<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/" xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/" >

	<channel>
		<title>Mongabay.co.id</title>
		<atom:link href="https://mongabay.co.id/feed/?byline=anton-muhajir-tabanan&#038;post_type=post" rel="self" type="application/rss+xml" />
		<link>https://mongabay.co.id/byline/anton-muhajir-tabanan/</link>
		<description>Situs berita lingkungan</description>
		<lastBuildDate>Tue, 14 Apr 2026 15:01:10 +0000</lastBuildDate>
		<language>id</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>
				<item>
					<title>Hakim Ruteng Bebaskan Yohanes Flori dari Jerat Hukum Rusak Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/14/vonis-flori-dan-potret-buruknya-perlindungan-masyarakat-adat/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/14/vonis-flori-dan-potret-buruknya-perlindungan-masyarakat-adat/#respond</comments>
					<pubDate>14 Apr 2026 15:01:10 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ebed de Rosary]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas loka;]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/14073319/1-5-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126408</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[flores dan nusa tenggara timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yohanes Flori, petani di Kabupaten Manggarai Timur akhirnya bisa bernapas lega. Setelah sempat tiga bulan mendekam di penjara, Pengadilan Negeri (PN) Ruteng membebaskan  dari segala dakwaan.  Warga adat Lando Lawi ini terjerat hukum karena tebang pohon untuk bangun rumah di tanah adat yang dalam klaim negara masuk kawasan konservasi. Pria 35 tahun ini  kena dakwa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/14/vonis-flori-dan-potret-buruknya-perlindungan-masyarakat-adat/">Hakim Ruteng Bebaskan Yohanes Flori dari Jerat Hukum Rusak Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yohanes Flori, petani di Kabupaten Manggarai Timur akhirnya bisa bernapas lega. Setelah sempat tiga bulan mendekam di penjara, Pengadilan Negeri (PN) Ruteng membebaskan  dari segala dakwaan.  Warga adat Lando Lawi ini terjerat hukum karena tebang pohon untuk bangun rumah di tanah adat yang dalam klaim negara masuk kawasan konservasi. Pria 35 tahun ini  kena dakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) menebang pohon di Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng pada 2025. Majelis hakim yang menyidangkan kasus ini menyatakan tidak ada bukti atas tudingan itu. “Memulihkan hak-hak terdakwa dalam kemampuan, kedudukan dan harkat serta martabatnya.Membebankan biaya perkara kepada negara,” kata  I Made Hendra Satra Dharma, ketua sidang saat membacakan putusan terdakwa, Jumat (10/4/26). Kasus ini bermula pada Kamis (20/3/25), saat petugas dari TWA Ruteng dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Nusa Tenggara Timur (NTT) mendatangi Flori di rumahnya di Lok Pahar, Desa Compang Lawi, Manggarai Timur, Nusa Tenggara  Timur. Selain menuding menebang pohon jenis kempo (Palaquium obovatum) dan duar (Lindera polyantha) di  TWA, petugas juga mempersoalkan rumah kayu Fori yang diklaim berada di kawasan konservasi. Fori pun menepis tudingan itu. Menurut dia, lokasi  rumahnya berdiri merupakan wilayah adat Lando Lawi. Bahkan,  sebagian kayu-kayu yang dia pakai untuk membangun rumah dia tebang bersama tetua Tua Teno, pemimpin adat bagian lahan pertanian. Begitu juga dengan kebun garapannya. Menurut dia, lahan itu sudah sembilan tahun dia garap setelah mendapat persetujuan dari tetua adat. “Pada  2022 saya minta izin ke Tua Teno lalu saya melakukan penebangan pohon di Maret 2025,” katanya. Sayangnya, penjelasan Flori&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/14/vonis-flori-dan-potret-buruknya-perlindungan-masyarakat-adat/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/14/vonis-flori-dan-potret-buruknya-perlindungan-masyarakat-adat/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Beratnya Lebih dari 2 Ton, Inilah Arsitektur Sarang Burung Terbesar di Dunia</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/14/beratnya-lebih-dari-2-ton-inilah-arsitektur-sarang-burung-terbesar-di-dunia/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/14/beratnya-lebih-dari-2-ton-inilah-arsitektur-sarang-burung-terbesar-di-dunia/#respond</comments>
					<pubDate>14 Apr 2026 07:15:42 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/14070301/ksc-eagles-nest-9936e4-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126397</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Dunia unggas memiliki beragam jenis arsitek alami yang mumpuni dengan kemampuan konstruksi melampaui logika ukuran tubuh mereka. Namun, tidak ada yang mampu menandingi ambisi serta ketelatenan elang botak (Haliaeetus leucocephalus) dalam membangun hunian permanen. Burung pemangsa ini memegang rekor dunia sebagai pembuat sarang terbesar di antara seluruh spesies burung yang pernah tercatat dalam sejarah ornitologi. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/14/beratnya-lebih-dari-2-ton-inilah-arsitektur-sarang-burung-terbesar-di-dunia/">Beratnya Lebih dari 2 Ton, Inilah Arsitektur Sarang Burung Terbesar di Dunia</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Dunia unggas memiliki beragam jenis arsitek alami yang mumpuni dengan kemampuan konstruksi melampaui logika ukuran tubuh mereka. Namun, tidak ada yang mampu menandingi ambisi serta ketelatenan elang botak (Haliaeetus leucocephalus) dalam membangun hunian permanen. Burung pemangsa ini memegang rekor dunia sebagai pembuat sarang terbesar di antara seluruh spesies burung yang pernah tercatat dalam sejarah ornitologi. Struktur masif tersebut bukan sekadar tempat singgah sementara, melainkan manifestasi dari dedikasi sepasang predator yang bekerja selama puluhan tahun untuk menciptakan benteng udara yang tak tergoyahkan. Sarang yang secara teknis disebut sebagai aerie ini merupakan hasil rekayasa lingkungan rumit yang terus berkembang setiap musimnya melalui jalinan kayu dan ranting yang sangat rapat. Sepasang elang botak (Haliaeetus leucocephalus) menjaga sarang mereka di Seedskadee National Wildlife Refuge (Wyoming, AS). Pasangan ini telah menempati lokasi yang sama selama hampir satu dekade dan berhasil membesarkan lebih dari 20 ekor anak elang sepanjang &#8220;karier&#8221; mereka. Kesetiaan pada habitat seperti ini menjadi kunci keberlanjutan populasi elang di alam liar. | Foto USFWS Mountain-Prairie CC BY 2.0 Rekor sarang elang botak yang paling fenomenal tercatat di St. Petersburg, Florida, dengan dimensi yang mengejutkan para peneliti. Sarang tersebut memiliki lebar sekitar 2,9 meter dan kedalaman mencapai 6 meter, dengan bobot diperkirakan mencapai lebih dari 2 ton. Berat ini setara dengan dua kendaraan roda empat berukuran sedang yang bertengger di pucuk pohon, sebuah beban luar biasa yang hanya bisa ditopang oleh pohon-pohon tua dengan struktur dahan sangat kuat. Kekuatan sarang berasal dari metode pembangunan akumulatif di mana pasangan elang menambah lapisan kayu baru setiap&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/14/beratnya-lebih-dari-2-ton-inilah-arsitektur-sarang-burung-terbesar-di-dunia/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/14/beratnya-lebih-dari-2-ton-inilah-arsitektur-sarang-burung-terbesar-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Hoya bukitrayaensis, Spesies Baru dari Hutan Kalimantan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/14/hoya-bukitrayaensis-spesies-baru-dari-hutan-kalimantan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/14/hoya-bukitrayaensis-spesies-baru-dari-hutan-kalimantan/#respond</comments>
