesisir-berkeadilan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/08/bagaimana-dorong-tata-kelola-laut-dan-pesisir-berkeadilan/#respond</comments>
					<pubDate>08 Agu 2026 12:39:07 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/08/29174658/Penampakan-Kampung-Suku-Laut-Air-Mas-di-Pesisir-Pulau-Tanjung-Sauh-Kota-Batam-Sabtu-2-Agustus-2025.-Foto-Yogi-Eka-Sahputra-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131655</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[sulawesi dan sulawesi selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, Masyarakat Adat, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Lebih dari 17.000  gugusan pulau-pulau di nusantara bukan sekadar angka. Ada kehidupan dan ekosistem yang perlu jaga karena pulau-pulau kecil dan terluar ini bak benteng penjaga sekaligus paling rentan jika terjadi bencana. M. Abdillah Maulana, pemuda dari Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel) membagi pengalamannya dalam menata ruang hidup serta upaya mempertahankan kelestarian pesisir [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/bagaimana-dorong-tata-kelola-laut-dan-pesisir-berkeadilan/">Bagaimana Dorong Tata Kelola Laut dan Pesisir Berkeadilan?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Lebih dari 17.000  gugusan pulau-pulau di nusantara bukan sekadar angka. Ada kehidupan dan ekosistem yang perlu jaga karena pulau-pulau kecil dan terluar ini bak benteng penjaga sekaligus paling rentan jika terjadi bencana. M. Abdillah Maulana, pemuda dari Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel) membagi pengalamannya dalam menata ruang hidup serta upaya mempertahankan kelestarian pesisir dan perairan pulau kelahirannya. Dia merasa beruntung karena sejak kecil, orang tuanya memperkenalkan ekosistem pulau seperti mangrove dan rumput laut. “Orang tua memperkenalkan secara dini pada anaknya menanam mangrove, menjaganya. Anak sekolah diarahkan terjun langsung ke pulau untuk mengenal padang lamun, terumbu karang,” katanya. Menurut dia, bagi pemuda Tanakeke, pengetahuan pesisir adalah warisan turun temurun. Semasa kecil, orang tuanya kerap mengajak menanam mangrove saat laut sedang surut. Di tempatnya, warga terbilang masih sangat produktif. Sekitar 90% penghidupan mereka berasal dari nelayan dan petani rumput laut. Ekosistem utama pulau ini adalah hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. “Warga memanfaatkan pengetahuan lokal seperti musim ikan, arah angin, dan pola pasang surut dalam aktivitas melaut. Mereka mengenali lokasi pemijahan ikan yang perlu dilindungi,” katanya. Meski begitu, kata Maulana, hal itu bukan berarti tanpa tantangan. Dalam beberapa tahun terakhir, katanya, praktik pembukaan tambak di  pesisir menghadirkan ancaman terhadap ekosistem mangrove disana. Dampaknya, saat pasang, air laut kian merangsek masuk ke daratan. Alief Fachrul Raazy, Program Manager Yayasan Konservasi Laut Indonesia (YKLI) ikut membagikan pengalaman terkait praktik dan tantangan pengelolaan pesisir dan ruang laut berbasis masyarakat, terutama di wilayah administrasi perkotaan. Kebetulan, lembaganya turut mendampingi warga di sejumlah pulau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/bagaimana-dorong-tata-kelola-laut-dan-pesisir-berkeadilan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/08/bagaimana-dorong-tata-kelola-laut-dan-pesisir-berkeadilan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kisah Bertahannya Danau Burung di Tempirai</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/08/kisah-bertahannya-danau-burung-di-tempirai/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/08/kisah-bertahannya-danau-burung-di-tempirai/#respond</comments>
