- Apakah tokek lebih nyaman hidup di sekitar manusi ketimbang di hutan?
- Dinding rumah, tiang listrik, hingga pepohonan di sekitar permukiman manusia jadi habitat yang paling sering ditempati tokek. Kemampuan reptil yang dikenal Gekko gecko ini digunakan untuk beradaptasi di tengah perubahan bentang alam.
- Kemampuan tokek beradaptasi terlihat dari siklus hidupnya yang relatif cepat, dibandingkan reptil lain. Karakter itu membuat populasinya mampu bertahan di tengah perubahan lingkungan, selama habitat dan sumber pakan tersedia.
- Meski identik dengan permukiman, tokek bukan spesies asli yang berevolusi di Indonesia. Berdasarkan kajian filogenik dan analisis DNA, nenek moyang tokek rumah berasal dari kawasan Indochina, terutama Thailand dan China bagian selatan.
Benarkah tokek lebih suka hidup di sekitar manusia ketimbang hutan? Pertanyaan tersebut mendorong para peneliti menyusuri Pulau Tidung, Pulau Pari, dan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu, untuk membuktikan anggapan tersebut
Hasilnya menunjukkan bahwa dinding rumah, tiang listrik, hingga pepohonan di sekitar permukiman manusia jadi habitat yang paling sering ditempati tokek. Temuan tersebut membuka cara pandang kita tentang kemampuan reptil yang dikenal Gekko gecko ini beradaptasi di tengah perubahan bentang alam.
Muhammad Fakhri Fauzan (31), peneliti utama dalam studi yang dipublikasikan di Jurnal Biologi Indonesia (2022), menjelaskan temuan paling menarik tak sekedar jumlah individu, tetapi juga kemampuan tokek beradaptasi.
“Hampir setiap tiang listrik yang kami lewati ada tokeknya,” jelas Fakhri, kandidat doktor Biosains Hewan, IPB University, Jum’at (10/7/26).
Penelitian bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan IPB itu, mencatat 273 individu tokek melalui pengamatan langsung. Berdasarkan kepadatan populasi, tim memperkirakan daratan Kepulauan Seribu dihuni sekitar 11.930 individu dengan kepadatan rata-rata 13,6 individu per hektar.
Habitat tokay gecko sebenarnya berada di kawasan hutan. Namun, perubahan bentang alam membuat satwa nokutrnal ini beradaptasi dengan lingkungan permukiman.
“Kondisi yang menguntungkan bagi mereka.”

Menurut Fakhri, lampu-lampu rumah yang menyala malam hari menarik kehadiran berbagai serangga mulai ngengat, laron, hingga kumbang. Bagi reptil yang masuk CITES Apendiks II ini, kondisi tersebut menyediakan sumber pakan melimpah.
“Tokek hanya menunggu mangsa datang.”
Bangunan juga menjadi tempat berlindung. Celah dinding, rongga di balik atap, hingga lubang pada tiang listrik merupakan lokasi aman untuk tokek beristirahat dan berkembang biak.
Selama survei, tim menemukan tokek paling banyak menempati tiang listrik dan dinding bangunan. Lubang pada tiang listrik dimanfaatkan sebagai tempat bertelur.
“Minimal tiga ekor yang bertelur.”
Peneliti juga masih menemukan tokek di berbagai jenis pohon, seperti sukun (Artocarpus altillis), kelapa (Cocos nucifera), dan akasia (Acacia sp.). Pohon-pohon tersebut umumnya punya batang besar, tajuk rindang, dan rongga alami yang disukai tokek sebagai tempat berlindung.
Dari tiga pulau yang disurvei, Pulau Pari mencatat jumlah tokek paling tinggi, sedangkan Pulau Untung Jawa paling rendah. Fakhri menduga perbedaan tersebut berkaitan dengan ketersediaan habitat yang sesuai.
“Banyak kombinasi habitat di Pulau Pari, seperti permukiman, pepohonan, dan tiang listrik.”

Fakhri menjelaskan, keberadaan tokek memberi manfaat ekologis bagi lingkungan permukiman.
Sebagai predator, tokek memangsa berbagai serangga malam yang berkumpul di sekitar lampu rumah sehingga ikut menjaga keseimbangan ekosistem. Masyarakat diharapkan melihat tokek sebagai bagian lingkungan, bukan satwa yang mengeluarkan suara keras malam hari.
“Tokek membantu mengendalikan populasi serangga, kalajengking misalnya.”
Riset ini menunjukkan bahwa tidak semua satwa liar kehilangan ruang hidup ketika lanskap berubah. Tokek merupakan spesies yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang didominasi manusia. Meski demikian, pemantauan populasi berkala penting dilakukan untuk memahami dinamikanya di alam.
“Jika survei dilakukan lagi dengan metode yang sama, kita bisa lihat populasinya stabil atau berubah.”

Siklus hidup cepat
Amir Hamidy, Profesor Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, menjelaskan kemampuan tokek beradaptasi terlihat dari siklus hidupnya yang relatif cepat, dibandingkan reptil lain. Karakter itu membuat populasinya mampu bertahan di tengah perubahan lingkungan, selama habitat dan sumber pakan tersedia.
“Laju pertumbuhan dan reproduksinya cukup cepat selama habitatnya mendukung,” terangnya, Sabtu (11/7/2026).
Meski identik dengan permukiman, Amir tegaskan bahwa tokek bukan spesies asli yang berevolusi di Indonesia. Berdasarkan kajian filogenik dan analisis DNA, nenek moyang tokek rumah berasal dari kawasan Indochina, terutama Thailand dan China bagian selatan.
“Kalau ditelusuri dari bukti molekuler, pusat persebaran atau center of origin-nya bukan di Indonesia, melainkan di dataran Asia. Kemudian menyebar ke berbagai wilayah.”
Penelitian genetik juga menunjukkan, populasi tokek rumah di Indonesia punya kemiripan yang sangat tinggi dengan populasi di berbagai negara lain. Temuan ini mengindikasikan, penyebaran tokek kemungkinan besar dibantu aktivitas manusia sejak lama, misalnya melalui perpindahan barang atau material yang membawa telurnya ke wilayah baru.
“Kemampuan menyebar itu tidak akan berarti tanpa daya adaptasi tinggi.”

Tokek rumah mampu memanfaatkan lingkungan yang telah dimodifikasi manusia sebagai habitat baru. Selama tersedia tempat berlindung dan sumber makanan, spesies ini bisa berkembang dengan baik di sekitar permukiman.
Namun, kemampuan beradaptasi ini tidak dimiliki semua satwa liar. Setiap spesies punya tingkat toleransi berbeda terhadap perubahan lingkungan.
“Ada satwa yang sangat bergantung pada hutan, sehingga ketika habitatnya berubah populasinya langsung menurun. Tokek berbeda.”
Amir menjelaskan, penelitian mengenai tokek penting dilakukan berkala untuk memahami bagaimana satwa liar merespons perubahan bentang alam. Data tersebut tak hanya bermanfaat untuk mengetahui dinamika populasi, namun jadi pembanding spesies lain yang lebih sensitif terhadap perubahan habitat.
Referensi:
Fauzan, M. F., Zakky, Q., Hartono, I. H., Riyanto, A., & Hamidy, A. (2022). Habitat Preference and Population Study of House Gecko (Gekko gecko) in Seribu Islands, Special Capital Region of Jakarta {Preferensi Habitat dan Estimasi Populasi Tokek Rumah (Gekko gecko) di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta}. Jurnal Biologi Indonesia, 18(2), 205-212.
*****
Penelitian: Tokek Mampu Kenali Dirinya dari Bau Tubuh dan Kotoran