					<pubDate>14 Apr 2026 04:16:06 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christopel Paino]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/14040814/Hoya1.jpg-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126391</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Gorontalo]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, kalimantan, sains dan Teknologi, solusi iklim, dan sulawesi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut, terdapat tumbuhan merambat yang selama ini luput dari perhatian. Ia merambat di antara pepohonan lembab. Para peneliti memperkenalkannya sebagai spesies baru dengan nama Hoya bukitrayaensis dari Genus Hoya. Spesimen hoya pegunungan dikumpulkan dari ketinggian puncak Gunung Bukit Raya, Kalimantan Tengah, yang merupakan puncak tertinggi di [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/14/hoya-bukitrayaensis-spesies-baru-dari-hutan-kalimantan/">Hoya bukitrayaensis, Spesies Baru dari Hutan Kalimantan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di ketinggian lebih dari 1.400 meter di atas permukaan laut, terdapat tumbuhan merambat yang selama ini luput dari perhatian. Ia merambat di antara pepohonan lembab. Para peneliti memperkenalkannya sebagai spesies baru dengan nama Hoya bukitrayaensis dari Genus Hoya. Spesimen hoya pegunungan dikumpulkan dari ketinggian puncak Gunung Bukit Raya, Kalimantan Tengah, yang merupakan puncak tertinggi di Kalimantan. Spesimen tersebut dinilai berdasarkan literatur yang telah dipublikasikan dan dibandingkan dengan spesimen herbarium lainnya. Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Telopea edisi 27 Maret 2026 melalui kolaborasi tim peneliti berbagai institusi, yaitu Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara, Yayasan Konservasi Biota Lahan Basah, Balai Besar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Universitas Indonesia, dan Universitas Samudra. Sekilas, Hoya bukitrayaensis tampak seperti tanaman merambat biasa. Namun, ketika bunganya mekar, keistimewaannya langsung terlihat. Mahkota bunga berwarna kuning kecokelatan (russet) dengan bintik-bintik ungu ditutupi rambut-rambut halus. Karakter ini jarang ditemukan pada jenis hoya lain. &#8220;Spesies ini dicirikan mahkota bunga berbulu dan morfologi bunga yang sangat mirip Hoya kastbergii, karena keduanya merupakan tumbuhan merambat atau epifit,&#8221; tulis Ahmad dan kolega  di laporannya. Hoya bukitrayaensis ini merupakan tanaman spesies baru yang ditemukan di puncak Gunung Bukit Raya, Kalimantan Tengah. Foto: Dok. Journal Telopea/Y.R. Yudistira/W.A. Mustaqim/Roland P.P Ahmad Hoya bukitrayaensis tidak bisa ditemukan di sembarang tempat, ia memilih hidup di zona hutan kabut dengan suhu dingin. Habitat pegunungan seperti ini sering menjadi tempat tinggal spesies dengan persebaran terbatas dan berkontribusi pada tingginya tingkat endemisitas tumbuhan yang dilaporkan di wilayah seperti Kalimantan, Sulawesi, dan Papua Nugini. &#8220;Habitat pegunungan seperti ini sering menjadi rumah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/14/hoya-bukitrayaensis-spesies-baru-dari-hutan-kalimantan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/14/hoya-bukitrayaensis-spesies-baru-dari-hutan-kalimantan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Karut Marut Urus Sampah, Eks Kadis Lingkungan Bali Terjerat Pidana</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/14/lalai-urus-sampah-mantan-kadis-lh-bali-terjerat-pidana/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/14/lalai-urus-sampah-mantan-kadis-lh-bali-terjerat-pidana/#respond</comments>
					<pubDate>14 Apr 2026 01:30:34 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Luh De Suriyani]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hukum dan politik]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[pencemaran]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2018/09/22072312/sampah-TPA-Suwung-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126357</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bali]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, komunitas lokal, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Buruknya pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Bali membawa dampak hukum.  I Made Teja, mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bali periode 2019-2014 jadi  tersangka atas semrawutnya pengelolaan sampah TPA terbesar di provinsi ini. Penetapan tersangka Teja itu tertuang dalam surat Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/14/lalai-urus-sampah-mantan-kadis-lh-bali-terjerat-pidana/">Karut Marut Urus Sampah, Eks Kadis Lingkungan Bali Terjerat Pidana</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Buruknya pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Bali membawa dampak hukum.  I Made Teja, mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bali periode 2019-2014 jadi  tersangka atas semrawutnya pengelolaan sampah TPA terbesar di provinsi ini. Penetapan tersangka Teja itu tertuang dalam surat Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor: S.Tap.02/I.4/PPNS/GKM/B/III/2026, tertanggal 16 Maret 2026. Surat ditandatangani langsung Brigjen Pol. Frans Tjahjono, Direktur Penegakan Hukum Lingkungan Hidup. &#8220;Bahwa berdasarkan hasil penyidikan tentang peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana lingkungan hidup, telah menemukan dua alat bukti yang cukup, sehingga penyidik memandang perlu untuk menetapkan tersangka,&#8221; tulis surat itu, mengutip Kompas.com, Selasa (17/3/26). Menurut dia, Teja menjadi tersangka akibat kealpaan melakukan pengelolaan sampah dengan tidak memperhatikan norma, standar, prosedur, atau kriteria yang mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat, keamanan, pencemaran lingkungan dan perusakan lingkungan. Tumpukan sampah masih tercampur di denpasar utara 8 april 2026. Foto: Luh De Suriyani/Mongabay Indonesia. Perbuatan itu memenuhi ketentuan Pasal 41 Undang-undang Nomor 18/2008 tentang Pengelolaan Sampah. Teja juga  lalai dan mengakibatkan terlampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup sebagaimana Pasal 99 ayat (1) UU  Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH). Mongabay berusaha meminta tanggapan Teja atas penetapannya sebagai tersangka tetapi  nomor handphone tidak aktif. Meski begitu, Pemerintah Bali menyatakan telah menyiapkan 2-3 pengacara untuk mendampingi Teja dalam menghadapi kasus itu. &#8220;Nanti pola (pendampingan) seperti apa, menunggu arahan dari pimpinan. Pendampingan dari awal sebagai tersangka. Pemprov mendampingi karena berkaitan dengan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/14/lalai-urus-sampah-mantan-kadis-lh-bali-terjerat-pidana/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/14/lalai-urus-sampah-mantan-kadis-lh-bali-terjerat-pidana/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Warga Cot Girek Berkonflik Lahan dengan PTPN</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/13/nasib-warga-cot-girek-berkonflik-lahan-dengan-ptpn/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/13/nasib-warga-cot-girek-berkonflik-lahan-dengan-ptpn/#respond</comments>
					<pubDate>13 Apr 2026 17:07:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Irfan Maulana]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/13135622/Petani-Aceh-2-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126374</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan sawit]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa ini menggambarkan nasib para petani Cot Girek, Aceh Utara yang berupaya mempertahankan lahan mereka karena sejak lama berkonflik dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional 6. Alih-alih mendapat hak, mereka justru alami kriminalisasi dan intimidasi. Tambah lagi, mereka juga korban bencana banjir akhir tahun lalu. Teranyar, 4 April lalu kondisi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/13/nasib-warga-cot-girek-berkonflik-lahan-dengan-ptpn/">Nasib Warga Cot Girek Berkonflik Lahan dengan PTPN</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa ini menggambarkan nasib para petani Cot Girek, Aceh Utara yang berupaya mempertahankan lahan mereka karena sejak lama berkonflik dengan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional 6. Alih-alih mendapat hak, mereka justru alami kriminalisasi dan intimidasi. Tambah lagi, mereka juga korban bencana banjir akhir tahun lalu. Teranyar, 4 April lalu kondisi kembali memanas dengan penangkapan lima petani. Berbagai kalangan menilai, penangkapan lima petani desa itu oleh polisi gabungan Polda Aceh, Polda Lampung, dan Polda Sumatera Selatan 4 April lalu, wujud ketidakberpihakan negara kepada rakyat. “Penangkapan secara ugal-ugalan seperti ini merugikan petani. Seringkali dengan cara-cara kekerasan demi memaksa korban mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan,” kata Dewi Sartika, Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). Setelah penahanan sekitar 65 jam, para petani polisi bebaskan berkala ketika di bawah pengamanan Polda Sumsel. Rizki dan Suwanto bebas subuh 6 April, lalu Dwijo di hari sama pada pukul 23.30. Kemudian, Abdullah dan Adi Darma bebas setelah transit di Mapolsek Ilir Timur, Palembang, 7 April 2026. Meski sudah keluar penjara, polisi tak cabut status tersangka tiga petani Cot Girek, yakni Dwi, Abdullah, dan Abdi Dharma Dwijo Warsito, Abdullah, Adi Darma, Iwan Riski, dan Suwanto yang tergabung dalam Serikat Tani Aceh (Setia) polisi tangkap ketika perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Kabar ini mengejutkan para petani dan organisasi masyarakat sipil, terutama yang mengadvokasi mereka. Sebab, Dwijo dan kawan-kawan berencana pergi ke Jakarta untuk konsultasi hukum atas konflik agraria yang mereka alami. Mereka malah dibawa ke Mapolda Sumatera Selatan setelah sempat diperiksa di Mapolsek Bakauheni.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/13/nasib-warga-cot-girek-berkonflik-lahan-dengan-ptpn/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/13/nasib-warga-cot-girek-berkonflik-lahan-dengan-ptpn/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kukang Bukan Hewan Peliharaan, Hidupnya di Hutan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/13/kukang-bukan-hewan-peliharaan-hidupnya-di-hutan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/13/kukang-bukan-hewan-peliharaan-hidupnya-di-hutan/#respond</comments>