					<pubDate>08 Agu 2026 10:26:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Taufik Wijaya]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/08102057/Azizah-tengah-mencari-ikan-menggunakan-tangan-di-sebuah-lebung-kecil.-Lebung-lebung-di-Danau-Burung-bekas-kubangan-gajah-sumatera-di-masa-lalu.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131665</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Sumatera Selatan]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, komunitas lokal, Lahan Basah, pangan, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Matahari di atas kepala, ketika Azizah (46) bersama satu anaknya, dua adiknya, dan dua keponakannya, mencari ikan di sebuah lebung kecil di wilayah Danau Burung, Minggu (2/7/26). Mereka menangkap ikan menggunakan tangan dan selembar waring. “Terakhir saya melebung di sini, sekitar 38 tahun lalu, saat masih anak-anak,” kata Azizah, sembari menunjukkan ikan tembakang (Helostoma temminckii) [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/kisah-bertahannya-danau-burung-di-tempirai/">Kisah Bertahannya Danau Burung di Tempirai</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Matahari di atas kepala, ketika Azizah (46) bersama satu anaknya, dua adiknya, dan dua keponakannya, mencari ikan di sebuah lebung kecil di wilayah Danau Burung, Minggu (2/7/26). Mereka menangkap ikan menggunakan tangan dan selembar waring. “Terakhir saya melebung di sini, sekitar 38 tahun lalu, saat masih anak-anak,” kata Azizah, sembari menunjukkan ikan tembakang (Helostoma temminckii) yang berhasil ditangkapnya. “Saat itu, melebungnya ramai-ramai. Puluhan dan mungkin ratusan orang. Dari anak-anak hingga orang dewasa. Bahagia nian, seperti sekarang ini. Ikan yang paling banyak di Danau Burung saat itu adalah ikan serandang (Channa pleurophthalma),” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Mereka datang ke Danau Burung, yang jaraknya sekitar tujuh kilometer dari Tempirai, berjalan kaki atau naik sepeda. Hingga saat ini, saat musim kemarau Danau Burung dapat didatangi melalui jalan darat. Musim penghujan, berkunjung ke sini hanya melalui air atau menggunakan perahu. Azizah ingat, selain manusia, saat musim kemarau Danau Burung juga dikunjungi ratusan hingga ribuan burung pemakan ikan. Paling paling banyak kawanan burung kuntul, baik kuntul kecil (Egretta garzetta) dan kuntul kerbau (Bubulcus ibis). “Warga juga banyak berburu burung, yang dapat dikonsumsi, seperti belibis batu (Dendrocygna javanica) dan burung ayam-ayaman (Gallicrex cinerea). Banyaknya burung yang mungkin membuat kawasan rawa gambut ini disebut Danau Burung.” Dua jam berusaha di dua lebung kecil, mereka mendapatkan beberapa kilogram ikan. Selain ikan tembakang, mereka juga mendapatkan ikan gabus (Channa striata) dan ikan toman (Channa micropeltes). Saat pulang ke rumah di Desa Tempirai, ikan yang mereka tangkap selain dikonsumsi, juga dibagikan ke tetangga. “Sudah lama tidak makan ikan dari Danau&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/kisah-bertahannya-danau-burung-di-tempirai/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/08/kisah-bertahannya-danau-burung-di-tempirai/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ekspansi Tambang Nikel Terus Hantui Raja Ampat</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ekspansi-tambang-nikel-terus-hantui-raja-ampat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ekspansi-tambang-nikel-terus-hantui-raja-ampat/#respond</comments>
					<pubDate>08 Agu 2026 03:39:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Achmad Rizki Muazam]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/06/21230947/Greenpeace-Raja-Ampat-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131645</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[papua dan raja ampat]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bahaya, hutan indonesia, Kelautan perikanan, Masyarakat Adat, pencemaran, Pertambangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; Raja Ampat belum lepas dari  bahaya nikel ketika satu perusahaan masih beroperasi, kini tiga perusahaan tambang sedang proses dapatkan perizinan lagi. Laporan Greenpeace Indonesia berjudul  Surga yang Tak Terlindungi itu menyebut,  tiga perusahaan tengah proses izin pertambangan