Ketika orang Mesir kuno baru mulai menumpuk batu demi batu untuk membangun Piramida Giza, sebuah benih kecil jatuh ke tanah di sebuah lembah basah di ujung selatan Amerika Selatan. Benih itu tumbuh. Terus tumbuh. Melewati kejatuhan Romawi, melewati wabah hitam di Eropa, melewati dua perang dunia. Dan hingga hari ini, pohon itu masih berdiri.
Sekitar 5.400 tahun lalu, benih cemara Patagonia itu tumbuh di sebuah lembah di wilayah yang kini menjadi Chile. Selama ribuan tahun, pohon raksasa ini berkembang hingga setinggi 30 meter, dengan batang berdiameter lebih dari empat meter.
Pohon itu kini dikenal sebagai Alerce Milenario, atau Gran Abuelo, sang Kakek Buyut. Dalam bahasa adat Mapudungun milik suku Mapuche, ia disebut Lañilawal. Lokasinya tersembunyi di dalam jurang yang lembab di Taman Nasional Alerce Costero, sekitar 800 kilometer selatan Santiago, Chile. Taman nasional ini sendiri baru ditetapkan secara resmi pada 2012, namun pohon yang ada di dalamnya telah berdiri jauh sebelum konsep taman nasional bahkan pernah terpikirkan oleh manusia.
Para ilmuwan memperkirakan Lañilawal adalah pohon tertua yang masih hidup di muka bumi, melampaui usia Methuselah, pohon pinus bristlecone di California yang selama ini memegang rekor dengan usia 4.853 tahun. Jika estimasi itu benar, Lañilawal lebih tua lebih dari 600 tahun dari pohon manapun yang pernah tercatat dalam sejarah ilmu pengetahuan. Namun di tengah potensi rekor itu, ada kabar yang mengkhawatirkan : pohon ini sedang sekarat.
Dari Kakek ke Cucu
Jonathan Barichivich tumbuh besar di dekat Taman Nasional Alerce Costero, tempat kakeknya yang bekerja sebagai penjaga hutan menemukan pohon ini beberapa dekade lalu. Kisah penemuan itu sendiri cukup sederhana: kakek Barichivich, Aníbal Henríquez, yang kelak menjadi penjaga hutan pertama di kawasan tersebut, menjumpai pohon luar biasa ini sekitar tahun 1972 saat menjelajahi lembah-lembah taman. Selama bertahun-tahun, pohon itu dikenal dan dikagumi oleh penduduk setempat, namun tidak ada yang benar-benar mengetahui betapa tuanya ia sebenarnya.

Pada 2020, setelah menyelesaikan doktornya di University of East Anglia di Inggris, Barichivich kembali ke kampung halamannya untuk mempelajari pohon cemara itu bersama koleganya, Antonio Lara dari Universitas Austral Chile, guna menentukan usianya secara ilmiah.
“Hampir 50 tahun sejak kakek saya menemukannya, kami belum tahu apa pun tentang pohon ini,” katanya. Bagi Barichivich, ini bukan sekadar proyek penelitian. Sebagai warga asli Chile dari suku Mapuche, ia menyebut pohon ini dengan nama Lañilawal, sebuah kata dalam bahasa Mapudungun yang mendeskripsikan lokasi tempat pohon itu berakar dan tumbuh selama ribuan tahun. “Pohon ini seperti anggota keluarga bagi saya,” ujarnya kepada Newsweek. Baginya, meneliti pohon ini adalah cara untuk menghormati warisan keluarga sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa pohon ini layak dilindungi
Metode yang Berani dan Kontroversial
Saat menentukan usia pohon, para dendrokronologis biasanya mengebor lubang ke dalam batang dan mengekstrak sampel tipis seperti pensil, kemudian menghitung cincin pertumbuhannya di bawah mikroskop. Setiap cincin mewakili satu tahun pertumbuhan, sehingga jumlah total cincin langsung menunjukkan usia pohon. Namun Barichivich, yang enggan mengebor hingga ke inti pohon karena khawatir merusaknya, beralih ke pendekatan lain: pemodelan statistik.
Dengan bor khusus berbentuk T, tim berhasil mengambil inti kayu melalui 40 persen diameter batang dan menemukan sekitar 2.400 cincin pertumbuhan dari potongan parsial tersebut. Itu saja sudah merupakan angka yang luar biasa, karena berarti bagian yang berhasil diambil saja sudah mencakup lebih dari dua milenium. Dengan mengekstrapolasi temuan itu dan memperhitungkan data iklim historis serta usia pohon-pohon alerce lain di sekitarnya sebagai pembanding, Barichivich menghitung ada kemungkinan 80 persen bahwa pohon ini berusia lebih dari 5.000 tahun, dengan estimasi terbaik di angka 5.484 tahun. Rentang kemungkinan yang dihasilkan model tersebut menempatkan usia pohon antara 4.100 hingga 6.000 tahun, dengan 5.484 tahun sebagai titik tengah yang paling masuk akal.