					<pubDate>13 Apr 2026 04:36:48 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Falahi Mubarok]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/13043428/Kukang-diperdagangkan-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126369</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Sekitar 7.000 individu kukang diperdagangkan setiap tahun, sementara dalam satu kasus penindakan pernah disita 238 ekor sekaligus. Sebanyak 1.300 individu kukang yang ditangani lembaga YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia), diperkirakan 40 persen merupakan hasil penegakan hukum. Di lain sisi, kukang yang dipelihara setelah giginya dipotong, hanya mampu bertahan sekitar enam bulan. Ini menandakan tingginya [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/13/kukang-bukan-hewan-peliharaan-hidupnya-di-hutan/">Kukang Bukan Hewan Peliharaan, Hidupnya di Hutan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Sekitar 7.000 individu kukang diperdagangkan setiap tahun, sementara dalam satu kasus penindakan pernah disita 238 ekor sekaligus. Sebanyak 1.300 individu kukang yang ditangani lembaga YIARI (Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia), diperkirakan 40 persen merupakan hasil penegakan hukum. Di lain sisi, kukang yang dipelihara setelah giginya dipotong, hanya mampu bertahan sekitar enam bulan. Ini menandakan tingginya tingkat kematian akibat perdagangan. Nur Purba Priambada, Dokter Hewan YIARI, memaparkan fakta yang terjadi terhadap kehidupan kukang saat ini. Melalui kajian YIARI, diketahui bahwa ancaman kukang tak hanya datang dari hilangnya habitat, tapi juga dari perilaku manusia yang menjadikannya komoditas perdagangan. “Kukang adalah primata prosimian, berbeda dengan monyet atau kera. Ada tujuh spesies kukang yang sebagian besar kini berstatus terancam, bahkan kritis,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (11/4/2026). Perdagangan kukang untuk dijadikan hewan peliharaan terus terjadi. Padahal, kukang merupakan satwa liar dilindungi yang hidupnya di hutan. Foto: Dok. YIARI Primata nokturnal ini punya peran ekologis penting di alam. Mereka memakan getah pohon, nektar, dan serangga, membantu penyerbukan, mengendalikan hama, dan meregenerasi hutan. Tetapi, peran ini kerap tidak disadari publik. Persepsi bahwa kukang lucu dan cocok dipelihara, jadi pendorong utama tingginya permintaan pasar. Padahal, kukang merupakan satwa liar dengan kebutuhan biologis yang kompleks. “Tidak ada sistem penangkaran yang berhasil secara luas, sehingga hampir semua kukang yang beredar di pasar berasal dari tangkapan di alam.” Perdagangan ini tak hanya mengancam populasi, namun menyebabkan penderitaan besar bagi individu kukang. Dalam praktiknya, primata lambat ini kerap dimasukkan ke dalam kotak sempit berukuran sekitar 30-40 cm yang diisi hingga belasan individu.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/13/kukang-bukan-hewan-peliharaan-hidupnya-di-hutan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/13/kukang-bukan-hewan-peliharaan-hidupnya-di-hutan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Warga Kalurahan Balong Panen Hujan untuk Hadapi Kemarau</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/13/warga-kalurahan-balong-panen-hujan-untuk-hadapi-kemarau/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/13/warga-kalurahan-balong-panen-hujan-untuk-hadapi-kemarau/#respond</comments>
					<pubDate>13 Apr 2026 02:00:57 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Triyo Handoko]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[solusi iklim]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/11173548/IMG_7500-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126328</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[gaya hidup, sains dan Teknologi, dan solusi iklim]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Warga Kalurahan Balong, Kapanewon Girisobo, Yogyakarta, mulai memanfaatkan air hujan yang turun di ujung musim penghujan awal April.  Dengan begitu, mereka tak perlu khawatir memenuhi kebutuhan minum tahun ini. Jadi, desa yang langganan krisis saat kemarau itu bisa menyaring lebih dari 5.000 meter kubik air hujan dan menyimpannya di balai desa. Mereka sudah mengantisipasi kemarau [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/13/warga-kalurahan-balong-panen-hujan-untuk-hadapi-kemarau/">Warga Kalurahan Balong Panen Hujan untuk Hadapi Kemarau</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Warga Kalurahan Balong, Kapanewon Girisobo, Yogyakarta, mulai memanfaatkan air hujan yang turun di ujung musim penghujan awal April.  Dengan begitu, mereka tak perlu khawatir memenuhi kebutuhan minum tahun ini. Jadi, desa yang langganan krisis saat kemarau itu bisa menyaring lebih dari 5.000 meter kubik air hujan dan menyimpannya di balai desa. Mereka sudah mengantisipasi kemarau panjang yang BRIN umumkan akhir Maret lalu. Lembaga ini memperkirakan El Nino berlangsung April hingga Oktober nanti dengan suhu yang lebih panas dari kemarau biasanya. Warga lalu mengantisipasi dengan memanen air hujan sejak Januari lalu. Instalasi penampungan hujan menggunakan sistem penyaringan ini higienis karena menggunakan teknologi yang telah teruji oleh Sekolah Air Hujan (SAH) yang sudah ada di banyak wilayah. “Kami memprediksi berdasarkan penanggalan tradisional titimangsa kalau kemarau tahun ini jadi lebih panjang waktunya. Makanya membangun instalasi dengan air yang siap konsumsi karena ini yang paling penting” kata  Purwanta, Carik Kalurahan Balong. Wilayah di ujung selatan Gunungkidul ini membangun instalasi pemanen air hujan pada Desember 2025. Tujuannya, meminimalisasi krisis air yang berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu. Hampir tidak ada sumur di wilayah itu karena kontur yang seluruhnya kawasan karst. “Pernah dua kali membangun sumur bor bantuan dari pemerintah, sudah mengebor sampai 100 meter tetap tidak ada air,” kata  Purwanta, Sekretaris Kalurahan Balong. Dulu, telaga jadi salah satu sumber air warga. Sekarang, sudah jadi lapangan bola karena tak ada lagi air yang keluar. “Sumber air lainnya dari air hujan, tapi hanya dengan bak penampungan terbuka tidak dengan teknologi penyaringan,” kata pria 45 tahun itu. Kebiasaan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/13/warga-kalurahan-balong-panen-hujan-untuk-hadapi-kemarau/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/13/warga-kalurahan-balong-panen-hujan-untuk-hadapi-kemarau/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Tiga Kali Lebih Berat dari King Cobra: Mengenal Laophis, Ular Berbisa Terbesar dalam Sejarah Bumi</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/12/tiga-kali-lebih-berat-dari-king-cobra-mengenal-laophis-ular-berbisa-terbesar-dalam-sejarah-bumi/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/12/tiga-kali-lebih-berat-dari-king-cobra-mengenal-laophis-ular-berbisa-terbesar-dalam-sejarah-bumi/#respond</comments>
					<pubDate>12 Apr 2026 10:28:36 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/12102522/lachesis-muta-at-conduru-state-park-768x512.webp" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126353</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Selama ini King Cobra (Ophiophagus hannah) dikenal sebagai penguasa tunggal dalam kategori ular berbisa terbesar di dunia. Reputasinya tidak main-main karena ular ini mampu tumbuh hingga panjang 5.5 meter dengan postur yang sanggup berdiri setinggi manusia dewasa saat merasa terancam. Dari segi bobot, King Cobra modern umumnya memiliki berat sekitar 6 hingga 9 kilogram. Namun [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/tiga-kali-lebih-berat-dari-king-cobra-mengenal-laophis-ular-berbisa-terbesar-dalam-sejarah-bumi/">Tiga Kali Lebih Berat dari King Cobra: Mengenal Laophis, Ular Berbisa Terbesar dalam Sejarah Bumi</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Selama ini King Cobra (Ophiophagus hannah) dikenal sebagai penguasa tunggal dalam kategori ular berbisa terbesar di dunia. Reputasinya tidak main-main karena ular ini mampu tumbuh hingga panjang 5.5 meter dengan postur yang sanggup berdiri setinggi manusia dewasa saat merasa terancam. Dari segi bobot, King Cobra modern umumnya memiliki berat sekitar 6 hingga 9 kilogram. Namun spesimen yang sangat besar di penangkaran pernah tercatat mencapai berat hampir 13 kilogram. Ukuran masif ini