nikel itu di bagian timur Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Perusahaan itu ialah PT Raja [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/ekspansi-tambang-nikel-terus-hantui-raja-ampat/">Ekspansi Tambang Nikel Terus Hantui Raja Ampat</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; Raja Ampat belum lepas dari  bahaya nikel ketika satu perusahaan masih beroperasi, kini tiga perusahaan tambang sedang proses dapatkan perizinan lagi. Laporan Greenpeace Indonesia berjudul  Surga yang Tak Terlindungi itu menyebut,  tiga perusahaan tengah proses izin pertambangan nikel itu di bagian timur Pulau Waigeo, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Perusahaan itu ialah PT Raja Ampat Nikel Abadi (RANA), PT Waegeo Mineral Mining (WMM), dan PT Eka Kurnia Baru (EKB). Menurut laporan Greenpeace, RANA adalah perusahaan nikel baru. Mereka sedang sosialisasi kepada warga di Kampung Urbinasopen, sepanjang 2025. Anggi Putra Prayoga, Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia bilang, lokasi konsesi RANA belum jelas. Ada kemungkinan perusahaan itu menambang di Kampung Urbinasopen. Menurut informasi pemerintah provinsi, mereka bakal mengeruk nikel di daerah dekat Kampung Yenbekaki. “Respons masyarakat di Kampung Urbinasopen yang merupakan keluarga dari salah satu pemilik saham tidak ada penolakan,” ujar Anggi kepada Mongabay Indonesia. Dua perusahaan lain, EKB dan WMM, mengantongi izin tambang sejak lama. Bupati Raja Ampat menerbitkan dua IUP operasi produksi EKB pada 2013 dengan komoditi berbeda. Pertama, IUP tambang nikel bernomor 317 dengan luas 6.438 hektar berlaku hingga 2033. Kedua, IUP tambang batubara bernomor 286 yang berlaku hingga 2033. Hingga awal 2023, IUP tidak Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba) masukkan ke dalam &#8220;Daftar IUP yang Memenuhi Ketentuan” agar dapat beroperasi. Anggi bilang, EKB kemudian mengajukan dua gugatan atas kedua IUP itu di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta melawan Dirjen Minerba. Gugatan pertama mereka ajukan tertanggal 1 Agustus 2023 dengan nomor perkara 349/G/TF/2023/PTUN.JKT. “Kemudian diputus pada 26&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/ekspansi-tambang-nikel-terus-hantui-raja-ampat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ekspansi-tambang-nikel-terus-hantui-raja-ampat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Ancaman Badai Matahari Bisa Dua Kali Lebih Parah dari Perkiraan, Ancam Jaringan Listrik dan Satelit Global: NASA</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global-nasa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global-nasa/#respond</comments>
					<pubDate>08 Agu 2026 01:41:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/08/08012442/26922431430_fded113219_b-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131641</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama puluhan tahun, ilmuwan dan operator satelit meyakini bahwa medan magnet Bumi memiliki batas alami dalam merespons badai Matahari, sehingga kerusakan pada jaringan listrik dan satelit tidak akan melampaui ambang tertentu. Sebuah studi yang dipimpin oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menantang asumsi itu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa batas jenuh geomagnetik yang selama ini diyakini [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global-nasa/">Ancaman Badai Matahari Bisa Dua Kali Lebih Parah dari Perkiraan, Ancam Jaringan Listrik dan Satelit Global: NASA</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama puluhan tahun, ilmuwan dan operator satelit meyakini bahwa medan magnet Bumi memiliki batas alami dalam merespons badai Matahari, sehingga kerusakan pada jaringan listrik dan satelit tidak akan melampaui ambang tertentu. Sebuah studi yang dipimpin oleh Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menantang asumsi itu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa batas jenuh geomagnetik yang selama