Jika benar, angka itu mengungguli pemegang rekor resmi saat ini: Methuselah, pohon pinus bristlecone di California Timur yang memiliki 4.853 cincin pertumbuhan yang telah dihitung secara langsung dan cermat di bawah kulitnya yang berliku. Perbedaan metodenya inilah yang kemudian memicu perdebatan panjang di kalangan ilmuwan.
Komunitas ilmiah masih terbelah soal validitas temuan ini. Chuck Cannon, direktur Center for Tree Science di Morton Arboretum, Illinois, mengingatkan bahwa pohon bisa menghasilkan lebih dari satu cincin per tahun dalam kondisi tertentu, atau justru tidak menghasilkan cincin sama sekali selama bertahun-tahun ketika kondisi buruk. Kesalahan perhitungan semacam itu bisa terakumulasi secara signifikan selama berabad-abad. Selain itu, kayu tua di bagian paling dalam batang sering kali membusuk seiring waktu, menghapus catatan sejarah pertumbuhan pohon untuk selamanya.
Pendiri Rocky Mountain Tree Ring Research, Peter Brown, menyebut pendekatan ini terlalu baru untuk bisa dinilai sebelum melalui proses peer review, dan kesimpulannya dianggap terlalu mengejutkan karena melompati lebih dari 1.500 tahun di atas catatan alerce tertua yang sebelumnya diketahui. Per 2026, hasil penelitian Barichivich memang belum diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang telah melalui peer review, meski di situsnya ia menyatakan paper tersebut sedang dalam proses penyelesaian.
5.000 Tahun Bertahan, Kini Terancam Manusia dan Iklim
Barichivich memperingatkan bahwa hanya 28 persen pohon ini yang sebenarnya masih hidup, dan sebagian besar bagian hidup itu ada di dalam sistem akarnya yang tersebar di bawah tanah. Artinya, ketika pengunjung berjalan di atas tanah di sekitar pohon, mereka secara aktif merusak satu-satunya bagian yang masih berfungsi dan menopang kehidupan pohon purba ini. Sebagian besar mahkota pohon telah gugur selama berabad-abad, dan batangnya sebagian besar sudah mati dari dalam, menyisakan lapisan luar yang masih aktif berfotosintesis dan ditumbuhi lumut serta lumut kerak yang tebal.
Pengunjung taman nasional saat ini masih bisa berjalan langsung mendekati pohon. Meski pihak taman telah memasang platform kayu yang dimaksudkan untuk melindungi akar dari injakan langsung, banyak orang tetap turun dan berjalan bebas di sekitar pangkal batangnya. Hal itu tidak hanya merusak akar secara fisik, tetapi juga memadatkan tanah di sekelilingnya sehingga menyulitkan penyerapan air dan nutrisi yang dibutuhkan pohon untuk bertahan hidup.
Di atas semua tekanan dari wisatawan, ada ancaman yang lebih besar dan lebih sulit diatasi: perubahan iklim. Pola iklim yang semakin kering di kawasan selatan Chile membuat akar Lañilawal semakin kesulitan menyerap air dari tanah, sesuatu yang selama ribuan tahun menjadi sumber kehidupannya di lembah yang dulu selalu basah dan sejuk itu. Barichivich memperingatkan bahwa kehidupan pohon ini di Taman Nasional Alerce Costero bisa berakhir tanpa perlindungan yang jauh lebih kuat dan menyeluruh dari pihak pemerintah maupun komunitas ilmiah internasional. Pohon yang melewati lima milenium itu, kini mungkin tidak akan mampu melewati beberapa dekade ke depan jika tidak ada tindakan nyata yang diambil segera
Barichivich dan koleganya mendesak pihak taman nasional untuk segera memindahkan jalur pejalan kaki lebih jauh dari sistem akar pohon, memasang pagar pelindung yang lebih tegas, dan membatasi jumlah pengunjung yang diizinkan mendekati area pohon setiap harinya. Pablo Cunazza Mardones, kepala Departemen Kawasan Lindung pada Korporasi Kehutanan Nasional Chile, mengakui bahwa pohon ini memang dalam kondisi rentan dan memerlukan perhatian khusus.
**
Referensi:
Cannon, C., sebagaimana dikutip dalam Rosen, J. (2024, February 20). This might be the world’s oldest tree. And it could die of thirst. Scientific American. https://www.scientificamerican.com/article/this-might-be-the-worlds-oldest-tree-and-it-could-die-of-thirst1/
Kuta, S. (2022, May 31). A new candidate for oldest tree in the world is discovered in Chile. Smithsonian Magazine. https://www.smithsonianmag.com/smart-news/a-new-candidate-for-oldest-tree-in-the-world-is-discovered-in-chile-180980167/