menjadikannya predator puncak di hutan-hutan Asia yang mampu memangsa ular lain dengan mudah. Ular king kobra (Ophiophagus hannah) | Foto oleh Lip Kee CC BY-SA 2.0 Namun sebuah temuan paleontologi mengungkap bahwa jutaan tahun lalu terdapat spesies beludak atau viper yang jauh lebih masif dari sang raja tersebut. Spesies ini bernama Laophis crotaloides. Ular raksasa ini hidup sekitar 4 juta tahun lalu di wilayah padang rumput yang kini dikenal sebagai Yunani. Meskipun King Cobra menang dari segi panjang tubuh secara ukuran fisik linier, Laophis memiliki bobot yang jauh melampaui predator berbisa mana pun yang pernah melata di planet ini. Berdasarkan analisis fosil, berat badannya mencapai lebih dari dua kali lipat catatan rekor King Cobra paling berat sekalipun. Hal ini menempatkan Laophis sebagai kelas berat sejati dalam sejarah evolusi ular berbisa dunia. Sejarah Penemuan Fosil dan Validasi Ilmiah Eksistensi Laophis Crotaloides Kisah penemuan Laophis sebenarnya dimulai pada tahun 1857 melalui tangan Sir Richard Owen. Beliau merupakan ilmuwan yang menciptakan istilah dinosaurus. Owen mendeskripsikan 13 fosil tulang belakang ular yang ditemukan di dekat Thessaloniki, Yunani. Ia menamakannya Laophis crotaloides dan menyebutnya&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/tiga-kali-lebih-berat-dari-king-cobra-mengenal-laophis-ular-berbisa-terbesar-dalam-sejarah-bumi/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/12/tiga-kali-lebih-berat-dari-king-cobra-mengenal-laophis-ular-berbisa-terbesar-dalam-sejarah-bumi/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Pesta Media: dari Redaksi hingga Hutan Papua,  Suara Perempuan di Tengah Krisis Iklim</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/12/pesta-media-dari-redaksi-hingga-hutan-papua-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/12/pesta-media-dari-redaksi-hingga-hutan-papua-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim/#respond</comments>
					<pubDate>12 Apr 2026 07:11:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Christ J Belseran]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarakat Adat]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/12065810/Marice-Sianggo-tokoh-perempuan-adat-dari-sub-suku-Nakna-Distrik-Konda-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126342</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, Masyarakat Adat, pangan, pencemaran, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Suara-suara itu datang dari panggung kecil di Taman Ismail Marzuki, tetapi gema pesannya melampaui dinding gedung. Perempuan, dari jurnalis sampai para perempuan penjaga hutan, berbicara tentang krisis yang tidak hanya merusak alam, juga memperdalam ketimpangan. Dalam talkshow pembuka Pesta Media AJI Jakarta 2026 bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan,” tiga jurnalis perempuan: Evi [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/pesta-media-dari-redaksi-hingga-hutan-papua-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim/">Pesta Media: dari Redaksi hingga Hutan Papua,  Suara Perempuan di Tengah Krisis Iklim</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Suara-suara itu datang dari panggung kecil di Taman Ismail Marzuki, tetapi gema pesannya melampaui dinding gedung. Perempuan, dari jurnalis sampai para perempuan penjaga hutan, berbicara tentang krisis yang tidak hanya merusak alam, juga memperdalam ketimpangan. Dalam talkshow pembuka Pesta Media AJI Jakarta 2026 bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan,” tiga jurnalis perempuan: Evi Mariani, Nany Afrida, dan Sapariah Saturi, membuka percakapan bagaimana perempuan mengalami dan melaporkan krisis secara berbeda. Krisis iklim tidak hanya sebagai angka statistik atau grafik suhu semata. Ia hadir sebagai cerita tentang tubuh, ruang hidup, dan ketidakadilan. Bagi Nany Afrida, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, persoalan jurnalis perempuan bukan sekadar soal jumlah, juga struktur yang timpang. Salah satu yang dia soroti mengenai proporsi jurnalis perempuan di Indonesia masih begitu kecil, baru sekitar 21,5%, angka yang mencerminkan ketimpangan di industri media. “Diskriminasi ini bersifat sistemik, bukan kasus individual,” katanya. Tekanan yang jurnalis perempuan hadapi, kata Nany, berlapis, dari kekerasan berbasis gender, diskriminasi di ruang redaksi, beban kerja ganda, hingga serangan digital. Dalam banyak kasus, katanya, kekerasan ini bahkan dinormalisasi, sedang mekanisme perlindungan di ruang redaksi masih lemah. Situasi ini, katanya,  membuat jurnalis perempuan tidak hanya berjuang menyampaikan kebenaran, juga mempertahankan ruang aman bagi dirinya sendiri. Sapariah Saturi, Managing Editor Mongabay Indonesia, mengatakan, keberadaan jurnalis perempuan bukan sekadar soal representasi, tetapi kebutuhan mendasar dalam kerja jurnalistik. Talkshow bertajuk “Lensa Terpinggirkan: Suara Jurnalis Perempuan dalam Krisis Iklim dan Kelompok Rentan” menjadi sesi pembuka dalam rangkaian Pesta Media AJI Jakarta 2026. Diskusi ini menghadirkan tiga jurnalis perempuan, yakni , Evi&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/pesta-media-dari-redaksi-hingga-hutan-papua-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/12/pesta-media-dari-redaksi-hingga-hutan-papua-suara-perempuan-di-tengah-krisis-iklim/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Beban Berlapis Perempuan Pesisir di Tengah Krisis Lingkungan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/12/beban-berlapis-perempuan-pesisir-di-tengah-krisis-lingkungan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/12/beban-berlapis-perempuan-pesisir-di-tengah-krisis-lingkungan/#respond</comments>
					<pubDate>12 Apr 2026 06:40:26 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Niken D Sitoningrum]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[kelautan perikanan]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/11014151/FC363436-26AE-4780-AC72-60688A9A4186-1-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126285</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan Kalimantan Timur]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, komunitas lokal, pangan, dan Perikanan Kelautan]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Langit kelabu menemani langkah Ani membeli udang sore itu. Sudah lebih setahun ini, dia menyibukkan diri membuat salome berbahan udang untuk dia jual di sekitar kampung. Salome, merupakan jajanan berbentuk pentol -serupa cilok- yang populer di Kampung Jenebora, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim). Ani mengenal jajanan itu sejak usia 10 tahun. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/beban-berlapis-perempuan-pesisir-di-tengah-krisis-lingkungan/">Beban Berlapis Perempuan Pesisir di Tengah Krisis Lingkungan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Langit kelabu menemani langkah Ani membeli udang sore itu. Sudah lebih setahun ini, dia menyibukkan diri membuat salome berbahan udang untuk dia jual di sekitar kampung. Salome, merupakan jajanan berbentuk pentol -serupa cilok- yang populer di Kampung Jenebora, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur (Kaltim). Ani mengenal jajanan itu sejak usia 10 tahun. Di kalangan warga, penganan itu memang cukup populer hingga banyak yang menjualnya. “Salome udang ini yang paling laku, nggak ada bosannya dimakan. Makanya, banyak yang menjualnya,” kata perempuan berusia 31 tahun itu. Ani membuat salome udang untuk bisa menambah penghasilan dan mencukupi kebutuhan harian keluarganya. Maklum, dua tahun belakangan ini, pendapatan suaminya dari melaut tak menentu. “Kadang dapat (ikan), kadang nggak,” katanya,  sambil menyajikan beberapa gorengan dan makanan lain untuk berbuka puasa keluarganya. Biaya untuk melaut, acapkali tak sebanding dengan hasil tangkapan. Malah terkadang, hanya cukup untuk mengganti biaya solar. Padahal, untuk melaut, tak cukup solar sebagai modal. Karena itu, demi bisa menambah penghasilan, Ani putuskan untuk jualan salome. Sekilas, hasil dari jualan memang tak seberapa tetapi bagi Ani, cukup untuk sangu sekolah anak bungsunya. “Alhamdulillah, cukup sekali (untuk) sehari. Ya, mau diapain? Ingat anak-anak, untuk belanja, jajan,” kata Ani,  sambil menyalakan blender untuk menghaluskan udang. Untuk berjualan, katanya, hanya perlu modal Rp70.000. Itu untuk membeli bahan baku udang 1,5 kilogram, tepung kanji 0,5 kilogram, dan sambal pendampingnya. Sehari, Ani bisa mendapat Rp150.000 dari jualan itu, termasuk modal. Masalahnya, bahan baku udang pun kian sulit didapat. Salome atau pentol berbahan dasar udang yang dibuat Ani, memiliki&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/beban-berlapis-perempuan-pesisir-di-tengah-krisis-lingkungan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/12/beban-berlapis-perempuan-pesisir-di-tengah-krisis-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bisakah Manusia Hidup Berdampingan dengan Buaya Muara?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/12/bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/12/bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara/#respond</comments>