ini diyakini kemungkinan besar hanyalah ilusi statistik, dan jika temuan ini benar, dampak badai Matahari ekstrem terhadap jaringan listrik dan satelit global bisa dua kali lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Studi ini dipublikasikan di jurnal Nature pada 15 Juli 2026, dipimpin oleh Dr. Nithin Sivadas dari Goddard Space Flight Center milik NASA,  mengkaji ulang data historis yang selama ini menjadi dasar model cuaca antariksa. Anggapan mengenai batas jenuh ini sebelumnya diterima secara luas di kalangan ilmuwan cuaca antariksa. Setidaknya sepuluh teori berbeda pernah diajukan untuk menjelaskan mengapa magnetosfer Bumi tampak tidak bisa merespons lebih jauh meski angin surya semakin kuat, mulai dari dugaan batas fisik pada rekoneksi medan magnet hingga tekanan plasma. Studi terbaru ini menunjukkan bahwa penjelasan tersebut tidak diperlukan karena batas itu kemungkinan tidak pernah benar-benar ada. Ilusi yang Muncul dari Kesalahan Pengukuran Selama ini, data cuaca antariksa banyak bergantung pada satelit yang berada di titik Lagrange 1 (L1), sekitar 1,5 juta kilometer dari Bumi ke arah Matahari, atau sekitar empat kali jarak Bumi ke Bulan. Titik ini dipilih karena satelit di sana bisa mendeteksi angin surya lebih dulu, sebelum partikel tersebut tiba di Bumi. Namun, jarak yang jauh ini juga menjadi masalah: kekuatan angin&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/08/ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global-nasa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/08/ancaman-badai-matahari-bisa-dua-kali-lebih-parah-dari-perkiraan-ancam-jaringan-listrik-dan-satelit-global-nasa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bisakah Ocean Calculator Selamatkan Pesisir Indonesia?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 10:36:37 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/07/22001444/Hamparan-mangrove-yang-kuat-berfungsi-seperti-benteng-melindungi-masyarakat-dari-badai-ekstrim.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=131636</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, Kelautan perikanan, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menerapkan Ocean Calculator, platform geospasial yang menggunakan neraca sumber daya laut (NSDL) atau ocean accounting. Tujuannya, untuk menghitung nilai ekonomi ekosistem laut dan pesisir secara tepat, akurat, dan berbasis data ilmiah. Penghitungannya, menggunakan teknologi satelit. Fathir Mohamad, Product and Engineering Manager World Resources Insitute (WRI) Indonesia, mengatakan Ocean Calculator [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/">Bisakah Ocean Calculator Selamatkan Pesisir Indonesia?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menerapkan Ocean Calculator, platform geospasial yang menggunakan neraca sumber daya laut (NSDL) atau ocean accounting. Tujuannya, untuk menghitung nilai ekonomi ekosistem laut dan pesisir secara tepat, akurat, dan berbasis data ilmiah. Penghitungannya, menggunakan teknologi satelit. Fathir Mohamad, Product and Engineering Manager World Resources Insitute (WRI) Indonesia, mengatakan Ocean Calculator didesain untuk membantu Pemerintah Indonesia membuat kebijakan berkaitan laut dan pesisir. “Namun, saat ini kita masih fokus kawasan pesisir,” jelasnya, Selasa (28/7/26). Ocean Calculator mengadopsi tujuh neraca, yaitu Neraca Aset Lingkungan/Ekosistem, Neraca Arus ke Ekonomi, Neraca Arus ke Lingkungan, Neraca Ekonomi Kelautan, Neraca Tata Kelola dan Kelembagaan, Presentasi Kombinasi/Semua Neraca, dan Neraca Kekayaan Laut yang dilingkupi  konteks sosial dan kelembagaan. Saat ini, platform tersebut baru mengadopsi 1,5 neraca. “Seluruh neraca nantinya digunakan untuk penerapan ocean account, sehingga mudah dipahami para pembuatan kebijakan.” Menjaga kelestarian mangrove bermanfaat bagi jutaan masyarakat pesisir di Indonesia. Foto: Nopri Ismi/Mongabay Indonesia. Data spasial Untuk menghasilkan hitungan tepat dan akurat, Ocean Calculator akan menggunakan