					<pubDate>12 Apr 2026 04:12:19 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nuswantoro]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/12040542/Buaya-muara-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126337</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Jejak Buaya Muara dan Habitat yang Terkikis]]>
						</reporting-project>
					
											<locations>
							<![CDATA[Yogyakarta]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[hutan indonesia, jawa, Lahan Basah, sains dan Teknologi, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Bagi nelayan, kecipak air di muara kini bukan lagi tanda keberlimpahan ikan. Melainkan, sinyal perlunya kewaspadaan. Sang predator puncak itu mungkin sedang di sana. Reptil purba, yang memiliki kulit bagai zirah, ekor pipih bertenaga, kuat menahan napas berjam di dalam air, dengan gigitan paling mematikan di bumi. Laporan yang dikumpullkan crocattack.org ini bikin miris. Periode [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara/">Bisakah Manusia Hidup Berdampingan dengan Buaya Muara?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Bagi nelayan, kecipak air di muara kini bukan lagi tanda keberlimpahan ikan. Melainkan, sinyal perlunya kewaspadaan. Sang predator puncak itu mungkin sedang di sana. Reptil purba, yang memiliki kulit bagai zirah, ekor pipih bertenaga, kuat menahan napas berjam di dalam air, dengan gigitan paling mematikan di bumi. Laporan yang dikumpullkan crocattack.org ini bikin miris. Periode 2020 hingga 2024, terdapat 820 serangan buaya di Indonesia. Dari jumlah serangan itu, 414 korban meninggal dunia, yang mungkin diikuti juga oleh terbunuhnya buaya. Catatan itu mengemukakan, lebih dari 95 persen serangan melibatkan buaya muara (Crocodylus porosus) dan kurang 5 persen buaya senyulong (Tomistoma schlegelii). Padahal, Senyulong dikenal punya karakter pemalu. Jika angka tahunnya diperlebar hingga 2015, jumlah kejadian mencapai 1.167 kasus, dengan korban jiwa mencapai 556 orang. Ini menjadi yang tertinggi di dunia, menyusul India dengan serangan berjumlah 768 kali, dan Papua New Guinea dengan 584 kali. “Yang kami ketahui kini, bahkan tren serangan dan konflik yang melibatkan buaya senyulong juga meningkat,” papar Herdhanu Jayanto kepada Mongabay, Kamis (9/4/2026). Dia adalah ilmuwan konservasi dan manajer program di Yayasan Konklusi, yang fokus pada spesies terancam punah dan terabaikan seperti buaya muara dan senyulong. Di Indonesia, kejadian serangan hampir separuhnya berhubungan dengan aktivitas mencari ikan, yaitu 47,6 persen. Sementara 32,4 persen berhubungan dengan aktivitas domestik water, sanitation, and hygiene.  Anggota IUCN SSC Crocodile Specialist Group ini menambahkan, tidak ada penyebab tunggal mengapa angka konflik itu begitu tinggi. Terdapat banyak faktor, mulai dari kegiatan manusia yang menyebabkan hilangnya habitat buaya, tersudutnya ruang hidup, hingga berkurangnya mangsa alami.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/12/bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/12/bisakah-manusia-hidup-berdampingan-dengan-buaya-muara/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Bukan Karena Kenyang, Ilmuwan Ungkap Alasan Kucing Sering Tidak Menghabiskan Makanan</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/11/bukan-karena-kenyang-ilmuwan-ungkap-alasan-kucing-sering-tidak-menghabiskan-makanan/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/11/bukan-karena-kenyang-ilmuwan-ungkap-alasan-kucing-sering-tidak-menghabiskan-makanan/#respond</comments>
					<pubDate>11 Apr 2026 11:27:52 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[sains dan teknologi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/11112002/isasza-cat-4412839_1280-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126322</guid>

					
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[sains dan Teknologi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Para pemilik kucing mungkin sering melihat peliharaan mereka meninggalkan makanan yang belum habis di mangkuk. Perilaku ini kerap disalahartikan. Banyak orang mengira kucing meninggalkan makanannya karena sudah merasa kenyang sepenuhnya. Sebuah tim peneliti dari Jepang menemukan fakta yang berbeda. Mereka menemukan bahwa aroma memainkan peran yang jauh lebih penting dalam mengatur pola konsumsi hewan tersebut. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/bukan-karena-kenyang-ilmuwan-ungkap-alasan-kucing-sering-tidak-menghabiskan-makanan/">Bukan Karena Kenyang, Ilmuwan Ungkap Alasan Kucing Sering Tidak Menghabiskan Makanan</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Para pemilik kucing mungkin sering melihat peliharaan mereka meninggalkan makanan yang belum habis di mangkuk. Perilaku ini kerap disalahartikan. Banyak orang mengira kucing meninggalkan makanannya karena sudah merasa kenyang sepenuhnya. Sebuah tim peneliti dari Jepang menemukan fakta yang berbeda. Mereka menemukan bahwa aroma memainkan peran yang jauh lebih penting dalam mengatur pola konsumsi hewan tersebut. Indra penciuman kucing sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan di sekitar mangkuk makan mereka. Tim peneliti dari Iwate University mengonfirmasi bahwa nafsu makan kucing akan berangsur menurun ketika mereka mulai terbiasa dengan aroma makanannya. Kepekaan mereka terhadap makanan yang sama memicu kebosanan penciuman. Paparan terhadap aroma baru justru berfungsi sebagai stimulus positif. Stimulus ini dapat mendorong mereka untuk kembali makan dengan lahap. Studi perilaku hewan ini dipimpin langsung oleh Masao Miyazaki yang merupakan profesor di universitas tersebut. Efek Aroma pada Kebiasaan Makan Penelitian ini berlangsung dalam kurun waktu yang cukup panjang dari Januari 2023 hingga Februari 2026. Tim mengamati perilaku 12 ekor kucing ras campuran yang dipastikan sehat. Kelompok uji ini memiliki rentang usia yang bervariasi antara 3 hingga 15 tahun untuk mewakili berbagai tahapan kehidupan satwa. Kucing tersebut dipuasakan dan tidak diberi makan selama 16 jam penuh sebelum eksperimen dimulai. Mereka kemudian diberikan waktu makan selama 10 menit yang diselingi jeda waktu istirahat selama 10 menit. Siklus pemberian makan dan jeda ini diulang sebanyak enam kali secara berurutan. Metode ini dirancang khusus untuk melihat respons langsung hewan terhadap perubahan makanan dan variasi aroma. Kucing terlihat makan di luar ruangan. Penelitian menunjukkan bau makanan memengaruhi nafsu&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/bukan-karena-kenyang-ilmuwan-ungkap-alasan-kucing-sering-tidak-menghabiskan-makanan/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/11/bukan-karena-kenyang-ilmuwan-ungkap-alasan-kucing-sering-tidak-menghabiskan-makanan/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset Ungkap Bahaya Mikroplastik di Laut Dalam</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/11/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/11/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam/#respond</comments>
					<pubDate>11 Apr 2026 11:14:05 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[M Ambari]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Laut]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[perikanan kelautan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2025/07/21230121/sampah-laut-di-pesisir-kedonganan-dekat-airport-bali.-foto-luh-de-suriyani-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126271</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, Kelautan perikanan, pencemaran, produk kelautan, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Mikroplastik bukan lagi sekadar ancaman di daratan atau permukaan laut. Saat ini, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter (mm) itu sudah mengancam laut dalam dengan kedalaman 200-2.000 meter dan mengancam biota. Muhammad Reza Cordova, ahli pencemaran laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan, temuan mikroplastik di laut dalam Indonesia pertama kali terungkap dalam  [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam/">Riset Ungkap Bahaya Mikroplastik di Laut Dalam</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Mikroplastik bukan lagi sekadar ancaman di daratan atau permukaan laut. Saat ini, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter (mm) itu sudah mengancam laut dalam dengan kedalaman 200-2.000 meter dan mengancam biota. Muhammad Reza Cordova, ahli pencemaran laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan, temuan mikroplastik di laut dalam Indonesia pertama kali terungkap dalam  penelitian 2015 di pesisir barat Sumatera. “Saat itu, dengan alat bantu terbatas, kami menemukan ada mikroplastik di kedalaman lautnya,” katanya kepada Mongabay. Menurut dia, masuknya mikroplastik ke lapisan terdalam lautan adalah karena partikel itu bersifat nonpolar yang terlihat menyerupai material organik, hingga memungkinkan partikel menempel pada marine snow. Marine snow atau salju laut  adalah hujan detritus organik yang terus-menerus jatuh dari lapisan permukaan laut yang kaya cahaya ke dasar laut yang gelap. Marine snow terdiri dari sisa-sisa tanaman/hewan mati, kotoran (feses), dan material anorganik lainnya. Ketika mikroplastik menempel pada salju laut, maka massa gabungan akan semakin berat, karena ada material organik hingga mikroorganisme. “Akumulasi mikroplastik mengganggu siklus karbon, merusak agregat alami, menghambat proses remineralisasi, dan efisiensi penyimpanan karbon secara jangka panjang,” katanya. Dia bilang, apa yang terjadi saat ini, menggambarkan bahwa ancaman sedang mengintai bumi dan berdampak pada penurunan ekologis, misalnya gangguan pada biota laut. Hasil pengujian temukan mikroplastik di hampir seluruh spesimen. Ancaman yang mengintai laut dalam, terutama  kehidupan mikrofauna seperti foraminifera, kopepoda, dan nematoda yang kesulitan membedakan mikroplastik dengan makanan. Hal itu berisiko mengganggu pencernaan dan menyebabkan stres fisiologis. Peneliti Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) meneliti kandungan mikroplastik di dalam air hujan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/11/riset-ungkap-bahaya-mikroplastik-di-laut-dalam/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa</title>
					<link>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/gunung-muria-jantung-ekologi-yang-tersisa/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/gunung-muria-jantung-ekologi-yang-tersisa/#respond</comments>
					<pubDate>11 Apr 2026 08:43:40 +0000</pubDate>
										<author>
						<![CDATA[Akhyari Hananto]]>
					</author>
															<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/05093443/Parijoto3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?post_type=specials&#038;p=126293</guid>

											<reporting-project>
							<![CDATA[Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa]]>
						</reporting-project>
					
					
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Gunung Muria berdiri sebagai benteng alam terakhir di pesisir utara Jawa yang menyimpan kekayaan luar biasa. Kawasan ini merupakan ruang hidup bagi predator puncak seperti macan tutul Jawa hingga spesies unik yang baru ditemukan seperti cecak batu. Namun posisi strategisnya sebagai jantung ekologi kini menghadapi tantangan besar akibat alih fungsi lahan dan dampak nyata perubahan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/gunung-muria-jantung-ekologi-yang-tersisa/">Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Gunung Muria berdiri sebagai benteng alam terakhir di pesisir utara Jawa yang menyimpan kekayaan luar biasa. Kawasan ini merupakan ruang hidup bagi predator puncak seperti macan tutul Jawa hingga spesies unik yang baru ditemukan seperti cecak batu. Namun posisi strategisnya sebagai jantung ekologi kini menghadapi tantangan besar akibat alih fungsi lahan dan dampak nyata perubahan iklim global. Keberadaan tumbuhan parijoto dan komoditas kopi bukan sekadar hasil bumi, melainkan simbol ketahanan masyarakat lokal yang berusaha menjaga harmoni di tengah habitat yang kian terhimpit. Melindungi Muria berarti menyelamatkan sisa kejayaan ekosistem purba yang dahulu terpisah oleh selat, sekaligus memastikan masa depan bagi keseimbangan alam dan manusia di sekitarnya. The post Gunung Muria: Jantung Ekologi yang Tersisa appeared first on Mongabay.co.id.This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/specials/2026/04/gunung-muria-jantung-ekologi-yang-tersisa/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/specials/2026/04/gunung-muria-jantung-ekologi-yang-tersisa/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Menghidupkan Kembali Tradisi Menanam Sayur di Bangka Belitung</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/11/menghidupkan-kembali-tradisi-menanam-sayur-di-bangka-belitung/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/11/menghidupkan-kembali-tradisi-menanam-sayur-di-bangka-belitung/#respond</comments>
					<pubDate>11 Apr 2026 01:00:04 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Nopri Ismi]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Sosial]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10072803/Beragam-sayuran-yang-dijual-di-Pasar-Pagi-Kota-Pangkalpinang-sebagian-besar-dipasok-dari-Desa-Balun-Ijuk.-Foto-Nopri-Ismi-Mongabay-Indonesia-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126260</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[bangka belitung]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, sawit, dan sumatera]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Di masa lalu, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung hidup arif dengan mengelola laut dan kebun (ume). Salah satu pengetahuan yang lahir dari cara hidup tersebut adalah lempah darat, yaitu kuliner yang memanfaatkan beragam sayuran lokal. Bahannya sederhana, ada keladi, buah melinjo, nangka muda, daun pucuk idat, jantung pisang, rebung, dan sebagainya. Semuanya dapat diperoleh dengan mudah [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/menghidupkan-kembali-tradisi-menanam-sayur-di-bangka-belitung/">Menghidupkan Kembali Tradisi Menanam Sayur di Bangka Belitung</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Di masa lalu, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung hidup arif dengan mengelola laut dan kebun (ume). Salah satu pengetahuan yang lahir dari cara hidup tersebut adalah lempah darat, yaitu kuliner yang memanfaatkan beragam sayuran lokal. Bahannya sederhana, ada keladi, buah melinjo, nangka muda, daun pucuk idat, jantung pisang, rebung, dan sebagainya. Semuanya dapat diperoleh dengan mudah di sekitar kebun, karena ditanam berdampingan dengan komoditas ekonomi (lada). &#8220;Lempah darat menjadi bukti bahwa masyarakat Bangka Belitung punya tradisi kuat untuk menanam dan mengonsumsi sayuran,&#8221; kata Herry Marta Saputra, peneliti sekaligus dosen Agroteknologi dari Universitas Bangka Belitung, kepada Mongabay Indonesia, Senin (30/3/2026). Namun, kebiasaan ini mulai hilang. Saat masyarakat ingin memasak lempah darat, yang menjadi tujuan adalah pasar yang sebagian besar pasokannya berasal dari luar daerah. Mengapa? &#8220;Sudah banyak kebun, ume, atau kelekak yang beralih fungsi,&#8221; lanjut Herry. “Ini juga diperburuk dengan minat menanam sayur yang menurun, dikarenakan candu timah menjadi pesaing terbesar pertanian, yang dalam waktu sehari sudah dapat menghasilkan rupiah.” Situasi demikian, sejalan dengan minimnya daerah di Bangka Belitung yang terkenal sebagai penghasil sayuran. Satu dari sedikit wilayah itu adalah Desa Balun Ijuk, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Bangka Belitung (2026), sekitar 60 persen produksi buah-buahan dan sayuran provinsi ini berasal dari Kabupaten Bangka, yang sebagian besar dipasok dari Desa Balun Ijuk. Pada 2025, produksi sayuran di Kabupaten Bangka mencapai 10.225,73 ton, tertinggi dibandingkan kabupaten lainnya, yang memiliki produksi di bawah 2.000 ton. “Desa Balun Ijuk, sejak lama terkenal sebagai lumbung sayuran di Bangka Belitung,” kata Herry.&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/11/menghidupkan-kembali-tradisi-menanam-sayur-di-bangka-belitung/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/11/menghidupkan-kembali-tradisi-menanam-sayur-di-bangka-belitung/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Nasib Warga Seboyo Terelokasi Demi Proyek PLTA Mentarang</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/10/nasib-warga-seboyo-terelokasi-demi-proyek-plta-mentarang/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/10/nasib-warga-seboyo-terelokasi-demi-proyek-plta-mentarang/#respond</comments>