data spasial lengkap. Ada tiga pilar saat Ocean Calculator diproses. Pertama, estimasi ilmiah untuk analisis mendalam jasa ekosistem, khususnya penyerapan karbon dan perlindungan pantai. Hitungannya, menggunakan koefisien berbobot kepadatan dan validasi spektral multi-indeks. “Seluruh metodologi didasarkan ilmu pengetahuan melalui proses peer review,” jelas Fathir. Kedua, pembaruan data otomatis ekologi melalui google earth engine menggunakan citra satelit resolusi tinggi dari Sentinel-2 dan Landsat-8 yang diperbarui otomatis. Ketiga, legitimasi Pemerintah untuk memastikan data yang digunakan resmi. Sumbernya, dari  KKP, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), atau Badan Perencanaan Pembangunan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/08/07/bisakah-ocean-calculator-selamatkan-pesisir-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nana, Seniman Otodidak yang Hidupkan Kembali Ban Bekas</title>
					<link>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/#respond</comments>
					<pubDate>07 Agu 2026 10:00:15 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akita Verselita]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2024/03/22004156/Nana-1-ban-bekas--768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=short-article&#038;p=131610</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[komunitas lokal dan tokoh]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi kebanyakan orang, ban sepeda motor yang sudah tidak terpakai mungkin hanya terlihat seperti sampah. Namun, di tangan Supriatna alias Nana, ban bekas justru berubah menjadi burung, lumba-lumba, harimau, dinosaurus, hingga kelelawar berukuran raksasa. Ide itu berawal dari masalah yang dia hadapi di Tempat Penampungan Sementara Terpadu (TPST) Sumedang Bersatu, Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/">Nana, Seniman Otodidak yang Hidupkan Kembali Ban Bekas</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi kebanyakan orang, ban sepeda motor yang sudah tidak terpakai mungkin hanya terlihat seperti sampah. Namun, di tangan Supriatna alias Nana, ban bekas justru berubah menjadi burung, lumba-lumba, harimau, dinosaurus, hingga kelelawar berukuran raksasa. Ide itu berawal dari masalah yang dia hadapi di Tempat Penampungan Sementara Terpadu (TPST) Sumedang Bersatu, Desa Cempokomulyo, Kepanjen, Kabupaten Malang. Sejak menjadi Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Sumedang Bersatu pada 2014, Nana melihat berton-ton ban bekas menumpuk di sana. TPST tersebut sebenarnya telah mengolah berbagai jenis sampah. Sampah organik dijadikan kompos, sedangkan botol plastik, kaca, kertas, dan sampah bernilai ekonomi dikirim ke pabrik daur ulang. Masalahnya, ban bekas tidak laku dan tidak boleh dikirim ke TPA Talangagung. Nana kemudian mencari cara lain. Secara otodidak, pada 2016 dia mulai mengubah ban bekas menjadi karya seni berbentuk burung dan serangga. Awalnya, dia menggunakan kayu sebagai rangka. Potongan ban kemudian dianyam dan dikaitkan menggunakan paku serta kawat. Karya-karya tersebut dipajang di sekitar TPST. Setelah fotonya diunggah ke Facebook, seorang guru dari sekolah Adiwiyata di Kepanjen tertarik membelinya. Pesanan kemudian mulai berdatangan dari berbagai daerah. Seiring waktu, teknik Nana berkembang. Kayu yang mudah rapuh diganti dengan pipa PVC. Untuk karya berukuran besar, ia menggunakan beton eser sebagai kerangka. Prosesnya dimulai dengan mengamati bentuk tubuh atau morfologi satwa yang akan dibuat. Nana lalu menggambar satwa tersebut di dinding sesuai ukuran yang diinginkan. Gambar itu menjadi pola untuk menentukan ukuran besi pembentuk rangka. Kerangka disambungkan menggunakan las listrik. Setelah itu, ban bekas dipotong, disusun, dan dipasang mengelilingi rangka menggunakan sekrup serta kuncian&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/short-article/2026/08/nana-seniman-otodidak-yang-hidupkan-kembali-ban-bekas/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>