					<pubDate>10 Apr 2026 23:38:46 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Ms Ardan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10233254/Mantarang--768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126274</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[kalimantan dan kalimantan utara]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Kunang-kunang kerlap kerlip melintasi orang-orang yang sedang berkumpul di satu teras rumah di RT05 Desa Harapan Maju, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, penghujung tahun lalu. Mereka bercengkrama walau tak saling memandang rupa. Tak ada cahaya maupun lampu yang menyinari permukiman itu pada malam itu. “Listriknya sudah mati satu mingguan, kecuali nanti perusahaan datang untuk [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/nasib-warga-seboyo-terelokasi-demi-proyek-plta-mentarang/">Nasib Warga Seboyo Terelokasi Demi Proyek PLTA Mentarang</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Kunang-kunang kerlap kerlip melintasi orang-orang yang sedang berkumpul di satu teras rumah di RT05 Desa Harapan Maju, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, penghujung tahun lalu. Mereka bercengkrama walau tak saling memandang rupa. Tak ada cahaya maupun lampu yang menyinari permukiman itu pada malam itu. “Listriknya sudah mati satu mingguan, kecuali nanti perusahaan datang untuk mengganti alat yang rusak, baru bisa hidup,” kata Minggus, warga Desa Harapan Maju. Dia duduk bersila di teras. Perusahaan yang Minggus maksud adalah operator genset komunal yang PT Kayan Hydropower Nusantara  (KHN), sediakan. Sudah tiga tahun, lampu-lampu dari 28 rumah di area yang disebut Paking itu pakai listrik genset komunal. Listrik tak hidup 24 jam di situ. “Ada listriknya dari 6.00 sore sampai 6.00 pagi, sisanya mati,” kata Minggus. Genset pun, sering rusak karena komponen perbaikan tak ada di sekitar desa itu. Alat perbaikan, harus pesan dari luar daerah hingga perlu waktu lama. “Sering alatnya rusak, sejak bulan-bulan berapa itu tahun 2024, sering (rusak) sampai sekarang ini.” Jawi, Ketua RT05 Desa Harapan Maju, membenarkan kondisi itu. Kendati listrik sering padam, katanya, genset turut membantu warga. Warga, tidak perlu bayar tagihan listrik. “Tapi ya seperti itu, sering rusak, hidupnya (listrik) tidak menentu.” Kondisi ini mereka sudah rasakan lebih tiga tahun lalu. Sebelumnya, kata Jawi, warga mendiami area Seboyo, sekitar 15 menit dengan perahu mesin ke hulu Sungai Mentarang. “Kalau di Seboyo,  dulu kita pakai panel surya pribadi, pakai aki saja, itu hidup setiap saat, nanti kalau mati kita ganti air akinya tinggal beli saja,” katanya. Setelah&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/nasib-warga-seboyo-terelokasi-demi-proyek-plta-mentarang/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/10/nasib-warga-seboyo-terelokasi-demi-proyek-plta-mentarang/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Riset Auriga Ungkap Lonjakan Deforestasi 2025</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/10/riset-auriga-ungkap-lonjakan-deforestasi-2025/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/10/riset-auriga-ungkap-lonjakan-deforestasi-2025/#respond</comments>
					<pubDate>10 Apr 2026 09:00:27 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Yulia Adiningsih]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Richaldo Hariandja]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
		<category><![CDATA[data dan statistik]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/09041212/deforestasi-di-Sijunjung-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126239</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[data dan statistik, hutan indonesia, pangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Yayasan Auriga Nusantara merilis Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 yang mengungkap lonjakan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya, dari 261.575 hektar jadi 433.751 hektar. Lonjakan pesat terjadi di Papua, dugaannya, karena sejumlah proyek, dalam program strategis nasional (PSN) termasuk pengembangan pangan sjalaskala besar (food estate). Data itu berasal dari kombinasi pemodelan spasial citra satelit [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/riset-auriga-ungkap-lonjakan-deforestasi-2025/">Riset Auriga Ungkap Lonjakan Deforestasi 2025</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Yayasan Auriga Nusantara merilis Status Deforestasi Indonesia (STADI) 2025 yang mengungkap lonjakan penggundulan hutan hingga 66% dari tahun sebelumnya, dari 261.575 hektar jadi 433.751 hektar. Lonjakan pesat terjadi di Papua, dugaannya, karena sejumlah proyek, dalam program strategis nasional (PSN) termasuk pengembangan pangan sjalaskala besar (food estate). Data itu berasal dari kombinasi pemodelan spasial citra satelit Sentinel-2 resolusi 10 meter, inspeksi visual, hingga verifikasi lapangan. Selain itu, deteksi area mereka kembangkan dari isyarat deforestasi bulanan dari Universitas Maryland, hingga jangkauan  lebih luas. Timer Manurung, Ketua Yayasan Auriga Nusantara, menyebut, Kalimantan sebagai pulau dengan deforestasi paling tinggi, mencapai 158.283 hektar, naik  28.387 hektar atau 22% dari tahun sebelumnya. “Pulau ini secara berturut-turut menjadi pemuncak deforestasi sejak 2013,” katanya, dalam peluncuran STADI 2025 di Jakarta, 31 Maret. Sumatera jadi pulau kedua dengan deforestasi terbanyak, mencapai 144.150 hektar. Timer bilang, tiga provinsi yang terdampak banjir dan longsor pada akhir 2025 mengalami lonjakan deforestasi. Aceh, misal, melonjak 426%, dari 8.962 hektar menjadi 38.157 hektar. Kemudian, Sumatera Utara naik 281%, dari 7.303 hektar menjadi 20.512 hektar. Lonjakan tertinggi di Sumatera Barat hingga 1.034%, dari 2.606 hektar menjadi 26.940 hektar. Papua berada di urutan ketiga. Deforestasinya bertambah 348%, dari 17.341 hektar menjadi 77.678 hektar. Sulawesi menyusul dengan luasan deforestasi 39.685 hektar pada 2025, meningkat 129%. Maluku 7.527 hektar, meluas 3.990 hektar dari tahun sebelumnya. Bali &amp; Nusa Tenggara mencapai 4.209 hektar, dan Jawa 2.221 hektar. Timer bilang, berbagai kebijakan teridentifikasi sebagai biang kerok lonjakan ini. Bahkan, sekitar 58% deforestasi pada tahun 2025 legal karena terjadi di dalam&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/riset-auriga-ungkap-lonjakan-deforestasi-2025/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/10/riset-auriga-ungkap-lonjakan-deforestasi-2025/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Polisi Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Banyumas, Tetapkan Tiga Tersangka</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/10/polisi-tertibkan-tambang-emas-ilegal-di-banyumas-tetapkan-tiga-tersangka/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/10/polisi-tertibkan-tambang-emas-ilegal-di-banyumas-tetapkan-tiga-tersangka/#respond</comments>
					<pubDate>10 Apr 2026 04:14:44 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[L Darmawan]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Rahmadi R]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Hutan]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10040644/tambang3-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126255</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jawa dan jawa tengah]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, jawa, pencemaran, Pertambangan, dan politik dan hukum]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Tim Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Banyumas, membongkar kegiatan penambangan emas liar di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tim bergerak ke lokasi setelah mendapat laporan masyarakat, Selasa (31/3/26). “Kami mendapati tiga pekerja melakukan pengolahan serta lima pekerja menggali dan mengambil  material di lubang 80 x 80 cm dengan kedalaman 55 meter,” terang [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/polisi-tertibkan-tambang-emas-ilegal-di-banyumas-tetapkan-tiga-tersangka/">Polisi Tertibkan Tambang Emas Ilegal di Banyumas, Tetapkan Tiga Tersangka</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Tim Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Banyumas, membongkar kegiatan penambangan emas liar di Desa Paningkaban, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Tim bergerak ke lokasi setelah mendapat laporan masyarakat, Selasa (31/3/26). “Kami mendapati tiga pekerja melakukan pengolahan serta lima pekerja menggali dan mengambil  material di lubang 80 x 80 cm dengan kedalaman 55 meter,” terang Petrus P Silalahi,  Kapolresta Banyumas, Senin (6/4/26). Selain itu, polisi juga  temukan lokasi pengolahan emas di desa tetangga, Cihonje. “Total 68 lubang  digali. Bila tidak ada emasnya, ditinggalkan begitu saja dan ini sangat membahayakan.” Dari penertiban itu, polisi tetapkan tiga tersangka yaitu SRO  (51), NM (50), dan SBN  (56). Mereka merupakan pemodal dan pengelola tambang emas ilegal di Desa Paningkaban dan Cihonje. Berdasarkan pemeriksaan,  SRO memulai kegiatan ini sebagai pekerja sejak 2012. Pada 2017, dia membuka tambang mandiri di lahan miliknya di Paningkaban. “Meski sempat gagal di awal, SRO tetap melanjutkan aktivitasnya hingga menemukan kandungan emas dan memperluas operasi dengan membuka beberapa lubang tambang aktif,” jelasnya. Sementara NM, bergerak sejak 2017 setelah mendapatkan informasi potensi emas di wilayah Gumelar. Tanpa mengantongi izin resmi, dia menjalankan kegiatannya berpindah lokasi. Pada Januari 2025, NM bekerja sama dengan SBN, selaku pemilik lahan seluas 3.386 meter persegi di Grumbul Igir Salak, Desa Paningkaban. Penambangan beroperasi pada Maret 2025, dengan melibatkan delapan pekerja yang dibagi dua tim, penggali dan pengolah material. “Mereka memiliki sistem pembagian hasil terstruktur. Sebanyak 30 persen untuk pemodal, 30 persen untuk pemilik lahan, 20 persen operasional, dan 20 persen upah pekerja.” Saat ini, masih ada 68&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/polisi-tertibkan-tambang-emas-ilegal-di-banyumas-tetapkan-tiga-tersangka/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/10/polisi-tertibkan-tambang-emas-ilegal-di-banyumas-tetapkan-tiga-tersangka/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Waswas Krisis Air,  PLTA Picu Surutnya Danau Kerinci?</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/10/waswas-krisis-air-plta-picu-surutnya-danau-kerinci/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/10/waswas-krisis-air-plta-picu-surutnya-danau-kerinci/#respond</comments>
					<pubDate>10 Apr 2026 02:12:45 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Teguh Suprayitno]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[Sapariah Saturi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Energi]]></category>
		<category><![CDATA[komunitas lokal]]></category>
		<category><![CDATA[pangan]]></category>
		<category><![CDATA[transisi energi]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/10013415/Seorang-warga-tengah-mencari-kupuk-kerang-sungai-di-Sungai-Batang-Merangin-yang-surut-768x512.jpg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126247</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[jambi dan sumatera]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, komunitas lokal, pangan, politik dan hukum, dan transisi energi]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>&#160; “Air ndak biso naik lagi. Tengok sungai macam ini,” kata Mat Dong, warga Desa Pulau Pandan, Kecamatan Bukit Kerman, Kerinci, Jambi. Dia menunjuk ketinggian air Sungai Batang Merangin yang tak lebih dari sejengkal. Mat Dong dan warga desa yang lain khawatir air sungai susut. Danau Kerinci mengalir menuju hulu Sungai Batang Merangin, melewati petak-petak [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/waswas-krisis-air-plta-picu-surutnya-danau-kerinci/">Waswas Krisis Air,  PLTA Picu Surutnya Danau Kerinci?</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[&nbsp; “Air ndak biso naik lagi. Tengok sungai macam ini,” kata Mat Dong, warga Desa Pulau Pandan, Kecamatan Bukit Kerman, Kerinci, Jambi. Dia menunjuk ketinggian air Sungai Batang Merangin yang tak lebih dari sejengkal. Mat Dong dan warga desa yang lain khawatir air sungai susut. Danau Kerinci mengalir menuju hulu Sungai Batang Merangin, melewati petak-petak sawah kering dan tanah yang mulai merekah. Di atas jembatan gantung Mat hanya bisa menatap sawahnya yang mulai penuh rumput liar. Dalam tiga bulan setelah panen akhir 2025, sawah terbengkalai karena tak ada air. “Kek mano kami mau nanam, kalau ndak ado air.” Semua bermula pada Januari 2026. Permukaan Danau Kerinci tiba-tiba menyusut drastis. Air yang biasa menelan bebatuan di dasar danau perlahan mundur, menyingkap batu-batu besar yang kini mencuat seperti pulau-pulau kecil. Danau yang berubah wajah itu cepat menyebar di media sosial, membuat Danau Kerinci viral. Banyak warga meyakini perubahan itu bukan kebetulan. Mereka melihat, sejak PLTA Kerinci Merangin Hidro (KMH) dengan pengelola PT Kerinci Merangin Hidro (KMH), uji coba turbin pada 1–16 Januari 2026, debit air Danau Kerinci berubah drastis. Di hulu Sungai Batang Merangin, Desa Karang Pandan, aliran air nyaris lenyap. Sungai yang biasa mengalir deras mendadak menyempit dan dangkal. Semua aliran air seolah ditarik menuju pintu air yang perusahaan bangun di Desa Pulau Pandan pada 2025—sekitar satu kilometer dari Karang Pandan. Sepanjang 200 meter hulu sungai diubah besar-besaran. Dasar Sungai Batang Merangin dikeruk lebih dari lima meter, lebar menjadi sekitar 17 meter. Tiga pintu besi raksasa, masing-masing berbobot sekitar lima ton,&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/10/waswas-krisis-air-plta-picu-surutnya-danau-kerinci/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/10/waswas-krisis-air-plta-picu-surutnya-danau-kerinci/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
						<item>
					<title>Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Penuh Teka Teki</title>
					<link>https://mongabay.co.id/2026/04/09/penyelundupanga-tiga-ton-sisik-trenggiling-siapa-aktornya/</link>
					<comments>https://mongabay.co.id/2026/04/09/penyelundupanga-tiga-ton-sisik-trenggiling-siapa-aktornya/#respond</comments>
					<pubDate>09 Apr 2026 15:02:49 +0000</pubDate>
											<dc:creator>
							<![CDATA[Anggita Raissa]]>
						</dc:creator>
										<author>
						<![CDATA[M. Asad Asnawi]]>
					</author>
							<category><![CDATA[Flora Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[hutan indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[politik dan hukum]]></category>
		<category><![CDATA[satwa liar]]></category>
										<enclosure url="https://indomgb.s3.amazonaws.com/wp-content/uploads/2026/04/08153222/WhatsApp-Image-2026-04-08-at-08.17.27-768x512.jpeg" type="image/jpeg" />
					<guid isPermaLink="false">https://mongabay.co.id/?p=126226</guid>

					
											<locations>
							<![CDATA[Jakarta dan jawa]]>
						</locations>
					
											<topic-tags>
							<![CDATA[bencana, ekonomi dan bisnis, hutan indonesia, politik dan hukum, dan Satwa]]>
						</topic-tags>
					
					
											<description>
							<![CDATA[<p>Upaya penyelundupan tiga ton sisik trenggiling yang terbongkar Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Februari lalu sisakan banyak teka-teki. Mulai dari asal muasal barang hingga peran dua perusahaan yang diduga terlibat, yakni,  PT Temu Satu Rasa (TSR) dan PT Viena Trans Mandiri (VTM).  Bea dan Cukai Tanjung Priok terkesan irit bicara saat Mongabay menanyakan perkembangan kasus [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/penyelundupanga-tiga-ton-sisik-trenggiling-siapa-aktornya/">Kasus Penyelundupan 3 Ton Sisik Trenggiling Penuh Teka Teki</a> appeared first on <a href="https://mongabay.co.id">Mongabay.co.id</a>.</p>
]]>
						</description>
																					<content:encoded>
							<![CDATA[Upaya penyelundupan tiga ton sisik trenggiling yang terbongkar Bea Cukai Tanjung Priok, Jakarta, Februari lalu sisakan banyak teka-teki. Mulai dari asal muasal barang hingga peran dua perusahaan yang diduga terlibat, yakni,  PT Temu Satu Rasa (TSR) dan PT Viena Trans Mandiri (VTM).  Bea dan Cukai Tanjung Priok terkesan irit bicara saat Mongabay menanyakan perkembangan kasus ini.   “Masih dalam proses penyidikan,” kata Suhartoyo, Kepala Seksi II Penyidikan Kantor Bea Cukai Tanjung Priok, Jumat (3/4/26) melalui pesan pendek.  Pekan ini, Bea Cukai menjadwalkan pemanggilan terhadap sejumlah pihak guna dimintai keterangan terkait kasus itu. Selain itu, berkoordinasi dengan tim Koordinator Pengawasan Polda Metro Jaya dan juga Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jakarta.  “Untuk barang bukti, masih ada di tempat penimbunan kontainer,” katanya.  Solu Batara, Kepala Seksi 1  Jakarta Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Wilayah Jabalnusra, menjelaskan, penanganan kasus ini melibatkan sejumlah lembaga. Terkait pelanggaran kepabeanan, penangkanan dilakukan oleh Bea Cukai. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementerian Kehutanan, spesifik pada pelanggaran perlindungan satwanya. “Komunikasi antar instansi terus dilakukan. Kewenangan awal berada di tangan Bea Cukai karena kasus ini ada terkait juga dengan tindak pidana kepabeanan. Tapi, kami dari Gakkum akan menindak pelanggaran di bidang konservasi dan sumber daya alam hayati, karena trenggiling termasuk satwa yang dilindungi,” kata Solu di Jakarta, Kamis (2/4/26). Sebelumnya, Bea Cukai Tanjung Priok menggagalkan upaya penyelundupan sisik trenggiling ke Kamboja. Barang bukti tiga ton lebih berhasil petugas amankan dan menjadikan sebagai salah satu pengungkapaan terbesar kasus perdagangan sisik trenggiling di Indonesia.  Kasus ini terungkap setelah petugas temukan&hellip;This article was originally published on <a href="https://mongabay.co.id/2026/04/09/penyelundupanga-tiga-ton-sisik-trenggiling-siapa-aktornya/">Mongabay</a>]]>
						</content:encoded>
										<wfw:commentRss>https://mongabay.co.id/2026/04/09/penyelundupanga-tiga-ton-sisik-trenggiling-siapa-aktornya/feed/</wfw:commentRss>
					<slash:comments>0</slash:comments>
														</item>
			</channel>
</rss>